
Sudah tiga hari Malika dan Rena ada di dalam bunker, persediaan makanan untuk mereka masih cukup. Rena masih setia melayani nona muda dan tuan babynya. Entah sampai kapan mereka akan terkurung dalam bunker, Malika kembali ke ruang kerjanya untuk melihat keadaan di dalam mansion dan area di luar mansion. Nampaknya mansion itu sudah lengang dan tampak ada garis polisi. Malika sangat senang melihat keadaan rumahnya yang sudah mulai lengang walaupun sudah tidak ada para pelayan dan penjaga keamanan mansionnya.
Sesaat hatinya merasa nyeri mengingat nasib para pelayannya, entah apa yang terjadi dengan mereka, Malika hanya pasrah dan berdoa kepada Allah semoga semuanya bisa selamat.
"Bibi, kemarilah," panggil Malika pada pelayannya yang sedang menggendong babynya.
"Iya non sebentar," sahut Rena yang meletakkan kembali baby di tempat tidurnya lalu menghampiri nona mudanya.
"Bibi, keadaan sudah aman di atas sana, sebaiknya kita keluar dari sini secepatnya karena tidak baik untuk baby."
"Setuju non, bibi juga sudah nggak betah di sini non, kita seperti di kubur hidup-hidup didalam si
"Tapi sebaiknya nanti malam saja supaya nggak kelihatan sama mereka, takutnya masih ada mata-mata di luar sana.
Rena setuju dengan ide nona mudanya. Malika dan Rena hanya menunggu malam tiba supaya mereka bisa kabur dari bunker milik Malika, Babynya masih tidur pulas karena perutnya yang kenyang membuatnya nggak gampang rewel, karena lelah menunggu Malika dan Rena ikut tertidur.
Malam sudah mulai beranjak larut, Malika mengerjapkan matanya melihat jam dinding di ruang bunker, lalu ditengok bayinya yang dari tadi masih saja tertidur. Saat Malika makin memperhatikan wajah babynya, hatinya mulai was-was karena tubuh bayinya sangat pucat, Malika mulai panik.
"Babyyy!!..hiks.. hiks!!"
"Ya Allah ada apa non, kenapa menangis, ada apa dengan babynya?," tanya Rena yang kaget mendengar teriakan tangis Malika.
"Nggak tahu bibi, wajah baby sangat pucat kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
Rena memastikan apa yang dikatakan oleh nona mudanya tentang bayinya, Rena melihat bayi itu memang sangat lemah entah apa yang terjadi pada baby nona mudanya.
"Apa sekarang kita sudah bisa keluar dari sini ya non?," tanya Rena lagi sambil mengemas barang-barang baby untuk dimasukkan kedalam koper.
"Iya bibi, kita harus nekat kalau tidak bayiku tidak akan selamat bibi," jawab Malika yang masih menangis menggendong bayinya.
__ADS_1
"Baik nona, semuanya sudah bibi siapkan, berarti kita kembali ke atas ya nona."
Malika mulai kembali aksinya menuju lift bunker lalu bersama Rena dan bayinya kembali ke atas di ruang walk in closet miliknya. Malika memencet tombol di ruang an itu, pintu yang model rak baju itu terbuka, mereka buru-buru keluar.
Ketiganya sudah berada di kamar Malika.
"Bibi, tunggu sebentar ya aku mau lihat lagi keadaan di luar, apakah sudah aman atau belum," ucap Malika kepada kepala pelayan Rena.
Rena hanya mengangguk pasrah lalu mengambil bayi Malika. Malika menyalakan ponselnya melihat pergerakan CCTV di area sekitar mansion. Setelah dipastikan aman keduanya lalu bergerak dengan membawa bayi Malika dan koper milik Malika dan babynya.
"Bibi, kita harus ke ruang kerja papa karena di sana ada lorong rahasia menuju garasi mobil."
"Baik nona, bibi ikut aja ke mana nona pergi," ucap Rena yang masih kelihatan panik karena baby dalam gendongannya tidak bergerak.
Mereka berjalan menyusuri lorong rahasia menuju garasi mobil milik tuan Daniel. Malika sudah mengantongi kunci mobilnya lalu berjalan cepat menuju garasi.
"Iya nona ini bibi sudah sangat cepat jalannya semoga baby bisa cepat ditangani oleh dokter."
Ketiganya sudah sampai garasi mobil tapi garasi ini tidak seperti garasi yang biasa dilihat oleh Rena.
Garasi mobil tuan Daniel mengarah ke jalur yang langsung ke luar ke jalan raya di tengah kota. Rena makin kagum dengan keluarga tuan Daniel, semua fasilitas rumah ini dirancang secara khusus untuk menghindari musuh bila keadaan terancam.
🌷🌷🌷
Mobil sudah bergerak menyusuri jalan rahasia menuju jalan utama pusat kota. Tidak terasa mereka sudah sampai di RS milik Reinaldi yang tidak lain adalah ayah dari bayi Malika. Malika sengaja ke rumah sakit milik Rei supaya dirinya dan baby dalam keadaan aman.
"Nona kenapa kita ke rumah sakit ini, harusnya kita ke rumah sakit tuan Arie karena baby pasti senang dirawat di RS milik ayahnya."
"Tidak ada waktu bi, ayo cepat turun supaya baby cepat ditolong," ucap Malika yang sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit.
__ADS_1
Rena yang menggendong bayi Malika sedangkan Malika hanya membawa ranselnya yang berisi kebutuhannya. koper babynya sengaja ditinggalkan di mobil karena mereka harus buru-buru menuju ruang IGD.
"Bibi tolong bawa baby duluan ke ruang IGD ya, ada yang ketinggalan di mobil dan saya harus mengambilnya," ucap Malika ketika sudah sampai di lobby rumah sakit milik Reinaldi.
"Saya langsung masuk saja atau menunggu nona?"
"Tidak usah tunggu saya bibi, bibi duluan saja supaya baby cepat dirawat."
Rena tidak lagi bertanya pada nona mudanya, dia langsung ke ruang IGD untuk membawa bayi Malika.
"Selamat pagi suster, tolong selamatkan tuan muda saya."
"Baik bu, kami akan menangani babynya, silahkan ibu tunggu di luar," ucap suster sambil mengambil baby Malika dalam gendongan Rena.
Rena sangat lega setelah menyerahkan tuan babynya untuk ditangani dokter jaga di ruang IGD.
"Ya Allah, terimakasih engkau masih melindungi kami dari kejaran penjahat dan aku mohon selamatkan tuan babyku supaya cepat sembuh," ucap Rena lirih.
Dari jauh Malika berlari cepat menuju ruang IGD dimana putranya sedang ditangani dokter, karena terburu-buru Malika menabrak orang yang berjalan lawan arah dengannya.
"Aduh, hati-hati dong kalau jalan, punya mata nggak sih, jalan lega begini masih nabrak orang aja," ucap Malika dengan nada geram pada orang yang menabraknya.
Saat Malika mengangkat wajahnya, Malika melihat sesosok orang yang sangat dikenalnya, hatinya sangat panas melihat orang itu tidak meliriknya sama sekali saat melihat dirinya jatuh karena ditabrak orang tadi.
Malika bergegas berdiri membalikkan tubuhnya yang hendak mengumpat lelaki yang menabraknya barusan, tetapi lelaki itu sudah kabur meninggalkan Malika yang masih merasa kesal.
Malika memungut ranselnya dan beberapa barang bawaan yang tadi sempat jatuh.
"Sialan ada apa dengan diriku selalu saja bernasib sial, sudah di tabrak nggak minta maaf, belum lagi lelaki brengsek itu ngeloyor aja, hhmm, jangankan menolongku, melirik saja enggan, bagaimana aku mau memaafkanmu tapi saat ini aku harus menceritakan keadaanku padanya karena hanya dia satu-satunya yang aku butuhkan saat ini.
__ADS_1