Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
RAFFI DAN AIDA


__ADS_3

Hari pinangan secara resmi telah tiba, dua keluarga pihak kedua calon mempelai pengantin sudah berkumpul di kediaman pak Abdul Muid sebagai ayah kandung Aida. Dari pihak keluarga Raffi yang diwakili oleh keluarga besar tuan Romi dan juga, dari tuan Daniel sebagai pihak calon mempelai wanita karena Aida bekerja di perusahaan besar tuan Daniel.


Keluarga besar Aida merasa memiliki kebanggaan tersendiri, ketika putri mereka dinikahi oleh keluarga hebat. Walaupun Raffi bukan kerabat dekat tuan Romi tapi bagi keluarga Aida tidak mempermasalahkan itu, istilahnya Raffi juga kecipratan kehebatan dua keluarga tersebut.


Acara pinangan ini hanya dihadiri kerabat dan tetangga Aida selain keluarga tuan Romi dan juga keluarga tuan Daniel. Walaupun hanya berlangsung sederhana namun tidak mengurangi khidmat dari acara pinangan tersebut.


Raffi yang hanya memakai baju koko warna biru dan celana panjang hitam nampak gagah duduk diantara tuan Romi dan tuan Daniel. Sedangkan Rei duduk disebelah papinya sambil memangku putranya Ezra. Nyonya Ambar dan nyonya Alea bertugas menggendong baby kembar. Malika duduk mendampingi Aida yang sedikit gugup dalam acara pinangan tersebut.


"Assalamualaikum Wt. Wb


Perkenalkan nama saya pak Abdul Muid ayah kandung dari putri kami Aida Indah Arlini. Selamat datang Tuan Romi dan tuan Daniel di kediaman saya yang sederhana ini. Saya sebagai ayah kandung Aida, merasa terhormat juga terharu orang sehebat kalian berdua mau menyempatkan waktunya untuk datang ke kediaman saya. Untuk itu saya ingin menanyakan apa tujuan dan maksud keluarga tuan mendatangi kediaman saya di pagi hari ini?"


Setelah menyampaikan beberapa patah kata dalam sambutannya, Tuan Abdul Muid duduk kembali di kursinya dan menunggu tuan Romi memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah disampaikannya kepada keluarga Raffi. Kini giliran tuan Romi berdiri untuk memberikan jawaban atas tujuan mereka secara resmi. Kegiatan ini hanya formalitas untuk menunjukkan bahwa gadis yang dipinang oleh seorang lelaki merasa dirinya sangat berharga untuk dipinta dari keluarga calon suami.


"Assalamualaikum Wt. Wb


Saya sebagai wali angkat dari putra kami yang bernama Mohammad Raffi, ingin melamar putri bapak Abdul Muid dan ibu Endang yaitu nona Aida Indah Arlini untuk mendampingi putra kami dalam ikatan pernikahan, kami mohon kesediaan keluarga tuan Abdul Muid mau menerima lamaran kami untuk putra kami Raffi.


Setelah menyampaikan maksud tujuan kedatangan mereka tuan Romi tetap berdiri pada posisinya menunggu balasan atas permohonan mereka dalam acara lamaran tersebut. Tuan Abdul Muid kembali berdiri membalas permintaan keluarga Raffi.


"Untuk mempersingkat waktu, kami keluarga besar Aida menerima lamaran nak Raffi untuk mendampingi putri kami Aida Indah Arlini. Saya ucapkan terima kasih banyak telah meminang anak gadis kami tercinta Aida.


Pertemuan dua keluarga itu dalam acara pinangan tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh seorang ustadz yang merupakan tetangga tuan Abdul Muid. Usai doa bersama, para tamu undangan dan keluarga calon mempelai untuk menikmati hidangan makan siang.


Aida dan Malika sengaja memakai jilbab. Keduanya tampak anggun bak bidadari yang baru turun dari langit. Raffi dan Rei tak melepaskan pandangan mata mereka dari wajah wanita yang mereka cintai. Rei yang lebih kelihatan gelisah ketika melihat istrinya terlalu banyak menebarkan senyum pada setiap tamu undangan. Tidak tahan melihat istrinya asyik ngobrol dengan orang lain sekalipun itu adalah para ibu-ibu muda yang ada di komplek perumahan di tempat Aida tinggal, Rei sengaja membawa Ezra untuk mendekati mommynya.


"Sayang, Ezra mencarimu." ucap Rei bohong."


Dengan polosnya Ezra membantah tuduhan dadynya.


"Ezra nggak mencari mommy, kan mommynya kelihatan sama kita daddy, kenapa harus mencari, mommy, orang mommynya nggak hilangkan?" ucap Ezra seraya mengangkat wajahnya menatap daddynya.


Malika yang mendengar ucapan putranya tertawa geli karena kebohongan suaminya terbongkar oleh anaknya sendiri.


"Sayang, semakin kamu tertawa, semakin orang lain menikmati kecantikan wajah istriku ini dan aku tidak suka itu." ucap Rei setengah berbisik namun terdengar di kuping putranya.


"Mommy!, sepertinya daddy lagi cemburu sama mommy deh."


Malika kembali terbahak-bahak, wajahnya makin memerah melihat wajah suaminya yang sudah salah tingkah dipermalukan oleh putranya lagi.


"Ya Tuhan, punya anak jenius nggak selamanya beruntung, lihat diriku, aku sedang dipermalukan putraku sendiri," gumam Rei dalam hati.


"Sayang, kamu kenapa segelisah itu?"


"Aku ingin kita cepat pulang atau cari tempat supaya aku bisa bersamamu berdua saja." bisik Rei kepada Malika karena takut dikritik lagi oleh putranya.


Kali ini Malika menganggap perkataan suaminya adalah perintah bukan candaan. Malika sendiri bingung memenuhi permintaan suaminya. akhirnya dia mendekati Aida. Aida yang paham menawarkan Malika untuk mengantar mereka ke kamarnya atau kalau ke hotel dekat sini.


"Sayang, apa kamu mau kita ke kamar Aida?" tanya Malika setelah mendapatkan solusi yang ditawarkan Aida.


"Aku merasa terganggu kalau banyak orang sayang."


"Baiklah kita ke hotel terdekat saja."


Rei meminta kunci mobil ke Raffi, Raffi segera memberikannya ke Rei tanpa banyak tanya. Rei menarik tangan Malika untuk ikut dengannya. Mobil mewah itu dibawa Rei ke hotel terdekat. Tidak butuh waktu lama mereka menemukan hotel mewah ditengah kota Bogor, Rei mengajak Malika buru-buru ke kamar yang mereka sudah pesan. Pintu kamar hotel itu dibuka, Malika seperti nara pidana yang siap menjalani eksekusi mati oleh seorang pengusaha.


Rei membuka jilbab dan baju gamis yang dipakai oleh Malika dan miliknya sendiri. Bibir Malika segera dil***tnya dengan kasar sambil sedikit demi sedikit mempersempit ruang gerak istrinya sampai istrinya terhuyung ke belakang diatas tempat tidur.


Serangan membabi-buta dilakukan oleh Rei pada dirinya dengan sedikit kasar seakan lelaki ini sudah terlalu dikuasai rasa keinginan yang sudah mulai mengubun.


Paha Malika direntangkan kesamping lalu dikulumnya biji kenyal milik Malika lalu dihisapnya kuat-kuat membuat Malika merasakan siksaan kenikmatan saat bagian intinya dihisap dan di masukin dengan satu jari ke dalam liang sempitnya.


"Daddy, aahhkk...ssssttt...Rei ku mohon sayang, jangan lama-lama menyiksaku,..akkhhh!"


Lenguhan dan Erangan erotis Malika menambahkan semangat bagi Rei menyiksa bagian sensitif milik Malika. Entah sudah berapa kali Malika mengeluarkan cairan kenikmatan yang selalu dihisap oleh Rei. Setelah puas menyedot semua tetesan cairan milik istrinya, dengan cepat Rei Menusukkan rudalnya ke dalam milik istrinya yang sudah diberi pelumas olehnya. Setelah menenggelamkan miliknya ke dalam liang sempit milik Malika dengan semangat empat lima, Rei menghentakkan tubuhnya dengan kasar membuat Malika kembali mengeluarkan suara-suara indah nan erotis.


"Ohhhh...akhh..akhh.. sayang daddy....


"Gimana sayang, kamu ingin menebar pesona lagi dihadapan orang lain, kamu selalu memancingku untuk menyiksamu seperti ini. Sekarang rasakan akibat dari tingkahmu sendiri yang terlalu tampil cantik hari ini, yang seharusnya cukup untuk aku saja bukan untuk orang lain walaupun itu hanya didepan kaummu sendiri.


Setelah berbicara sambil mengayunkan tubuhnya pada Malika, Rei mempercepat gesekan miliknya ke dalam milik Malika hingga akhirnya teriakan kepuasan dari mulut Rei saat melakukan pelepasan yang terasa begitu hangat lahar kenikmatannya disalurkan kedalam rahim istrinya.


"Sssttt..akkhh, baby kau sangat sempurna sayang," puji Rei setelah mencapai kepuasan.


Rei terkulai lemas disamping tubuh Malika. Rei menarik tubuh polos istrinya lebih merapat ke tubuhnya.


Dengan lembut Malika menyeka bulir halus dikening dan pelipis suaminya, sesekali di ciumnya dengan lembut.


"Sudah puas sayang?"


"Belum sayang, nanti kalau sudah sampai di mansion kita ulangin lagi ya sayang."


Malika mengangguk patuh, tak pernah sedikitpun dia menolaknya, inilah yang membuat Rei selalu menagih saat ia sangat menginginkan istrinya kapanpun saat ia ingin menyalurkan hasratnya.


Keduanya bangun membersihkan diri ke dalam kamar mandi. Rei seperti biasa menggendong istrinya ke dalam kamar mandi, walaupun Malika bisa melakukannya sendiri. Usai menjalani ritual ibadah jasmani mereka, Rei dan Malika sudah kembali rapi siap kembali ke kediaman Aida di mana keluarga besar mereka menunggu di sana.


Ezra yang melihat ke dua orang tuanya berlari menyambut Malika dan Rei.


"Daddy, mommy!" panggil Ezra dengan wajah jenakanya.


Malika langsung menggendong putranya dan menanyakan hal penting pada putranya.


"Ezra sudah makan belum sayang?"


"Sudah mommy!"

__ADS_1


Sambil menggendong putranya itu, Malika mendekati Aida yang sedang ngobrol dengan para tamu undangan. Aida yang melihat sahabatnya yang baru datang langsung menghampiri Malika yang menuju ke tempat duduknya.


"Kalian dari mana Malika?"


"Dari hotel Aida."


"Sudah selesai ritualnya Malika? Emang para suami seperti itu ya Malika."


"Iya Aida, hampir semua suami seperti itu, walau kita sedang berada di manapun mereka selalu menyalurkan hasrat mereka yang sudah menggebu kepada istri mereka. Makanya ada istilah, suami harus dilayani di kasur, dapur dan sumur.


Keduanya terkekeh setelah membahas tentang perilaku para suami yang tidak bisa menahan syahwatnya ketika sedang tergoda dengan istrinya. Nyonya Ambar yang baru melihat menantunya datang membawa baby Rania untuk disusui Malika.


"Sayang kamu dari mana saja, dari tadi mami cariin, kasihan Ranianya nangis terus karena Asi kamu yang ada dibotol miliknya sudah habis."


"Maaf mami, tadi Malika jalan-jalan sama daddynya Ezra." jawab Malika berbohong.


"Ya sudah susui dulu putrimu, sebentar lagi kita pamit pulang. Mami mau pamit sama bu Endang dulu ya. Aida mami sekalian pamit pulang ya sayang. Jaga kesehatan mu karena seminggu lagi kalian akan menikah."


"Iya nyonya, Aida akan menjaga kesehatan Aida."


"Eits!... kamu jangan memanggilku dengan sebutan nyonya karena Raffi juga putraku, panggil aku dengan sebutan mami seperti Malika yang memanggilku demikian.


"Baik mami, akan Aida ingat!"


Keduanya kembali berpelukan, lalu mami Ambar mengecup puncak kepala Aida.


"Selamat datang ke keluarga kami Aida, terimakasih sudah menerima Raffi menjadi calon suamimu."


"Terimakasih juga mami, mau menerima Aida dan keluarga besar Aida


"Sekarang mami mau ketemu ibumu dulu ya sayang dan kamu Malika, nanti gantian susui Tania di mobil saja dan nanti kembalikan baby Rania ke mami."


"Baik mami!"


Dua keluarga itu kembali terlibat dalam obrolan, nampaknya mereka sedang melakukan salaman perpisahan. Malika dan Aida ikut bergabung dalam acara pamitan itu. Raffi memeluk calon ayah mertuanya begitu pula dengan calon ibu mertuanya. Ibu Endang mengecup puncak kepala calon menantunya itu. Ketika Raffi membalikkan tubuhnya, Aida sudah berada di hadapannya. Dengan sedikit menundukkan wajahnya di samping pundak Aida, Raffi membisikkan kata-kata manis untuk calon suaminya itu.


"Sayang, aku terlalu kangen dengan babyku di rahimmu."


Tanpa menjawab, Aida mencubit perut Raffi hingga membuat pria tampan itu terpekik.


"Sayang, cubitanmu saja enak apalagi itumu," ucap Raffi sambil memonyongkan bibirnya ke depan.


"Cih!, ada-ada saja tingkahmu Raffi.


"Raffi, cukup godain Aidanya, tunggu seminggu lagi kalian bebas melakukannya, tegur nyonya Alea, membuat keduanya spontan membenahi tubuh mereka.


"Maaf nyonya," tutur Raffi yang jadi salah tingkah pada nyonya Alea.


Keluarga tuan Romi maupun keluarga tuan Daniel sudah meninggalkan kediaman tuan Abdul Muid. Aida sedikit merasa kehilangan kekasih dan sahabatnya. Empat kendaraan beriringan memasuki jalan bebas hambatan itu, menuju mansion mereka masing-masing. Malika masih menyusui baby Tania sedangkan Rei memangku Ezra yang sudah tidur pulas dan Raffi yang membawa mobilnya Rei. Nyonya Ambar juga sedang memangku baby Rania di mobil yang berbeda.


"Wanita sempurna," ungkap Rei yang selalu memuji istrinya.


"Andai bisa aku mengulang waktu yang telah hilang dan terbuang, mungkin aku ingin menjadi lelaki pertama yang mendapatkan jiwa dan ragamu Malika, tanpa ada permainan takdir yang sempat memisahkan kita," ucap Rei dalam hati sambil memperhatikan istrinya yang sedang memangku putranya Ezra sambil memegang susu botol yang di sedot putranya.


Merasa diperhatikan oleh Rei, Malika balik menatap wajah suaminya dan tersenyum. Senyum Malika memang sangat cantik dan manis, senyum yang mampu menggetarkan hati orang yang melihatnya.


"Ah senyum itu lagi, sayang mengapa kamu terus membuat jiwaku lapar dengan senyumanmu itu?," gumamnya membatin.


"Kenapa sayang dari tadi menatapku terus?"


"Aku sedang mengagumi ciptaan Allah dalam dirimu sayang, Allah begitu baik padaku karena mengirimkan bidadari yang hampir sempurna untukku."


"Sayang, sudah ah gombalnya," tepis Malika yang pura-pura menolak namun hatinya saat ini sedang melambung tinggi.


"Sini sayang biar aku yang membaringkan baby Ezra." ucap Rei yang melihat putranya sudah melepas dot susunya dan tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka di pangkuan istrinya.


Rei mengangkat tubuh putranya dan memindahkan ke dalam kamar putranya yang bersebelahan dengan kamarnya. Setelah merapikan putranya dengan selimut, Rei keluar dari kamar putranya dan kembali ke kamarnya.


Malika masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Rei yang mengerti istrinya sedang mandi ikut menanggalkan bajunya dan menyusul istrinya ikut mandi bersama. Pintu kamar mandi yang memang tidak pernah dikunci saat Malika sedang mandi, membuat Rei langsung membuka pintu itu dan melihat istrinya yang sedang menyabuni tubuhnya seperti model yang sedang memerankan iklan sabun mandi, tapi mandinya Malika menyabuni tubuhnya lebih menggoda seorang Rei.


Sesaat Rei memperhatikan cara mandi istrinya yang sekarang sedang menyandarkan kepalanya ke bathtub dan mengangkat sebelah kakinya lalu menyabuni lagi hingga memperlihatkan setiap ruas kaki jenjangnya. Karena terus di perhatikan oleh suaminya yang berdiri di hadapannya, Malika makin membuat gerakan erotis dalam acara mandinya seperti bintang p*rn* yang menggoda lawan mainnya. Rei yang sedang memainkan rudalnya membuat Malika yang kini makin menambahkan ekspresi wajah yang menggoda. Dada Rei yang makin berdebar melihat aksi istrinya yang memainkan bukit kembarnya dan menyentuh bagian sensitifnya bersolo ria sambil mend*"ah. Rei menarik tubuh Malika keluar dari bathtub lalu menyerang bibir istrinya dengan nafas bergemuruh,


"Kamu makin nakal baby, kau harus di hukum untuk ini." ucap Rei yang sekarang beralih pada bagian kembar yang menjuntai indah di dada Malika, Rei hanya memilin dengan lidahnya tanpa mengisapnya lalu menduduki tubuh Malika di pinggir bathtub, paha mulus istrinya dibuka dan sekilas wajahnya sudah tenggelam dalam lembah surga dunia milik Malika.


De**n kembali terjadi, erangan kembali menggema sampai Malika mengeluarkan cairan nikmatnya dan Rei meneguk itu dengan jilatan lidahnya sebagai wadah untuk mendapatkan cairan bening itu.


Malika menarik tubuh Rei meminta suaminya berdiri menyandarkan tubuh Rei ke dinding kamar mandi, kini ia yang gantian mengulum rudal suaminya, memilin dengan lidahnya, menjilat, menghisap dan menelan setengah rudal itu sampai ke dalam kerongkongannya membuat suaminya menjambak rambut istrinya lembut.


Setelah lahar bening suaminya keluar bersamaan dengan erangan suara parau nan berat milik Rei, Malika kembali berdiri memagut kembali bibir suaminya lalu keduanya membuka mulut untuk mempertemukan lidah mereka bertukar saliva dan saling menghisap. Rei mengangkat tubuh Malika diletakkan di atas wastafel kemudian menusukkan rudal miliknya ke liang hangat nan sempit milik Malika kemudian mengangkat lagi tubuh istrinya dengan rudal yang sudah tertanam.


Malika mengalungkan tangannya dileher sang suami, membiarkan bok*ngnya digerakkan oleh Rei dalam gendongan suaminya. Permainan itu berakhir indah setelah keduanya kembali mencapai puncak kenikmatan bersama. Rei kembali masuk ke bathtub dan meneruskan acara mandi mereka dengan rasa puas dan cinta.


🌷🌷🌷


Acara pernikahan Raffi dan Aida berlangsung sederhana dikediaman tuan Abdul Muid. Hanya acara sakral yang digelar, yaitu acara ijab kabul yang di hadiri oleh kedua keluarga besar kedua mempelai. Mungkin setelah ijab kabul akan ada acara makan bersama keluarga dan para tetangga dekat.


Aida tampil cantik dengan balutan kebaya putih tulang dan bawahan batik tulis ciri khas kota Bandung. sedangkan Raffi memakai beskap putih senada dengan kebaya Aida.


Kedua mempelai sudah siap duduk dihadapan penghulu, ayah Aida dan para saksi dari kedua pengantin. Di atas meja tersedia mahar yang terdiri seperangkat alat sholat, uang tunai dan tiga batang emas sebagai simbol bulan ke tiga di tahun itu yaitu bulan Maret. Ikrar pernikahan yaitu ijab kabul yang di ucapkan oleh Raffi dengan ucapan yang lancar dan fasih. Teriakan para saksi dengan sebutan kata sahnya pernikahan antara Aida dan Raffi. Raffi menyematkan cincin permata berlian putih pada jari manis Aida lalu mengecup pucuk kepala istrinya begitu pula Aida pada Raffi yang mencium tangan suaminya dengan takzim.


Acara di lanjutkan dengan foto bersama keluarga kedua pihak dan acara di ikuti dengan ritual sungkeman antar keluarga, tangis haru mewarnai acara tersebut.


Di acara tersebut hadir juga Rena dan kedua mertuanya sedangkan suaminya tidak dapat hadir karena tugas negara yang sedang dijalankannya di negara perbatasan wilayah yang sedang bertikai. Rei yang banyak tahu kisah Raffi dan Aida, merasa sangat terharu. Dipeluknya sahabat sekaligus asistennya itu dengan perasaan bahagia.


"Selamat bro, semoga langgeng sampai kakek nenek."

__ADS_1


"Aamiin, kamu juga tuan, semoga Allah memberikan kita kebahagiaan selamanya dan terimakasih sudah banyak membantuku."


"Kamu bukan lagi sahabat tapi kamu sudah seperti saudaraku."


Keduanya berpelukan lagi, tanpa disadari air mata mereka sudah menggenang memenuhi kelopak mata mereka. Begitu pula yang terjadi pada Malika, Aida dan Rena, persahabatan mereka yang sangat sulit sekali bertemu ini, memanfaatkan momen pernikahan Aida menjadi penyambung ikatan cinta dalam jalinan persahabatan ketiganya.


"Selamat menempuh hidup baru Aida, semoga cepat dapat momongan," ucap Malika membuat Aida gugup.


"Terimakasih Malika untuk ucapan dan doanya, semoga kita tetap bersahabat sampai ajal menjemput kita.


"Oh ya ka Rena sudah ada kabar gembira belum nih?" tanya Malika kemudian, sembari menyentuh perut Rena yang masih rata.


"Belum Malika, yang nanamnya ditinggal tugas terus," ucap Rena mengundang tawa Malika dan Aida.


"Ya begitulah kalau jadi istri perwira kudu sabar menunggu kepulangan sang suami dari medan perang."


"Benar Aida, kadang aku suka nggak tenang kalau belum di telepon sama akang Jajang," ucap Rena dengan mimik sedih.


"Ihh nggak boleh cerita yang sedih-sedih ini hari pernikahan aku tahu, aku maunya kita menangis karena bahagia, setuju nggak?"


"Setujuuu!" ucap Malika dan Rena lalu terkekeh.


Keceriaan mereka terhenti ketika pamitan keluarga keduanya dan juga para tamu, tapi sebenarnya itu pelepasan pengantin yang ingin pulang ke apartemen suami. Aida dan Raffi kembali menyalami ayah dan ibunya serta keluarganya yang lain. Isak tangis kembali terjadi melepaskan kepergian Aida dan Raffi.


Doa dan ucapan terus mengalir dari bibir para tamu undangan yang ikut momen pelepasan tersebut. Mereka mengantar Raffi dan Aida ke parkiran mobil pengantin yang sudah dihias. Raffi yang membawa mobilnya sendiri bersama istrinya menuju tempat tinggal mereka. Semua yang ada disitu melambaikan tangan mereka ke arah mobil pengantin yang sudah mulai bergerak meninggalkan kediaman orangtua Aida yang berada di kota Bogor.


Di dalam mobil Aida masih meneteskan air matanya mengingat kedua orangtuanya. Raffi membiarkan ratunya itu meluapkan kesedihannya. Mobil tetap bergerak pada lajur kiri dengan kecepatan sedang. Bagi Raffi momen perpisahan itu yang sedang ditunggunya karena dirinya sudah tidak sabar bertemu dengan calon bayinya di dalam perut sang istri. Tidak lama mobil itu sudah turun ke jalur biasa bersaing bersama mobil lainnya untuk mencapai tujuan. Raffi menggenggam jemari istrinya.


"Sayang, sedikit lagi kita tiba di rumah kita, tolong jangan sedih lagi karena hari ini adalah hari bersejarah kita sayang."


Aida menyeka air matanya lalu menatap suaminya yang masih memegang kemudi.


"Maafkan aku Raffi karena merusak suasana hatimu yang lagi bahagia."


"Husst!" jangan bicara seperti itu sayang, ikatan anak dengan orangtua itu sulit dipisahkan, memang aku tidak merasakan apa yang kamu rasakan karena aku tidak merasakan kasih sayang orangtua karena aku dibesarkan di panti asuhan.


Mungkin dulu ibuku membuangku karena tidak kuat menanggung aib untuk membesarkanku, tapi aku tetap bersyukur karena dia tidak membunuhku seperti bayi-bayi malang yang lain, yang baru hadir diperut ibunya langsung dibunuh dengan cara keji bahkan dibunuh dan dibuang ditempat-tempat yang mengerikan.


Kadang dihanyutkan di sungai, di laut dan ada pula yang dikubur hidup-hidup. Itu yang kupikirkan tentang seorang ibu yang jahat kepada anaknya tapi ibuku masih memiliki hati yang mulia, meninggalkanku di panti asuhan tanpa jejak apapun untuk bisa ku kenang tentang dirinya, selain diriku sendiri yang mungkin mewarisi sebagian wajahnya.


Ucapan Raffi sangat membuat Aida makin terharu. Wanita yang masih terbalut dengan kebaya pengantin ini menangis lagi membuat Raffi merasa bersalah, bukannya menenangkan malah menambah jumlah air mata kekasihnya yang terus berderai sampai mobil mereka masuk ke areal apartemen.


Raffi, mencari tempat parkir yang sesuai dengan lantai di mana tempat mereka tinggal. Usai memarkirkan mobilnya Raffi baru menatap wajah cantik istrinya sebelum mereka turun.


"Sayang, maafkan aku, telah membuatmu makin sedih. Aku tidak sadar dengan ucapanku yang menambah kesedihan hatimu hingga membuatmu merasa tersentuh dengan kisah hidupku yang membosankan. Itulah mengapa aku tidak pernah menyerah untuk mendapatkanmu lagi karena aku takut posisi ibuku sama halnya dengan dirimu."


Lama kelamaan tangis Aida mulai reda, ia mengatur nafasnya untuk memulihkan kesedihannya. Raffi mengelus dada istrinya supaya lebih tenang dan tidak terlalu emosional.


"Sayang, kalau kamu menangis terus, nanti penghuni apartemen yang lain mengira aku memaksamu untuk menikah denganku," hibur Raffi membuat Aida menarik bibirnya.


"Ayo kita turun suamiku," ucap Aida singkat membuat Raffi sangat bersemangat.


"Nah, gitu dong itu baru istriku."


Raffi turun duluan dan membuka pintu untuk istrinya. keduanya melangkah menuju kamar apartemen mewah milik mereka. Kamar demi kamar yang ada di lantai apartemen mereka lewati sampailah mereka di kamar mereka. Aida yang lebih dulu masuk karena ingin membersihkan dirinya, tapi dicegah oleh Raffi karena tidak sanggup menahan birahinya.


"Sayang, tetaplah seperti ini, jangan mengubah apapun, biarkan aku yang menanggalkan semua pernak pernik yang menempel ditubuhmu."


"Tapi keadaanku sangat berantakan sayang, izinkan aku membersihkan diriku sebentar, setelah itu aku akan melayanimu."


"Tidak perlu sayang, nanti kita juga mandi lagi setelah bertempur," ucap Rei sambil membuka sanggul dan kembang yang menghiasi rambut Aida.


Aida membiarkan Raffi melakukan apa saja pada tubuhnya saat keduanya berada dalam ruang ganti yang ada meja riasnya yang sudah disiapkan Raffi untuk Aida.


Semua yang melekat ditubuh keduanya telah ditanggalkan, Raffi menggendong ratunya yang sudah polos itu membawa ke kasur mereka yang juga dihiasi kelompok mawar yang bertaburan di atasnya, harum aroma terapi di kamar itu membuat keduanya merasakan ketenangan. Minuman hangat yang sudah disiapkan pelayan Raffi dikamar itu untuk menambah stamina keduanya.


Raffi meletakkan tubuh Aida diantara kelopak kembang mawar, ritual malam pengantin yang sudah kadaluarsa itu tidak mengurangi minat Raffi pada istrinya. Raffi memberikan minuman itu untuk diminum oleh Aida dan ia sendiri juga meminum minuman yang berkhasiat itu dalam acara ritual mereka.


Raffi memulai aksinya, mencium bibir lembut Aida, lalu memagutnya, Aida juga membalasnya karena dia juga merasakan hal yang sama dengan Raffi. Saling mengecap, mengisap diantara mereka, buah da*a Aida yang sudah makin besar karena hormon kehamilannya.


"Sayang, ini makin besar saja," tanya Raffi yang makin gemas dengan dua buah benda kenyal milik istrinya.


"Ini karena aku hamil sayang."


Raffi meneruskan permainannya, membenamkan wajahnya diantara dua bukit kembar itu, hatinya sangat senang melihat perubahan tubuh pada istrinya yang makin montok. Tiap inci tubuh Aida tidak terlewatkan oleh bibir Raffi, Aida yang terus mend**ah merasakan sentuhan dari lidah Raffi yang sudah memilin pu**ng yang mengeras karena rangsangan yang memabukkan. Tangan Raffi yang tidak ketinggalan ikut menjelajah bagian tulang paha bawah milik istrinya untuk mencari sangkar emas yang menawarkan sejuta nikmat. Aida melenguh panjang saat tangan Raffi terus mengaduk sangkarnya.


"Akkhhh!", Raffi!"..sayang!"


Raffi yang sudah dibakar energi birahinya, melebarkan paha istrinya, lalu menyerang sangkar itu untuk mencari tempat kelemahan sang ratu. Gigitan kecil pada daging imutnya membuat tubuh molek itu menggelinjang kegelian.


Raffi bangkit karena sudah cukup menyiksa istrinya dengan kenikmatan. Ia mulai menyiapkan senjatanya untuk menancapkan kedalam liang hangat milik Aida yang siap menyambut miliknya untuk bertempur bersama didalam sana, mencari kemenangan di setiap gesekan yang dilakukan Raffi.


Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan, karena keduanya makin kuat dan belum mau menyerah, sudah berapa kali posisi yang mereka ganti menambah varian rasa, yang jelas kenikmatan yang ingin mereka raih bersama malam yang sudah menampakkan cahaya gelapnya. Hingga akhirnya Raffi melepaskan lahar cintanya yang telah disiramkan dalam rahim yang makin menguatkan calon bayinya yang bakal tumbuh subur sesuai usia kehamilan sang istri.


Kelelahan telah menghinggapi tubuh mereka, angin sejuk dari Ac kamar membenamkan kembali peluh yang jatuh menggenangi wajah dan punggung. Kisah cinta indah yang diperjuangkan telah dipersatukan Tuhan untuk mengikat dua insan ini dalam mahligai perkawinan. Raffi memeluk istrinya, memberikan kecupan terakhir sebagai ucapan terimakasih. Raffi yang kelelahan memilih tidur, karena dua hari ini, ia sulit memejamkan matanya karena terus merasa gelisah menanti hari bahagianya, yaitu hari ini yang telah menghalalkan istrinya Aida.


Janji yang pernah diucapkannya di pantai pulau Jeju sudah ditunaikan. Tinggal menjalani kehidupan pernikahan ini yang belum sempat ia pikirkan sebab kesibukannya yang tidak rela dirinya memikirkan kebahagiaannya. Aida yang belum begitu ngantuk memilih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena tubuhnya sudah penuh dengan liur suami dan ca**n ci*ta mereka berdua.


Usai membersihkan diri Aida mengambil lengerie hitam yang sudah disiapkannya di kopernya, lengerie hitam itu hadiah dari sahabatnya Malika saat acara lamaran tempo hari. Ia kembali berias sebelum berangkat tidur. Ia ingin menyenangkan suaminya jika Raffi nanti bangun dan menginginkan dirinya lagi. Di cermin besar yang ada di ruang ganti itu, ia berkaca, melihat perutnya yang masih rata, lalu di belainya perutnya itu dengan tersenyum bahagia.


"Sayang, kita sudah berkumpul kembali dengan papamu, tumbuhlah dengan sehat nak, jangan menyusahkan mama sampai kamu hadir ke dunia. Terimakasih sayang sudah memilih rahim mama untuk kamu tumbuh. Semoga kamu menjadi anak yang sholih, aamiin."


🌷🌷🌷


Cinta memang gila, menyelaraskan hati yang telah patah bisa kembali utuh, asalkan nilai kesetiaan menjadi jaminannya. Tidak perduli seberapa banyak kamu berjuang, yang jelas seberapa besar kesungguhanmu untuk memberikan cinta itu sendiri kepada pasanganmu.

__ADS_1


Awal yang indah, semoga akhirnya juga akan menyenangkan bahkan membahagiakan orang-orang di sekelilingmu. Haluan hidup yang dibangun oleh Raffi mulai detik ini untuk membina rumah tangganya bersama sang istri Aida.


__ADS_2