Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
PERTENGKARAN


__ADS_3

Rei sudah berada di ruang kerjanya, asisten Raffa menyerahkan beberapa berkas yang sudah disiapkan untuk tuannya yang harus ditandatangani, ada juga beberapa laporan saham dan audit pembukuan keuangan perusahaan milik Rei.


"Bos, ada berita penting yang ingin saya sampaikan, ini mengenai bayi nona Malika bos."


Sesaat Rei mengangkat wajahnya dengan wajah tertegun mendengar pengakuan laporan dari Raffi.


"Di mana putraku cepat katakan," seru Rei pada asistennya.


"Menurut laporan bayi nona Malika, sebelum dibawa ke luar negeri, rupanya bayi itu mengalami gagal jantung, karena peralatan medis yang kurang menunjang untuk kelangsungan hidup bayi itu akhirnya dibawa ke luar negeri namun sayangnya bayi itu tidak bisa tertolong karena keadaannya yang sangat kritis."


"Degg!!"


Rei terperanjat saat mengetahui kalau putranya yang belum sempat ia lihat telah meninggal dunia. Rei merasa geram dengan asisten Raffi yang baru memberitahu kabar penting untuknya.


"kenapa baru sekarang kamu sampaikan hal yang sepenting itu padaku?, terus kapan kamu mengetahui berita ini Raffi dan mana laporan yang membuktikan putraku sudah meninggal?"


"Anu, tuan saya baru mengetahui barusan tuan dan ini laporannya tuan," jawab asisten Raffi sambil menunjukkan email yang tertera dalam layar ponselnya.


"Di mana mereka memakamkan jenasah putraku?"


"Di negara P, tuan"


"Apakah laporan itu bisa dipercaya?"


"Laporan itu didapatkan dari RS di negara tempat bayi itu dirawat tuan."


"Degg!!"


Jantung Rei seakan hampir copot, mendengar laporan dari asisten Raffi.


"Baiklah saya akan pulang menemui Malika bawa semua berkas itu ke mobil saya nanti saya akan paraf di mobil."


Rei keluar dari ruangannya menuju lift dengan perasaan sedih, marah dan kecewa. Dia tidak lagi memperdulikan pekerjaannya dan jadwal meeting hari ini, tujuannya cuman satu yaitu menemui wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sekaligus murka.


🌷🌷🌷


Mobil Rei sudah memasuki gerbang utama rumahnya, mobil itu melaju dengan sangat kencang sampai hampir menabrak salah satu tukang kebun yang ingin menyebrang ke arah danau, Rei menginjak rem mobilnya secara mendadak sehingga suara deritan injakan rem dan ban mobilnya begitu nyaring sehingga memancing semua penghuni yang ada di mansion berhamburan keluar.


"Sreeettt!!"


Rei turun dari mobilnya dengan wajah merah menahan amarah, dia tidak memperdulikan keadaan tukang kebunnya.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan karena tidak fokus saat menyebrang," ujar tukang kebun itu dengan tubuh gemetar.


Rei tidak menghiraukan tukang kebun itu, dia langsung berlari ke arah mansion yang sudah tidak jauh dari mobilnya berhenti.


Mobilnya ditinggalkan begitu saja membiarkan para pelayannya yang mengurusnya.


Baru beberapa langkah dia berlari nampak sosok yang ingin ditemuinya ada di halaman mansionnya. Kedua orangtua Rei bingung melihat sikap Rei, seperti ingin menyerang seseorang.


"Malika!!"


Teriak Rei menggelegar membuat orang yang berada di sekitar area mansion bergidik ngeri mendengar suara keras Rei pada Malika.


Belum pernah Rei semarah itu pada orang tapi entah ada masalah apa yang membuat sikap pria tampan dan gagah itu menjadi tak terkendali.


Malika hanya termangu mendengar Rei memanggil namanya.


Rei menarik tangan Malika dengan kasar lalu membawa gadis itu masuk ke dalam mansion. Orang tua Rei juga ikut masuk mengikuti Rei yang menarik paksa tangan Malika.


"Rei ada apa?, kenapa kamu menarik tanganku, lepaskan Rei, ini sakit!!"


"Kau tahu apa kesalahanmu?, hah! gara-gara sikap keegoisanmu, bayi kita meninggal!!


"Tidak, itu tidak benar, bayiku belum meninggal, bayiku masih hidup, tidaaaakk!!, teriak Malika histeris."


Malika berteriak histeris sambil menutup kupingnya dengan kedua tangannya. Nyonya Ambar ingin menghampiri Malika, namun dicegah oleh Rei, dengan perasaan kesal Rei mengangkat tubuh Malika ala bridal style membawa tubuh gadis itu masuk ke kamarnya, Malika langsung berontak dalam gendongan Rei, namun Rei terus membawa tubuh Malika lalu tubuh gadis itu dihempaskan dengan kasar di atas kasur, Rei menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang membuat Malika sangat ketakutan.


Rei mendekati Malika yang duduk sambil memeluk bantal untuk melindungi wajahnya, Rei mengambil dan melempar bantal itu ke sembarang arah, wajah sangarnya dengan rahang mengatup menatap gadis yang ada dihadapannya ini dengan murka. Lihat perbuatanmu, andai saja kau tidak bersikap angkuh mungkin bayi kita sudah bahagia hidup bersama kita, kau bukan cuma menghukumku tapi kau juga menghukum bayiku!," teriak Rei berapi-api pada Malika."


kenapa kau tega Malikaaa!, membiarkan bayi sekecil itu tanpa sentuhan kasih sayangku dariku,


kenapa!!"


Rei menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya, dirinya sudah kalap, Rei menghampiri tubuh Malika lagi, meraup kedua pipi gadis itu mendekati ke wajahnya.


"bukankah sekarang kau puas?, sudah membuatku gila mencarimu hampir satu tahun lalu kamu membawa bayiku dan kau ingin menyembunyikan dariku sampai bayi itu meninggal," ucap Rei dengan suara yang sudah parau menahan kesedihannya.


"Aakkkk!!!"


Teriakan Rei menggema dalam kamarnya. Malika hanya menangis dan menangis, hatinya membenarkan perkataan Rei bahwa dirinyalah yang sudah egois pada Rei dan keluarganya, dan sengaja menyembunyikan fakta tentang kehamilannya.


"Maafkan aku Rei, tolong maafkan kebodohanku, keangkuhanku, aku mengira aku bisa membesarkan anakku sendiri karena kehidupanku bergelimang dengan harta yang tidak akan membuat putraku kekurangan apapun.

__ADS_1


"Oh! begitu jalan pikiranmu, sungguh naif sekali kamu, kau kira hartamu bisa membeli harga sebuah kasih sayang seorang ayah untuk putranya nona Malika yang terhomat!," ucap Rei sinis kepada Malika yang sudah pasrah pada takdir.


Malika hanya tertunduk dengan tubuh lelah namun tidak pada Rei yang melihat wajah wanita itu yang kelihatan semakin cantik walaupun dalam keadaan sedih.


Rei mendekati tubuh Malika


memeluk tubuh gadis itu yang masih gemetar. Suara Rei sudah mulai melemah dan menghampiri tubuh ramping itu.


"Maafkan aku sayang, sudah berbuat kasar padamu," ucap Rei sambil menangis dalam pelukan Malika."


"Aku yang salah Rei, aku yang salah bukan kamu, sayang."


Rei terhentak mendengar ucapan Malika pertama kali memanggilnya dengan kata "sayang"


"Ulangin lagi Malika perkataanmu barusan padaku, apa yang tadi kau katakan hmm?


"Maafkan aku sayang," ucap Malika lagi sambil menatap mata Rei sendu.


"Oh, bidadariku, aku merindukan ucapan manis ini dari bibirmu.


Mereka saling menatap, wajah mereka makin dekat, dekat dan bibir Rei sudah mendarat pada bibir Malika, *******, mengecap dan saling bertukar saliva dalam rongga mulut keduanya.


Mereka sedang mengobati perasaan mereka yang terluka karena kehilangan jantung hati mereka entah benar atau tidak berita yang disampaikan oleh Raffi asisten Rei hari ini, namun dua anak manusia ini sudah hanyut dalam kerinduan yang telah dibentengi keegoisan.


🌷🌷🌷


Diluar sana orang tua Rei hanya menunggu dengan perasaan cemas yang melanda hati dan pikiran mereka.


"Papi, apakah cucu kita benar sudah meninggal?, padahal kita belum sempat melihat wajahnya," tanya nyonya Ambar lirih pada suaminya.


"Entahlah sayang, papi juga belum yakin dengan berita ini, kita harus memastikan sendiri kebenaran ini, jangan terlalu mengandalkan anak buahnya Rei."


"Kasihan Malika papi, dia seorang ibu yang baru merasakan menjadi wanita sempurna melahirkan dan menyusui putranya, apalagi dia harus merahasiakan status bayi milik Rei, cucu kita."


"Kita tunggu pasangan itu keluar dulu dari kamar Rei mami, nanti baru kita diskusikan kembali laporan kematian cucu kita, Malika itu seorang yang jenius pasti dia punya banyak cara untuk mendapatkan informasi keberadaan putranya hidup ataupun sudah meninggal."


"Iya papi, mama setuju dengan pendapat papi, mami masih berharap cucu kita masih hidup."


"Kita berdoa saja mami supaya Allah memberikan jalan keluar untuk keluarga kita."


"Aamiin"

__ADS_1


__ADS_2