Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
RUMAH MERTUA


__ADS_3

Malika dan Rena sudah meninggal kan rumah sakit setelah menjalani perawatan selama lima hari di rumah sakit tersebut. Malika sudah terlalu kangen putranya baby Ezra. Kali ini sopir pribadi nyonya Andien yang menjemputnya, sedangkan mobil pribadinya dibawah oleh mantan sopir pribadi Arie suami Malika.


Tidak ada pembicaraan yang berarti di dalam mobil yang membawa mereka ke mansion mertua Malika, karena gadis cantik ini masih pelit untuk bersuara hanya memandang jalanan ibukota sore hari ba'da ashar. Tidak lama mobil mewah itu sudah terparkir Malika turun dari mobil di bantu Rena kepala pelayan setianya. Nyonya Andien sudah berdiri di teras menyambut menantunya dengan menggendong baby Ezra.


"Assalamualaikum bunda," ucap Malika sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya dan di ikuti Rena.


"Waalaikumuslam sayang, selamat datang di rumah suamimu," ucap nyonya Andien dengan senyum manisnya.


"Apa kabar baby tampan ibu," ucap Malika seraya mengambil putranya.


Nyonya Andien yang ingin meminta Malika istirahat dulu di kamarnya namun di tolak oleh menantunya itu.


"Aku sudah pulih bunda, sudah nggak betah kalau berbaring terus, lagian aku kangen sama baby."


"Terserah kamu saja sayang, dan bunda sudah merapikan kamarmu bekas kamar Arie, nggak apakan sayang?"


"Tidak masalah bunda, Malika merasa bersyukur bunda mau terima Malika disini bersama baby Ezra."


"Memang tempatmu di sini sayang walaupun Arie sudah meninggal jelas tanggungjawabnya beralih pada kami mertuamu apa lagi ada baby Ezra.


"Ngomong-ngomong ayah mana bunda?"


"Ayahmu sudah lumpuh Malika karena jatuh di kamar mandi ayah kena stroke," ucap nyonya Andien sedih.


"Astaga kenapa saya tidak tahu bunda, maafkan saya bunda kurang perhatian pada keluarga mas Arie," ucap Malika dengan perasaan sedih.


"Kejadiannya terlalu cepat sayang setelah kecelakaan pesawat jet keluargamu menjadi tranding topik, ayah saat itu juga jatuh di kamar mandi, tapi kehadiran baby Ezra sangat membantu ayah memiliki semangat hidup.


Malika kembali merasa bersalah pada keluarga mertuanya tentang status anaknya.


"Ya Allah bagaimana seandainya mereka tahu, ingin rasanya aku kabur dari rumah ini sebelum semuanya terungkap, Rei bagaimana ini, kau timpakan kesialan padaku membuat hidupku makin berantakan," ucap Malika merutuki Rei dalam hatinya.


"Rena kamarmu di belakang ya bersama para pelayanku, karena kamu di rumahku jadi kamu harus mematuhi aturanku di sini," ucap nyonya Andien sinis pada Rena.


Rena yang masih berdiri menemani nona muda dan tuan babynya yang duduk di ruang tamu menatap wajah Malika. Malika hanya mengangguk pada Rena tanpa bersuara, Rena yang mengerti menuruti nona mudanya.


"Bunda kalau bisa biarkan bibi Rena yang melayani semua kebutuhanku dan aku yang akan memberi upah padanya seperti biasa," ucap Malika penuh penegasan.


"Boleh juga nak, tapi aku nggak suka dengan pelayanmu itu, sikapnya padaku nggak sopan Malika.


"Bibi Rena memang begitu bunda kalau baru bertemu dengan orang baru, nanti lama kelamaan dia belajar bagaimana dia seharusnya bersikap, aku yang akan menegurnya seandainya dia berbuat khilaf pada bunda atau pada keluarga ini."


"Tapi ingat Malika kau adalah menantuku sudah kewajibanmu harus mematuhi perintahku."


"Baik bunda aku akan ingat itu, aku permisi mau memberikan ASI untuk baby, sayang kalau ASI-nya kebuang terus.


Malika segera berdiri dan melangkah menuju kamar Rei yang sudah diketahuinya semasa mereka masih tunangan. Sebenarnya Malika tidak begitu nyaman ngobrol lama dengan ibu mertuanya. Malika memilih pergi dengan alasan menyusui baby Ezra.


Malika merebahkan tubuhnya setelah menidurkan babynya. wajah lelahnya masih terasa dengan pikiran yang penuh dengan niatnya yang ingin meninggalkan rumah mertuanya, tanpa terasa Malika sudah terlelap tidur yang membawanya ke alam mimpi.

__ADS_1


Di ruang keluarga nyonya Andien memanggil Rena yang masih berkutat di dapur membantu pelayan lain memasak makan siang untuk keluarga tuan Pramudia.


"Rena kemari sebentar," panggil nyonya Andien."


"Iya nyonya," saut Rena yang sudah berada dihadapan nyonya Andien.


"Apakah kamu yang memegang kartu debit milik Malika?"


"Tidak nyonya, sudah saya kembalikan milik nona muda."


"Kalau begitu ambilkan kartunya biar saya yang pegang karena tidak ada yang gratis di rumah ini."


"Maaf nyonya, saya tidak berani, kenapa bukan anda sendiri yang meminta pada nona muda?"


Kata-kata Rena membuat nyonya Andien makin kesal kepada pelayan menantunya ini.


"Sudah saya bilang dari awal kamu harus mengikuti peraturan di rumah saya."


"Tapi peraturan nyonya bertolak belakang dengan kebaikan, mana mungkin menyuruh saya mengambil sesuatu yang bukan hak saya untuk menyenangkan nyonya.


"Rena!!


Berani kamu ya membantah perkataan saya, mulai saat ini kamu keluar dari rumahku tidak perduli kamu pelayan menantuku," bentak nyonya Andien membuat Rena sangat kesal.


"Baik nyonya aku harus pamit pada nona mudaku sebelum pergi dari sini," ucap Rena lalu meninggalkan nyonya Andien.


"Kurangajar!, pelayan sialan, beraninya kau!," gumam nyonya Andien yang berbicara sendiri sambil menatap punggung pelayan Rena berlalu.


"Ada apa bunda, kenapa berteriak begitu kencang?, bunda sedang memarahi siapa?," tanya Malika pada mertuanya.


"Malika pecat Rena sekarang juga, bunda tidak ingin melihat pelayan dirumah ini."


"Apa kesalahannya bunda?"


"Dia sudah membantah perintahku"


"Emang apa yang bunda minta dari Bibi?


Rena yang melihat nona mudanya sedang berbicara dengan nyonya Andien langsung menyampaikan perintah nyonya Andien padanya.


"Maaf nona muda tadi nyonya meminta saya mengambil kartu debit milik nona muda untuk menyerahkan padanya."


"Apa?, untuk apa bunda minta kartu milik saya? emang bunda butuh uang?, berapa yang bunda butuh?


Nyonya Andien tampak malu dihadapan menantunya, lalu menjawab dengan sinis pada Malika.


"Bunda nggak tahu biaya hidupmu dan babymu di rumah ini apalagi ditambah pelayanmu berarti makin besar pengeluaran yang bunda belanjakan untuk kalian jadi bunda minta kartu debitmu sewaktu-waktu bunda belanja bunda tinggal gesek dengan menggunakan kartumu."


"Oh begitu ceritanya, bunda ingin perhitungan dengan kami, baiklah saya akan keluar dari rumah ini bersama putra saya sekarang juga," ketus Malika kepada ibu mertuanya."

__ADS_1


"Jangan Malika, maafkan bunda, bunda tidak akan meminta apa-apa darimu lagi yang penting jangan tinggalkan rumah ini apa lagi membawa baby Ezra, bunda nggak sanggup berpisah dengan cucu bunda pengganti Arie hiks!..hiks!!"


"Baiklah kalau begitu jangan usik aku, pelayanku dan juga babyku, mulai besok aku akan transfer uang ke bunda sebagai biaya hidup kami di sini dan aku tidak akan menyerahkan milikku kepada siapapun karena itu hartaku jerih payah papaku. Permisi bunda aku harus kembali ke kamar melihat babyku dan bibi temanin aku di kamarku bila perlu ambil barangmu tidur bersamaku aku butuh bibi 1kali 24 jam jadi jangan jauh-jauh denganku," ucap Malika tegas dengan penuh penekanan pada ibu mertuanya.


Nyonya Andien tampak melongo mendengar penuturan menantunya, diapun tidak lagi berani membuka mulutnya untuk berdebat dengan menantunya Malika.


Malika kembali ke kamarnya dengan sangat gusar diikuti Rena di belakangnya. Sesampainya di kamar Malika membanting pintu kamar dengan sangat kencang, dia ingin memperlihatkan sikap kurang ajarnya pada ibu mertuanya supaya dia di usir dari rumah itu.


"Dasar menantu nggak beradab, kalau bukan karena cucuku sudah aku lemparkan kau ke jalanan, dasar gadis manja, gadis sialan, pantas saja anakku meninggal karena ulahmu yang bar-bar seperti itu," ucap nyonya Andien sambil menggerutu sendiri di ruang keluarga.


🌷🌷🌷


Makan siang sudah di siapkan, salah satu pelayan nyonya Andien mendatangi kamar Malika untuk meminta nona mudanya turun ke ruang makan tapi Malika menolaknya dengan alasan perutnya masih sakit.


tok!..tok!


Rena membuka pintu kamar Malika, menanyakan gerangan pelayan nyonya Andien.


"Maaf mbak, saya di pinta nyonya Andien untuk memanggil nona muda turun makan siang."


Malika yang mendengar langsung menyahut pelayan tersebut.


"Kalau anda tidak keberatan tolong bawakan makan siang saya dan bibi Rena ke kamar saya, jika mertuaku nggak setuju dengan permintaanku tolong katakan padanya saya akan memesan makanan di restoran."


"Baik nona muda saya akan mengambilkan untuk anda dan bibi Rena."


Pelayan itu kembali ke ruang makan di mana nyonya Andien sedang menunggu menantunya Malika.


"Apakah Malika akan turun makan bersamaku?"


Pelayan itu menyampaikan apa yang di pesankan Malika kepada mertuanya. Nyonya Andien menggebrak meja makan.


"Dasar menantu sialan ada aja ulahnya yang memancing emosiku.


"Antarkan apa yang dia minta mbak Atik dan bilang padanya kalau mau makan suruh pelayannya mengambilkan untuknya dan kamu tidak usah lagi mengurus menantuku itu kecuali atas perintahku."


"Baik nyonya saya permisi ke kamar nona muda dulu," pamit pelayan Atik sambil membawa baki yang berisi makanan untuk Malika dan Rena.


Usai mengantarkan makanan pelayan Atik kembali ke tempatnya. Sedangkan Malika tertawa lepas bersama Rena yang sudah berhasil mengerjai ibu mertuanya.


"Nona muda aku senang melihat nona muda berani menentang perkataan nyonya Andien, begitu non jangan mau ditindas sama nenek sihir itu," ucap Rena lalu terkekeh.


"Bibi aku pingin kita kabur dari sini, aku tidak betah berada di rumah ini."


"Terus kita mau ke mana nona muda sedangkan mansion nona belum dibenahi setelah kejadian malam naas itu."


"Bibi, aku punya apartemen dan villa, kita bisa tinggal di salah satunya, tidak banyak yang tahu aku punya apartemen bibi kecuali asisten Rama, aku akan menghubunginya besok.


"Alhamdulillah nona, kalau begitu bibi ikut saja ke mana nona pergi."

__ADS_1


"Terimakasih bibi, aku senang bibi selalu ada untuk kami."


Keduanya menikmati makan siang mereka dengan canda ringan tapi itu dilakukan perlahan karena baby Ezra masih tidur pulas. Malika menghabiskan makanannya dan meminum obat yang sudah disiapkan oleh Rena.


__ADS_2