
Sambil menunggu acara launching pesawat jet model terbaru yang akan diadakan bulan depan, Rei dan Malika membawa putra mereka ke salah satu perguruan tinggi ternama di Jerman untuk melakukan beberapa tes wawancara dengan guru besar mantan dosen Rei ketika menjadi salah satu mahasiswa terbaik di kampusnya.
Rei adalah mahasiswa kesayangan tuan Michael karena kejeniusan Rei pada mata kuliahnya. Kesempatan ini dimanfaatkan Rei untuk berkunjung sekaligus memperkenalkan kampusnya kepada istri dan putranya Ezra.
Sudah banyak sekali perubahan bangunan kampus itu disetiap bangunannya. Tempat bangunan yang dulu berada sudah beralih fungsi, banyak pemugaran pada tata letak pembangunan kampus itu yang berbeda jauh dengan dulu ketika ia masih berstatus mahasiswa di fakultas bergensi dengan jurusan yang ia ambil kala itu.
Ketika berada di area kampus Rei mengajak Malika dan putranya untuk traveling dulu ke tempat-tempat keren yang dulu menjadi favoritnya. Perpustakaan, ruang komputer, kantin, taman, dan beberapa ruang lainnya yang menjadi kunjungan rutin Rei selama mengenyam pendidikan di kampus tersebut.
Setelah menemukan ruang dosen fakultas jurusannya, Rei menyampaikan keinginannya pada bagian resepsionis untuk memberitahukan kedatangannya kepada Prof. Michael. Petugas itu menghubungi Prof. Michael tentang keberadaan salah satu alumni mahasiswanya yang bernama Reinaldi dari Indonesia. Petugas itu mempersilahkan Reinaldi dan keluarganya masuk ke ruang Prof. Michael setelah mendapatkan ijin dari dosen tersebut.
"Hallo, selamat pagi Rei, apa kabar!" ucap Prof. Michael menyambut Rei dengan pelukan kerinduan.
"Sangat baik prof, bagaimana dengan kabar anda prof." tanya Rei pada Profesor Michael yang sangat senang dengan kedatangannya.
"Seperti yang kamu lihat Rei, aku makin tua dan rambutku sudah kabur dari tempatnya," ucap prof. Michael kepada siswa kesayangannya.
"Prof. Kenalkan istri saya Malika dan ini putra saya." ucap Rei memperkenalkan istri dan putranya Ezra kepada dosen kesayangannya.
Prof. Michael mengulurkan tangannya pada Malika, dan keduanya saling berkenalan dan menyebutkan nama mereka masing-masing. Tibalah bagiannya Ezra yang menatap tajam profesor Michael.
"Wah, ini pasti jagoan kamu Rei, siapa namamu nak," tanya profesor Michael pada Ezra, putra pertama Rei dan Malika.
Dosen kesayangan Rei ini, membungkukkan sedikit tubuhnya mengajak Ezra berkenalan. Ezra yang sangat percaya diri menyebutkan namanya dengan lantang, membuat Profesor Michael terkekeh mendengarnya.
Mereka pun mengambil tempat duduk yang terdapat didalam ruang dosen. Dengan sedikit bernostalgia, Rei menceritakan mengenai perjalanan kariernya hingga ia sangat sukses sampai saat ini.
Walaupun Profesor Michael sudah mengetahui siswanya ini merupakan pengusaha di dunia penerbangan melalui koran ataupun media lainnya, tetap saja ia dengan setia mendengarkan cerita Rei tentang bisnisnya. Bagi Prof. Michael mendengar dari nara sumbernya langsung jauh lebih baik dari pada media elektronik dan cetak yang tidak begitu akurat dalam menyampaikan berita tentang lelaki hebat ini.
"Apakah kamu sengaja ingin mengunjungi pria jomblo lapuk ini atau ada maksud lain dengan kedatangan kamu ke tempatku?" tanya Prof. Michael yang memang tidak ingin menikah sampai usianya sudah mencapai 65 tahun.
"Begini prof, saya dan istri, sengaja membawa putra kami Ezra untuk bertemu dengan anda prof, karena putra kami memiliki IQ di atas rata-rata yang tidak setara dengan anak-anak seusianya." ucap Rei yang mengetahui kalau Prof. Michael adalah salah seorang dosen yang pernah memberi tes intelegensi padanya ketika ia masuk ke perguruan tinggi ternama di Jerman tersebut.
"Hebat kamu Rei, pewaris kerajaan bisnismu sudah kelihatan keahliannya tanpa harus bersusah payah mengajari putramu Ezra," puji Profesor Michael pada Rei dan putranya.
Profesor Michael mengambil beberapa lembar tes yang selalu diberikan kepada calon mahasiswa yang akan masuk ke perguruan tinggi tersebut. Ezra menerima kertas tes dan memulai mengerjakan soal-soal yang ada dalam kertas tersebut.
Sementara menunggu Ezra menyelesaikan tugasnya, orangtua Ezra kembali menyambung obrolan mereka seputar teknologi canggih yang sekarang ini makin berkembang sejalan dengan zamannya. Banyaknya para ahli yang berkompeten yang saat ini sedang melakukan uji coba hasil penemuan mereka di kampus tersebut. Rei mendengarnya dengan seksama, baginya ini penting karena Rei ingin merekrut mahasiswa-mahasiswa berbakat itu bekerja di perusahaan miliknya.
Dalam waktu 20 menit Ezra sudah menyelesaikan soal-soal tes yang diberikan oleh profesor Michael.
"Daddy, Ezra sudah selesai mengerjakannya," ucap Ezra sembari memberikan hasil tes pada Rei.
Rei mengambil kertas tes dari tangan putranya dan memberikannya pada Profesor Michael. Dengan sangat teliti, satu persatu soal yang sudah dikerjakan oleh putra dari mantan mahasiswanya ini diperiksa oleh nya. Sambil memeriksa hasil tes Ezra, profesor yang sudah habis rambutnya itu menggelengkan kepalanya dengan rasa takjub. Rei dan Malika merasa cemas dengan hasil tes putra mereka, apakah memuaskan atau tidak.
Prof. Michael menurunkan sedikit kacamatanya dibawah hidung mancungnya, Profesor Michael bergantian menatap Ezra dan kertas yang ada ditangannya. Senyum bangga terukir jelas dari guratan wajahnya yang sudah tua.
Dosen jenius ini, mengulurkan tangannya kepada Ezra untuk lebih mendekatinya, ia meminta Ezra menjelaskan cara penyelesaian soal yang sulit dengan penyelesaian jawabannya yang sederhana tapi tepat. Ezra menjelaskan dengan bahasa akademik, membuat profesor dan orangtuanya merasa terharu. Tidak hanya sampai di situ, Ezra mengambil spidol kemudian menuju ke papan tulis yang terdapat di ruangan tersebut, dan ia menarik bangku untuk dijadikan pijakannya karena tubuhnya yang masih kecil tidak bisa menjangkau papan tulis itu. Dengan kemampuan otak jeniusnya, Ezra mulai menerangkan jawabannya dengan sangat rinci kepada Prof. Michael tanpa membuat kesalahan sedikitpun. Apa yang dijelaskan oleh Ezra sangat membuatnya kagum akan kejeniusan putra Rei ini.
Tidak hanya sampai disitu, Profesor Michael, meminta Ezra mengerjakan hal yang baru lagi dalam laptop miliknya yang terdapat beberapa gambar kerangka pesawat yang harus dirakit oleh Ezra dalam layar datar tersebut.
Bagi Ezra soal itu sangat menyenangkan, karena ia dengan mudah berselancar dengan jari-jari kecilnya mengotak ngatik apa saja yang ada dalam laptop itu dengan fitur yang sudah tersedia, hanya tinggal mengaplikasikannya saja. Tidak butuh waktu lama, Ezra sudah menyelesaikan tugasnya merakit semua kerangka pesawat, lengkap dengan komponen yang ada di dalam aplikasi tersebut. Kemahiran Ezra merakit pesawat seperti ia sedang bermain puzzle. Laptop milik Profesor Michael dikembalikan olehnya, dengan menggunakan bahasa Jerman, Ezra mengatakan sesuatu kepada Profosor ayahnya itu.
"Tuan, apakah tidak ada lagi yang lebih sulit selain tugas ini?"
"Apakah kamu sedang menantang aku tuan kecil?" tanya profesor Michael kepada Ezra yang masih berharap sesuatu darinya.
"Iya tuan!" jika boleh saya ingin ikut ambil bagian dari kelas anda ketika anda sedang mengajar para mahasiswa anda, apakah boleh tuan Michael?" tanya Ezra yang begitu berani berbicara tegas pada Profesor Michael.
__ADS_1
"Baiklah tuan Ezra, aku akan tunggu anda di ruang kelasku besok dan kamu adalah mahasiswa termuda yang ada di sepanjang sejarah di kampus ini." ucap Profesor Michael yang sengaja memperlakukan Ezra layaknya orang dewasa.
Prof. Michael sebenarnya gemas dengan tingkah balita ini, dengan tubuhnya yang kecil ia begitu lihai memerankan dirinya layaknya orang dewasa. Tapi sangat berbeda sifatnya ketika ia berbicara dengan kedua orangtuanya dengan kembali menjadi dirinya sendiri.
Prof. Michael terkekeh dengan tingkah bocah yang sebentar lagi genap berusia tiga tahun ini. Tapi kemampuan otaknya sudah setara dengan para cendekiawan muda.
"Daddy, Ezra mau pulang, sudah capek ngobrol dengan tuan itu, hari ini dia sudah membuat aku lelah dengan tugas yang diberikan olehnya," ucap Ezra sambil memukul-mukul jidatnya dengan telapak tangannya.
"Baiklah, kalau begitu kita akan segera pulang jagoan dady, tapi kita tunggu penjelasan dari profesor Michael tentang kemampuanmu sayang." ucap Tuan Rei kepada putranya.
"Sama mommy saja ya sayang, apa kah Ezra mau minum susu?" ini mommy sudah siapkan untuk Ezra." ucap Malika seraya menyerahkan susu botol kepada putranya sambil memangku Ezra yang kelihatan sudah mengantuk.
Malika mendekap putranya yang sudah terlelap, mereka kembali menyambung obrolan mereka yang
sempat terhenti dengan rengekan manja Ezra. Prof, Michael memulai kembali menjelaskan kemampuan Ezra dalam bidang yang sangat digemarinya seperti daddynya mengenai pesawat terbang.
"Tuan Rei, dari pengamatan yang saya lihat, mengenai kemampuan putra anda Ezra, IQ putramu sudah masuk ke dalam kategori jenius. Di tingkat yang paling tinggi ini, seseorang tidak terlalu membutuhkan sekolah formal untuk bisa menjadi pintar, tapi kecerdasan putra anda lebih kuat dari faktor genetik, yang diturunkannya dari kedua orangtuanya."
"Berapa nilai tertinggi dari IQ, putra saya Prof?" tanya Rei yang masih penasaran dengan hasil tes IQ putranya.
"Putra anda Ezra masuk kategori jenius yaitu (+140) dari hasil tes yang saya berikan tadi. Pada tingkat ini Ezra memiliki kemapuan yang luar biasa bahkan hingga bisa memahami sesuatu dan menemukan hal-hal baru meski tidak mengikuti pendidikan formal. Contoh yang berada di tingkat ini adalah Albert Einstein.
Dan putramu sudah mengalahkan kemampuan kamu Rei, putramu hanya butuh bimbingan dengan menempatkannya pada sekolah yang tepat, jangan lupa ia harus tetap bersosialisasi dengan teman sebayanya, dengan begitu kemampuan intelektualnya akan berimbang dengan kehidupan sosialnya."
Prof. Michael menyerahkan hasil tes putranya Rei beserta lembar tes yang telah dikerjakan putranya. Keduanya mengamati tulisan Ezra yang sangat rapi menuliskan angka-angka, soal matematika yang sengaja disodorkan oleh Prof. Michael setelah tes IQ yang diselesaikan oleh Ezra.
Rasa bangga yang amat mendalam antara Rei dan Malika, tak habis-habisnya mereka bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya menitipkan putra sehebat dan setampan Ezra pada mereka. Setelah panjang lebar pembahasan dan tanya jawab Rei dan Malika pada Profesor Michael, keduanya pamit pulang karena Ezranya sudah tidur nyenyak. Rei mengambil putranya dari pangkuan istrinya. Keduanya bersalaman dengan Profesor. Michael dan berjanji akan berkunjung lagi ke kampus tersebut.
"Prof, kalau begitu kami pamit dulu, kapan-kapan kami akan mengunjungi lagi anda." ucap Rei yang hanya bersalaman dengan Profesor favoritnya ini.
"Senang bertemu dengan anda nyonya Malika, kalian pasangan yang hebat," ucap Prof. Michael yang kagum dengan kecantikan istri mantan mahasiswanya ini.
🌷🌷🌷
Di istana milik kakek Rei yang di Jerman, keluarga yang datang belakangan sudah berkumpul di meja makan. Chef dan teamnya yang didatangkan langsung dari hotel mewah dikerahkan hanya untuk menyiapkan makan siang dan makan malam untuk keluarga ini. Silaturahim keluarga besar ini akan berlangsung jika ada momen-momen penting, apa lagi pertemuan ini menyangkut dengan perusahaan. Mereka juga memiliki saham yang sengaja mereka investasikan ke perusahaan milik Rei, walaupun diantara saudara tuan Romi masih memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang lain.
Ada yang memiliki kapal pesiar, hotel mewah,
restoran terkenal dan bahkan memiliki sekolah. Tidak ada keluarga dari kedua orangtuanya yang memiliki kehidupan yang standar tingkat sosialnya, jadi tidak heran jika mereka berkumpul tidak ada diantara mereka yang saling menjatuhkan satu sama lain di pertemuan itu, yang ada mereka saling mendukung secara moril. Kehangatan yang terjalin begitu kompak diantara mereka sehingga tidak ada cela bagi orang lain yang ingin menghancurkan kekompakan keluarga itu. Rei yang sudah membaringkan lagi putranya di kamar, kembali ikut bergabung dengan keluarga besar papinya ini.
"Dari mana kalian pagi ini Rei?" tanya Reihan sepupunya Rei.
"Kami baru pulang dari kampusku."
"Apakah hari ini ada acara reuni di kampusmu?"
"Tidak ada, kami hanya ingin membawa Ezra untuk melakukan sejumlah tes IQ dan soal-soal yang bisa kerjakan oleh Ezra tanpa panduan dari kami."
"Benarkah, sehebat itukah putramu Ezra," tanya tuan Ismail pamannya Rei.
"Tentu saja paman, kebetulan kami membawa hasil tes yang tadi sudah di kerjakan oleh Ezra dan hasil laporan tesnya dari dosenku sendiri."
"Nanti saja kami melihatnya Rei, selesaikan makan kalian dulu karena kalian baru saja tiba." ucap tuan Ismail lagi kepada ponakannya Rei.
Malika yang terlebih dahulu menyelesaikan makanannya, lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil hasil laporan IQ putranya beserta lembaran soal yang sudah di selesaikan putranya Ezra yang akan ia berikan kepada keluarga besar suaminya.
Keluarga besar itu melihat hasil laporan lengkap tentang potensi Ezra pada tingkat kecerdasannya. Mereka tidak menyangka bahwa putra Rei ini sudah menuruni kejeniusan ayah dan ibunya, kolaborasi yang hebat hingga melahirkan putra yang lebih hebat lagi diusia mudanya.
__ADS_1
"Rei, hebat sekali putramu, apakah dia akan masuk sekolah lebih cepat diusianya sekarang?" tanya tuan Roy pada Rei.
"Tidak!" biarkan saja putraku menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain, jika Ia menginginkan suatu bacaan atau menulis sesuatu yang digemarinya tidak apa-apa, kalau itu hanya bagian dari permainannya bukan kewajibanya, layaknya seorang pelajar pada umumnya." ucap Malika yang menggantikan suaminya menjawab pertanyaan dari paman Roy.
Rei tidak mau menambahkan lagi perkataan dari ucapan Malika, karena Malika lebih berhak mengatur bagaimana perkembangan kecerdasan putranya. Semua orang tua ingin anak mereka cerdas dalam melakukan apapun, tapi Malika ingin Ezra lebih mengutamakan pendidikan in formal. Seperti belajar tentang adab, norma, akhlak dan mengetahui lebih banyak ilmu agama yang dianut agama orangtuanya. Pendidikan yang fundamental ini menjadi modal utama untuk putranya jika sudah duduk di bangku sekolah. Didikan ibu mempengaruhi kejiwaan setiap anak dan dari ibulah pendidikan pertama yang didapatkan oleh seorang anak, bagaimana ia mengerti bahasa cinta dan bahasa akhlak. Kedua pelajaran itu yang lebih membanggakan orang tua ketimbang memiliki anak cerdas tapi buruk akhlaknya.
🌷🌷🌷🌷
Di tempat yang berbeda jack yang diperintahkan oleh Alex untuk menyelidiki tuan Anderson, sedang berada di sebuah bar, ia sengaja mendekati kepala agensi model yang merupakan tempat dimana para model ternama selalu dikontrak oleh perusahaan Rei sebagai bagian dari iklan produk milik perusahaannya.
Jack mendekati tuan Saga pemilik agensi model tersebut. Tuan Saga yang dari tadi asyik menikmati minumannya dikagetkan dengan kehadiran Jack. Karena merasa Jack adalah salah satu orang kepercayaan tuan Alex dimana para modelnya bekerja dengan perusahaan itu, ia dengan reflek bangkit dan memberikan tempatnya untuk diduduki oleh Jack, asisten dari Alex.
"Selamat malam tuan Saga, apakah boleh saya menganggu waktu anda?"
"Silahkan tuan!
Apa yang bisa saya bantu untuk anda tuan?"
"Saya hanya ingin bertanya tentang model pendatang baru yang anda miliki saat ini, Serly!"
"Oh, ada apa tuan dengan Serly, apakah dia membuat ulah pada pekerjaannya?"
"Tidak seperti itu, pekerjaannya baik dan sangat profesional apa lagi didukung dengan performanya yang menakjubkan, itu menjadi nilai lebih bagi produk kami yang akan menghasilkan sebuah iklan lebih menarik pada pemasaran nantinya."
"Lantas apa yang sedang anda inginkan dari saya tuan, mengenai Serly kalau tidak ada masalah dengan gadis itu."
"Saya hanya ingin mengetahui asal usul keluarganya Serly, apakah dia masih memiliki orangtua?"
"Saya hanya merekrutnya menjadi seorang model tanpa mengetahui latar belakang kehidupannya. Apakah ini suatu hal yang penting untuk anda tuan Jack?"
"Paling tidak beritahu saya siapa yang bersamanya saat dia masuk ke dunia modeling milik anda tuan Saga."
"Oh itu, dia adalah tuan Anderson, lelaki itu yang selalu mencari gadis-gadis yang memiliki tubuh profesional yang akan ia orbitkan menjadi seorang model di agensi kami, salah satunya adalah Serly."
"Sejak kapan kamu menerima Serly sebagai model pendatang baru?"
"Sekitar 8 bulan yang lalu tuan, saat itu cukup merepotkan bagi kami ketika melatih dan memberikan pelajaran yang optimal untuk seorang Serly sebagai pelajaran dasar untuk menjadi seorang model. Tapi gadis itu lebih cepat belajar sehingga kami mudah untuk membimbingnya.
Dan debut pertamanya selama delapan bulan ini menjadi model terbaik untuk brand ambasador perusahaan anda tuan Jack. Biasanya model-model baru yang kami punya, selalu diawali dengan parade busana di salah satu brand tertentu tapi beda dengan Serly yang langsung mendapatkan ikan besar berkat kepiawaiannya dalam ajang pemilihan model brand ambasador untuk produk terbaru untuk perusahaan anda tuan Jack."
"Serly bukan hanya cantik dan memiliki tubuh profesional sebagai model tapi ia memiliki karakter sendiri yang kami sangat butuhkan dalam produk baru kami ini. Banyak sekali improvisasi yang dilakukan olehnya ketika sedang syuting iklan produk baru kami." ucap Jack untuk lebih meyakinkan tuan Saga tentang kehebatan Serly supaya ia dengan mudah mendapatkan banyak informasi tentang Serly.
Mungkin dengan sedikit ancaman dan uang orang ini akan mudah dipengaruhi olehnya. Jack lalu berbisik dikuping tuan Saga menyampaikan tujuannya kepada pemilik agensi tersebut. Tuan Saga yang sedang ditemani oleh dua orang gadis malam, meminta dua gadis itu meninggalkan mereka berdua sendiri. Pembicaraan mulai ke arah yang lebih serius sedang terjadi diantara keduanya.
"Tuan Saga, apakah anda ingin memiliki keuntungan lebih banyak dari penghasilan anda sebagai pemilik agensi model?"
"Apa yang anda inginkan dari saya tuan?"
"Selidiki tentang keberadaan Serly melalui tuan Anderson, jika kamu berhasil aku akan membayarnya lebih dari ini, anggaplah itu pembayaran awalnya saja, jika kurang katakan saja, asalkan kamu mau membantu aku sampai akhir."
pinta Jack seraya memberikan cek untuk tuan Saga."
"Kalau boleh tahu, apa tujuan anda meminta saya untuk menyelidiki nona Serly tuan Jack?"
"Saya rasa kamu tidak perlu tahu apa tujuan saya, yang jelas lakukan saja tugas anda seperti apa yang saya minta kepada anda tadi."
"Baiklah tuan, terserah anda saja, saya akan segera mendapatkan informasi untukmu dari tuan Anderson."
__ADS_1
Setelah itu jack pamit dan berlalu dari bar itu. Ia merasa lega karena bisa menjadikan tuan Saga sebagai pihak ketiga untuk mendapatkan informasi yang akurat dari sumbernya langsung yaitu tuan Anderson.