Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"KETEGANGAN"


__ADS_3

Personil polisi dan team Damkar sudah tiba di lokasi untuk melakukan penyergapan, Rei yang mengikuti penculik putrinya sudah berada di atas atap gedung rumah sakitnya. Rei mencari sosok yang sangat ia benci dalam hidupnya. Ketika mata Rei menangkap sosok yang tidak lain adalah mantan mertua dari istrinya Malika.


"Nyonya, berhenti nyonya," pinta Rei sengit kepada nyonya Andien yang ingin mencari pijakan di sudut gedung dengan membawa salah satu bayi kembarnya.


"Ha..ha..kau!


Dasar lelaki bodoh!..cuhui!" ucap nyonya Andien sambil membuang ludahnya kasar.


Hei bodoh!, kau dan wanita jal**ng itu harus membayar apa yang telah kalian lakukan padaku dan keluargaku!"


"Apa maksudmu nyonya!"


"Suruh jal**ngmu itu menemuiku disini, aku ingin menghajar wajah cantiknya yang telah memperdayai putraku dan mungkin juga dirimu dengan kecantikannya."


"Nyonya kembalikan dulu putriku, baru aku akan memanggil istriku ke sini untuk menemuimu, ku mohon nyonya, usia bayiku baru tiga hari, tolonglah nyonya," ucap Rei seraya mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon kepada nyonya Andien.


"Tidak tuan Rei!, kaulah yang menyebabkan suamiku jatuh sakit lagi karena kau mengambil cucu kami Ezra sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi merenggutnya nyawa suamiku," ucap nyonya Andien dengan suara yang bergetar.


"Nyonya! itu sudah takdir suami anda, tidak ada sangkut pautnya dengan kami dan baby Ezra adalah putra kandungku, dia hadir setelah almarhum putramu Arie meninggal, tolong terimalah kenyataan itu nyonya!"


"Tidak!, jangan katakan itu atau kau ingin bayimu aku lempar dari gedung rumah sakit milikmu ini," ancam nyonya Andien garang.


"Panggilkan Malika! kalau tidak bayi ini akan aku benar-benar akan melemparkannya!"


"Ok, tunggu nyonya!"


Rei menghubungi ponsel dokter Riyanti untuk meminta dokter itu mengantar Malika ke atas gedung.


"Hallo dokter Riyanti, tolong antarkan istri saya ke atas gedung karena mantan mertuanya ingin bertemu dengannya."


"Tapi, tuan nyonya tidak bisa berkomunikasi karena kejadian ini, pandangan matanya kosong."


"Astaghfirullah!"


"Tapi polisi sudah menuju ke atas tuan, mungkin sebentar lagi sampai."


"Bawa saja istriku dokter kalau tidak, nyawa putriku jadi taruhannya, ku mohon dokter, jangan mengulur waktu lebih lama."


Dokter Ryanti menghela nafas panjang, sesaat ia memejamkan matanya memohon kekuatan dari Tuhannya, setelah itu dokter meminta nyonya Alea untuk mengangkat putrinya yang masih duduk di lantai dengan wajah pucat dan tatapan matanya kosong tanpa ekspresi.


"Malika bangun sayang, mama tahu kamu bisa mendengarkan mama, tolong selamatkan putrimu!, hanya kamu yang bisa mengambil lagi putrimu dari tangan mantan mertuamu itu sayang."


Dengan dibantu dokter Riyanti, nyonya Alea memapah tubuh putrinya untuk duduk di kursi roda, lalu mendorong kursi roda yang sedang diduduki Malika, mereka mengantar Malika ke atas atap sedangkan tuan Daniel sudah bersama polisi untuk membantu mengamankan lokasi di atas gedung rumah saki. Kursi roda Malika sudah berada dalam lift bersama dokter Riyanti dan nyonya Alea.


Jantung kedua wanita ini sudah tidak beraturan lagi, detakannya karena saking tegangnya mereka menghadapi situasi yang mendebarkan ini. Malika sudah keluar dari pintu lift yang langsung menuju atap, kursi rodanya di dorong ke depan untuk lebih dekat dengan suaminya Rei. Rei menyambut istrinya yang masih diam membisu, hati lelaki ini sangat miris melihat keluarga kecilnya menjadi hancur karena ulah wanita gila yang pernah memporak-porandakan hidup mereka.


"Sayang, lihat putri kita, dia sangat membutuhkanmu, tolong sadarlah sayang, jangan masuk lagi dalam kegelapan sama."


"Ha...ha.. lihatlah si jal**ng itu dia sudah seperti patung hidup, hhm! kau hanya sampah Malika, bekas dari putraku yang akhirnya dipungut lagi oleh lelaki bodoh itu!," ucap nyonya Andien yang terus saja menghina mantan menantunya ini.


"Tutup mulut kotormu itu Andien!" bentak nyonya Alea yang sudah tidak kuat mendengar ucapan nyinyir dari nyonya Andien yang terus merendahkan putrinya.


"Kalau begitu kembalikan cucuku Ezra atau bayi ini akan aku lemparkan dari atas sini," ancam nyonya Alea yang sudah mengayunkan tangannya untuk melempar bayi tidak berdosa itu.


"Eaaaa!..eaaaa!''


Tangis bayi itu pecah ketika badannya yang hendak di lemparkan oleh nyonya Andien.


"Tidakkkkk!"


Teriak orang-orang serentak, merasa kengerian dengan ancaman yang dilakukan nyonya Andien pada bayi malang ini.


"Nyonya, tolong jangan seperti itu, kita bisa bicarakan ini baik-baik," ucap tuan Daniel yang sudah memohon cucunya dikembalikan.


Polisi sudah mengepung tempat kejadian perkara, kini giliran Kapolda yang mengambil alih tugasnya untuk mengamankan nyonya Andien dan putri tuan Reinaldi secara langsung, mereka begitu takut nyonya ini benar-benar nekat dengan ancamannya karena sangat kelihatan sekali dari tatapan mata putus asa dari nyonya Andien.


"Nyonya, anda telah kami kepung, tolong kerja samanya nyonya."


"Suruh polisi itu mundur Rei kalau tidak putrimu benar-benar aku lempar."


Rei yang takut akan ancaman nyonya Andien, meminta polisi untuk mundur, apalagi mendengar suara tangisan bayinya seakan merengek kepada dadynya untuk menolong dirinya.


"Tolong mundur dulu, biar saya yang melakukan negosiasi ini dengan nyonya Andien, saya mohon anda tidak memperkeruh suasana pak polisi," pinta Rei kepada Kapolda Agus Anggoro.


Tim Damkar yang sudah berada di lokasi dengan kesiapan mereka mengamankan area di atas gedung dan sekitarnya. Dua helikopter yang mengitari gedung sudah stay di lapangan siap menerima perintah dari tuan Romi.


Penyergapan ini makin menegang kan karena seluruh keluarga berkumpul untuk melihat langsung aksi penyelamatan putri Reinaldi dari tangan nyonya Andien. Nyonya Andien yang sudah naik di atas bahu gedung yang hanya selebar tapak kakinya sambil menggendong bayi Malika, tidak ada rasa gentar sedikitpun ia menghadapi lawan yang sudah berkerumun di hadapannya, di atas atap gedung rumah sakit milik pribadi tuan Romi.


Dengan suara lantang ia memanggil mantan menantunya yang ia anggap telah menghancurkan hidupnya.


"Malikaaaaa!"


Lihatlah putrimu, aku ingin kau sendiri yang datang padaku mengambil putrimu!"


Malika yang masih kosong pikirannya hanya menatap wajah nyonya Andien yang makin histeris memaksanya untuk mendekati dirinya.


"Malikaaaaa!"


Bersamaan dengan teriakan keras nyonya Andien makin membuat tangisan putrinya begitu nyaring terdengar oleh orang-orang di atas gedung itu. Malika melihat putrinya dalam kegelapan memanggilnya untuk menjemputnya, anak kecil itu terus mengejarnya dalam kegelapan dengan teriakan suara ketakutan untuk meminta tolong pada ibunya.


"mommy, tolong akuuu!... tolong Rania mami!" pinta bayi Rania pada ibunya Malika dalam kegelapan.


Tiba-tiba saja tubuh Malika bereaksi dan dengan bibir bergetar ia mulai menyadari kondisi di sekitar gedung tempatnya dia duduk tidak jauh dengan suaminya Rei yang sejak tadi terus bernegosiasi dengan nyonya Andien yang tidak juga luluh walau sudah dibujuk dengan cara apapun yang mereka lakukan untuk bisa menolong bayi mungil itu.


"Raniaa!" pekik Malika yang sudah sadar dari kegelapannya.


Ia melihat nyonya Andien yang berdiri di di atas bahu gedung yang tingginya mencapai 20 lantai. Ia berdiri lalu melangkah mendekati mantan Mertuanya itu dengan hati-hati agar nyonya Andien tidak gampang gugup melihat dirinya.

__ADS_1


"Bunda kembalikan putriku."


"Aku akan kembalikan putrimu dengan satu syarat suruh suamimu melompat dari atap gedung ini sebagai ganti nyawa putraku.


"Tidakkk!"


"Jangan main-main dengan nyawa orang lain bunda, kematian mas Arie merupakan takdirnya bukan peranku atau siapapun jadi kumohon, bunda tidak melibatkan siapapun yang harus jadi penebus kegilaan bunda.


"Dasar jala*ng, kamu masih punya nyali untuk menentangku hahh!!"


Rei yang sudah tidak sabar menghampiri nyonya Andien ingin merebut putrinya, baru saja dia ingin melangkah tubuhnya nyonya Andien oleng karena pijakannya bergeser sedikit hingga tubuh itu jatuh ke belakang membuat genggaman pada bayi perempuan Rei terlepas dari tangannya.


"Tidakkkk!"


"Jangannnn!"


"Raniiiaaa!!


Teriakan keluarga Rei dan orang-orang yang ada di sekitar area gedung bersamaan, membuat suasana makin mencekam dan membuat jantungan orang- orang yang menyaksikan kengerian yang terjadi pada nyonya Andien dan putrinya Reinaldi yang masih bayi yang baru berusia tiga hari itu jatuh dari atas atap gedung, mereka berlari bersama menghampiri pinggiran gedung itu melihat ke arah bawah di mana nyonya Andien dan bayi malang itu jatuh.


Rei yang melihat tubuh putrinya yang jatuh dari gedung ingin ikut melompat meraih tubuh putrinya namun naas baginya, tubuh itu terjun bayi mungil itu terjun bebas dari ketinggian yang membuat orang-orang dibawah gedung berteriak sekencang mungkin dan sebelum tubuh itu jatuh ke tanah, tim SAR terlebih dahulu menangkap tubuh mungil itu dari atas helikopter yang sudah siap menjulurkan tali yang terikat pada tubuh salah satu tim SAR itu, dengan sigap ia bisa menyelamatkan cucu dari pemilik gedung rumah sakit tersebut.


Orang-orang yang menyaksikan tontonan menegangkan pagi ini bernafas lega yang sebelumnya mereka hampir lemas menjadi saksi mata melihat kejadian yang memacu adrenalin mereka. Tepuk tangan terdengar menggema dari atas gedung maupun dibawah gedung rumah sakit menggema di sekitar area rumah sakit atas aksi heroik salah team SAR yang sudah menyelamatkan salah satu bayi kembar milik tuan Reinaldi.


🌷🌷🌷


Siaran langsung yang disiarkan oleh para wartawan lokal maupun luar negeri menjadikan momen menegangkan itu menjadi headline news berita pagi itu. Rekaman dan foto terbaik mereka menghiasi layar datar maupun media cetak.


Rei dan Malika beserta kedua orang tua mereka menangis haru mendapati tubuh dari bayi mungil itu telah diselamatkan oleh tim SAR. Dokter Riyanti bernafas lega dan jatuh terduduk lemas di atas gedung tersebut dengan menangis tersedu-sedu menyaksikan kejadian pada putri bosnya.


Rei berlari bersama polisi dan team lainnya menyusul putrinya yang telah berhasil diselamatkan oleh salah satu tim SAR. Dokter Endra sudah siap mengambil putri bosnya itu untuk diperiksa keadaannya. Rei nampak pucat dan sangat kalut melihat putrinya yang berhasil selamat tapi belum tahu kelanjutan nasib bayi malang itu.


Wartawan yang sudah ramai mengepung keluarga kerajaan bisnis terbesar di Asia dan Eropa itu untuk mewawancarai tuan Reinaldi mengenai kejadian pada putrinya. Namun aksi mereka dihentikan oleh para bodyguard Rei yang siap mengamankan area rumah sakit.


Baby Rania yang ditangani langsung oleh team dokter spesialis anak dan dokter Ryanti sebagai penanggungjawab pasiennya sedang berada di ruang IGD. Setelah dinyatakan baby Rania tidak mengalami cedera pada tubuhnya, dokter Riyanti baru merasa lega. Dokter Riyanti keluar menemui Rei dan keluarganya untuk menyampaikan keadaan fisik baby Rania.


"Dokter bagaimana dengan putri saya," tanya Rei yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan putrinya.


"Puji syukur, putri anda tidak mengalami cedera pada tubuhnya, jadi tuan bisa membawa baby kembar pulang hari ini," ucap dokter Riyanti dengan memaksakan dirinya untuk tersenyum pada tuan Rei.


"Babyyy!," panggil Malika yang baru datang belakangan, bagaimana putriku dokter?


"Sudah aman nyonya, baby Rania masih dilindungi Tuhan, sebaiknya anda tenangkan diri anda."


"Baby, maafkan mommy sayang, sudah ceroboh menjagamu,...hiks!...hiks!"


Malika mencium baby Rania berulang kali, momen itu juga dibidik oleh para wartawan yang merasa mendapatkan keberuntungan dari liputan berita eksklusif hari ini. Petugas rumah sakit dan para pengawal Rei mengamankan keluarga tuan Rei dari incaran para wartawan, keluarga belum siap untuk melakukan jumpa pers siang itu mengingat kejadian hari ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga mereka.


Nyonya Alea dan nyonya Ambar membawa cucu kembar mereka menuju ke mansion tuan Romi dengan pengawalan ketat dari kepolisian sedangkan Rei dan istrinya menggunakan mobil mereka yang sudah dijemput oleh asisten Raffi. Keduanya juga dikawal ketat oleh kepolisian menuju mansion mereka. Rei tidak ingin para wartawan terus mengikutinya hanya ingin mendapatkan sebuah berita dari peristiwa yang menimpa salah satu bayi kembarnya. Rei yang memeluk Malika yang masih nampak shock. Pelukan hangat Rei mampu mengusir kecemasan yang masih terasa dihati wanita cantik ini.


"Kamu sudah baikan sayang?"


"Apa kamu ingin makan sesuatu sayang?"


"Nanti saja Rei, kita akan makan bersama keluarga kita.


"Bagaimana nasib bunda, Rei?"


"Apa kamu sedang memikirkannya?


"Aku hanya bingung Rei, mengapa ia terus menganggu hidupku?"


"Karena dia sakit sayang, jiwanya sakit hingga ia mencari orang yang untuk bisa disalahkan atas takdir yang menimpa hidupnya."


"Mengapa bunda tidak bisa menerima kenyataan Rei?


"Itu bukan urusan kita sayang dan kita tidak punya tanggung jawab moral pada dirinya, lagian sekarang dia sudah menerima hukumannya."


"Apakah dia selamat Rei?"


"Mengapa kamu jadi sangat cerewet sayang?"


Rei sangat kesal dengan istrinya yang terus memikirkan keadaan mantan mertuanya, entah apa yang ada dalam pikiran Malika, wanita ini sedikitpun tidak merasa dendam pada mantan mertuanya, padahal wanita tua itu sudah banyak melakukan kejahatan pada dirinya.


"Sayang, mengapa hatimu sangat lembut, aku senang dengan sifatmu yang perduli pada orang lain, mudah empati pada hidup orang lain, tapi aku tidak suka kalau kamu memaafkan orang yang telah membuatmu terluka," bisik Rei dalam hatinya.


🌷🌷🌷🌷


Di mansion keluarga sudah menunggu Malika, di situ juga telah hadir bibi Rena dan sahabatnya Aida sekaligus sekertarisnya. Mereka yang awalnya ingin datang untuk menyambut kepulangan Malika yang baru saja melahirkan baby kembar, ternyata dihadapkan dengan masalah diluar dugaan mereka.


"Selamat datang, sambut keluarga dengan menaburkan bunga pada Malika. Senyum Malika kembali terukir ketika disambut orang-orang yang sangat dicintainya. Tibalah giliran bibi Rena yang melihat Malika sambil merentangkan kedua tangannya, memeluk haru mantan nona mudanya itu.


"Selamat datang nona muda, aku sangat merindukanmu," ucap Rena lalu mencium pipi Malika.


"Terimakasih bibi Rena sudah mau datang membesuk aku dan anak-anakku, apakah bibi sudah bertemu dengan Ezra?"


"Sudah nona muda, ternyata Ezra sudah besar, aku juga sangat senang melihatnya sudah bisa melakukan kegiatan yang sesuai dengan anak seusianya bahkan sangat pintar seperti nona muda.


"Masuk dulu Sayang, ngobrolnya di dalam saja," tegur Rei pada istrinya yang mengajak Rena ngobrol di teras mansion.


Malika juga memeluk Aida yang belum sempat disapanya, mereka bertiga saling melepaskan rindu dan bertanya satu sama lain tentang kabar mereka.


Pelayan menyediakan minuman dan cemilan untuk menemani ketiga wanita ini sedang bercengkrama. Ketiganya sudah terlibat dengan kisah hidup mereka masing-masing.


Rei memberi ruang kebebasan istrinya untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan teman-temannya walaupun Malika sendiri tidak begitu akrab dengan teman-teman masa SMA apa lagi kuliah yang rata-rata bule dari manca negara. Wanita ini hanya menghabiskan masa mudanya dengan belajar dan membuat banyak hal seperti melakukan suatu penelitian atau uji coba pada hal-hal yang diinginkannya entah itu dunia Cyber IT ataupun dunia fashion yang ia sendiri ikut terjun dalam menciptakan formula untuk jenis makeup yang akan dipasarkannya.


Kehadiran Rena dan Aida berhasil mengusir ketegangan yang dirasakan oleh Malika hari ini, wajah itu nampak ceria dan makin cantik pasca melahirkan putri kembarnya Rania dan Tania.

__ADS_1


Akhirnya waktu makan siang pun tiba, pelayan memanggil tiga wanita itu untuk ikut bergabung di ruang makan karena sudah di tunggu oleh keluarga Rei dan Malika.


"Maaf nyonya muda, nyonya besar meminta anda ke ruang makan sekarang," ucap pelayan Lani ramah.


"Ayo, kita makan bareng," ajak Malika."


"Nyonya, saya tidak usah ya," tolak Rena yang sedikit sungkan makan satu meja dengan mantan bosnya.


"Bibi Rena, kamu bukan lagi pelayanku, kamu sekarang adalah sahabatku tidak jauh berbeda posisimu dengan Aida, kalian adalah bagian hidupku, aku bangga memiliki kalian dalam hidupku."


Akhirnya Rena menerima ajakan Malika untuk makan siang bersama dengan keluarga besarnya. Aida yang selama ini bekerja dengan tuan Daniel, baru kali ini duduk semeja dengan bos besarnya itu. Walaupun begitu tuan Daniel tidak pernah merendahkan tingkat sosial para staffnya, semua nya diperlakukan sesuai porsi dan jabatan mereka masing-masing tanpa mengurangi kewibawaannya sebagai atasan mereka.


Tuan Romi sebagai tuan rumah ingin menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah karena hari ini, Allah telah menyelamatkan cucu kandungnya Rania syahnaya yang berhasil di selamatkan oleh anggota tim SAR. Semua anggota keluarga sudah duduk teratur sesuai tingkatan keluarga itu begitu pula Rena dan Aida yang duduk berdampingan karena mereka adalah tamu.


"Assalamualaikum keluargaku, besanku dan tamu kehormatan kita hari ini yaitu Rena dan Aida. Pada kesempatan ini kami ingin merayakan penyambutan anggota keluarga baru kami yaitu baby Rania syahnaya dan Tania kanza yang sudah hadir ke dunia ini, semoga cucu kembarku selalu sehat dan menjadi putri yang sholehah aamiin. Dan pada kesempatan ini, saya juga bersyukur kepada Allah SWT yang telah menyelamatkan cucu saya Rania untuk itu sebelum kita makan siang hari ini terlebih dahulu kita baca surah Al-fatihah.


Semua anggota keluarga mengangkat tangan mereka memohonkan doa yang terbaik dan rasa syukur mereka dengan mengaminkan doa yang dipanjatkan oleh tuan Romi. Doa sudah dipanjatkan, makan bersama siang itu penuh kehangatan, candaan dan obrolan ringan terjadi di keluarga itu, tapi ada tamu yang mendadak hadir membuat Aida jadi tersedak melihat sosok cowok keren yang sedang ditaksirnya, hanya saja kesempatan untuk mereka belum ada karena kesibukan mereka yang padat dengan urusan perusahaan yang selalu dihandle oleh mereka ketika bos mereka punya urusan keluarga.


"Hai Raffi, silahkan ambil tempat duduk depan Aida," tegur tuan Romi pada asisten Raffi yang baru datang menemui putranya Rei.


"Terimakasih tuan saya baru saja makan siang diluar," ujarnya berbohong.


"Apakah kamu menolak tawaranku?, hari ini adalah perayaan penyambutan kelahiran cucuku, apa kamu tidak turut merayakannya Raffi?"


"Ba-baik tuan!"


Raffi yang merasa grogi depan Aida hanya menarik nafas lembut tapi setenang apapun dirinya mengendalikan perasaan groginya tetap saja terlihat dengan tangannya yang sedikit gemetar saat memegang sendok yang sudah dua kali jatuh, membuat Aida tersenyum malu.


"Ehhhmm!"


"Ada yang lagi kasmaran nih," ledek Rei membuat Raffi dan Aida salah tingkah.


"Sudah Rei, jangan di godain terus kasihan makanan mereka jadi dingin kalau keduanya hanya saling menahan malu," ucap nyonya Ambar menimpali putranya.


Raffi dan Aida makan dengan tenang, mereka hanya saling mencuri pandang dan melempar senyum. Raffi senang melihat pujaan hatinya sedang makan tepat dihadapannya, mungkin dengan cara ini, mereka bisa bersama walaupun ini adalah acara makan bersama keluarga Rei.


"Oh ya Raffi, kapan kamu akan melamar Aida?," tembak tuan Daniel tidak tanggung-tanggung menantang Raffi.


"Mungkin bulan depan tuan!"


"Ya ampun apaan sih tuan Daniel, PDKT aja belum ko main lamar aja," gumam Raffi dalam hati.


"Tidak perlu acara PDKT Raffi kalau kalian sudah saling suka mengapa harus menunda hal baik ini, tidak semua hubungan itu harus dimulai dengan pendekatan cukup mengetahui pasanganmu suka atau tidak dengan dirimu, ayo ajaklah dia menikah!, jangan suka umbar janji pada anak gadis orang," ucap tuan Daniel seakan bisa membaca pikiran Raffi.


Raffi dengan makin grogi dengar perkataan tuan Daniel, membuat lelaki ini hanya mengangguk tanpa banyak komentar. Ia hanya menatap tajam wajah Aida seakan meminta persetujuan wanita cantik yang sudah membuatnya sulit tidur ini.


"Bagaimana Aida apa kamu suka dengan Raffi," tanya tuan Romi tanpa ada basa basi dari kedua orang tua dari bos anak-anak mereka.


"Insya Allah tuan, nanti saya tanyakan dulu sama orangtua apa kah mereka akan menerima Raffi sebagai menantu mereka atau tidak," ujar Aida kemudian.


Disela tanya jawab tuan Daniel dan tuan Romi pada Raffi dan Aida, tangisan bayi kembar Malika terdengar, Malika bangkit dari duduknya dan mohon pamit pada yang lain untuk menyusui putri kembarnya.


"Mommy! dede nangis," lapor baby Ezra yang baru bangun tidur menghampiri Malika.


"Oh, abang terganggu ya sayang sama dede kembar?"


"No, mommy!"


Malika yang sudah masuk dalam kamarnya menemui putri kembarnya dan diikuti Rei menggendong baby Ezra. Baby Tania yang sudah megap-megap mulutnya mencari sumber makanannya didada ibunya. namun baby Rania yang masih tidur pulas tidak terpengaruh sedikitpun dengan tangisan saudara kembarnya. Baby Ezra yang memperhatikan ibunya menyusui adiknya menatap wajah dadynya.


"Dady, dedenya *****..hi..hi..," tawa kecilnya baby Ezra melihat adiknya yang dengan lincahnya menyedot pu*ing ibunya.


Rei yang dari tadi belum sempat menggendong baby Rania dari kejadian tadi pagi, mengangkat bayinya, dengan telaten Rei membawa tubuh mungil itu merapatkan ke dadanya yang bidang. Sedangkan baby Ezra sudah lari keluar kamar orang tuanya mencari omanya yang sedang duduk di ruang keluarga bersama besan dan tiga tamu mereka.


🌷🌷🌷


Ketiga tamu mereka hari ini pamit pulang, tidak lupa Malika yang dari tadi meninggalkan Rena dan Aida untuk menyusui si kembar menemui dua sahabatnya itu.


"Kapan-kapan main lagi ya, jangan sungkan," ucap Malika pada Rena dan Aida.


"Nona muda, saya lupa memberikan ini untuk anda dan keluarga," ucap Rena seraya mengambil kartu undangan pernikahannya untuk mantan putri tuan Daniel.


"Bibi Rena mau menikah?


Dengan siapa bibi?"


"He..he.. itu non, putra dari mamang Ahmad."


"Astaga! jadi kalian pacaran, ya ampun selamat ya bibi, Malika senang bibi sudah menemukan jodoh bibi.


"Alhamdulillah nona muda, Aa Jajang orangnya sangat baik."


"Oh ya!, jadi namanya Jajang?"


"Insya Allah bibi Rena, kami sekeluarga akan menghadiri pernikahan bibi Rena dan Aa Jajang, dan mulai detik ini, jangan lagi memanggilku nona muda, panggil saja Malika, bagaimana?"


"Baik non eh Malika."


Malika lalu memeluk sahabatnya itu dan berujar pada Aida yang dari tadi mendengar ocehan dua wanita yang beda usia sepuluh tahun ini.


"Aida kamu juga ya cepat menikah dengan Raffi supaya tidak terjadi fitnah, aku juga terimakasih banyak atas perjuanganmu yang telah mengembalikan aset perusahaan orangtuaku, maaf aku belum sempat mengatakan ini secara langsung padamu, aku harap kamu tidak tersinggung dengan kesibukanku sebagai ibu muda."


"Tidak apa, Malika kita adalah saudara, sudah sewajarnya kita saling membantu."


"Terimakasih untuk kalian berdua, kalianlah saudaraku, mulai hari ini kita bertiga adalah saudara, tidak ada batasan apapun antara kita," ucap Malika membuat Aida dan Rena menangis haru.


Ketiganya saling berpelukan, tidak lama datanglah seorang lelaki tampan nan gagah membawa motor sonic hitam menjemput kekasihnya. Malika yang sudah menduga itu adalah calon suami Rena hanya mengangguk hormat. Lelaki itu tidak turun dari kendaraannya, ia hanya membalas anggukan hormat Malika. Rena yang langsung naik ke atas motor calon suaminya, ia hanya melambaikan tangannya tanpa memperkenalkan calon suaminya itu pada Malika. Sekarang giliran Aida yang akan di antar yayangnya yaitu Raffi yang sudah berdiri membelakangi dua wanita yang masih asyik ngobrol.

__ADS_1


"Maukah aku mengantarmu Aida," tawar Raffi kepada gadisnya yang malu-malu menatap wajah Raffi.


Aida hanya mengangguk, Raffi langsung membuka pintu mobil dan mempersilahkan gadisnya masuk. Aida langsung pamit dengan cipika cipiki dengan Malika, lalu kedua sahabat itu berpisah setelah mobil mulai bergerak meninggalkan mansion milik tuan Romi. Malika masuk lagi ke dalam mansion menemui keluarga besarnya.


__ADS_2