Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"ALAT PELACAK"


__ADS_3

Di Pulau Dewata Bali pasangan pengantin baru ini masih betah berada di kamar di salah satu resort mewah yang terkenal di pulau tersebut. Pasangan ini menghabiskan waktu bulan madu mereka. Rei terus menahan istrinya untuk tidak keluar kamar kecuali untuk aktivitas memenuhi kebutuhan tubuh mereka yaitu makan, entah itu pagi, siang maupun malam Rei dan Malika hanya melakukannya di kamar.


Pagi itu Malika beranjak ke kamar mandi, saat itu ternyata Rei terbangun dan ia sangat terkejut ketika mendapati istrinya sudah tidak disisinya. Sambil menekuk alis, dalam kegusaran hati, Rei berdiri dan mencari istrinya "hmm" gumamnya sambil menghela nafas panjang.


"Ternyata kamu disini sayang," katanya berdiri tanpa pakaian yang melekat pada tubuhnya.


Malika sedang asyik membersihkan tubuhnya dan ia hanya melihat tanpa mengatakan apapun, setelah selesai mandi, Malika yang juga terlihat polos tanpa sehelai benang pun memanggil Rei yang masih menatap tubuhnya. Kemudian ia membantu suaminya untuk menggosokkan gigi, Rei terus memperhatikan istrinya yang dirasakan memiliki sentuhan seorang peri tersebut. Lembut dan hangat adalah dua kata yang melukiskan perasaan pria tampan ini yang sangat haus akan kasih sayang dari istrinya.


"Sini sayangkuh, aku bantu," ucap Malika yang sudah mengoles pasta di atas sikat gigi milik suaminya.


Dengan patuhnya Rei membuka mulutnya sembari memperlihatkan susunan giginya yang putih dan rapi.


"Kamu sangat manis kalau bersikap seperti ini sayang," puji Malika sambil mengembangkan senyumnya.


Rei sangat gemas dengan tingkah istrinya itu, ia menarik tubuh polos Malika lalu memeluk dengan erat. Rei mencium ceruk leher jenjang istrinya.


"Tunggu sayang!, jangan seperti ini, ayo berkumur dulu, lalu aku akan memandikanmu!," pinta Malika lembut.


Malika memegang kendali dan Rei terus saja menurut dengan wajah manisnya. Setelah berkumur Rei mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam bathtub, kemudian keduanya kembali mandi bersama. Sentuhan kecil disepanjang mandi pagi bersama yang sangat menyenangkan, mereka anggap sebagai pemanasan seru dan menggairahkan.


Sesekali Malika mendesis manja lalu disisi yang lain Reilah yang mengerang, semua itu dilakukan dalam senyum hangat hingga mampu menghangatkan rasa dingin akibat air yang merendam tubuh keduanya di dalam bathtub.


"Sebaiknya kita akhiri saja pemanasan ini sayang karena aku sangat menginginkanmu pagi ini, kau selalu menyuguhkan sarapan pagiku dengan tubuh molekmu," ucap Rei dengan suara berat menahan keinginannya untuk cepat menjamah tubuh istrinya."


Rei mulai sulit mengendalikan dirinya. Malika tersenyum suka lalu mengangguk dengan wajah memelas dengan tatapan menggoda.


"Rasanya aku ingin menggigit setiap inci tubuhmu sayang."


"Reiii!," gumam Malika dengan suara lenguhan nikmat yang sudah tidak mampu menahan gairahnya.


Setelah selesai keduanya saling membantu mengeringkan tubuh, kemudian Rei kembali mengangkat tubuh istrinya menuju tempat tidur untuk memulai permainan panas nan menggoda. Setibanya di atas kasur yang berukuran king size itu Rei langsung menarik tangan kanan istrinya, lalu mendekatkan wajah istrinya. Rei mulai melancarkan ciuman panas itu kembali, Rei menyerang bagian tubuh istrinya yang sangat ia sukai bermain di atas dada istrinya dengan dua gundukan kembar yang menyembul menggoda dirinya untuk memainkan dua buah benda kenyal itu, ditengah permainan asyiknya itu ada suara bunyi bel kamarnya yang terdengar menganggu permainan mereka, Rei nampak cuek dengan bunyi panggilan tersebut kemudian dia kembali menikmati mainannya yang terdapat di tubuh istrinya itu.


"Sayang buka dulu pintunya," pinta Malika yang merasa terganggu suara bell tersebut.


"Biarkan saja, sampai orang itu bosan menganggu kita.


"Tapi sudah nggak asyik permainan kita Rei."


Bel itu kembali terdengar kali ini Malika meminta suaminya untuk membuka pintu kamarnya, Rei dengan kesal menghampiri pintu itu, tapi Malika berteriak,


"Sayang, tubuhmu!"


"Ya ampun sampai lupakan, sial pagi-pagi sudah menganggu orang," ucap Rei panik kemudian mengambil baju bathtub lalu mengenakannya sambil melangkah untuk membuka pintu kamarnya.


"Selamat pagi Tuan, maaf menganggu tuan, saya ingin membersihkan kamar tuan sekarang."


"Apa tidak bisa kalau melakukan lebih siang?," tanya Rei kepada petugas hotel tersebut.


"Maaf tuan hanya tinggal kamar ini saja yang belum kami bersihkan, mohon pengertiannya tuan."


"Baiklah tunggu lima menit, kami bersiap dulu," ucap Rei lalu menutup pintu kamarnya lagi.


Di kamar Malika sudah rapi dengan mengenakan busananya dengan tidak tanpa memoleskan make up pada wajahnya. Rei mengenakan baju santai, setelah keduanya sudah siap, Rei kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri meninggalkan kamar mereka menuju restoran resort untuk sarapan pagi. Tidak lupa Rei meninggalkan tip untuk petugas tersebut yang diletakkan di atas meja di sisi tempat tidur.


"Itu tip untukmu, ambillah," ucap Rei pada petugas tersebut.


"Terimakasih tuan."


🌷🌷🌷


"Selamat pagi tuan dan nona silahkan," sambut seorang pelayan wanita dengan suara yang mendayu-dayu.


"Terimakasih," jawab Rei singkat dengan bersikap cuek tanpa memperhatikan wajah pelayan itu.


Rei dan Malika berjalan mencari tempat yang cocok untuk keduanya bisa bersantai menyantap sarapan pagi hari ini di restoran resort tersebut.


Mereka kemudian duduk di salah satu meja yang mengarah ke arah laut.


Malika memperhatikan sikap suaminya menjadi dingin setelah mereka berada di restoran outdoor itu. Sikap Rei ini membuat Malika terus bertanya kenapa Rei selalu cuek dan tidak pernah berubah saat bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya sama seperti dulu dirinya bertabrakan dengan lelaki ini dengan cueknya Rei berlalu begitu saja tanpa kata maaf yang terucap dari bibirnya. Tapi saat bersamanya Rei sangat bersikap hangat dan penuh perhatian.

__ADS_1


Saat ini Rei terus memasang wajah cuek dan bersikap angkuh ciri khas seorang CEO muda yang memiliki segudang talenta, sementara Malika ia sedang memandangi dan menikmati gaya suaminya itu dengan tatapan tak berhenti.


Alis tebal melengkung seperti busur panah, hidung mancung dengan ujungnya yang runcing, pandangan matanya yang tajam yang memiliki sinar kuat menambah ketampanan dan kharismatik. Malika makin terpesona dengan ketampanan suaminya.


"Mau pesan apa tuan?..nona?


"Tanya pramusaji sambil menatap ke arah keduanya secara bergantian.


"Sayang" panggil Rei, karena istrinya yang mengatur segala hal untuk dirinya, mulai dari dia bangun tidur sampai tidur lagi.


"Oh iya, baiklah," jawab Malika patuh.


Malika memilih makanan kesukaan suaminya, karena Malika sudah tahu apa saja makanan favorit suaminya selama dirinya tinggal di mansion suaminya baik sebelum mereka menikah sampai keduanya telah sah menjadi suami istri. Setelah memilih beberapa menu sarapan pagi mereka, pramusaji itu kembali ke tempatnya. Malika kembali menatap suaminya.


"Sayang, jangan terlalu cuek saat sedang bersama dengan orang lain walaupun orang itu belum kamu kenal," ucap Malika menatap suaminya.


"Apakah aku harus memperlakukan mereka sama seperti aku memperlakukan padamu?, bagaimana kalau gadis-gadis itu berharap lebih padaku atau mulai menggodaku?, apakah kamu ingin mereka mendapatkanku?," tanya Rei menggoda istrinya dengan pura-pura memasang mimik serius.


"Kalau itu terjadi aku pastikan gadis-gadis itu besok tidak lagi bisa menghirup udara bebas," ucap Malika serius penuh penekanan.


"Ternyata kamu galak juga yang," ucap Rei tersenyum senang melihat sikap cemburu istrinya.


"Sayang setelah ini kita akan bersenang-senang bukan?," tanya Rei sambil menatap Malika dengan penuh keinginan.


Manik matanya itu terus saja bermain jika menyatakan percintaan bersama istrinya. Malika pun tersenyum manis.


"Pasti sayang"


Cukup lama menunggu pesanan datang Malika berdiri membelakangi Rei kemudian berjalan sedikit jauh dari tempat suaminya duduk, ia menatap ke arah laut yang memperlihatkan pesonanya dengan terus memecahkan buih setiap kali menghempaskan gulungan ombaknya, Malika terus tersenyum ketika mengagumi ciptaan kuasa Tuhan tersebut. Tak lama seseorang menyapanya dengan suara baritonnya


"Maaf boleh berkenalan cantik," sapa lelaki itu ramah.


Malika yang sedikit terhentak mendengar sapaan seseorang padanya lalu menatap lelaki itu sesaat. Lelaki itu masih menatap wajah Malika tanpa berkedip.


saat Malika ingin menjawabnya, lelaki itu kembali mengatakan sesuatu pada Malika.


"Saya seorang penghuni resort di sini juga, dari tadi saya memperhatikan anda, saya melihat kesempurnaan ciptaan Tuhan pada diri anda," pujinya dengan suara lembut.


"Maaf tuan saya hanya mengajak gadis cantik ini ngobrol, saya hanya mengagumi kecantikan gadis ini," jawab lelaki itu santai sambil menyunggingkan bibirnya.


"Apakah kamu suka menggoda istri orang tuan?," tanya Rei sarkas kepada lelaki itu lagi.


"Saya hanya melihat dia berdiri di sini sendiri tanpa melihat anda tuan."


"Dia istriku dan aku bukan tipikal suami yang bisa menahan diri saat miliknya ditatap oleh orang seperti anda, apa lagi begitu lancang memuji istriku didepan diriku," ucap Rei sambil menatap tajam lelaki itu seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.


"Maafkan saya tuan, jagalah permatamu ini dengan baik, jika tidak, suatu saat nanti ada orang lain yang sepertiku dengan senang hati mendapatkannya," ucap lelaki itu lalu melangkah pergi meninggalkan suami istri ini.


"Sayang aku tidak mengajaknya bicara, dia sendiri yang menghampiriku dan memperkenalkan dirinya tanpa aku tanya," ucap Malika gugup karena melihat wajah Rei yang sudah berubah ekspresinya.


"Apakah kamu senang mendapat pujian dari lelaki lain Malika," tanya Rei dengan wajah garang.


"Tuan pesanan anda sudah siap, selamat menikmati," ucap pramusaji yang menghentikan ketegangan diantara mereka.


"Maafkan saya Rei," jawab Malika dengan wajah tertunduk.


"Ayo duduk dan makan, setelah itu sebaiknya kita segera kembali ke kamar, semakin cepat semakin baik," titah Rei dengan wajah datar.


"Besok kita tidak usah lagi sarapan di sini, aku tidak nyaman dengan banyak pasang mata menikmati kecantikanmu."


Rei dan Malika melewati sarapan dengan penuh ketegangan, ini diluar dugaan Malika, sepanjang acara makan Rei hanya menekuk wajahnya. Baru kali ini Rei sangat cemburu pada lelaki lain selama bersama Malika.


Setelah sarapan Rei mengajak Malika buru-buru meninggalkan restoran itu kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Malika sambil mengecup bibir sensual istrinya seakan ingin memamerkan Malika kepada seluruh penghuni resort mewah itu bahwa gadis ini adalah miliknya.


"Hanya aku yang boleh menikmati wajah cantikmu, dan aku tidak akan pernah lagi mengizinkanmu berjauhan denganku, mengerti sayang," tegas Rei pada Malika.


"Iya Rei," sahut Malika manja dengan dahi yang ditekuk.


Setelah berjalan cukup jauh sekitar 15 menit untuk mencapai kamar mereka, keduanya sudah berada di kamar mereka, Rei langsung mengangkat tubuh gadisnya kemudian dibawa ke kasur yang sudah rapi kembali. Rei melucuti semua pakaian istrinya dengan kasar, Malika membiarkan perlakuan suaminya itu pada dirinya. Rei merebahkan tubuh mulus tanpa cela itu kemudian dia sengaja memulai memainkan lidahnya pada perut bagian bawah istrinya, Rei memainkan biji kenyal itu yang sekarang sudah menjadi hobbynya dan menjelalahi setiap bagian di area sensitif milik istrinya dengan bibir dan lidahnya.

__ADS_1


Dengan suara parau dan erangan nikmat yang ada di kamar itu membuat suasana saat itu makin memanas. Diperlakukan seperti itu oleh Rei pada tubuhnya, Malika tidak kuat lagi menahan gejolak hasratnya yang sudah mencapai puncak nikmat.


"Ummm... ssst.. Rei cukup sayang," pinta Malika yang sudah tidak kuat lagi menahan berjuta-juta nikmat yang diberikan suaminya.


"Ini hukuman untukmu sayang, karena kecantikanmu hari ini telah menghipnotis banyak tatapan mata orang lain padamu," ucap Rei dengan senyum nakalnya menggoda Malika yang sudah tidak berdaya menahan kenikmatan yang diberikan olehnya.


Rei bangkit lalu menyatukan tubuhnya kepada tubuh istrinya untuk menuntaskan hasrat birahi yang membuncah. hampir dua puluh menit hentakan itu berakhir dengan suara erangan erotis keduanya melepaskan diri dari belenggu indahnya nirwana duniawi.


Baru keduanya ingin berbaring terdengar bunyi yang sangat nyaring pada ponsel milik Malika, betapa kagetnya Malika mendengar suara panggilan itu yang bukan nada biasa untuk sebuah panggilan dari telepon ataupun pesan dari seseorang tapi ini adalah kode sinyal yang bisa menangkap alat pelacak yang pernah dirancangnya untuk putranya.


"Ezra, baby...Reii itu putra kita sayanggg," teriak Malika lalu melompat dari tempat tidurnya dalam keadaan tel**ng tanpa penutup tubuh polosnya.


Rei yang tidak mengerti dengan perkataan istrinya hanya termangu melihat istrinya itu. Setelah melihat ponselnya, betapa terkejutnya Malika menemukan wilayah tempat putranya berada. Rei yang sudah berada dibalik punggung istrinya kemudian ikut melihat layar ponsel tersebut. Malika membalikan tubuhnya lalu berkata pada suaminya tentang keberadaan putra mereka.


"Reiii, putra kita berada di negara Wina, Austria sayang," ucap Malika haru.


"Benarkah?," tanya Rei seakan tidak percaya dengan perkataan istrinya.


"Bebyku sangat cerdas, oh putraku akhirnya ibu menemukanmu."


"Hei sayang, jelaskan kepadaku dengan semua ini, aku tidak mengerti," pinta Rei yang semakin penasaran dengan ponsel pintar milik istrinya.


Malika melompat-lompat kegirangan seperti balita yang sedang mandi air hujan dengan tubuh polosnya, sehingga dua gunung kembarnya ikut terguncang. Melihat reaksi istrinya itu Rei menelan salivanya dengan kasar.


"Sial, kenapa pemandangan ini malah menyiksaku," ucapnya membatin.


Rei mengajak Malika duduk, lalu ia mengambil baju bathtub menutup tubuhnya dan istrinya.


"Sayang pakai ini dulu setelah itu ceritakan padaku tentang putra kita."


"Rei, saat aku hamil Ezra, aku selalu menyulam baju switer untuk putra kita yang ukuran baju itu dipakai oleh bayi berusia tujuh sampai 10 bulan dan di bagian sisi kiri switer itu aku memasang kancing dan menggunakan satu kancing cadangan yang jahit di baju itu, aku yang merancang kancing switer itu sendiri, yang di dalam kancing itu aku selipkan alat pelacak yang tidak dapat terdeteksi oleh alat manapun kecuali ponselku.


"Alhamdulillah ya Rabby, Engkau membuka jalan untukku mendapatkan anakku kembali dan terimakasih bunda, kamu tidak membuang barang-barangnya putraku yang aku buatkan untuknya, akhirnya bunda memakai kan baju itu padamu sayang, walaupun dia bukan nenek kandungmu, ibu tetap berterimakasih padanya telah merawatmu dengan baik.


"Bagaimana kamu tahu ponselmu baru bekerja sekarang, kenapa alat pelacak itu baru bisa terdeteksi setelah sekian lama baru ketahuan saat ini, kenapa tidak bisa terlacak dari kemarin-kemarin," tanya Rei lagi.


"Alat pelacak itu akan bekerja ketika putra kita sudah memakainya karena alat itu menyatu dengan suhu tubuhnya maka alat itu akan mengirim sinyal ke ponsel aku dan aku akan langsung tahu keberadaan putra kita."


"Bagaimana kamu melakukan itu semua saat kamu hamil pasti kamu tidak kepikiran bakal bayi kita akan di culik?," tanya Rei masih heran pada istrinya ini.


"Awalnya aku buat alat pelacak di setiap switer itu saat baby sudah cukup usianya memakai switer yang aku buat untuk mengawasi baby saat di jaga oleh baby sitter di area yang tidak terdapat CCTV, aku ingin melihat apa saja yang dilakukan putraku saat aku meninggalkannya untuk bekerja.


Dan ternyata alat pelacak itu menolong kita menemukan putra kita," ucap Malika.


"Sayang, kamu seakan sudah memiliki firasat bahwa suatu saat nanti akan terjadi sesuatu dengan putra kita, seakan kamu sudah mempersiapkan semuanya bakal terjadi pada dirimu dan baby, hebat kamu sayang," puji Rei menatap lekat wajah istrinya dengan penuh kekaguman.


"Sayang apakah kamu ingin melihat putramu sekarang?"


"Tentu saja, ayo kita berangkat ke Wina, ajak Rei."


"Iya itu nanti sebentar lagi, aku hanya ingin memperlihatkan putra kita di ponsel ini," ucap Malika tersenyum senang.


"Emang bisa sayang?"


Malika hanya mengangguk, lalu membuka jaringan yang tertangkap pada alat pelacak itu, lalu melacak titik keberadaan alat itu dengan meretas CCTV di sekitar alat pelacak kemudian tampillah baby Ezra yang sedang bermain dengan beberapa mainan yang ada di hadapannya. Malika dan Rei terkesima dengan apa yang mereka saksikan saat ini, keduanya saling berpelukan menonton aktivitas putranya di layar ponselnya dengan penuh haru.


"Malika, itu putraku, benar itu putraku sayang?, wajahnya persis dengan wajahku, Malika, kau dan baby adalah milikku, harta karunku," ucap Rei dengan berurai air mata lalu memeluk istrinya.


"Baby, ibu merindukanmu sayang, ayah dan ibu akan datang menjemputmu," ucap Malika yang tidak melepaskan tatapannya pada wajah babynya.


"Ayo sayang kita jemput anak kita, tapi jangan dulu beritahu berita ini kepada siapapun termasuk keluarga kita," titah Rei kepada istrinya.


"Baiklah sayangkuh," ucap Malika lalu mematikan ponselnya.


Keduanya kembali berciuman mesra lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka setelah seharian bercinta.


Setelah keduanya merapikan diri mereka dengan tampilan yang sangat menarik, keduanya langsung cek out dari resort Jimbaran bay pulau Dewata Bali, meninggalkan kamar itu dengan segala kesan yang mendalam untuk keduanya, mereka akan terbang menuju negara di mana putra mereka berada yaitu Wina, Austria.


Keduanya sudah berada di bandara mereka kembali menumpang pesawat jet pribadi milik mereka dan meminta pilotnya untuk membawa mereka di negara Wina Austria. Pesawat jet pribadi itu mulai bergerak perlahan terus mulai menambahkan kecepatannya dan terbang ke udara mengitari awan cerah dan menembus masuk awan itu dan terbang dengan ketinggian berapa ratus kaki di atas permukaan laut meninggalkan pulau Dewata Bali dengan penuh kenangan di bulan madu romantis mereka.

__ADS_1


🔥 Akhirnya kebahagiaan Malika kembali lengkap 🔥


__ADS_2