
Sesuai janji Malika, Aida menerima pekerjaan barunya dengan jabatan yang menggiurkan di perusahaan kosmetik milik Malika. Siang itu Malika yang sudah meminta sekertaris perusahaannya untuk mengatur rapat dadakan karena harus mengangkat direktur utama yang baru untuk mengisi kekosongan jabatan di perusahaan kosmetiknya itu yang sudah satu bulan ini telah di tinggalkan oleh direktur sebelumnya.
Demi menstabilkan jalannya produksi produk baru yang akan di luncurkannya bulan depan, Malika merombak semua jabatan fungsional yang ada dalam kubu perusahaannya. Dengan modal kinerja para karyawannya, Malika sendiri menilai dan memilih siapa yang pantas duduk di kursi empuk di bagiannya masing-masing sesuai tingkat struktur organisasi manajemen perusahaan tersebut.
Rapat dimulai pagi itu, Malika dan Aida sudah siap di ruangannya tinggal menunggu para staff yang akan mengisi kursi-kursi yang kosong yang ada di ruang rapat tersebut. Malika sendiri yang memimpin rapat tersebut sehingga para staf tidak ada yang berani mangkir dari meeting pagi hari itu.
Semuanya sudah siap di tempatnya masing-masing. Malika yang masih duduk sambil membaca sesuatu yang ada dilayar laptopnya, melirik para staf yang sudah siap dengan acara meeting pagi itu.
Diantara mereka, ada yang tidak bisa lepas pandangan matanya pada bos mereka yang sangat cantik ini. Dengan ditemani Aida di sebelah kanannya dan juga sekertarisnya sebelah kirinya, Malika mulai membuka acara meeting hari ini. Ia memperhatikan satu persatu wajah karyawannya yang sedang menatapnya. Gadis cantik ini tersenyum setelah mengedarkan pandangannya ke setiap wajah yang ingin ditandainya satu persatu.
"Assalamualaikum, selamat pagi semua!" ucapan sambutan pertamanya diikuti doa pembuka acara meeting tersebut.
Semua karyawannya serentak menjawab salam dari pemilik perusahaan kosmetik tersebut.
"Apakah kalian sudah siap mendengarkan apa yang akan saya sampaikan kepada kalian?" tanya Malika kepada semua staf yang dipilih secara acak untuk menghadiri rapat hari itu dari seksi mereka masing-masing."
"Siap bu!" jawab beberapa orang dari mereka.
"Baiklah, hari ini saya akan memilih beberapa orang diantara kalian yang akan saya angkat atau menggantikan jabatannya dari yang terendah sampai jabatan yang tertinggi tapi sebelum itu dimulai, saya terlebih dahulu akan mengawali acara ini dengan pengangkatan jabatan untuk penggantian direktur utama kita yang kemarin sudah mengundurkan diri karena alasan pribadi dengan seorang yang sangat berpotensi dalam membangun suatu kerjasama dengan para staffnya ketika ia masih menjabat sebagai sekretaris saya di perusahaan sebelumnya yang membesarkan namanya yaitu perusahaan papaku tuan Daniel dan diantara kalian pasti sudah mengetahui perusahaan tersebut yang saya maksud. Untuk itu saya ingin memperkenalkan seseorang yang akan menggantikan direktur utama sebelumnya dengan direktur utama yang baru yaitu ibu Aida yang duduk di sebelah kanan saya ini. Beliaulah yang akan mengawasi langsung pekerjaan kalian, silahkan berdiri ibu Aida." titah Malika kepada Aida yang sudah berdiri di sampingnya.
"Perkenalkan nama saya Aida, saya baru di dunia kosmetik, mohon kerjasamanya untuk kedepannya," ucap Aida lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dalam acara perkenalan dirinya di hadapan para karyawan perusahaan kosmetik milik Malika, yang nanti akan menjadi anak buahnya.
Semuanya bertepuk tangan menyambut bos baru mereka. Aida dan Malika saling bersalaman.
"Selamat bergabung Aida, semoga kamu betah bekerja di sini." ucap Malika dengan wajah ceria.
"Terimakasih atas kepercayaannya nona muda, saya akan mengabdikan diri saya dengan penuh integritas." ucap Aida secara formal menyebut nama Malika dengan sebutan anak buah kepada nyonyanya.
Malika memberikan seikat buket bunga mawar untuk sahabatnya itu dan diterima dengan suka cita oleh Aida. Malika kembali meneruskan pembahasannya tentang produk baru yang akan mereka luncurkan baik itu kosmetik maupun vitamin atau suplemen pengharum tubuh dengan nama "TARA" yaitu gabungan antara nama putrinya kembarnya Tania dan Rania.
Inti dari pembahasan itu adalah mengenai kualitas produk, pengemasan dan juga penjualan produk tersebut yang melibatkan beberapa model yang terpilih dari model papan atas melalui seleksi yang ketat oleh Malika sendiri. Malika juga mendatangkan Lili sebagai model pendatang baru di negara Hamburg Jerman. Untuk mengakhiri meeting hari itu, sesuai dengan janji awalnya, Malika memilih siapa saja yang akan menduduki jabatan di perusahaan miliknya berdasarkan trik record dari kinerja para stafnya.
Usai meeting, Malika dan Aida berkeliling ke pabrik produksi kosmetik dan juga suplemen pengharum tubuh. Malika memeriksa bahan dasar hingga komposisi yang dijamin aman untuk konsumen saat disalurkan ke para distributor yang sudah bekerjasama dengan perusahaan miliknya.
Tidak ada kendala yang berarti yang ditemuinya, semuanya sesuai dengan kapasitas produksi baik masa pemakaian sampai masa kadaluarsanya, semua sudah di uji secara klinis dan mendapatkan nomor izin untuk kosmetiknya dari badan POM.
Malika dan Aida puas dengan hasil produksi kali ini. Kedua gadis ini ingin merayakan keberhasilan perusahaannya di salah satu restoran. Restoran yang didatangi oleh keduanya adalah restoran Korea, makanan yang lagi booming dikalangan anak muda saat ini.
Keduanya sedang menunggu pesanan mereka datang. Malika menghubungi suaminya dan asisten Raffi untuk ikut bergabung, namun Rei menolak ajakan istrinya karena mereka juga sedang meeting di salah satu hotel di Jakarta pusat.
Akhirnya makanan keduanya datang, keduanya mulai menikmati makan siang mereka dan saling memperbincangkan masalah kehidupan rumah tangga mereka masing-masing. Kali ini Aida ingin membagi perasaannya kepada Malika, yaitu sesuatu yang sedang mengganjal dihatinya.
__ADS_1
"Malika, ada hal yang sangat penting yang harus aku ceritakan padamu." ucap Aida dengan mimik serius.
"Silahkan, kalau kamu mempercayaiku Aida," ucap Malika menanggapi serius ucapan Aida.
"Malika bagaimana menurutmu kalau aku punya pria lain yang saat ini sedang dekat denganku." ucap Aida berharap sahabatnya ini mengerti situasi yang sedang dihadapinya saat ini.
Malika yang mendengar itu langsung berteriak nama Aida kencang membuat pengunjung di sekitar mereka memperhatikan keduanya.
"Apaa!" maksudnya kamu selingkuh Aida?" pekik Malika.
"Husst!" bisa nggak sih loe pelan-pelan nanggepinnya." sahut Aida kesal dengan bosnya ini.
"Gimana gue nggak teriak, jelas-jelas loe kamu sudah punya si Raffi sekarang berpindah ke lain hati, berani banget sih loe." ucap Malika yang juga sedikit kesal dengan ulah sahabatnya ini.
"Ya sudah, kalau begitu, aku nggak mau lanjutin kalau kamu jadi sewot kaya gitu," ucap Aida dengan wajah cemberut.
"Sudah tanggung Aida, ceritakan saja, maaf deh, aku tadi kaget banget mikirin kenekatan loe." ucap Malika yang mulai cooling down.
"Awalnya aku nggak yakin dengan perbuatanku, apakah ini benar atau salah, tapi aku berusaha menolaknya, namun hatiku nggak bisa dibohongi kalau aku juga sangat mencintainya." kata Aida yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Siapa yang telah merenggut hatimu itu Aida?" ucap Malika kepohin terus Aida yang masih menahan kesedihannya.
"Dokter Willy, ia adalah dokter yang menangani penyakitku selama dua tahun lebih saat aku berobat kemarin di Amerika.
"Iya Malika, Raffi sudah punya Sarah, dia tidak membutuhkan aku lagi Malika, apa lagi sekarang mereka sudah memiliki bayi kembar, aku makin merasa tersingkirkan di apartemen itu, menjadi terasing di rumah sendiri.
"Aku tidak bisa memberikan kamu nasehat yang terbaik untuk pernikahanmu Aida, tapi jika kamu sudah tidak merasa nyaman dengan Raffi, katakan bagaimana perasaanmu kepadanya bahwa kamu sudah tidak bisa bersamanya lagi. Jika aku jadi kamu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama yang sedang kamu hadapi saat ini." ucap Malika menenangkan sahabatnya ini.
"Terimakasih Malika, akhirnya loe ngerti juga perasaan gue saat ini, gue nggak kuat menyimpan ini sendiri, gue kesal sama Raffi juga sama diri gue sendiri....hiks..hiks..hiks!"
"Maafin aku Aida, aku telat menyadari perasaanmu sesungguhnya, aku seharusnya memberimu semangat bukan membuatmu makin sakit hati." ucap Malika dengan rasa sesal yang mendalam.
"Tidak apa Malika, ini salah gue juga, karena nggak pernah terbuka sama loe."
Keduanya meninggalkan restoran dan pulang satu mobil bersama. Dalam perjalanan keduanya tidak sadar, ada yang menguntit mobil mereka. Belum sampai dua puluh menit perjalanan mobil Malika tiba-tiba oleng, keduanya tampak panik karena mobil terasa berat saat melaju.
"Ya Allah, jangan-jangan ban mobil gue kempes Aida?" ujar Malika nampak panik.
"Mending kita menepi dulu Malika, melihat apa yang terjadi pada mobil loe." ucap Aida yang juga ikut kuatir merasakan apa yang terjadi pada mobil sahabatnya ini.
Keduanya turun, sama-sama memperhatikan ban mobil yang kempes. Rupanya dua ban kempes sekaligus. Malika berteriak kesal karena berhenti di daerah yang cukup sepi di sekitarnya.
__ADS_1
"Ya Allah, ban mobilnya bisa kempesnya kompak gini sih!" mana bengkelnya jauh lagi," keluh Malika kesal.
Baru saja berkeluh kesah dengan ban mobilnya yang kempes, tiba-tiba mobil yang lain berhenti di samping mobil mereka, dengan cepat keluarlah dua orang lelaki yang tidak dikenal oleh Malika dan Aida. Dari tampang mereka kelihatannya baik. Keduanya bertanya apa yang terjadi pada mobil mereka.
"Selamat siang nona, apa yang terjadi pada mobil anda." tanya seorang dari mereka kepada Malika.
"Ban mobil kami kempes," jawab Malika yang masih kelihatan gelisah juga kesal karena mereka berhenti jauh dari bengkel dan juga tempat keramaian, jadi sulit untuk meminta tolong.
"Kalau begitu, boleh kami bantu nona?" tanya mereka sopan pada Malika dan Aida.
Tanpa rasa curiga, Malika mengangguk jika ia setuju mobilnya diperbaiki oleh kedua orang itu.
"Ada ban serepnya nona." tanya salah satunya kepada Malika.
"Ada pak, ada di bagasi, tunggu sebentar, saya mau buka kap bagasinya dulu," ucap Malika lalu membuka lagi mobilnya dan ketika ia ingin menekan tombol kap bagasi, tiba-tiba kepalanya sudah di todong dengan pistol.
"Jangan bergerak nona dan jangan melakukan tindakan apapun, sekarang angkat kedua tangan anda, atau teman anda kami tembak." ancam salah satu lelaki yang sudah menahan leher Malika dengan satu lengan tangannya ke leher Malika.
"Ampun pak, jangan sakiti kami, ambil saja uang atau tas saya itu pak, jangan sakiti saya dan teman saya," ucap Malika dengan tubuh gemetar mengikuti gerakan langkah kaki lelaki yang menyeret tubuhnya keluar dari mobil miliknya.
Aida yang terlebih dahulu dibawa ke dalam mobil putih milik dua lelaki itu, karena dirinya sudah dibekap mulutnya dengan menggunakan obat bius, sehingga tidak bisa melakukan perlawanan. Malika yang melihat Aida yang sudah berada di mobil putih itu berteriak histeris memanggil sahabatnya itu.
"Aidaaaa!" teriakan Malika membuat penjahat itu sedikit panik takut ada yang memperhatikan aksi mereka.
"Diam nona, atau kau ingin nasibmu sama seperti temanmu itu?"
"Tolong pak, jangan sakiti saya dan tolong bebaskan teman saya," ucap Malika dengan suara yang sudah mulai serak tercampur tangis yang ingin meledak tapi terasa kelu untuk berteriak.
"Cepat masuk ke mobil, jangan membuatku kehilangan kesabaran!" bentak lelaki itu kepada Malika seraya mendorong tubuh Malika ke dalam mobil.
Malika sudah berada di sebelah tubuh Aida yang sudah tertidur karena pengaruh obat bius. Ia terus saja menangis ketakutan melihat kedua penjahat itu sudah membawa mereka entah ke mana.
"Siapa kalian?" kami mau dibawa kemana, kenapa kami diculik?" tanya Malika yang makin panik.
"Diam!" bentak lelaki yang duduk di sebelahnya dengan masih menodongkan pistol ke kepala Malika.
"Cepat bawa mobilnya, supaya kita bisa menyeret dua gadis ini ke bos besar!" perintah salah satu penjahat kepada temannya yang sedang menyetir mobil.
Karena jalanan lumayan lengang siang itu, maka kendaraan penjahat itu dengan mudahnya menembus jalanan ibu kota dengan membawa hasil tangkapan mereka untuk dibawa ke bos besar mereka. Malika dan Aida sama-sama juga lupa membawa tas mereka, sehingga keduanya tidak bisa berbuat apa-apa.
Tibalah mereka di salah satu gudang kosong yang lebih banyak berisi peti kemas. Gudang itu tampak lembab dan pengap karena tidak ada ventilasi udara. Malika makin ketakutan melihat dirinya dan Aida sudah berada di dalam gudang yang sedikit gelap itu.
__ADS_1
Tubuhnya kembali di giring oleh lelaki bertubuh kekar itu yang awalnya tidak kelihatan sama sekali tampang penjahat oleh Malika. Ia di suruh duduk di salah satu kursi yang ada di depannya yang juga terdapat meja. Lampu di gudang itu dinyalakan oleh seseorang tapi tidak begitu terang cahayanya. Dalam keremangan cahaya lampu, muncullah dua orang lelaki yang menghampiri Malika dan Aida. Betapa terkejutnya Malika melihat orang yang sangat ia kenal dan juga ia benci.
"Kau!"