Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"CEMBURU"


__ADS_3

Jerman merupakan negara yang memiliki banyak kota-kota besar. Salah satu kota terbesar dan terpadat selain Berlin adalah Hamburg. Selain besar dan padat penduduk, Hamburg memiliki sejuta pesona yang kaya akan sejarah dan keindahan.


Ada banyak destinasi kece yang bisa ditemukan di kota ini. Dimulai dari balai kotanya yang indah sampai miniatur mini yang tiap harinya tidak lepas dari kunjungan wisatawan.


Titik utama Kota Hamburg adalah sebuah danau buatan yang bernama Binnenalster dan Aussenalster. Dua danau ini mempunyai pesona yang sangat indah. Di pinggirnya juga terdapat alun-alun Kota Hamburg yang selalu ramai didatangi pengunjung.


Kedua danau ini sangat penting perannya dalam kehidupan kota. Selain berfungsi sebagai sarana tranportasi air, danau ini juga berperan besar dalam bidang pariwisata dan seni.


Titik utama Kota Hamburg adalah sebuah danau buatan yang bernama Binnenalster dan Aussenalster. Dua danau ini mempunyai pesona yang sangat indah. Di pinggirnya juga terdapat alun-alun Kota Hamburg yang selalu ramai didatangi pengunjung.


Kedua danau ini sangat penting perannya dalam kehidupan kota. Selain berfungsi sebagai sarana tranportasi air, danau ini juga berperan besar dalam bidang pariwisata dan seni.


Setelah melarikan diri dari pesta perusahaan milik suaminya, Malika memilih menyendiri di salah satu danau yang terdapat di kota Hamburg tersebut.


Danau buatan Binnenalster, tempat yang dipilih Malika untuk merenungkan kembali nasib pernikahannya.


"Apakah suatu kesalahan aku menikah dengan Reinaldi?"


Reinaldi tidak salah dalam hal ini, karena pengusaha hebat seperti dirinya pantas dikelilingi gadis-gadis cantik dan seksi, apalagi ditunjang dengan wajah yang tampan dan segudang perusahaan, juga memiliki kekayaan berlimpah, banyak koneksi, pasti setiap gadis akan rela antri untuk menghangatkan ranjangnya.


"Apakah aku harus mengakhiri saja pernikahan ini, bagaimana dengan wanita yang lain yang harus aku hadapi lagi."


Banyak pertanyaan yang terus melintas dalam pikirannya. Perasaan gundah akan masalalu suami yang penuh dengan rekam jejak yang harus ia telusuri kebenarannya dari pengakuan si ja**ng tadi.


"Cih, kamu bahkan menjadi lelaki murahan dengan banyak wanita yang telah melihat tubuhmu, dan mereka pasti sudah menyentuh milikmu.


Dan kamu seperti barang bekas yang diberikan kepadaku oleh gadis-gadis yang sudah membuat murahan sederajat dengan mereka."


Malika merasakan sesak di dadanya jika mengingat hal yang memalukan tadi. Rasa kecewanya pada Rei membuatnya malas untuk pulang ke istana mertuanya, ia ingin menghabiskan waktunya untuk menjauhi dirinya dari lelaki yang telah menjadi ayah dari tiga anaknya. Tapi di saat ia ingin tetap berada di danau tersebut. Dalam keadaan yang masih melamun Malika tidak menyadari ada bunyi panggilan dari ponselnya. Setelah sekian panggilan masuk baru ia mulai menyadarinya.


Malika menatap ponselnya yang ada dalam genggamannya. Dilihatnya nama yang tertera dilayar ponsel miliknya. Rupanya panggilan itu berasal dari sang mama. Malika buru-buru menjawab panggilan dari mamanya.


"Hallo, assalamualaikum Malika!"


"Waalaikumuslam mama!"


"Kamu ke mana saja sayang, jam segini belum pulang juga, ini baby Ranianya sakit, dari tadi rewel terus. Apa kamu tidak memikirkan bayimu?"


Dari suara mamanya, terdengar suara tangis baby Rania yang sangat menyayat hatinya. Malika segera menjawab pertanyaan mamanya.


"Iya mama, Malika akan segera pulang, tunggu ya mam!"


Malika buru-buru kembali ke mobilnya, lalu ia meninggalkan danau itu kembali ke istana milik kakek suaminya. Malika mengendari mobilnya sedikit lebih kencang karena suara tangis babynya masih terngiang-ngiang di kupingnya.


"Maafkan mommy Rania sayang, mommy khilaf nak."


Tidak lama mobilnya sudah memasuki gerbang utama istana mertuanya itu. Melihat suaminya dari jauh, Malika memacu laju kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Rei yang melihat kegilaan istrinya langsung menghindar. Dengan menginjak remnya secara mendadak mobil itu berhenti dengan deritan keras membuat ngilu orang yang mendengarnya. Malika turun dari mobilnya, dan ia langsung masuk ingin menemui putrinya, Rei yang melihat istrinya ingin memeluk tubuh indah istrinya, namun Malika menepis tangan suaminya. Amarahnya masih mengusai jiwanya membuatnya enggan untuk disentuh suaminya.


"Malika, sayang tunggu!" dengarkan aku dulu sayang."


"Lepaskan tanganmu dariku, kalau tidak memikirkan kamu adalah ayah dari anak-anakku, aku ingin sekali menabrakmu dengan mobil itu." ucap Malika yang terus melangkah menuju ke kamarnya.


Rei terus mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki istrinya. Ia terus memohon Malika memaafkan dirinya.


"Malika, kenapa kamu lebih percaya dengan perempuan murahan itu daripada aku suamimu?"


"Hmm, lebih murahan siapa?, jika kamu sendiri terus mengobral tubuhmu dengan berbagai wanita, bahkan kamu sangat menjijikkan. Pasti mereka sudah berusaha menyembuhkan milikmu itu bukan?," ucap Malika dengan menyipitkan matanya sembari menghentikan langkahnya sesaat untuk menatap tajam wajah suaminya.


"Malika kamu sudah salah paham padaku, aku tidak seperti yang kamu kira."


"Cukup Rei, jangan membuatku kesabaranku hilang dengan masalalu yang menjijikkan itu.


"Aku tidak seperti yang kamu pikirkan, mereka sendiri yang menawarkan tubuh mereka padaku, bukan aku yang memulainya."


"Jelas saja kamu suka karena tawaran secara sukarela dari para gadis itu untuk menyenangkanmu."


"Iya tapi tidak ada yang berhasil membuatku tergugah kecuali kamu sayang, kamu obat jiwaku, kamu yang dipilih senjataku ini untuk mendapatkan titik sasaran tembaknya, bukan mereka."


"Wanita normal mana yang tidak cemburu membayangkan suaminya harus melihat tubuh wanita lain untuk membangkitkan hasratnya."


"Iya memang aku salah, aku minta maaf, aku lakukan upaya itu hanya ingin sembuh, aku ingin menjadi lelaki normal, tapi aku tidak berhasrat menyentuh mereka karena melihat tubuh mereka saja hatiku sudah mati seakan gairah tidak pernah ada, bahkan aku mengira aku impoten."


Debat kusir itu akhirnya terhenti karena tangis baby Rania kembali menggema dalam ruangan itu, Malika yang lupa dengan tujuan awalnya yang ingin cepat pulang untuk menemui putrinya. Nyonya Alea memberikan cucunya pada putrinya. Rei menempelkan tangannya ke pipi baby Rania.


"Astaghfirullah, putriku hangat."


"Papi sudah menghubungi dokter pribadi kita sayang, sebentar lagi dokter Felix akan tiba."


"Kamu susui bayimu dulu Malika dari tadi putri sangat haus." titah nyonya Alea pada putrinya.


Belum berhenti nafasnya yang masih memburu karena amarah yang sudah ia luapkan, Malika melihat baby Tania yang digendong omanya.


"Malika, Tania juga hangat badannya sayang." ucap nyonya Ambar kepada menantunya yang baru pulang.


Malika kelimpungan sendiri, bayinya yang mana yang ia tangani duluan. Tapi melihat Rania yang makin kencang tangisnya membuat istri Rei ini memilih baby Rania yang duluan ia susui.


"Iya mami, sebentar Malika susui baby Rania dulu," ucap Malika kepada mertuanya.


Malika masuk ke kamarnya, ia membaringkan tubuhnya, untuk menyusui babynya. Rei juga ikut masuk ke kamarnya dengan menggendong baby Tania.


Tidak lama, dokter pribadi keluarga mereka tiba, dengan diantar oleh nyonya Ambar kedalam kamar putranya Rei. Rei yang melihat dokter itu masuk, langsung meminta Malika menutupi dadanya. Malika dengan cepat melepaskan pu*ingnya dari mulut baby Rania yang mulai sedikit tenang setelah disusui ibunya.


"Selamat sore tuan Rei!"


"Selamat sore dokter Felix!"


"Siapa yang sakit?"


"Dua-duanya sakit dokter."

__ADS_1


"Boleh saya periksa baby kembarnya?"


"Silahkan dokter!"


Malika dan Rei memberikan ruang untuk dokter itu memeriksa keadaan putri mereka.


Dokter Felix mulai memeriksa keadaan baby twins itu, tidak berapa lama dokter Felix menuliskan resep obat untuk si kembar dan memberikannya pada Malika.


"Bagaimana keadaan putri kembar saya dokter?"


'Tuan Rei, sebaiknya kita bicara diluar, supaya tidak menganggu babynya yang sedang tidur."


"Baik dokter!"


Setelah berada diluar kamar, Rei mengajak dokter untuk duduk di ruang keluarga, dokter itu mengikuti Rei ke arah yang di tunjukkan oleh pria tampan itu.


"Apa yang terjadi dengan putriku dokter, apakah mereka baik-baik saja?"


"Apakah putri kembarmu masih menyusui ASI?"


"Iya dokter, apakah ada masalah?"


"Bagi bayi yang menyusui tidak boleh sampai mengalami dehidrasi, normalnya bayi menyusui harus dilakukan setiap tiga sampai empat jam sekali. Jika kalian sibuk, kalian bisa memberikan susu formula sebagai makanan pendamping, itupun menunggu sampai usia bayi nya sudah mencapai enam bulan karena ASI eksklusif diberikan seorang ibu sampai usia enam bulan dan itu sangat ideal untuk imunitas bayi.


Mendengar penuturan dokter Felix, membuat Rei mengepalkan tangannya, dengan sedikit menggeretakan giginya menahan amarahnya pada istrinya.


"Awas kamu Malika, gara-gara kecemburuanmu yang nggak jelas itu hingga mengorbankan putri kembarku." geram Rei pada istrinya.


"Kalau begitu saya pamit dulu tuan Rei."


"Terimakasih dokter sudah repot datang kemari."


"Tidak masalah tuan Rei, karena itu sudah menjadi tugas saya untuk melayani keluarga ini. Jangan lupa untuk menebus obatnya di apotik supaya panasnya cepat menurun."


"Baik dokter akan segera saya tebus."


Sepeninggalnya dokter Felix, Rei meminta pelayannya untuk menebus obat di apotik, ia kemudian kembali ke kamarnya menemui Malika. Perang mulut kembali terjadi. Malika yang sedang menanggalkan bajunya untuk membersihkan dirinya, tanpa banyak tanya Rei menarik tubuh Malika yang hanya tinggal bik*ni, membawa tubuh istrinya itu di atas pembaringan.


"Lepaskan tanganmu, aku tidak ingin disentuh olehmu," tolak Malika yang masih tidak ingin memaafkan Rei.


Rei menahan tubuh Malika dengan duduk di atas paha Malika sehingga membuat Malika tidak bisa bergerak.


"Lihat dirimu ibu jahat!, karena cemburu butamu itu, putri kita mengalami dehidrasi karena buah dadamu ini." ucap Rei sambil meremas bukit kembar itu.


" Akkkhh!"


Malika hanya meringis kesakitan. Tidak sampai di situ kini Rei benar-benar ingin menghukum istrinya. Rei memulai percintaannya dengan kasar seperti orang yang sedang ingin memperkosa. Malika terus meronta karena masih tidak ingin disentuh suaminya.


"Diam atau aku akan lebih berbuat kasar dari pada ini?," bentak Rei yang sudah menusukkan jarinya pada liang sempit istrinya dengan sangat kasar.


"Akkh!" Pekik Malika yang merasa kesakitan."


"Kamu masih mau kabur lagi dariku, hhmm?


"Ampun Rei, akkhhh!" ini sangat sakit, maafkan aku, sudahhh!" teriak Malika yang sangat kesakitan karena bagian intinya sudah terasa perih.


Rei baru berhenti setelah menyiramkan benihnya. Ia tidak perduli dengan tangis Malika. Rasanya hukuman ini sangat pantas untuk istrinya yang selalu membangkang jika sedang di bakar api cemburu.


Setelah percintaan yang sangat menyiksa tubuhnya, Malika melihat Rei yang menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Malika lalu bangkit untuk ke kamar mandi, ketika berdiri, bagian int*mnya terasa makin perih hingga membuatnya duduk kembali ke pembaringan.


"Aauhhkk!"..hiks..hiks!"


Mendengar pekikan istrinya Rei bangkit dan menatap tubuh istrinya yang sedang duduk sambil meringis kesakitan.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Ini sangat perih Rei, ini sangat sakit...hiks..hiks!"


Rei menghamburkan tubuhnya memeluk istrinya dengan tubuh yang masih telan**ng. Rei melihat bekas gigitan dan cengkraman tangannya pada tubuh Malika yang sudah membekas dengan tanda memar dan lebih membuatnya shock melihat bibir Malika yang tampak bengkak dan sedikit berdarah (jontor).


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan pada tubuhmu, maafkan aku sayang, aku seperti kerasukan setan hari ini.


Sini sayang aku mau lihat milikmu yang sakit," ajak Rei yang meminta istrinya kembali berbaring.


Rei mulai mengangkangk*ngkan paha Malika lebih lebar untuk melihat bagian liang Malika yang terasa perih. Lelaki bodoh ini meniup liang sempit itu berulang kali. Merasa kembali tergoda dengan milik istrinya, Rei kembali melu**t liang sempit yang sudah sangat merah dan sedikit lecet, ia kemudian memainkan bagian bawah istrinya dengan lidahnya.


Kali ini lebih lembut tidak lagi kasar seperti tadi. Malika kembali menikmati permainan indah itu, teriakan kesakitan kini berubah dengan rintihan nikmat, sentuhan kasar berganti dengan kelembutan yang membakar birahi. Kesakitan seolah berubah dengan erangan erotis, seakan semua kembali pada tempatnya.


Nyanyian syahdu di setiap lenguhan menciptakan lezatnya bercinta dengan kekuatan cinta keduanya. Tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi air mata, semuanya sudah terlebur dalam penyatuan raga yang mendambakan kehangatan. Ikatan cinta itu kembali utuh, rasa cemburu sedikit demi sedikit memudar dengan sentuhan kasih dari sang suami tercinta, siapa yang ingin menolak surga yang ditawarkan ini terus menggoda untuk melakukan lebih banyak lagi permainan dan pencapaian jika ingin tinggal untuk mengecap lezatnya nikmat bercinta.


Fitnah keji yang pernah terlontar dari mulut berbisa perempuan malam, tidak lagi menyurutkan cinta yang dibangun kokoh dengan kesempurnaan ketulusan untuk saling memberi, saling melengkapi hingga akhirnya menjadi saling membutuhkan bahkan terus merindukan setiap sentuhan-sentuhan seperti magnet cinta yang tidak dapat menjauh dari hati yang sudah terantai.


"Sayang, apakah masih sakit," tanya Rei usai menunaikan lagi tugasnya sebagai suami untuk memenuhi nafkah batin istrinya."


Malika tidak menjawab cuma anggukan dan tatapan mata yang menagih untuk terus disentuh sampai keduanya lelah melewati malam yang akan berakhir untuk berganti pagi yang akan menyapa.


Dua tubuh lelah itu kembali tertutup selimut, mengarungi mimpi untuk kembali bertemu disana setelah puas mereguk manisnya bercinta.


🌷🌷🌷🌷


Menjelang subuh, suara azan dalam kamar Rei yang tersambung dari mushola kecil yang di bangun di dalam istana itu untuk memanggil mereka menunaikan kewajiban sebagai hamba yang sholih. Malika membangun Rei untuk segera mandi wajib karena orang tua mereka pasti sedang menunggu di mushola itu.


Rei masuk ke kamar mandi dan mengajak Malika untuk ikut serta.


Keduanya dengan cepat membersihkan diri mereka, tidak ada acara mandi yang berarti, karena mereka sedang mengejar waktu sholat tepat waktu.


Dalam 15 menit mereka sudah rapi dengan mengenakan pakaian sholat, Rei dengan baju koko dan sarungnya sedangkan Malika dengan mukenanya, keduanya sudah bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Bertindak sebagai imam adalah tuan Daniel.

__ADS_1


Suasana khusu tampak terasa, semuanya terlebur dalam sujud syukur dan permohonan pengampunan dosa, serta permintaan hati yang selalu dipanjatkan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Permintaan yang patut mereka lakukan untuk bekal dua kehidupan yang berbeda, hidup untuk ibadah dan hidup untuk keabadian di alam akhirat yaitu surga abadi, surga yang menjanjikan keabadian hidup yang terpenuhi semua keinginan untuk hamba-hamba yang bertakwa, semuanya akan terjamin di kehidupan abadi tanpa harus bersaing untuk mengejar mimpi, cukup nilai takwa sebagai jaminannya. Di sana hal selalu berlawanan di dunia, tidak akan lagi dialami di surga, entah itu sedih, sakit, susah, marah, kecewa maupun cemburu, tidak ada lagi merasakan itu semua, karena yang ada hanya kebahagiaan dengan istana mereka masing- masing. Bukankah hal itu yang menjadi incaran para penduduk bumi untuk lebih mendekatkan diri mereka dengan Sang Khalik, agar akhiratnya tidak akan terlepas dari genggamannya.


Sholat subuh telah ditunaikan, kultum siap di kuliahi oleh tuan Romi sekedar mengingatkan tentang hari akhir sebagai pegangan anggota keluarganya. Rei dan Malika menyimak semua nasehat bijak yang menenangkan jiwa mereka. Usai kuliah subuh salaman terjalin diantara mereka untuk mengakhiri aktivitas ibadah.


Rei mengecup puncak kepala istrinya dan Malika mengecup punggung tangan suaminya, keduanya saling meminta maaf atas khilaf dan dosa yang telah mereka lakukan. Rei dan Malika kembali ke kamar mereka setelah keduanya berpamitan dengan anggota keluarga lainnya.


🌷🌷🌷🌷


Matahari pagi kembali tersenyum dengan sinarnya untuk menerangi bumi. Jauh di daerah khusus ibukota Jakarta, Raffi yang tetap setia mendampingi istrinya Aida siap meninggalkan rumah sakit di sore itu namun sebelumnya mereka kembali berkonsultasi dengan dokter Ryanti dan dokter Sunan tentang penyakit yang sedang dialami oleh Aida. Raffi hanya mendengar dokter memberikan saran padanya untuk membawa Aida melakukan kemoterapi, mungkin dengan cara ini bisa menyembuhkan Aida dari kangker otaknya yang sedang ia derita.


"Raffi, tolong jaga mbak Aida dan setelah masa nifasnya selesai, jangan dulu berhubungan intim. Hindari setress dan minum obat secara teratur, jika Raffi bekerja sebaiknya Aida harus di jaga oleh seseorang karena takutnya setiap kali kambuh pusingnya tidak ada yang tahu, ini akan berakibat fatal baginya."


"Baik dokter saya akan ingat saran dokter."


"Kalau begitu selamat jalan Raffi dan mbak Aida semoga lekas sembuh.


Keduanya segera meninggalkan rumah sakit dan kembali ke apartemen mereka. Kebetulan hari ini orang tua Aida sudah menunggu di apartemen Raffi untuk menyambut putri mereka. Dikelilingi oleh orang-orang tercinta membuat Aida ingin cepat pulih dari sakitnya, ia mengikuti semua saran dokter untuk selalu melakukan aktivitas ringan dan tidak lagi melibatkan pikiran-pikiran buruk yang menganggu kerja otaknya.


Di hari berikutnya Raffi pamit kepada Aida dan mertuanya untuk kembali ke perusahaan, sudah lama Raffi meninggalkan pekerjaan nya walaupun lelaki ini sering melakukannya secara online. Tapi bagaimanapun juga pantauan langsung pada pekerjaannya akan lebih memuaskan baginya.


Di perusahaan milik Rei, kini Raffi sedang mengerjakan tugasnya, mengatur ulang jadwal dan memeriksa kembali laporan yang sudah masuk ke email miliknya. Ditengah keseriusannya tiba-tiba ponselnya berdering, Raffi meraih ponselnya, ketika ingin menjawabnya, yang dilihat itu adalah panggilan video call dari Sarah. Karena rasa rindunya pada gadis itu membuat Raffi segera menerima panggilan itu.


"Hallo! Raffi, apa kabar sayang," ucap Sarah dari Jerman sana dengan melambaikan tangannya.


"Hallo cantik, aku dalam keadaan sehat, bagaimana denganmu?"


"Aku lagi kurang baik Raffi," ucap Aida dengan wajah sendu.


"Apa yang terjadi dengan dirimu sayang, Raffi sedikit mengernyitkan dahinya menatap wajah cantik sang kekasih hati."


"Aku rindu padamu sayang, apakah kamu tidak tahu itu?"


"Aku juga Sarah, aku juga sangat merindukanmu."


"Sarah, kenapa kamu belum tidur, ini masih jam tiga pagi waktu Jerman."


"Aku menunggumu Raffi, aku ingin bercinta lagi denganmu," ucap Sarah dengan menurunkan selimutnya yang tadi ia tutupi tubuhnya.


Dua bukit kembarnya menggantung indah dengan sengaja menggoda sang kekasih.


Melihat dua bukit itu spontan hasrat kejantanannya Raffi mulai bengkak di dalam sana, apa lagi Sarah memperlihatkan bagian intinya yang sudah tidak tertutup kain segitiga tipis yang selalu menutupi mahkota indahnya itu.


Sarah mulai menggoda Raffi dengan tarian erotis, tarian ranjang yang dirindukan Raffi karena tidak bisa menyalurkan syahwatnya pada istri.


"Sarah, mengapa kamu menggodaku sepagi ini sayang?," tanya Raffi yang menatap milik Sarah tanpa berkedip.


"Kembalilah ke Jerman sayang, supaya kita bisa berc**ta, aku tahu kamu pasti menginginkan tubuhku karena kamu tidak bisa mendapatkan dari istrimukan?"


Karena menyebut nama Aida membuat Raffi menyadari kesalahannya. Dengan segera ia memutuskan sambungan video call dengan Sarah.


"Maafkan aku Sarah, aku memang sangat mencintaimu tapi aku tidak ingin menyakiti istriku yang saat ini sedang sakit parah, cukuplah hatiku yang berselingkuh namun bukan tubuhku."


Di Hamburg Jerman, Sarah sangat kecewa dengan sikap Raffi, ia melempar ponselnya ke sembarang arah. Kemarahannya tidak terelakkan, apapun yang ada di kamarnya menjadi korban amukannya. Kerinduannya pada lelaki tampan itu, yang sudah memenuhi pikirannya malah mengabaikannya begitu saja.


"Raffiiii!" pekiknya histeris, kemarahannya makin memuncak dengan terus mengobrak abrik kamarnya.


Gadis cantik bermata biru ini menangis, setelah puas menghancurkan kamarnya. Dengan tubuh yang masih polos ia masuk ke kamar mandi dan duduk dalam bathtub sambil menyalakan keran air, dengan terus menangis ia membiarkan bathtub itu terisi penuh dengan air yang sudah hampir menenggelamkan tubuhnya. Ibunya datang tepat waktu karena mendengar amukan dalam kamar putrinya. Untungnya pintu kamar mandi itu tidak dikunci oleh Sarah sehingga bisa dengan mudah ibunya membuka kamar mandi milik Sarah. Betapa terkejutnya nyonya Koni melihat anaknya sudah tenggelam dalam bathtub itu.


"Sarahhh!"


Teriak nyonya koni seraya menarik tubuh putrinya dan meraih handuk lalu membalut tubuh putrinya.


"Astaghfirullah, apa yang terjadi denganmu nak, tangis nyonya koni pecah melihat anaknya tidak sadarkan diri."


Rei dan Malika yang kamarnya bersebelahan dengan kamar milik Sarah berlari keluar menghampiri kamar Sarah ketika mendengarkan teriakan tante Koni. Setibanya di kamar Sarah yang mereka lihat kamar itu sangat berantakan dengan pecahan beling yang berserakan dimana-mana.


Tangisan tante Koni yang terdengar didalam kamar mandi membuat Rei dan Malika sama-sama menyebut nama gadis itu.


"Sarah!"


Malika menaham tubuh Rei untuk tidak masuk duluan karena kuatir tubuh Sarah dalam keadaan masih polos. Malika membuka pintu kamar mandi secara perlahan.


Ia melihat bathtub yang masih penuh dengan air dan kerannya sudah dimatikan oleh nyonya Koni.


Tubuh Sarah sudah di tarik keluar oleh ibunya dalam keadaan tergeletak dilantai. Rupanya gadis cantik ini sedang pingsan. Dengan tubuh yang hanya ditutup handuk Malika mengambil selimut untuk menutupi tubuh Sarah karena ada suaminya yang berdiri di depan pintu kamar mandi milik Sarah.


"Rei tolong angkat tubuh Sarah, sepupumu pingsan Rei," ucap Malika kepada suaminya menerangkan keadaan Sarah.


Rei masuk ke kamar mandi, lalu mengangkat tubuh Sarah yang sudah terbalut selimut, membawa tubuh Sarah ke pembaringannya. Setelah tubuh itu di baringkan, Malika balik lagi ke kamarnya untuk mengambil minyak kayu putih miliknya yang akan ia oleskan ke kening Sarah.


Tante Koni terus memanggil nama putrinya, ia bingung dengan keadaan anaknya yang tidak tahu apa yang sedang putrinya alami saat ini.Malika yang tidak paham dengan kondisi Sarah menanyakan perihal Sarah ke tante Koni yang masih saja menangis.


"Tante, ada apa dengan Sarah tante?"


"Tante juga tidak tahu Malika, baru kali ini tante melihat Sarah menjadi gila seperti ini.


"Apakah dia sedang jatuh cinta dan kecewa tante atau mungkin sarah lagi patah hati dengan kekasihnya?"


Pertanyaan Malika pada tante Koni membuat Rei mengingat perkataan terakhir sepupunya ini padanya ketika kali pertama sepupunya bertemu dengan Raffi.


"Apakah Raffi ada hubungannya dengan kondisi Sarah saat ini? ataukah mereka sedang jatuh cinta dan Raffi menolak cinta adik sepupuku?" tanya Rei dalam lamunannya.


"Ada apa Rei?" apakah kamu mengetahui sesuatu yang terjadi pada Sarah?"


"Rei!" panggil Malika yang melihat suaminya yang tampak bengong menatap Sarah yang belum sadar dari pingsannya.


"Apa sayang?" tanya Rei yang tidak mendengar ucapan Malika.


"Apakah kamu mengetahui masalah yang dialami Sarah?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu sayang," jawab Rei berbohong kepada istrinya.


"Terus hal apa yang membuat Sarah nekat bunuh diri?" tanya Malika yang sangat prihatin dengan adik iparnya, sepupu dari suaminya ini.


__ADS_2