
Malika kembali berdiri dan ingin memanggil lelaki yang baru saja melewatinya saat ia jatuh tertabrak seseorang, tapi niatnya urung karena dari jauh Rena pelayanannya memanggilnya sambil berlari.
"Nona Malikaa!!
"Nonaa, cepat, gawat nona," teriak Rena menghampiri Malika.
Malika menyambut Rena, memegang tangan pelayanannya itu dengan perasaan getir.
Tapi tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada sosok tampan pemilik rumah sakit itu menghentikan langkahnya, ketika mendengar nama gadisnya yang selama ini menjadi incarannya.
"Malika!, apakah Malika gadisku?," tanya Rei bermonolog.
ketika Rei membalikkan tubuhnya mencari seseorang yang memanggil nama gadisnya, dua sosok itu sudah menjauh dari pandangannya.
"Ah, mungkin saja ada yang sama namanya dengan gadisku."
Rei memutar tubuhnya lalu berjalan kembali menyusuri koridor rumah sakit miliknya.
"Apa yang terjadi bibi, bagaimana keadaan baby," tanya Malika setelah mereka tiba di depan pintu ruang IGD.
"Maaf nona muda, sebaiknya nona langsung tanya dokternya supaya lebih jelas penyampaiannya, bibi takut salah bicara nona," jawab Rena dengan sangat hati-hati pada nona mudanya.
"Baiklah, tolong bibi bawa kartu ini selesaikan administrasi untuk baby, ucap Malika sambil menyerahkan kartu ajaibnya pada kepala pelayan Rena.
Rena bergegas menuju ke tempat resepsionis rumah sakit untuk melakukan transaksi dan Malika masuk ke ruang NIKU untuk menemui dokter yang menangani anaknya.
"Selamat pagi dokter!"
"Pagi nyonya, silahkan duduk!"
"Maaf dokter perkenalkan saya ibu dari baby yang baru saja masuk ke ruangan ini," ucap Malika kepada dokter Endra spesialis anak.
Bagaimana keadaan putra saya dokter, apakah ada yang serius dengan penyakitnya."
Dokter Endra memperhatikan wajah cantik Malika, entah kenapa perasaannya menjadi berdebar-debar melihat wajah wanita dihadapannya. Malika hanya menatap dokter yang tampak canggung dihadapannya.
"Dokter apa anda baik-baik saja," ucap Malika yang menyadarkan lamunan dokter yang sebaya dengan usianya.
"Oh maaf nyonya, siapa nama baby nya," tanya dokter Endra basa basi pada Malika.
Sesaat Malika terdiam seakan sedang memikirkan nama untuk babynya karena ada berapa nama yang sudah disiapkannya dan dirinya ingat dengan nama ponsel yang ingin dijadikan brand pada ponsel buatannya.
"Ezra, nama babyku adalah "EZRA"
"Nama yang bagus sesuai dengan wajah ibunya," goda dokter Endra.
"Begini nyonya, baby Ezra mengalami sakit kuning dimana seorang bayi kekurangan Asi ibunya dan tidak terkena sinar matahari, harusnya babynya di jemur setelah usia satu hari dan mendapatkan asupan ASI setiap empat jam sekali dari ibunya." jelas dokter Endra pada Malika.
__ADS_1
"Alhamdulillah, syukurlah dokter berarti babyku tidak parah sakitnya?"
"Tentu saja tidak nyonya, karena nyonya cepat membawanya ke sini jika terlambat sedikit saja keadaan beby Ezra bisa gawat."
Malika menarik nafas lega dan mengucapkan rasa terimakasihnya tak terhingga untuk dokter Endra yang sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk putranya.
"Maaf nyonya, apakah anda melahirkan sendiri tanpa bantuan ahlinya?, sepertinya saya melihat potongan tali pusar yang tidak simetris dan kurang penanganan secara profesional, sebenarnya apa yang terjadi dengan proses persalinan anda.
"Begini dokter sebenarnya saya....aduhhh, ohh.. sakit," teriak Malika sambil memegang perutnya.
Kata-kata Malika terhenti dan dirinya langsung pingsan karena perutnya yang tiba-tiba sakit.
Selang berapa lama Rena masuk hendak menyerahkan kartu ajaib milik nona mudanya, namun dirinya terhentak melihat nona muda nya sudah jatuh ke lantai, dua orang ini antara dokter Endra dan Rena sama-sama berteriak
"Nona muda!!"
"Nyonya!!"
Dokter Endra langsung mengangkat tubuh Malika untuk dibaringkan di brankar yang langsung memeriksa keadaan Malika. Setelah memeriksa keadaan Malika dokter Endra mengernyitkan dahinya lalu menatap kepala pelayanan pasien Malika.
"Apa yang terjadi dengan nona mudamu ini bu?"
"Nona saya baru melakukan persalinan yang ditolong oleh saya dokter karena keadaan nona saya yang saat itu dalam keadaan tidak aman di kediamannya sehingga sulit untuk dibawa ke Rumah sakit," jelas Rena panjang lebar kepada dokter Endra.
"Pantasan saya sudah curiga dengan keadaan bayinya dan juga nona mudamu ini."
"Apa yang terjadi dokter dengan nona muda saya," tanya Rena yang sudah mulai menangis melihat nasib nona mudanya.
"Nona muda anda mengalami pendarahan hebat karena perawatan yang tidak maksimal.
Tolong kabarkan suaminya."
Degg!!
Apa yang dikuatirkan Rena akhirnya terjadi juga, mendengar pertanyaan dokter yang membuat nya sedih jika mengingat kondisi nona mudanya yang mengalami kisah hidup yang sangat dramatis. Walau bagaimanapun Rena harus mengatakan apa adanya.
"Maaf tuan dokter suami nona muda saya sudah meninggal."
"Apa!!
"Jadi maksud kamu, gadis muda ini sudah janda?
"Astaga, malang sekali hidup nona mudamu bu," ucap Dokter Endra merasa dadanya sesak mendengar penuturan Rena.
"Tapi masih ada mertuanya dokter yang sampai saat ini belum mengetahui kalau menantunya sudah bersalin."
"Ya sudah kabarkan secepatnya kepada mereka untuk ke rumah sakit karena ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi baby Ezra dan ibunya."
__ADS_1
Rena mengangguk mengerti apa yang disampaikan oleh dokter Endra, dirinya keluar dari ruang NIKU, ingin menelepon mertua Malika.
"Hallo!! assalamualaikum nyonya Andien, selamat pagi!!
"Waalaikumuslam, maaf saya sedang berbicara dengan siapa?"
"Maaf ini saya nyonya Andien, saya kepala pelayan Tuan Daniel."
"Oh iya, bagaimana keadaan Malika?
apakah sekarang dia sudah melahirkan?
kami sangat cemas dengan ala yang terjadi setelah menonton berita tentang keadaan orang tuanya dan juga keadaan kediaman besan kami."
"Maaf nyonya Andien sebenarnya nona Malika dan tuan baby sekarang dirawat di rumah sakit S**m, nyonya di minta oleh dokter untuk datang karena nyonya satu-satunya wali dari nona Malika dan tuan baby.
"Baik, Rena saya akan berkunjung ke sana nanti siang, saya juga memang ingin melihat cucuku, keturunanku dari almarhum putra ku Arie."
"Dengan senang hati nyonya saya akan menunggu kedatangan nyonya."
Malika di bawah ke ruang persalinan dan ditangani langsung oleh dokter spesialis kandungan, laporan yang diterima oleh dokter kandungan dari dokter Endra sangat membantu dokter kandungan untuk melakukan tindakan perawatan lebih serius pada rahim Malika.
🌷🌷🌷
Sesuai janjinya nyonya Andien membesuk menantunya Malika dan cucunya, Rena sudah menyambut nyonya Andien yang datang sendiri di siang hari itu.
Beliau meminta untuk di antarkan ke ruang bayi.
"Assalamualaikum Rena, di mana cucuku, aku ingin melihatnya, apa jenis kelamin cucuku," tanya nyonya Andien antusias karena mendapatkan seorang cucu.
"Waalaikumuslam nyonya, cucu anda laki-laki, dan sekarang ada di ruang perawatan bayi."
"Ya Allah apa yang terjadi dengan cucuku," teriak nyonya Andien yang sangat panik mendengar keadaan cucunya.
Mereka berjalan tertatih - tatih ke ruang perawatan bayi, wajah nyonya Andien tampak pucat menyaksikan keadaan cucunya yang masih tergolek lemah.
"Oh cucuku, kamu sangat tampan tapi sayangnya kamu mirip ibumu tidak mirip dengan ayahmu," ujar nyonya Andien sedih.
"Wajah bayi selalu berubah-ubah nyonya, mungkin saja saat mulai tumbuh besar tuan baby akan mirip dengan ayahnya," ucap Rena menghibur nyonya Andien.
"Baiklah sekarang kita ke tempat Malika, saya ingin bertemu dengannya."
"Maaf nyonya, nona Malika masih lemah karena mengalami pendarahan dan saat ini masih dalam pemantauan dokter spesialis kandungan."
"Apa??, kenapa nasib gadis itu selalu sial, ada aja yang dialaminya, semoga cucuku tidak ikutan sial seperti dirinya," ucap nyonya Andien dengan mendengus kesal.
Rena hanya menarik nafas berat, hatinya merasa kesal melihat ibu mertua nona mudahnya yang begitu sinis mendengar keadaan nona mudanya.
__ADS_1
"Tahu gini gue nyesal hubungin loe," ucap Rena membatin.