
Rei menyetir mobilnya di pagi buta menuju ke mansion istrinya. Setibanya di sana, ia membunyikan klakson mobilnya, meminta penjaga mansion mertuanya untuk membuka gerbang utama untuknya, petugas itu segera membuka pagar dengan memencet tombol otomatis. Rei kemudian memasuki mobilnya menuju halaman mansion mertuanya.
"Apakah nona Malika ke sini, tanya Rei kepada penjaga keamanan mansion mertuanya, setelah ia turun dari mobilnya."
"Maaf tuan, aku tidak melihat nona muda ke sini, dari tadi aku berdiri di sini hampir 24 jam." jawab penjaga itu
"Ya Allah bagaimana ini, kalau tidak ada di sini, terus ke mana ia pergi? sekarang juga masih gelap begini, jam 2 pagi, pergi sendirian, berani sekali kamu Malika." ucap Rei kesal dengan ulah istrinya.
Rei memutuskan untuk kembali pulang, lebih baik ia menunggu di mansionnya dari pada mengelilingi kota hanya untuk mencari istrinya yang keras kepala seperti itu. Ketika ia ingin kembali ke mobilnya, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya, ia melihat sosok yang memanggilnya ternyata mama mertuanya. Nyonya Alea selalu bangun dini hari untuk menunaikan sholat tahajud.
"Reii!" Ada apa nak sepagi ini kamu ke sini?" tanya nyonya Alea yang heran melihat menantunya jam 2 dini hari sudah menyambangi mansionnya.
"Malika kabur mama!" jawab Rei sedih.
"Kalian bertengkar lagi?" tebak nyonya Alea.
"Iya mama, Rei yang salah ko mam, bukan Malika, Rei terbawa emosi jadi nggak sadar nyakitin Malika."
"Ya Allah Rei, watak Malika itu cukup keras nak, dia bisa mengabaikan siapapun kalau sudah tersakiti."
"Maafkan Rei mama, mengganggu mama jam segini." ucap Rei tak enak hati kepada mertuanya.
"Ikuti mama Rei, Malika punya tempat persembunyian tersendiri di rumah ini."
Rei mengikuti mertuanya menuju ke kamar Malika. Ketika pintu kamar itu dibuka tidak terlihat istrinya di dalam kamar tersebut. Ada satu hal yang Rei belum tahu mansion istrinya. Ketika ia ingin meninggalkan kamar Malika, ia kembali dicegah oleh mamanya Malika.
"Rei, tunggu nak, kita harus masuk ke sini."
"Inikan kamar ganti Malika mama?"
"Iya sayang, tapi di balik gantungan baju itu ada ruang rahasia tempat ia selalu menghabiskan waktunya untuk mengerjakan proyek ponselnya."
Tombol yang ada dibalik kaca rias Malika di tekan oleh nyonya Alea. Seketika lemari pakaian itu terbentang dan terlihatlah pintu lift yang mengarah ke bungker. Rei yang belum pernah sekalipun diajak Malika ke mansionnya sedikit terkejut. Nyonya Alea mengajak Rei masuk ke pintu lift yang juga ikut terbuka. Lift itu membawa mereka ke ruang bawah tanah. Setibanya mereka di bungker tersebut ternyata Malika sedang tidur.
"Kamu lihatkan nak, ia sedang bersembunyi di sini." ucap nyonya Alea kepada menantunya Rei sambil tersenyum lega karena dugaannya benar kalau putrinya akan bersembunyi di dalam bungker.
Rei menghampiri istrinya yang sedang tidur, ia juga tidak ingin membangunkan Malika tapi ikut tidur disebelah istrinya. Nyonya Alea yang melihat putri dan menantunya sedang ingin berdua, iapun kembali naik ke atas. Rei memeluk tubuh istrinya dan ikut ke dalam mimpi bersama sang istri.
🌷🌷🌷
Merasa tubuhnya dipeluk seseorang Malika mengerjapkan matanya lalu membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang sedang memeluknya. Ia begitu shock melihat Rei yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
"Kapan orang ini datang?" dan bagaimana dia tahu kalau aku ada di sini, apa jangan-jangan mama yang mengantarkannya ke sini," ucapnya membatin.
Malika beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Berapa menit kemudian ia kembali lagi menemui suaminya. Ia kemudian mendekati Rei dan mulai mengucapkan sesuatu di dekat wajah suaminya.
"Tadi mengusirku, sekarang mencariku, dasar manusia nggak jelas," gerutunya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya.
Seketika Rei membuka matanya menatap wajah cantik Malika, membuat tubuh Malika terperanjat dari tempatnya.
"Kena kamu!" ucap Rei langsung memeluk erat pinggang Malika.
Malika meronta ingin melepaskan diri dari pelukan suaminya. Tapi Rei tidak ingin melepaskan tubuh itu yang beberapa jam yang lalu sudah membuatnya kalang kabut mencari gadis ini. Rei membalikkan tubuh Malika, menindih tubuh itu dan membekap mulut Malika yang ingin berteriak.
Rei menarik baju Malika dengan kasar, kembali menjelajahi tubuh itu. Malika tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah karena tubuhnya juga sudah lelah meronta dalam dekapan erat suaminya. Karena tidak ada lagi perlawanan dari istrinya, Rei melanjutkan permainannya kepada tubuh istrinya. Lenguhan kembali terdengar, setiap sentuhan suaminya kembali dirasakan oleh Malika. Erangan panjang istrinya serasa membakar kembali birahinya. D***an istrinya tidak mampu lagi menahan gejolak hasrat yang merasuki jiwa keduanya, hingga puas mencapai alam nirwana.
Melalui penyatuan tubuh keduanya kembali merasakan getaran cinta yang tidak ingin terpisahkan oleh waktu. Entah mengapa Rei meneteskan air matanya. Lelaki tampan ini tahu-tahu menangis tanpa sebab. Malika yang merasa bingung mendapati suaminya menangis mencoba untuk bertanya.
"Hei, mengapa kamu tiba-tiba menangis sayang, bukankah kita baru selesai bercinta?"
"Malika, jangan pergi dari sisiku lagi sayang, aku bisa gila setiap kali ketika kamu marah selalu saja kabur dariku, aku takut Malika...hiks..hiks!"
"Makanya jangan tersulut emosi saat aku sedang kesal, kamu sudah mengenalku hampir lima tahun pernikahan kita tapi tetap saja membuatku kesal," ucap Malika sambil cemberut.
"Aku mohon hentikanlah mengungkit kesalahanku dimasa lalu, aku tidak dapat mengubah takdir kecuali ingin memperbaikinya dengan memberikanmu banyak cinta yang kupunya untukmu dan untuk anak-anak kita sayang." ucap Rei sambil membelai wajah lembut istrinya.
"Bukankah kamu sudah mengusirku dari hidupmu?" tanya Malika sinis pada Rei.
"Sayang, jangan memulai lagi, aku sudah meminta maaf padamu, harus berapa kali aku mengucapkan kata maaf dan meyakini dirimu bahwa aku khilaf, aku sangat takut kehilanganmu Malika, jika terjadi sesuatu pada dirimu, aku ingin mengakhiri hidupku."
"Sssst!" sudah ah, jangan bicara ngelantur seperti itu. Ayo!" kita kembali ke atas, pasti mama sudah membuat sarapan pagi untuk kita di atas." ucap Malika yang kembali mengenakan bajunya yang berantakan di lantai usai bercinta dengan sang suami.
Rei juga demikian, ia mengenakan lagi pakaiannya dan merapikan diri sebelum bertemu dengan kedua mertuanya. Setelah dirasanya cukup, ia berhenti sesaat dan melirik ruang kerja Malika di mana banyak layar yang terekam oleh CCTV baik yang ada di mansionnya maupun di perusahaan milik Malika. Bukan cuma itu saja tapi ada juga di jalan-jalan tertentu, lebih tepatnya pusat bisnis ibu kota Jakarta yang terekam di banyak layar di ruang kerja milik Malika.
Rei sangat kagum melihat itu, kemahiran istrinya melakukan peretasan CCTV hampir setiap tempat yang ingin ia ketahui. Rei menghampiri ruangan itu, melihat satu persatu layar di luar yang menggambarkan aktivitas kota Jakarta di luar sana. Malika melihat tingkah suaminya seperti sedang penasaran dengan apa yang sedang dilihatnya di ruang CCTV tempat kerjanya.
"Malika, bisakah kamu membuat ruang kerja pribadimu ini di kediaman kita sayang?" pinta Rei pada istrinya.
"Mengapa kamu meminta seperti itu sayang?" timpal Malika balik bertanya pada keinginan suaminya.
"Karena aku ingin punya apa yang seperti kamu miliki Malika." ucap Rei mendesak istrinya untuk melakukan hal yang sama di mansionnya."
"Rei, buat seperti ini harus butuh ijin dari pihak yang berwenang, tidak bisa asal bangun, itu sama saja ilegal dan aku tidak mau dipersalahkan nanti karena telah melanggar undang-undang ITE."
"Itu gampang diatur sayang, yang jelas aku ingin kamu melakukan untukku juga." rayu Rei pada Malika.
"Di mansion kita nggak ada ruang bawah tanah seperti ini, tidak sembarangan membangun ini di atas permukaan tanah yang mengundang orang lain bisa mendeteksi keberadaan ruangan seperti milikku."
__ADS_1
"Maksudmu aku juga harus membangun bunker seperti tempatmu ini?"
"Iya dan harus mendapatkan ijin dulu dari pihak berwajib." ucap Malika tegas.
"Baiklah sayang aku akan bicara hal ini sama papi."
"Tapi para pekerjanya harus di bayar mahal dan juga membuat perjanjian hitam di atas putih untuk menjaga kerahasiaannya Rei."
"Iya sayang, itu gampang di atur yang penting aku harus punya seperti yang kamu miliki."
"Kamu mau buka perusahaan Cyber IT juga?" canda Malika yang ingin menggoda suaminya.
"Malika, sebenarnya ada permasalahan perusahaan yang belum tuntas aku temukan pelaku yang sudah merugikan perusahaan maskapai penerbangan milik kita. Sebelum meninggalnya nyonya Andien aku sedang dihadapkan dengan krisis keuangan perusahaan. Minimnya penumpang dan banyaknya penyimpangan yang terjadi di perusahaan maskapai milik kita. Aku belum bisa mengungkapkan pelaku sebenarnya karena kurangnya data informasi tentang permainan karyawanku pada perusahaan kita."
"Apakah kamu sedang meminta bantuan aku sayang?" tanya Malika serius menanggapi suaminya.
"Iya sayang, aku sangat membutuhkan bantuanmu."
"Lebih baik kita juga harus melibatkan papa, mungkin pengalamannya dan juga ilmunya dapat memecahkan permasalahan di perusahaan kita." ucap Malika lagi.
"Terimakasih sayang, setidaknya aku lebih lega sekarang, daripada kemarin aku dan Raffi terus menduga-duga pada orang yang takutnya menyebabkan fitnah untuk mereka."
"Sebaiknya kita cepat kembali ke atas Rei."
"Baiklah sayang."
Keduanya bergegas ke atas karena mereka juga sudah mulai merasa lapar. Rei yang baru melihat kamar istrinya sesaat berhenti dan menarik tangan istrinya.
"Sayang, sebelum kita pulang, bolehkah kita bercinta di kamarmu ini?" pinta Rei menggoda malika.
"Ah, pikiranmu dari tadi hanya mesum aja sayang, ayo buruan jadi sarapan nggak nih?" rengek Malika kesal dengan ulah suaminya.
"Ok, cinta!"
Keduanya berjalan menuju ruang makan yang sudah tercium aroma makanan di sekitar ruangan. Nyonya Alea menyambut keduanya dan mempersilahkan keduanya mengambil tempat mereka. Tuan Daniel merasa senang dengan kehadiran putri dan menantunya. Walaupun ia sudah tahu permasalahan keduanya dari istrinya.
"Nak Rei, terimakasih sudah mengunjungi papa dan mama." sindir tuan Daniel karena selama ini tidak sekalipun Rei mengunjungi mereka di mansion apa lagi untuk menginap."
"Iya pa, mohon maaf kalau Rei belum sempat mengenal mansion papa selama Rei menikahi Malika.
Lain kali saya akan membawa keluarga kecil Rei menginap di sini, di rumah papa dan mama." hibur. Rei kepada mertuanya.
"Terimakasih sebelumnya Rei, papa sangat senang mendengarnya, walaupun ini baru janjimu saja, papa akan bahagia sekali jika kamu bisa membuktikan janjimu." ucap tuan Daniel penuh penekanan pada menantunya.
"Papa, sebenarnya Rei punya masalah dengan perusahaannya dan ia membutuhkan kita untuk memecahkan masalahnya ini." ucap Malika memberi tahu masalah suaminya pada papanya.
Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan tidak lagi bersuara. Rei yang baru pertama kali merasakan masakan ibu mertuanya begitu bahagia. Kehangatan pagi itu melunturkan amarahnya Malika terhadap suaminya Rei. Usai sarapan tuan Daniel mengajak keduanya ke ruang kerjanya dan ingin mendengar langsung permasalahan menantunya Rei.
🌷🌷🌷
Dua bulan kemudian, permasalahan perusahaan Rei menemukan jawaban, sekitar tiga puluh karyawan nakal yang sudah menyelewengkan dana perusahaan di tangkap oleh keamanan perusahaan. Rei meminta diproses secara kekeluargaan. Mereka diminta pertanggungjawaban dan mencari tahu penyebab dari tindakan mereka yang tega merugikan dana perusahaan hampir miliaran rupiah. Oknum pejabat terkait di dunia penerbangan ikut terseret dalam masalah ini. Namun bagi Rei cukup memberikan mereka kesempatan untuk meminta maaf tanpa ada proses hukum. Berkat kecerdasan istri dan papa mertuanya, akhirnya Rei dan Raffi bisa menangkap basah mereka dengan alat teknologi canggih yang ada di perusahaan Cyber IT group Anjastara.
Belajar dari tindakan Malika yang pernah nekat menghancurkan perusahaan orang lain hingga menyebabkan dirinya pernah di serang ketika melahirkan putranya Ezra secara dramatis di dalam bungker. Rei ingin semuanya sesuai dengan rencananya memproses 30 orang karyawan nakal itu. Mereka juga diturunkan jabatannya dan dicabut haknya menerima bonus akhir tahun. Penyelewengan ini tidak tercium oleh media karena akan mempengaruhi citra perusahaan. Surat pernyataan yang mereka tandatangani yang menyatakan tidak akan mengulangi lagi perbutan tercela pada perusahaan Rei. Diantara mereka ada yang menangis haru karena kebijakan Rei yang tidak memecat mereka, hanya memberikan mereka sangsi yang setimpal dengan perbuatan mereka.
"Maafkan saya tuan Rei, terimakasih atas kebijakan tuan, kemuliaan hati tuan seakan menghukum mental saya, saya berjanji akan mengabdi di perusahaan tuan sepenuh hati saya dan tidak lagi tergiur dengan nilai uang yang ditawarkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menjatuhkan perusahaan tuan..hiks....hiks!" ucap salah satu karyawan Rei di ruang kerjanya.
Yang lain juga sibuk mengungkapkan perasaan mereka dan terus mengucapkan kata permohonan maaf. Rei dan Raffi tersentuh dengan ucapan tulus para karyawannya. Tapi sifatnya yang kharismatik tidak memperlihatkan kepribadiannya yang lemah dihadapan karyawannya.
"Semuanya sudah selesai, saya anggap tidak pernah ada kejadian seperti ini di perusahaan saya dan tidak akan ada lagi kejadian yang sama. Silahkan kalian kembali bekerja. Cukup sekian dari saya. Raffi tolong antarkan mereka keluar dari ruanganku." titah Rei tegas kepada karyawannya.
🌷🌷🌷
Rei menghubungi istrinya yang saat ini sedang menunggu informasi darinya. Malika begitu gelisah menanti kabar dari suaminya. Ingin rasanya ia berangkat ke perusahaan suaminya, namun urung dilakukannya karena sudah di wanti-wanti oleh Rei kalau ini adalah hal yang sangat intern yang tidak boleh melibatkan orang luar dan Rei juga takut kalau oknum karyawannya sampai tahu ini ulah istrinya, otomatis Malika akan kena getahnya. Gadis ini memang jenius tapi suka salah langkah mengambil keputusan yang menyebabkan nyawanya terancam. Malika lebih mengedepankan emosinya dari pada akalnya. Ponselnya akhirnya berbunyi, ia segera menjawab panggilan dari suaminya.
"Hallo sayang, assalamualaikum!" ucap Malika buru-buru.
"Waalaikumuslam sayang, Alhamdulillah semuanya sudah di teratasi secara kekeluargaan. Bersiaplah aku akan segera menjemputmu karena aku mau mengajakmu ke perusahaan papamu. Kamu pasti kangen dengan ruang kerjamu di perusahaanmu hmm?" ucap Rei menghibur istrinya.
"He..he..he!" tahu aja kamu sayang apa yang ku mau." ucap Malika terkekeh.
"Ajak anak-anak bersamamu sayang, kita akan mengunjungi mamamu juga dan mungkin akan menginap di sana."
"Benarkah, kita akan menginap di sana?" pekik Malika senang sambil loncat-loncat persis seperti anak ABG yang kegirangan dapat jawaban cinta dari kekasihnya.
Malika keluar menemui kedua mertuanya. Ia meminta ijin kepada keduanya ingin membawa anak-anak untuk menginap di rumah orangtuanya.
"Assalamualaikum papi, mami." ucap Malika santun kepada kedua mertuanya yang sedang ngobrol di taman sambil mengawasi cucu-cucu mereka bermain.
"Waalaikumuslam, ada apa Malika?"
"Malika mau minta ijin menginap di mansion orangtua Malika, bolehkah?"
"Silahkan sayang, mami mengijinkannya, bawa juga oleh-oleh untuk besanku dan titip salam hormat kami untuk keduanya."
"Alhamdulillah, terimakasih papi dan mami, kalau gitu Malika persiapkan anak-anak juga karena Rei meminta Malika membawa serta anak-anak."
Kedua mertuanya hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Malika. Ibu dari tiga anak ini memanggil anak-anaknya yang sedang main di taman untuk ikut dengannya.
__ADS_1
"Anak-anak, siapa yang mau ikut mommy berkunjung ke mansion Eyang?" teriak Malika mengajak anak-anaknya.
"Saya!.. saya!" jawab mereka kompak dan berlari memeluk Malika.
"Ayuk!" kita ganti baju dulu setelah itu kita berangkat ke mansion eyang.
"Horeee!" teriak ketiganya girang membuat opa dan omanya terkekeh dengan cucu-cucu mereka.
"Mommy, kita ajak daddy juga ya nginap di rumah eyang." ucap Ezra membujuk mommynya.
"Tentu saja sayang, lagian daddy yang ngajak kita nginap di rumah eyang.
"Mommy Rania ajak little leli juga ya?" pinta Rania untuk membawa bonekanya serta.
"Bawa saja mainan kalian tapi jangan banyak-banyak ya?" titah Malika pada anak-anaknya yang sangat heboh hari itu.
Sambil menunggu kedatangan Rei, anak-anak masih saja berlarian di halaman mansion. Tidak lama mobil daddynya datang, ketiganya bersorak kegirangan.
"Ye..ye..ye.. daddy pulang!" ucap mereka kompak.
Rei yang melihat anak-anaknya sedang menyambutnya memanggil ketiganya setelah ia turun dari mobilnya.
"Anak-anak daddy," teriak Rei sambil merentangkan kedua tangannya menyambut putra putri nya dalam pelukannya.
Teriakan beserta tawa anak-anak menggema di halaman mansion. Para pelayan menyaksikan momen bahagia keluarga itu. Malika sedikit iri melihat anak-anaknya yang ada dalam gendongan suaminya sekarang bukan dirinya lagi yang digendong suaminya. Ia menarik nafasnya lembut dan beranjak menghampiri kedua mertuanya untuk salim. Mereka masuk kedalam mobil Rei, pelayan turut membantu memasukkan koper mereka ke dalam bagasi mobil. Mobil itu kembali meluncur menuju pondok mertua indah.
Di perjalanan, ketiganya banyak bercerita, Rania dan Tania berebutan untuk duduk di depan bersama Malika. Saling berebutan membuat keduanya menangis. Malika bingung menenangkan keduanya. Ezra sibuk dengan ponselnya tidak perduli dengan adik kembarnya yang sedang bertengkar.
"Sayang kita mampir dulu ke perusahaan papa sesuai rencana awal." ucap Rei kepada Malika yang sedang memangku Rania dan Tania bersamaan hingga wajahnya tidak kelihatan suaminya."
"Iya sayang, lagian anak-anak belum melihat perusahaan milik eyangnya." jawab Malika menyanggupi permintaan suaminya.
🌷🌷🌷🌷
Setibanya mereka di perusahaan Cyber IT group Anjastara. Para karyawan menyambut Malika yang juga merupakan bos mereka. Ketiga anaknya menjadi incaran gosip para karyawan wanita. Ketampanan Ezra dengan sifat dinginnya diwarisi daddynya. Sifat kepemimpinan anak ini sangat terlihat walaupun usianya baru menginjak enam tahun.
Kedatangan mereka tidak diketahui oleh tuan Daniel karena ini merupakan bagian suprise untuk kakek tiga cucu itu. Malika melarang resepsionisnya menghubungi papanya untuk mengabarkan kedatangan mereka.
"Jangan memberitahukan papaku tentang kedatanganku, aku sengaja memberi kejutan untuk papaku, apakah beliau ada di ruangannya?"
"Iya nona muda!" jawab petugas resepsionis itu santun.
Keluarga kecil itu masuk ke lift utama yang menghubungkan langsung ke ruang kerja tuan Daniel.
"Anak-anak jangan berisik ya, kalau sudah sampai di ruang kerja eyang," pinta Malika kepada anak-anaknya.
Ketiganya mengangguk setuju dan menutup rapat mulut mereka. Lift berhenti, pintunya terbuka, keluarga ini menghampiri pintu ruang kerja tuan Daniel. Anak-anak berada paling depan karena mereka yang menjadi kejutan untuk eyang mereka. Dalam hitungan ketiga, mereka membuka pintu itu.
"Surprise!"
Tuan Daniel yang sedang melihat laporan yang ada di laptopnya tersentak dengan teriakan cucu-cucunya.
"Ya Allah cucu-cucu eyang." sambut tuan Daniel begitu haru.
Satu persatu diciumnya pipi cucunya. Rania dan Tania meminta gendong ke eyang mereka. Lelaki berusia 60 tahun itu menggendong cucu kembarnya.
"Assalamualaikum papa," sapa Malika dan Rei.
Keduanya tidak bisa menyalami tuan Daniel karena sedang menggendong si kembar. Mereka duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Pajangan ponsel dari keluaran pertama sampai terakhir yang menghiasi rak di dalam ruangan itu memancing Rania dan Ezra mengambil salah satunya. Sedangkan Tania tidak begitu tertarik, gadis kecil ini, senang menghiasi bonekanya kadang juga mengganti baju-baju Barbienya. Bakat ketiga anaknya Reinaldi dan Malika ini sangat terlihat jelas pada minat mereka dengan benda-benda yang mereka sukai. Anak-anak mulai sibuk dengan mainan mereka. Sedangkan orangtuanya sudah mulai memperbincangkan permasalahan perusahaan Rei yang sudah teratasi dengan baik.
"Rei, apakah urusan perusahaanmu sudah menemukan titik terang?"
"Sudah papa, hari ini, Rei mengadili mereka secara kekeluargaan saja supaya tidak terekspos oleh media."
"Baguslah nak, papa bangga akan kebijakanmu dalam menyelesaikan suatu permasalahan, sikapmu akan menjadi contoh bagi perusahaan lain dan juga untuk istrimu ini, yang selalu gegabah dalam mengambil keputusan. Tolong bimbing dia Rei, karena Malika belum matang mentalnya kalau berurusan dengan karyawan perusahaan ini." pinta tuan Daniel pada menantunya.
"Tenang papa entar Rei bisa jinakkan dia." ucap Rei sambil memainkan kedua alisnya menatap Malika.
Malika spontan melotot kearah suaminya yang sedang meledek dirinya. Rei mengedikkan kedua pundaknya seakan menantang Malika yang makin geram dengan ulah suaminya.
Obrolan mereka terhenti karena ada deringan ponsel milik tuan Daniel. Tuan Daniel melihat panggilan layar ponselnya, ternyata dari istrinya.
" Hallo, assalamualaikum," sapa nyonya Alea dari seberang.
"Waalaikumuslam." jawab tuan Daniel.
"Sayang, tadi ada telepon dari besan kita kalau anak-anak mau nginap ke sini, kenapa sekarang belum sampai ya?" tanya nyonya Alea yang sedang gelisah menunggu putrinya dan menantunya Rei."
"Mereka masih di perusahaan kita mama, ini lagi ngobrol. Sebentar lagi kami akan pulang, masaklah yang enak-enak karena cucu-cucu kita malam ini akan meramaikan mansion kita sayang." ucap tuan Daniel menenangkan istrinya.
"Baik papa, sudah dulu ya, mama mau minta para chef, untuk menyiapkan hidangan istimewa untuk anak dan cucuku."
"Ok sayang jangan lupa rapikan kamar untuk ketiga cucuku. Kuras kolam renang dan ganti air yang baru. Malam ini kita akan menghabiskan malam dengan anak dan cucu kita."
"Pasti sayang, akan aku siapkan yang terbaik untuk mereka. Bye!"
Sambungan telepon dimatikan keduanya. Malika dan Rei yang mendengar obrolan orangtua itu tersenyum bahagia karena nyonya Alea sangat senang akan kedatangan mereka.
__ADS_1
"Anak-anak ayo bersiap-siaplah karena kita akan meneruskan perjalanan kita ke mansion eyang. Siapa yang sudah siap?" tanya Malika disambut pekik kegirangan ketiga anaknya. " Saya!"