
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap perpisahan akan
meninggalkan kenangan. Kesan dan pesan akan terucap mengiringi perpisahan itu sendiri. Tidak ada perpisahan yang indah, jika ingin memilih, mungkin lebih baik tetap bersama dengan jalan apapun, namun kita tidak bisa menolak permainan takdir yang mengharuskan kita untuk menjalaninya.
Hari ini, Aida sedang mempersiapkan kepulangannya ke tanah air. Semua dokumen penting sebagai persyaratan perjalanan sudah lengkap. General cek-up terakhir sudah keluar hasilnya yang menyatakan secara medis jika Aida sudah terbebas dari kangker alias sembuh total.
Dokter Willy yang mengeluarkan hasil tes terakhir untuk riwayat penyakit Aida yang menyatakan Aida bebas dari penyakit kanker otak. Dengan berat hati dokter itu memberikan pesan terakhirnya untuk Aida tentang apa saja yang harus dihindari Aida ketika menjalani pola hidup sehat untuk ke depannya. Aida menyanggupi semua saran dari dokter Willy untuk kebaikannya. Setelah itu dokter Willy mulai membicarakan hal yang sangat pribadi dengan pasien favoritnya ini.
"Apakah kamu senang kembali lagi ke tanah airmu nona Aida?" tanya dokter Willy dengan wajah sendu.
"Iya dokter, aku sangat merindukan keluarga besarku dan suamiku." ucap Nadia apa adanya.
"Apakah kamu akan merindukanku setelah berada di Indonesia?"
"Bukankah itu artinya aku diperbolehkan merindukan seseorang yang bukan suamiku dokter?" sahut Aida seakan menampar wajah dokter Willy.
"Aida, apakah kamu yakin tidak mencintaiku sama sekali?" tanya dokter Willy yang masih berharap ada ruang dihati Aida untuk dirinya.
"Jangan terlalu berharap dokter, karena tidak ada sekat dihatiku untuk menyimpan rinduku apa lagi cinta untukmu."
"Aida, jika kamu tidak bahagia, aku rela menunggu dirimu untuk kembali dalam pelukanku."
"Jangan mengandai-andai sesuatu yang tidak pasti dokter, karena semakin kamu berharap untuk mendapatkannya maka semakin tersiksa kamu untuk bisa memilikiku."
"Lalu apa bedanya aku dan dirimu Aida, bukankah kita berada di jalan yang sama?" Kamu dan suamimu yang saat ini, sedang mencintai istrinya yang lain dan kamu berharap dia kembali untukmu, sedangkan aku mencintaimu namun tidak bisa mendapatkanmu karena cinta yang kamu miliki sudah kamu serahkan seutuhnya untuk suamimu. Bukankah aku dan kamu sedang berada di persimpangan jalan yang sama, sama-sama berharap untuk dicintai?" ucap dokter Willy sedikit sinis kepada Aida.
"Aku tidak akan menyerah sebelum aku mencobanya dokter, siapa tahu nasib baik berpihak padaku. Suamiku menikahi gadis itu atas permintaanku yang awalnya ditentang olehnya atas pernikahan itu."
"Kamu sangat lucu Aida karena kamu sedang bermain dengan hidupmu sendiri. Kamu tidak yakin akan sembuh tapi masih mau untuk berobat, berarti kamu ingin kembali sembuh dan berusaha mendapatkan tempatmu kembali disisi suamimu yang sudah kamu berikan kepada wanita lain atas nama cinta. Bukankah itu hal yang sangat konyol nona Aida?"
"Biarkan saya dengan hidup saya dokter, saya tidak ingin orang lain melihat hidup saya dengan rasa iba. Apapun alasannya saya harus tetap kembali untuk suami saya, semoga seiring berjalannya waktu ia akan mencintaiku lagi."
"Pertimbangkan kembali permohonanku nona Aida, aku sangat mencintaimu Aida," ucap dokter Willy dengan suara yang hampir tercekat.
Aida menekan perasaannya, ia tidak ingin terlena ke dalam cinta yang sedang ditawarkan oleh dokter Willy. Dokter Willy memanggil suster untuk mengantarkan kembali Aida ke kamar inapnya, setelah perdebatan mereka menemui jalan buntu.
__ADS_1
Sepeninggal Aida dari ruang pemeriksaan medis, dokter Willy menutupi wajahnya karena menahan amarahnya kepada Aida yang sangat keras kepala. Ia tak habis pikir mengapa wanita selembut itu harus bersaing dengan madunya untuk mendapatkan kembali suaminya yang jelas-jelas mengabaikannya di negara lain.
Dua tahun bersama Aida, hampir setiap saat dokter Willy menghabiskan waktunya hanya untuk menemani gadis yang sangat ia cintai itu, bahkan ia rela menginap di kamar inap Aida ketika ia sedang off dari tugasnya.
Mungkin dengan pengorbanannya, hati gadis itu bisa ia taklukkan. Namun sayang, hati Aida seakan terikat dengan sumpah matinya hanya untuk seorang Raffi.
"Mengapa kamu sangat bodoh Aida?" mana ada laki-laki yang adil untuk mencintai dua wanita dalam hidupnya dalam satu waktu." ujarnya lirih.
🌷🌷🌷
Di airport, dokter Willy sengaja mengantar Aida dan ingin menemani gadis ini sambil menunggu panggilan keberangkatan untuk pesawatnya.
Keduanya duduk berdampingan saling menggenggam tangan mereka. Aida membiarkan dokter Willy menggenggam tangannya untuk terakhir kalinya. Ia juga merasa serba salah dengan dirinya sendiri. Antara ingin pulang ataukah ingin bertahan dengan dokter Willy di negara adi kuasa ini.
Setelah beberapa saat panggilan pesawat untuk Jakarta Indonesia siap berangkat. Mendengar panggilan itu hati dokter Willy seakan di remas, waktu untuk kebersamaannya dengan gadis pujaannya telah berakhir. Aida segera bangkit dari duduknya menuju gate yang sudah terbuka.
"Dokter terimakasih banyak atas jasamu dan juga waktumu untukku, aku bisa seperti ini karena berkat tangan dinginmu yang merawatku selama dua tahun ini."
"Itu sudah menjadi tugasku nona Aida, dan aku melakukannya dengan senang hati."
"Selamat jalan Aida, jika kamu tidak menemukan kebahagiaanmu di sana, kembalilah untuk cintaku sayang." ucap dokter Willy dengan mata berkaca-kaca.
Keduanya berpelukan dengan erat, lalu Aida mengecup pipi dokter Willy. Setelah itu, Aida melangkahkan kakinya menuju ruang keberangkatan penumpang. Dokter Willy menahan air matanya yang sudah hampir jatuh. Ia hanya melihat punggung gadisnya yang sudah menjauh dari tempatnya berdiri. Aida yang berjalan pelan kembali berbalik melihat lelaki yang sudah mencuri hatinya itu sedang menunggu kepergiannya.
Dengan langkah cepat Aida berlari mengejar cintanya itu dan dokter Willy membuka kedua lengannya menyambut permaisurinya yang sedang berlari ke arahnya. Ciuman keduanya tak terelakkan, ciuman dalam tangisan, ciuman perpisahan yang tak ingin ini terjadi, ciuman pelepasan yang menyakitkan. Pagutan kedua bibir manusia itu sangat menyedihkan. Pagutan yang tercampur dengan bulir bening yang terasa asin karena kepedihan dihati mereka.
"Dokter, beri aku waktu untuk merenungkan kembali nasib perawaninanku, aku juga mencintaimu tapi aku harus menyelesaikan dulu permasalahanku, aku akan kembali jika peluang kebahagiaanku sudah tidak dapat aku perjuangkan. Maafkan aku sudah menyiksa perasaanmu." ucap Aida dengan nada terisak.
"Aida, aku akan menunggu momen itu, di saat kamu rela melepaskan ikatanmu pernikahanmu, aku siap menerimamu kapanpun sayangku." ucap dokter Willy yang merasa sayap cintanya kembali kuat setelah mendapatkan balasan cinta dari gadis yang sudah menyemangati hidupnya.
"Aku berangkat dulu sayang setelah tiba di Indonesia aku akan menghubungimu lagi." ucap Aida lalu kembali mengejar pesawatnya karena nomor pesawat yang ditujunya sudah berkali-kali disebut oleh operator maskapai penerbangan internasional tujuan Jakarta Indonesia.
Willy begitu gembira, ia mengatupkan kedua tangannya meletakkan di bibirnya. Hatinya yang hampir patah melepaskan kepergian sang pujaan hati kembali merekat kuat.
"Aida, jika ini hanya mimpi, aku tidak ingin membuka mataku sayang. Selamat jalan cinta, kembalilah untukku jika kamu tidak bahagia di sana." ucapnya membatin setelah melihat Aida sudah menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Pesawat komersil itu terbang meninggalkan negara adi kuasa itu menembus awan biru. Di pesawat, di tempat duduk kelas bisnis, Aida hanya memandangi awan dari jendela pesawatnya. Ia tak berhenti menangis karena meninggalkan lelaki yang rela berkorban untuk mendapatkan cintanya.
"Dokter Willy, dulu suamiku juga mengejarku seperti dirimu walaupun dia tahu aku sudah tidak suci lagi dan sekarang kau juga sama gilanya mengejar cintaku. Apakah kamu juga akan berubah jika aku sudah berjauhan denganmu?" apakah cintamu juga akan tetap sama ketika kita selalu bersama hampir di setiap waktu?" bisik Aida dalam diam.
Aida meregangkan kursinya sedikit ke belakang agar ia bisa mengistirahatkan tubuhnya sambil menanti perjalanan yang panjang sampai tiba ke tanah air.
Di negara Amerika, dokter Willy hanya berdiam diri di apartemennya. Sambil tiduran, ia memandang wajah Aida di layar ponselnya. Banyak sekali foto Aida yang diam-diam diambil olehnya. Dan ada juga foto ketika ia bersama dengan Aida sedang ngobrol atau konsultasi serta foto di saat ia sedang melakukan CT scan kepala Aida. Ia sengaja meminta perawat untuk mengambil foto mereka berdua pada momen-momen penting. Momen perpisahan hari ini sangat mempengaruhinya walaupun ia sudah mendapatkan balasan cinta sang kekasih namun hatinya tak urung bahagia.
"Aida mengapa kamu membawa hatiku juga ikut terbang bersamamu, bersamamu saja aku selalu rindu, apa lagi sekarang kamu sudah pergi, rinduku malah makin menjadi. Aida mengapa kamu membuat hidupmu rumit untuk seorang lelaki yang tidak ingin lagi menyimpan hasratnya untukmu, apakah kamu menyadari itu sayang?." ucap dokter Willy lirih.
Lelah ia menatap foto gadisnya hingga ia terlelap dalam mimpi yang membawanya untuk bertemu sang kekasih.
🌷🌷🌷
Setibanya di Jakarta, Aida tidak langsung ke apartemen suaminya. karena hari itu hari kerja, ia mendatangi ke perusahaan di mana suaminya bekerja. Ketika berada di perusahaan milik Rei, Aida memberanikan diri melangkah masuk ke ruang kerja Raffi. Ia sengaja melakukan itu karena bertepatan dengan ulang tahun pernikahannya.
"Assalamualaikum sayang!" ucap Aida yang melihat Raffi sedang fokus pada layar laptopnya.
"Waalaikumuslam Aida, sayang, apakah benar ini kamu Aida, istriku?" tanya Raffi merasa tak percaya melihat lagi istrinya yang dikiranya sudah tak dapat tertolong lagi dalam masa pengobatannya.
"Apakah kamu ingin melupakanku Raffi?" tanya Aida penuh selidik.
"Maafkan aku sayang, aku merasa tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, kamu sangat berbeda saat kamu berangkat ke Amerika untuk berobat." ucap Raffi hati-hati, takut menyinggung perasaan istri pertamanya ini.
"Pasti kamu lupa hari ini, hari ulang tahun pernikahan kita bukan?" tanya Aida ketus pada suaminya.
"Aku tidak mungkin melupakannya Aida, sebentar, nih lihat, aku sengaja melingkarkan tanggal pernikahan kita di kalender ini." ucap Raffi yang menunjukkan kalender duduk yang ada di atas meja kerjanya kepada Aida.
"Mengapa kamu tidak pernah menghubungiku Raffi?" apakah kamu berharap aku cepat mati dan kamu bisa hidup bahagia dengan istri barumu itu?"
"Aida kamu baru pulang sayang, kamu pasti lelah setelah melewati perjalanan jauh, apakah kamu tidak merindukan suamimu ini?"
"Aku tidak lelah Raffi, jika kamu cukup perduli padaku." ucap Aida yang masih sakit hati dengan tindakan Raffi seakan ingin membuangnya di negara sana.
Raffi tidak membalas ucapan Aida, ia membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Ia tidak menyangka istrinya kembali dengan penampilan yang memukau jauh lebih cantik dari sebelum istrinya sakit. Aida membalas ciuman suaminya tapi sudah terasa hambar, tidak seperti ciumannya kepada dokter Willy saat mereka berpisah. Hatinya juga merasa dingin dengan pertemuan kembali dengan suaminya. Entah ke mana rasa cinta yang besar ia rasakan dulu ketika masih serumah dengan Raffi, ke mana rasa rindu yang menggebu ketika ia masih berada di negeri asing, ke mana cinta itu pergi, ia sendiri tak mampu menjawabnya.
__ADS_1