
Benih cinta terjadi ketika pertemuan dua insan manusia yang sering terjadi diantara keduanya. Begitulah yang terjadi antara Aida dengan dokter yang telah menangani kasus penyakit yang di deritanya.
Pengobatan Aida sudah berlangsung selama dua tahun lebih di rumah sakit terkenal di Amerika. Selama itu pula Raffi mengunjungi istrinya hanya dua kali saja karena kesibukannya sebagai asisten Rei. Di tambah lagi saat ini Sarah telah hamil tua, membuat Raffi menjadi suami siaga untuk istri keduanya itu yang sebentar lagi akan melahirkan.
Keadaan Aida sudah semakin membaik. Berkat perawatannya dengan menggunakan peralatan medis yang sangat canggih dan juga team dokter yang kompeten menangani penyakit kangker otaknya, membuat penyakitnya yang di deritanya itu, lambat laun berhasil di sembuhkan. Kini Aida hanya melakukan terapi pemulihan fisiknya yang sudah hampir 80% berangsur membaik seperti sedia kala saat ia belum menderita kanker otak.
Dokter Willy yang diam-diam menaruh hati pada kecantikan Aida dan juga kepribadian Aida yang hambal, membuat pria 32 tahun ini mengagumi sosok Aida. Istri Raffi ini hampir jatuh dalam pelukan dokter Willy yang menurutnya sangat tampan dan juga pintar mengambil hatinya. Namun Aida tidak bisa membagi hatinya pada dokter Willy.
Hari itu, dokter Willy yang bergantian shift dengan rekan kerjanya menawarkan diri ingin menemani Aida ke klinik kecantikan. Awalnya Aida tidak begitu respon, namun kegigihan Willy untuk mengejar Aida begitu kuat. Ia mendatangi kamar inap Aida, ingin menemani gadis itu yang katanya mau mengunjungi klinik kecantikan. Setelah berada di kamar Aida, dokter Willy memberanikan diri menawarkan jasanya kepada Aida.
"Nona Aida, apakah anda ingin mengunjungi klinik kecantikan?" tanya dokter Willy kepada Aida yang sedang menyiapkan dirinya berangkat ke klinik kecantikan.
"Iya dokter saya harus melakukan perawatan dari luar juga selain perawatan otak saya. Saya ingin rambut saya lebih banyak tumbuh supaya tidak lagi berurusan dengan wik."
"Bolehkah saya menemani anda?"
"Tidak perlu dokter, karena saya ingin menikmati kesendirian saya."
"Saya tahu anda sedang menjaga jarak dengan saya, tapi apa salahnya kalau hubungan kita ini diawali dengan persahabatan, yah hanya persahabatan, aku tahu kamu sudah memiliki suami nona Aida, jadi aku tidak ingin masuk ke dalam hubungan kalian."
Aida nampak berpikir, kalau boleh jujur ia merasa sangat kesepian selama menjalani perawatan di rumah sakit di negara adi kuasa ini, namun ia juga begitu takut salah menempatkan hatinya walau hanya sebatas persahabatan.
"Apakah perkataan dokter Willy bisa dipercaya," tanyanya membatin."
"Nona Aida, apakah anda baik-baik saja?" tanya dokter Willy yang melihat pasien spesialnya ini sedang melamunkan sesuatu.
"Oh sorry dokter," ucap Aida gugup di depan dokter Willy.
"Baiklah kalau nona tidak ingin saya temani ke klinik kecantikan, mungkin lain kali kita punya kesempatan untuk bisa berdua. Permisi nyonya Aida saya mau balik ke apartemen saya kerena hari ini saya lagi off." ucap dokter Willy pamit pulang kepada Aida.
Dokter Willy meninggalkan Aida yang hanya diam membisu tanpa mengindahkan saat lelaki tampan itu pamit pulang kepadanya.
Permainan hati memang sulit ditebak ketika norma agama ingin didobrak untuk memenuhi syahwat seseorang yang ingin mengusir kesepian hidupnya.
Setelah Dokter Willy meninggalkan dirinya, Aida merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
"YaTuhan, mengapa aku jadi merasa sedih saat dokter itu pamit, ada apa denganku?" keluh Aida dalam diamnya.
Dokter Willy yang sudah sampai di parkir mobil mendengar ponselnya berdering. Ia menutup kembali pintu mobilnya yang baru saja ia buka, dengan satu tangan ia mengambil ponselnya di kantong jasnya dan melihat di layar ponselnya ada tertera nama gadis impiannya. Sambil tersenyum ia menerima panggilan itu.
"Hallo nona Aida, apakah anda sakit?"
"Tidak dokter!" saya hanya ingin bertanya sesuatu kepada dokter."
"Tentang apa nona?"
"Apakah tawaran anda masih berlaku?"
"Maksud nona, anda mau saya menemani anda ke klinik kecantikan?"
"Kalau anda siap dokter."
"Tentu nona Aida, aku menerima ini sebagai bentuk kehormatanku untukmu, tunggu saya akan menjemput anda.
Dokter Willy berlari menuju pintu lift parkir untuk menjemput gadisnya, hatinya seakan ingin meledak saking gembiranya. Setelah lift terbuka, ia kembali berlari menyusuri setiap koridor rumah sakit menuju kamar inap Aida.
Setibanya di kamar Aida, dokter Willy mengatur nafasnya karena habis berlari. Aida mengulum senyumnya melihat lelaki tampan ini sangat berbinar menyambut ajakannya.
"Apakah anda ke sini dengan berlari dokter?"
"Iya nona Aida, aku takut jika kamu berubah pikiran, setidaknya aku harus datang tepat waktu berada di hadapanmu nona.
Aida menunduk malu, jiwa kesepiannya seakan terusir dengan ucapan tulus dokter spesialis penyakit kangker otak ini.
"Apakah anda siap mendorong kursi rodaku?"
__ADS_1
"Kenapa tidak nona."
Dokter Willy menggendong Aida lalu meletakkan tubuh gadis ini di kursi roda. Ketika tubuh Aida dalam gendongan dokter Willy, hembusan nafas dokter Willy tersapu di wajah cantik Aida, hembusan nafas berat yang sedang menahan sesuatu di dalam sana. Aida memejamkan matanya ketika dokter Willy meletakkan tubuhnya dikursi roda. Secara spontan dokter Willy mengecup bibir tipis Aida.
"Maafkan saya nona jika saya lancang mencium bibir anda."
Aida tidak ingin berkomentar, ia hanya memberikan senyum kecutnya kepada dokter Willy karena ia tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Dokter Willy mendorong kursi roda Aida, ia tidak ingin melanjutkan perkataannya. Keduanya menjadi canggung setelah berada di dalam mobil milik dokter Willy.
Merasa terlalu lama berdiam diri, keduanya sama-sama membuka suara, karena merasa lucu dengan ulah mereka yang kikuk, dokter Willy mempersilahkan Aida terlebih dahulu berbicara namun Aida menolak, ia balik meminta dokter Willy yang berbicara terlebih dahulu.
"Silahkan nona Aida, apa yang anda ingin katakan kepada saya?"
"Silahkan dokter yang duluan bicara karena saya sudah lupa apa yang ingin saya katakan tadi.
Dokter Willy melirik Aida sesaat, ia tidak langsung bicara, tapi ia malah menarik nafas dalam-dalam seakan ingin mengumpulkan keberaniannya. Setelah dirasakan cukup tenang, dokter Willy mulai dengan suatu pertanyaan yang membuat Aida sedikit shock mendengar pertanyaan dokter Willy.
"Apakah anda bahagia dengan pernikahan anda, nona Aida?" ada rumor yang saya dengar bahwa suamimu sudah menikah lagi atas permintaanmu, apakah itu benar nona?"
"Saya rasa itu bukan ranah anda untuk mengetahui kehidupan pribadi saya dokter Willy dan saya keberatan untuk menjawabnya."
"Apakah anda takut terluka, hingga anda ingin menipu diri anda sendiri bahwa saat ini anda sedang menantikan belaian suami yang tak kunjung datang mengunjungi anda apalagi menghubungi anda bukan?"
"Cukup dokter!" saya tidak perlu menjelaskan keadaan hati saya untuk menjawab kegelisahan yang anda saat ini rasakan, mungkin anda penasaran apakah saya akan mudah berpindah ke lain hati. Asal anda tahu mengapa saya ingin merawat tubuh saya saat ini, itu semua karena saya ingin sekali tampil cantik di depan suami saya, bukankah itu sangat membantu untuk mendapatkan kembali perhatian suami saya?"
"Nona Aida, anda sedang menabur garam di atas luka yang anda lakukan sendiri, itu sangat perih bahkan anda harus berteriak karena luka itu makin menyayat sampai ke dasar hatimu."
"Anda terlalu banyak mendengar gosip murahan dokter, sampai anda lupa bahwa anda adalah seorang dokter yang sangat disegani bahkan saya sempat menaruh hormat kepada anda."
"Aku sedang tidak berada di rumah sakit nona, jadi aku meninggalkan atribut kedokteranku ketika aku sudah pulang ke apartemenku. Sekarang aku sudah menjadi manusia biasa, kembali lagi kepada kehidupan pribadiku dengan menjadi diriku sendiri."
"Cih, pintar sekali kamu berdalih, apakah kamu memang gemar menghancurkan hati orang lain?"
Dokter Willy sedikit berhasil mengetahui isi hati gadis yang sedang bersamanya sekarang ini, tidak ada salahnya membuat gadis ini bisa melupakan suaminya. Tidak semua wanita akan bertahan jika harus berbagi cinta dengan kaumnya.
Lain cerita ketika dalam keadaan sakit, wanita akan melakukan apa pun demi orang yang dicintainya. Tapi sejalannya waktu, ketulusan cinta itu akan berubah menjadi cakaran- cakaran hitam yang siap menerkam siapa saja yang mengusik hidupnya.
Setibanya di klinik kecantikan, Aida melakukan konsultasi kepada dokter untuk menanyakan perawatan pada perubahan kulit kusamnya supaya bisa kembali segar.
Dokter Caroline memberikan beberapa saran untuk mengembalikan kulit keringnya agar kembali menjadi lebih kencang dengan beberapa metode perawatan dengan menggunakan obat-obatan cream wajah yang aman untuk kulit. Selanjutnya ia di arahkan oleh satu orang suster ke tempat perawatan.
🌷🌷🌷
Dokter Willy yang tetap setia menunggu Aida di luar, sampai wanita cantik itu kelar merawat seluruh tubuhnya. Ketika Aida keluar dari klinik kecantikan itu, wajah Aida kelihatan lebih cerah dan tampak lebih segar. Manik dokter Willy tak lepas menatap wajah cantik Aida sampai Aida menegurnya sedikit kencang.
"Apakah kita bisa kembali lagi ke rumah sakit dokter Willy."
Yang ditanya masih saja belum sadar hingga Aida melambaikan tangannya ke wajah dokter tampan tersebut.
"Hallo dokter, apa anda mendengar ku?"
"Oh iya, apakah anda sudah selesai nona Aida?" tanya dokter Willy yang gelagapan ketika di tegur oleh Aida.
"Bukankah anda barusan sibuk menatapku?" mengapa malah balik bertanya dokter?"
"Mungkin aku sudah tersihir dengan kecantikan anda nona."
"Apakah kamu sedang menggodaku dokter?"
"Hanya menggoda saja tapi bukan gombalkan?"
"Anda pintar sekali bicara, apakah ketampanan sudah menjadi keahlian anda dokter?"
"Mungkin saja begitu, di mana aku bisa melabuhkan hatiku kepada siapa yang aku inginkan."
"Cukup dokter jangan terlalu membawaku jauh ke atas awan, aku sangat takut untuk jatuh ke dalam jurang kehampaan?
__ADS_1
"Jatuh hati tidak dosakan?"
"Itu akan berdosa kepada hati yang sudah dimiliki dengan ikatan pernikahan, tolong anda jangan mengubah fakta itu dokter."
"Ikatan pernikahan hanya sebuah kamuflase nona. Kadang orang menjadi bangga dengan ikatannya bukan dengan maknanya."
"Apakah anda sedang menyindir aku lagi?"
"Hanya mengingatkanmu saja nona, bukan mendiktemu. Jika kamu bisa melepaskan diri dari jeratan yang sedang kamu lempar, aku akan senang hati mendapatkan dirimu tanpa perlu melakukan perlawanan yang berarti."
"Berhentilah menghayal dokter, lama-lama anda yang akan menjadi pasien dengan riwayat penyakit hati."
"Aku tidak perlu dirawat karena obatku sudah ada saat ini, kamu obatku nona Aida."
Tidak terasa mobil mereka sudah kembali ke rumah sakit. Aida di kembalikan lagi ke ruang inapnya. Dokter Willy meninggalkan Aida setelah memasang kembali selang infus ke punggung tangan gadis cantik itu.
🌷🌷🌷
Di Jakarta, Raffi tidak berhenti memberi semangat untuk Sarah yang sudah berada di ruang bersalin. Gadis ini kelihatan kuat tapi tidak selaras dengan wajahnya yang makin pucat karena menahan kontraksi yang terus menyerang pinggang dan perutnya.
Raffi mencoba mengusap terus punggung Sarah walaupun tidak hilang sakitnya tapi ia berharap sentuhannya bisa mengurangi penderitaan istrinya.
Orang tua Sarah sudah berada di depan ruang bersalin bersama nyonya Ambar dan tuan Romi. Mereka juga terus berdoa agar proses persalinan Sarah berjalan lancar karena Sarah memilih melahirkan secara normal. Mengingat ini adalah kehamilan pertamanya dan juga kehamilannya bayi kembarnya.
Yang ditunggu akhirnya datang juga, suara tangis bayi kembar Sarah memekakkan telinga yang mendengarnya. Sujud syukur kedua orangtua Sarah menyambut cucu mereka. Nyonya Ambar memberi selamat kepada saudara iparnya itu. Tuan Romi dan David saling berpelukan. Kedua kakak beradik ini tertawa sambil menitikkan air mata.
"Selamat datang pewaris tahta kerajaan bisnis tuan David." ucap tuan Romi kepada adiknya.
"Selamat ya de Koni, sudah punya cucu kembar, kamu tidak akan iri lagi padaku," ucap nyonya Ambar.
Dokter Riyanti Adam mendatangi keluarga Sarah, dengan wajah berseri dokter memberitahukan keluarga besar Sarah bahwa Sarah melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan. Prediksi awalnya adalah Sarah hamil kembar laki-laki, ternyata yang keluar laki-laki dan perempuan. Tapi kembar ini tidak sama wajahnya.
Raffi melafazkan azan ke telinga bayinya sebelah kanan. Dengan suara bergetar menahan tangis bahagianya, ia melafazkan Ikoma ke sebelah kuping kiri kedua bayinya. Setelah itu ia mengecup bibir istrinya.
"Terimakasih sayang, sudah memberiku pangeran dan ratu, semoga kelak putra putri kita menjadi anak yang sholeh sholehah. Aku sangat mencintaimu Sarah." ucap Raffi kembali mencium istrinya.
"Terimakasih Raffi sudah memberikanku kesempatan menjadi ibu dari putra putrimu, jangan pernah bosan mencintaiku," ucap Sarah dengan wajah sendu.
Tidak lama, keluarga mereka masuk menemui Sarah dan Raffi. Rei dan Malika beserta ketiga anaknya yang baru datang ikut bergabung dengan orangtuanya.
Rania dan Tania penasaran dengan saudara sepupunya yang baru saja menghirup udara dunia. Keduanya melihat di dalam boks kaca di mana bayi kembar itu diletakkan.
"Mommy apakah dulu kami sekecil mereka?" tanya Tania kepada Malika yang lagi ngobrol dengan Sarah.
"Tentu saja sayang, kalian berdua persis dede kembar tante Sarah."
"Papa, Ezra mau punya adik lagi," ucap Ezra dengan polosnya, membuat Rei menatap istrinya dengan wajahnya yang nakal.
Malika menatap tajam wajah suaminya. Rei mendekati istrinya lalu berbisik,
"Kamu dengarkan permintaan putramu?" berarti nanti malam kita mulai produksi lagi sayang" bisik Rei terdengar di telinga Sarah.
Sarah hanya menahan tawanya karena nggak enak dengan Malika. Wajah Malika sudah seperti kepiting rebus. Rei terus saja menggoda istrinya. Karena kesal Malika mencubit perut Rei, seketika Rei menjerit, "Aauuuhk" sakit sayang." ngadu Rei pada istrinya.
"Kamu bisa diam nggak sayang?" ucap Malika dengan nada ngedumel kesal dengan suaminya.
"Mommy dan daddy kenapa, kenapa daddy teriak mommy?" tanya Tania
"Karena daddy kamu nakal sayang."
"Kata mommy nggak boleh cubit atau pukul, kalau ada yang nakal sama kita, tapi harus kita peluk dan cium" ucap Tania dengan wajah polosnya.
Rei sangat senang putrinya membelanya. Ia kemudian memasang wajah sedihnya di hadapan putrinya Tania.
"Cup..cup, udah daddy ada Tania di sini" ucap Tania mengikuti cara mommynya kalau ia menangis.
__ADS_1
Keluarga besar itu menahan tawa mereka melihat Tania menenangkan Rei yang bohongin putrinya. Rei melihat Daffa langsung memeluk sahabat sekaligus asistennya itu.
"Selamat bro, akhirnya kamu hebat juga punya jagoan tampan dan seorang putri cantik." ucap Rei senang.