Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
KABUR


__ADS_3

Tepat dua minggu Malika berada di mansion Mertuanya, tidak adanya pelayan Rena membuat gadis ini harus menyelesaikan pekerjaannya, dari mengurus baby Ezra sampai dengan mengurus urusannya sendiri.


Malika menyiapkan kebutuhan babynya mulai dari memandikan dan memakaikan baju, Malika mulai terbiasa mengurus bayi nya. Baby Ezra menikmati setiap sentuhan dari ibunya saat memandikannya, baby tidak lagi menangis saat di mandikan tidak seperti pertama kali baby Ezra selalu menangis kalau di mandikan.


"Sayang, nanti habis mandi bobo ya, gantian ibu mandi, sekarang kita sendiri nggak ada lagi bibi Rena, ibu yang akan mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan bibi Rena, jadi baby nggak boleh rewel ya saat di tinggal ibu mandi," pesan Malika memberi pengertian pada baby Ezra.


Baby Ezra hanya menatap wajah ibunya seakan mengatakan aku mengerti ibu dengan tersenyum yang ditunjukkannya untuk menjawab perkataan ibunya.


"Anak pintar sudah mengerti apa yang ibu katakan," ucap Malika lalu mencium gemas putranya.


Selang beberapa menit baby Ezra sudah terlelap tidur dalam pelukan ibunya setelah disusui Malika. Malika membaringkan kembali baby Ezra dan mulai membersihkan dirinya.


Ponsel Malika bergetar, Malika mengambil ponselnya, dilihatnya panggilan berasal dari mamang Ahmad, Malika menjawab panggilan tersebut, tapi yang berbicara bukan mamang Ahmad melainkan Rena.


"Assalamualaikum nona muda, ini saya bibi Rena," ucap Rena dari seberang telepon.


"Waalaikumuslam ya Allah bibi, apa kabar, apakah bibi baik-baik saja di rumah mamang Ahmad?


Maaf ya bibi, Malika nggak bisa menolong bibi kecuali menghubungi mamang Ahmad untuk menolong bibi," ucap Malika sedih merasa tidak berdaya menolong bibi Rena.


"Tidak apa nona yang penting bibi sudah aman bersama keluarga mamang Ahmad, yang bibi kuatirkan adalah nona muda dan baby Ezra," ucap Rena sedih memikirkan nasib dua orang yang sangat dicintainya itu.


"Bibi Malika akan pergi dari rumah ini secepatnya bagaimanapun caranya yang penting bisa bebas dari sini."


"Nona sebenarnya nyonya Andien punya rencana jahat untuk mengambil tuan baby, singkatnya ingin memisahkan nona muda dan baby Ezra.


Kalau bisa secepatnya keluar dari rumah itu bila perlu malam ini juga karena ada per..."


Perkataan Rena terhenti karena ponsel mamang Ahmad kehabisan baterai. Rena sangat panik karena belum menyelesaikan perkataannya yang ingin disampaikan kepada nona mudanya mengenai rencana pembunuhan yang sudah diatur oleh komplotan nyonya Andien untuk mencelakakan Malika.


"Ya Allah mamang ini ponselnya kenapa mati, saya belum sempat ceritakan semua rencana jahatnya nyonya Andien," ucap Rena dengan wajah kuatir.


"Kita cass ponselnya dulu, nanti kita hubungin nona muda lagi," ucap mang Ahmad yang juga menyesal yang lupa mengecas ponselnya sebelum meminjamkan pada Rena.


"Nggak apa mang nanti kita hubungin lagi, tapi tolong jangan sampai ambu dan Aa tahu tentang rahasia ini, Rena tidak mau melibatkan keluarga mamang kecuali mamang Ahmad saja yang mengetahui rahasia nyonya Andien, " ucap Rena meminta mamang Ahmad tutup mulut.


"Baiklah neng, nanti mamang usahakan bertemu dengan nona Malika saat pulangkan mobil tuan Arie ke mansion tuan Pramudia.


"Terimakasih mamang, tolong lakukan secepatnya, kasihan nona muda dan tuan baby Ezra."


Malika yang hanya mendengar perkataan bibi Rena yang terputus kembali mencoba hubungin lagi ke ponsel mamang namun sambungan itu tidak terjawab. Malika memikirkan dengan cara apa dia kabur.

__ADS_1


Saat dirinya memikirkan rencana dirinya yang akan kabur, ada suara teriakan nyonya Andien dari luar kamarnya. Malika bergegas menghampiri lalu membuka pintu kamarnya, ternyata nyonya Andien sedang menangisi suaminya yang tidak sadarkan diri.


"Bunda apa yang terjadi dengan ayah mertua," tanya Malika yang ikut menangis melihat kondisi ayah mertuanya.


"Nggak tahu Malika ayah tahu-tahu drop," jelas nyonya Andien yang terus menangis meratapi suaminya tuan Pramudia.


Kepala pelayan Atik segera memanggil ambulance rumah sakit milik Arie, sedangkan pelayan lainnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu perintah nyonya Andien.


Dalam waktu 10 menit mobil ambulans sudah berhenti di depan mansion. Para petugas mobil ambulans dengan sigap membawa tubuh tuan Pramudia memasuki mobil ambulans. Nyonya Andien ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Malika dan para pelayan hanya mengantarkan sampai ke depan gerbang.


Di kamar Malika merasa sedih tapi juga merasa senang karena kesempatan untuk dirinya kabur dari mansion mertuanya tercapai juga.


"Alhamdulillah ya Allah Engkau memberikan petunjuk bagi hamba, tolonglah hamba ya Robby," doa Malika untuk keselamatan dirinya dan babynya.


Malika segera mempersiapkan semua kebutuhannya yang bisa ia bawa. Hanya tas ranselnya yang berisi dokumen pribadi, ponsel dan dompet. Tapi sebenarnya Malika menghubungi Reinaldi untuk membantu dirinya, Malika ingin bertemu dengan Reinaldi ayah dari baby Ezra. Namun sayang ponsel Reinaldi tidak aktif, Malika sangat kesal.


"Sialan giliran gue butuh tuh cowok, ponselnya malah dimatikan, tapi ketika gue cuekin malah loe nyariin gue sampai ke mana tahu, dasar pria aneh," ucap Malika bermonolog.


Di tempat lain Reinaldi sedang memimpin rapat di salah satu hotel mewah di Jakarta Selatan. Rapat itu membahas kerjasamanya dengan beberapa negara mengenai penjualan pesawat jet pribadi miliknya yang berpusat di negara Jerman. Asisten Raffi mengikuti rapat itu dengan merekam semua isi dari kerjasama antar negara dalam penjualan pesawat. Rapat berjalan alot karena harga yang ditawarkan oleh Reinaldi untuk satuan pesawat jet rancangannya mencapai harga fantastis, harga itu sangat wajar karena fasilitas yang ada di dalam pesawat jet pribadi itu sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang menunjang kebutuhan para pelanggan saat melakukan perjalanan bisnis dan traveling antar negara.


Kharismatik seorang Reinaldi yang memiliki ketampanan dan kecerdasan dalam mengelola setiap perusahaannya mampu mengantarkan dirinya lebih dikenal paling hebat mengatasi negosiasi dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan di berbagai negara Eropa khususnya.


Setelah menunggu hasil akhir dari rapat itu, akhirnya perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Rei mendukung semua keputusan dari apa yang di sampaikan oleh Reinaldi. Rapat itu ditutup dengan makan malam bersama. Banyak kolega bisnis yang puas dengan pencapaian hasil rapat hari ini, kepuasan mereka dibuktikan dengan membuka satu botol champagne, lalu gelas minum di angkat sambil melakukan tos gelas berdering satu sama lain, canda tawa serta pelukan diantara mereka sebagai luapan kegembiraan yang dirasakan oleh para peserta rapat. Mitra bisnis yang di bangun oleh seorang Reinaldi sudah merajalela pemasarannya sampai ke negara timur tengah, karena banyak negara timur tengah pemeluk agama Islam yang taat, memilih meninggalkan ruang rapat tidak ikut serta dalam pesta tersebut.


🌷🌷🌷


Di rumah sakit di ruang IGD, para dokter sibuk menangani keadaan tuan Pramudia dengan memasang alat bantu pernafasan dan beberapa alat medis lainnya pada tubuh pria paru baya itu.


Nyonya Andien yang menunggu suaminya di ruang tunggu di temanin oleh asisten suaminya terus memanjatkan doa untuk kesembuhan suaminya, namun otak liciknya ingat dengan rencana yang harus dijalankannya, dia memerintahkan asisten suaminya untuk mengawasi Malika di area sekitar mansion.


Nyonya Andien menyampaikan semua rencananya pada asisten suaminya. Pria itu bergegas pergi meninggalkan nyonya Andien sendiri menunggu perkembangan penanganan dokter pada keadaan suaminya yang sedang berjuang bertahan hidup.


Nyonya Andien beralih menghubungi asisten Rama untuk menjalankan rencana mereka mencelakai Malika.


"Hallo selamat malam asisten Rama!"


"Selamat nyonya Andien!"


"Laksanakan rencana kita kemarin karena saat ini saya sedang menunggu suami saya di rumah sakit.


Koordinasikan dengan anak buah saya dan urusan selanjutnya sudah saya serahkan ke asisten suamiku. Kalian cukup mengawasi pergerakan menantuku saat dia berhasil kabur dari kediaman saya.

__ADS_1


Kabarkan perkembangannya ketika kalian melakukan penguntitan pada mobil menantu saya dan pastikan keselamatan cucu saya.


Jika terjadi apa-apa dengan cucuku aku tidak akan segan-segan mengirim anda dan tuan anda itu ke penjara," ucap nyonya Andien sarkas kepada asisten Rama.


"Siap nyonya Andien, saya akan kabarkan terus perkembangannya sampai misi kita selesai, terimakasih sudah mau berkerja sama dengan kami, saya doakan semoga suami anda kembali sehat dan saya tidak akan mengkhianati anda," ucap asisten Rama dengan percaya diri.


Ponsel keduanya ditutup bersamaan, Rama segera menghubungi tuan Bagaskara, menyampaikan rencana mereka akan di jalankan malam ini.


Di mansion tuan Pramudia, seorang gadis sudah siap dengan perlengkapannya dengan menggendong babynya dia berjalan keluar menuju garasi mobil. Semua pelayan yang sudah mengetahui Malika akan kabur hanya mendiamkan gadis itu pergi begitu saja, itu dilakukan atas perintah nyonya Andien.


Malika yang merasa suasana yang sangat sepi di mansion tidak menaruh curiga apapun tapi Malika masih tetap waspada menengok kanan kiri sambil mengendap-endap masuk ke dalam mobilnya.


Di luar area mansion sudah ada tiga mobil yang mengawasi pergerakan Malika, mobil Malika keluar dari gerbang utama meninggalkan mansion milik mertuanya, tanpa ada ketakutan sedikitpun Malika akhirnya berhasil kabur membawa babynya.


Di sisi lain tiga mobil sudah siap bergerak mengikuti mobil Malika yang sudah menjauh sedangkan mobil penguntit tetap menjaga jarak dengan mobil Malika supaya gadis itu tidak curiga kalau mobilnya diikutin oleh komplotan nyonya Andien.


Nyonya Andien terus menghubungi ponsel asisten suaminya untuk mengetahui kabar menantu dan cucunya, wanita paruh baya ini seakan tidak perduli lagi dengan kondisi suaminya di dalam ruang IGD, wanita ini lebih mementingkan cucunya dan keuntungan yang akan didapatkannya dalam waktu bersamaan.


Di mansion, mamang Ahmad yang baru datang untuk memulangkan mobil tuannya memasuki halaman mansion, usai mobil di parkir di garasi, mamang Ahmad bertanya pada salah satu penjaga mansion.


"Pak syarif, tumben mansion sepi pada ke mana?," tanya mamang Ahmad sambil memperhatikan kamar lantai atas yang kelihatan dari luar yang merupakan kamar Malika dan babynya.


"Tadi tuan Pramudia sakit lagi terus dibawa nyonya ke rumah sakit tuan muda," ujar pak syarif yang masih berdiri di pos penjagaan.


"Berarti nona muda ada di kamarnya?," tanya mamang lagi masih penasaran.


"Itu nona muda sudah pergi bersama baby membawa mobilnya sendiri."


"Kamu tahu nona muda pergi ke mana?"


"Maaf mang, tadi saya tidak tanya tujuan nona muda atas perintah nyonya Andien."


"Apakah sudah lama perginya pak syarif?"


"Sekitar dua jam yang lalu," jawab pak syarif apa adanya pada mamang Ahmad.


Mang Ahmad langsung mengendarai motor buntutnya keluar dari mansion, pikirannya tidak tenang saat mengetahui keadaan Malika, apa yang sudah diceritakan oleh Rena telah terjadi malam ini.


"Ya Allah lindungilah nona Malika dan bayinya," ucap mang Ahmad mendoakan keselamatan nona mudanya itu.


Mamang Ahmad menambah kecepatan motornya sambil memperhatikan kendaraan yang melintas di sekitar jalanan yang dilewatinya namun belum juga ditemukan mobil Malika.

__ADS_1


Di sisi lain Mobil Malika melaju dengan kecepatan sedang memasuki wilayah yang jauh dari rumah penduduk, mobil itu masih terus melaju sampai akhirnya terjadilah kecelakaan fatal.


🔥 Alhamdulillah Alur mundur sudah bertemu dengan benang merahnya di episode ini, untuk mengetahui episode ini, kalian bisa baca ulang di bab pertama.🔥


__ADS_2