Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"PENGAKUAN"


__ADS_3

Malika dan nyonya Ambar kembali ke mansion dengan membawa kue kesukaan Malika. Gadis ini belajar membuat kue di mansion mamanya untuk di suguhkan pada suaminya. Cheese cake yang dibuat oleh sudah disiapkan untuk suaminya.


Malika hanya menunggu kepulangan suaminya dari perusahaannya, dia ingin menyambut suaminya dengan berdiri di atas balkon kamarnya. Malika sudah berdandan cantik siap menyambut suami tercinta, dari balkon kamarnya sudah terlihat mobil suaminya memasuki halaman mansion, Malika turun menyambut suaminya, lelaki tampan ini langsung memeluk Malika, mengangkat tubuh Malika lebih tinggi dari tubuhnya, sambil melangkah, Malika bercerita apa saja dalam gendongan suaminya, seperti anak kecil yang menyambut ayahnya pulang kerja lalu mengadu apa saja pada ayahnya. Itulah sifat manja Malika dihadapan suaminya.


Sikap manja istrinya ini membuat Rei sangat senang, walaupun lelah bekerja melihat raut wajah ceria istrinya membuatnya kembali bersemangat.


" Hallo My hubby!"


"Assalamualaikum nyonya Rei cantik..muucch," sambut Rei mengecup bibir sensual Malika.


"Hubby, aku bawa kue lho dari rumah mama, aku buat sendiri tadi di rumah mama, diajarin sama chief Yani, kamu mau cobain nggak yang."


"Tapi aku maunya cobain kamu dulu," goda Rei tanpa menurunkan istrinya dalam gendongannya seperti koala sambil menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


"Boleh, dengan senang hati, tapi makan dulu kuenya ya sayang."


"Emang kuenya buat aku?"


"Emang buat siapa lagi kalau bukan buat suamiku yang paling tampan sedunia," ucap Malika lalu merentangkan kedua tangannya, menunjukkan kata sedunia selebar dua lengan tangannya.


Suaminya terkekeh melihat ulah wanita manja yang sudah sah menjadi istrinya saat ini, setelah sampai di kamar, Rei baru menurunkan istrinya, Malika meraih piring kue yang dekat dengan dirinya berdiri yang sudah disiapkannya tadi lalu memberikan potongan kue kepada suaminya untuk dicicipi kue buatannya yang pertama kali dia buatkan setelah jadi istri Rei.


"Gimana sayang, enak nggak," tanya Malika menatap ekspresi wajah suaminya dengan cemas.


"Enak sih tapi lebih enakkan yang ini," ucap Rei yang langsung membekap bibir sensual istrinya dengan bibirnya.


Malika menyambut kehangatan bibir dan lidah Rei dalam mulutnya, keduanya saling berebut, saling menukar saliva, mengisap dan mengerjap sampai keduanya merasa terengah-engah, Rei membuka kancing baju Malika satu persatu mulai menikmati dua bukit di belahan dada istrinya, permen coklat muda yang kenyal milik istrinya disapu dengan lidahnya, membuat istri terbang melayang menikmati sentuhan lidah suaminya.


Ketika Rei menyingkap bagian helai bawahan istrinya, lagi-lagi Malika menolaknya. Pengembaraan asmara itupun terhenti, Rei hanya kembali bangkit menuju kamar mandi tanpa berkata apa-apa kepada Malika. Di dalam kamar mandi Rei menangis, ingin rasanya dia meninju kaca wastafel kamar mandi, hanya ingin meluapkan kekesalan pada dirinya sendiri, Rei kemudian duduk dibawah shower dan menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi, dalam hatinya terus bergumam sendiri.


"Sampai kapan aku menahan penderitaanku, aku tidak bisa melakukannya pada wanita lain selain istriku," gumam Rei menangis tanpa suara.


Di kamar, Malika juga merasa menyesal menolak ajakan suaminya untuk berhubungan int*m, tiap kali dia mencobanya namun tubuhnya selalu reflek menolak untuk melakukan yang lebih.


"Ya Allah, ampuni hambaMu jika hambaMu ini belum bisa menunaikan tugas hamba sebagai istrinya," tangis Malika dalam selimutnya dengan tubuh yang setengah bu*il.


🌷🌷🌷🌷


Hampir satu bulan kehidupan pernikahan Rei dan Malika masih berjalan alot, Malika belum mampu memaafkan suaminya, sampai suatu hari nyonya Alea menghubungi ponsel putrinya untuk menanyakan perkembangan hubungan suami-istri itu.


"Assalamualaikum sayang!," sapa nyonya Alea di seberang telepon.


"Waalaikumuslam mama, apa kabar mama!," tanya Malika sambil meminta pelayan membuka celemek dari tubuhnya.


"Kamu sedang apa sayang?"


"Lagi belajar masak sama chef Raihan mam," jawab Malika yang berjalan perlahan menjauhi para pelayan yang ada di area dapur.


"Bisa mama bicara serius denganmu sekarang nak?"


"Sebentar ya mam, Malika ke kamar dulu," jawab Malika yang langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Aku sudah di kamar mam, ada apa mam?," tanya Malika sambil menutup pintu kamarnya.


"Malika, apakah kamu sudah melaksanakan kewajibanmu nak?


degg!


"Be-belum mam, Malika belum bisa,," ucap Malika terbata-bata menjawab pertanyaan mamanya.


"Astaga, anak ini, mau sampai kapan Malika hah!, apakah kamu sedang memberi lampu hijau kepada suamimu untuk mencari wanita lain?," bentak nyonya Alea sarkas kepada putrinya.


"Kalau pikiranmu belum juga berubah, mama akan meminta papamu menjemputmu dan menggeretmu pulang kembali ke rumahmu," ancam nyonya Alea dengan amarah menggelegar.


"Ingat nak, pelac*ur saja membiarkan tubuhnya digerayangi n oleh para pria hidung belang demi sesuap nasi.


Tapi kamu menjadi yang sudah sah menjadi istrinya malah mengabaikan suamimu dengan sangat egois, kamu hanya mengikuti hawa na**umu, terhasut dengan bisikan setan, setan itu senang halangin orang yang ingin berbuat baik dan terus menggoda manusia untuk berbuat jahat."


"Tolong beri Malika kesempatan lagi mama, Malika mohon," bujuk Malika dengan suara bergetar."


"Apa tidak cukup kamu kehilangan almarhum Arie, apa kamu ingin kehilangan lagi suamimu yang sekarang?"


Tek!..


Ponsel ditutup secara sepihak oleh nyonya Alea dengan dada bergemuruh menahan rasa kesalnya pada putrinya yang masih keras kepala. Malika hanya terduduk lesu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Hatinya bingung harus berbuat apa, sudah berkali-kali mencoba mengizinkan Rei menyentuhnya namun tubuhnya masih enggan menerima penyatuan itu.


Di tempat yang berbeda Rei menemui maminya di Restoran karena keduanya ingin berbicara hal yang sangat penting, nyonya Ambar sudah memesan minuman untuk dirinya terlebih dahulu sambil menunggu putranya di salah satu restoran termahal di daerah Jakarta Selatan. Terdengar bunyi klakson mobil mewah milik Rei yang berhenti depan restoran, pria tampan dan gagah itu turun dari mobilnya dengan stelan jas hitam dan memakai kaca mata hitam kemudian melemparkan kunci mobil ke arah petugas restoran untuk meminta petugas restoran memindahkan mobilnya ke tempat parkir. Langkah kaki Rei yang cepat diikuti para banyak pasang mata wanita cantik yang berada di area restoran baik pengunjung restoran tersebut maupun para pelayan yang berdiri menyambut para pengunjung restoran ini.


Nyonya Ambar melambaikan tangannya ke arah putranya, dengan langkah yang cepat Rei menghampiri maminya sambil tersenyum.


"Ya ampun dia tampan sekali," kata salah satu gadis cantik pengunjung restoran pada teman-temannya.


"Kalau dia masih bujang, aku mau dapatin si tampan itu," ucap gadis lainnya."

__ADS_1


"Walaupun dia sudah memiliki istri, aku nggak perduli jadi yang kedua ohh..aaa!!," ucap manja gadis lainnya yang mengagumi ketampanan Reinaldi.


Nyonya Ambar yang mendengar kicauan para gadis genit yang sedang memuji putranya menatap sinis dengan tatapan tajam pada para wanita yang ada di seberang meja tidak jauh dari dirinya duduk. Nyonya Ambar meminta Rei untuk pindah tempat duduk yang lebih privasi, Rei mengikuti langkah kaki ibunya karena merasa tidak nyaman juga dengan gosip ria cewek-cewek centil yang ada di restoran tersebut. Keduanya kembali duduk dengan tenang setelah menjauhi banyak tatapan mata ke ibu dan anak ini. Nyonya Ambar mendahului kata-katanya yang ingin ditanyakan pada putranya Reinaldi.


"Rei, sayang, apakah kamu bahagia bersama Malika?"


"Maksud mami apa, bertanya seperti itu?"


"Jangan bohongin mami sayang, aku mamimu, bisa merasakan kegelisahan jiwamu dan rasa kecewamu," jawab nyonya Ambar menatap dalam manik putranya seakan ingin menggali lebih dalam luka yang dirasakan putranya.


Rei kemudian menundukkan wajahnya dengan memainkan genggaman tangannya di atas meja mengusir kegelisahannya kemudian menatap kembali wajah sendu maminya, dirinya tidak sanggup membohongi wanita yang telah melahirkan ini dan membesarkannya, ditelan salivanya dengan kasar kemudian menjawab pertanyaan maminya.


"Rei sangat bahagia memiliki wanita sesempurna Malika walaupun Malika belum sepenuhnya mencintai Rei sebagai istri pada suaminya," jawab Rei hati-hati dengan kembali mengalihkan pandangannya ke samping.


"Apakah Malika belum mau menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri nak?"


Degg!!


Mendapatkan pertanyaan menohok seperti itu, pria tampan ini hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaan maminya dengan menahan air matanya yang terasa tercekat dan lidah yang terasa keluh terasa berat mengucapkan hal yang sangat privasi dalam hidupnya.


"Mengapa kamu tidak jujur saja pada Malika, mungkin kalau kamu berkata yang sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu insya Allah istrimu akan mengerti," ucap nyonya Ambar membujuk putranya.


"Aku tidak ingin Malika merasa aku memanfaatkan penyakitku untuk mengagahinya mam, apa lagi saat itu dia dalam keadaan kacau, aku sudah ceritakan semuanya pada mami dan papi, mami pasti masih ingatkan?"


"Mau sampai kapan kamu menunggunya membuka hatinya untukmu, bukankah itu makin menyiksa jiwamu nak?"


"Aku sudah mendapatkan solusinya mami supaya tetap bersama Malika," jawab Rei tegas pada maminya.


"Dengan cara apa sayang?," tanya maminya antusias.


"Aku ingin ke Amerika mami, menemui dokter Edward yang menangani penyakitku sebelum aku bertemu dengan Malika saat itu."


"Apakah kamu akan melakukan konsultasi lagi atau berobat sayang?, bukankah kamu sudah sembuh untuk apa lagi menemui dokter itu?"


"Aku memang sudah sembuh mami tapi kali ini aku ingin menemuinya untuk melakukan operasi."


"Operasi apa nak?"


"Aku ingin dikebiri mami," jawab Rei lalu bangkit meninggalkan maminya yang sedang shock mendengar ucapannya.


"What??


Kebiri!! Astaghfirullah, ya Allah, Rei!, tunggu nak!"


Rei sudah berlari mengendarai mobilnya, lalu meninggalkan restoran, nyonya Ambar memanggil pelayan untuk memberinya bill, setelah dibayarnya maminya juga ikut meninggalkan restoran lalu mengendarai mobilnya untuk kembali ke mansion.


🌷🌷🌷


Begitu pula manusia kembali ke tempatnya dimana awal pagi telah ditinggalkannya dan menemui kembali orang - orang terkasih entah istri, anak, suami atau orangtua, semua memiliki tujuan untuk pulang ke rumah mereka, sekedar merehatkan tubuh mereka setelah seharian bekerja mengais rezeki demi mendapatkan kelayakan hidup ataupun hanya untuk bertahan hidup sampai hari esok. Lelah dan letih adalah rutinitas manusia yang tak akan pernah habis hingga datang rasa sakitnya tubuh dan tidak sedikit diantara kita menunggu sampai datangnya ajal menjemput.


Begitulah yang dirasakan oleh seorang pengusaha hebat yang seharian sibuk mengejar mimpi kembali ke rumah menjumpai istrinya yang selalu dirindukannya setiap waktu. Rei dan Malika sudah berada dalam selimut yang sama, keduanya bercanda dan saling menggoda lalu berakhir dengan ciuman hangat.


"Sayang, besok aku mau ke Amerika, ada rapat dengan para pemegang saham yang ada di sana, aku yang akan memberikan presentasi rancangan pesawat yang perusahaanku akan buat," ucap Rei membohongi Malika.


"Apakah aku boleh ikut sayang?"


"Aku tidak lama mungkin dua hari saja di sana, setelah itu kita kembali bersama," ucap Rei yang tidak ingin membuat istrinya curiga.


"Baiklah, nanti setelah sholat subuh aku akan menyiapkan perlengkapanmu," ucap Malika dengan memeluk erat tubuh suaminya.


"Terimakasih cinta!"


"Dengan senang hati suamiku."


"Kita bobo yuk," pamit Malika lalu mencium bibir suaminya."


"Selamat bobo sayang, mimpikan aku muuacch," ucap Rei lalu memeluk tubuh istrinya.


Keduanya telah terlelap dalam mimpi indah yang mereka arungi bersama.


🌷🌷🌷


Rei sudah bersiap untuk berangkat ke Amerika, dia mencium lagi istrinya lalu keduanya turun ke lantai bawah untuk menemui orang tuanya Rei. Rei ingin berpamitan kepada keduanya. Dikecup pucuk kepala maminya lalu memeluk papinya. Ketiga orang yang sangat dicintainya mengantarkannya ke mobil yang sudah siap mengantarkan Rei ke bandara, Raffi turun membuka pintu mobil untuk tuannya Reinaldi. Maminya yang tahu tujuan kali ini putranya pergi kembali memanggil putranya.


"Rei, mami mohon sayang," panggil maminya sedih menatap punggung putranya yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


Rei sudah masuk kedalam mobilnya dan melambaikan tangannya pada Malika yang sedang menatap tajam pada mobil suaminya yang mulai bergerak meninggalkannya. Ada perasaan aneh yang dirasakan Malika setelah melepaskan Rei, tapi saat Malika ingin membalikkan badannya, nyonya Ambar memegang pergelangan tangan menantunya itu.


"Malika, ikut mami ke kamar mami sebentar sayang, ada yang ingin mami sampaikan kepadamu," ucap nyonya Ambar menarik tangan Malika.


Malika mengikuti langkah mertuanya dengan perasaan bingung. Keduanya sudah sampai di dalam kamar yang sangat luas dengan berbagai fasilitas yang menambah kesan mewah dalam kamar itu, Malika masih berdiri dekat dengan pintu kamar sedangkan nyonya Ambar membuka pintu balkon membiarkan udara luar masuk ke kamarnya. kemudian wanita yang masih terlihat awet muda diusianya yang menginjak 50 tahun ini kembali menatap Malika.


"Malika, apakah kamu merindukan putramu?," tanya nyonya Ambar sekedar basa-basi pada menantunya.

__ADS_1


"Selalu mami, setiap saat aku merindukannya," jawab tegas Malika.


"Apakah engkau akan melakukan apa saja untuk mendapatkan putramu lagi?


"Yah, dengan segenap jiwa ragaku."


"Begitu juga dengan mami sayang, apapun yang berhubungan dengan kebahagiaan putra mami, akan mami lakukan apa saja."


Malika makin bingung dengan arah pembicaraan mertuanya ini, tapi dengan sabar Malika menunggu kelanjutan ucapan ibu mertuanya.


Nyonya Ambar mengeluarkan sebuah album foto dari dalam laci lemari bufet yang ada di ruang kamarnya lalu menyerahkan ke Malika.


"Bukalah foto itu sayang, lihatlah foto yang ada saudara kembar Rei yang sedang foto bersama Rei."


"Mami, Rei punya saudara kembar?," tanya Malika kaget dengan pengakuan ibu mertuanya.


"Iya sayang, sebenarnya mami memiliki putra kembar.


"Di mana kembar satunya lagi mami, Malika tidak pernah bertemu dengannya selama Malika berada disini," tanya Malika penasaran.


"Sudah meninggal!"


"Hah??


Apakah dia sakit mami?


"Dia dibunuh!"


"Apa??


Malika tak mampu berkata apa-apa lagi dengan apa yang baru didengarnya.


Nyonya Ambar membuka kembali kisah salah satu putra kembarnya yang meninggal pada saat keduanya masih berusia sepuluh tahun.


Kisah kelam;


"Pada hari itu kami sekeluarga sedang bertamasya di salah satu padang rumput di suatu pulau kecil yang jarang penduduknya. Karena tempatnya sangat bagus kami yang saat itu membawa kapal pesiar berlabuh di tempat itu lalu membangun tenda. Kala itu Rendra dan Rei yang bermain bola di padang rumput itu tidak sengaja menendang bola masuk ke dalam rimbunan pohon seperti hutan lebat, Rendra mencari bola itu sampai masuk ke dalam hutan, karena merasa kelamaan Rendra tidak keluar, Rei akhirnya menyusuli saudara kembarannya itu ke dalam hutan, saat masuk dia hanya melihat sepatu saudaranya hanya tertinggal satu, ketika Rei mengedarkan pandangannya, terdengar teriakan saudaranya yang terdengar sedang tercekik. Rei mengikuti suara itu dan diketemukan saudaranya dalam keadaan terikat oleh penjahat yang ingin melakukan kekerasan pada saudara kembarnya, penjahat itu dengan tega melakukan so***m* pada putraku Rendra.


Dengan penuh ketakutan Rei melihat saudaranya yang telah pingsan dengan tubuh yang sudah terkulai lemas.


Rei keluar dari persembunyiannya dan berlari mencari kami untuk meminta tolong, ketika kami sampai ke sana penjahat itu sudah tidak ada dan putraku Rendra telah mati terbunuh dengan tubuh yang masih terikat tanpa pakaian. Dari kejadian itu mental Rei mulai terganggu akibatnya Rei mengalami kegagalan ere**i pada kejantanannya sampai dia beranjak dewasa. Segala macam pengobatan sudah kami tempuh untuk menyembuhkan Rei, setiap rumah sakit di negara manapun sudah kami datangi untuk mengobatinya, sampai akhirnya dia menemukanmu di negara di mana kamu kehilangan suamimu yang telah tiada pada saat dirimu pingsan dekat mobilnya di area parkir rumah sakit.


Dan saat melihat tubuhmu dan mencium bau aroma tubuhmu itu, baru kejantanannya mulai berfungsi seperti laki-laki normal lainnya, dia tidak mampu lagi mengendalikan dirinya sampai akhirnya dia merenggut kesucianmu, maafkan putraku Malika kumohon jangan menghukumnya lagi, hiks!..hiks!," tangis nyonya Ambar pecah ketika memohon maaf pada menantunya. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ditemuinya yang membuat hatinya jatuh cinta padamu pada pandangan pertama dan kamulah wanita pertama yang telah menggugah hasratnya sebagai lelaki sempurna," ucap wanita paruh baya ini yang langsung duduk bersimpuh dibawah kaki menantunya dengan mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon maaf kepada Malika untuk hidup putranya.


Deraian air mata kedua wanita beda usia ini sambil terisak pilu, Malika yang mendengar penuturan tentang kondisi suaminya saat itu langsung luruh lalu jatuh dengan tubuh yang limbung ke lantai, hatinya terasa sangat sakit mendengar pengakuan dari seorang ibu yang menyimpan rapat kesedihannya yang membuat wanita tua ini kembali membuka luka lama yang sudah berusaha dikubur dalam kenangannya.


"Mengapa Rei tidak jujur dari awal sebelum kami menikah mami?, mengapa dia menyimpan dukanya sendiri, mengapa dia biarkan diriku menganggap dirinya tidak lebih dari seorang lelaki bajingan, kenapa mami?, hiks! hiks!"


"Karena dia tidak mau kalau kamu menganggapnya sebagai alasan untuk sebuah pembenaran atas tindakannya, itu yang sangat ditakutinya, jadi dia membiarkanmu terus menganggapnya lelaki bejat."


"Reiiii!! kenapa kau menghukum diriku juga hiks hiks aaaaa!! mami!!, kenapa kalian menutupi rahasia sebesar ini dariku hiks!...hiks!!"


"Malika, sekarang sudah terlambat sayang untuk kau menyesalinya nak, dia berangkat ke Amerika bukan untuk kerja tapi dia ingin dirinya dikebiri karena tidak tahan melihat tubuhmu dan mencium wangi tubuhmu yang membuat hasrat birahinya tak dapat dikendalikan saat bersamamu.


Jika itu terjadi mami tidak akan memaafkan diri mami sayang, mami tidak ingin menderita melihat putra mami tidak bisa meneruskan keturunannya selain adanya Ezra.


untuk apa memiliki banyak harta kalau miskin keturunan, hiks!" hiks!"


"Tidak!".. Tidakkkkk!!.


Reiiiiiii!!...Reiiii!!"


Teriak Malika seperti orang gila sambil berlari keluar, dia langsung mengambil ponselnya menghubungi Raffi asisten suaminya.


"Hallo!, Raffi di mana Rei,


"Sudah di bandara nona muda!"


"Apakah pesawatnya sudah berangkat?"


"Belum nona, lagi siap-siap."


"Di mana posisimu?"


"Saya baru masuk jalan tol menuju kantor."


Malika mencoba menghubungi lagi nomor suaminya, tapi ponsel itu sudah tidak aktif. Malika makin panik, dia bingung harus berbuat apa.


"Reiiii!"


"Jangan tinggalkan aku, jangan hukum aku, jangan menghukum dirimu sendiri sayangggg aaaaa!! Ya Tuhan tolonglah aku dan suamikuuu hiks.. hiks!," teriak Malika di halaman mansion.


"Ya Allah kenapa aku terus dihadapkan dengan ujian dariMu, maafkan aku ya Allah, teriak malika histeris, membuat penghuni mansion pada berdiri dengan posisi kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah Malika yang sedang menangis meratapi dirinya yang malang karena keegoisannya sendiri. Lalu dia berlari lagi sambil menangis kemudian berhenti di tengah hamparan rumput di tepi danau buatan yang terletak di dalam mansion.

__ADS_1


"Reinaldiii...aaaa..aaa..suamikuu, maafkan akuuuu!!!


Nyonya Ambar dan Tuan Romi menatap menantu mereka dari atas balkon kamar mereka, keduanya membiarkan menantunya meraung sendirian menyesali perbuatannya.


__ADS_2