
Jelang pernikahan Rena, semua persiapan seperti kelengkapan dokumen pribadi sebagai syarat pernikahan yang akan dilakukan dua kali dalam pernikahan itu, yaitu pernikahan secara agama dan pernikahan secara militer, mengingat Jajang adalah salah satu perwira kontingen Garuda Indonesia yang bertugas di daerah penjagaan keamanan di wilayah peperangan yang terjadi pada dua negara yang sedang bertikai untuk saling berebut wilayah kekuasaan.
Rena yang tidak memiliki saudara kandung maupun kerabat meminta tuan Daniel sebagai saksinya saja sedangkan wali nikahnya diserahkan kepada kepala KUA. Rena yang sudah diangkat anak oleh tuan Daniel dan nyonya Alea ini tetap tidak bisa menjadi wali nikah Rena. Pernikahan yang awalnya digelar sederhana berubah menjadi pernikahan yang sangat mewah, tentu saja ini terjadi atas keterlibatan nyonya Ambar dan nyonya Alea yang ingin memberikan yang terbaik untuk Rena, mantan kepala pelayan dirumah tuan Daniel. Pernikahan pedang pora juga dilakukan di gedung yang sama. Gedung itu sebelumnya sudah dibooking oleh tuan Daniel.
Gaun mewah rancangan desainer ternama tanah air telah dipesan langsung oleh Malika untuk sahabatnya Rena. Keluarga mamang Ahmad sangat bersyukur calon menantu mereka mendapatkan dukungan dari dua keluarga konglomerat ini, mereka hanya menerima dan menurut saja apa yang telah dipersiapkan oleh keluarga dari Malika. Semua yang berhubungan dengan pernikahan sudah dipastikan siap 90%, tinggal menunggu hari "H"nya saja
Hari yang dinantikan telah tiba, keluarga besar Rei dan mamang Ahmad, sudah berada di gedung, dimana tempat itulah yang akan dilaksanakan upacara pernikahan Rena dan Jajang yang berada dikawasan Kuningan Jakarta Selatan.
Malika yang kembali menggunakan kebaya warna jingga tampil cantik membuat Rei yang memandang wajah istrinya kembali terpesona seakan dia sendiri yang akan menikah lagi dengan istrinya. Ibu dari si kembar ini tersenyum manis menatap suaminya yang dari tadi memperhatikan dirinya.
Genap empat puluh hari Malika menjalani masa nifasnya pasca melahirkan baby kembarnya, membuat Rei terus menelan salivanya menatap tubuh sintal istrinya.
"Sayang, entar kita juga menjalani malam pengantin ya," pinta Rei manja saat Malika sudah duduk disebelahnya. Ia mencium aroma tubuh istrinya yang tidak berasal dari bau parfum karena Malika alergi dengan parfum apapun. Malika yang masih berada diruang ganti baju di dalam gedung itu agak sedikit tergoda oleh hembusan nafas suaminya yang sudah merambah mencium leher jenjangnya, takut kebablasan Malika meminta secara halus pada Rei untuk menghentikan aksinya.
"Sayang sudah!, nanti malam saja, tolong ditahan ya, jangan ditampilkan disini acara mesranya," tolak Malika lembut pada sang suami yang sudah menanti lama penyatuan mereka yang hampir dua bulan libur.
"Baiklah sayang, aku keluar dulu bergabung dengan anggota keluarga yang lain," ucap Rei yang sedikit kecewa pada istrinya.
"Baik sayang, terimakasih, saya juga akan ke tempat Rena dulu melihat seberapa siap riasannya di ruang makeup," ucap Malika pada suaminya.
Mereka berpisah di koridor gedung resepsi pernikahan itu. Malika yang melihat Rena yang sudah siap dengan kebaya modern nampak cantik dengan makeup natural menghiasi wajahnya.
"Kakak Rena sudah siap?"
"Sudah Malika."
"Kalau begitu kita foto berdua dulu sebelum makeup kita luntur."
"Baiklah ucap Rena senang."
Baru dua kali jepretan, datang Aida yang ingin ikut foto, akhirnya mereka mengulangi lagi selfi bertiga dengan menggunakan ponsel Malika.
"Kamu sangat cantik Rena?
Sudah siap belum jadi istri TNI?
"Insya Allah siap Aida."
Tidak lama suara panggilan terdengar diruang gedung itu, MC meminta kehadiran pengantin wanita ke tempat acara untuk melakukan ijab kabul. Aida dan Malika mendampingi Rena mengantarkannya kepada pengantin lelaki yang sudah menunggu calon mempelainya. Tiga bidadari ini berjalan beriringan menuju ruang tersebut. Decak kagum dari para hadirin terutama Rei dan Raffi yang berdiri berdampingan melihat pasangan mereka masing-masing mengiringi pengantin wanita.
"Semoga waktu hari ini cepat bergulir," ucap Rei semangat menghitung tiap jam yang dilaluinya hari ini.
"Ada apa bos hari ini?," tanya Raffi yang tidak mengerti ocehan bosnya."
"Aku ingin memakan istriku," jawab Rei sekenanya, membuat Raffi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"He..he..oh itu bos, bikin aku ngiri aja."
"Salahmu sendiri kenapa jadi cowok penakut, kamu kelamaan ngejarnya, kalau sudah dapat langsung teken tunai."
"Ah bos, emangnya segampang itu deketin cewek."
"Ya sudah minggu depan aku yang akan melamar Aida untukmu."
"Nah, kalau itu aku setuju bos, itu baru bosku yang paling hebat."
"Huh!, dasar lelaki penakut!"
Acara ijab Kabul telah selesai dengan ucapan sah dari kedua saksi mempelai. Malika kembali menghampiri suaminya, karena acara sungkeman akan dimulai. Sebagai keluarga pendamping mempelai wanita, Malika duduk dekat dengan mamanya, menerima salaman dari Rena yang sekarang sudah menjadi saudara angkatnya. Walaupun Rena bukan anak kandung tuan Daniel, tidak serta merta nama tuan Daniel menyemai namanya pada nama belakang Rena. Rena hanya menyebutkan nama Rena binti fulan karena dia sendiri tidak mengetahui nama orang tuanya, itulah yang terjadi pada hukum islam tidak boleh menyebutkan nama seseorang saat pernikahan yang disemaikan bin dan binti kalau tidak tahu asal usul keluarganya. Rena menangis tersedu-sedu dalam pelukan nyonya Alea yang sudah dia anggap ibu baginya, nyonya Alea mencium pipi mantan kepala pelayannya ini yang juga terus mendampingi putrinya dimasa-masa sulit saat mereka mengalami kecelakaan pesawat.
"Nyonya, maafkan Rena nyonya, terimakasih sudah membesarkan Rena selama ini dalam keluarga nyonya."
"Kamu sudah banyak membantu kami Rena, sekarang kebahagiaan mu sudah datang menjemputmu, selamat berbahagia sayang, jagalah keluargamu dengan baik.
Kini giliran tuan Daniel yang akan mendapat sungkeman dari Rena.
"Terimakasih tuan sudah menyelamatkan hidupku dan terimakasih sudah menampungku di rumahmu."
"Tidak ada yang harus kamu ucapkan Rena, karena jasamu lebih besar dari apa yang kami lakukan padamu, jadilah wanita tangguh untuk mendampingi suamimu, kelak ia akan bangga memiliki istri hebat sepertimu, dan kamu Jajang jagalah putri angkat kami ini dan jangan menyakiti hatinya, semoga kalian selalu bahagia.
"Terimakasih tuan, insya Allah saya akan amanah seperti sumpah saya pada negara ini."
Kini giliran Malika, Malika berdiri menyambut pelukan Rena, semua tamu menangis melihat kehangatan persahabatan dua gadis ini.
"Malika, terimakasih memilihku menjadi saudaramu."
"Aku yang harus berterimakasih kasih padamu ka, karena selama ini kamu telah merawatku dengan sangat baik, semoga Sakinah ya ka.
"Aa, tolong bahagiakan kakak Rena."
Jajang hanya mengangguk dan menyalami tangan Malika sedang Rei memeluk lelaki tampan dan gagah ini dan memberikan ucapan selamat. Tibalah acara pernikahan secara militer, Rena yang sudah mengganti gaun yang berwarna senada dengan stelan seragam hijau milik suaminya, berjalan anggun dibawah gapura pedang pora.
Malika merekam momen langka yang jarang dilihatnya. Pernikahan keren para perwira negara ini begitu bermakna dari setiap proses acara mereka. Baby Ezra tidak mau ketinggalan foto bareng dengan para perwira yang berseragam hijau loreng itu. Sangat gagah itulah kesan bagi para pembela tanah air ini.
🌷🌷🌷
Malam resepsi pernikahan Rena dan Jajang berlangsung meriah, para undangan turut memeriahkan acara tersebut. Foto keluarga dan para sahabat serta prajurit TNI ikut mengabadikan momen resepsi pernikahan tersebut, senyum Rena dan Jajang tidak terlepas sepanjang acara untuk menyambut tamu yang mendoakan kebahagiaan pasangan pengantin baru ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan acara dansa, hanya segelintir orang yang menikmati acara ini, sedangkan tamu undangan lainnya sibuk makan ataupun ngobrol. Malika, Rei, Raffi dan Aida ikut hanyut dalam irama dansa. Rei yang begitu nakal selalu mencuri kesempatan untuk mengecup bibir Malika. Tidak dengan pasangan Raffi dan Aida lebih banyak saling menatap dan tersenyum, mungkin hanya bahasa kalbu mereka yang bicara, hingga akhirnya musik berhenti.
Malika yang masih harus menyusui si kembar pamit duluan walaupun si kembar juga ikut serta tapi kondisi pesta untuk bayi sangat rentan dengan penyakit, bayi kembar itu sudah pulang duluan bersama dengan opa dan omanya.
Rei membawa istrinya pulang tanpa mengganggu Raffi yang sedang melakukan pendekatan dengan Aida. Mobil Rei meninggalkan gedung pernikahan itu, mereka ingin melepaskan penat karena seharian mengikuti prosesi acara pernikahan Rena dan Jajang.
Sepanjang jalan Rei menggenggam tangan lembut Malika dan satu tangannya memegang stir mobil. Malika ingin sekali tidur di mobil tapi melihat Rei yang sangat membutuhkannya untuk ngobrol, ia menahan rasa ngantuknya.
"Rei bagaimana menurutmu pasangan pengantin tadi?
"Sebagaimana pasangan lainnya tentunya itu sangat mengesankan sayang."
"Iih.. yang aku butuhkan jawabannya bukan seperti itu sayang. Aku ingin kamu mengomentari wajah kak Rena dan Aa Jajang.
"Yang jelas aku dan kamu yang lebih cantik dan tampan di acara itu sayang.
"Ah, kau ini selalu membuatku sebel," gumam Malika sambil mencebikkan pipinya.
__ADS_1
"Senang betul dong!," goda Rei yang membuat istrinya makin gemas.
Mobil Rei seperti biasa selalu memarkirkannya di halaman mansion, ia yang sudah lelah membuka pintu mobil dan mengajak Malika masuk ke kamarnya. Di kamar mereka mendekati baby kembar yang sudah nyenyak tidur, sedangkan baby Ezra tidur sendiri di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar tidur orang tuanya. Malika mengalihkan perhatiannya, ia melihat sudah ada lengerie putih yang tergeletak di atas kasur, Malika yang bingung melihat lengerie ini yang belum pernah ia beli yang modelnya seperti itu.
"Sayang, pakailah itu, aku sudah menyiapkan sebelum kita berangkat tadi, aku membelikannya untukmu dan jangan melepaskan perhiasan dan menghapus makeupmu, aku ingin melihatmu dengan tetap mengenakan perhiasan. Cukup kamu menggantikan gaun pestamu saja."
"Apa kamu tidak lelah dady?
"Coba kamu ulangin lagi pertanyaanmu sayang!"
"Apa kamu tidak lelah?
"Ucapkan lagi dengan lengkap seperti pertama kali kamu ucapkan tadi!"
"Apakah kamu tidak lelah dady?"
Rei tersenyum karena baru kali ini, Malika memanggilnya dady selama mereka menikah.
"Harusnya kamu memanggilku dady dari awal kita bertemu Malika, karena kita telah memiliki putra.
"Baiklah dady, aku ganti gaunku dulu," ucap Malika sambil mengedipkan satu matanya menggoda suaminya.
"Cepat sayang aku sudah lapar ingin melahapmu," teriak Rei setelah istrinya sudah berada di dalam kamar ganti mereka.
Rei juga membuka bajunya, kini lelaki tampan ini sudah polos, ia menunggu istrinya yang sedang memakai lengerie yang ia beli khusus untuk menyambut istrinya setelah habis masa nifasnya. Malika keluar dari kamar ganti dan berjalan ala model di depan suaminya.
"Sempurna mommy"
Lengerie putih berbahan transparan itu, memancing Rei untuk mendapatkan kenikmatan yang tersembunyi di balik gaun tidur itu. Rei menarik tangan istrinya.
"Sentuh aku dady," ucap Malika dengan suara mende**h.
Rei yang sudah kangen berat dengan tubuh istrinya, mulai melancarkan cum**an panas pada istrinya. Pagutan bibir mulai menyatu, isapan, saling mengecap bahkan dua tangan Rei yang sudah sibuk meremas dan mencapai bagian tulang pa*a istrinya.
"Dady, pelan-pelan sayang, aku takut milikku sakit setelah melahirkan si kembar.
"Aku akan memberimu pelumas sayang supaya kamu tidak merasakan sakit, buka kakimu sayang!"
Malika yang sedang membuka kakinya sambil berlutut memberikan Rei ruang agar masuk diantara dua pa*anya untuk memberikan kenikmatan miliknya. Rei yang sudah sibuk di bawah bagian inti istrinya yang sedang duduk menga**g di atas mulut suaminya. Malika yang terus mengerang, melenguh dengan mengeluarkan suara erotis sambil berpegangan di sandaran pembaringan tempat tidurnya.
Puas bermain di bawah tubuh istrinya, bibir Rei kembali merayap di punggung Malika, ia menyentuh lembut semua bagian leher belakang hingga pinggul bulat milik istrinya yang kian menggoda. Walaupun seorang diri, Rei sudah terbakar. Ia tampak begitu suka dengan rintihan-rintihan kecil berbau erotis dari bibir Malika.
"Rei!" ucap Malika manja.
Rei tersenyum lebar hingga memperlihatkan barisan giginya yang putih tersusun rapi lalu di sambut dengan lidah berwarna merah muda memenuhi ruang bibir dengan menutupi giginya.
Tak lama Rei memberikan godaan kecil dengan gigitan manja di area kanan pinggang Malika yang memiliki lekuk tubuh sempurna.
ini adalah salah satu tempat kesukaannya karena ia begitu indah dekat dengan pintu surga dunia.
Malika bertahan, ia memegang bantal untuk menutupi gairahnya sejak tadi. Namun ketika bibir dan kehangatannya di sentuh Rei. Sentuhan Rei menyentuh bok**ng bulat miliknya, Malika mengerang manja.
"Sayang!" cukup," pinta Malika manja, kemudian menggigit ujung selimut.
"Reiii!"
Lu*"*n demi lu***n yang basah dirasa semakin terasa berat oleh Malika hingga tubuhnya meliuk semakin menantang gairah Rei untuk mengajaknya menari.
Bibir Rei kembali menggigit daun cuping telinga Malika, sementara tangannya menarik sisi pinggang istrinya sehingga pinggul mereka terangkat sempurna. Malam ini Rei ingin bercinta dengan gaya yang lain.
Setelah mendapatkan posisi yang cocok, Rei menempelkan bagian bawah perutnya yang penuh dengan urat hangat pada pintu surga milik istrinya, kemudian ia menggapai kenikmatan yang sudah ada di tangannya. Rei memainkan biji lunak milik Malika yang mulai berkedut, ia semakin suka dengan sensasi yang terasa disetiap sentuhan jarinya, apa lagi saat Malika makin mengerang gelisah sembari memanggil namanya berulangkali.
"Sayanggg!" panggil Rei dengan suara yang sayup-sayup terdengar oleh istrinya.
"Aku suka lihat kamu begini."
"Reii!"
"Malika!" suara Rei semakin jelas terdengar berat, setelah hampir dua puluh menit mengadu pinggul pada kecepatan tinggi, tidak merasa puas jika tanpa melihat manik istrinya yang indah, Rei melepaskan miliknya dan membalikkan tubuh Malika dengan penuh kelembutan. Malika yang paham langsung mengikuti gerakan tangan Rei yang rileks. Seketika Rei menjauhkan dan menarik kedua pergelangan kaki Malika, dengan bokong yang berada di ujung tempat tidur, lalu bersama senyum, Rei kembali menenggelamkan miliknya pada danau dangkal milik Malika.
D**ah manja terdengar puas di telinga Rei, ia pun langsung memendam miliknya seperti mesin yang telah panas siap bertempur.
Percintaan yang selalu mengesankan dan keduanya tengah bahagia setelah selesai melewati pertempuran yang panjang dan memuaskan, Rei mengeluarkan benih kental miliknya, menyirami rahim istrinya dengan hembusan nafas hangat dengan suara yang terdengar lelah. Ia pun jatuh dalam pelukan istrinya yang selalu menyambut tubuh kekar itu dengan pelukan hangat.
"Terimakasih istriku!"
"Terimakasih, sayang seraya mengatur nafas yang tersengal-sengal, dada kamu selalu hangat Rei," ucap Malika yang sudah mencapai puncak kenikmatan.
"Milikmu masih sama sayang, makin sempit yang selalu mencengkram milikku," ucap Rei yang sudah mendapatkan kepuasan lagi dari istrinya pasca melahirkan baby kembar mereka.
"Sayang," panggil Malika.
"Ia cinta!"
Apakah kamu sudah puas sayang?
"Belum sayang, aku masih ingin menggempurmu, ini masih awal sayang."
"Tapi milikku masih sakit sayang," keluh Malika manja, tapi membuat suaminya malah semangat lagi.
Tapi niat itu tertunda kala si kembar menangis. Rei yang masih bu**l berjalan mendekati tempat tidur bayi yang ada dalam kamar mereka, seakan tahu kalau keromantisan orangtuanya telah berakhir seru.
Ternyata yang menangis adalah baby Rania, Rei mengangkat putrinya dan meletakkan di sisi Malika, Malika memberikan satu pu*ingnya pada Rania dengan tubuhnya juga yang hanya di tutup selimut.
Rei yang tidak mau kalah dengan babynya, membuka lagi pa** istrinya dan kembali mengisap sari yang masih tersisa pada kelopak merekah milik Malika.
"Sayang, Rei kamu mau apa lagi sayang?
"Aku hanya mengambil saripatih milikmu sayang, tidurlah, biarkan aku bermain dengan milikmu.
"Tapi baby masih menyusui sayang."
"Aku akan memindahkan baby kalau ia kembali terlelap sayang.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku pamit tidur sayang."
Rei kembali mengecup bibir istrinya dan memberikan ucapan selamat tidur.
"Selamat tidur sayang, bawalah aku dalam mimpi indahmu."
🌷🌷🌷
Di tempat yang berbeda khususnya di kamar hotel yang mewah, Rena dan jajang melepaskan masa lajang mereka. Jajang saat ini sedang membuka segel sang istri yang berkali-kali dicobanya untuk menembus batas pertahanan itu. Rena yang sangat iba pada suaminya terus menyemangati suaminya.
"Ayo sayang perwiraku jangan pernah menyerah." ucap Rena yang tersenyum juga meringis kesakitan saat suaminya ingin menjebol gawangnya.
"Rena ini sangat sempit sayang, ucap Jajang yang sudah kepayahan.
Rena akhirnya berganti posisi, ia ingin mengusai di atas tubuh suaminya, kini Rena sudah menempatkan bok*ngnya dan memasukan pintu kenikmatannya pada milik suaminya.
Jlebb!!"
"Ahhkk!"
Pekik Rena menggema kesunyian malam pengantin mereka, Jajang menyumbat bibir istrinya dengan bibirnya, miliknya yang sudah tertanam dalam gua sempit milik istrinya kini mulai berkedut dan meremas miliknya, membuat tubuhnya makin bergetar hebat karena nikmat surgawi dunia yang didapatkan pertama kali bersama Rena.
Akhirnya, segel milik istrinya terbuka, darah kesucian mengalir menutupi tiang pancang milik suaminya. Walaupun masih terasa perih pada miliknya, Rena tetap mengayunkan bo**ng untuk memberikan sensasi lain pada suaminya. Permainan yang masih kaku namun terlihat jelas Rena telah menjaga dirinya dengan baik. Permainan itu terhenti setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama, Jajang mengecup bibir istrinya.
"Terimakasih Rena, sudah menjaga milikmu hanya untukku seorang, ini adalah sebuah persembahan yang indah yang baru kumiliki malam ini."
"Terimakasih suamiku, kaulah yang membuatku kembali bermimpi untuk meraih impianku yang pernah hilang."
Keduanya tidur dibawah selimut yang sama, menghabiskan sisa malam untuk menyambut hari baru mereka yang sudah menanti di depan mata sampai esok hari.
Lain dengan Malika dan Rena yang sudah memiliki tempat berteduh dibawah selimut suami, kini sepasang kekasih yang lagi pelit bicara masih berada dalam mobil, Raffi yang belum ingin pulang mengajak Aida menyusuri jalanan ibu kota. Keduanya saling menggenggam satu tangan mereka.
"Aida, apakah kamu mencintaiku," tanya Raffi memberanikan diri.
"Bagaimana dengan dirimu, apakah kamu mencintaiku.
"Tentu saja sayang, aku sangat mencintaimu."
"Bagaimana jika aku mengatakan kalau aku tidak berharga untukmu Raffi?.
"Apa maksudmu Aida, "berharga"?
"Aku takut nantinya kamu akan kecewa padaku Raffi, aku tidak...ahk sudahlah, nggak penting juga kamu tahu ini Raffi.
"Apa yang harus aku ketahui, tolonglah jangan bermain teka teki denganku, katakan apa yang ingin kamu katakan, apa yang sedang membuatmu kuatir Aida?
Lama Aida diam menarik nafasnya yang seakan ingin berhenti, dipejamkan matanya rapat-rapat. Raffi yang melihat gadisnya mengalami sedikit kesulitan saat ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya, ia pun menepikan mobilnya untuk berhenti di salah satu tempat.
"Raffi apakah kamu mau kita ke hotel malam ini?
"Untuk apa kita ke hotel Aida?"
"Karena aku ingin menceritakan sesuatu padamu di tempat yang aman dan rahasia."
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, kita cari hotel sekarang."
Mobil itu kembali bergerak menuju hotel yang biasa digunakan Raffi untuk menginap jika ada rapat dengan klien. Tidak lama mobil itu sudah memasuki gerbang hotel, setelah melewati pintu portal Raffi memarkirkan mobilnya di tempat parkir, ia pun membuka pintu untuk Aida, Aida turun dan melangkah beriringan dengan langkah Raffi menuju hotel.
Petugas hotel yang sudah mengenal Raffi menyambut lelaki tampan itu dengan ramah, Raffi menuju bagian resepsionis untuk melakukan cek-in, kunci kamar di berikan kepada Raffi, kemudian Raffi menggandeng tangan Aida menuju lift yang akan membawa mereka di kamar yang sudah di pesan Raffi. Sesampainya mereka di kamar, Raffi berusaha santai dan duduk di sofa. Aida meletakkan tas genggamnya di atas meja dan sepatu high heelsnya. Kemudian gadis itu izin ke kamar mandi, ia ingin pipis yang sudah di tahannya sejak tadi. Usai urusannya selesai Aida menghampiri Raffi. Raffi menatap wajah cantik Aida lebih dekat. Senyum Raffi mengembang melihat Aida yang sedikit grogi padanya.
"Kamu sangat cantik Aida."
"Terimakasih Raffi."
"Sekarang apa yang ingin kamu katakan sayang?
"Raffi, apakah sungguh kamu mencintaiku?
Apakah cintamu benar-benar tulus padaku."
"Bukankah aku sudah menjawabnya tadi Aida, mengapa kamu mengulang pertanyaan yang sama sayang?
Apakah kamu masih ragu akan cintaku hmm?"
Aida hanya menundukkan wajahnya, Raffi yang bingung dengan sikap Aida yang tiba-tiba banyak nanya membuatnya sedikit kuatir. Raffi meraih dagu Aida dengan dua ujung jarinya, dengan cepat Raffi menyambar bibir Aida, me**tnya dengan lembut.
Aida menyambut ciuman hangat dari lelaki tampan ini, dalam sekejap ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman panas. Raffi mengangkat tubuh Aida tanpa melepaskan ciumannya, membawa gadis itu ke atas kasur, awalnya hanya permainan bibir kini Raffi beralih mencium leher jenjang Aida, menggigit kecil dan meninggalkan stempel berwarna merah di sana. Raffi menyentuh gundukan dada Aida dengan mulutnya.
"Aahhkk Raffi!"
Erangan Aida menguji iman Raffi yang sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya, di buka gaun Aida kemudian tali penyangga yang membungkus dua gundukan lemak di dada Aida, daging bulat coklat itu menggodanya untuk ia kulum, Aida melenguh sambil mencari milik Raffi yang ingin dipegangnya, setelah di dapatkannya kemudian digenggamnya milik Raffi yang sudah mengeras, kini Aida yang memilin milik Raffi, Raffi membiarkan gadis itu memainkan miliknya. kehangatan rongga mulut Aida pada miliknya membuat Raffi memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang menggetarkan jiwanya.
"Aida sayang, aku sangat mencintaimu gadisku," gumam Raffi sembari mengelus lembut rambut Aida yang sedang memainkan miliknya.
Aida ingin memberikan hal yang terindah untuk pria yang telah mencuri hatinya ini.
Karena tidak kuat menahan gejolaknya, Raffi menarik tubuh Aida kembali ia menyesakan lidahnya ke dalam rongga mulut milik Aida, dengan menindih tubuh gadis itu, Raffi bergantian memberikan permainan panas nan menyenangkan hati gadisnya.
Dari bibir, leher kemudian turun di bagian bawah perut Aida, Aida sedikit melebarkan kakinya, memberikan keleluasaan pada Raffi meraih intinya yang sudah tidak lagi ditumbuhi bulu halus. Raffi mengulum daging imut yang tersembunyi itu dengan sesekali menjilatnya.
"Ohh...Raffi sayang..nikmat sekali sayang." pekik Aida dengan suara erangan manja menambah gairah mengubun pada diri Raffi.
Kini tubuh Aida yang bergerak indah mengikuti irama lidah Raffi yang mengisap intinya seperti sedang menyedot milik shake karena kehausan.
"Raffiii!" Ahhhkk, ampun sayang!, aku nggak kuat, Raffi melepaskan mulutnya dalam lembah kenikmatan milik Aida, membiarkan gadis ini menikmati getaran kenikmatan yang sudah diberikan olehnya.
"Aida, bolehkah aku meminta ini sayang?"
Dengan anggukan kecil Aida menyetujui permintaan Raffi. Raffi menempelkan miliknya ke dalam lautan dangkal milik Aida, dengan dua kali hentakan, Raffi membiarkan miliknya tenggelam dan dijepit oleh milik Aida, setelah di rasa cukup Raffi mulai menghentakkan tubuhnya memacu milik Aida, bunyi yang tercipta dari pertemuan dua tubuh itu memberikan sensasi yang lebih intim. Pertemuan kenikmatan itu menggema di kamar hotel itu.
Raffi yang cukup kuat mempertahankan laharnya, membuat Aida berkali-kali mendapatkan puncak kenikmatan yang diberikan oleh Raffi. Hampir setengah jam lelaki yang memiliki stamina lebih ini hingga akhirnya ia menembakkan laharnya dalam rahim Aida.
"Raffiiii...ahhkk..sstt!"
__ADS_1
Lenguhan terakhir Aida mengakhiri hentakan pinggul Raffi pada miliknya. Keduanya akhirnya kelelahan dan tertidur pulas menuju alam mimpi.
Malam yang indah dilewati tiga pasangan dengan kenikmatan yang telah mereka Raih bersama. Kehangatan dari pasangan membuat mengisi setiap relung jiwa yang haus akan kasih sayang.