Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"RENCANA"


__ADS_3

Reinaldi dan Malika sudah berada di Wina, keduanya memilih menginap di hotel mewah di salah satu pusat kota Wina. Walaupun memiliki kerabat di Wina tidak membuat Reinaldi merepotkan keluarga dari papinya.


Hotel yang di kelilingi oleh museum Albertina dan gedung Opera Wina. Hotel indah di lokasi yang fantastis, kamar suite superior dengan pemandangan kota. Tempat ini dekat dengan kesempurnaan. Bagian terbaiknya adalah hotel yang tradisional ini terletak di pusat kota Wina yang memiliki transportasi karlsplatz menawarkan koneksi ke seluruh penjuru Wina dan terletak sejauh hanya 2 menit berjalan kaki.


Malika berdiri di atas balkon hotel memandangi indahnya kota Wina, namun tidak dengan hatinya saat ini yang tidak merasakan keindahan kota itu, tatapan matanya kelihatan kosong, yang diinginkannya saat ini hanya putranya. Kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan harta di dunia ini adalah seorang anak, putra yang telah dipertahankannya selama dalam kandungannya, seorang putra yang mengubah dunianya dalam sekejap.


Rei yang baru selesai dengan urusannya kembali menemui ratunya yang sedang duduk melamun sendirian. Rei tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya saat ini, dia tidak ingin melihat ratunya ini menangis setiap waktu walaupun dia sendiri sangat merindukan putranya.


Dengan cepat Rei menempelkan bibirnya yang hangat kepada Malika. Mendapat kecupan dengan tiba-tiba mata Malika terbelalak dan ia sangat suka setiap kejutan yang diberikan Rei mampu membuatnya bertahan walaupun kebahagiaannya belum terasa sempurna tanpa hadirnya baby Ezra. Malika kembali diam usai mendapat kecupan dari suaminya lalu dia mulai membuka suara menyampaikan perasaan yang menyesakan dadanya pada suaminya tapi kata-katanya seakan tercekat di kerongkongannya. Rei yang menatap wajah teduh istrinya berusaha menghibur ratunya.


"Sayang, tolong jangan melamun lagi, aku tidak ingin melihatmu bersedih, selangkah lagi kita akan bertemu dengan putra kita."


Kini Malika sudah tidak sabaran ingin menemui putranya membuat sang suami sedikit kesulitan memenangkannya.


"Rei aku ingin menemui baby Ezra sekarang, aku sangat kangen," ucap Malika dengan wajah sendu.


"Sayang tidak semudah apa yang kita inginkan, kau tahu sendirikan mantan mertuamu itu bukan orang biasa, kita harus mempunyai rencana dan strategi yang matang untuk merebut kembali putra kita dari mertuamu."


"Apa maksudmu Rei, aku tidak paham, itu putra kita kenapa kamu membuatnya menjadi hal yang rumit."


"Sayang, dengar!


Ibu mertuamu punya segala cara untuk menahan anak kita, karena dia memiliki alasan kuat bahwa itu cucu kandungnya, anak dari mantan almarhum suamimu.


Secara hukum dia bukan dianggap penculik karena itu cucunya sendiri di mata hukum, kita harus punya cara yaitu untuk mendapatkan status anak itu yang akan hak milik kita yang sah secara medis.


"Apa?"


"Dengar sayang!


Hari ini aku ingin mengajakmu ke rumah sepupuku yang ada di kota Wina."


"Apa hubungannya sepupumu dengan putra kita sayang?"


"Nanti aku akan jelaskan setelah kita bertemu dengannya, apa yang harus kita sampaikan niat kita kepada sepupuku itu."


"Baiklah, kalau itu yang terbaik untuk kita demi mendapatkan kembali putra kita aku akan mengikuti caramu."


"Nah, itu baru istriku, kamu makin cantik kalau kamu patuh pada suami ini sayang," goda Rei yang kembali menyegel bibir istrinya dengan kecupan seraya mengangkat tubuh istrinya ala bridal style membawanya ke kamar dan menaruhnya di atas kasur king size itu.


Kemudian Rei meneruskan tarian kecil dibibirnya untuk mengusai bibir Malika, keduanya melepas dan menyatukan kembali dengan nikmatnya, suara deru nafas memburu pun kembali terekam pada rongga telinga sepasang anak manusia tersebut.


Tersenyum, saling menatap dan kembali memagut bibir, itulah aktivitas mereka siang ini hingga puas. Sepertinya Rei adalah tipe pria yang suka menikmati aroma nafas dan hangatnya saliva hingga beberapa menit kemudian mengadu bibir mereka yang masih tampak betah dan tidak akan pernah jenuh walau hati keduanya masih terenggut kerinduan pada sosok bayi yang telah menyatukan dua orang asing ini yang awalnya tidak saling mengenal.


Takdir telah mempermainkan kehidupan keduanya hingga akhirnya drama kehidupan ini harus diperankan, tidak perduli peran apa yang akan mereka mainkan, yang mereka tahu hanyalah sebagai pemeran yang harus melakukan semua adegan drama kenyataan tanpa ada kata protes ataupun berusaha melarikan diri dari kenyataan.


Setelah puas menikmati kemesraan mereka siang ini, Rei mengajak istrinya untuk mengunjungi sepupunya di sudut kota Wina.


"Sayang, kita harus bersiap secepatnya, karena sebentar lagi kita akan dijemput oleh salah satu staffku yang bekerja di perusahaan ku di negara ini," pinta Rei.


Tanpa banyak komentar Malika mengganti bajunya dengan menggunakan dress panjang dan mantel bulu berwarna coklat. Dalam sekejap Malika sudah siap dengan tatanan rambut yang sengaja dicepok keatas ala pramugari, dengan menggunakan sepatu boot coklat dan yang dipadu dengan tas selempang kulit berwarna senada dengan sepatunya. Keduanya keluar dari kamar hotel menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan hotel yang siap mengantar mereka ke sepupunya Rei di sudut kota Wina.


"Apakah jaraknya sangat jauh rumah sepupumu Rei?," tanya Malika setelah keduanya sudah berada di dalam mobil tersebut.


"Hanya sekitar 20 menit waktu tempuhnya sayang, bersabarlah kita akan sampai secepatnya," ucap Rei sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Tidak lama mobil itu sudah masuk ke perumahan yang sangat mewah. Malika hanya mengedarkan pandangannya memperhatikan tiap rumah yang satu sama lain saling berjauhan. Pohon-pohon besar yang berbaris rapi menambah keteduhan dan kesejukan di wilayah perumahan tersebut.


Tepat dua puluh menit mobil itu sudah berhenti di pekarangan mansion adik sepupu Rei.


Rei yang keluar terlebih dahulu lalu membuka pintu mobil untuk Malika, keduanya masuk di sambut oleh penjaga keamanan, Saat Rei mau menyapa penjaga keamanan terdengar suara teriakan sepupunya.


"Haiii!


kak Rei apa kabar saudaraku!," sapa sepupunya Rei yang sudah berlari menyapa Rei dan Malika dengan bahasa setempat.


"Kabarku kurang baik Sarah, oh ini, kenalkan sarah, ini Malika istriku dan Malika, ini Sarah sepupuku."


Malika dan Sarah saling berjabat tangan dan menyebutkan nama mereka masing-masing.


"Malika!"


"Sarah!"


"Senang bertemu denganmu Sarah," ucap Malika sangat ramah pada Sarah.


"Kamu sangat lembut Malika," ucap Sarah memuji sikap Malika.


"Sorry, ka Rei, aku tidak bisa hadir di acara pernikahanmu waktu itu karena aku lagi menyusun tesisku," ucap Sarah merasa sesal.


"Tidak apa Sarah saya sudah tahu kamu gadis paling sibuk," ucap Rei seraya mengusap ubun-ubun kepala sepupunya sambil tersenyum.


"Istrimu lebih cantik kalau dilihat secara langsung ka," goda Sarah kepada Rei.


"Terimakasih untuk pujiannya Sarah, dialah wanita yang mengobati jiwaku dengan segala yang dimilikinya," ucap Rei yang berjalan sejajar dengan Sarah dan Malika.


"Ya ampun sampai lupa, silahkan masuk kak Rei dan kak Malika, ada mami di dalam lagi siapkan makan siang," ucap Sarah yang menjadi grogi karena membiarkan tamu hanya berdiri di luar.


Rei dan Malika masuk ke mansion yang bergaya kastil sesuai tempat ciri khas negara itu. Bangunan yang luas dengan halaman yang lebih luas lagi tidak jauh beda dengan kediaman Rei dan Malika yang sama-sama merajai dunia bisnis dengan bidang mereka masing-masing. Tidak ada perbedaan jenjang sosial diantara keduanya, sama-sama berasal dari keluarga berkelas.

__ADS_1


"Hallo Rei, apa kabar ponakan tampan tante," ucap tante koni, yang menyambut Rei dan Malika setengah berlari.


Keduanya saling berpelukan dan diikuti Malika.


"Hai cantik," sapa tante koni hangat kepada Malika yang sudah kenal dengan istri ponakannya ini.


"Kalian kemari lagi bulan madu ya, ko nggak kabarin tante sayang?, apakah kamu takut tante ganggu kalian ya," canda tante koni pada Malika.


Malika hanya tersenyum dengan wajah yang merona merah mendengar candaan tante koni pada dirinya dan suami.


Keduanya mengikuti langkah kaki tante koni dan Sarah yang langsung mengarahkan mereka ke ruang makan.


"Kebetulan banget hari ini tante masak menu istimewa dan tidak sengaja tante sudah menyambut kalian dengan menu ini, sepertinya tante punya bakat cenayang deh Rei, karena bisa mengetahui akan ada tamu yang datang hari ini ke rumah tante dan Tante memasak makanan spesial ini," canda tante koni lagi.


Mereka menikmati makan siang dengan saling bercerita tentang apa saja. Malika yang sudah dua kali bertemu dengan tante koni nampak akrab dengan keluarga suaminya ini. Malika yang juga mengusai 8 bahasa yang membuat nya tidak kesulitan berada di negara manapun. Itulah yang membuat Rei sangat menyukai gadisnya yang membuat dia tidak kesulitan untuk memperkenalkan Malika dengan berbagai klinenya dari manca negara saat bersama Malika. Makan siang telah berakhir, mereka beralih ke taman untuk bisa berbincang santai di taman tersebut.


"Tante, Sarah, kami ke sini bukan ingin melakukan bulan madu saja tapi ada misi lain yang akan kami lakukan dengan melibatkanmu dalam misi ini," ucap Rei dengan wajah serius kepada Sarah yang sedang duduk dihadapannya.


"Misi apa kak' yang kalian ingin aku lakukan juga," tanya Sarah yang sedikit kaget dengan permintaan Rei.


"Ini mengenai putra kami yang dibawa lari oleh mantan mertua istriku," ucap Rei.


"Apakah babynya kakak ada di negara ini?," tebak Sarah.


"Iya Sarah, kami baru mengetahuinya kemarin saat liburan di Jimbaran bay pulau Dewata Bali."


Sarah yang sudah banyak tahu tentang kisah cinta sepupunya Rei dengan istrinya Malika yang sudah memiliki putra sebelum keduanya menikah, memahami situasi yang dialami oleh sepupunya dan kakak ipar sepupunya ini.


"Apa yang harus Sarah lakukan dalam misi ini kak Rei."


"Sarah!


Keluarga besar dari mantan Mertuanya istriku memiliki jaringan sendikat yang sangat berpengaruh di beberapa negara yang mereka kuasai. Kami tidak mungkin mendatangi langsung dikediaman putra kami sekarang ini berada karena tidak ada bukti yang menyatakan Ezra adalah putra kandungku.


Di pikiran mantan ibu mertua Malika merasa, itu cucu kandungnya. Dan aku ingin kamu menyamar jadi baby sitter atau apa saja yang kamu bisa untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa di ambil dari milik putraku entah rambut atau apa saja yang berkaitan dengan baby Ezra.


Jika bisa mendapatkan beberapa helai rambut baby, kita akan melakukan tes DNA untuk menguatkan bukti kita, supaya bisa mendapatkan pengakuan yang sah bahwa Ezra putra kandungku, dengan begitu nyonya Andien tidak akan bisa lagi melawanku demi hukum karena saat ini Malika sudah sah menjadi istriku ibu dari anakku Ezra," jelas Rei panjang lebar kepada sepupunya.


Malika menelaah setiap perkataan suaminya, yang membuat dirinya sekarang mengerti dengan rencana suaminya, ia menyetujui apa yang sudah suaminya rencanakan untuk mengambil putranya kembali dari mantan mertuanya.


"Sayang, kamu hebat sekali," batin Malika.


"Bagaimana Sarah, apa kamu sanggup menjalani misi ini?," tanya Rei pada adik sepupunya ini.


"Mengapa kakak sangat yakin kalau aku bisa menjalani misi ini dan kenapa harus aku ka'?


Jika aku menggunakan koneksiku dan melibatkan orang lain, itu akan membuat istriku terluka karena semakin orang banyak tahu tentang awal hubungan aku dan Malika semakin merebak gosip yang akan menjadi santapan netizen dan wartawan.


Karena ini masalah yang sangat privasi makanya aku melibatkan sebagai sepupuku karena kita adalah keluarga yang tidak punya kepentingan untuk menjatuhkan saudaranya sendiri.


Dengan rasa keibuanmu yang akan memudahkan misi kita ini akan berjalan lancar, semoga Tuhan menolong kita.. aamiin."


Tante koni yang ikut menyimak ucapan Rei, menatap wajah Sarah yang kelihatan sedikit ragu menerima permintaan Rei pada putrinya.


"Sayang, setidaknya kita harus mencobanya, apa salahnya mungkin kali ini Tuhan berpihak pada kita."


"Baiklah kak Rei, Sarah akan berusaha semampu Sarah, doakan saja semoga Sarah berhasil," ucap Sarah menarik nafas berat.


"Terimakasih Sarah, kami sangat mengandalkanmu bantuanmu," ucap Rei penuh harap pada adik sepupunya ini.


"Baik tante koni, saya dan Malika mau pamit pulang kembali ke hotel karena masih lelah dalam perjalanan dari Denpasar langsung ke Wina," ucap Rei sembari bangkit dari duduknya sambil menggenggam tangan istrinya.


"Rei kenapa tidak menginap di sini saja sayang, tante masih kangen sama Malika dan kamu sayang," pinta tante koni sambil menatap melas wajah Rei.


"Ah mami kaya nggak pernah muda aja, kak Rei nggak mau ada nyamuk lewat ketika lagi ehm..ehm!" goda Sarah pada mami dan Rei sepupunya.


Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan dari Sarah gadis cantik yang berambut pirang dengan mata biru ini. Usianya tiga tahun lebih muda dari Malika namun parasnya seperti masih usia anak SMA. Rei dan Malika sudah kembali ke mobil diantar oleh tante Koni dan Sarah.


🌷🌷🌷


Di kamar Hotel Malika yang sudah memendam hasratnya pada suaminya dengan langsung menyerang bibir suaminya. Rei nampak gelagapan mendapat serangan dadakan dari istrinya. Dengan cepat Rei mengimbangi ciuman dari istrinya. Pergulatan kembali terjadi di senja itu, nampak peluh membanjiri keduanya, dengan tubuh polos keduanya saling berbaring sejajar kemudian berbincang.


"Sayang, terimakasih sudah mengatur rencana ini dengan baik, awalnya aku sedikit bingung denganmu karena harus meminta tolong pada Sarah, tapi ketika kamu menyampaikan rencanamu pada Sarah tentang apa saja yang akan dilakukan Sarah nanti pada putra kita, aku baru memahaminya, ternyata kamu sangat hebat sayang," puji Malika kepada suaminya.


"Jandi karena itu kamu ingin langsung membayar kontan sayang untuk rencanaku ini?," goda Rei.


"Apa kamu ingin tambah tagihannya sayang," tantang Malika."


"Dengan senang hati aku akan menagihnya lagi."


"Apakah kamu masih kuat hmm?"


"Buktikan sendiri kalau tidak percaya," ucap Rei dengan senyum nakalnya sambil menggerayangi tubuh istrinya lagi.


Permainan itu kembali beradu fisik diiringi irama erangan dan lenguhan erotis yang mereka ciptakan demi mencapai nikmat surgawi.


🌷🌷🌷


Sarah sudah siap memulai misinya dengan mendatangi tempat kediaman nyonya Andien yang ada di kota Wina. Sarah datang melamar pekerjaan sebagai pelayan di kediaman nyonya Andien. Kedatangan Sarah di sambut oleh nyonya Reza yang merupakan keponakan dari nyonya Andien. Keduanya melakukan interview sederhana, nyonya Reza terkesan dengan sikap Sarah yang sangat terpelajar dan Sarah pun diterima bekerja sebagai pelayan di kediamannya.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Sarah nyonya, saya adalah mahasiswa yang berasal dari daerah," ucap Sarah memulai sandiwaranya.


"Saya sudah membaca CV kamu tapi saya heran mengapa kamu memilih menjadi pelayan daripada pekerjaan lainnya?," tanya nyonya Reza.


"Saya tidak sanggup membayar uang sewa asrama karena keluarga saya cuma petani yang membantu menggarap perkebunan anggur milik orang lain di desa tempat tinggal saya nyonya," ucap Sarah mulai berakting.


"Baiklah lakukan pekerjaanmu dan kamu harus bisa membagi waktu untuk kuliah dan pekerjaanmu di sini," sahut nyonya Reza bijak kepada Sarah.


"Baik, nyonya apakah saya bisa mulai hari ini nyonya?"


"Silahkan!"


"Terimakasih nyonya atas kebaikan hati nyonya," ucap Sarah lalu pamit dari ruang kerja nyonya Reza.


Sarah keluar dari ruang kerja nyonya Reza, ketika ingin menutup pintu ruangan itu, Sarah bertemu dengan baby Ezra yang sedang belajar merangkak ke arahnya. Wajah tampan baby Ezra seakan menghipnotis Sarah.


"Baby Ez..


Kata-kata Sarah terhenti setelah melihat nyonya Andien yang berusaha mengejar beby Ezra.


"Tolong angkat cucuku nona," titah nyonya Andien pada Sarah.


Sarah hanya mengangguk hormat pada nyonya Andien lalu mengangkat tubuh ponakannya itu. Ezra yang merasa tubuhnya diangkat seseorang, bayi tembem itu mengangkat wajahnya menatap wajah cantik Sarah, tanpa diduga oleh Sarah, baby Ezra mengecup pipi Sarah.


"Mmmah," cium Ezra lalu terkekeh.


"Baby kamu gemasin banget sayang," gumam Sarah merasa terharu mendapat kecupan dari ponakannya.


"Huh!, ternyata darah lebih kental dari pada air baby, kamu bisa mengenali darahmu sendiri karena kamu langsung menyukaiku padahal kita baru bertemu," gumam Sarah dalam hatinya.


"Ini nyonya cucunya."


Saat Sarah menyerahkan baby Ezra, bayi bertubuh montok itu tidak ingin digendong neneknya.


Bayi itu menolak lalu mengalungkan tangannya ke leher Sarah.


"Baby Ezra suka sama cewek cantik ya sayang," goda nyonya Andien terkekeh melihat cucunya.


"Bolehkah saya menggendongnya nyonya," pinta Sarah.


" Sepertinya baby kelihatan senang denganmu, baiklah tolong kamu ajak main, aku mau istirahat sebentar.


Jika cucuku tidur, antarkan dia ke kamarnya sebelah sana yang pintunya ada tulisan baby Ezra," ucap nyonya Andien kepada Sarah.


Sarah hanya mengangguk sembari menggendong ponakannya itu.


Nyonya Andien berlalu meninggalkan Sarah dan baby Ezra. Sarah mencium gemas pipi tembem baby Ezra sehingga membuat bayi itu tergelak tawa merasakan geli dari ciuman Sarah.


"Baby ada salam dari ayah dan ibu kamu, mereka sekarang berada di negara ini untuk menjemputmu, apakah baby suka hmm?"


Entah mengerti atau atau tidak ucapan Sarah, baby Ezra hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan tantenya Sarah. Sarah begitu terkesiap melihat respon yang diberikan baby Ezra dari pertanyaannya.


"Benarkah baby ingin bertemu ayah dan ibu, apakah baby juga kangen sama mereka?" tanya Sarah lagi sambil menunggu reaksi dari baby Ezra.


"Hahmm," jawab baby Ezra menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan gigi susunya yang baru tumbuh empat gigi seri antara bagian atas dan bawah.


"Ya ampun baby mengerti sayang pertanyaan tante Sarah," tanya Sarah seraya mencium gemas pipi baby Ezra membuat bayi ini kembali tertawa geli.


"Aduh baby Ezra cepat sekali akrab denganmu Sarah," ucap nyonya Reza sambil membawa susu formula untuk baby Ezra.


"Iya nyonya baby Ezra sepertinya sudah mulai memahami setiap pertanyaan yang saya ajukan padanya."


"Emang kamu tanya apa Sarah pada baby Ezra?," tanya nyonya Reza penuh selidik pada Sarah.


"Degg!!


Seketika Sarah begitu tersentak dengan pertanyaan balik dari nyonya Reza pada dirinya, namun gadis ini begitu cerdas dengan cepat mengusai dirinya dengan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh nyonya Reza padanya.


"Saya tanya apakah baby senang bermain denganku dan apakah baby belum kepingin tidur dan baby Ezra menjawab dengan anggukan," ucap Sarah berbohong.


"Oh itu, kalau itu bukan hal yang baru untuk baby Ezra Sarah, keponakanku ini sudah mengenali semua warna mainannya dan dia mampu menunjukkan setiap angka dan huruf yang kita sebutkan tanpa melakukan kesalahan," ucap nyonya Reza dengan bangga pada baby Ezra.


"Wahh, baby benarkah itu," tanya Sarah yang sangat takjub mendengar penuturan tentang kepintaran baby Ezra.


"Dan kamu tahu, baby sudah bisa bermain game online yang sekarang lagi hitz."


Sarah hanya menggeleng kepalanya merasa itu bukan hal yang aneh untuknya setelah dia memikirkan kembali keturunan dari mana baby Ezra berasal. Jelas bayi ini sudah mewarisi kejeniusan ayah dan ibunya mungkin juga oma dan opanya dari kedua orangtuanya.


"hhmm, jelas saja keponakanku sangat jenius, siapa dong keturunannya," ucapnya membatin sambil mengulum senyum.


"Ini susunya Sarah, tolong kamu berikan buat baby Ezra karena sudah waktunya baby Ezra harus tidur."


"Baik nyonya," ucap Sarah sembari mengambil botol susu dari tangan nyonya Reza.


"Sebaiknya kamu jadi baby sitternya saja karena sudah banyak baby sitter yang menjaga baby Ezra membuat baby Ezra merasa tidak nyaman bersama mereka, kelihatannya dia lebih senang denganmu Sarah dan lebih cepat akrab padahal baru beberapa menit yang lalu kalian bertemu," ucap nyonya Reza yang senang melihat hubungan baby Ezra dan Sarah pelayan barunya ini.


Nyonya Reza meninggalkan baby Ezra dan baby sitter barunya sedangkan Sarah dengan sigap menggendong bayi montok ini dengan memberikannya susu untuk Baby Ezra, bayi montok itu mulai menyedot susunya dengan sangat cepat sehingga dalam hitungan menit baby Ezra sudah tidur terlelap dalam pangkuan Sarah.


"Baby andai saja kedua orangtuamu mengetahui pertumbuhan dan kejeniusanmu pasti mereka akan mengambil kamu lebih cepat dari nenek angkatmu itu.

__ADS_1


__ADS_2