Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"HASIL TES DNA"


__ADS_3

Menunggu adalah hal yang sangat membosankan bagi Malika, sudah sekitar seminggu ia dan suaminya berada di negara Wina. Mereka hanya menanti informasi dari Sarah. Malika ingin nekat mendatangi kediaman nyonya Andien, namun niatnya selalu di tahan oleh Rei.


"Rei, sampai kapan kita harus menunggu kabar dari Sarah, ini sudah satu minggu kita berada di kota Wina," ucap Malika yang sudah tidak kuat lagi menahan kerinduannya pada putranya.


"Sayang, kalau kamu nekat ke sana akibatnya akan fatal sayang.


"Apa yang kamu kuatirkan Rei?"


"Apakah kamu mau jika mertuamu tahu kamu datang ingin menjemput baby Ezra, dia akan menjauhkanmu lagi dari putramu bahkan kita akan lebih lama mencari baby kita."


Malika tampak merenung perkataan suaminya, namun gadis ini tetap dengan pendiriannya, ingin nekat pergi ke kediaman nyonya Andien, mantan mertuanya.


"Aku harus mencobanya Rei atau setidaknya aku ingin melihat putraku dengan mata kepalaku sendiri, baru aku merasa tenang."


"Apakah kamu tidak menghargai upaya Sarah yang sudah menolong kita?"


"Terserah apa katamu Rei, yang jelas aku ingin bertemu dengan putraku sekarang," sungut Malika yang sudah memasang wajah cemberut.


"Ok, tunggu sayang, biarkan aku menghubungi Sarah sekarang, bagaimana perkembangan penyamarannya selama seminggu ini di kediaman nyonya Andien."


Malika menghentikan langkahnya, menunggu Rei yang sedang menghubungi Sarah sepupunya.


"Hallo Sarah, selamat sore!


"Selamat sore kak Rei!"


"Bagaimana dengan penyamaranmu Sarah, apakah putraku baik-baik saja," tanya Rei.


"Untuk saat ini aku sudah berhasil mengambil posisi yang awalnya aku jadi pelayan tapi aku malah di minta jadi baby sitternya baby Ezra.


"Benarkah?"


"Iya ka, baby Ezra menyukaiku saat pertama kali kami bertemu dan baby Ezra sangat jenius persis seperti kalian berdua.


"Sekarang apa masalahmu Sarah?"


"Setiap ruangan ada CCTV nya ka, itu membuatku sangat kesulitan untuk mendapatkan rambut baby Ezra.


Mendengar kesulitan yang dialami oleh Sarah Malika langsung merebut ponsel suaminya.


"Hallo Sarah, aku bisa membantumu untuk itu, aku akan meretas CCTV untuk mengacak CCTV itu supaya kamu bisa melakukan tugasmu dengan tenang."


"Apa bisa ka?"


"Tentu saja bisa sayang, percayalah padaku, aku tidak akan membiarkanmu mengalami kesulitan."


"Ya Tuhan syukurlah kalau begitu, ini akan memudahkan pekerjaan aku ka, terimakasih ya ka.


"Maafkan kebodohanku, harusnya aku mengabarkanmu lebih awal tentang kesulitanku, jadi kita tidak akan lama menunggu seperti ini," ucap Sarah sedih.


"Ini bukan salahmu Sarah, mungkin kita yang merasa sangat sulit untuk berkomunikasi ini karena situasi yang tidak aman buatmu, menjadi seorang penyamar," ucap Rei pada adik sepupunya.


"Iya ka tapi aku..


"Kamu lagi menelpon siapa Sarah," tegur nyonya Andien membuat Sarah seketika merasa gugup.


Malika yang mendengar suara mantan Mertuanya langsung menutup teleponnya. Malika juga kelihatan panik takut terjadi sesuatu pada Sarah. Disisi lain Sarah berusaha memberi alasan yang tepat supaya nyonya Andien tidak curiga.


"Maaf nyonya, tadi ibuku lagi meneleponku, menanyakan tentang kabarku dan kuliahku saja," ucap Sarah berbohong.


"Oh begitu, apa sudah selesai ngobrolnya?"


"Sudah nyonya."


"Kalau begitu tolong jaga baby Ezra aku mau shopping dengan Reza."


"Baik nyonya."


"Kamu hati-hati di rumah, jangan bawa baby Ezra keluar!"


"Saya tidak akan melakukannya nyonya."


"Bagus!


Ingat, kami tetap mengawasimu, ada CCTV di setiap ruangan, jika kamu macam-macam, aku tidak segan-segan membuatmu terluka!"


Setelah nyonya Andien berlalu Sarah akhirnya menemui baby Ezra yang masih nampak pulas tidurnya. Gadis berambut pirang ini masuk ke kamar mandi milik baby Ezra untuk mengirim pesan pada Malika bahwa keadaan sudah aman.


"Selamat sore ka Rei!"


"Sore Sarah, ada apa?"


"Keadaan rumah sudah aman, tolong bilang kepada ka Malika untuk mengacak pergerakan CCTV, saya akan mulai beraksi sekarang karena baby Ezra masih tidur."

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sampai kami mengabarkanmu lagi.


"Baik ka."


Malika lalu mengambil ponselnya untuk meretas CCTV milik kediaman nyonya Andien di mana kamar baby Ezra yang akan menjadi titik tumpunya. Berkat ponsel canggih miliknya, Malika mampu mengalihkan pergerakan CCTV untuk memudahkan Sarah melakukan aksinya.


"Alhamdulillah, kita berhasil sayang, tolong kabarkan lagi secepatnya kepada Sarah, karena saya sudah mengendalikan CCTV di kamar baby Ezra.


Bunyi ponsel Sarah mengagetkan gadis cantik yang lagi menunggu perintah selanjutnya dari sepupunya Rei nampak terperanjat dari tempat duduknya.


"Hallo Sarah!"


"Hallo kak, gimana?"


"Sudah di atasi CCTV nya, sekarang giliranmu mengambil beberapa helai rambut baby Ezra," titah Rei pada adik sepupunya.


"Ok, kak Rei."


Gadis itu mencari gunting yang ada di dalam laci lemari kamar baby Ezra, ternyata ada gunting kecil yang ada di dalam laci tersebut. Perlahan-lahan, gadis ini menghampiri tempat tidur baby Ezra yang masih terlelap dalam tidurnya. Sarah dengan hati-hati menggunting beberapa helai rambut ponakannya itu. Kebetulan bayi montok itu, posisi tidurnya tengkurap sehingga memudahkan pekerjaan Sarah menggunting beberapa helai rambutnya.


"Permisi ya sayang, maaf ya, tante mengambil rambutmu, hanya dengan cara ini kamu dapat bertemu lagi dengan kedua orang tuamu," ucap Sarah yang merasa masih gugup, takut baby Ezra tiba-tiba bergerak dari tidurnya.


Setelah mendapatkan rambut baby Ezra, Sarah memasukkan beberapa helai rambut baby ke dalam kantong plastik bening yang sudah disiapkannya, kemudian sarah memasukkan plastik itu kedalam buku cetak yang sengaja dibawa olehnya sebagai tempat penyimpanan yang lebih aman.


Usai melakukan aksinya, Sarah kembali menghubungi saudara sepupunya.


"Hallo kak Rei, aku sudah berhasil melakukannya, tolong katakan kepada ka Malika untuk memulihkan kembali posisi CCTV di kamar baby Ezra. Tunggu aku di kampusku besok pagi jam 8.00, temui aku di salah satu kafe yang ada di seberang kampus kak, besok aku akan hubungi lagi kakak kalau sudah sampai di lokasi.


"Baik, Sarah, terimakasih sebelumnya," ucap Rei dengan perasaan lega.


"Alhamdulillah sayang, misi kita berhasil ucap Rei pada istrinya penuh haru."


"Alhamdulillah terimakasih Sarah, aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini," ucap Malika lirih.


Kedua suami istri ini kembali berpelukan, Rei mengulum bibir istrinya dan Malika menyambut dengan senang hati, Rei tak berhenti pada ciumannya saja, tangan lelaki tampan ini sudah traveling ke bagian sensitif Malika tanpa melepaskan lum**n bibirnya.


Ciuman itu berpindah menjalar ke bawah, dari mulai puncak leher jenjang milik Malika berakhir pada dua benda kenyal yang ada di bukit kembar yang sudah tegak mengacung siap dilahap oleh sang suami.


Erangan, desa**n dan rintihan kenikmatan yang tercipta dari mulut Malika seakan memiliki irama erotis yang menyemangati sang suami untuk melakukan pertempuran panas mereka kedalam lautan kehangatan birahi yang memuncak.


Mata Malika yang tidak mampu lagi di buka karena setiap sentuhan dari mulut suami mampu menggetarkan aliran ritme tubuhnya yang memaksa gerakan liukan tubuhnya mengikuti sentuhan lidah suami pada bagian bawah intinya.


"Reiii, sayang, aku sudah nggak kuat, keluh Malika dengan nafas berat. Rei seakan menyiksa tubuh istrinya dengan kenikmatan yang dilancarkan terus tanpa memberi jeda untuk membebaskan istrinya dari belenggu hasrat yang makin membawanya terbang ke awan biru.


"Rei yang juga tidak kuat lagi menahan gejolak hasrat yang sama pada tubuh istrinya, lelaki yang berdada bidang ini mulai mengusai tubuh mulus itu dengan memasukkan senjata laras panjangnya ke dalam inti istrinya, setelah menyatukan kedua benda berharga mereka, Rei tidak ingin memacu tubuh istrinya dulu, sesaat Rei ingin merasakan kenikmatan dalam kehangatan dalam sarang bagian tubuh istrinya yang sedang mencengkeram miliknya.


"Oh, Malika sayang, kau milikku, kau membuatku semakin menggilai milikmu yang sangat membuatku ketagihan sayang," ucap Rei dengan nafas yang sudah memburu.


Dengan berulang kali melakukan hentakan dan diiringi irama ritme erotis dari mulut sang istri, membuat Rei makin semangat mengajak istrinya meraih puncak kenikmatan bersama.


Akhirnya keduanya memekikkan suara mereka bersamaan dan Rei menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya dengan membiarkan senjata laras panjangnya tetap berada didalam milik istrinya, Rei ingin merasakan setiap kedutan di dalam sana yang masih meremas miliknya yang membuatnya makin betah membiarkan sang junior berada dalam sangkar emasnya.


Malika yang merasa lelah membiarkan suaminya menikmati sisa-sisa dari permainan panas mereka sampai keduanya tidak sadar terlelap dalam posisi tubuh yang bertumpuk satu sama lain membawa mereka ke alam mimpi indah.


🌷🌷🌷🌷


Keesokan harinya, Sarah yang sudah siap ingin bertemu dengan kedua saudaranya yaitu Rei dan Malika, ia kini berdandan cantik dengan stelan celana jeans dan kaos berwarna putih membalut tubuhnya yang sangat seksi, Sarah melenggangkan tubuhnya keluar dari kamar yang ada di bagian belakang bersama dengan para pelayan wanita yang ada di kediaman nyonya Andien dan nyonya Reza.


"Permisi nyonya Reza, aku izin mau ke kampus dulu," pamit Sarah saat berpapasan dengan Reza yang lagi berjalan menuju taman belakang rumahnya.


"Iya hati-hati Sarah, kalau sudah kelar kuliahnya langsung pulang, jangan keluyuran karena tugasmu harus menjaga baby Ezra," tegas nyonya Reza untuk memperingatkan Sarah.


"Baik nyonya, aku tidak akan melupakan tugasku di rumah ini," ucap Sarah santun dan membalikkan tubuhnya lagi, kemudian melangkah pergi meninggalkan kediaman nyonya Andien.


Dalam waktu 40 menit Sarah sudah berada di tempat yang semalam sudah mereka tentukan waktu dan tempat pertemuannya. Malika dan Rei sudah datang lebih awal dari waktu yang ditentukan karena keduanya memilih berkeliling dulu di sekitar taman kota yang menawarkan keindahan dari bunga-bunga cantik bermekaran yang telah dihuni oleh embun pagi yang menambah kesegaran kelopaknya.


Wajah Malika makin berseri, senyum indahnya tidak terlepas dari bibir sensualnya. Rei lebih menikmati wajah cantik istrinya ketimbang bunga-bunga yang ada di taman kota. Tatapan mata Rei meneliti setiap jengkal wajah cantik istrinya. Mata, hidung, iris, bibir dan kulit putih bersih dan kuping yang dihiasi anting-anting cantik yang terbilang mewah. Anting termahal yang di kenakan Malika adalah Columbian Diamond Earrings. Anting berlian satu ini punya berat kurang lebih 23,34 karat. Bentuknya menyerupai buah pir yang indah dengan hiasan batu zamrud di bagian tengah.


Hal ini wajar bagi seorang istri CEO, pengusaha hebat yang berkharismatik yaitu Reinaldi. Malika yang merasa terus di perhatikan suaminya merasa tersanjung karena kecantikan wajahnya mengalahkan keindahan kota Wina.


"Sayang, kapan kamu berhenti menatapku?," ucap Malika yang pura-pura jual mahal padahal hatinya lagi sedang berbunga-bunga.


"Kalau tidak memikirkan janji dengan Sarah aku ingin mengurungmu di kamar dan akan terus menc**buimu setiap saat," goda Rei dengan senyum nakalnya.


"Dasar suami mesum, itu saja yang kamu ingat, kamu mau buat kakiku cacat?," ucap Malika yang sangat berlawanan dengan hati kecilnya seakan ingin mengatakan "Aku rela sayang memenuhi keinginanmu."


Perbincangan itu terhenti saat Sarah yang memanggil mereka dari jauh.


"Kak Rei!!


Kak Rei, kenapa menunggu di taman kota, bukannya kita sudah janjian di kafe yang ada di depan kampusku?," tanya Sarah dengan nafas yang tersengal-sengal menatap suami istri ini yang sedang duduk mesra di taman kota.


Malika dan Rei serentak bangkit dari duduknya dan menghampiri Sarah.

__ADS_1


"Maaf Sarah, kami lupa karena keasyikan ngobrol tadi," ucap Malika yang nggak enak hati dengan adik iparnya ini.


"Ya sudah nggak apa kak, di sini juga lebih aman untuk ngobrol," ucap Sarah yang sudah nampak tenang sembari menghenyakkan tubuhnya di kursi yang tersedia di taman kota."


"Bagaimana kamu tahu kami di sini Sarah?" tanya Rei yang heran dengan kedatangan Sarah tiba-tiba.


"Aku menyalakan GPS di ponselku untuk memudahkan Sarah mengikuti keberadaan kita melalui ponselnya," tutur Malika kepada suaminya.


"Aku sedang berada di depan gadis-gadis cantik yang memiliki IQ di atas rata-rata," ucap Rei memuji dua gadis di depannya dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Ini kak aku sudah mendapatkan rambut baby dan ini foto-fotonya baby Ezra yang sengaja aku cetak untuk kalian dan ada videonya saat aku bermain dengannya. Aku sudah mengirimnya ke email kak Rei," ucap Sarah seraya memberikan plastik kecil yang berisi rambut baby Ezra dan foto-fotonya yang sangat lucu. Rei mengambil bungkusan kecil dari tangan Sarah sedangkan foto putranya di ambil oleh Malika yang sudah tidak sabar melihat putranya.


"Baby, sayang tunggu ayah dan ibu untuk menjemputmu sayang," ucap Malika yang kembali memeluk foto-fotonya bayinya dengan mata berkaca-kaca.


"Kak, yang sabar ya, sebentar baby Ezra akan bertemu dengan kalian, baby Ezra langsung mengenaliku, saat pertama kali bertemu, apa lagi bertemu dengan kalian nanti, dia akan sangat suka.


Mungkin tubuhnya berada jauh dengan kalian tapi hati dan jiwanya pasti bersama dengan kalian. Baby Ezra bayi yang sangat lucu dan tidak gampang rewel," ucap Sarah menghibur Malika.


"Terimakasih Sarah atas kerja kerasmu, maafkan kami sudah menyusahkanmu," ucap Malika tulus.


"Aisss!! apaan sih ka, jangan berkata seperti itu, aku senang melakukannya, apa lagi baby Ezra sangat menggemaskan, jeniusnya itu lho ka yang membuat Sarah terkagum-kagum saat bermain bersama Sarah."


"Walau bagaimanapun kami berutang banyak padamu adikku," ucap Rei haru menatap wajah Sarah yang tiba-tiba mendung karena mendapat apresiasi dari dua kakaknya ini.


"Jangan membuatku malu ka, ini suatu kehormatan besar bagiku, untuk bisa mendapatkan kembali baby Ezra dari nenek palsunya itu dengan kepercayaan yang kalian berikan kepadaku," ucap Sarah tegas pada Malika dan Rei.


"Baiklah Sarah kami ingin ke rumah sakit untuk memberikan sampel rambutnya baby Ezra," ucap Rei sambil menarik tangan Malika untuk berdiri.


"Ok ka, kalau begitu aku balik dulu mau ketemu baby Ezra, aku akan tetap bersama baby Ezra sampai hak perwalian baby Ezra jatuh pada kalian secara hukum," ucap Sarah.


Akhirnya pertemuan rahasia itu berakhir di taman kota. Malika dan Rei sudah kembali ke mobil menuju rumah sakit sedangkan Sarah sibuk mencari kafe untuk menghabiskan waktunya sejenak karena ia sudah beralasan untuk berangkat kuliah pada nyonya Reza.


🌷🌷🌷


Rei dan Malika mendatangi tiga rumah sakit terkenal di tempat yang berbeda di negara Wina Austria itu. Mereka langsung menemui dokter salah satu kenalan Rei, suami Malika kini sedang berkonsultasi dengan para dokter ahli yang akan meneliti sampel dari rambut baby Ezra untuk melakukan tes DNA.


Malika dan Rei sudah menunggu lama kelanjutan hasil tes DNA baby mereka, namun dokter hanya memberikan waktu untuk menunggu hasil tes tersebut selama satu hari. Keduanya kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Keesokannya, Rei mendapatkan panggilan telepon dari dokter ahli yang sedang melakukan tes DNA putranya, dan hasilnya lebih cepat keluar dari waktu yang ditentukan.


"Selamat sore tuan Rei!"


"Selamat sore dokter!"


"Hasil tes DNA putramu sudah keluar silahkan anda menemuiku di rumah sakit sekarang juga."


"Baik dokter, kami akan ke sana sekarang juga," ucap Rei yang sudah nampak gugup dengan berita gembira yang mereka dapatkan sore ini.


Malika yang baru keluar dari kamar mandi melihat suaminya lagi membuka baju santainya, merasa kagum melihat tubuh kekar suaminya membuatnya menelan salivanya. Hal serupa juga dilakukan oleh Rei yang melihat Malika yang sedang berjalan ke arahnya dengan handuk yang sedang membalut tubuhnya.


Rei yang awalnya ingin berganti baju menunda niatnya itu ketika melihat tubuh istrinya yang sudah segar dan mengeluarkan aroma wangi khas dari tubuh Malika yang selalu memabukkan penciumannya. Tidak kuat menahan hasratnya. Rei menarik ujung handuk yang membelit tubuh istrinya. Dengan kecekatannya terpampanglah dua buah pepaya yang menggantung indah di dada Malika seakan memanggilnya untuk memetik buah itu dengan mulut nakalnya.


"Sayang, kau selalu menghalangiku untuk beraktivitas yang lain, kamu selalu membuatku bergairah dengan godaan tubuhmu," ucap Rei dengan suara berat saat tubuh istrinya sudah di dorong ke pinggir kasur.


Dalam sekejap dua buah yang sedang ranum itu di lum**tnya secara bergantian, Malika yang menginginkan suaminya juga saat itu menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh mulut suaminya pada dadanya.


"Ssstt.ahh, Rei sayang, teriakan merdu Malika seakan mendendangkan lagu erotis yang membakar jiwa suaminya. Setelah puas melahap buah yang tidak bisa ditelannya itu Rei beralih di bagian bawah tubuh istrinya dengan membenamkan wajahnya, membiarkan dirinya merasakan setiap tetesan yang keluar dari inti tubuh istrinya untuk dinikmati sore itu, dirinya tidak lagi perduli panggilan dokter dari ponselnya yang kembali berdering.


Sampai akhirnya tubuhnya sudah menyatu dengan milik istrinya melakukan olahraga itu kembali menggapai puncak kenikmatan untuk direguk berdua. Kepuasan yang telah mereka raih, kecupan lembut kedua bibir itu terlepas seakan sebagai ucapan terimakasih dari hati mereka karena sama-sama sudah saling memberi dan menerima kenikmatan yang mereka berikan pada tubuh mereka sebagai nutrisi hati sore itu. Keduanya kembali membersihkan diri kemudian mengenakan baju formal untuk kembali ke rumah sakit mengambil hasil tes DNA putra mereka.


🌷🌷🌷


Malika dan Rei berada di ruang kerja dokter Steven, dokter itu memberikan hasil penelitian dari sampel yang di berikan Rei padanya tadi pagi. Rei mengambil amplop putih itu dan membuka hasil tes DNA yaitu 99,9% EZRA adalah anak kandungnya. Rei dan Malika langsung pamit pada dokter Steven yang tersenyum haru melihat perjuangan sahabatnya itu saat mereka masih kuliah di kampus yang sama, hanya berbeda jurusan.


"Terimakasih dokter Steven," ucap Rei dengan pelukan gaya cowok keren.


Dan Malika hanya sebatas menjabat tangan dokter, sahabat suaminya itu. Keduanya sudah kembali ke jalanan ibukota Wina dengan mobil mewah yang membawa mereka ke kediaman nyonya Andien.


Tapi sebelumnya Rei sudah mengirim pesan untuk Sarah mengabarkan kedatangan mereka dengan membawa hasil tes DNA yang akan mereka berikan kepada nyonya Andien. Mobil mewah itu bergerak cepat dengan kecepatan di atas rata-rata, atas perintah Reinaldi pada stafnya yang sedang menyetir mobil itu.


Malika tidak berhenti mengucapkan doa dan dzikir memohon kekuatan dan kelancaran untuk urusan mereka. Jantungnya seakan ikut berlari dengan kecepatan mobil yang mereka tumpangi. Hembusan nafas berat tidak mampu mengusai emosionalnya saat ini setelah sekian lama ia berpisah dengan putranya.


Air matanya terus berderai mengingat dirinya melahirkan putranya dengan penuh perjuangan dan ketegangan di tengah situasi yang sangat mencekam saat itu. Rei memeluk istrinya tanpa mengatakan apapun karena ia sendiri saat ini sedang memikirkan sesuatu entah itu apa yang saat ini ada di dalam pikirannya.


Tidak lama mobil itu berhenti tepat di depan pintu gerbang kediaman nyonya Andien.


Rei segera turun dari mobil, dan tidak lupa membukakan pintu mobil untuk ratunya itu, keduanya masuk melalui berbagai pertanyaan dari para penjaga keamanan rumah nyonya Andien.


Saat mereka sudah masuk ke dalam rumah yang di antar oleh dua orang pelayan rumah mewah itu menuju ke ruang tamu, nampak nyonya Andien yang sedang turun dari tangga rumahnya begitu kaget melihat Malika dan lebih kaget lagi saat ia melihat Reinaldi bersama mantan menantunya itu.


"Kamu??"


Penampakan wajah cantik Malika.

__ADS_1



__ADS_2