
Malika mengutarakan keberatannya ketika nyonya Ambar ingin mengadakan pesta Megah untuk dirinya dan Reinaldi. Semua nampak gelisah menanti Malika menyampaikan keraguannya.
"Terimakasih mami, papi dan Rei, aku bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga ini, apa lagi perhatian kalian yang membuatku sangat terharu, tapi mengingat keadaan keluargaku yang saat ini sangat memprihatinkan, aku tidak bisa bahagia sebelum semuanya teratasi."
"Apakah ini mengenai orangtuamu, sayang," tanya nyonya Ambar sambil membelai rambut Malika.
Malika menarik nafas lembut, menghembusnya dengan perlahan, kubangan bening sudah merambah memenuhi area matanya, walaupun ditahannya namun sayangnya tumpah jua.
"Belum ada kabar dari hilangnya orangtuaku sampai saat ini, aku juga harus kehilangan perusahaan dan putraku yang belum jelas kematiannya, hal inilah yang membuatku sulit menjalani sesuatu yang mewah dan gemerlap sedangkan hatiku tandus di tengah gurun kepasrahan sampai aku sulit menemukan oase kebagian yang sudah terkikis oleh takdir yang mengharuskanku menjalaninya tanpa memberiku pilihan," ucap Malika dengan nada parau.
"Jadi, apa yang kamu inginkan sayang supaya kami bisa mengatasinya satu persatu, apakah kamu ingin pernikahan ini ditunda dulu sampai semuanya stabil?," tanya Reinaldi yang tidak ingin membuat Malika merasa terpaksa dengan pernikahan yang diinginkan nya.
"Tidak Rei, aku tidak minta menundanya tapi aku hanya ingin cukup melaksanakan prosesi pernikahan secara agama saja tanpa ada pesta, aku ingin kamu menjadikanku syah di hadapan Allah dan di mata hukum negara kita."
Mendengar penjelasan Malika, Rei spontan memeluk gadisnya, hatinya sangat terenyuh, diapun menangis bahagia sedangkan tuan Romi ikut memeluk istrinya yang menatap pasangan dihadapannya dengan bersimbah air mata bahagia.
"Alhamdulillah, terimakasih cinta, aku tidak salah memilihmu dan kamu adalah hasil dari buah kesabaranku yang selama ini telah bersusah payah mencarimu, merindukanmu setiap saat bahkan menangis untukmu karena terlalu merindukanmu," ucap Rei yang masih memeluk erat kekasihnya.
Rei mengecup puncak kepala belahan jiwanya itu dan Malika membenamkan wajahnya pada dada bidang lelakinya.
Sesaat ada panggilan telepon masuk dari seseorang untuk tuan Romi, lelaki yang makin gagah dan tampan walaupun usianya sudah senja menerima panggilan itu lalu menjauh dari keluarganya.
Di sisi lain nyonya Ambar, Malika dan Rei masih membahas kisah hidup Malika yang selamat dari kejaran penjahat yang menyerang kediamannya sampai dia dan putranya berakhir di rumah sakit milik Rei
"Astaga, jadi tiga bulan lalu kamu dan putraku dirawat di RS milikku?"
"Tentu saja aku sengaja memilih RS milikmu supaya aku mudah menghubungimu, sayangnya kamu terlalu angkuh Rei saat aku jatuh ditabrak seseorang di koridor rumah sakit tepat di hadapanmu, kamu dengan cueknya berlalu tanpa sedikitpun melirik ke arahku."
"Tunggu!!
"Jangan bilang kalau saat itu ada seseorang memanggil namamu?," tanya Rei yang gemas menatap Malika."
"Iya sayang, saat itu perhatianku teralihkan ingin memanggilmu atau menghampiri Rena kepala pelayanku yang saat itu berlari ke arahku."
Rei bangkit berdiri sambil mengepalkan tangannya menatap Malika dengan wajah memerah, rasanya tidak percaya dengan kelakuan gadis lugu ini yang membuatnya murka sekaligus gemas. Nyonya Andien yang tidak mau ikut campur urusan anak muda ini hanya diam menyimak perdebatan sengit pasangan ini.
__ADS_1
"Ya Allah Malika, kau..oh!!
"Hanya selangkah lagi Malika kita bisa bertemu saat itu dan aku bisa melihat putraku dan juga bisa melafazkan azan pada babyku dan semuanya akan lebih mudah teratasi jika saja kamu tidak terlalu piara sifat egoismu itu."
Malika kembali tertunduk sedih, rasa bersalahnya terus diingatin Rei, kebodohannya yang menipu dirinya membawa bencana untuk putranya.
"Andai saja di malam naas itu kamu meneleponku secepatnya kau akan melahirkan di tempat yang seharusnya ibu hamil datangin bukan bersembunyi menyusahkan dirimu dan baby kita, anakku akan aman bersamaku dan kamu ditangani dengan dokter-dokter hebat di rumah sakit kita."
"Rei aku mohon maafkan aku, ampuni aku, hiks!..hiks!..
Aku tahu aku yang menyebabkan semuanya ini terjadi, tolong maafkan aku, jangan terus-terusan menghakimiku, tahukah kau hatiku sudah seperti apa saat ini, terluka berdarah bahkan sudah infeksi jika perlu angkat saja hatiku supaya aku tidak lagi merasakan sakitnya," pinta Malika yang sudah duduk berlutut sambil mengatupkan kedua tangannya pada Rei.
Nyonya Ambar hanya menangis dan menangis, diam-diam dirinya sangat kecewa dengan calon menantunya ini, entah terlalu polos atau ingin menghukum putranya, tapi gadis ini sudah menyebabkan dia kehilangan cucu kandungnya.
"Dan satu lagi sayang, kamu sangat nekat berurusan dengan mafia perusahaan, tanpa memperhitungkan konsekuensinya dan kau sendiri yang termakan dengan jebakanmu, kuakui kamu sangat jenius sayang tapi jenius tanpa perhitungan akan mematikan langkah yang berujung petaka."
"Sudah cukup Rei!!
Mau sampai kapan kamu menghukum calon menantuku?
Bukankah semuanya berawal dari kebodohanmu?
🌷🌷🌷
Perdebatan itupun berakhir, keduanya diam mengendalikan emosi masing-masing, sesekali pasangan muda saling mencuri pandang dan ketika manik mereka bertemu keduanya memalingkan wajah.
"Permisi nyonya, maaf saya menganggu, sekarang sudah waktunya makan siang nyonya, semua menu telah di hidangkan," ucap kepala pelayan Lani menginginkan keluarga tuan Romi untuk segera menuju ke ruang makan.
"Apakah hidangannya di siapkan ruang outdoor Lani ?"
"Iya nyonya sesuai permintaan nyonya tadi pagi dan menu yang di sajikan juga sesuai pesanan nyonya," jelas Lani pada nyonya Ambar.
"Ayo sayang Malika kita makan siang sayang, kamu harus kumpulkan kembali tenagamu untuk membalas calon suamimu," ajak nyonya Ambar menghibur Malika.
Malika masih duduk bersimpuh di lantai, tubuhnya masih lemas untuk berdiri. Tuan Romi memberi kode pada Rei dengan memajukan wajahnya kepada Putranya supaya Rei membujuk gadis cantik itu berdiri, tuan Romi meninggalkan pasangan muda ini mengikuti langkah istrinya yang sudah duluan menuju ruang makan. Rei yang mengerti perintah papinya menghampiri Malika dengan wajah yang masih tertunduk.
__ADS_1
"Sayang, aku mohon maaf atas sikapku yang keterlaluan padamu."
"Aku yang seharusnya meminta maafmu padamu Rei, benar apa yang dikatakan bundanya mas Arie kalau aku ini wanita sial," ucap Malika sambil menutup wajahnya.
"Ssst!.. nggak boleh bicara begitu Malika semua yang terjadi adalah bagian dari takdir, tidak ada yang tahu takdir seperti apa yang akan dijalankan setiap manusia, Allah hanya memberikan kita solusi hanya saja yang tidak peka dengan cara Allah menolong kita. Jika dari awal kamu bertindak dengan benar mungkin takdir baik akan berpihak pada kita."
"Dasar, manusia nggak jelas tadi mengomeliku habis-habisan sekarang seenaknya dia menasehatiku," sungut Malika membatin.
"Kita makan ya cantik, kasihan papi dan mami sudah menunggu," ajak Rei sengaja menggunakan orang tuanya untuk bisa meluluhkan hati gadisnya.
Karena Malika diam saja, Rei mengangkat tubuh Malika ala bridal style, Malika yang kaget langsung mengalungkan tangannya ke leher pria tampan ini dengan saling menatap.
Hanya mata mereka yang berbicara betapa keduanya sudah saling membutuhkan.
"Sayang!"
Panggil Rei pada gadisnya sambil melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Hmm"
Malika hanya berdehem menjawab panggilan Ray dalam gendongan kekasihnya.
"Rasanya aku tidak ingin makan siang sayang."
"lha, bukannya kamu yang mengajakku makan barusan."
"Tapi aku nggak selera dengan makanan."
"Terus, kamu mau makan apa siang ini."
"Rasanya aku ingin memakanmu sayang, selera makanku ada pada tubuhmu sayang."
"Husst!!
"Dasar mesum."
__ADS_1
"Nanti sayangkuh, bentar lagi kita akan dihalalkan sama pak penghulu," ucap Malika sambil memencet hidung bangir milik Ray.
Keduanya kembali tertawa, tak terasa mereka sudah sampai di meja makan. Dua pasang mata memperhatikan pasangan yang selalu pasang surut dalam hubungan cinta mereka. Ray menurunkan peri tidurnya kemudian menarik kursi untuk Malika duduk dan kursinya ditarik pelayan untuk didudukinya. akhirnya makan siangnya dimulai sebelumnya doa yang dipanjatkan mereka untuk mendapatkan keberkahan dari Allah atas rejeki hari ini. Canda tawa terus berlangsung seru, wajah Malika kembali cerah dengan kecantikan yang tampak menggoda iman seorang Rei yang makan sambil menikmati wajah cantik Malika yang tidak pernah membuat bosan lelaki tampan ini. Para pelayan wanita hanya saling melempar senyum melihat pasangan yang sangat serasi ini. Mereka tidak bisa menampakkan rasa iri pada Malika yang memiliki paras wajah sempurna dan segudang prestasi gemilang apalagi dari kalangan hebat, bukan saingan mereka untuk merebut perhatian tuan muda mereka.