Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
PERTENGKARAN 2


__ADS_3

Sebuah pertengkaran adalah awal kehancuran yang berakhir dengan penyesalan, kata-kata yang terucap untuk lawannya adalah ungkapan kekecewaan seseorang yang berubah menjadi luapan amarah yang menimbulkan ketegangan pada syaraf dan terekspresi lewat wajah, itulah yang terjadi pada Rei yang meluapkan amarahnya karena rasa kecewanya pada Malika yang selama ini menutupi kebenarannya karena keangkuhannya. Karena keangkuhannya jua keduanya harus kehilangan putranya.


Setelah pertengkaran keduanya usai dan diakhiri dengan ciuman panas mereka Malika hanya diam terpaku menatap bingkai foto dirinya yang sedang tidur bersama lelaki yang ada di sampingnya saat ini, yah foto yang diambil Rei saat Malika Rawat di rumah sakit di negara A setahun yang lalu. Malika turun dari tempat tidur Rei menghampiri bingkai foto itu yang bertulis,


"I miss you my wife"


"Rei, mengapa kita bisa foto berdua dengan posisi aku tidur?," tanya Malika yang tetap menatap foto itu tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Rei duduk.


"Menunggumu sadar belum tentu kau ingin foto bersamaku Malika."


"Ah, kau ini nggak sopan, sudah mengambil fotoku seenaknya," sungut Malika dengan memasang wajah ngambek.


"Dari mana kamu mengetahui semua identitasku sayang?," tanya Rei yang masih penasaran ketika Malika langsung mengenalinya sesaat setelah siuman tempo hari.


"Itu mudah bagiku Rei, karena ponsel pintar milikku yang bisa meretas akunmu tanpa sepengetahuanmu, bahkan ponsel ku memperlihatkan semua adegan saat kita bercinta di Apartemenmu di negara A."


"Apa!!, bukankah ponselmu mati saat itu karena kehabisan baterai?"


"Jelas saja ponselku kelihatan mati Rei karena ponsel pintar itu bisa dihidupkan dengan menempelkan telapak tanganku pada permukaan ponsel, cara kerjanya memang seperti itu menyesuaikan suhu tubuh pemilik ponsel sesuai DNAnya , tapi ponsel itu tidak mati, posisinya masih dalam keadaan hidup, setiap sisinya memiliki kamera yang berfungsi untuk merekam kejadian sekitarnya dan meretas semua CCTV diarea ponsel pintar itu berada tanpa disadari oleh orang yang berada disekitarnya dan juga tanpa diketahui pemilik CCTV kalau data mereka sudah dibobol oleh ponsel ku," jelas Malika panjang lebar kepada Rei tentang keunggulan ponsel miliknya.


"Jika kamu sudah tahu tentangku kenapa tidak mendatangiku meminta pertanggungjawaban dariku saat tahu dirimu hamil? dan aku dengan senang hati menerimamu dan tidak perlu susah payah mencarimu di setiap sudut kota," ucap Rei dengan mata nyalang menatap Malika.


"Jadi kamu hanya mau bertanggung jawab atas diriku hanya aku hamil anakmu? dan setelah aku melahirkan anakmu, kau mengambil putraku saja?," timpal Malika nggak kalah sengitnya menatap manik lelaki yang sudah membuat hidupnya dalam neraka.


"Tentu saja tidak Malika, kau dan anak kita sudah menjadi satu paket


yang harus aku miliki karena aku menginginkanmu lebih dari hidupku Malika," ucap Rei melemah dengan suaranya yang sudah bergetar menahan tangisnya.

__ADS_1


Malika hanya melihat kesedihan di mata Rei, tidak ada kebohongan di sana, ketulusan lelaki ini sudah dilihatnya dari awal kehamilannya, namun sayang keegoisannya telah memporak porandakan hidupnya karena ulahnya sendiri.


"Maafkan aku Rei, telah menghukummu begitu lama karena hatiku sangat sakit atas perlakuanmu padaku saat aku tidak sadarkan diri karena kematian suamiku."


Rei langsung memeluk tubuh Malika, meluapkan rasa penyesalannya karena tidak bisa mengendalikan hasrat birahinya saat itu. Rei meraup wajah Malika dengan jarinya, menatap manik Malika dengan tatapan sendu.


"Andai saja kau tahu keadaanku yang sebenarnya Malika, mungkin aku akan mendapatkan maaf darimu sayang, " Ujar Rei membatin yang masih tetap menatap dalam wajah cantik Malika.


Rei mengulum bibir Malika dengan lembut, Malika menikmati sentuhan bibir pria dihadapannya ini, entah kapan dirinya mulai jatuh cinta pada lelaki ini, ketika pertama kali mengetahui identitas tentang pria ini hatinya sudah bergetar.


"Permainan takdir seperti apa ini, yang jelas aku membutuhkan dirinya."


Malika larut dalam ciuman panas Rei dan membalas pagutan lidah Rei yang sudah masuk menemui lidahnya untuk mempertemukan kerinduan mereka dalam sensasi ciuman panas keduanya sampai nafas tersengal dan pagutan lidah dan bibir itu terlepas.


"Kendalikan dirimu Rei, jangan membuat kesalahanmu yang sama," ucap Malika mengingatkan ayah dari putranya.


"Cepatlah kita menikah sayang supaya aku tidak selalu merasa tanggung memperlakukanmu," pinta Rei menatap Malika dengan setengah memohon pada gadisnya.


"Malikaaaaa!!....aku mencintaimu...aku sangat mencintaimu...aku mencintaimu!!"


Malika tertawa lepas dalam gendongan lelaki yang sudah mencuri separuh jiwanya itu.


"Cukup sayang!!,... turunkan aku, kepalaku pusing Rei," pinta Malika manja pada Rei.


Rei menghentikan putarannya lalu kembali mengecup bibir kenyal itu sesaat dan menurunkan tubuh Malika.


"Maaf sayang, aku terlalu senang sehingga membuatmu pusing."

__ADS_1


"Kita temuin papi dan mami yuk, kasihan mereka pasti lagi cemas menunggu kita dibawah sana, " ajak Malika kemudian pada Rei.


"Baiklah bidadariku, kita sampaikan berita gembira ini supaya mereka cepat mempersiapkan acara pernikahan kita, tapi aku gendong kamu ya sayang!!"


"Aku bisa sendiri sayang, kakiku tidak sakit. "


"Tapi aku pingin gendong kamu, ayolah Malika."


"Malu Rei sama orangtuamu dan para pelayan disini, mereka akan mencibirku, jagalah harga diriku Rei sampai kamu memiliki hak atas diriku, dengan begitu perlakuan mesramu padaku tidak akan dianggap tabu oleh orang lain walaupun dalam rumahmu sendiri."


"Maafkan aku sayang, tidak bisa berpikir sejauh itu tentang dirimu, aku akan menunggu saat itu tiba daaannn aku tidak akan pernah melepaskan tubuhmu sedetikpun," ujar Rei sambil menggetik pinggang ramping Malika.


Malika tertawa geli dan memohon Rei melepaskannya, Rei menghentikan tingkahnya lalu merangkul pundak gadisnya mengajak malika keluar dari kamarnya.


Orang tua Rei bangkit dari duduk mereka saat melihat pasangan yang sedang bertengkar tadi turun dengan wajah ceria.


"Ehhhmm!!.. ehhhmm..!!"


"Habis ngapain kamu Rei Kelihatan senang sekali, seloroh papi Rei pada putranya."


Rei hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan Malika hanya tertunduk malu dihadapan calon mertuanya.


"Papi, mami kami ingin pernikahan kami dipercepat, karena Rei ingin sekali memiliki Malika dengan cara yang halal, Malika sudah siap menerima Rei menjadi suaminya.


"Benarkah, kalau begitu selamat sayang, mama akan membuat pesta pernikahanmu yang paling mewah di abad ini," ucap nyonya Ambar dengan wajah berbinar-binar seakan menang mendapatkan lotre.


"Jangan!"..jangan merayakan pernikahan kami secara megah dulu, mami!!"

__ADS_1


"kenapa sayang?, apa yang salah dengan yang kami rencanakan untuk pernikahan kalian," tanya nyonya Ambar heran menatap wajah Malika yang terlihat cemas memikirkan sesuatu.


"Itu karena Malika....emmmm..emm!!,"ucap Malika yang bingung menjelaskan keadaan dirinya kepada keluarga kekasihnya.


__ADS_2