
Malika menutup kisahnya setelah menceritakan kisah pernikahannya yang secepat kilat hingga akhirnya dia jatuh pingsan di halaman parkir rumah sakit persis di samping mobil Rei.
🌷🌷🌷
Rei mengajak Malika untuk kembali ke pembaringannya supaya beristirahat. Malika menuruti perintah Rei, Rei membantunya menaiki brankar dengan menggendong tubuh Malika secara spontan tanpa meminta izin kepada Malika.
Malika terpekik kaget saat tubuhnya dibopong Rei dan meletakkan tubuhnya di atas kasur brankar rumah sakit.
Wajahnya bersemu merah dan buru-buru mengalihkan wajahnya ke arah jendela kamar rumah sakit.
Rei sengaja memperlakukan Malika layaknya suami pada istrinya walaupun Malika tidak menyukainya. Mungkin menjaga gengsi atau masih risih di depan Rei, Malikapun bingung dengan perasaannya sendiri, entah kenapa jantungnya terus berdetak kencang saat bersama Rei.
"Aaa!! kenapa nih jantung nggak bisa diam sih," ujarnya membatin.
Rei yang melihat Malika yang merasa salah tingkah padanya menahan geli.
"Tidurlah Malika aku akan tetap disini bersamamu," pinta Rei sambil membenahi anak rambut gadis ini.
"Kamu nggak ke kantor?" Malika balik bertanya menatap manik Rei.
Rei tersenyum lalu menggenggam tangan lembut Malika.
"Apakah kau merasa terganggu aku menemanimu disini?," tanya Rei yang langsung mengecup punggung tangan Malika.
Lagi-lagi debaran jantung Malika kembali berdegup, Malika berusaha menarik tangannya dalam genggaman tangan Rei namun Rei menahannya, seraya berkata,
"Tidak sayang, biarkan aku menggenggam tanganmu, aku juga ingin menceritakan apa yang telah kulakukan padamu dan akibatnya kau mengandung putraku sendirian.
Aku mengetahuinya setelah dokter mengatakan bahwa kamu mengalami pendarahan paska dua minggu melahirkan saat kamu mengalami kecelakaan tempo hari.
Aku menebak-nebak anak siapa yang telah kamu lahir, apakah kamu sudah menikah setelah kita berpisah, tapi dalam hati kecilku aku berharap bahwa aku adalah ayah dari bayimu karena aku yang telah merenggut kesucianmu," jelas Rei pada Malika dengan raut wajah sedih.
"Maafkan aku Malika, yang tidak bisa mengendalikan diriku saat desakan birahiku yang telah mengusai hati dan pikiranku sampai merasuki jiwaku yang meronta dan nekat menggagahi mu malam itu," jelas Arie lagi.
"tok!!.. tok!!"
Dari luar terdengar perawat yang mengetuk pintu.
"Grekk!!
Rei pun menoleh melihat ke arah pintu, rupanya pintu itu sudah dibuka oleh perawat yang mengantar obat dan puding coklat untuk Malika.
Perawat meletakkan obat dan puding di atas meja tepat disamping brankar Malika.
Perawat itu keluar setelah pamit pada Rei.
🌷🌷🌷
Rei kembali mengisahkan awal mulanya bertemu dengan Malika hingga akhirnya dia kehilangan Malika.
(sambungan bab 2)
Malam itu di negara A saat dirinya melucuti semua pakaian basah gadis itu karena hujan ketika Rei menemukannya di samping mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit.
Saat itu dirinya begitu terkesima menatap tubuh molek indah dengan lekuk tubuh yang sangat proporsional.
Rei meneguk salivanya dengan kasar.
Degup jantungnya sudah tak berirama lagi dengan normal.
Tubuhnya bergetar karena tersihir dengan lekuk tubuh gadis yang ada dihadapannya.
Tiba-tiba tubuhnya merasakan rangsangan hebat melihat kemolekan tubuh gadis yang tak lain adalah Malika.
Malika meracau mengeluarkan kata-kata rengekan manja dengan membuka netranya setengah menatap wajah tampan Rei.
"Ohhh!!...sayang, gadis itu mulai bergumam sambil bergerak menggeliat pelan dengan suara lirih, sayang jangan tinggalkan aku," racau Malika lagi.
Rei mendengar celoteh dari bibir wanita itu, Rei mencoba mengendalikan perasaannya, tapi Rei merasa heran dengan perubahan reaksi tubuhnya.
__ADS_1
"kenapa kejantananku mulai bereaksi," batinnya.
Kini makin terasa bengkak memenuhi celana boxernya, sesaat hatinya sangat senang karena reaksi ini seperti keajaiban untuknya hanya dengan melihat tubuh gadis ini, padahal dari dulu banyak gadis cantik wara wiri di kantornya dengan pakaian seksi, kadang-kadang ada yang sampai nekat membuka baju mereka demi bisa tidur dengan lelaki tampan ini, yang memiliki kulit sedikit coklat, hidung mancung, bibir seksi, rahang kokoh membentuk wajah dengan pahatan persegi, matanya tajam dengan kelopak mata besar dihiasi iris yang membentuk busur panah, wajah sempurna yang dimilikinya hasil dari pernikahan blesteran kedua orangtuanya dari keturunan Belanda, Timur tengah dan Jawa.
Sayangnya para gadis itu tidak bisa menaklukkan pria sukses ini yang memiliki berbagai perusahaan yang sebagian besar sudah menguasai Eropa.
"Sayang jangan tinggalkan aku," racau Malika lagi.
Rei mendengar celoteh dari bibir wanita itu, Rei mencoba mengguncang tubuh gadis itu untuk menyadarkannya, tapi sejenak Rei memegang kening Malika.
"Yah Tuhan tubuhnya sangat panas..dia demam.. bagaimana ini?"
Rei mengangkat tubuh indah itu memindahkannya di kasurnya lalu ditutupnya wanita itu dengan selimut dengan perlahan.
Malika meracau lagi dengan mata sedikit terbuka lalu memanggil lelaki dihadapannya, Malika mengira lelaki ini suaminya.
"sayang peluk aku, cium aku," racau gadis itu.
Rei makin tergoda dengan racauan dari mulut gadis itu dia berusaha meredam gairahnya yang sudah mengubun tapi gadis ini malah memeluknya.
Rei yang sudah tidak tahan langsung ******* bibir sensual itu.
Lumatannya makin panas bermain dalam rongga mulut gadis itu saling mengerjap, saling meneguk saliva keduanya mendesah menikmati permainan panas mereka.
Kemudian Rei mulai beralih mengecup leher jenjang milik gadis itu, lalu mencium setiap jengkal tubuh gadis itu dan beralih dibelahan bagian da*a gadis itu.
Rei kembali mencium aroma tubuh gadis itu betapa wangi dan makin menggoda pertahanannya.
******* dari mulut gadis itu seakan menyemangatinya, Rei bangkit menyatukan tubuhnya memasuki tubuh gadis itu kemudian tubuhnya merasa bergetar melepaskan cairan hangat kedalam rahim gadis itu.
Setelah melakukan pelepasan Rei menyibak selimutnya, dia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Saat selimut itu tersibak, betapa terkejutnya Rei melihat bercak darah yang membasahi seprei, hatinya menciut menyadari gadis ini masih suci.
"Ya Tuhan apa yang telah kulakukan pada gadis ini?" sesalnya kemudian.
Dia mendekati wajah gadis itu yang mulai kembali tertidur setelah mendapatkan kenikmatan yang tiada tara dari seorang Rei yang dianggap suaminya. Rei mengecup bibir itu dengan mata berkaca-kaca.
Rei bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
🌷🌷🌷
Sinar matahari mulai tersenyum menapaki bumi membangunkan penghuni bumi dengan sinar lembut nya yang mulai menggelitik mata manusia yang masih enggan untuk meninggalkan tempat tidur mereka untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan Rei salah satu anak manusia yang masih menikmati mimpi yang membawanya ke surga dunia yang baru dirasakannya begitu melelahkan, namun kenikmatan yang telah menyusup sendi-sendi tubuhnya seolah mengakhiri usahanya selama ini untuk bisa sembuh.
Entah berapa angka yang sudah dihabiskannya dan belahan bumi mana yang dipijaknya hanya ingin merasakan kejantanannya bisa berfungsi layaknya lelaki normal yang hanya berfantasi liar saja sudah bereaksi.
Tapi kehadiran Malika bagai dewi fortuna untuk dirinya.
Tapi kesenangan itu mulai terganggu saat Rei merasakan hawa panas dan terdengar erangan sakit yang keluar dari lisan gadis yang disampingnya.
Rei terhenyak saat kembali meletakkan tangannya pada kening gadis di sampingnya .
"Ya, Tuhan, kenapa tubuhnya demam lagi, bagaimana ini?," batinnya.
Rei bangkit dan segera ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dengan cepat dengan terburu-buru lalu berpakaian
dengan pikirannya mulai kacau.
Rei memesan beberapa baju untuk gadis ini dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, lalu mengambil air hangat dan handuk kecil lalu mulai mengompres kening gadis itu.
Wajahnya sangat tegang takut terjadi apa-apa dengan gadis ini.
Dia mulai mencari identitas wanita ini sayangnya Rei hanya menemukan ponsel wanita itu.
Ponsel itu seperti kehabisan baterai, Rei kembali memegang kening wanita ini demamnya malah makin tinggi, dia langsung segera menelpon dokter Edward untuk meminta dokter itu datang ke apartemennya.
Tidak lama kemudian seseorang memencet tombol apartemennya saat dia membuka pintu rupanya kurir yang datang membawa barang pesanannya.
__ADS_1
Rei mengambil salah satu dress yang cocok untuk gadis itu, kemudian memakaikan gadis itu pakaian dalam, serta dress hijau muda pada tubuh gadis itu, Rei menggenggam tangan mulus gadis ini.
"Hai .. cantik ada apa denganmu?,
apa yang terjadi dengan hidupmu?, mengapa kamu belum sadar juga?, padahal semalam kita sudah bercinta dan sekarang kau kembali lagi demam dan tidak mau membuka matamu.
Apa yang terjadi sayang?, Rei mulai menangis walaupun, dia baru bertemu dengan gadis ini tapi Rei merasa seakan gadis ini sudah menempatkan dirinya dalam jiwa Rei."
🌷🌷🌷
Bell kamar apartemen Rei kembali berbunyi Rei lekas menghampiri pintu membuka pintu itu .
"Selamat pagi Tuan Rei," sapa dokter Edward pada Rei.
"Pagi dokter, maaf menganggu anda pagi ini," balas Rei.
Dokter Edward menanyakan keadaan Rei, tapi Rei menjelaskan keadaannya sangat baik tapi yang sakit adalah seorang gadis.
Dokter Edward nampak heran,
diapun menanyakan keberadaan gadis itu, keduanya bergegas ke kamar Rei.
Dokter Edward mulai memeriksa keadaan gadis itu dan mulai mendiagnosa apa yang sedang dialami Malika, lalu dokter bertanya bagaimana gadis ini bisa bersama dengan Rei.
Rei menceritakan segalanya pada dokter Edward supaya memahami situasi yang saat ini sedang dihadapinya.
Antara heran dan takjub dokter Edward tersenyum sambil mengucapkan selamat pada Rei.
"Tuan Rei, pengobatan kita berhasil, ternyata gadis ini yang sudah mengobatimu," ucap dokter Edward sambil tersenyum ke arah Rei.
Rei senang mendengar penuturan dokter tentang kesembuhan kejantanannya, tapi senyum itu surut seketika melihat gadis ini yang masih belum sadar.
"Dokter bagaimana dengan gadis ini, apa yang terjadi," tanya Reinaldi.
Dokter Edward menjelaskan "sepertinya gadis ini mengalami guncangan hebat karena ada suatu peristiwa yang sedang dihadapinya, tapi entah apa itu dan gadis ini mengalami dehidrasi, sebaiknya bawa dia ke Rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif," titah dokter Edward pada Rei.
Derr!!
Bagaikan disambar petir Rei sangat shock mendengar penjelasan dokter Edward tentang bidadarinya.
Dokter Edward menelpon rumah sakit untuk mengirim mobil ambulance menjemput pasien di apartemen Rei.
Setibanya ambulance di rumah sakit gadis itu di bawa ke ruang IGD dan langsung ditangani oleh dokter jaga.
Rei menunggu dengan sabar sambil melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, Rei terus memanjatkan doa supaya gadis itu tidak parah sakitnya. Tidak lama dokter keluar dan Rei langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana dokter, apa yang sedang terjadi dengan
kekasih saya?," tanya Rei.
"Benarkah kamu kekasihnya tuan Rei?," tanya dokter Robert yang sudah mengenal siapa Rei.
Rei adalah salah satu pemilik maskapai penerbangan dan juga pemilik perusahaan pembuat pesawat jet pribadi di negara J untuk kalangan orang-orang hebat di dunia.
Wajahnya sudah wara wiri di kancah dunia dan terkenal di majalah bisnis internasional. Rei mengulang lagi pertanyaan pada dokter Robert. Dokter Robert balik bertanya pada Rei dan mengulang lagi pertanyaannya.
"Apa gadis itu kekasihmu?," ledek dokter Robert .
"Iya!!"
"Emangnya ada apa dokter?," tanya Rei geram melihat dokter yang sedikit santai menanggapi pertanyaannya.
"Sepertinya beberapa hari ini gadismu tidak makan dan gadismu mengalami depresi berat, kalau memang benar gadis itu kekasihmu pasti dia baik-baik saja."
Derrr !!
Rey termangu mendengar jawaban dokter Robert barusan setelah memeriksa keadaan gadis itu .
"Jika kau kekasihnya kenapa kau tega membiarkannya hampir mati kelaparan dan mengapa dia mengalami depresi?," tanya dokter Robert pada Rei yang kelihatan sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Setelah itu dokter Robert pun pamit meninggalkan Rei yang masih berdiri mematung.
"Ya Tuhan, mengapa aku mengambil kesempatan saat wanita itu membutuhkan perlindungan, dasar bodoh!.. bodoh!!, Rei memukul kepalanya merasa menyesal setelah mengetahui keadaan gadisnya.