Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"PENOLAKAN"


__ADS_3

Pesta telah usai, semua tamu undangan dan para kerabat telah kembali ke kediaman mereka masing-masing, begitu pula dengan keluarga kedua mempelai.


Mereka sangat lega karena semuanya lancar sesuai rencana walaupun ada insiden kecil terjadi pada mempelai wanita namun semuanya bisa teratasi oleh IO sebagai panitia acara.


Malam makin larut, gedung hotel yang ditempati oleh pengantin baru di salah satu kamar di hotel itu telah terjadi suatu awal yang indah dari kisah cinta yang dirajut oleh pasangan suami istri ini yang baru berusia sehari. Sentuhan demi sentuhan terjadi dikamar itu, keduanya tidak lagi memakai sehelai benangpun, pagutan bibir dan des**an yang terlontar dari mulut keduanya memiliki irama erotis tersendiri bagi keduanya, namun sayang hal yang diinginkan oleh sang suami pupus ditengah-tengah percintaan mereka ketika gelora cintanya mulai menggebu memaksa birahinya meraih mahkota sang istri. Malika spontan menolak saat Rei ingin memasuki tubuhnya, gadis ini tiba-tiba mengingat percintaan yang pernah dilakukan oleh Rei yang sekarang ini sudah menjadi suaminya yang sah sesuai keinginannya.


"Rei, maafkan aku sayang, tolong aku belum siap," ucap Malika dengan mendorong tubuh Rei yang ingin menyatukan tubuh mereka.


"Apa yang salah sayang, kenapa kamu menolakku?," bukankah aku suamimu sekarang hmm?" tanya Rei lembut walaupun dalam hatinya merasakan sakit karena penolakan istrinya.


"Aku belum siap, aku masih takut, apa lagi bercinta dengan lelaki yang sama yang telah merenggut kesucianku, saat aku dalam keadaan tidak sadar, kumohon Rei jangan memaksaku," ucap Malika dengan wajah sendu sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Sayang aku minta maaf, aku mengira kamu sudah melupakannya dan memaafkan aku yang sudah membuatmu menderita, jika kamu belum siap tidak mengapa asalkan aku sudah berada disisimu setiap waktu.


Aku akan bersabar menunggumu dan rela terluka demi dirimu, asalkan kau ada disisiku, itu sudah membuatku bahagia.


Baiklah sayang, kenakan kembali baju tidurmu, halangilah pandanganku agar aku tidak tergoda untuk menyentuhmu walaupun kamu dan tubuhmu adalah hakku," ucap Rei lalu meninggalkan Malika yang masih diam membisu.


"Ya Allah ampunilah hambaMu karena sudah durhaka padanya, tolong aku ya Robbi agar tubuhku menerima kehadirannya," pinta Malika yang sudah mulai menangis.


Rei kembali ketempat tidur di mana istrinya sudah mulai terlelap, dikecupnya pucuk kepala istrinya lembut kemudian ikut terlelap dalam satu selimut dengan istrinya Malika. Inilah ujian pertama pernikahannya setelah mendapat penolakan dari istrinya disaat malam pertamanya yang ingin mereguk manisnya cinta.


🌷🌷🌷🌷


Waktu subuh mulai menyapa penghuni bumi, dari jauh terdengar sayup-sayup kumandang adzan menggema, Malika bangkit membersihkan dirinya kemudian berwudhu membasuh setiap anggota dalam rukun wudhu. Dia tidak lupa membangunkan suaminya, Rei yang belum bisa menahan rasa ngantuknya kembali tidur, Malika mengguncang tubuh suaminya kembali, Rei akhirnya bangkit melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan langkah sedikit gontai. Malika sudah menyiapkan perlengkapan sholat untuk suaminya kemudian mereka melakukan ibadah sholat subuh berjamaah pertama kali sebagai suami istri. Usai sholat subuh Malika menyalami suaminya, Rei mengecup pucuk kepala istrinya.


"Sayang nanti setelah sarapan pagi di hotel kita cek out ya," ucap Rei kepada istrinya yang sedang merapikan kembali peralatan sholat yang mereka kenakan tadi.


"Kenapa buru- buru Rei cek out sayang," tanya Malika yang menatap wajah suaminya.


"Apa yang akan kita lakukan di tempat ini?, kita tidak sedang bulan madu, lebih baik kita pulang ke mansion," ucap Rei dengan wajah datar.


"Apakah kamu marah Rei?"


"Apakah saya boleh marah istriku?"


Malika menggigit sudut bibir bawahnya, rasa gelisahnya mulai menghinggapi pikirannya entah apa yang harus dijawabnya, ia tidak menyangka suaminya bersikap ketus terhadap dirinya.


"Ayo bersiap-siaplah sayang aku aku akan menelpon room boy hotel untuk membawa koper kita ke lobby hotel."


Malika hanya menurut permintaan suaminya dan tidak ingin bertanya atau menanggapi perkataan suaminya lagi, dirinya merasa serba salah menghadapi sikap dingin Rei pagi ini.


Malika hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, membiarkan semuanya berjalan apa adanya.


🌷🌷🌷


Pengantin baru ini memilih kembali ke mansion. Mobil Rei telah terparkir di halaman mansion, dua orang pelayan mengangkut koper pengantin baru ini. Rei merengkuh pinggang ramping Malika saat keduanya melangkah ke dalam mansion, nyonya Ambar menyambut kedatangan keduanya dengan perasaan bingung.


"Assalamualaikum mami!"


"Waalaikumuslam," sambut nyonya Ambar seraya cipika cipiki dengan menantunya Malika.


"Nggak jadi berangkat ke Bali sayang?," tanya nyonya Ambar kepada pengantin baru ini.


"Masih ada urusan penting dengan klien yang tidak dapat dihandle oleh Raffi mami," jawab Rei berbohong kepada maminya.


"Bulan madu kamu juga penting lho Rei, kasihan Malika kalau waktu untuknya disita oleh kamu buat kerja."


"Nggak apa mami, biarkan Rei selesaikan semua pekerjaannya, dulu baru kami berangkat bulan madu" ucap Malika gugup.


Kegugupan Malika ditangkap oleh firasat nyonya Ambar kalau hubungan suami istri ini sedang bermasalah, namun nyonya Ambar tidak ingin ikut campur dengan urusan keluarga putranya yang baru dibinanya dua hari.


"Kalau begitu kita sarapan dulu kebetulan kami belum sarapan," ajak nyonya Ambar kepada pengantin baru ini.


"Kami sudah sarapan mami di hotel sebelum balik ke sini," ucap Rei datar pada maminya.

__ADS_1


"Malika mau ke kamar saja mami, oh iya di mana orangtuaku mami?," tanya Malika yang sedang mengedarkan pandangannya ke semua ruangan.


"Semalam sudah pulang ke mansionmu Malika, katanya kangen sama rumahnya jadi usai pesta pak sopir langsung antar orantuamu ke sana," jawab nyonya Ambar.


"Baiklah, Malika pamit ke kamar dulu mau rehat sejenak," pamit Malika kepada ibu mertuanya.


🌷🌷🌷🌷


Sudah sepekan pernikahan Malika dan Rei berjalan, namun baik Malika yang masih belum move on dengan masa lalunya membuat suaminya makin frustasi.


Hari-hari yang dilaluinya terasa hampa, Malika sepertinya tidak mau tahu perasaan suaminya, Malika hanya menunggu hatinya yang berbicara dan tubuhnya yang menginginkan tubuh Rei suaminya.


Hari kedelapan Malika mulai merindukan orang tuanya, ia meminta izin suaminya untuk berkunjung ke tempat orang tuanya. Lagian sudah lama Malika belum pernah menginjak lagi istana dimana dirinya dibesarkan, tempat semua kenangannya tertinggal di sana. Malika beringsut dari lamunannya kemudian menghampiri Rei di ruang kerjanya.


"Sayang, apakah boleh aku mengunjungi mama dan papaku?," pinta Malika yang sedang mengalungkan tangannya dileher suaminya membelakangi kursi suaminya.


"Tentu saja boleh sayang tapi aku nggak bisa mengantarmu sekarang, kalau mau tunggu dua hari lagi kita berkunjung bersama ke keluargamu," tawar Rei pada istrinya.


"Tapi aku maunya besok sayang, kalau lusa kelamaan," bujuk Malika sambil mencebikkan pipinya.


"Bagaimana kalau kamu ditemenin mami?," tawar Rei lagi.


"Ok, setuju cinta, muuuaachhh," kecup Malika pada kedua pipi suaminya.


Rei hanya mengusap punggung tangan istrinya tanpa membalas hal yang sama karena dirinya begitu takut terbawa perasaan yang akan membuatnya tersiksa, hanya satu sentuhan dari Malika saja membuat senjata laras panjangnya bereaksi, Rei harus mengendalikan dirinya sekuat tenaga.


Malika kemudian mendatangi ibu mertuanya, mengajak ibu mertuanya itu mengunjungi mansion orangtuanya.


"Mami!"


"Iya sayang!"


"Mami besok tolong temanin Malika mengunjungi mama dan papaku ya," pinta Malika manja pada ibu mertuanya yang sedang nonton TV di ruang keluarga bersama papi Romi.


"Ok, siap sayang besok kita akan ke sana tapi janji ya nggak boleh nginap tanpa izin dari Rei hmm!"


"Rumah ini akan sepi kalau kamu nggak ada sayang," jawab nyonya Ambar lalu mencolek pipi Malika.


"Oh itu, ok deh siap ibu suri," jawab Malika seraya membungkukkan badannya di depan mertuanya.


Ketiganya terkekeh lalu bercanda ria seperti biasa, nyonya Ambar menyuapkan buah segar ke mulut menantunya. Keduanya tampak akrab seperti ibu dan anak tanpa ada batasan.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya Malika sudah siap berangkat bersama ibu mertuanya, keduanya di antar oleh sopir pribadi nyonya Ambar dengan mobil Ferrari hitam, sepanjang perjalanan Malika hanya memperhatikan jalanan ibukota,


tak terasa mobil mereka sudah memasuki halaman mansion tuan Daniel. Malika bergegas turun dan berlari namun langkahnya terhenti ketika melihat para pelayan yang berdiri menyambutnya.


"Selamat pagi nona muda, selamat datang kembali ke sini," ucap para pelayan serentak kepada Malika.


"Ya Allah kalian, kalian masih hidup, kalian selamat dari peristiwa malam naas enam bulan yang lalu?," tanya Malika dengan suara bergetar menahan haru melihat para pelayannya yang masih lengkap walaupun kehilangan satu orang pelayan yang tewas ditembak oleh penjahat malam itu.


"Iya nona muda kami menyelamatkan diri kami pada malam naas itu, kami sudah berusaha melindungi nona muda supaya tidak tertangkap oleh para penjahat itu, selanjutnya kami tidak tahu lagi keberadaan nona muda dan bibi Rena," jawab salah satu pelayan yang seusia Malika.


"Alhamdulillah senangnya bisa melihat lagi kalian," pekik Malika girang.


nyonya Ambar dan nyonya Alea hanya menyaksikan interaksi Malika dengan para pelayannya. Malika tidak pernah bersikap angkuh di hadapan para pelayannya. inilah yang membuat para pelayan yang bekerja di mansion tuan Daniel betah karena keluarga ini memperlakukan mereka seperti saudara. Para pelayan mengucapkan doa untuk kebahagiaan pernikahan Malika yang kedua.


"Selamat menempuh hidup baru nona muda semoga selalu bahagia dan dijauhkan dari hal buruk.. aamiin," ucap salah satu pelayan pada Malika.


"Terimakasih untuk doa dan ucapannya, selamat datang kembali di rumah ke dua kalian semoga betah menemani orangtuaku, aku titip mereka kepada kalian karena kalian adalah kaki dan tanganku untuk merawat keduanya," pesan Malika lagi.


"Aku tinggal dulu."


"Baik nona muda."

__ADS_1


Malika meninggalkan para pelayannya kemudian menyambangi mamanya yang sudah asyik ngobrol dengan nyonya Ambar di taman samping mansion. Keduanya tertawa lepas seakan sudah akrab satu sama lain walaupun pernah bertemu saat anak-anak mereka masih kecil.


"Ih mama dan mami seru banget ngobrolnya, ajak Malika juga dong," canda Malika kepada kedua wanita yang sangat dicintainya.


"Kami lagi cerita tentang kamu sayang, tentang masa remaja kamu," ucap nyonya Alea.


"Awas aja kalau mama ngobrol yang jelek-jelek ke mami, entar Malika bisa dipecat jadi menantu," guyon Malika pada keduanya.


Ditengah obrolan mereka yang seru, tiba-tiba terdengar ponsel nyonya Ambar berdering, nyonya Ambar segera bangkit dari duduknya meminta izin kepada nyonya Alea dan menantunya untuk menerima panggilan tersebut dengan bahasa isyarat. Nyonya Ambar menjauhi keduanya melangkah ke tempat yang lebih nyaman untuk menerima panggilan telepon dari seseorang yang sangat penting. Malika dan mamanya mulai serius membahas sesuatu ketika ditinggal nyonya Ambar.


"Malika!"


"Iya mama!"


"Apakah kamu sedang baik-baik saja?," tanya nyonya Alea pada putrinya.


"Tentu saja mama, aku sangat bahagia dengan pernikahanku sekarang," jawab Malika dengan suara yang agak tersendat.


"Sayang, apakah kamu ingin melakukan kesalahan yang kedua kalinya karena terus membohongi orangtuamu?"


Degg!!


"Mama bicara apa sih?, Malika baik-baik saja mama," ucap Malika dengan memalingkan wajahnya, takut menatap mamanya yang sedang mengintrogasi dirinya.


"Malika, merahasiakan yang pantas kamu rahasiakan dari orangtuamu itu baik sayang, tapi kalau masalah ini menyangkut pernikahan yang akan mengancam kebahagiaanmu itu perlu adanya keterbukaan dengan adanya diskusi bersama mama untuk mendapatkan solusi," ucap nyonya Alea dengan penuh penekanan pada putrinya.


Karena merasa dipojokkan mamanya, sesaat gadis ini merenungi kata-kata bijak dari sang mama, betapa dirinya membutuhkan seseorang untuk berbagi masalah yang sedang dihadapinya, setidaknya hatinya tidak terlalu merasa tersiksa dengan dilema pernikahannya. Ditariknya nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan, tatapannya nanar dengan banyak pertimbangan dalam pikirannya.


"Baiklah kalau memang hal ini bisa kamu atasi sendiri, mama hanya mampu mendoakanmu saja, tapi seandainya masalahmu ini makin mengganjal pikiranmu, mama siap menampung curhatmu sayang," ucap nyonya Alea bijak pada putrinya lalu tersenyum kecut pada putrinya.


"Mama, apakah Malika salah masih mencintai almarhum mas Arie?," tanya Malika yang mulai berkata-kata kepada mamanya.


"Cinta itu tidak salah sayang, cinta itu suatu ungkapan atau perasaan yang dirasakan oleh seseorang untuk orang yang dicintainya tidak salah tapi menempatkan cinta yang tidak sesuai dengan tempatnya itu yang salah," jelas nyonya Alea.


"Tapi, mas Arie nggak buruk mama, baik pribadinya maupun fisiknya, Malika sangat mengaguminya, Malika menyesal tidak memberikan haknya sebagai suami lebih awal, bukan menolaknya tapi saat itu tubuh Malika yang terlalu lelah untuk melayaninya di malam pertama kami sampai mas Arie meninggal," sesal Malika.


"Sayang, itu sudah terjadi, sudah berlalu, tidak mungkin kamu membangkitkannya lagi walaupun itu hanya dalam pikiranmu, kamu hanya mencintai kenangannya saja, bukan sosoknya, rasa obsesimu padanyalah yang akan menghancurkan rumah tanggamu.


Reinaldi adalah suamimu yang sekarang, dia nyata untukmu, dialah cintamu yang sekarang bahkan dengan cintanya dia mampu membangun masa depan bersamamu, lihatlah kenyataannya sayang, jangan terjebak dengan masalalu, apa lagi orang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini, mama tidak memintamu untuk berhenti mencintai almarhum nak Arie tapi yang mama inginkan darimu adalah mencurahkan semua hidupmu untuk suamimu yang sekarang, bukan suami di masa lalumu.


Jangan membangun ilusi dalam imajinasimu sayang, karena itu akan menyiksamu dan kamu tidak akan bebas untuk meraih kebahagiaanmu jika kamu masih terbelenggu dalam kenangan bayang-bayang Arie," ucap nyonya Alea menasehati putrinya.


"Mama, yang membuat Malika marah adalah perlakuan Rei yang mengambil kesempatan saat Malika tidak sadar, merenggut sesuatu yang Malika jaga dengan baik itu yang membuat Malika tidak terima dengan akal sehatku mama, kenapa orang sehebat Rei yang memiliki intelektual tinggi tidak mampu mengendalikan dirinya menghadapi wanita lemah."


"Apakah kamu sudah menanyakan mengenai hal itu Malika?, kenapa Rei sampai nekat menyentuhmu?," tanya nyonya Alea setelah melihat Malika yang mulai gundah dengan masa lalunya.


"Rei tidak pernah mau menjelaskannya mama, Rei hanya bisa minta maaf, maaf dan maaf tanpa mau memberi alasan, itu yang membuat Malika tidak puas kalau jawabannya hanya kata maaf, itu tidak bisa menyembuhkan jiwa Malika mama, hiks! hiiks!," jawab Malika yang sudah berderai air mata.


Nyonya Alea merangkul putrinya membenamkan wajah putrinya dalam pelukannya, dibelai rambut putrinya untuk menenangkan kegundahan hati putrinya. Malika tampak hanyut, meluapkan segala keresahannya pada mamanya. nyonya Alea bertanya lagi pada putrinya,


"Malika apakah kamu mencintai nak Rei sepenuh hatimu sayang?"


"Aku sangat mencintai Reinaldi mama, aku sangat membutuhkannya tapi yang kubutuhkan saat ini adalah keterbukaan Rei padaku, itu yang terpenting bagiku saat ini, sepertinya suamiku sedang menyembunyikan sesuatu dariku mama.


"Kalau kamu sangat mencintainya, beri dia waktu, beri dia kesempatan tanpa harus terus menghukummya, ingat sayang, mungkin dulu memang dia salah padamu, itu mama akui, tapi mengabaikan tugasmu sebagai istrinya saat ini adalah suatu aib bahkan kamu akan dilaknat oleh para penduduk langit yaitu malaikat atas perbuatanmu menolak melayani suamimu, ingat sayang ridho suami adalah ridho Allah, begitupun murkanya suami adalah murkanya Allah, jangan berikan kesempatan bagi wanita di luar sana untuk mengambil tempatmu untuk memuaskannya," tegas nyonya Ambar memberi ultimatum pada putrinya agar sedikit bersikap luluh pada suaminya.


Malika mengerti semua nasehat mamanya dengan cermat, gadis ini mulai mempertimbangkan kembali tiap kalimat yang mengandung kebijakan dari seorang ibu pada putrinya apalagi seorang ibu yang lebih memiliki pengelaman duluan dalam membina rumah tangga dari pada dirinya.


Ditengah perdebatan ibu dan anak ini, mereka tidak menyadari kehadiran ibu dari suami Malika yang telah mendengar semua percakapan Malika, hati ibu mana yang rela ketika putranya diperlakukan kurang baik oleh menantunya, tapi nyonya Ambar masih bijak dalam menilai sesuatu dari sudut pandangnya sebagai seorang wanita, dirinya harus adil dalam berpihak, tidak harus menghakimi seseorang karena cinta seorang ibu terhadap putranya. Wanita paruh baya itu muncul dihadapan ibu dan anak ini seolah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Aduh maaf ya jeng tadi saya kelamaan menerima telepon," ucap nyonya Ambar bersikap natural dihadapan besan dan menantunya sambil tersenyum manis.


"Nggak apa ko jeng, lagian kami jadi bisa bernostalgia lagi," ucap nyonya Alea berbohong.


"Ayo jeng di minum wedang jahenya mumpung masih hangat, kebetulan juga aku buat pie apel lho, silahkan dicicipi," tawar nyonya Alea mengalihkan perhatian Malika yang masih menatap kosong pemandangan taman yang ada di sekeliling mereka.

__ADS_1


Mereka kembali mengobrol menghabiskan waktu dengan bercanda ria padahal didalam hati masing-masing memiliki pertanyaan demi pertanyaan yang sedang mereka pikirkan, hanya mereka saja yang tahu jawabannya.


__ADS_2