
Usai pesta pernikahan yang berlangsung di salah satu hotel mewah di kota Hamburg Jerman, Alex membawa istrinya ke rumahnya. Lili nampak sangat bahagia ketika mereka sudah tiba di rumah suaminya. Kecantikan Lili yang masih memakai gaun pengantin internasional khas barat ini seolah menyihir mata Alex yang sejak pagi sudah tidak sabar menggauli istrinya.
Lili yang masih malu-malu terhadap suaminya yang mulai menyentuhnya dari setiap jengkal tubuhnya. Alex memperlakukan istrinya begitu lembut. Penyatuan tubuh keduanya melepaskan masa lajang mereka dengan cara yang halal terasa lebih nikmat ketimbang perbuatan haram yang dilakukan banyak muda mudi sebelum menikah. Itulah pernikahan yang memang diidamkan Alex dan Lili.
Menghabiskan malam pertama membuat keduanya tidak mengenal lelah. Mungkin kerinduan diantara keduanya yang masih menggelayut di hati masing-masing. Sampai hampir dini hari baru keduanya menyerah dan tertidur lelap.
🌷🌷🌷
Setelah urusan peluncuran produk pesawat jet berakhir, banyak sekali pesanan yang diterima oleh perusahaannya. Alex dan keluarga besar Rei menyambut dengan penuh syukur dan sangat gembira. Bukan hanya perusahaan Rei yang menjadi incaran pasar tetapi perusahaan Cyber IT group Anjastara ikut merasakan aliran rejeki yang tidak di sangka- sangka yang datang dari luar maupun dalam negeri. Alex yang baru menikahi Lili merasa sangat beruntung atas kerja keras mereka selama ini terbayar lunas dengan keuntungan yang diraup oleh perusahaan mereka.
Target pasar yang awalnya diprediksi hanya beberapa unit pesawat baru itu ternyata melebihi permintaan pasar. Penjualan bisa menembus pasar internasional kini lebih dari ekspektasi mereka. Reinaldi meminta Alex untuk menaikkan bonus untuk para karyawan dan juga kenaikan jabatan untuk para staff yang memiliki kinerja yang optimal. Permintaan Rei ini menjadi angin segar untuk para staff yang bekerja di perusahaannya. Atas jasa merekalah perusahaan itu bisa berjalan lancar dalam memproduksi pesawat jet pribadi keluaran terbaru. mereka menjadi makin rajin karena kini taraf hidup mereka sudah lebih layak.
Semua berjalan sesuai rencana, Alex meminta cuti ingin melakukan
bulan madu bersama istrinya. Kali ini Lili tidak mau ke manapun tapi ada satu keinginan besarnya adalah ia ingin berziarah ke makam kedua orangtuanya. Alex mengabulkan permintaan istrinya dan itu bentuk kewajibanya karena Lili menikah tanpa keluarga yang menyaksikan hari bahagianya mereka.
Ketika keinginannya disampaikan kepada Rei, Alex dan Lili bertolak ke Jakarta Indonesia. Malika yang sudah mulai bosan berada di Hamburg Jerman ingin kembali juga ke Indonesia. Jadilah keluarga besar itu kembali bersama dengan pengantin baru itu ke Jakarta Indonesia.
Kali ini mereka menggunakan pesawat baru yang menjadi hadiah pernikahan termahal untuk Malika. Keluarga besar itu mulai bertolak ke Jakarta Indonesia pukul 07.00 pm. Perbedaan waktu Jakarta Hamburg Jerman 6 jam sedangkan waktu tempuh perjalanan sekitar 17 jam. Perjalanan yang cukup melelahkan bagi keluarga besar itu.
Di dalam pesawat semuanya duduk berpasangan, si kembar bersama oma opanya sedangkan Ezra ingin duduk dekat dengan kedua orangtuanya. Alex dan Lili mengambil tempat paling sudut karena ingin lebih privasi. Rei dan Malika mengerti kalau pasangan pengantin baru ini lagi ingin berdua saja. Malika merebahkan kepalanya di dada suaminya, ia lebih nyaman dalam pelukan suaminya dari pada sandaran kursinya. Karena keberangkatan mereka di malam hari, akhirnya mereka memilih untuk tidur dari pada ngobrol hal yang nggak penting.
Setibanya di Indonesia, Alex dan Lili ingin menginap di hotel di Jakarta, keluarga Rei memaklumi permintaan keduanya. Alex hanya menunggu kapal pesiarnya tiba di Jakarta supaya ia dan istrinya bisa berkunjung ke pulau Karimun Jawa dengan menggunakan kapal pesiar miliknya.
Empat hari kemudian Jack menghubungi Alex kalau kapalnya sudah berada di pelabuhan tanjung priuk Jakarta Utara.
"Selamat malam bos!"
"Selamat malam Jack!"
"Bos kapal pesiar anda sudah memasuki pelabuhan tanjung priuk Jakarta."
"Syukurlah Jack, terimakasih."
Sambungan terputus, Alex memberitahu Lili, jika besok pagi mereka bisa berlayar ke pulau Karimun Jawa. Lili baru saja mengganti baju tidurnya mendengar pembicaraan Alex dan asistennya Jack tentang kapal. Belum sempat ia menanyakan kapal tersebut Jack menghampirinya.
"Sayang besok kita akan berlayar ke kampung halamanmu, apakah kamu senang sayang?"
Raut wajah Lili berubah mendung, membuat Alex sedikit panik.
"Sayang, kenapa kamu menjadi sedih, bukannya kamu kemarin bilang ingin pulang ke kampung halamanmu?" ucap Alex lalu memeluk istrinya ini.
"Aku bingung dengan diriku sendiri sayang, kalau tiba di sana nanti aku tidak bisa bertemu dengan orang tuaku lagi, aku hanya bertemu dengan batu nisan mereka, itu yang membuat aku sedih.... hiks..hiks!"
"Lili, dengar sayang, yang kita cintai suatu saat akan meninggalkan kita termasuk orangtua kita, kamu masih beruntung bisa mendapatkan kasih sayang orang tuamu, hingga kamu dewasa, sedangkan aku hanya sebentar ketika usiaku juga masih sangat kecil saat ditinggal pergi kedua orangtuaku untuk selamanya, aku sudah kehilangan kedua orangtuaku dengan cara yang tragis." tutur Alex yang mulai ikutan sedih.
Lili menghentikan tangisnya dan kembali memeluk suaminya.
"Maafkan aku Alex, aku belum bisa melupakan kedua orangtuaku begitu saja."
"Sayang, aku tidak memintamu untuk melupakan mereka tapi aku mohon kamu ikhlaskan kepergian mereka."
"Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mau mengikhlaskan kepergian orangtuanya Alex, kecuali berusaha ridho pada takdir Tuhan untuk hidupnya. Ikhlas hanya ada dalam bab ibadah sayang dan juga berbuat baik dengan orang lain dan beramal sholeh." timpal Lili memberi penjelasan pada suaminya apa artinya perbedaan ikhlas dan ridho.
__ADS_1
"Kamu yakin mau mengunjungi pulaumu?"
"Aku sudah siap Alex, pulau itu penuh dengan kenangan termasuk kenangan saat kita pertama kali bertemu dan saat kita melakukan pertunangan yang disaksikan oleh keluarga kita."
"Sekarang kita lebih baik istirahat supaya besok pagi sekali, kita akan berlayar ke pulau, tempatmu dilahirkan yaitu kampung halaman mu yang pasti sedang kamu rindukan."
🌷🌷🌷
Tibalah mereka di pulau Karimun Jawa, Lili datang tidak dengan tangan kosong, ia membawa kebutuhan makanan dan lainnya untuk para tetangganya yang sebagian besar mungkin masih hidup.
Speed boat yang membawa Lili dan suaminya serta ABK kapal pesiar milik tuan Alex sudah sampai di darat pulau tersebut.
Warga berhamburan keluar rumah mereka melihat siapa yang gerangan yang datang ke pulau mereka.
Betapa terkejutnya mereka, saat melihat Lili yang sudah berdiri dihadapan mereka dengan ekspresi wajah rindu campur haru ketika melihat tetangganya ada yang masih hidup. Mereka serentak berteriak memanggil nama gadis yang merupakan tetangga mereka.
"Neng Lili?.. apakah ini benar neng Lili putri pak Taher," tanya salah satu tetangga Lili.
Lili hanya mengangguk pelan tanpa bisa berbicara karena kerongkongannya sudah tercekat dengan air matanya yang hampir tertumpah.
"Neng Lili?" ya Allah kamu masih hidup neng." ucap seorang ibu lagi yang merupakan tetangga dekat Lili.
Wanita ini memeluk Lili seperti anaknya sendiri. Ibu Ara mengajak Lili untuk mampir ke gubuknya karena Lili sudah tidak mempunyai rumah. Alex meminta warga untuk membawa barang sembako dan pakaian baru yang sengaja dibelikannya serta kebutuhan lainnya ke balai desa supaya bisa dibagikan secara merata untuk penduduk setempat.
Dibantu dengan anak buah kapal, warga berbondong-bondong mengangkut barang bawaan Alex untuk mereka, menuju kantor balai desa. Lili meminta izin ke bibi Ara untuk berkumpul ke balai desa saja, karena warga terlalu banyak ingin melihatnya. Lili yang sudah berubah penampilannya sangat jauh dengan ketika ia masih menjadi gadis kampung yang berpenampilan sederhana. Model cantik ini dan juga merupakan istri seorang pemimpin mafia ini tampil modis dan sangat memukau di hadapan para mata yang menatap kagum dengan kecantikannya. Walaupun perubahan besar pada dirinya, Lili tidak lupa diri dari mana asalnya. Mungkin penampilannya saja yang berubah tidak dengan kepribadiannya yang ramah dan santun pada siapa saja yang ia temui. Tidak ada keangkuhan dari kesan pertama yang diperhatikan oleh warga yang merupakan tetangga Lili. Sepanjang jalan menuju balai desa gadis ini kerap kali menebarkan senyum kepada warga yang melihat kedatangannya.
Tuan Alex yang sedang sibuk dengan pak Kades tampak serius membahas pembangunan kembali desa ini setelah mereka sudah berada di balai desa. Niat baik Alex disambut gembira oleh pak Kades dan bawahannya. Mereka sangat bersyukur Lili tidak memikirkan dirinya sendiri ketika sudah menjadi orang hebat tetapi ia juga berbagi kebahagiaannya ketika sudah memiliki suami tajir. Mereka juga menikmati sebagian rejeki dari Lili dan suaminya yang merupakan orang kaya menurut para penduduk pulau Karimun Jawa.
Lili tersenyum lembut pada ibu Ara dan lainnya yang mengharapkan gadis ini bercerita tentang kisahnya. Ia tidak langsung meluluskan permintaan warga begitu saja, ia meminta izin suaminya terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan dari sang pemilik jiwa raganya. Alex mengangguk setuju sambil mengulurkan tangannya mempersilakan istrinya bercerita pada tetangganya di balai desa tersebut. Tapi sebelumnya itu Alex meminta ibu- ibu untuk menyiapkan berbagai macam kue yang sengaja di bawahnya dari kapal hasil buatan para chefnya yang bekerja di dapur kapal miliknya. Ibu-ibu mulai sibuk menyiapkan kue dan juga minuman ringan yang dibawakan Alex tersebut menjadi pelengkap obrolan mereka.
"Assalamualaikum semuanya warga kampung pulau Karimun, apa kabar kalian semuanya!" tanya Lili kepada para warga yang sedang duduk dihadapannya.
"Alhamdulillah baik!" jawab warga serentak.
"Mau mendengarkan kisahku bagaimana aku bisa selamat dari terjangan tsunami di pulau kita ini setahun yang lalu?"
"Mauuu!" jawab mereka antusias.
Lili mulai mengisahkan bagaimana ia bisa selamat dari maut kepada warga yang sedang duduk merapat mendengar ceritanya dengan penuh khidmat. Tidak ada diantara mereka yang bersuara ketika mendengar cerita Lili, sebagian mereka ada yang sudah mulai terharu ada juga yang bangga, ada yang iba dan ada pula yang kesal dengan akhir cerita Lili yang diselamatkan oleh tuan Anderson tapi pada akhirnya dia dimanfaatkan.
Lili menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan kekasihnya yang sekarang ini sudah menjadi suaminya, semuanya menangis haru setelah mendengar akhir kisah Lili yang akhirnya dapat bersatu kembali dengan Alex suaminya.
"Nah, itulah perjalanan kisahku hingga akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan kalian semua, apakah kalian masih mau menerimaku menjadi tetangga kalian?" canda Lili membuat warganya serempak membalas pertanyaannya. "Mau teteh Lili."
Tidak lama anak buah Alex sudah mengantar lagi makan siang yang sudah dibungkus dengan aluminium foil dan dilapisi stero fom untuk menjaga makanan tetap hangat saat di makan. Mereka membagikan makanan itu ke semua warga sebagai makan siang mereka hari itu. Alex sengaja memanjakan warga pulau Karimun Jawa yang merupakan kampung halaman istrinya. Alex juga menyerahkan sejumlah uang kepada pak Kades untuk dibagikan ke warga untuk menambah modal usaha mereka agar cepat bangkit perekonomian di daerah tersebut. Kedatangan Alex benar-benar membawa berkah bagi mereka. Terutama ibu -ibu yang tidak henti-hentinya memuji Lili yang sangat beruntung mendapatkan Alex.
"Neng Lili, kamu hebat neng, bisa dapat suami, bukan hanya menyenangkan dirimu saja, tapi ia juga pintar memenangkan hati warga desa ini dengan kedermawanannya. Ya Allah kalau ada lagi seperti Alex pingin aku nikahkan putriku laki-laki yang sebaik dan setampan nak Alex." ucap ibu Ara yang hanya tinggal berdua dengan putrinya yang seusia Lili. Suami dan dua anaknya yang lain sudah tewas dalam bencana tsunami itu. Ibu Ara yang awalnya senang tiba-tiba murung seketika. Lili memeluk ibu Ara untuk menenangkan wanita yang seusia ibunya ini.
"Bibi, semua sudah kehendaknya, tugas kita hanya mendoakan mereka agar mereka tenang di sisiNya, dan kita harus menjalankan kembali kewajiban kita sebagai manusia melanjutkan hidup dan beribadah kepadaNya." ucap Lili bijak kepada ibu Ara.
Setelah dirasanya cukup Lili meminta pak Kades untuk menunjukkan makam kedua orangtuanya. Mereka berjalan menuju ke makam orangtua Lili diantar juga oleh warga yang lain yang masih ingin menemani model cantik ini. Lili bak Artis yang sedang dielu-elukan para fansnya. Mereka dengan setia mendampingi Lili duduk bersama diantara makam para korban bencana tsunami yang sengaja dipisahkan pemakannya supaya mudah dikenang oleh warga sekitarnya.
Lili duduk bersimpuh diantara dua nisan yang berdampingan yaitu kedua orangtuanya. Tangis Lili seketika pecah melihat gundukan tanah kedua orang yang sangat ia cintai, orang yang paling berharga dalam hidupnya yang tidak bisa lagi ia bahagiakan setelah dirinya berhasil, hanya doa yang ia bisa persembahkan untuk keduanya.
__ADS_1
"Ayah, ibu, maafkan Lili karena tidak bisa menjaga kalian, Lili sekarang sudah bahagia dengan orang yang Lili cintai. Maafkan Lili ibu jika semasa kalian hidup Lili sering menyakiti hati kalian. Maaf kalau Lili baru sempat berziarah ke makam kalian, semoga Allah menempatkan kalian disisiNya dan dibukakan pintu surga sebagaimana Allah menjanjikan nikmat kubur untuk orang-orang yang sholih. Lili kangen sama kalian hiks...hiks...hiks..
Perkataan Lili untuk kedua almarhum orangtuanya memancing warga yang turut hanyut dalam kesedihan yang dirasakan gadis yang berparas cantik ini. Alex merangkul pundak istrinya, ia juga merasakan kesedihan yang sama karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan mertuanya itu. Alex membiarkan Lili menumpahkan segala lara dihatinya karena gadis ini akan dibawa lagi olehnya ke Jerman.
🌷🌷🌷
Usai menziarahi makam kedua orangtuanya, Lili mendatangi rumahnya yang sudah tidak ada lagi bangunannya, hanya ada bekas fondasi rumah yang masih terbentuk walaupun ada yang sudah rusak. Lili menanyakan pak Kades tentang hak kepemilikan warisan orang tuanya atas tanah tersebut.
"Pak, apa tanah ini masih bisa menjadi hak Lili?"
"Iya neng Lili, tidak ada yang boleh mengambil tanah itu jika masih ada ahli warisnya." ucap pak Kades.
"Berarti saya boleh membangun lagi rumah orang tua saya di sini, siapa tahu kalau saya berkunjung ke sini saya punya tempat untuk menginap." pinta Lili pada pak Kades.
"Silahkan neng Lili, itu adalah hakmu dan kami pasti senang kamu mau berkunjung lagi ke sini."
"Terimakasih ya pak Kades." ucap Lili santun kepada pak Kades.
"Pak boleh kami jalan-jalan dulu berdua saja di pesisir pantai ini." tanya Alex untuk meminta pak Kades supaya bisa memberikan kesempatan ia bisa berdua dengan istrinya dan tidak ingin diikutin lagi warga yang dari tadi menempel terus disisi istrinya."
"Oh, silahkan tuan!"
Pak Kades menghimbau warganya untuk tidak lagi menganggu Lili. Atas permintaan pak Kades pada warga, Alex menggandeng lengan istrinya berjalan menyusuri bibir pantai untuk mengenang pulau tersebut. Kisah cinta yang berawal dari sini yang tidak akan mereka lupakan.
Sampai di suatu tempat yang sudah tidak terlihat oleh warga Alex melabuhkan bibir ranum istrinya dengan bibirnya, memagut bibir itu berulang kali seakan keduanya sedang haus ingin mereguk saliva diantara rongga mulut mereka. Lili menikmati ciuman hangat itu, membiarkan ombak laut menjadi saksi mereka, memberikan satu kesan lagi di pulau itu bahwa cinta mereka telah dihalalkan tanpa harus takut amukan warga.
"Cinta yang indah, perjalanan cinta yang berliku-liku bagai ombak yang akan setia kembali menyapa bibir pantai untuk terus bersua tanpa lelah, dan tanpa berhenti mencintai, begitulah gambaran cinta mereka."
Lili dan Alex duduk di atas hamparan pasir, udara sejuk dari arah pantai sore itu mulai berhembus menghempaskan rambut panjang Lili yang ikut menari tertiup angin. Sambil merangkul, keduanya hanya memandang birunya air laut dan burung camar terbang melayang mencari santapannya yang tersedia di dalam laut, sesekali mereka bisa menangkap ikan dengan paruhnya yang panjang dan kembali terbang menuju sarangnya di mana anak-anak mereka sedang menanti kepulangan induk mereka membawa makanan. Lili yang duduk bersandar di dada bidang suaminya mulai membuka suaranya menceritakan keagungan Allah yang menciptakan fenomena laut yang belum diketahui Alex, suaminya.
"Sayang, apakah kamu tahu bahwa laut itu terbagi dua yang sebelahnya ada air tawar dan sebelahnya lagi ada air asin padahal mereka menyatu dan hebatnya lagi mereka tidak tercampur, masing-masing bagiannya mempertahankan kadar airnya, satu tetap tawar dan satu lagi tetap asin."
"Iya, aku pernah mendengar kisah itu dari para ilmuwan yang menemukan laut yang berbeda rasa itu tapi masih menyatu tanpa tercampur." jawab Alex.
"Itu terbukti dalam Al-Qur'an sayang, tentang fenomena laut itu. Allah berfirman dalam surat,
"Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi," Surah Al Furqan Ayat 53.
"Benarkah sayang apa yang di terjadi di laut semuanya ada dalam Alquran?" tanya Alex lagi pada istrinya.
"Bukan cuma kejadian laut sayang, tapi semua yang ada di langit dan di bumi berserta makhluknya sudah tertuang dalam Alquran, hanya orang-orang tertentu yang mau mengkaji isinya dan tidak sedikit para ahli non muslim yang sudah membuktikan kebenarannya dan mendapatkan hidayah setelah mereka tergerak untuk mengetahui hasil penemuan mereka ternyata sudah disebutkan dalam Al-Qur'an." ucap Lili menjelaskan apa yang ada dalam kitab suci umat Islam ini.
"Dibelahan negara mana yang terdapat kedua air tawar dan asin yang ada di laut itu?" tanya Alex yang masih penasaran dengan cerita Lili.
"Fenomena tersebut terjadi di selat Gibraltar yang dapat dijelaskan secara sains. Selat Gibraltar merupakan pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik." ucap Lili menjelaskan keberadaan laut itu kepada suaminya.
"MasyaAllah, ternyata Alquran diturunkan 1400 tahun yang lalu tapi terbukti semua isinya dengan penemuan-penemuan baru oleh para ahli." ucap Alex yang takjub mendengar Lili menceritakan bagian kekuasaan Allah yang patut mereka syukuri."
Karena hari sudah mulai gelap Alex dan Lili kembali ke tempat mereka di mana speed boat mereka sedang menunggu, keduanya berlari sambil sesekali bercanda riang seraya menyiram air laut ke pasangannya. Tidak terasa mereka sudah berada di depan warga yang masih setia menunggu mereka. Acara perpisahan kembali terjadi, satu persatu Lili berpamitan dengan para tetangganya, Lili memeluk ibu Ara dan menghadiahi wanita itu dengan cincin yang ia beli dengan hasil jeri payahnya selama jadi model.
Ibu Ara menangis haru dan mendoakan kebahagiaan Lili. Warga mengantar pasangan pengantin baru ini sampai ke speed boat mereka. Keduanya naik speed boat tersebut melanjutkan perjalanan mereka menuju kapal pesiar yang berlabuh di tengah laut. Lambaian tangan dan isak tangis warga melepaskan kepergian gadis yang pernah lahir dan dibesarkan di pulau yang banyak menyimpan kenangan indah sampai ia tumbuh dewasa. Gadis ini juga yang sudah mengabdikan hidupnya mengajar anak-anak usia sekolah dasar. Guru yang baik, cantik dan bersahaja kini harus meninggalkan kampung halamannya demi mengabdi kepada suaminya yang sekarang menjadi imam sholatnya. Cinta keduanya begitu kuat, kepribadian yang sempurna keduanya yang sama-sama hidup sebatang kara karena kehilangan orangtua mereka, dan kini keduanya telah bersatu dalam ikatan suci dan akan meneruskan keturunan mereka jika Allah menghendaki mereka dengan momongan sebagai pelengkap kebahagiaan keduanya.
"Selamat tinggal pulau kenangan suatu saat aku akan mengunjungimu bersama anak-anakku kelak. Terimakasih atas sejuta kenangan yang tertoreh indah dalam lembar kehidupanku, aku mencintaimu tanah tumpah darahku, pulauku Indonesia."
__ADS_1