Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"PENGEJARAN"


__ADS_3

"KAU!" paman Rama?" ucap Malika dengan sedikit mendelikkan matanya melihat mantan asisten papanya itu, yang pernah melakukan pengkhianatan terhadap perusahaan mereka.


"Hai cantik!" apa kabar lama kita tak jumpa, apa kamu merindukanku?" tanya asisten Rama sambil memegang dagu Malika menangkup keatas agar menatapnya lalu kembali didorongnya dengan kasar.


"Cui!" Malika meludahi wajah itu, saking jijiknya melihat manusia pengkhianat ini.


Tuan Ardian Bagaskara juga mendatangi Aida yang masih saja tertidur karena pengaruh obat bius, ia meminta anak buahnya untuk mengambil air menyiram tubuh Aida supaya cepat sadar.


Merasa tubuhnya kedinginan, Aida pun membuka matanya. Dengan perlahan iapun menatap wajah lelaki yang ada dihadapannya. Betapa terkejutnya Aida ketika melihat pria terkutuk itu sudah berdiri dihadapannya. Dengan wajah ketakutan dan tangan terikat kebelakang Aida kembali memalingkan wajahnya kesamping, merasa jijik melihat tampang lelaki yang pernah merenggut kesucianya ini.


"Hai, Aida masih ingat aku?" tanya tuan Ardian dengan senyum menyeringai menatap Aida dengan pandangan matanya yang tajam pada gadis yang pernah bersenang-senang dengannya ini.


"Bos kita bisa bersenang-senang dengan kedua gadis cantik ini..ha..ha..ha!" ucap asisten Rama kepada tuan Ardian yang masih duduk di hadapan Aida.


"Lepaskan aku!" teriak Malika yang kini tangan dan kakinya juga ikut terikat.


"Teriaklah sayang, disini tidak ada yang bisa mendengarkanmu, kau adalah gadis yang jenius namun begitu percaya diri seakan kamu bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan kejeniusanmu. Aku dengar orangtuamu bisa luput dari kematian setelah pesawat mereka jatuh, tapi sayang papamu tidak jauh berbeda denganmu, baik, pintar namun angkuh." ucap Rama dengan rasa dendam yang sudah mengubun terhadap mantan bosnya itu, tuan Daniel.


Kedua lelaki buronan itu terus saja mengintimidasi Malika dan Aida dengan sangat kasar. Tuan Ardian Bagaskara dengan sengaja melecehkan Aida dengan meremas pay**ra dari balik baju gadis itu.


"Aida, aku kangen dengan aroma tubuhmu sayang, apa lagi sekarang kamu makin cantik." puji tuan Ardian sambil meremas dua bukit kembar Aida.


"Jangan, lepaskan aku, ku mohon tolong aku, jangan lecehkan aku lagi, aku mohon ampuni aku!" pinta Aida yang sambil menangis ketakutan.


"Lepaskan dia bajingan!" dasar banci, beraninya kamu dengan perempuan lemah" ucap Malika menatap tajam wajah tuan Ardian dengan wajah penuh murka.


"Bawa kedua gadis ini ke kapal, lebih baik kita bersenang-senang dengan mereka di atas kapal pesiar milikku, tempat di sini tidak cocok untuk keduanya." perintah tuan Ardian kepada anak buahnya.


Kedua gadis ini diseret kembali ke mobil, meninggalkan tempat pengap itu menuju ke pelabuhan merak, dimana kapal pesiar milik tuan Ardian berada di pelabuhan tersebut. Mobil yang membawa tubuh kedua gadis itu adalah mobil mewah yang masuk lagi ke dalam kontainer untuk mengelabuhi para petugas yang ada di jalanan ibukota. Sedangkan dibelakang mobil kontainer itu dikawal oleh anak buah tuan Ardian dan juga dua penjahat yaitu tuan Ardian serta mantan asisten tuan Daniel, yaitu Rama.


🌷🌷🌷🌷


Sementara, ditempat yang berbeda, Rei dan Raffi cemas menghubungi ponsel kedua istri mereka, namun tidak ada jawaban sama sekali. Padahal mereka sudah menghubungi perusahaan kosmetik milik Malika namun jawaban yang mereka dapatkan bahwa ibu Malika dan ibu Aida sudah meninggalkan perusahaan ketika memasuki jam makan siang. Rei dan Raffi mulai panik, ini sudah jam 4 sore, tidak biasanya Malika seperti ini, ia selalu mengabarkan ke mana dirinya pergi kepada suami dan mertuanya. Raffi mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan kedua gadis itu.


"Bos, kita bisa melacak keberadaan ponsel nona muda Malikakan bos?" tanya Raffi kepada Rei yang dari tadi mondar-mandir tanpa henti di dalam ruang kerjanya.


"Ya Allah kenapa aku tidak kepikiran ke situ, terimakasih atas saranmu Raffi" jawab Rei sedikit lega mendengar saran asisten Raffi.


Ia kemudian mengacak ponselnya, mencari titik ponsel terakhir milik Malika yang terdapat di jalur peta. Beberapa saat kemudian ia berteriak kegirangan memanggil Raffi.


"Raffiii!" pekik Rei memanggil asistennya.


"Ada apa bos, apakah mereka berhasil ditemukan." tanya Raffi berharap jika kedua istri mereka sudah ditemukan.


"Mereka berada di daerah Ciputat Jakarta Selatan, ayo kita ke sana sambil mengikuti titik terakhir di ponsel milik Malika." jawab Rei kemudian keluar dari ruang kerjanya bersama dengan Raffi yang sudah berjalan berdampingan dengan langkah seribu.


Walaupun sudah menemukan lokasi ponsel milik Malika namun Raffi tidak menerima begitu saja, ia masih kuatir dengan istrinya yang baru sembuh dari sakitnya. Raffi tetap mengerahkan anak buahnya melacak titik terakhir tempat mobil istri bosnya ditemukan. Ia mengirim pesan di whatsapp group


anak buahnya untuk mendatangi mobil itu sebelum mereka tiba di sana.


Tidak berapa lama, mereka sudah sampai ditempat tujuan, mereka melihat mobil milik Malika masih terparkir ditepi jalan. Oleh warga setempat mobil itu diberi suatu tanda jika mobil itu dalam keadaan mogok. Rei buru-buru turun menghampiri mobil istrinya yang sudah ditongkrongi oleh beberapa orang pemuda yang ada di wilayah tersebut. Mobil Ferrari hitam itu masih dalam posisi yang sama saat ditinggalkan oleh Malika dan Aida.

__ADS_1


"Permisi bang, maaf ini mobil istri saya, apakah kalian melihat istri saya?" tanya Rei yang nampak kuatir mobil itu terparkir rapi dipinggir jalan tapi tidak tampak istrinya di dalamnya.


"Oh ini mobil anda tuan, dari tadi kami periksa tidak ada orangnya tuan, mobil ini sudah lama berada disini, makanya kami tungguin, rupanya ban mobilnya kempes tuan dan anehnya dua tas perempuan itu masih berada di dalam mobil itu tuan, coba lihat saja sendiri tuan." ucap pemuda itu kepada Rei dan Raffi dengan menggambarkan kronologi keberadaan mobil itu.


Rei mulai memutari mobil itu, melihat apakah ada tanda-tanda yang bisa ia temukan di tempat itu untuk mengetahui apa yang terjadi kepada istrinya. Alhasil ketika ia mengamati, ternyata istrinya menjatuhkan bros berbentuk satu biji mutiara. Dengan satu petunjuk dari istrinya ia bisa menyimpulkan bahwa istrinya dan Aida diculik. Rei menatap wajah Raffi yang makin kelihatan murung campur cemas, iapun menunjukkan bukti terakhir yang ia temukan kepada asistennya Raffi.


"Raffi, lihat ini, bros mutiara ini milik Malika, istriku sengaja menjatuhkan bros ini, ia ingin memberitahukan kepada kita bahwa hidup mereka dalam keadaan terancam, mereka pasti sedang diculik dan dibawa pergi oleh beberapa orang dari tempat ini." jelas Rei dengan sangat gamblang kepada Raffi yang menatap kaku dengan wajah sendu mendengar penuturan bosnya ini.


"Tuan bagaimana cara kita menemukan mereka, jika mereka diculik, apakah kita akan melaporkan hal ini kepada polisi?" tanya Raffi yang memaksa Rei untuk berbuat sesuatu. Rei nampak gusar ketika mendengar Raffi menyebutkan nama polisi.


"Percuma Raffi, mereka akan meminta kita menunggu sampai 2 kali 24 jam jika tidak ada kabar dari istri kita baru ditetapkan sebagai orang hilang atau penculikan, dan nasib kedua istri kita, akan dibawa entah ke mana oleh para penjahat yang menculik mereka sekarang." ucap Rei memberi pengertian kepada sahabatnya ini untuk tidak melibatkan polisi saat ini.


Tidak lama, ponsel milik Raffi bergetar, suami dari Aida ini menerima panggilan dari salah satu anak buahnya.


"Selamat sore bos!" ucap anak buah Raffi, yang terdengar serius dikuping Raffi.


"Ada apa Fian?" tanya Raffi cepat.


"Bos, ada informasi baru kalau tuan Rama dan tuan Ardian Bagaskara telah kabur dari penjara, saat ini mereka melakukan penyamaran dan sedang di buru oleh polisi." ucap Fian memberikan informasi penting kepada bosnya itu.


"Apakah kamu tahu keberadaan mereka dari orang kepercayaanmu." tanya Raffi untuk mengetahui kejelasan status orang itu.


"Kabar terakhir yang saya dapatkan kalau keduanya masih bersembunyi dalam kota bos dan menunggu sekitar persembunyian mereka aman, mereka akan melakukan pelarian ke luar kota dengan menggunakan angkutan laut tuan." ucap Fian memberikan informasi terakhir yang ia ketahui mengenai buronan tersebut.


"Baiklah tolong lacak terus keberadaan mereka dan laporkan hasilnya kepadaku secepatnya." perintah Raffi dengan tegas kepada Fian.


"Baik bos, siap laksanakan!" jawab Fian singkat.


"Ada apa Raffi?


"Astagfirullah, jika itu benar berarti nyawa kedua istri kita akan terancam, kalau begitu kita ke mansion dulu dan kamu kabarin papa mertuaku mengenai masalah ini karena beliau memiliki alat pelacak yang canggih dengan meretas CCTV yang berada di jalanan ibu kota.


"Baik bos, aku akan mengantar anda dulu, tapi bagaimana dengan mobil nona Malika bos?"


"Nanti aku akan menghubungi mobil derek untuk membawa pulang ke mansion.


Keduanya beranjak dari tempat itu menuju mobil mereka tapi sebelumnya itu Rei mengeluarkan uang sekitar 10 lembar uang merah dan memberikan kepada para pemuda yang dari tadi menunggu mobil istrinya.


"Ini bang, cukup untuk beli rokok, tolong tungguin mobil istriku sampai petugas mobil derek datang membawa mobil ini." pinta Rei pada 4 orang lelaki muda itu. Mereka sangat senang mendapatkan rejeki dari Rei.


"Wah, rejeki nomplok nih cuman modal tongkrong doang dapat duit," ucap salah satu dari mereka sambil terkekeh.


Mobil Rei dan Raffi sudah hilang dari pandangan mata mereka, mobil itu sedang menuju ke arah mansion Rei, ia ingin mengabarkan keberadaan istrinya kepada keluarganya. Beberapa kisaran waktu mereka tiba di mansion dan disambut oleh isak tangis ketiga anak-anaknya. Rupanya keluarga besar itu sudah berkumpul, ada kedua mertua Rei dan istri Raffi Sarah dengan bayi kembarnya.


"Daddy, mommy di mana, Rania kangen sama mommy." tangis anak-anaknya membuat ketegaran Rei luluh, ia juga ikut menitikkan air matanya melihat putra putrinya mencari ibu mereka.


"Sebentar ya sayang, entar lagi mommy pulang, ini daddy lagi mencari mommy." ucap Rei membujuk anak-anaknya yang masih saja merengek ingin bertemu dengan ibu mereka.


"Daddy apakah Ezra boleh meminjam ponsel Daddy?" pinta Ezra yang tiba-tiba menanyakan ponsel Rei.


"Nggak bisa sayang, daddy ingin tahu informasi dari mommy kamu." jawab Rei menolak permintaan putranya Ezra.

__ADS_1


"Justru Ezra pingin bantu daddy melacak keberadaan mommy. Ezra sudah banyak belajar dari mommy bagaimana cara melacak benda yang hilang atau orang hilang." ucap Ezra yang mengundang keluarga lain menatap anak jenius ini lekat.


Rei memberikan ponselnya karena ia sudah sangat paham jika Ezra bisa melakukan apapun yang kadang dia sendiri tidak berapa mengerti dengan ponsel baru buatan istrinya itu karena terdapat banyak aplikasi yang di buat Malika yang belum semua diketahuinya.


Tidak butuh waktu lama terdengar Ezra berteriak.


"Daddy, Ezra sudah menemukan jejak mommy," teriak putra Rei ini memancing yang lainnya ikut mendengarkan informasi penting yang akan disampaikan oleh putra sulung Rei ini.


"Ya Allah Ezra di mana mommy kamu sayang?" tanya nyonya Alea yang dari tadi hanya menanti kedatangan putrinya dengan tangisan.


"Di sini terdapat titik lokasi arah pelabuhan merak menuju salah satu kapal, tapi Ezra belum jelas kapal apa yang mommy akan naikin.


Raffi mengambil ponsel dari tangan putranya Ezra, sesaat ia meneliti dan ia pun berujar bahwa kapal itu adalah sejenis kapal pesiar yang pasti pemiliknya adalah tuan Ardian. Tuan Romi yang sejak tadi sudah menghubungi pihak hanggar bandara pribadinya untuk mengirim helikopter ke mansionnya agar bisa melakukan pengejaran penculikan menantunya Malika secepatnya.


Tidak lama kemudian dua helikopter datang bersamaan. Rei dan Raffi berpencar, mereka masing-masing menumpang helikopter itu. Rei mengambil lagi ponselnya dari tangan putranya. Sedangkan Raffi pamit kepada istrinya Sarah, usai mencium istrinya dan baby kembarnya Raffi berlari menuju helikopter yang sedang menunggu mereka.


Kedua lelaki tampan ini di antar keluarga mereka keluar sampai di halaman tidak jauh dari landasan pacu helikopter berada. Teriakan kata hati-hati dari keluarga mereka mengiringi kepergian dua lelaki antara bos dan asistennya itu. Sarah merangkul baby kembarnya dan menangis diam-diam diantara pundak babynya. Helikopter itu kembali terbang meninggalkan mansion menuju lokasi penyekapan kedua istri mereka.


Helikopter bergerak lebih cepat mengikuti arahan Rei menuju lokasi tersebut. Tak di nyana, kedua helikopter itu sudah berada di atas permukaan laut. Dengan bantuan polisi setempat untuk bergerak bersama-sama menghadang kapal pesiar milik tuan Ardian yang sudah mengarah ketengah laut.


Rei meneriaki pilot helikopter untuk lebih mendekat karena mereka sudah berada tepat di atas kapal pesiar tersebut. Aksi pengejaran itu berlangsung seru dan menegangkan. Tanpa persiapan apapun kedua lelaki itu nekat menyematkan istri mereka. Jangan kan membawa senjata, membawa peralatan untuk melakukan aksi penyelamatan pun mereka tidak memilikinya.


Dari dalam kapal pesiar, Tuan Ardian dan Rama keluar melihat helikopter yang ada di atas sana. Dengan wajah panik mereka melihat dari jauh banyak speed boat polisi mengepung kapal pesiar mereka, karena masih jauh keduanya kembali ke dalam menarik tubuh dua gadis itu untuk menjadikan Malika dan Aida sebagai sandera.


Dengan pistol di tangan mereka, tuan Ardian mengarahkan tembakannya ke arah dua helikopter di atas sana. Rei yang melihat istrinya ditodong pistol oleh Rama seketika berteriak memanggil nama istrinya, namun suaranya tenggelam dalam kebisingan suara helikopter. Rei hanya melambaikan tangannya kepada Malika dan juga hal yang sama dilakukan oleh Raffi kepada istrinya Aida.


Kedua ibu muda itu tersenyum kecut melihat suami mereka datang ingin menyelamatkan nyawa mereka. Namun sayang ketika helikopter yang ditumpangi oleh Raffi di tembakin oleh tuan Ardian berkali-kali dan naas bagi Raffi ia tertembak dan tubuhnya jatuh ke dalam laut yang sangat dalam. Teriakan histeris Malika dan Aida ketika melihat tubuh Raffi jatuh ke dalam laut karena tembakan yang dilakukan oleh Ardian. Helikopter itu menghindari tembakan setelah Raffi jatuh ke dalam laut, pilot itu kembali berputar-putar menghalau pandangan dua penjahat yang telah menyandera Malika dan Aida.


Kapal terus melaju, namun para polisi sudah siap dengan tim SAR yang ikut membantu dalam penyelamatan itu. Dan tidak banyak melakukan perlawanan berarti kedua buronan itu kembali di bekuk. Rei turun pelan-pelan menggunakan tangga tali melompat di atas kapal pesiar milik tuan Ardian. Iapun langsung memeluk istrinya. Sedangkan Aida yang masih gemetar memanggil nama suaminya Raffi yang sudah tenggelam di dalam laut sana.


Penyelamatan yang awalnya hanya tertuju kepada Malika dan Aida kini harus berganti menyelamatkan Raffi yang jatuh tenggelam.


"Malika sayang," ucap Rei memeluk istrinya erat. Malika tidak memikirkan dirinya sendiri, ia menghampiri tubuh Aida yang jatuh terduduk karena sangat shock dengan kejadian demi kejadian hari ini. Karena suasana laut sudah gelap di area sekitarnya, membuat tim SAR sulit untuk melakukan pencarian tubuh Raffi karena minimnya peralatan dan penerangan.


Rei membawa pulang istrinya dengan menumpangi speed boat menuju kembali ke pelabuhan merak. Malika dan Aida di bawa ke rumah sakit milik Rei karena penyiksaan fisik yang diterima kedua gadis itu dari dua orang buronan itu cukup memprihatinkan.


Keluarga besar keduanya sudah berkumpul dirumah sakit setelah mendengar penyelamatan kedua gadis itu berhasil. Wartawan ikut meliput kejadian itu namun di hadang oleh pihak keamanan rumah sakit karena keluarga masih dalam keadaan shock sehingga tidak bisa melakukan wawancara.


Malika memeluk ketiga anak-anaknya yang sudah berteriak memanggil namanya. Keluarga kecil itu menangis saling berpelukan di ruang IGD tersebut. Rei merangkul anak dan istrinya dalam pelukannya. Ciuman sayang antara keluarga itu membuat para dokter dan suster ikut terharu. Di luar IGD terdengar suara tangisan Sarah yang meraung menangisi suaminya yang menjadi korban dalam peristiwa penyelamatan dramatis tersebut. Aida juga merasa terpukul dengan tenggelamnya Raffi, ia juga merutuki dirinya sendiri karena menghilangkan nyawa suaminya saat menyelamatkan dirinya.


🌷🌷🌷


Di Amerika Dokter Willy yang mendengar berita bahwa salah satu perusahaan maskapai penerbangan milik tuan Reinaldi telah menghadapi masalah serius. Dikabarkan asisten Raffi yang sedang menyelamatkan istrinya tertembak dan tubuhnya jatuh ke dalam lautan dan masih dalam proses pencarian sedangkan Aida istrinya saat ini sedang dirawat di rumah sakit milik pengusaha muda Reinaldi tersebut hingga berita itu diturunkan.


Melihat berita tersebut Dokter Willy langsung memesan tiket pesawat untuk melihat keadaan kekasihnya Aida. Tidak butuh waktu lama pesanan tiketnya siap dan ia langsung ke bandara untuk mengejar pesawatnya. Ia mengejar cintanya dengan membawa kerinduan bersamanya yang sudah terkumpul di dalam dadanya.


"Tunggulah Aida, aku akan datang membawamu pergi," ucapnya ketika sudah berada di dalam pesawat yang sedang membawa menemui pemilik hatinya di sana.


Keesokan harinya dokter Willy langsung menemui Aida di rumah sakit milik Rei. Aida yang tidak tahu kedatangan sang kekasih hanya meringkuk sedih dalam selimutnya.


Akhirnya pertemuan itu terjadi ketika dokter Willy membuka pintu kamar inap Aida.

__ADS_1


"Aida sayangkuh!" panggil dokter Willy yang melihat Aida sedang tidur memunggunginya.


Aida yang sangat menghafal suara itu, membalikkan tubuhnya perlahan dan melihat pria pujaannya sudah berada dihadapannya. Tangis haru pun terjadi diantara keduanya. Peluk cium dengan luma**n bibir keduanya berlangsung hangat. Mereka ingin menumpahkan rasa rindu yang sudah sesak di dada mereka selama ini. Seketika kesedihan pada suaminya Raffi sirna berganti dengan kebahagiaannya bersama lelaki pujaannya dokter cintanya Willy.


__ADS_2