Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"LELAH"


__ADS_3

Lelah!" kata yang tepat disandingkan untuk Aida, makin hari tubuhnya mulai menyusut, pipi yang tirus, berwajah pucat dengan mata yang nampak cekung. Rambut indahnya perlahan meninggalkan mahkota yang menjadi kebanggaannya. Kulitnya makin keriput bersaing dengan ibu-ibu yang sedang menjalani masa menopause karena usia yang mengakibatkan perubahan hormon pada kulit cantiknya.


Setiap kali menjalani kemoterapi akan berimbas pada mual dan muntah, mulutnya yang terasa pahit mengeluarkan cairan yang tidak disertai makanan yang masuk.


Kini rasanya ia lelah menjalani hari-harinya yang seakan menanti ajalnya tiba, yang hampir di ambang kematian. Bukan penyakit ini yang membuatnya lelah, tapi kenikmatan pernikahan yang pernah dikecapnya telah lenyap karena tidak mampu lagi melayani kebutuhan biologis suaminya.


"Apa yang indah dari tubuh ini, melihatnya saja membuatku takut dengan bayanganku sendiri di cermin itu, apa lagi suamiku." ucap Aida yang berkata-kata sendiri di depan meja riasnya.


Bel pintu apartemen itu kembali berbunyi, ibuku segera membukakan pintu untuk suamiku, wajah lelahnya terlihat jelas saat ia menyalami punggung tangan ibu dan ayahku. Raffi berusaha memberikan senyum terbaiknya, walaupun dibalik senyuman itu ada sebongkah kesedihan yang ia pendam selama tiga bulan terakhir ini.


Aku tetap melayaninya walaupun itu hanya kebutuhan biasa selain tempat tidur. Ia dengan setia tetap menerima segala pengabdianku yang kini sudah mulai terbatas dalam melayaninya karena tubuh ringkihku tidak mampu lagi bergerak lincah seperti sebelumnya di tiga bulan pernikahanku.


"Kamu sudah makan sayang?"


"Sudah, tadi makan bersama ayah dan ibu karena harus minum obat."


"Mengapa belum tidur kalau sudah minum obat hmm!"


"Aku lelah kalau terus-terusan tidur sayang."


"Mau aku yang menidurkanmu?"


Aku tersenyum sambil menganggukkan kepalaku, ia tersenyum seakan sedang menghiburku, "Sayang aku tidak apa-apa." begitulah yang ingin disampaikan dari tatapan matanya.


Tubuhku kemudian di angkat dan dipindahkan ketempat tidur. Selimutnya ditarik menutupi tubuh kami. Pelukan hangat itu, hembusan nafas berat dan akhh.. kenapa ini tidak lagi membuatku gairah.


"Apakah sudah terkubur dengan sakit yang kini ku derita?"


"Apakah aku masih dikatakan bahagia dengan keadaan seperti ini?"


Bulir beningku mulai mengalir dengan getaran tubuh yang menahan tangis. Aku kembali bersedih, kalau bisa meminta, aku lebih memilih mati dengan mudah supaya suamiku bisa mendapatkan gadis yang pantas untuknya.


"Sayang, apakah kamu menangis?" tanya Raffi yang merasakan getaran ditubuhku, karena aku tidur memunggunginya.


Aku tidak menjawab, hingga akhirnya ia membalikkan tubuhku, dengan memangku tangannya sambil memiringkan tubuhnya, Raffi menatapku.


"Oh tatapan lembut itu, tatapan yang sama yang pernah menggodaku, supaya aku bisa menyuguhkan tubuhku untuk ia sentuh dengan cintanya, meraih dengan tangannya, mencumbuiku dengan penuh kerinduan. Tapi di mana itu semua Tuhan?, apakah aku tidak layak lagi untuk bercumbu, merasakan kelezatan dalam indahnya hubungan kasih?"


"Sayang, jawab aku kenapa tiba-tiba kamu menangis? " apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Raffi bolehkah aku meminta?"


"Apa sayang, katakanlah!"


"Aku merindukan kehangatan tubuhmu, sentuh aku Raffi, buatlah tubuhku ini kembali berarti untukmu, jika masih ada sisa cintamu untukku?"


"Apakah kamu kuat sayang, untuk melakukannya?" tanya Raffi yang sedikit ragu dengan keadaanku.


"Kecuali kamu enggan Raffi." jawabku kecewa pada pertanyaannya.


Ia bangkit meraih tubuhku yang hanya tersisa keindahan yang mulai menyusut.


Raffi mulai memelukku, menciumku dan setiap inci lekukan tubuhku tidak pernah dilewatkannya. Hatiku bersorak kegirangan, kali ini aku mendapatkan lagi suamiku, setelah tiga bulan masa menanti karena takut kesakitan yang akan merejamku.


"Akhhk!, permainan lidah itu, jilatan yang terus memancing cairan ci*ta yang mulai muncul diliangku yang hangat, aku melenguh dan terus mendes*h manja. Bagai singa lapar Raffi memainkannya dengan sangat buas. Senjata yang berisi amunisi cairan lendir kental itu mulai menggapai di dalam sana, di mana ruang kecil yang masih sempit karena tak sempat melahirkan bayiku.


"Akkh... sayang aku merindukanmu!" racauan itu kembali terdengar, suamiku merindukanku. Hentakan yang pelan kian memacu dengan ritme yang mulai makin cepat,..sesaat aku merasakan lagi kenikmatan yang hampir lenyap dalam tiga bulan ini.


Aku melupakan sakitku, seakan tubuhku sudah amat sangat ingin dikunjungi benda tumpul yang menciptakan rasa. Cipratan pertemuan lendir mulai terdengar nyaring dikupingku karena hentakan dalam mengaduk nikmat untuk mencapai puncak kalimaks.


"Ohh, baby...Aida...sssttt..akkhhh!"


Teriakan kepuasan dengan kelopak mata yang berat mengakhiri sesi pertama kali kami bercinta setelah sekian lama membeku.


"Terimakasih Tuhan atas karuniaMu, akhirnya aku bisa melayani suamiku." pujiku pada sang Illahi karena tidak merasakan sakitku.


Rupanya obat ini lebih mujarab dari pada resep dokter yang menawarkan puluhan pil pahit yang harus aku minum setiap saat jika penyakit ini mulai menyerang kepalaku.


"Terimakasih sayang," ucap Rei sambil tersenyum padaku.


Aku mengecup bibirnya lagi sekedar berterima kasih padanya. Tapi kecupan terakhir itu..oh kenapa tiba-tiba pandanganku kabur dan setelah itu aku tidak sadarkan diri.


"Aida!...Aida!" Sayang," teriak Raffi menyebut namaku dengan sangat panik.


"Astagfirullah, ya Allah mengapa aku bisa melihat mereka dari tempatku berdiri, aku melihat tubuhku masih ditempat tidur.


"Ya Allah kenapa mereka menangis, aku memeluk ibuku tapi kenapa tanganku tidak bisa merasakan kulit ibuku.


Aku melihat suamiku sudah berteriak histeris.


"Aidaaaa!...Aida...!!"


"Ya Allah apa yang terjadi pada tubuhku?"


Raffi mengangkat tubuhku, lalu membawa ke mobilnya menuju rumah sakit, di belakang suamiku ada kedua orangtuaku yang juga mengantarku ke rumah sakit. Mobil suamiku bergerak dengan kecepatan tinggi menyalip semua mobil yang ada didepannya.


"Aida bertahanlah sayang, jangan pergi dengan cara seperti ini." ucap Raffi dengan tetap mengemudikan mobilnya.


Tubuhku sudah di atas brankar, para suster mendorong brankar itu memasuki ruangan IGD rumah sakit milik Rei. Team dokter berusaha membantuku. Alat pacu jantung dikerahkan bahkan mesin penunjang kehidupanku menempel di antara anggota tubuhku.


"Apakah ajalku sudah dekat?"


Raffi menghubungi ponsel Rei, untuk memberi tahu keadaanku.


"Ya Allah apakah sudah separah itu sakitku, karena suamiku sedang berbicara dengan Rei sambil terisak.


"Assalamualaikum tuan!"


"Waalaikumuslam Raffi!" ada apa denganmu, mengapa kamu kedengaran sedang menangis?"

__ADS_1


"Aida!.. istriku!"


"Kenapa dengan Aida?" tanya Rei dari seberang telepon.


"Keadaan Aida makin parah tuan!"


Malika merebut ponsel suaminya lalu berbicara dengan Raffi, karena suara Raffi terdengar jelas olehnya.


"Apa yang terjadi pada Aida Raffi?"


"Maaf nona Malika, Aida... keadaan nya sudah sangat parah!"...hiks..hiks.


"Jadi selama ini Aida sakit?, kenapa tidak ada yang bilang padaku kalau selama ini istrimu sakit, sekarang di mana Aida?"


"Di rumah sakit nona, dokter masih menanganinya."


"Ceritakan kepadaku, bagaimana awal mulanya, Aida bisa mengalami sakit." pinta Malika pada Raffi untuk menceritakan keadaan Aida yang saat ini sedang kritis.


Raffi dengan gamblang menceritakan semua kondisi awal yang dialami oleh istrinya sampai detik terakhir, Malika yang mendengar itu hanya bisa menangis karena keadaan sahabatnya disana, di rumah sakit milik keluarga suaminya di Jakarta.


Setelah mendengar semua penuturan Raffi tentang kondisi terakhir Aida, Malika pun memberitahukan kalau mereka akan segera pulang ke tanah air.


"Baik nanti malam kami akan segera kembali ke Jakarta."


Setelah mengatakan ingin pulang, Malika memanggil pelayan untuk merapikan semua pakaian keluarganya untuk dikemas ke dalam koper."


"Rei, mengapa kamu tidak pernah beritahu kalau Aida menderita sakit parah, kangker stadium empat dan kandungannya harus digugurkan.


"Maaf sayang, aku tidak tahu kalau sakit Aida separah itu. Mungkin Raffi menyembunyikan dari kita karena takut menganggu kegiatan kita disini."


"Baiklah aku akan pulang dengan orangtuaku bersama dengan anak-anak kita, kalau kamu masih banyak urusan di sini, silahkan diteruskan."


"Tidak!" aku tidak bisa jauh darimu, ayo, kita pulang semuanya.


🌷🌷🌷🌷


Di rumah sakit S****m Jakarta milik Rei, Raffi yang menunggu istrinya dan mertuanya sudah berhadapan dengan dokter Sunan sebagai penanggungjawab penyakit yang diderita pasiennya Aida.


"Bagaimana dengan istri saya dokter?" tanya Raffi yang melihat dokter itu keluar dari ruang IGD.


"Maaf tuan Raffi, keadaan nyonya Aida hanya menghitung hari, tubuhnya sudah tidak lagi merespon alat-alat medis, penuhi saja apa yang menjadi keinginannya di saat-saat terakhirnya.


Maafkan kami tuan Raffi, kami sudah berusaha semampu kami sebagai seorang dokter, kecuali ada keajaiban dari Tuhan." ucap dokter Sunan seraya menepuk bahu Raffi lembut.


Raffi tidak bisa berkata apa-apa lagi, tubuhnya terperosok jatuh dalam keadaan menyender. Mertuanya yang ikut mendengar penuturan dokter Sunan merasa shock, keduanya saling berpelukan dan menangis meratapi putrinya.


"Ayah, ibu tidak sanggup kehilangan Aida ayah...hiks..hiks!"


Raffi masuk menemui istrinya yang sekarang sudah berada diruang isolasi. Tubuhnya dilengkapi dengan alat medis sebagai penopang hidup, tubuh ringkih itu yang baru saja memberikannya kepuasan dan sekarang kembali terbaring lemah.


Dengan selang pernafasan yang ada di mulutnya Aida membuka matanya perlahan melihat ruang yang dikelilingi tembok putih. Ia juga melihat suami dan kedua orangtuanya duduk di bangku yang ada dalam kamar itu.


"Raffi!" panggil Aida lirih."


"Raffi, apakah kamu mau memenuhi permintaan terakhirku?"


"Mintalah sayang, aku akan memenuhi keinginanmu," ucap Raffi sambil menangis pilu.


"Raffi, menikahlah dengan gadis yang masih suci, sebelum aku meninggal."


"Aida, mengapa kamu meminta itu lagi, bukankah kita sudah membahas ini sayang?"


"Tapi, aku mau pergi jauh Raffi, tapi sebelum itu datang, aku ingin kamu menikah lagi sayang, ku mohon penuhilah permintaan terakhirku ini sayang."


"Ini adalah pilihan yang sangat sulit untukku sayang."


"Raffi, kumohon dalam minggu ini, bawahlah seorang gadis dan menikahlah dengannya."


"Apakah kamu yakin hatimu tidak apa-apa sayang?"


"Aku sudah meridhoi dirimu untuk wanita lain."


"Bagaimana jika nantinya keputusanmu ini akan membuatmu menyesal Aida."


"Raffi, hidupku tidak akan lama lagi sayang, tolong kabulkan permohonanku."


"Baiklah, jika itu memang keinginan mu, ku harap kamu tidak menyesal dengan keputusanmu ini sayang.


"Justru aku akan bahagia untuk itu sayang."


Debat yang melelahkan itu berakhir, Raffi sangat bingung dengan kemauan keras istrinya, ia menyanggupi permintaan terakhir itu, untuk menyenangkan hati istrinya, seperti yang dikatakan dokter barusan padanya.


🌷🌷🌷🌷


Dikejauhan tepatnya dikota Hamburg. Seorang gadis yang semakin hari semakin tidak ingin memiliki gairah hidup. Ia akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk dirawat karena tubuhnya yang sering menolak makanan yang ingin masuk. Tante Koni dan tuan David bingung dengan keadaan Sarah yang tidak ingin bicara pada mereka. Dokter yang merawat Sarah hanya tersenyum kecut, menatap mata gadis yang berwarna pirang ini.


"Dokter, bagaimana dengan putri saya, mengapa ia seperti patung hidup, apa yang sedang ia alami.


"Putri anda menderita sakit jiwa nyonya!"


Degg!"


"Apa!" apakah putri kami sudah gila dokter.


"Putri kalian mengalami sakit rindu, orang yang mengalami penyakit ini harus bertemu dengan belahan jiwanya yang sudah membawa bagian dari jiwanya yang telah hilang."


Akhirnya kedua orangtuanya Sarah mengerti apa yang dikatakan oleh dokter. Mereka sekarang menyadari jika putri mereka sedang jatuh cinta dengan pria yang mereka sendiri tidak mengenalnya.


Rei dan Malika yang datang ke rumah sakit ingin berpamitan dengan paman dan tantenya itu sangat terkejut melihat tubuh Sarah yang makin kurus, mereka tidak menyangka gadis ini merasakan jiwanya yang sangat tertekan karena keinginannya yang tidak bisa terwujud.

__ADS_1


"Tante, bagaimana keadaan Sarah," tanya Rei yang melihat Sarah yang hanya duduk memeluk kedua lututnya.


"Seperti yang kamu lihat Rei, keadaannya seperti ini dalam dua bulan terakhir ini.


"Tante, saya tahu apa yang di alami Sarah."


"Apa!" jadi selama ini kamu tahu tapi kamu mendiamkannya Rei?"


"Jika ini mudah untukku, akan aku bawa lelaki yang saat ini Sarah rindukan dan akan saya lakukan tante," jawab Rei yang tidak ingin merasa dipojokkan oleh keluarga papinya.


"Siapa Rei," tanya Malika yang memulai menginterogasi suaminya.


"Dia adalah suami sahabatmu sendiri Malika."


"Apa???" jadi maksud kamu adalah Raffi?"


"Iya sayang, saat pertama kali bertemu dengan Raffi, Sarah langsung jatuh cinta pada Raffi, aku yang tidak ingin Sarah menaruh harapan besar pada Raffi mencoba menjelaskan status Raffi yang sudah menikah dan istrinya saat itu sedang hamil muda dan sekarang kehamilan wanita malang itu harus di aborsi karena penyakit yang di deritanya yang tak mampu mempertahankan bayinya.


Degg!"


Keluarga tampak shock mendengar penjelasan Rei tentang keadaan Sarah yang saat ini mencintai suami orang lain. Malika yang mulai merasa serba salah dengan kedua gadis yang sama-sama punya andil besar dalam hidupnya. Yang satu pernah menyelamatkan perusahaannya dan sekarang sedang kritis menghadapi ajalnya.


Dan yang ini, Sarah, gadis yang pernah menolong mereka untuk mengambil putranya dari tangan mantan mertuanya yang saat ini kehilangan gairah hidupnya dengan memperebutkan lelaki yang sama yaitu asisten dan sekaligus sahabat suaminya.


"Astagfirullah, kenapa harus begini ya Allah, mengapa Engkau menitipkan cinta pada gadis ini dalam keadaan yang salah." keluh Malika yang tidak tahu dengan cara apa mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh gadis ini.


"Tante hari ini kami mau kembali ke Jakarta, karena Aida istrinya Raffi dalam keadaan kritis. Bolehkah saya berbicara berdua dengan Sarah tante Koni?"


"Baiklah, kami tinggalkan kalian berdua," ucap tante Koni mengajak Malika dan tuan David keluar dari kamar inap Sarah."


Setelah orangtua Sarah dan istrinya meninggalkan mereka berdua, Rei mendekati Sarah dan memeluk adik sepupunya itu.


"Sarah adikku, jika lelaki yang kamu cintai itu masih sendiri, aku dengan senang hati membawa dirinya untuk menikahkan kalian berdua. Tapi statusnya yang membuatku sulit memaksanya untuk menikahimu. Ditambah lagi keadaan istrinya yang saat ini tidak bisa bertahan hidup membuat Raffi juga seperti dirimu sekarang ini, kehilangan belahan jiwanya yang sangat ia cintai.


Mengertilah Sarah cinta yang kau bangun diatas luka orang lain tidak akan bertahan untuk kau bisa miliki, hatinya pasti condong dengan teman hidupnya daripada kamu yang baru sesaat kalian baru saling mengenal. Mungkin Raffi pernah mengucapkan perasaan cintanya padamu, tapi untuk apa cinta itu kalau kamu sendiri tidak bisa memiliki raganya, bukankah itu akan menjadi sia-sia untukmu Sarah.


Sekarang ka Rei mohon buanglah perasaan egoismu itu dan relakanlah hak orang lain yang tidak bisa kamu miliki. Berpisah dengannya bukan menjadi duka untukmu walaupun pada akhirnya meninggalkan luka dihatimu. Hari ini aku dan keluarga besarku akan bertolak ke Indonesia, setelah aku pulang, pikirkan kembali kata-kata ku Sarah. Aku pamit pulang ya adikku, cepatlah sembuh, jangan biarkan sifat egoismu membunuh akal sehatmu apa lagi nuranimu. Rei mengecup punggung tangan adik sepupunya itu, hatinya juga tidak tega melihat Sarah yang begitu terpuruk karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sarah menatap wajah Rei, air mata itu kembali berderai, dengan bibirnya gemetar Sarah berusaha berkata-kata kepada kakak sepupunya itu.


"Kak, apakah salah aku mencintainya?"


"Mencintai Rafii tidak salah, namun memaksakan dirimu untuk memilikinya itu yang salah."


"Bagaimana aku menghilangkan perasaan cinta ini ka, makin aku mencobanya untuk merelakannya makin aku merasa tersiksa untuk melupakannya....hiks...hiks!"


"Sarah...semua ada waktunya, kembalikan semua pada tempatnya, sebelum kamu mengenalnya. Mana wajah ceria yang dulu ka Rei kenal, gadis yang selalu perduli dengan nasib orang, mana itu semua Sarah?" bukankah obsesimu pada Raffi makin mengikatmu untuk menjadikanmu wanita yang jahat?"


"Maafkan aku ka Rei, aku tidak bisa berjanji pada kakak, tapi aku akan belajar untuk melupakannya."


"Baguslah adikku yang cantik, sibukkan dirimu dengan berbagai kegiatan bermanfaat, jangan biarkan hal baik terhalangi oleh cinta yang semu."


Tidak apakan kalau ka Rei tinggalkan kamu disini bersama orangtuamu?"


Sarah hanya mengangguk dengan air matanya yang masih saja mengalir, yah lebih baik menangis dari pada mengurung air mata itu yang lebih membuat hati makin terluka, dengan membasuhnya maka sakitmu akan berkurang meskipun rasa itu masih ada.


keluarga tuan Romi bersiap kembali ke Indonesia. Pesawat jet milik pribadi tuan Romi membawa lagi rombongan mereka ke tanah air. Baby kembar dengan oma dan eyang putrinya sedangkan Ezra tetap memilih bersama daddynya.


🌷🌷🌷🌷


INDONESIA.


Dari bandara pribadi, Rei dan Malika mengunjungi rumah sakit miliknya untuk bertemu langsung dengan Aida. Hanya orang tua dan anak-anak mereka yang kembali ke mansion mereka masing-masing. Sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Malika yang tak pernah ia lepaskan jika berjalan berdampingan dengan istrinya seakan takut bidadarinya akan tersentuh dengan tubuh orang lain yang melewati mereka. Tetap tampil cantik dan tampan disetiap kesempatan Malika dan suami masuk ke ruang isolasi rumah sakit di mana Aida di rawat. Raffi yang melihat bosnya itu langsung berpelukan dan menangis, ketegaran lelaki tampan itu tidak lagi mampu diperlihatkannya didepan sahabatnya ini.


Bagai seorang bocah yang kehilangan ibu kandungnya Raffi menangis di pundak Rei begitu pula Malika yang memeluk ibunya Aida, kedua wanita yang berbeda usia ini tampak larut dalam kesedihan. Ibu Aida yang mengingat Malika adalah sabahat dan sekaligus mantan bos putrinya tersebut, mendekap gadis yang sudah memiliki tiga anak ini dengan bercucuran air mata.


"Neng Malika, Aida neng..sahabatmu ini makin kritis ..hiks...hiks!"


Malika mengurai pelukannya pada ibunya Aida dan beralih menghampiri brankar tidur Aida di kamar isolasi itu. Tangan dan kaki gadis ini seakan hilang tenaganya terhisap oleh ketakutan dan kepedihan yang datang bersamaan menghinggapi hatinya.


"Aida!" panggil Malika ketika melihat sahabatnya itu berjibaku dengan beberapa peralatan medis yang melekat pada tubuhnya.


Malika mengecup pipi sahabatnya, air matanya seakan tidak ingin berhenti, baru tujuh bulan yang lalu kedua gadis ini nampak gembira dihari pernikahan Aida dan Raffi, tapi tubuh ini, ceria ini sudah digrogoti oleh penyakit kangker otak stadium akhir. Karena tidak kuat melihat sahabatnya Malika lari keluar dari kamar Aida.


"Aidaaaaa!" Aidaaaa!...aaa...aaa..aaa!"


Teriak Malika pilu meratapi sahabatnya itu. Rei yang melihat istrinya keluar, ikut lari mengikuti istrinya, dipeluknya wanita yang sangat dicintainya itu. Dibawa wajah istrinya kedadanya yang bidang, lalu keduanya berpelukan erat karena tidak kuat menahan kesedihannya.


"Rei, Aida Rei...aku tidak mau lagi melihat orang-orang yang kucintai harus pergi dari kehidupanku...hiks...hiks!"


"Sayang, semua yang dicintai suatu saat akan pergi dan semua yang kita damba akan hilang, begini hidup yang harus kita jalani tidak ada yang bertahan untuk terus bersama dengan orang-orang yang kita sayangi." hibur Rei pada istrinya.


"Rei, apa tidak ada kesempatan Aida untuk sembuh, apakah kamu tidak bisa mengusahakan untuk pengobatan Aida?"


"Sayang, dokter sudah menyerah karena keadaan Aida yang tidak mungkin lagi untuk disembuhkan.


"Rei, kita bukan Tuhan, apa salahnya kalau kita tetap ikhtiar tanpa harus menyerah pada keadaan, mungkin dengan cara ini, Tuhan melihat kesungguhan kita menolong Aida dan Tuhan akan menyembuhkan Aida, tugas kita memberikan jalan baginya untuk berobat dan tugas Tuhan, memudahkan ikhtiar kita menyembuhkan Aida. Bukankah kamu tidak pernah menyerah untukku di titik yang sama seperti Aida alami saat ini?"


Rei menarik nafasnya lembut, berusaha berpikir dengan usul dari istrinya.


"Baiklah kita akan mencobanya, aku akan berkonsultasi dulu dengan dokter di Amerika tentang kasus penyakitnya Aida."


"Benarkah kamu akan melakukannya untuk sahabatku Aida."


"Iya sayang, tidak ada salahnya untuk mencoba selain mendoakan yang terbaik untuk Aida."


"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu."


"Sekarang, kita temui lagi keluarga Aida, kasihan Rafi dan orang tua Aida.


Rei menghapus sisa air mata istrinya dengan mengecup kedua mata indah itu dan bibir sensual milik Malika.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi cantik, hatiku ngilu kalau melihat kamu selalu menangis. Tersenyumlah sayang, kehadiran kita disini untuk menghibur mereka bukan malah sebaliknya. Berilah mereka motivasi sayang, hmm!"


Malika mengangguk, menyanggupi permintaan suaminya. Ia mengatur lagi emosional yang sempat ia luapkan karena kesedihannya. Dengan berusaha tersenyum dihadapan suaminya Malika menggandeng lengan Rei kembali ke dalam kamar isolasi di mana Aida yang masih berjuang bertahan hidup.


__ADS_2