
Rei kembali ke aktifitasnya sebagai seorang CEO salah satu maskapai penerbangan internasional. Kali ini Rei tidak datang sendiri di hari pertamanya kembali ke perusahaan setelah menghabiskan bulan madu dengan istri tercinta, di hari itu ia mengajak Malika ikut serta dengannya.
Baru kali ini Rei membawa Malika ke perusahaannya, mereka di sambut oleh para karyawan yang sudah berdiri berjejer rapi menyambut bos mereka.
Langkah kaki Rei yang berjalan tegak nampak gagah dengan wajah tampan yang mengundang banyak pasang mata menatapnya dengan kekaguman. Malika yang tampak cantik bak model berjalan menggandeng lengan suaminya dengan menebar senyum manisnya. Semua karyawan memberikan ucapan selamat datang untuk mereka berdua. Rei berdiri di antara para karyawan perusahaannya lalu memperkenalkan kembali Malika sebagai istrinya.
"Selamat pagi tuan Rei, selamat datang kembali ke perusahaan," ucap karyawan serentak seraya membungkukkan badan mereka.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan ini istriku Malika, dan saat ini istriku sedang mengandung buah cinta kami, usia kandungannya sudah empat bulan, mohon doanya agar kehamilannya lancar sampai melahirkan dengan selamat."
"Aku harap atas kerjasama kalian untuk membuat istriku tetap nyaman saat berada di kantor ini, dia juga memiliki perusahaan sendiri, pasti kalian sudah banyak tahu tentang kehidupan istriku."
"Hari ini kita akan mengadakan pesta kecil dan Raffi tolong urus koordinasikan dengan team dan jangan undang wartawan, cukup relasi kita saja."
"Baik tuan siap laksanakan."
Rei dan Malika sudah memasuki lift utama, hanya mereka berdua yang berada di lift itu, Rei memanfaatkan kesendirian mereka dengan mengecup bibir Malika.
"Rei, jangan nakal gitu ah!"
"Kamu makin cantik saat sedang hamil."
"Nanti kalau aku gendut, apa kamu masih suka sama aku?"
"Tentunya sayang, tidak ada yang berubah dariku, saat aku pertama kali mengenalmu dan akan terus begitu sampai ajal menjemputku."
"Jangan mengatakan hal yang mengerikan Rei, aku sangat trauma dengar kalimat yang sama seperti yang terjadi pada mas Arie."
"Apakah kamu masih mencintainya Malika?"
Lift terbuka, keduanya sudah melangkah menuju ruang kerja VVIP milik Rei. Ruangan itu sangat modern dengan sentuhan arsitektur yang tertata rapi semua fasilitas kantor yang sangat elegan.
Di dalam ruangan Rei ada kamar pribadi yang dijadikan Rei sebagai tempat istirahat saat kelelahan bekerja. Aroma wangi dalam ruangan itu menebarkan bau harum menenangkan pikiran bagi siapa saja yang menghirupnya, Rei sengaja meminta asisten Raffi memasang aroma terapi di ruang kerjanya. Rei mengajak istrinya untuk duduk di kursi kebesarannya.
"Sayang, sini duduk!"
"Aku duduk di mana sayang, kalau kamu mengajak duduk di kursimu."
"Aku akan memangkumu sayang, karena aku ingin selalu dekat denganmu."
"Sepertinya sikap manjamu terbawa karena aku hamil deh Rei."
"Yah mungkin saja itu bawaan bayi sayang membuat aku jadi begini," tukas Rei manja sambil mengiring tubuh istrinya mendekati meja kerjanya.
"Ah kamu makin nakal aja sayang."
"Aku nakal karenamu, milikmu yang membuat aku tidak betah jauh darimu sayang," ucap Rei lalu mengangkat tubuh istrinya menempatkannya di atas meja kerjanya.
Dengan perlahan Rei menyingkap gaun istrinya, seketika terpampang lah segitiga warna merah yang dipakai Malika.
"Rei ini masih pagi lagi pula ini di kantormu sayang."
"Aku tidak perduli sayang, aku hanya menginginkanmu, yang lain urusan asisten Raffi."
Rei kembali menyingkap gaun itu lagi dan membuka segitiga merah itu, kemudian melakukan senam lidah pada bagian inti istrinya, Malika merintih merasakan sensasi hebat yang diberikan suaminya. Aksi panas itu terhenti karena ada ketukan pintu ruang kerjanya Rei.
"Kenapa asisten Raffi mengangguku sepagi ini, bukankah dia sudah hebat saat ku tinggalkan sendiri," ujar Rei menggerutu pada asisten Raffi.
Malika mengambil kembali kain tipis yang menutupi bagian intinya dan masuk ke kamar milik pribadi suaminya. Pintu di buka lalu masuk lah seorang wanita yang sangat cantik dan seksi, baju yang dipakai wanita ini sedikit memperlihatkan belahan dadanya yang besar, baju ketat yang membungkus tubuhnya memperlihatkan setiap lekukan tubuhnya yang ramping dan menggoda.
Rei begitu terperanjat dengan wanita cantik yang berambut hitam lurus ini datang ke perusahaannya saat dia sedang bersama Malika. Rei ingat dengan gadis ini yang pernah nekat b***l di depannya empat tahun lalu, saat itu Rei yang ingin mencoba mendatangkan wanita yang super seksi ini untuk memancing birahinya. tapi sedikitpun Rei tidak tergiur dengan tubuh molek ini.
"Selamat pagi tuan Rei!"
"Apakah kamu masih mengingatku?" ucap wanita seksi itu memaksa masuk lalu duduk di atas meja kerja Rei dengan kaki kiri menumpuk kaki kanannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" ucap Rei dengan menatap tajam wanita di hadapannya ini.
"Jangan kasar sayang, mungkin dulu kamu belum siap melakukannya, tapi aku yakin sekarang kamu menginginkanku bukan," ucapnya dengan spontan langsung membuka bajunya dihadapan Rei.
Seketika dua buah benda kenyal itu terpampang di hadapan Rei, Rei yang baru mau bangkit dari duduknya ingin mengusir wanita ini, tapi dengan cekatan wanita ini menarik kepala Rei, menempelkan ke dadanya yang besar menantang untuk di mainkan. Di saat bersamaan Malika keluar dari kamar pribadi suaminya yang ada di ruang kantor itu. Wanita itu yang bernama Bela begitu kaget melihat wanita lain ada di dalam ruangan itu. Dengan cepat dia memungut bajunya menutupi bagian dadanya.
"Siapa kamu!," bentak Bela yang merasa terganggu dengan kehadiran Malika.
Dengan santainya Malika menyapa wanita seksi ini. Kemudian Malika menatap wanita ini dengan wajah tenang tapi mampu membunuh orang lain saat manik matanya bertemu dengan manik lawan bicaranya. Tatapan mata membunuh membuat hati orang yang menatapnya seakan bergidik ngeri melihat wajah Malika.
"Kenapa kamu menutupi dadamu nona, bukankah kamu sedang menggoda pria tampan ini?"
"Aku ingin melihat milikmu, apakah milikmu bisa membuat suamiku terangsang?"
"Suami?
siapa yang kamu maksud dengan suami nona?"
"Jangan mimpi kamu bisa mendapatkan lelaki tampan dan hebat ini, karena dia adalah milikku," ucap wanita seksi ini kepada Malika.
"Rei apakah kamu tidak ingin memperkenalkan dia padaku?," pinta Malika pada Rei.
"Nona kenapa kamu tidak sekalian saja b***l, aku penasaran dengan tubuhmu yang bisa membuat suamiku bergairah padamu," ucap Malika seraya menarik baju yang menutupi dada besar Bela.
Dengan spontan Malika menampar wajah bela hingga pipi wanita seksi ini sangat merah, dengan masih terbakar emosi Malika menjambak rambut bela ke belakang lalu ia pelintir lengan tangan gadis itu kebelakang sehingga makin mencuatlah dua gundukan lemak milik Bela.
"Dengar j***g!, jangan coba-coba kamu mengambil milikku karena aku tidak segan-segan menghabisi nyawamu, suamiku bukan milik bersama nona, silahkan kamu pamerkan tubuh murahanmu itu kepada semua pria yang ada di pasar, mungkin ada yang mau membayarmu dengan recehan dan satu hal lagi nona, suamiku tidak suka menanam sahamnya pada rahimmu yang sudah banyak menampung lendir para pria hidung belang yang sering meniduri tubuhmu," ucap Malika lalu mendorong tubuh wanita itu keluar dari ruang kerja Rei.
Malika membanting pintu itu dengan kencang, sehingga membuat kuping Rei berdengung.
"Apakah kamu pernah tidur dengannya!" tanya Malika dengan wajah garang membuat Rei mati kutu.
"Kamu sudah sembuhkan, kenapa tadi kamu nggak tiduri dia sekalian!," bentak Malika di depan wajah Rei.
Malika menyambar tas hitam miliknya ingin keluar meninggalkan Rei yang masih termangu menyaksikan adegan pertengkaran istrinya dengan wanita masa lalunya itu.
"Sayang!
Tunggu Malika, tolong jangan salah paham, dengarkan aku dulu, aku memang mengenalnya tapi kamu tahu keadaanku sebelumnya."
"Oh jadi itu masalahnya, jika kamu dulu menjadi laki-laki normal pasti ruangan ini akan menjadi saksi perbuatan mesum kalian.
__ADS_1
"Sudah berapa banyak wanita yang kau undang ke sini, untuk menjadikan tubuh mereka sebagai alat terapi untuk menyembuhkan dirimu?" sungut Malika berapi-api.
"Malika sayang, dengarkan aku dulu, ku mohon sayang!"
"Aku mau pulang, aku sudah tidak nyaman berada di sini." ucap Malika kasar pada suaminya.
"Sayang, jika kamu keluar dari pintu itu berarti...
Kita pisah," jawab Malika menyambung perkataan suaminya.
Rei mengacak rambutnya kasar, merasa kalang kabut menghadapi amukan istrinya ini.
"Ah sial kenapa wanita itu datang dan menghancurkan semuanya." umpatnya dalam hati.
Malika membuka pintu itu lagi kemudian melangkah pergi meninggalkan Rei yang serba salah menenangkan istrinya. Ia menyusul mengejar istrinya namun sayang pintu lift sudah keburu tertutup.
Rei hanya menunggu lift kembali bergerak naik, ingin rasanya dia menendang pintu lift yang lama terbuka. 1 menit lift sudah menyapa Rei yang sudah gelisah menunggu pintu terbuka. Rei masuk ke lift dan memencet lantai satu. Ketika dirinya sudah berada di lobby kantor, tak nampak istrinya di sekitar lobby. Satpam yang bertugas jaga menghampiri Rei,
"Maaf tuan tadi saya melihat nyonya muda pergi dengan menumpang taxi.
Asisten Raffi baru datang membawa kendaraan Rei, melihat tuannya yang sedang bingung sambil memijat pelipisnya.
"Tuan, apakah perlu bantuan?"
"Turun kamu dari mobilku dan kerjakan tugasku!, aku mau menyusul Malika pulang.
"Tuan, bagaimana pestanya?"
"Lakukan saja pestanya, aku tidak ikut dalam pesta ini."
Rei menyetir mobilnya sendiri, dalam perjalanan Rei mengingat kata-kata Malika untuknya pada Bela. Rei tersenyum bangga mengingat Malika membela kehormatannya di hadapan Bela. Rei baru mengetahui kecemburuan Malika sangat mengerikan hingga membuatnya tidak mampu melerai pertikaian Malika dan Bela tadi di ruang kerjanya.
"Ternyata kamu hebat sayang, selain kesempurnaan fisik kamu juga ternyata seorang pencemburu, walaupun saat ini kamu marah, tapi aku sangat menyukainya," ucap Rei bermonolog.
Rei mencoba memencet nomor ponsel milik Malika, namun panggilan itu tidak diangkat, Rei menelpon maminya.
"Hallo mami, apakah Malika sudah berada di mansion?"
"Bukankah kalian tadi bersama ke perusahaanmu."
"Ya sudah mami, aku cuma menanyakan Malika karena tadi ia pamit mau pulang duluan." ucap Rei berbohong kepada maminya.
"Nanti mami kabarkan lagi ke kamu kalau istrimu sudah pulang."
"Terimakasih mami."
Kali ini Rei menghubungi mertuanya, jawabannya sama dengan maminya kalau Malika tidak berkunjung ke mansion mertuanya.
"Malika, kamu ke mana sayang, pulanglah sayang, kamu lagi hamil, jangan ngambek gitu," ucap Rei yang mulai gelisah memikirkan Malika yang tidak bisa di temukan.
Sudah seharian Rei mengitari jalanan ibukota kota hanya untuk mencari istrinya, Rei menelepon asisten Raffi untuk mengerahkan orang-orangnya membantu mencari Malika.
"Malikaaaaa!, jangan membuatku gila sayang mencarimu lagi sama seperti dulu kamu pergi dari hidupku." ucap Rei seraya memukul dengan kencang pada stir mobilnya
Tiba-tiba ada panggilan masuk di ponsel Rei, tanpa melihat layar ponselnya, Rei langsung menjawab panggilan itu.
"Maaf tuan ini saya Raffi!
"Ada laporan apa Raffi!"
"Ada yang melihat nyonya muda di pemakaman tuan, di daerah tanah kusir."
"Benarkah yang kamu katakan Raffi?"
"Benar tuan mereka mengirim foto nyonya Malika sedang duduk di atas makam."
"Baiklah suruh orangmu tetap mengawasi Malika sampai aku sendiri yang menjemputnya."
Rei kembali memutar arah balik menuju pemakaman tanah kusir, hatinya merasakan sangat sakit mendengar Malika mendatangi pemakaman mantan suaminya. Entah mengapa Rei meneteskan air matanya, lelaki tampan itu merasa tidak begitu berharga dibandingkan dengan almarhum suami pertama istrinya.
Kendaraan Rei sudah mendekati pemakaman tanah kusir, Rei memarkirkan mobilnya di area parkir yang sudah tersedia di pemakaman itu, tidak lupa Rei membeli seikat bunga untuk di letakkan di atas makam almarhum Arie. Rei berjalan menyusuri jalan kecil menuju makam di mana istrinya masih duduk sambil menundukkan wajahnya di samping makam Arie, kini Rei sudah berada di balik punggung istrinya yang tidak menyadari kedatangannya. Dengan menahan kesedihannya Rei berbisik lirih di telinga Malika.
"Apakah kamu masih mencintainya Malika?," tanya Rei membuat gadis ini terperanjat menengok ke belakang.
"Rei!"
"Apakah dia masih sangat berharga bagimu dari pada aku suamimu yang sekarang, Malika?, sehingga kamu tega mendatangi makamnya tanpa mendapat izinku?," tanya Rei dengan nada ketus pada Malika.
Rei meletakkan bunga di atas pusara Arie kemudian kembali melangkah pergi meninggalkan Malika yang masih termangu menatap punggung suaminya pergi meninggalkan pemakaman.
"Reiiii, tunggu!"
pria kharismatik ini meneguhkan hatinya untuk tidak membalikkan tubuhnya melihat istrinya yang sedang berjalan tertatih-tatih mengejarnya.
"Bughh!!
"Reiii aduhhh.. aahhkk!," teriak Malika yang terpeleset karena menginjak tanah yang becek di sekitar pemakaman.
"Malikaaaaa!!" teriak Rei melihat istrinya terjerembab di atas pemakaman.
Setibanya Rei mendekati istrinya, dari betis istrinya mengalir darah segar. Malika menahan rasa sakit pada perutnya karena terjadi pendarahan. Melihat darah yang mengalir membasahi gaunnya Malika berteriak,
"Tidakkkkk, baby jangan keluar sayang, maafkan mami hiks!"..hiks!"
"Malikaaaaa!"
"Kenapa darahnya banyak sekali sayang?," tanya Rei yang sudah memeluk tubuh istrinya.
"Rei, perutku sangat sakit, bisik Malika lemah."
Wajah Malika makin pucat, tubuhnya gemetar dengan tangan yang sangat dingin. Rei mengangkat tubuh istrinya menuju mobilnya. Rei mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi, dalam hitungan menit Rei sudah masuk ke halaman Rumah sakit miliknya.
Pihak medis segera membawa tubuh Malika ke ruang bersalin. Rei yang ingin masuk ditahan oleh suster.
"Maaf tuan biarkan dokter yang menangani nyonya," ucap suster tersebut.
Rei menangis, menyesali sikapnya yang mengikuti na**u amarahnya yang menyebabkan kecelakaan pada istrinya. Dokter segera menangani Malika, semua alat bantu medis dikerahkan oleh dokter untuk menyematkan Malika dan bayinya. Dokter Riyanti Adam keluar menemui Rei.
__ADS_1
"Permisi tuan Rei, kami ingin minta persetujuan anda untuk melakukan operasi sesar, kami ingin anda segera mengambil keputusan, siapa yang harus kami selamatkan, apakah istri anda ataukah bayi kembar anda tuan Rei?"
"Selamatkan mereka bertiga dokter ku mohon jangan memintaku untuk memilih diantara keduanya, aku tidak sanggup kehilangan salah satu diantara mereka, hiks..hiks!"
"Tapi tuan ini sangat beresiko, jika tuan mempertahankan mereka, yang ada semuanya malah nggak bisa diselamatkan."
"Tidakkkk!!, jangan ya Allah ku mohon jangan ambil mereka dariku," teriak Rei yang sudah berkaca-kaca.
Di waktu bersamaan, suster keluar mengabarkan bahwa keadaan Malika sangat gawat.
"Dokter, pasien kehilangan kesadaran dan mengalami pendarahan, janinnya hampir keluar dokter.
"Kami harap anda secepatnya mengambil keputusan tuan Rei atau anda akan kehilangan mereka."
Dokter Riyanti segera masuk meninggalkan Rei yang menangis tersedu-sedu. Rei mengambil ponselnya menghubungi keluarganya dan keluarga Malika, hatinya sudah sangat merasakan sesal yang mendalam. Mengapa kabar buruk lagi-lagi menimpa hidupnya. Wanita yang sudah menyelamatkan jiwanya harus bergelut dengan maut, wanita yang susah payah didapatkannya telah di sia-siakannya.
Kini semua keputusan harus ada ditangannya. Pilihan yang sangat sulit untuknya. Jika dia menyelamatkan istrinya, takutnya Malika tidak akan memaafkannya tapi jika dia menyelamatkan bayinya, ia akan kehilangan istrinya dalam hidupnya.
"Ya Allah kenapa aku selalu melakukan kebodohan yang sama?," ucapnya sambil menjatuhkan tubuhnya dan duduk menyender dinding rumah sakit.
Dokter keluar membawa berkas pernyataan untuk tindakan operasi dan menyerahkan berkas itu kepada Rei untuk ditandatangani oleh pria pemilik rumah sakit tersebut.
"Semua keputusan ada ditangan anda tuan Rei, waktu anda cuman lima menit dari sekarang," ucap dokter Riyanti Adam.
"Ya Allah, jangan ya Allah," tangis Rei meratapi nasibnya saat ini.
Kedua orangtuanya dan mertuanya datang bersamaan dengan setengah berlari menghampiri putra mereka yang sedang menangis sendirian di depan pintu ruang operasi sambil menggenggam pena dan berkas.
"Rei, sebenarnya apa yang terjadi pada Malika nak?," tanya nyonya Ambar yang ikut menangis.
"Malika jatuh mami! hiks..hiks!"
"Ko bisa jatuh, emang kalian ke mana?" tanya nyonya Alea.
Rei tidak bisa menjawab pertanyaan ibu mertuanya, jika ia menjawab kedua besan ini akan saling menyalahkan dan membela anak-anak mereka masing-masing.
Dokter keluar meminta berkas yang ditandatangani Rei.
"Apakah anda sudah menandatangani surat pernyataannya tuan, waktu anda sudah habis, kondisi pasien makin lemah, diagram jantungnya juga sudah makin menipis, kami akan kehilangan mereka kalau anda lambat memberikan keputusan.
"Rei menyerahkan berkas pernyataan itu yang sudah ditandatanganinya setelah itu ia memeluk maminya yang terpaku menatap kosong pintu kamar operasi."
"Maafkan Rei mami, Rei tidak bisa menyelamatkan cucu-cucu kalian, hiks...hiks..hiks!
Nyonya Alea limbung ditempatnya berdiri, tuan Daniel sigap menangkap tubuh istrinya sedangkan tuan Romi meninggalkan ruang tunggu operasi menuju mesjid yang ada di area rumah sakit miliknya. Lelaki paruh baya itu memilih melakukan ibadah sholat mutlak dari pada duduk menangis meratapi keadaan. Rei yang melihat papinya pergi ikut mengejar langkah papinya.
"Papiii!, tunggu Rei papi.
Papi mau ke mana?"
"Dalam hal yang sesulit ini tidak ada yang bisa kita perbuat nak dan hanya Allah satu-satunya penolong kita saat ini sayang, karena setiap jiwa kita ada dalam genggamannya. papi ingin ke mesjid dulu mendoakan menantu dan cucu-cucu papi semoga mereka selamat tanpa harus ada yang dikalahkan." ucap tuan Romi bijak pada putranya.
"Rei ikut papi, Rei lah yang harus melakukan itu papi. maafkan Rei papi Rei tidak menyangka hal ini akan terjadi pada keluarga Rei.
"Di mana baby Ezra papi?"
"Dia bersama pelayan Lani," nanti papi minta Lani membawanya ke sini.
"Kita ambil wudhu dulu papi."
Keduanya mengambil wudhu, ternyata sebelah mereka sudah ada tuan Daniel yang ikut mengambil wudhu. Ketiga pria tampan yang paling berpengaruh di tanah air ini bersama-sama melakukan sholat mutlak sebelum datang sholat ashar. Ketiganya nampak khusu dengan doa yang mereka panjatkan atas kehadirat Allah SWT.
"Ya Allah aku bukan orang suci juga bukan hamba yang sholeh, mungkin ibadahku selama ini kurang khusu, atau aku masih selalu mengabaikan-Mu karena mengejar mimpi dunia.
Ya Allah, dengan kehampaan hatiku, kekosongan jiwaku, dan kesedihan serta lukaku, aku datang membawa semua ini dihadapan-Mu. Ya Robby aku menyesal dan sangat menyesal telah menganiaya hati istriku hingga membuatnya celaka.
Ya Allah izinkan hambaMu yang hina ini mendapatkan kembali keluargaku, selamatkan istri dan bayi kembarku ya Allah hiks..hiks!, hamba tidak sanggup kehilangan salah satu dari mereka, hamba tidak tahu harus berbuat apa selain datang mengetuk pintu rahmatMu, hanya Engkau lah hamba datang memohon dan meminta pertolongan, ya Tuhan kami berilah kami kemudahan dalam ujian yang kau berikan kepada kami, ampuni hambaMu yang bergelimang dosa ini ya Robby. Terimalah doa hamba dan kabulkan doaku ya Robbi. hiks...hiks!"
Rei telah mengucapkan permohonan doanya pada Sang Kuasa, begitu pula tuan Romi dan tuan Daniel, kedua besan ini nampak bersimbah air mata, keduanya bangkit memeluk Rei yang menangis seperti balita yang kehilangan ibunya. Tidak nampak lagi wajah tegas dan berwibawa dihadapan para staffnya, kini dirinya hanya seorang manusia yang telah memperjuangkan miliknya yang akan direnggut oleh kematian. Kehidupan tragis kembali membawanya ke dalam duka nestapa, hari ini lelaki ini memohon dihadapan Tuhannya dengan suara tangis yang menyayat hati. Siapa yang menyangka pria hebat ini tidak berdaya menghadapi dilema baru hidupnya.
"Rei, ayo kita kembali ke ruang operasi nak, mungkin operasinya sudah selesai," ucap tuan Romi.
Kedua besan itu menarik lengan Rei untuk berdiri, ketiganya keluar dari mesjid dan menyelipkan beberapa lembar merah ke kotak amal mesjid. Melihat kotak amal itu tuan Daniel ingat sesuatu. Lelaki itu mengambil ponselnya lalu menelepon cabang perusahaannya yang ada di kota Medan.
"Assalamualaikum pak Ridwan ini saya Daniel."
"Waalaikumuslam, apa kabar tuan Daniel, apakah ada yang bisa saya bantu tuan?
"Keadaan keluargaku kurang baik pak Ridwan, saat ini putriku Malika sedang di operasi, aku mohon doanya untuk kesembuhannya.
Aku minta tolong padamu, tolong bebaskan tanahku yang lima hektar itu untuk pembangunan mesjid. Tolong diurus segala sesuatunya dan mohon doanya semoga putriku Malika dan cucuku bisa selamat.
"Baik tuan Daniel, saya akan melakukannya dengan senang hati.
Terimakasih atas kebaikan tuan, semoga nona Malika dan cucu tuan cepat sembuh aamiin."
Tuan Daniel memutuskan sambungan teleponnya lalu berjalan menghampiri Rei dan Papinya yang sedang berdiri menantinya.
"Apa yang anda lakukan tuan Daniel dengan tanah milik anda di Medan?"
"Aku sedang menebus hartaku, jika hartaku bisa menolong putri dan cucuku, aku akan menukar semua yang kumiliki untuk bisa bersama mereka.
"Benarkah bisa seperti itu tuan Daniel?"
"Iya tuan Romi, ini sudah menjadi ajaran Rasulullah, Islam mengatur segalanya, bagaimana upaya kita saat kita dalam masa kesulitan, kita bisa lakukan sedekah, infak dan zakat, dengan mengeluarkan sebagian harta kita di jalan Allah, insya Allah, Allah akan menyelamatkan kita dari kematian kecuali ajal kita sudah saatnya harus pulang menghadapNya.
"Sangat menarik!"
"Rei, kita akan melakukan amal yang sama, semoga ikhtiar kita bisa membantu untuk kesembuhan istri dan cucu-cucu papi.
Keduanya lalu mengambil ponsel mereka, kemudian mereka menghubungi beberapa yayasan yang membutuhkan donasi untuk kelangsungan hidup mereka. Usai mereka membagikan amal mereka dengan menyisihkan rejeki mereka di jalan Allah, ketiganya kembali ke ruang operasi di mana Malika sedang menjalani perawatan di dalam sana.
Nyonya Ambar dan nyonya Alea saling menggenggam tangan mereka, saling memberi kekuatan dan doa terbaik untuk anak dan cucu mereka. Rei menghela nafas berat ketika sudah berada di ruang operasi tersebut. Tidak lama dokter Riyanti keluar untuk menemui keluarga pasien yang sedang menunggu dengan perasaan cemas yang sudah mengaduk hati dan pikiran mereka.
Dokter Riyanti menarik nafas berat lalu menghembuskannya dengan lembut, seakan mencari kekuatan untuk bisa menyampaikan keadaan Malika dan bayi kembarnya. Rei mundur beberapa langkah dari tempatnya, nyalinya seketika ciut melihat raut wajah dokter yang sangat mencurigakan. Dengan berat hati dokter Riyanti mulai mengatakan sesuatu kepada keluarga besar itu.
"Saya memohon maaf karena saya hanya bisa menyelamatkan..
__ADS_1