
"Kamu?"
"Bukankah kamu pemilik rumah sakit di mana cucuku pernah dirawat?," tanya nyonya Andien yang merasa heran dengan kehadiran Rei bersama Malika menantunya.
"Iya nyonya, kita pernah bertemu di pintu lift rumah sakit milikku."
"Apa hubungan kamu dengan menantuku?, kupikir dia sudah tewas saat itu, ternyata punya masih ada cadangan nyawa untuk nya bisa hidup lagi," ucap nyonya Andien menyindir Malika dengan memperlihatkan wajah sinisnya.
"Maaf nyonya, kami lupa mengundang nyonya di acara pernikahan kami dan kami tidak tahu keberadaan nyonya saat itu, mungkin nyonya terlalu sibuk mengurus cucu orang lain," ucap Rei sarkas kepada nyonya Andien.
"Maaf, cucu orang lain katamu?, siapa yang kamu maksud tuan?"
"Tentu saja cucu yang anda bawa kabur adalah putraku bersama Malika cucu dari keluarga tuan Daniel dan tuan Romi," ucap Rei yang masih menahan emosinya menatap tajam wajah nyonya Andien.
"Jangan mimpi kamu, cucuku itu adalah putramu?, heh walaupun kamu sudah menikahi janda dari almarhum putraku Rei namun status putra Malika tidak akan pernah berpindah pada nama belakangmu tuan."
"Saya sedang tidak mengada-ada nyonya, karena cucu yang anda bawa kabur sampai ke negara ini adalah putra kandungku dan aku punya bukti yang menyatakan bahwa baby Ezra adalah putra kandungku, anak dari wanita yang sudah aku nikahi sekarang.
Degg!!
Nyonya Andien merasa hilang keseimbangan pada pijakannya, wanita yang sudah berusia setengah abad lebih ini, merasa pengakuan pria tampan ini tidak main-main. Dengan mengumpulkan lagi kekuatannya, nyonya Andien menghampiri Malika yang dari tadi berdiri dengan tubuh yang gemetar.
"Hei!, *******, apakah kamu sudah hamil dengan laki-laki ini, saat menikah dengan putraku?," tanya nyonya Andien dengan bentakan yang sangat keras di hadapan Malika.
Malika yang merasa gugup mendengar pertanyaan mantan mertuanya itu, lalu menjawabnya juga dengan suara yang bergetar.
"Tidak bunda, Malika masih suci bahkan mas Arie belum menyentuh ku sampai beliau meninggal," ucap Malika yang sudah mulai bercucuran air mata dengan keringat dingin yang sudah membasahi keningnya.
"Apakah putraku meninggal karena melihat kalian sedang berzina? Hahh!"
"Tidak seperti itu kejadiannya nyonya, izinkan saya untuk menjelaskan kepada nyonya secara kekeluargaan, jangan menuduh istriku seperti itu, aku yang salah bukan dia.
Aku yang memaksanya saat dia sedang kehilangan putramu nyonya dan nyonya dengan tega meninggalkannya sendirian di bandara ketika dia memohon untuk ikut bersama nyonya untuk mengantar jenasah putra nyonya dua tahun lalu.
"Ha..ha.. ternyata kamu gatal juga ya Malika, saat putraku belum dikebumikan kamu sudah menyerahkan dirimu ke lelaki ini dasar perempuan pembawa sial.
Plak..plak!!
Dengan cepat dua tamparan mendarat di pipi Malika, sampai Malika hampir terjatuh. Melihat istrinya ditampar nyonya Andien, membuat Rei murka, melihat sikap arogan mantan mertua istrinya ini, rasanya dia ingin membunuh wanita tua ini.
Malika hanya mengusap wajahnya yang terasa perih dengan terus menangis. Merasa di permalukan oleh mertuanya Malika berteriak.
"Tidakkkkk!!
Aku bukan ****** ataupun penzinah, aku terjebak pada situasi yang tidak kuingat bahkan tidak aku inginkan, aaaaa!!," teriak Malika histeris.
Momen ini sangat membuatnya terluka, tabir masa lalu kembali terkuak karena ingin mengungkapkan status putranya Ezra. Malika yang sangat shock saat Rei mengisahkan kembali aib yang sudah ingin dikuburkan Malika dalam pikirannya.
Bersamaan dengan itu datanglah beberapa polisi dan orang-orang yang memiliki kewenangan untuk mengurus kasus perebutan hak wali baby Ezra. Tante koni yang ikut melibatkan suaminya dalam masalah yang sedang dihadapi ponakannya. Tuan David yang memiliki kekuasaan di parlemen pemerintahan di negara itu, ikut andil menyelesaikan kasus yang sedang di hadapi keponakannya Rei, kediaman nyonya Andien yang sudah didatangi orang - orang penting membuat nyonya ini sedikit limbung.
"Siapa kalian, apa yang kalian lakukan di rumahku," tanya nyonya Andien yang sangat marah pada tamu yang tidak di undangannya.
"Kami mohon kerjasamanya nyonya karena kalau nyonya masih bersikeras tidak memberikan putranya keponakanku, kami akan bawa kasus ini ke pengadilan negara ini," ucap David yang merupakan paman kandung Reinaldi.
"Tidak, kalian yang akan saya tuntut karena kalian tidak punya bukti untuk mengakui cucuku sebagai putra dari suami si ja**ng ini. Cucu Ezra adalah anak kandung dari putraku almarhum Arie dan pria malang ini yang sudah ditipu oleh wanita ja*ang ini mengakui putranya adalah milik lelaki ini," ucap nyonya Andien yang tidak kalah garangnya.
"Rei perlihatkan hasil tes DNA dari dokter kepada nyonya ini" titah tuan David kepada keponakannya.
Rei menyerahkan amplop yang dari tadi sudah di pegangnya kepada nyonya Andien. Dengan tangan gemetar, nyonya Andien mengambil amplop itu dari tangan Rei. Ketika membaca hasil tes DNA yang tertera di kertas itu membuat nyonya Andien menggelengkan kepalanya merasa hasil DNA itu adalah sebuah rekayasa oleh Reinaldi.
"Tidak, hm! siapa yang ingin kalian tipu?, dengan cara apa kalian melakukan tes DNA ini tanpa kalian mengambil sampel dari tubuh cucuku atau barang-barang miliknya," tanya nyonya Andien sinis kepada tuan David dan Rei.
"Aku yang sudah memberikan rambut baby Ezra kepada kak Rei," ucap Sarah yang sudah muncul dari dalam sambil menggendong baby Ezra.
"Kamu, apa-apaan ini hai pelayan sialan!," ucap nyonya Andien membentak Sarah.
"Sini, serahkan cucuku, dasar penipu, kamu ke sini hanya menyamar sebagai pelayan hanya untuk menyenangkan wanita j*lang ini?
"Jaga mulutmu nyonya karena Sarah adalah putraku pemilik 80% maskapai penerbangan di Wina dan aku juga salah satu pejabat yang mempunyai tampuk kekuasaan di negara ini, jika saya ingin, malam ini juga saya akan mendeportasikan anda ke negara asal anda," ancam tuan David yang sudah sangat geram mendengar putrinya diumpat oleh perempuan tua ini.
Sarah langsung menyerahkan baby Ezra pada Reinaldi dan bersembunyi di balik punggung ayahnya. Rei memeluk dan mencium putranya dengan penuh kerinduan sedangkan Malika masih shock dengan semua yang terjadi hari ini. Nyonya Andien berteriak histeris karena merasa cucunya direbut paksa oleh keluarga besar suami mantan menantunya.
"Tidakk, itu cucuku kalian sedang menipuku, itu cucukuuuu!!, lepaskan aku, kembalikan cucuku," teriak nyonya Andien kepada rombongan keluarga besar Rei dengan para petugas keamanan setempat yang sedang mengawal pamannya Rei yaitu tuan David.
Nyonya koni menggendong baby Ezra, Rei menggendong Malika yang masih lemas tubuhnya karena sangat sock. Sarah jalan beriringan dengan ayahnya. mereka meninggalkan nyonya Andien yang masih meratapi kepergian baby Ezra dari rumahnya.
Di dalam mobil, Rei masih menenangkan Malika dengan berbagai cara, sedikitpun Malika tidak bergeming, pikirannya seperti kosong, tatapannya yang hampa seakan berada dalam kegelapan. Wajahnya sangat pucat dan keringat dingin terus membanjiri pelipisnya, Rei sangat kuatir dengan keadaan istrinya. Rei meminta sopirnya untuk balik arah menuju ke rumah sakit. Tante koni yang berada di mobil terpisah dengan Rei, menghubungi ponsel Rei.
"Halo Rei!"
"Hallo Tante!"
"Kamu di mana sayang?"
"Tante, Rei mau minta tolong sama Tante untuk rawat baby Ezra sebentar karena keadaan Malika yang masih sangat shock.
__ADS_1
Sekarang kami lagi menuju ke rumah sakit terdekat. Minta Sarah untuk menenangkan baby, kalau babynya rewel tante," pinta Rei pada tantenya.
"Rei, apakah boleh tante menyusulmu ke rumah sakit, menemanimu di sana nak?"
"Tidak usah tante, cukup temanin putraku saja, Malika biar aku yang urus tante, kalau ada perkembangannya, aku akan hubungin tante."
"Baik sayang, hati-hati ya, jaga Malika, jangan biarkan dia sendirian.
Mobil Rei sudah terparkir tepat di depan ruang IGD rumah sakit setempat. Para petugas medis sudah siap menyambut Malika, mereka membawanya untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut, dokter memeriksa keadaan Malika, gadis ini masih tetap dengan pandangan matanya yang kosong.
Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dokter tersebut keluar menemui Rei yang masih berdiri diluar dengan menyenderkan tubuhnya di balik dinding ruang IGD. Rei dan dokter itu terlibat pembicaraan serius yang menanyakan beberapa hal pada Rei tentang kondisi Malika dan pada akhirnya dokter menyatakan kabar suka dan duka dalam waktu bersamaan.
"Selamat malam Dokter!," sapa Rei duluan sebelum dokter itu membuka suara pada dirinya.
"Malam tuan Rei," balas dokter Harry.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"Begini tuan Rei, sepertinya istri anda mengalami pukulan berat pada jiwanya yang tidak mampu dikendalikan oleh akalnya, hal ini akan mempengaruhi mentalnya, sepertinya nona Malika mengalami trauma berat di masa lalu yang membawa dirinya kembali pada masa di mana pasien sendiri sudah ingin melupakannya.
Mungkin banyak pengelaman hidup yang menjebaknya pada situasi yang sangat sulit dilewati nya sehingga membuat istri gampang terluka saat kenangan buruk itu di ungkit kembali.
Apakah istri anda pernah mengalami koma dalam rentan waktu yang cukup lama?," tanya dokter Harry pada Rei yang terlihat bengong.
"Pernah dokter, saat dia mengandung putraku," jelas Rei.
"Wajar saja tuan Rei, kalau istri anda pernah jatuh pada tingkat kesadarannya yang terendah ini akan membuatnya gampang drop dan mungkin pasien akan sembuh atas dukungan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Dan satu hal lagi tuan Rei yang ingin aku sampaikan kepada mu yang mungkin membuatmu sedikit terhibur karena keadaan istrimu saat ini.
"Apa kabar baiknya dokter?" tanya Rei antusias walaupun sebelumnya pria yang memiliki mata tajam ini sangat sedih menerima kabar duka barusan dari dokter Harry."
"Selamat Tuan Rei, istri anda saat ini sedang hamil dan usia kehamilannya memasuki lima minggu, tolong jaga kondisinya dan kami akan bertindak lebih hati-hati dalam penanganan mental istri anda.
Rei menerima kabar baik itu langsung mengucap syukur kepada Allah, akhirnya ia mendapat kepercayaan lagi untuk memiliki buah hati, kabar baik ini membuatnya merasa terhibur tapi dirinya sangat sedih karena istrinya tidak bisa merasakan kegembiraan yang sama dengan dirinya.
"Dokter, apakah aku boleh menemuinya," tanya Rei pada dokter Harry.
"Silahkan tuan, lebih banyak anda mengajaknya ngobrol akan merangsang responnya dari hal-hal yang membangkitkan kembali keinginan untuk menerima kenyataan.
"Baik dokter akan saya usahakan istriku cepat sadar.
"Tapi tunggu sebentar tuan Rei sampai kami memindahkan istri anda dulu ke ruang perawatan VVIP.
"Baik dokter akan saya tunggu proses pemindahannya," ucap Rei dengan wajah yang masih tegang.
Waktu bergulir dengan cepat, sudah seminggu ini tidak ada perubahan pada kondisi mental Malika, pandangannya masih tetap sama, menatap kosong setiap kali sadar dari tidurnya, dia hanya mau makan dari suapan tangan suaminya, begitu pun saat ingin tidur, suaminya yang harus mendekapnya sampai dia tertidur, Rei sudah mulai putus asa dengan keadaan istrinya, berulang kali ia menyeka air matanya yang terus menetes tiap kali ingat akan kesalahannya.
Rei mengungkapkan penyesalannya, yang telah membuat wanitanya benar-benar berada dalam titik terendah lagi dalam hidupnya. Kali ini ia bergumam lirih sambil memeluk Malika yang setiap kali takut jika ditinggal suaminya sesaat saja, Malika akan ketakutan dengan wajah pucat dan berkeringat dingin di sekujur tubuhnya jika tidak mendapati suaminya di sisinya.
Ia merasa seakan dirinya dihantui kembali peristiwa buruk yang menimpanya kembali.
"Sayang, aku minta maaf, jika saja aku tidak mengungkit kembali aib yang telah kulakukan saat itu di hadapan mertuamu, mungkin kamu tidak akan mengalami semua ini. Aku akuin sayang aku sangat menyesal, harusnya aku tidak perlu mengklarifikasi tentang hubungan kita kepada mantan mertuamu, harusnya kita cukup mengambil putra kita darinya dan tidak perlu terlibat perdebatan dengannya, tapi aku nggak sanggup melihat dia menghinamu dan merendahkanmu dihadapanku, aku benar-benar tidak rela menerima semua tuduhan kejinya padamu.
Jika aku diam, nyonya Andien akan lebih parah memperpanjang masalah ini sampai ke media, itu yang sedang aku hindari sayang. Aku mohon sadarlah Malika, ada baby Ezra dan aku yang sangat membutuhkanmu, apa lagi saat ini kamu telah mengandung lagi buah cinta kita sayang, kasihan calon bayi kita, kalau kamu juga mengabaikannya, hiks!..hiks!.. maafkan aku sayang, cintaku, penyemangat hidupku.
Karena dirimu lah aku terlepas dari bayang-bayang ketakutan untuk bisa normal kembali menjadi pria dewasa, karena penyakitku itu kamu yang harus menebus dengan caraku yang bodoh untuk menyembuhkan jiwaku.
Malika, istriku, cepat sadar sayang, aku sangat merasa kesepian tanpa keceriaanmu, tanpa cinta dan belaian kasih sayangmu. Apa yang harus aku perbuat supaya kamu kembali pulih, apa Malika? hiks..hiks!
Tidak lama pintu kamar ruang VVIP itu terbuka, muncullah baby Ezra dan keluarga Sarah. Ezra yang hari ini sudah genap berusia sembilan bulan. Rei yang melihat kerabatnya yang membawa putranya juga membuatnya sangat senang, ia menghapus air matanya dan membaringkan Malika yang tadi tertidur dalam dekapannya.
"Hallo putra tampan dady, apa kabar sayang!," tanya Rei yang mengambil Ezra dari gendongan tante koni.
"muuahh," cium Ezra ke pipi Rei, membuat ayahnya sangat terharu.
"Baby cium dady sayang, anak pintar, ciumanmu membuat dady kembali semangat," ucap Rei yang kembali meneteskan air matanya.
Keluarga tuan David ikut terharu menyaksikan adegan ayah dan putranya ini. Tante koni dan Sarah mendekati Malika dan keduanya mengecup pipi dan kening gadis itu.
"Malika, tante Koni datang menjengukmu nak, dan kami membawa putramu juga, bukankah selama ini kamu sangat merindukannya?, cepatlah sadar Malika, tante mohon kembali lagi ke duniamu, jangan biarkan kegelapan mengusai pikiranmu nak" ujar tante koni yang sudah ikut menangis melihat keadaan istri dari ponakannya ini.
"Kak, aku sudah berjuang untuk mempersatukan kalian kembali berkumpul bersama baby Ezra, apakah kamu tidak menghargai upayaku?," tanya Sarah dengan wajah yang sudah mulai berkabut.
"Mhh mami..mami...mam!!," ucap baby Ezra yang meminta Rei mendekatkan dirinya dengan Malika.
Semua yang ada di ruang an itu menatap takjub reaksi baby Ezra menghampiri ibunya. Rei mendudukkan putranya di samping tubuh istrinya, ia membiarkan putranya berkomunikasi dengan istrinya yang masih dalam keadaan tidur. Tanpa diduga bayinya mengecup bibir ibunya sambil mengelus mesra pipi ibunya.
"Mam.mami.. mam.. muuachhh!"
Adegan haru ini menjadi tontonan yang menarik bagi Rei dan kerabatnya. Sarah yang dari tadi sudah stay dengan kamera ponselnya, merekam adegan momen haru menyaksikan interaksi antara ibu dan anak ini.
Berkali-kali, baby Ezra mengecup bibir ibunya lalu mencium seluruh wajah ibunya yang sudah dilumuri dengan liurnya. Rei menangis menyaksikan ikatan batin antara ibu dan anak ini.
Baby Ezra mendekatkan mulutnya dikuping ibunya lalu mengucapkan hal yang tak terduga oleh mereka.
__ADS_1
" I love you mam..muuahh"
Semua yang ada di ruangan itu menangis, Rei dan tante koni sudah sesenggukan, tangis mereka hampir membuyarkan fokus baby Ezra pada ibunya. Rei terus berdoa semoga ada keajaiban dari Tuhan lewat kasih sayang putranya untuk istrinya.
Tibalah hal yang ditunggu mereka, dengan kecupan terakhir baby Ezra mulai menganggu tidurnya Malika, gadis cantik ini mengerjap matanya saat merasakan tubuhnya ada yang menindih dan ia mulai mengatakan sesuatu yang membuat orang yang hadir diruangan itu merasa takjub.
"Baby, putraku, Ezra!!
Ucap Malika yang berusaha bangun seraya mendekap putranya. Rei membantu istrinya untuk duduk, sedangkan tante koni merapikan selimut Malika yang sempat tersingkap. Mereka semuanya merasa bahagia atas kesembuhan Malika berkat putranya.
Senyum mereka terus mengembang menyaksikan Malika mencium dan memeluk putranya yang sudah lama terpisah darinya.
"Baby, maafkan ibu sayang, ibu telah menelantarkanmu," ucap Malika menangis haru.
"Mami, *i love you muuahh," ucap baby Ezra sambil mengecup pipi Malika dan menghapus air mata ibunya.
"Baby, kau mengenaliku nak, kau bisa memanggilku mami? hmm sayang bagaimana bisa kamu mengenaliku setelah sekian lama kita berpisah sayang?," tanya Malika sambil memeluk erat putranya."
"Aku yang mengajarkannya ka, dengan memperlihatkan foto kalian berdua yang ada didalam ponselku, setiap saat aku memperlihatkan foto kalian dan memperkenalkan kalian bahwa kalian adalah mami dan dadynya," ujar Sarah yang ikut menangis haru karena telah berhasil mengajarkan keponakannya.
"Terimakasih Sarah, terimakasih atas ketulusanmu menemani dan mengajarkan putraku," ucap Malika.
"Dengan senang hati ka."
Rei ikut memeluk istri dan anaknya, rasanya kebahagiaan mereka kini telah lengkap setelah sekian lama memendam kerinduan pada putra mereka. Kerinduan yang sudah ditebus dengan air mata kebahagiaan. Keluarga tuan David saling berpelukan menyaksikan sebuah kebahagiaan yang sedang dirasakan keluarga ini.
Tidak lama dokter pun datang untuk memeriksakan keadaan Malika, dua dokter dan dua orang perawat yang baru masuk ke kamar itu disuguhkan pemandangan haru yang membuat mereka trenyuh.
"Permisi nyonya bolehkah kami memeriksa dulu keadaan nyonya?," tanya dokter Harry memohon izin pada Malika.
"Oh, silahkan dokter," ucap Malika ramah pada dokter Harry."
Setelah beberapa saat di periksa, dokter itupun kembali bertanya kepada Malika.
"Apa ada yang anda rasakan saat ini nyonya?"
"Saya sudah merasa lebih baik dokter," jawab Malika tegas.
"Apakah anda sudah mengenali lelaki tampan yang ada di sebelah anda?," canda dokter Harry menggoda Malika.
"Ini suami saya, hati dan jiwa saya dokter," ucap Malika penuh penekanan membuat Rei salah tingkah di depan para medis dan kerabatnya.
Semuanya tertawa mendengar ucapan Malika, menjawab pertanyaan dokter Harry.
"Bagaimana si ganteng cilik ini, apakah kamu mengenalnya juga nyonya," tanya dokter Harry lagi.
"Ini penyejuk jiwaku, hidup dan matiku," ucap Malika seraya mencium pipi putranya.
"Kalau begitu, anda sudah sembuh nyonya, hari ini anda boleh pulang," ucap dokter Harry yang sengaja mengajukan pertanyaan untuk memancing ingatan Malika dan memastikan kesadaran gadis cantik ini sudah kembali pulih.
Perawat mencatat semua perkembangan kesehatan Malika dari apa yang disampaikan oleh dokter Harry. Kemudian rombongan para medis itu meninggalkan kamar rawat inap yang ditempati Malika. Keluarga tuan David membantu Rei untuk mengurus kepulangan Malika sedangkan Rei membantu Malika mempersiapkan istrinya untuk pulang kembali ke hotel.
"Sayang kita kembali ke hotel sekarang," ucap Rei yang sudah menggendong baby Ezra.
"Aku kepingin langsung balik ke tanah air sayang," ucap Malika.
"Baiklah kita langsung ke Bandara, biarkan staffku yang mengambil barang-barang kita di hotel untuk diantarkan langsung ke Bandara.
"Kalian mau langsung pulang Rei?," tanya tuan David pada keponakannya.
"Iya paman kami sudah sangat rindu dengan orangtua kami," ucap Rei.
"Kenapa nggak mampir dulu ke rumah tante Malika, tante masih kangen sama si tampan cilik ini," ucap tante koni sedih.
"Aku juga ka, bakal kehilangan cowok tertanpanku ini," ucap Sarah juga merasa sedih akan kepulangan keluarga kecil ini.
"Nanti kami akan berkunjung ke sini lagi tante, dan kami akan menginap di rumah tante.
"Baiklah sayang, jaga kesehatanmu karena kamu sedang hamil sekarang," ucap tante koni.
"Apa?
aku hamil??
benarkah Rei, aku hamil?," tanya Malika dengan wajah yang sangat riang.
"Iya sayang Ezra akan memiliki adik, usia kandunganmu sudah enam minggu, tolong dijaga buah hati kita, jangan merasa tertekan lagi dengan hal-hal yang menganggu pikiranmu.
"Iya sayang, aku akan menjaga dan merawatnya sebaik mungkin.
"Selamat datang lagi dalam kehidupanmu istriku, jangan pernah tinggalkan aku lagi walaupun itu hanya pikiranmu saja, aku tidak sanggup melihatmu seperti patung hidup," keluh Rei yang masih memeluk tubuh istrinya.
Keluarga tuan David sudah mengurus semuanya untuk kepulangan Malika dan keluarga itu meninggalkan rumah sakit menuju bandara. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di bandara menuju pesawat jet pribadi milik Rei yang sudah bertengger siap membawa mereka. Kedua keluarga itu saling memeluk dan memberikan salam perpisahan di bandara. Rei, Malika dan baby Ezra sudah menaiki tangga pesawat dan menghenyakkan tubuh mereka di kursi pesawat. Pesawat itu kembali terbang meninggalkan negara Wina Austria. Tempat yang sudah memberikan banyak kesan indah untuk keluarga kecil Rei.
__ADS_1
Ilustrasi si tampan Reinaldi
🔥 Terimakasih untuk pembacaku yang masih setia mengikuti ceritaku ini, author sayang kalian semua, mohon like, komen dan hadiahnya ya, salam hangat dariku🌷