
Setibanya Raffi dan Sarah di Jakarta, keduanya langsung mengunjungi Aida ke rumah sakit. Aida yang ditemenin orangtuanya menyambut Raffi dan Sarah sebagai pengantin baru walaupun tampak raut kecewa dari wajah kedua orangtua Aida. Namun begitu mereka tetap tersenyum demi menyenangkan hati putri mereka yang sedang dalam keadaan sakit parah. Sarah memperkenalkan dirinya, mencoba untuk lebih akrab dengan Aida dan orangtuanya.
"Perkenalkan ibu dan bapak, nama saya Sarah," ucap Sarah santun kepada kedua orangtua Aida.
"Aida!"... Sarah!"
"Selamat datang di Indonesia Sarah semoga kamu betah dan bisa membahagiakan Raffi menggantikan tugasku."
"Insya Allah ka, saya akan berusaha membahagiakan Raffi, suami kita."
Seketika, nyeri dihati Aida mulai muncul, rasa cemburunya hadir disaat menatap wajah cantik Sarah dengan tubuh ideal menjadi idaman para lelaki.
"Raffi!" mengapa kamu tega menyakitiku menikahi gadis secantik ini lebih dari diriku," ucapnya tak bersuara.
"Sarah!" kamu baru tiba di Jakarta, sebaiknya kamu pulang dan istirahat dulu ke apartemen, besok boleh kamu mengunjungiku lagi." titah Aida pada Sarah untuk memberikan kesempatan kepada suaminya bisa berdua dengan madunya Sarah.
"Apakah tidak apa sayang, kalau aku tinggalkan lagi kamu?" tanya Raffi kepada Aida yang nampak tegar melihat kedatangannya bersama Sarah.
"Tidak apa sayang, pulanglah bersama Sarah, tidak apa karena aku ditemani sama ibu, kamu juga lelah sayang, istirahatlah!" ucap Aida dengan wajah sendu.
"Baiklah kami pulang dulu besok pagi akan ke sini lagi," ucap Raffi lalu mengecup bibir pucat istrinya.
Raffi dan Sarah menuju ke apartemen Raffi. Sepanjang jalan Sarah memperhatikan wajah ibukota Jakarta. Begitu indah ketika dilihat malam hari. Kemacetan yang terjadi di temukan di mana-mana, namun tidak menyurutkan perasaan Sarah untuk tetap bersama suaminya. Tidak ada lagi yang ia inginkan selain bersama dengan suaminya walaupun istri pertama suaminya sedikit membuatnya segan untuk bertatap muka.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Tentang ka Aida, kasihan masih muda sudah mengalami penyakit yang berat hingga membuat tubuhnya habis digrogoti oleh penyakitnya sendiri."
"Apakah kamu tidak cemburu saat aku bersamanya tadi?"
"Tidak ada perasaan itu padaku Raffi, melihatnya saja aku sangat sedih, dalam keadaan seperti itu dia masih berusaha menyenangkan hatimu, sungguh wanita luar biasa, merelakan miliknya untuk wanita lain."
"Sarah, jika dia tidak dalam keadaan sakit seperti itu, Aida adalah wanita yang sangat pencemburu, dia tidak akan merelakan miliknya diambil oleh orang lain."
"Kenapa sekarang dia merelakan kamu untukku?"
"Karena dia merasa hidupnya tidak lama lagi, makanya dia meminta padaku untuk mencari gadis menemaniku saat ia tidak ada lagi di dunia ini."
"Mengapa dia begitu pesimis padahal banyak cara pengobatan untuk membuatnya bisa sembuh."
"Entahlah Sarah, aku tidak tahu dengan jalan pikiran Aida, semakin aku meyakinkannya semakin dia menentang aku dengan alasan yang membuatku takut untuk bertindak, takut kedepannya nanti akan berbalik hingga membuatnya menyesali keputusannya merelakan aku menikah lagi."
"Jadi kamu yang menyesal menikahiku?"
"Tidak sayang, ada manfaatnya juga dengan kondisi Aida untuk bisa memilikimu seutuhnya, itulah hal yang sangat membuatku bahagia."
Tidak lama mobil mereka sudah memasuki tempat parkir apartemen. Raffi menggandeng Sarah menuju apartemennya, senyum kebahagiaannya menghiasi wajah tampannya. Berbanding terbalik ketika bersama dengan Aida, wajahnya selalu terlihat murung memikirkan nasib istrinya yang makin memprihatinkan.
"Wah, apartemenmu indah sekali Raffi, aku sangat menyukainya sayang," ucap Sarah dengan wajah berbinar.
"Inilah rumahmu sekarang sayang, walaupun tidak sebesar rumah orang tuamu tapi cukup untuk kita berteduh dengan nyaman dalam apartemen ini.
"Tidak masalah bagiku Raffi, aku senang dengan arsitektur dan desain interiornya, warna yang hangat dan penuh romantis. Oh ya di mana kamarku?"
Degg!"
"Aduh bagaimana ini?" aku lupa menanyakan hal ini kepada Aida." ucap Raffi monolog.
"Raffi, tunjukkan kamar tamunya bukan kamar utama kalian berdua, bukankah mulai saat ini aku harus menerima bagian kecil dari dirimu sebagai sisanya saja?"
"Degg!"
"Sarah mengapa kamu berkata seperti itu sayang?"
"Aku hanya mengulang apa yang pernah kamu ingatkan padaku, apakah itu salah?"
"Maafkan aku Sarah, jika perkataan ku tempo hari padamu, membuat mu tersinggung."
"Tidak usah merasa bersalah begitu Raffi, kamu adalah lelaki baik dan sosok suami yang menyenangkan hanya saja caramu sedikit salah dalam mengaplikasikannya."
"Baiklah Sarah, aku senang kamu mengoreksi bagian kesalahanku di awal pernikahan kita, setidaknya aku lebih hati-hati untuk tidak lagi mengulang hal yang sama dan itu tidak membuatmu nyaman."
"Tunjukkan kamarku Raffi atau tidak ada tempat untukku di rumah ini?"
__ADS_1
"Sebentar sayang, sini aku tunjukkan kamarmu sama besarnya dengan kamar utama."
Raffi menarik tangan Sarah menunjukkan kamar lainnya untuk istrinya itu. Sarah melihat kamarnya yang sekarang menjadi tempat baru untuknya. Sikap Sarah menjadi dingin pada Raffi setelah masuk ke kamarnya. Hal itu membuat Raffi menjadi canggung untuk kembali bermesraan dengan istrinya ini.
"Raffi kalau kamu tidak keberatan boleh tinggalkan aku sendirian di sini?"
"Sarah, mengapa kamu jadi sensitif begini setelah kita baru tiba dari negara yang sangat jauh untuk bisa sampai di sini."
"Aku hanya lelah sayang, butuh waktu untuk sendiri."
"Baiklah sayang istirahatlah jika kamu membutuhkan aku, aku ada di ruang kerjaku di sebelah kamar ini.
Setelah berkata begitu pada Sarah, Raffi pergi ke ruang kerjanya karena banyak hal yang ingin diperiksanya dari pekerjaannya yang tertunda karena pernikahannya dengan Sarah.
Sarah mencoba memejamkan matanya, bayangan kekecewaannya pada perlakuan Raffi seperti tidak adil menurutnya.
Lama kelamaan mata indahnya tertutup juga mengisyaratkan tubuhnya karena terlalu lelah duduk kelamaan dalam pesawat sampai tiba di tanah air Indonesia.
🌷🌷🌷
Di tempat kerjanya Raffi mulai melakukan aktivitasnya bersama.
banyak hal yang harus dikerjakannya. tidak perduli dengan tubuhnya yang masih lelah, iya hanya ingin melarikan diri dari kedua istrinya. re yang baru saja tiba melihat Raffi sudah ada di ruangan di ruang kerjanya. bayi tidak tahu kalau Raffi sudah kembali dari bulan madunya.
"Kapan kamu datang Raffi kenapa tidak mengabarkan aku kalau sudah sampai di Indonesia. bagaimana dengan bulan madunya?"
"Maaf tuan, saya harus cepat kembali karena tidak tega meninggalkan Aida."
"Di mana Sarah sekarang? apakah ada di apartemenmu? apakah dia baik-baik saja?"
"Iya tuan Sarah ada di apartemen saya."
"Kapan Aida dibawa ke Amerika untuk berobat lebih lanjut?"
"Mungkin lusa akan berangkat setelah perlengkapan laporan medisnya siap."
"Mengapa wajahmu jadi murung begitu?"
"Maklum tuan, memiliki dua istri tidak mudah bagiku."
"Tinggal satu apartemen bertiga itu yang sedang aku pikirkan."
"Apakah ada yang bisa saya bantu untuk mengatasi masalahmu?"
Raffi hanya diam dan tidak mau menjawab pertanyaan tuannya. Ia masih sibuk mengetik sesuatu entah apa yang sedang ia kerjakan.
"Maafkan aku tuan Rei, aku saat ini sedang ingin sendiri bisakah anda meninggalkan aku sendiri tuan?"
"Baiklah, katakan saja jika kamu membutuhkan bantuanku."
🌷🌷🌷
Laporan medis milik Aida sudah dilengkapi oleh dokter Sunan, team dokter siap menemani Aida untuk berangkat ke Amerika.
Raffi mendampingi istrinya Aida tanpa ditemani istrinya Sarah. Aida merasa senang karena Sarah tidak ingin ikut bersama mereka, dengan begitu kesempatan Aida bisa bermanja dengan suaminya berdua tanpa ada penganggu. Senyum kemenangan tergambar jelas diwajahnya.
Raffi yang tidak mengerti jalan pikiran istrinya berusaha tenang menikmati perjalanan mereka menuju Amerika.
Entah mengapa saat bersama Aida, hatinya memikirkan sosok cantik Sarah. Namun begitu ia tetap bersikap wajar di depan Aida agar Aida tidak curiga padanya.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja," tanya Aida yang melihat Raffi sedang memejamkan matanya.
"Aku lelah Aida, ijinkan aku tidur sebentar," ucap Raffi membohongi Aida.
"Baiklah sayang tidurlah, aku juga mau istirahat." ucap Aida lalu membelakangi Raffi di sebelahnya.
Air mata Aida menggenangi pelupuk matanya, rasa penyesalannya yang meminta suaminya untuk menikah lagi adalah kesalahan besar dibuatnya.
Andai saja waktu bisa memutar kembali ia akan mencegah suaminya untuk menikah lagi.
Penyesalan tidak lagi berguna untuknya, mungkin juga sia-sia ia berobat ke Amerika. Memiliki suami harus berbagi dengan wanita lain adalah mimpi buruk yang harus ditanggungnya.
Setiap jam yang dilalui Raffi bagaikan bertahun-tahun dirinya berada di dalam pesawat bersama istrinya apa lagi jarak tempuh ke Amerika lumayan lama.
__ADS_1
"Sarah sayang, sedang apa kamu saat ini sayang. Tahukah kamu kalau aku sedang merindukanmu?"
Di Jakarta, Rei dan menjemput Sarah untuk menginap di mansionnya selama Raffi pergi ke Amerika untuk mengantar istrinya Aida. Gadis ini begitu senang dijemput oleh keluarganya karena ia ingin bertemu dengan tiga ponakannya yang lucu-lucu.
"Sarah mengapa kamu tidak ikut serta mengantar Aida berobat ke Amerika?" tanya Rei dalam perjalanan menuju mansionnya."
"Untuk apa aku ikut, bukankah di sana aku seperti nyamuk pengganggu diantara mereka?" sungut Sarah sambil mencebikkan bibirnya."
"Lebih baik kamu di mansion kami, dari pada di apartemen kamu sendirian malah membuatnya makin sedih memikirkan mereka berdua di Amerika." ucap Rei menghibur adik sepupunya.
"Itu sudah resiko kamu Sarah karena mengambil Raffi dari Aida," ucap Malika sedikit sinis pada adik iparnya ini."
"Ka Aida sendiri yang meminta Raffi untuk menikah lagi dan Raffi memilih aku menjadi istrinya, apa yang salah dengan perbuatanku ka Malika pada ka Aida?" ucap Sarah yang tidak ingin disalahkan oleh Malika karena dirinya mau menjadi istrinya Raffi.
"Tidak ada yang salah dengan kalian, tapi kamunya yang harus kudu sabar menjadi madunya, menerima semua konsekuensinya dan jangan terlalu memaksakan diri untuk diperhatikan oleh Raffi." ucap Malika dengan penuh penekanan pada perkataannya.
Melihat istri dan adik sepupunya sedang adu mulut, Rei mencoba mengalihkan pertengkaran keduanya dengan mengajak keduanya mampir di restoran siap saji. Tapi ajakan Rei ditolak oleh Malika dengan alasan memikirkan putri kembarnya. Rei melajukan lagi mobilnya menuju mansionnya. Tidak ada lagi debat keduanya.
🌷🌷🌷
Setibanya di rumah sakit di Amerika yang menjadi tempat pengobatan untuk Aida, Raffi menunggu istrinya sedang melakukan general cek-up untuk mengetahui sejauh mana penyakit kangker otak yang dialami oleh Aida. Team dokter spesialis penyakit otak ini, melakukan segala jenis tes yang menyangkut dengan pengobatan untuk Aida. Selama proses menunggu istrinya, Raffi mencoba menghubungi Sarah, istrinya yang saat ini membuatnya sangat rindu akan belaian Sarah.
"Hallo, assalamualaikum sayang!"
"Waalaikumuslam Raffi!"
"Apa kabarmu di sana, apakah kamu sedang merindukanku?"
"Rinduku padamu setiap hari, bayang dirimu menggoda jiwaku sayang!"
"Jangan gombal sayang, di sana ada istrimu yang menemanimu juga kenapa kamu justru merindukanku?"
"Emangnya tidak boleh aku merindukan istriku sendiri?"
Sarah tertegun dengan pertanyaan suaminya, rasa cemburunya yang membuat dirinya menjadi dingin terhadap Raffi, air matanya seakan tercekat menahan tangis yang ingin meledak, ingin marah, tapi apa dayanya dirinya jika ia memilih lebih egois meminta suaminya pulang dan menemaninya di sini.
"Hallo Sarah!" apa kamu masih mendengarkan aku?"
"Hallo, Sarah!"
Sarah mengusap air matanya, mengatur emosinya lalu menjawab lagi pertanyaan suaminya.
"Iya sayang, aku masih disini, tolong jangan terlalu memikirkan keadaanku, karena aku sedang baik-baik saja dengan keluargaku."
"Apakah kamu bersama keluarga tuan Rei?" mengapa kamu tidak meminta ijin dariku dulu kalau kamu ingin menginap di sana?"
"Maafkan aku Raffi, mereka tiba-tiba menjemput aku dan aku tidak sempat meminta ijin darimu."
"Kamu tidak sendiri lagi Sarah, satu langkah kakimu keluar dari pintu rumahku harus mendapatkan ijin dariku sekalipun kamu hanya ke membeli kebutuhan di luar apa lagi harus menginap di keluargamu harus meminta ijin padaku, apakah kamu paham?"
"Apakah semua suami Indonesia seperti ini pada istri-istrinya?"
"Tidak semua seperti itu tapi aku sedang menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami untuk mengatur istriku sebagai mana ajaran Rasulullah terhadap istri-istrinya.
"Baiklah kali ini aku berbuat khilaf dan aku tidak akan mengulanginya, apakah sekarang aku boleh menginap di rumah pamanku hmm?"
"Baiklah, bertahanlah disitu setelah urusan pengobatan Aida selesai aku akan menjemputmu. Permisi aku harus menemui Aida karena dia sudah berada di kamar inap. Jaga dirimu dan jangan ke manapun tanpa ijinku, apakah kamu mengerti?"
"Iya, aku mengerti dan berhentilah mengintimidasi aku."
Keduanya menutup sambungan ponsel mereka secara bersamaan. Sarah menarik nafasnya berat sambil mengusap wajahnya yang basah karena air matanya yang terus mengucur saat mendengar semua omelan dari suaminya.
Raffi menemui Aida di ruang inapnya, melihat suaminya menyapanya Aida nampak sumringah. Hanya melihat suaminya ia merasakan ketenangan dalam hatinya.
"Bagaimana keadaanmu Aida setelah melewati beberapa test yang dilakukan oleh dokter pada tubuhmu?"
"Agak mendingan Raffi, mualnya sedikit berkurang walaupun kadang-kadang masih terasa pusing."
"Apakah kamu ingin makan sesuatu selain makanan dari rumah sakit ini?"
"Aku belum menginginkannya, aku hanya ingin kamu tetap bersamaku disini."
"Aida, aku tidak mungkin menemani kamu disini selama masa pengobatan kamu karena pekerjaanku di sana menantiku."
__ADS_1
"Pekerjaanmu ataukah Sarah yang membuatmu ingin cepat kembali ke Indonesia?"
"Sarah itu istriku juga dan kamu yang meminta aku menikah lagi bukan kehendak aku sendiri, jadi aku mohon kamu harus pegang janjimu untuk tidak mempermasalahkan pernikahan keduaku dengan Sarah."