
Memasuki usia kandungan sembilan bulan, perut Malika yang sangat besar dan membuatnya sedikit sulit berjalan cepat. Bokongnya makin berisi dengan pa**dara yang makin besar dan montok.
Akhir-akhir ini Malika selalu mengeluh sulit tidur, sesak nafas dan mudah ngambek apa lagi ditambah kontraksi yang sering datang silih berganti. Rei tidak akan tidur sampai istrinya terlelap. Lelaki tampan ini ingin menjadi seorang suami siaga menjelang persalinan istrinya, apa saja yang dibutuhkan istrinya selalu dipenuhinya termasuk urusan ranjang, Rei dengan senang hati melakukannya.
Prediksi dokter Riyanti bahwa Malika akan melahirkan sekitar tiga hari lagi, seperti biasa Rei yang ingin melancarkan persalinan istrinya selalu mengajak istrinya bercinta sebelum tidur dan kadang usai bercinta Rei tetap melakukan senam lidahnya pada bagian inti istrinya sampai Malika tertidur karena kelelahan mendapatkan kenikmatan yang dilakukan oleh suaminya.
Hari yang telah dijanjikan sebagai tanda-tanda Malika akan melahirkan tiba. Kontraksi yang awalnya datang setiap satu jam sekali berubah setengah jam sekali. Malika selalu menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan ketika kontraksi sudah mulai sering terjadi pada rahimnya.
"Sayang, apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?"
"Sebentar lagi Rei, biarkan saja dulu, sampai durasi kontraksinya makin maju waktunya."
"Tapi aku sangat tidak tega melihatmu kesakitan sayang."
"Baiklah, ayo kita berangkat."
Mereka pun keluar dari kamar dengan menarik satu koper kecil perlengkapan bayi dan ibunya. Pelayan langsung mengambil koper itu dari tangan tuannya. Nyonya Ambar yang melihat menantunya yang kepayahan menawarkan diri untuk ikut mengantarkan ke rumah sakit.
"Malika mami ikut ya sayang!"
"Tidak usah mami, nanti Rei kabarin kalau saya sudah melahirkan."
"Baiklah, semoga kelahiran babynya lancar, teruslah berdoa dan jauhi setress."
"Iya mami, maafkan Malika kalau Malika sering nyakitin mami."
"Tidak sayang, mami tidak pernah merasa tersakiti olehmu."
"Malika berangkat ya mami."
"Mamiiii!
Panggil baby Ezra ketika melihat maminya yang sudah ada dihadapannya.
Ezra mau ikut mami," ucap Ezra dengan wajah memelas berharap Malika mengajaknya serta.
"Muaacch, anak mami sudah besar, entar lagi mau jadi abang, nanti baby Ezra bisa nyusul mami sama dady kalau dede kembarnya sudah lahir sayang," ucap Malika menenangkan putranya.
"Bye mami!"
"Bye, my son!"
Malika berjalan menuju mobil yang sudah siap membawa mereka ke rumah sakit, Rei tidak sanggup lagi mengikuti langkah istrinya yang terlalu pelan berjalan, ia menggendong istrinya bridal style membawanya ke mobil.
"Rei, aku mau jalan sendiri supaya proses lahirnya lebih cepat sayang."
"Nanti aja di rumah sakit sayang!"
Kendaraan Rei mulai bergerak meninggalkan mansion. Rei yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Mobilnya sudah membaur dengan kendaraan lain ditengah jalanan ibukota. Di tengah perjalanan ketuban Malika tiba-tiba pecah. Malika yang merasa paha dan betisnya ada cairan bening mengalir, mencoba menyibak dress-nya, betapa terkejutnya ia melihat air ketuban sudah merembes mengalir pelan dari pangkal pahanya sampai betisnya yang putih mulus.
"Astaga Rei, ketubanku sudah pecah sayang, tolong di percepat nyetirnya atau aku akan melahirkan di mobil ini," teriak Malika membuat suaminya sangat panik.
Rei yang merasa belum berpengalaman berhadapan dengan perempuan yang melahirkan begitu gugup kali ini, karena baby Ezra lahir tanpa dirinya. Ini adalah pengalaman pertamanya membuatnya menggaruk tengkuknya sambil melirik wajah istrinya menahan kontraksi yang mendesaknya untuk mengejan. Rei meraih jemari istrinya sambil mencium punggung tangan istrinya lembut untuk memberikan kekuatan pada Malika yang sedang meringis kesakitan.
"Sabar sayang sedikit lagi kita sampai rumah sakit, tolong ditahan baby, jangan sakiti mami sayang."
"Reii!
Ini sangat sakit sayang," keluh Malika yang merasakan pinggang dan otot perutnya mengalami kontraksi hebat.
Rei menyalakan lampu hazle untuk memberikan tanda pada pengendara lain bahwa dirinya sedang meminta diberi jalan untuk memudahkannya mencapai rumah sakit. Satu persatu kendaraan yang di depan Rei memberikan jalan untuk Rei mempercepat kendaraan nya.
🌷🌷🌷
Dengan dibantu oleh dokter Riyanti, Malika berusaha mengumpulkan tenaganya supaya bisa mengejan lebih cepat, Rei yang mendampingi istrinya hanya menangis menatap wajah sakit Malika.
"Ya Allah, apakah begini seorang ibu melahirkan anaknya, mami maafkan Rei mam!," gumamnya dalam hati."
"Nyonya Malika! ikuti aba-aba dari saya, tarik nafas, tarik terus supaya baby cepat keluar," titah dokter Ryanti pada Malika.
"Bismillahirrahmanirrahim"
"Reiiiii!..aaaa!!"
Teriakan itu kembali terjadi membuat Rei merasakan sakit pada perutnya. Awalnya lelaki ini ingin menguatkan istrinya, malah dirinya sendiri merasakan sakit yang amat sangat seperti rasa sakit yang sama setahun yang lalu.
"Ya Tuhan, jangan-jangan inikah kontak batin yang pernah disampaikan oleh dokter Rizal yang menanganinya waktu itu.
"Oeee, oee!".. tangis bayi itu menggema dalam ruang bersalin itu." satu bayi diletakkan diatas dada Malika untuk memberikan bayi kecil itu mencari makanan pertamanya pada put*ng ibunya.
Bayi perempuan pertamanya sudah keluar dari rahim ibunya dengan selamat, sekarang tinggal bayi perempuan satu lagi. Dokter Riyanti meminta Malika mengambil napas lagi yang dalam, seperti yang telah dilakukan sebelumnya pada bayi kembar pertamanya.
"Kita mulai lagi nyonya untuk baby kembar yang satunya, lakukan yang seperti tadi, tarik nafas lalu dorong yang kencang!"
dalam waktu lima menit bayi perempuan kedua lahir. Sakit yang sama kembali terjadi pada perut Rei dan kali ini lelaki tampan itu sampai jatuh pingsan karena tidak kuat menahan sakit pada perutnya. Malika dan dokter tersentak melihat Rei yang limbung seketika saat bayi ke dua mereka lahir.
"Astaga, suster cepat tolong tuan Rei! teriak dokter Ryanti panik."
Tiga orang suster berusaha membantu Rei yang sudah tergeletak dilantai ruang bersalin dengan wajah pucat. Dua orang perawat lelaki membantu suster saat tubuh tuan Rei sudah di depan pintu ruang bersalin. Rei di pindahkan ke ruang IGD untuk penanganan lebih lanjut. Malika yang masih ditangani oleh dokter Ryanti melakukan proses pasca melahirkan baby kembar. Malika merasa gelisah memikirkan suaminya tanpa ingat baby kembarnya.
"Dokter, apa yang terjadi dengan suami saya dokter?
Mengapa dia pingsan?
Padahal dia tidak melihat darah secara langsung karena terhalang tirai saat saya melahirkan tadi?"
"Entahlah nyonya, mungkin tuan Rei sakit atau ada yang membuatnya tidak tahan dengan sesuatu hingga membuatnya pingsan, nanti biar rekan saya yang akan mengabarkan anda nyonya. Saya harus merapikan keadaan anda dulu supaya bisa dipindahkan ke kamar pribadi."
"Bagaimana dengan baby kembarnya dokter?"
"Alhamdulillah mereka sehat dan sangat cantik, suster sedang membersihkan tubuh mereka tapi mereka belum bisa di bawa ke ruangan anda kecuali ingin belajar menyusui.
Malika menunggu proses pasca dirinya yang baru saja melahirkan sambil menunggu suaminya segera sadar. Rei yang sudah mulai siuman melihat dirinya sudah berada di ruang IGD, dia pun bangun dan melangkah keluar meninggalkan ruang IGD, ketika baru menggapai daun pintu, ia dikejutkan dengan dokter Rizal.
"Mau ke mana tuan Rei."
"Aku ingin menemui istri dan bayi kembarku."
"Apakah anda sudah merasa baikan, apa yang terjadi dengan anda sehingga anda pingsan?"
"Itu dia dokter, saat saya menemani isteri saya melahirkan saya merasakan perutku sangat sakit yang luar biasa seperti setahun yang lalu dan saat putri kedua saya lahir, sakit itu datang lagi dokter."
__ADS_1
Dokter Rizal mencerna semua penjelasan tuan Rei tentang sakit pada perutnya, dokter itupun tersenyum dan memahami bahwa diagnosanya saat itu benar adanya.
"Mengapa anda jadi senyum-senyum begitu dokter?"
"Karena apa yang pernah saya katakan kepada anda adalah fakta bahwa anda memiliki ikatan batin dengan istri anda, ketika dia sedang mengejan untuk mengeluarkan bayi kembar anda dan bayi anda yang pertama dari rahimnya, saat itulah sakit yang sama menyerang perut anda tuan, ternyata kekuatan cinta kalian begitu hebat dan sangat langka, cinta sejati merasakan kesakitan yang sama ketika pasangannya mengalami kesakitan pada tubuhnya.
"Selamat tuan Rei atas kelahiran baby kembarnya semoga menjadi putri yang sholehah dan selalu sehat."
"Aamiin, terimakasih untuk ucapan nya serta diagnosa anda yang sangat tepat yang telah terjadi pada perut saya hari ini."
"Sama-sama tuan Rei."
Secepat kilat Rei telah melesat ke ruang pribadi milik keluarganya yang ada di rumah sakit miliknya, ia ingin sekali bertemu dengan istri dan baby kembarnya yang belum sempat ia kumandangkan azan pada baby kembarnya. Pintu dibuka dan terlihatlah senyum istrinya menyambutnya.
"Honey, maafkan aku, tadi aku sempat pingsan karena perutku mendadak sakit saat kamu mengejan baby kembar kita."
"Ya Allah Rei, kamu membuatku sangat kuatir, emangnya kamu makan apa sayang sampai perutmu sesakit itu?"
Rei menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dari awal kejadian setahun yang lalu dan kejadian yang sama menimpanya hari ini saat mendampingi Malika melahirkan bayi kembar mereka. Malika mendengarkan penuturan suaminya dan dia merasa bulu kuduknya berdiri mengetahui suaminya bisa merasakan apa yang dirasakannya ketika dirinya melahirkan.
"Ya Allah Rei, setahu saya, yang ada juga kekasih atau suami yang mengalami kehamilan simpatik, tapi beda dengan kasusmu malah mengalami kelahiran simpatik.
Apakah kamu sangat mencintaiku sayang," tanya Malika menatap manik suaminya mencari kejujuran dari balik jendela hati itu.
"Lebih dari kata sangat sayang, kau lebih dari apapun di dunia ini yang pernah kumiliki, dan kehadiran tiga buah hati kita sebagai kesempurnaanmu untuk membuatku makin membuat ku mencintaimu seumur hidupku sayang.
Terimakasih telah melahirkan putra putriku Malik. Sayangku, cintaku, istriku bidadariku, kaulah duniaku saat ini, jangan pernah pergi dari hidupku tanpa izinku walaupun itu adalah kematian. Jika ingin pulang dari dunia ini ajaklah bersamaku, itu pintaku padamu sayangku," ucap Rei sambil menatap manik mata istrinya lalu dikecup bibir istrinya dan dipeluk tubuh yang telah melahirkan penerus tahta kerajaan bisnisnya ini.
"Terimakasih Rei, aku makin mencintaimu sayang, tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah jika suatu saat ada yang kurang dari tubuhku ataupun perlakuanku yang membuatmu kecewa, tolong jangan pernah kamu pindah ke lain hati!"
Keduanya kembali berpelukan mesra. Pintu kamar itu dibuka oleh suster yang sedang membawa kereta bayi kembar Malika.
"Maaf tuan!, mohon maafkan saya!, saya tidak tahu tuan sudah bersama nyonya."
"Tidak apa suster, mungkin anda butuh tontonan gratis dari kami berdua," ucap Rei datar menyindir suster yang kurang adab itu.
Malika yang tidak enak hati melihat ketakutan suster itu, sengaja mengalihkan perhatian suster yang sedang membawa bayi kembarnya.
"Sini, suster bawakan bayi saya, saya ingin menyusuinya."
"Sayang, aku belum sempat azan di telinga putri kembar kita."
Tidak lama dokter Riyanti masuk ke ruangan itu ketika melihat suster yang masih berdiri mematung, dokter itu mengangkat satu bayi di berikan kepada Rei untuk di adzanin oleh dadynya dan satu lagi diberikan kepada Malika untuk disusui.
Suster itu pamit pada dokter untuk meninggalkan kamar pribadi milik bosnya itu. Dokter juga ikut keluar karena tidak ingin menganggu keluarga kecil itu yang sedang menikmati kebersamaan keluarga kecil itu bersama baby kembar mereka.
Rei mengumandangkan adzan pada satu putrinya dan bergantian dengan putri yang lainnya.
"Subhanallah sayang mereka cantik sekali persis sepertimu Malika."
"Terimakasih dady untuk pujiannya," ucap Malika meniru suara anak kecil mewakili putrinya.
"Sayang, berarti nanti aku puasa lagi dong?," tanya Rei di sela-sela Malika sedang menyusui bayinya.
Rei yang gemas melihat pa****ra istrinya yang sedang di isap oleh putrinya.
"Baby, kali ini dady kontrakin milik dady ini pada kalian berdua ya, tiba saatnya nanti kembalikan pada dady," ucap Rei pada baby kembarnya.
🌷🌷🌷🌷
Nyonya Ambar dan nyonya Alea bersama suami mereka datang dengan baby Ezra yang ikut membesuk maminya yang baru melahirkan adik kembarnya.
"Mami ini dedenya Ezra," ucap Ezra yang sedang berjingkrak senang melihat adik kembarnya yang tertidur di kotak tempat tidur bayi
"Selamat ya putriku, terimakasih sudah melahirkan dengan selamat," ucap nyonya Alea pada putrinya.
Malika memeluk mamanya dengan sangat kuat, ia menangis sesenggukan dalam pelukan mamanya. Nyonya Alea sedikit bingung mengapa putrinya menangis.
"Sayang, kenapa kamu menangis sayang?"
"Maafkan Malika mama, Malika sudah merasakan menjadi seorang ibu setelah melahirkan anak-anak Malika, terimakasih mama sudah bersusah payah melahirkan dan membesarkan Malika."
"Begitulah sayang, seorang wanita akan lebih menghargai ibunya ketika dia sudah sempurna menjadi seorang ibu, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak-anaknya sampai mereka dewasa, itulah pengorbanan seorang ibu."
"Malika sayang mama..hiks..hiks!"
Setelah reda tangisnya, kini gantian nyonya Ambar mengucapkan selamat pada Malika, lagi-lagi Malika memeluk ibu dari suaminya seperti ia memeluk mamanya tadi.
"Terimakasih mami, sudah melahirkan dan memberikan putra mami untuk menemani Malika seumur hidup Malika, terimakasih sudah membesarkan putra hebat untuk menjadi suamiku sekarang."
Nyonya Ambar yang tidak kuat menahan harunya, memeluk menantunya itu dengan penuh kasih sayang,
"Mami sangat bersyukur karena Allah mengirimkan dewi fortuna sepertimu dalam keluarga mami sayang, ditambah lagi mami mendapatkan bonus cucu kembar yang sangat cantik dan putramu yang sudah mewarnai hari-hari mami yang sepi. Entah apa yang terjadi pada kami jika Rei tidak bisa bertemu dengan obat jiwanya dalam dirimu," tutur nyonya Ambar tulus pada menantunya, yang membuat Malika makin berderai air matanya.
Rei menghampiri dua wanitanya yang melahirkannya dan melahirkan putra-putrinya. Ketiganya menangis haru pada momen bahagia hari ini. Tuan Romi dan tuan Daniel yang juga menyaksikan adegan drama keluarga ini juga menangis. Nyonya Alea hanya mengusap wajahnya dari cucuran air matanya, betapa bahagianya nyonya Alea karena putrinya berada ditengah keluarga yang tepat yang menyayangi putrinya dan keluarganya.
"Ya ampun sampai lupa sama si kembar," ucap nyonya Alea menghampiri si kembar yang sedang membuka mata mereka menatap keluarga yang saat ini sedang mengelilingi mereka.
"Ya Allah cantiknya cucu opa, opa gendong ya."
"Oh iya, apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk putri kembar kami?," tanya Rei yang sudah mengakhiri harunya.
"Sudah!"
Jawab kedua ibu mereka bersamaan.
"Sekarang dari mami dulu, mami mau pilih yang mana cucu mami yang ingin mami berikan nama."
"Ini yang sedang digendong papimu Rei."
"Berarti putri yang mama gendong sekarang, mama yang akan kasih nama.
Rei dan Malika saling menatap, sedangkan tuan Daniel sedang menemani baby Ezra yang tidak bisa diam dalam satu tempat. Bayi montok itu sepertinya ngerjain eyang kakungnya, ia berlari ke sana kemari dengan terus terkekeh, sampai akhirnya tubuhnya jatuh membentur lantai.
"Tuh, kan jatuh."
Tuan Daniel menggendong Ezra dan kembali masuk ke dalam kamar inap milik putrinya. Di dalam sana sedang terjadi diskusi hangat mengenai nama si kembar. Nyonya Ambar menyemaikan nama indah untuk cucunya yang sangat cantik.
"Mami ingin memberikan nama cucu mami yang ini bernama
"Tania Kanza"
__ADS_1
"Kalau mama mau beri nama cucu mama yang ini bernama
"Rania syahnaya"
Tania dan Rania memiliki arti yang sama yaitu "Ratu"
Kedua besan itu sangat senang saat memberikan nama itu yang sudah dicatat oleh suster untuk mendapatkan akte kelahiran keduanya yang dikeluarkan langsung oleh rumah sakit milik mereka. Rei dan Malika melihat kekompakan ibu mereka, membuat pasangan ini sangat senang sudah melibatkan ibu mereka dalam pemilihan nama untuk bayi kembar mereka. Keluarga itu kembali ke kediaman mereka masing-masing sambil membawa cucu lelaki mereka. Malika memeluk putranya dan mencium pipi putranya itu. Baby Ezra harus berbagi cinta dan kasih sayang kepada adik kembarnya.
"Malika kami pulang dulu ya nak, mami akan menunggu kedatanganmu dengan si kembar di mansion."
"Mama juga sayang, mau sekalian pamit pulang.
"Mami, kapan pulang bawa dede kembar," tanya Ezra pada ibunya.
"Lusa mami sudah pulang sayang, abang Ezra tunggu dede kembar di rumah sama oma dan opa ya."
"Mami, muuacch," cium Ezra tepat di bibir Malika membuat Rei terpana putranya mengecup bibir istrinya. Malika hanya tertawa senang mendapatkan kecupan dari bibir lembut putranya dengan sedikit percikan liur putranya pada bibirnya.
Rei menggendong putranya, mengantar orang tua dan mertuanya sampai pintu lift di lantai kamar pribadi dekat dengan kamar inap Malika. Sepulangnya dari mengantar keluarganya Rei kembali ke kamar Malika.
"Sayang apa yang kamu rasakan saat putra kita mengecup bibirmu?"
"Pastinya bahagia sayang."
"Putraku sudah hebat sekarang, pintar mengecup bibir."
"Itu karena dia selalu melihatmu, makanya sekarang jaga sikap kamu jangan asal, supaya baby tidak melakukan hal yang aneh-aneh seperti dadynya."
Rei hanya tersenyum melihat istrinya yang sedikit protes dengan ulahnya yang nakal, kemudian ia memagut bibir istrinya dan ciuman itu makin panas, Malika yang takut suaminya terpancing berusaha menghentikan ciumannya.
"Sayang, kenapa berhenti, aku belum puas menciummu sayang."
"Kalau milikmu tegang, repot urusannya Rei."
"Masa ciuman saja nggak boleh sayang."
"Bukannya aku tidak mau sayang, tapi aku kasihan kamunya kalau nggak ada lawannya."
"Berarti tunggu sebulan lagi dong!"
"Itu waktu yang cukup sayang untuk kamu kembali bekerja, kasihan asisten Raffi dia sampai tidak bisa berkencan dengan gadis yang dia suka."
"Emang dia ngadu padamu sayang."
"Asisten Raffi tidak pernah curhat padaku, tapi sekertarisku yang ngeluh karena kamu terus menindas cowoknya."
"Baiklah nanti kalau kamu dan si kembar sudah pulang, aku akan kembali ke perusahaan."
"Nah gitu dong jadi dady, cari nafkah untuk keluarganya, apa lagi sudah punya tiga anak sekarang yang harus kamu perhatikan sayang."
"Siap ratuku, aku dengan senang hati akan melakukan untuk dewa dewiku he..he..he!"
🌷🌷🌷
Hari ini kepulangan Malika kembali ke mansion, Rei yang sempat mampir ke toko bunga untuk membeli bunga kesukaan istrinya, bunga lili putih adalah pilihan Rei. Tidak lupa Rei juga mencari perhiasan yang sekarang lagi sedang mengeluarkan koleksi perhiasan baru di konter perhiasan mewah itu. Rei melihat-lihat seperangkat perhiasan di salah satu konter perhiasan yang ada di Mall tersebut. Ia meminta salah satu pelayan toko itu untuk merekomendasikan perhiasan mewah yang ada di toko itu. Pelayan itu mengeluarkan lima model perhiasan mewah dari koleksi yang mereka punya. Rei membeli salah satu perhiasan dengan model yang sangat antik untuk istrinya yang baru saja melahirkan putri kembarnya.
🌷🌷🌷
Di rumah sakit, tepatnya di kamar inap, Malika sedang bersiap-siap untuk pulang membawa bayi kembarnya yang sudah di tunggu keluarga besarnya di mansion suaminya. Wanita cantik ini meninggalkan baby kembarnya yang sedang tidur pulas di dalam kotak kaca bening dekat dengan tempat tidurnya. Ia sedang membersihkan dirinya dalam kamar mandi di dalam ruang inap pribadinya itu. Usai mandi dan berpakaian yang rapi, Malika menghampiri babynya yang ingin disusuinya, saat mendekati boks bayi itu Malika tersentak ketika melihat satu bayinya tidak berada di boks yang sama dengan kembarnya.
"Ya Allah, di mana bayiku yang satu lagi," gumamnya panik.
Malika memencet bel yang ada di atas brangkar tidurnya. Satu orang suster mendatangi kamar inap miliknya.
"Suster apa kalian membawa bayiku keluar dari sini."
"Tidak nyonya, bayi kembar anda masih di boks,... kata-kata itu terhenti saat mengetahui bayi kembar Malika telah raib dari tempat tidur bayi yang ada dalam boks kaca tersebut. Suster itu ikut terkejut saat melihat bayi satunya lagi tidak ada di tempatnya, ia berlari keluar mengabari rekannya. Tapi diantara mereka tidak merasa membawa bayi Malika. Rei yang baru saja masuk membawa satu buket bunga lili dan kotak perhiasan dalam paper bag untuk istrinya itu nampak bingung melihat kepanikan antara suster dan istrinya.
"Kenapa baby, apa yang terjadi?
"Rei salah satu putri kita hilang."
"Hilang gimana, mungkin di bawa sama suster sayang."
"Dokter Riyanti datang dengan wajah cemas, menanyakan kronologi hilangnya bayi pasien VVIP."
"Saya sudah meminta petugas untuk memblokir pintu masuk dan keluar tuan Rei dan mengerahkan petugas untuk melihat CCTV di luar pintu masuk kamar anda. Tolong tunggu sebentar.
Karena tidak ingin menunggu Malika langsung mengambil ponselnya dengan lihainya wanita cantik ini memainkan jemarinya di permukaan layar ponselnya untuk melihat gerak gerik pelaku yang telah mencuri bayinya. semua pada sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Dokter Riyanti yang kini sudah menjabat Dirut rumah sakit milik keluarga Rei, terus menghubungi pihak keamanan rumah sakit, sedangkan Rei menghubungi asisten Raffi untuk melakukan sesuatu untuk bayi kembarnya.
Rei juga menghubungi orang rumah tentang situasi mereka saat ini di rumah sakit miliknya. Malika yang mulai menggerakkan jarinya menemukan seseorang yang sangat dikenalnya setelah layar ponselnya mengunci pergerakan pelaku penculikan tersebut, Malika memperbesar gambar orang itu yang sedang menggendong bayi keluar dari kamar inapnya dan seketika wajah itu tampak jelas dalam ponselnya, dengan tangan gemetar Malika memberikan ponsel pintarnya pada suaminya dengan berkata-kata yang tersendat dalam pengucapannya.
"Re..rei..ba.. bayi ki..kita..di..di..bawa.o..leh.. kata-kata Malika membuat Rei yang melihat istrinya makin penasaran dan ia meraih ponsel pintar istrinya, dengan membelalakkan matanya, Rei mengepalkan tangannya dengan mengatup rapat rahangnya langsung mengejar pelaku dengan petunjuk ponsel pintar milik istrinya.
"Tuan, tuan!"
"Astaga, bagaimana ini," ucap dokter Riyanti nampak gusar dengan pihak keamanan yang sedang bertugas di ruang CCTV tanpa memberinya informasi yang sedang ia minta.
"Nyonya,..nyonya!"
"Tolong sadar nyonya, kami sedang berusaha mencari keberadaan penculik bayi nyonya," ucap dokter Riyanti yang sangat takut melihat Malika seperti patung hidup tanpa ada ekspresi.
Rei dan teamnya mengejar penculik itu yang tidak bisa keluar dari gedung rumah sakit miliknya karena semua pintu keluar sudah di blokade oleh petugas. Penculik bayinya itu masuk ke lift barang yang menuju ke lantai atas gedung.
"Astaga!, mau ke mana orang itu membawa bayiku, apa yang sedang dilakukannya di atas sana dengan bayiku?
Nyonya Alea dan tuan Daniel tiba lebih dulu dari besannya, mereka langsung ke kamar inap Malika. Nyonya Alea mendapati putrinya yang diam membisu dengan tatapan kosong tanpa ekspresi.
"Ya Allah apa yang terjadi nak, mengapa kamu jadi begini?
"Malika, dengarkan mama sayang!"
"Tolong sadar sayang!"
Dokter Riyanti yang sudah terhubung dengan petugas ruang CCTV, menanyakan perkembangan pelacakan mereka pada tersangka penculikan bayi tuan Rei.
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan orang yang membawa bayi pasien VVIP?"
"Sudah dokter, orang itu sekarang sedang berada di atas atap gedung ini dengan membawa bayi tuan Rei."
"Ya Allah, apa yang dilakukan orang itu di atas sana.
__ADS_1
"Minta bantuan polisi dan team Damkar untuk datang ke rumah sakit sekarang!"