
Pesawat jet milik pribadi tuan Rei telah tiba di tanah air setelah menempuh perjalanan dalam waktu 17 jam lebih. Rei menghubungi asisten Raffi untuk menyediakan helikopter untuknya karena pria tampan ini ingin cepat sampai ke mansionnya.
"Hallo Raffi!"
"Hallo tuan, selamat pagi!," ucap Raffi sedang mengucek matanya yang masih merasa ngantuk sambil menguap beberapa kali.
"Kamu masih tidur Raffi?," tanya Rei lagi.
"Ini masih jam 4 pagi bos, aku masih ngantuk, huaah," ucap Raffi sambil menguap lagi.
"Hilangkan rasa ngantukmu itu dan dengarkan aku!
Saat ini, aku sudah tiba di Jakarta, aku minta kamu pesan helikopter untukku sekarang!"
"Ba-baik tuan, aku akan segera lakukan."
"Cepat tidak pakai lama karena aku membawa istri dan anakku lebih cepat tiba di mansion.
"Apa, anak?"
"Jangan banyak tanya, sampai jumpa di mansionku," ucap Rei lalu memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Raffi hanya mendengus kesal, tapi kepulangan bosnya dari bulan madu membuatnya senang karena hampir dua bulan ini dirinya hanya berkutat dengan pekerjaan bosnya yang harus dihandle oleh dirinya sendiri kalau sudah berada di perusahaan maskapai penerbangan internasional itu.
"Baiklah bos, aku akan turuti semua keinginanmu, asalkan bonus dan liburanku bertambah, he..he.he," ucap asisten Raffi lalu terkekeh sendiri.
Ia menghubungi pihak bandara yang bertugas membawa helikopter. Petugas jaga yang ada di bandara menjawab panggilan asisten Raffi. Dalam sekejap helikopter itu sudah berada dekat dengan pesawat jet pribadi milik Rei.
"Sayang ayo kita turun, sebentar lagi helikopter akan datang menjemput kita."
"Iya sayang," ucap Malika lalu bangkit berdiri, ia pun berjalan perlahan karena kelamaan duduk di pesawat membuat otot-ototnya terasa kaku.
"Sini aku gendong kamu sayang," ucap Rei yang melihat istrinya masih kelihatan lelah.
"Kamu gendong baby Ezra aja sayang, kasihan dia masih nyenyak, aku bisa jalan sendiri," ucap Malika sambil tersenyum pada suaminya yang selalu merasa kuatir padanya.
"Apa kamu yakin sayang?"
Malika hanya menganggukkan kepalanya tanpa banyak komentar lagi pada suaminya yang selalu posesif terhadap dirinya. Rei hanya tidak ingin melihat wanita cantik ini merasa sakit sedikitpun. Malika melangkah duluan menuju tangga pesawat. Seorang pramugari menawarkan diri untuk menggendong baby Ezra karena melihat tampang Rei yang masih gelisah melihat istrinya yang terlalu pelan jalannya.
"Maaf tuan, boleh saya menggendong baby, kasihan nona muda sedikit kesulitan berjalan.
"Iya mbak, istriku lagi hamil muda, tolong gendong putraku, aku ingin membantu istriku turun.
"Baik tuan," ucap pramugari itu seraya mengambil putranya Rei dari pelukan dadynya.
Rei langsung menggendong tubuh istrinya yang sudah berada di depan pintu pesawat, Malika juga kaget dengan perilaku Rei yang selalu membuatnya senang.
"Jalanmu seperti keong sayang, kapan nyampenya, lihatlah helikopter tiba lebih dulu dari pada jalanmu," ucap Rei pada istrinya.
Raffi membawa tubuh istrinya ke helikopter yang sedang menunggu mereka, setelah itu mengambil putranya dari gendongan pramugari yang sudah ada di samping helikopter. Helikopter kembali membawa keluarga kecil ini menuju ke kediaman Rei. Tepat jam 4.30 wib, mereka sudah tiba di mansion. Tuan Romi dan istrinya yang baru menyelesaikan sholat subuh berjamaah, mereka mendengar deru mesin helikopter dari arah landasan pacu di dalam area mansion. Keduanya saling menatap lalu bertanya.
"Siapa yang datang sepagi ini ya papi?, apakah papi menghubungi seseorang, tanya nyonya Ambar yang lagi heran dengan kedatangan helikopter.
"Kita lihat saja sayang, mungkin mereka punya kepentingan untuk menemuiku," ucap tuan Romi pada istrinya.
Keduanya keluar dari mansion dan melihat siapa yang turun dari helikopter tersebut. Betapa terkejut keduanya melihat putra dan menantunya turun dari helikopter dengan membawa seorang bayi.
"Papi, siapa yang digendong Rei, bukannya mereka bulan madu ke Bali?"
"Astaga, itu cucu kita Ambar, itu baby Ezra," ucap tuan Romi yang langsung berlari menghampiri putranya.
"Apa?, cucuku," tanya nyonya Ambar yang ikut berlari bersama suaminya.
Rei dan Malika tersenyum menyambut pelukan lelaki yang telah membesarkannya ini, Rei menyerahkan putranya pada papinya.
"Ya Allah apa ini cucu opa?" tanya tuan Romi yang sudah menggendong cucunya.
"Rei, bagaimana bisa kamu membawa putramu," tanya nyonya Ambar yang sudah ada di samping suaminya lalu tersenyum senang melihat cucunya yang masih tidur.
"Papi berikan cucuku, aku ingin menggendongnya juga," pinta nyonya Ambar pada suaminya yang ingin merebut cucunya dari gendongan suaminya.
"Papi baru gendong cucu kita, nanti gantian gendongnya sayang," ucap tuan Romi pada nyonya Ambar.
"Tapi aku kangen sama baby."
Malika dan Rei hanya terkekeh melihat tingkah suami istri ini yang saling berebut cucunya.
"Sudah mami, kita masuk dulu, kasihan baby Ezra masih capek dalam perjalanan jauh," ucap Rei pada maminya.
"Emang kalian dari mana Rei?"
"Nanti Rei jelasin di dalam, kami pingin istirahat dulu."
Keluarga tuan Romi berjalan beriringan memasuki mansion mereka. Para pelayan sudah siap ditempat mereka menyambut tuan dan nyonya muda, mereka juga turut senang melihat cucu dan tuannya sudah bersama keluarganya. Malika dan Rei duduk di ruang keluarga untuk melepaskan lelah. Para pelayan sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga itu. Nyonya Ambar mengambil baby untuk di baringkan di kamarnya.
Mereka menyantap sarapan pagi dengan sangat nikmat, lalu Rei menceritakan tentang kisah mereka bisa mendapatkan kembali baby Ezra dari mantan mertua istrinya di Wina Austria. Berkat bantuan Sarah putri pamannya tuan David yang ikut andil dalam rencana mereka. Nyonya Ambar membekap mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, begitu dramatis dan sangat mengharukan.
"Benarkah Rei kalian menemukan baby Ezra melalui sinyal yang tertangkap dari ponsel Malika?"
"Iya mam, seperti yang Rei sudah ceritakan semuanya barusan.
Tapi satu lagi berita gembiranya untuk kalian dan...," ucap Rei dengan sengaja menghentikan kalimatnya dengan tersenyum menggoda kedua orangtuanya yang sedang menunggu jawaban selanjutnya dari putranya.
"Cepat katakan sayang, jangan buat mami penasaran," desak nyonya Ambar pada putranya.
"Sekarang kalian akan mendapatkan cucu lagi karena Malika sekarang sedang hamil mam."
"Apa??
"Benarkah itu Malika?" tanya nyonya Ambar dengan wajah berbinar-binar mendapatkan hadiah terindah dari putra dan menantunya.
"Iya mami, Malika sudah hamil sekitar 6 minggu," ucap Malika malu-malu pada kedua mertuanya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah Engkau kabulkan permintaan kami," ucap tuan Romi menengadahkan wajahnya ke atas.
Nyonya Ambar bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah Malika yang masih menikmati sarapannya.
"Sayang, selamat ya, terimakasih sudah memberikan kami cucu lagi."
"Iya mami, sama-sama."
"Sebentar sayang mami mau menelepon jeng Alea untuk berbagi kebahagiaan ini."
Nyonya Ambar mulai menekan nomor ponsel nyonya Alea, tidak lama dari seberang nyonya Alea menjawab telepon dari besannya.
"Assalamualaikum, jeng Alea."
__ADS_1
"Waalaikumuslam, jeng Ambar."
"Jeng apa kamu bisa datang ke mansionku sekarang?"
"Emang ada acara apa jeng."
"Ini sangat penting, tidak bisa di jelaskan lewat telepon."
"Baiklah jeng, nanti aku akan mengajak papanya Malika juga berkunjung ke sana, kebetulan hari ini hari libur."
Keduanya sama-sama menutup pembicaraan mereka.
"Mami, kenapa nggak langsung kasih tahu aja mama," ucap Rei yang gemas lihat maminya senang ngerjain mertuanya.
"Ini suprise buat besanku, nggak seru kalau dikasih tau lewat ponsel.
"Kalau begitu, Rei dan Malika ke kamar dulu ya mami, kami mau istirahat sebentar, titip baby Ezra ya mi.
"Kenapa harus nitip, mami mau seharian main sama cucu mami," ucap nyonya Ambar pura-pura memasang wajah ketus.
"Terimakasih ya mami, Rei sayang mami." ucap Rei sambil mengecup pipi maminya lembut.
"Dasar anak nakal," ucap nyonya Ambar sembari mengelus pipinya bahagia.
🌷🌷🌷
Rei yang sangat rindu akan kehangatan istrinya, sudah tidak sabar menunggu kenikmatan yang sudah tertunda selama seminggu lebih saat Malika berada di rumah sakit.
"Sayang aku merindukanmu, ucap Rei langsung menyumbat bibir sensual milik istrinya.
"Sebentar sayang," biarkan aku membersihkan tubuhku dulu karena belum mandi."
"Wangi tubuhmu masih harum sayang walaupun kamu belum mandi, ayolah sayang, aku sangat merindukanmu," rengek Rei seraya mengunci tubuh Malika di atas kasur.
Rei menyerang tubuh istrinya dengan ciuman bertubi-tubi, sehingga membuat Malika kewalahan mengimbangi permainan suaminya.
Rei mencoba mengatur lagi posisi mereka dalam perci**an, kini Malika sudah tidak lagi mengenakan bajunya karena sudah dilucuti oleh suami dan membuang baju mereka ke sembarang tempat. Gairah keduanya sudah tidak lagi terbendung, membuat Rei tidak cepat menuntaskan permainannya bersama istri. Dengan perlahan Rei memperlakukan tubuh istrinya agar merasa nyaman mendapatkan sentuhan darinya.
Erangan Malika mulai terdengar syahdu di kuping suaminya, Rei membiarkan Malika menikmati setiap sentuhannya, karena Malika belum kuat untuk melayaninya.
"Sayang, bolehkah aku mengunjungi anakku," tanya Rei dengan suara yang sudah parau.
"Lakukan sayaaaaang," jawab Malika dengan suara lenguhan yang menggoda.
"Ini yang aku rindukan darimu, d*****n dan liukan tubuhmu yang selalu membuatku sulit jauh darimu."
Malika tersenyum menatap wajah suaminya yang ingin memasuki bagian kenikmatannya. Rei menancapkan benda pusakanya, menghujam ke arah yang sama, mencari titik kelemahan istrinya. Kini teriakan Malika membuat Rei tidak tahan untuk terus mengaduk mahligai indah yang terpampang di depannya untuk mencapai kepuasan yang tiada tara.
"Reiiii...ssshhtt...aahhkk!"
"Malika, cintakuuu, eahhh, huuh!"
Peluh membanjiri tubuh kedua insan yang lagi menggelora ini. Kelopak mata Rei berat dengan bola mata yang memerah yang sudah mendapatkan keinginannya kepada istrinya. Rei tersenyum lalu mengecup bibir Malika sesaat.
"Sayang, terimakasih sudah mengandung benihku. Aku tidak mengira bisa secepat ini mendapatkan calon baby lagi. Aku ingin membuat kesatuan sepak bola sayang," ucap Rei manja pada Malika.
"Cih, kamu jahat sekali, mau menang sendiri, entar anakku cowok semua lagi, terus siapa yang temanin aku nanti kalau lagi ke shoping?
"Kalau begitu, tambahin aja lagi supaya kamu punya teman," canda Rei menggoda istrinya.
Keduanya terkekeh, lalu kembali memagut bibir dan kegiatan itu terhenti setelah mendengar pintu kamar mereka diketuk.
"Permisi tuan, ada tuan Daniel datang bersama nyonya besar," ucap salah satu pelayan.
"Kami segera turun." ucap Rei singkat pada pelayannya.
Pelayan itu kembali ke lantai satu menyampaikan pesan dari Rei.
Nyonya Alea sedang mengobrol seru dengan nyonya Ambar sambil menunggu putrinya turun.
"Jeng ada masalah penting apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"
"Nanti saja tunggu kedua anak kita turun."
"Apa Rei dan Malika sudah balik dari bulan madu?" tanya nyonya Alea.
"Bukan berita sedihkan jeng?"
"Tidak ada lagi kesedihan jeng, yang ada kebahagiaan kita telah kembali."
Rei yang turun sambil memegang tangan istrinya tersenyum kepada kedua mertuanya sedangkan nyonya Ambar pamit ke kamarnya sebentar.
"Oh, putri kesayanganku, bagaimana kabarmu sayang, kamu ko kelihatan pucat nak?" ucap nyonya Alea memeluk putrinya dengan penuh kerinduan.
"Cuma kelelahan saja ko mam, mungkin karena perjalanan dari Wina ke Indonesia sangat lama waktu tempuhnya jadi Malika sangat capek duduk lama di dalam pesawat.
Rei menyalami mertuanya dengan takzim dan Malika memeluk papanya,
"Semoga selalu sehat sayang," ucap tuan Daniel pada putrinya.
"Nahhh, ini diaaa jagoan kitaaa!," ucap nyonya Ambar yang sudah menggendong baby Ezra yang baru saja bangun tidur.
"Ya Allah cucu eyang putri," sapa nyonya Alea haru seraya mengambil cucunya dari besannya.
"Bagaimana kalian mengambil kembali cucuku Rei," tanya tuan Daniel kepada menantunya.
Cerita seru kembali terjadi, kali ini yang lebih heboh mengisahkannya adalah nyonya Ambar kepada besannya.
"Ada lagi lho jeng kabar gembiranya untuk kita.
"Apa kabar gembira lagi?"
"Malika putrimu sekarang sedang hamil lagi dan usia kandungannya sudah enam minggu yeee!!," ucap nyonya Ambar yang mengangkat kedua tangannya hendak memeluk nyonya Alea.
"Ya Allah kebahagiaan keluarga kita benar-benar sudah kembali jeng Ambar," sahut nyonya Alea dengan ekspresi wajah ceria.
"Putriku sayang selamat ya nak, jaga cucu kami, aku bangga padamu."
"Terimakasih mama, doakan Malika.
"Doakan Rei juga mama."
"Oma, opa!," panggil baby Ezra.
Satu keluarga itu begitu terkesiap mendengar suara bayi tampan ini memanggil mereka.
"Ya Allah, baby kamu sudah bisa bicara?," tanya nyonya Ambar gemas pada cucunya.
__ADS_1
Baby Ezra menganggukkan kepalanya lalu tersenyum lebar sambil memperlihatkan empat giginya.
"Cucuku hebat," puji tuan Daniel pada baby Ezra.
"Siapa dulu dong kakeknya," ucap tuan Romi yang sangat senang dengar suara cucunya."
"Baby Ezra sangat jenius papa," ucap Rei kepada papa Mertuanya.
"Kalau begitu jeng kita harus jadwalkan pembagian cucu kita," ujar nyonya Alea yang membuat semuanya bengong mendengar ucapan nyonya Alea.
"Jadwal pembagian?, maksudnya apa jeng," tanya nyonya Ambar yang tidak mengerti ucapan besannya.
"Kita bagi hari saja, tiga hari baby Ezra nginap di mansion aku dan empat harinya di rumah kamu jeng gimana, adilkan aku?.
Semuanya terkekeh mendengar penuturan nyonya Alea.
"Kita tanya orang tuanya saja."
"Terserah kalian saja, bagaimana baiknya, yang penting baby Ezra merasa nyaman ada di manapun dirinya dibawa," ucap Rei tersenyum sambil menatap istrinya.
Semuanya mengangguk paham dengan keputusan Rei. Baby Ezra hanya tersenyum melihat keluarga kandungnya. Rei dan Malika duduk ngobrol dengan dengan para orang tua mereka. Waktu terus berdetak mencapai angka 12 siang, pertemuan kedua jarum jam dalam satu arah itu mengingatkan mereka beribadah dan lanjut makan siang bersama.
Keluarga itu kembali makan bersama dengan besan mereka. Kehadiran cucu mereka membuat mereka mempunyai mainan baru. Begitu mudahnya baby Ezra beradaptasi dengan keluarga aslinya ini, seakan dia pernah tumbuh dan besar di lingkungan keluarganya sendiri. Kejeniusan bayi montok memiliki wajah yang sangat tampan nan lucu membuat keluarga itu begitu bangga dan bahagia. Aset dunia akhirat mereka telah ditemukan, penerus warisan kerajaan bisnis kedua kakeknya ini.
Malika tiba-tiba merasakan mual yang amat sangat bangkit dari duduknya, ia segera berlari ke arah wastafel yang ada di taman karena tidak kuat menahan mual. Rei mengikuti langkah istrinya, menemani Malika yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
"Jangan mendekat sayang, ini sangat jijik," pinta Malika sambil menahan satu tangannya melarang suaminya menolongnya.
Malika buru-buru menyalakan keran air agar muntahannya tidak terlihat oleh suaminya.
"Sayang tidak apa-apa, kamu lagi hamil, aku harus membantumu."
"Jangan Rei, aku malu."
"Astaga kita ini suami istri sayang, mengapa kamu harus malu padaku?"
"Sudah muntahnya atau masih mual lagi, kita ke dokter sekarang ya, kasihan wajahmu makin pucat," ucap Rei yang kuatir dengan keadaan istrinya.
"Besok aja Rei, aku masih lelah ucap Malika.
"Kalau begitu aku panggilkan dokter ke mansion kita."
Malika mengangguk lemah, Rei mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, membawanya ke kamar mereka.
Orangtua mereka nampak cemas melihat keadaan Malika yang sangat lemah pada kehamilannya.
Tapi mereka tidak ingin menganggu Rei yang sedang memberikan perhatian istrinya.
"Mama tolong panggilkan dokter kandungan di rumah sakit kita," pinta Rei sambil menaiki anak tangga dengan menggendong Malika.
"Sudah dihubungi sama papimu sayang."
"Papi sekalian minta tim medis bawa alat USG portabel supaya kita bisa lihat cucuku di rahim menantuku," ucap nyonya Ambar pada suaminya.
Tuan Romi menuruti permintaan istrinya, ia kembali menghubungi pihak rumah sakit miliknya, meminta alat perlengkapan USG.
Keadaan Malika makin payah, dia terus saja merasakan mual, sudah berulangkali bolak balik ke kamar mandi, Rei mengikuti istrinya dengan wajah panik. Tidak lama terdengar ketukan pintu kamarnya. Rei membuka pintu itu dan terlihat dokter dan mami serta ibu mertuanya ikut masuk ke kamar Rei. Dokter Riyanti Adam tersenyum kepada Malika yang nampak pucat.
"Selamat siang nyonya Malika," sapa dokter Riyanti pada Malika.
"Siang dokter!"
"Boleh saya memeriksa anda?"
"Silahkan dokter!"
"Kita akan melakukan USG sesuai permintaan nyonya Ambar."
Dua orang perawat membantu menyiapkan peralatan USG untuk Malika. Dalam hitungan menit peralatan USG model portabel sudah siap digunakan. USG Zoncare N7 ini, memiliki model yang sudah sangat canggih pemakaiannya.
Dokter Riyanti Adam mengarahkan alat yang seperti stik ke perut Malika. Terlihatlah gambar yang tertera di dalam layar.
"Selamat ya nyonya Malika anda sedang mengandung bayi kembar, karena baru jalan tujuh minggu jadi masih sebesar biji wijen, mungkin bulan depan sudah bisa kelihatan bentuk tubuh bayinya," ucap dokter Riyanti sambil tersenyum pada suami istri ini.
Kabar ini sontak membuat dua wanita paruh baya itu saling berpelukan karena terlalu merasa bahagia. Senyum dan air mata haru datang bersamaan di wajah mereka.
"Dokter kenapa saya belum bisa melihat apa-apa digambar itu," ucap Rei yang berusaha melihat keberadaan janin dalam kandungan istrinya.
"Bayinya masih kecil, sedangkan yang kita dengar tadi itu detak jantungnya saja," jelas dokter Riyanti Adam kepada Rei.
"Apa ada obat yang mengurangi mual istri saya dokter?.
"Ini sudah biasa terjadi pada wanita hamil muda, tapi nanti saya akan tulis resepnya untuk nyonya Malika,
Yang penting harus banyak istirahat dan jauhi setress karena itu akan mempengaruhi pertumbuhan janin." ucap dokter kandungan tersebut pada keluarga ini.
Rei, nyonya Ambar dan nyonya Alea sangat senang dengan kehadiran bayi kembar di keluarga mereka. Dokter Riyanti mohon pamit setelah tugasnya selesai. Nyonya Ambar dan Alea mengantarkan dokter keluar dari kamar Rei. Suami Malika ini sudah tidak sabar ingin mencumbui istrinya setelah kamarnya sudah mulai sepi.
"Sayang, kita bakal punya bayi kembar, baby Ezra memiliki dua adik sekaligus," ucap Rei senang lalu mengecup bibir sensual istrinya.
"Alhamdulillah sayang, setidaknya orangtua kita tidak akan berebutan lagi, mereka akan mendapatkan masing-masing satu bayi dari kita," ucap Malika tersenyum pada suaminya.
"Sekarang apa yang kamu rasakan istriku, apa kamu ingin makan sesuatu, biar aku pesan pada chief kita.
"Aku hanya ingin es cream ini," ucap Malika sambil menunjukkan bagian bawah perut suaminya.
"Kamu menginginkannya sayang?" tanya Rei dengan mimik menggoda.
Malika hanya mengangguk dengan bersikap malu-malu dihadapan suaminya. Rei mulai melucuti pakaiannya dan ia juga membantu istrinya melucuti pakaian istrinya. Tubuh Keduanya sudah polos. Malika yang melihat benda pusaka milik suaminya sudah tegak mengacung, dengan sigap wanita hamil ini melahap inti suaminya dengan sangat rakus, memainkan bagian-bagian benda padat dan lonjong itu dengan jilatan dan hisapan hingga membuat suaminya mengerang nikmat tanpa henti.
"Oh sayang, ssst..ohh, Malika!"
Rei tidak tahan bagian intinya terus di jilat istrinya, ia pun menangkup wajah Malika untuk menyentuh bibir sensual itu dengan meremas belahan dua benda kenyal kesukaannya yang kini makin membesar karena kehamilan istrinya. Kini Rei mengalihkan mulutnya membenamkan wajahnya di dada istrinya dengan satu tangan memasuki sarang sempit istrinya, memainkan di sana membuat tubuh istrinya terus bergetar nikmat.
"Sssttt, Rei, ini sangat nikmat sayang," ucap Malika tanpa henti membuat sang suami mengubah permainan lembutnya menjadi sedikit kasar.
Rei melebarkan dua kaki istrinya, memperhatikan sarang yang masih tertutup dengan dua daging kecil yang mengapit sarang itu seakan menggoda Rei untuk memasukkan lidahnya di sana. Dengan kasar rei bermain di tempat itu sehingga membuat Malika lebih menekan kepala suaminya untuk meraih bagian sensitifnya, lenguhan kembali terlontar dari mulutnya. Hampir 20 menit Rei tidak melepaskan mulutnya di sarang istrinya padahal Malika sudah berulang kali melakukan pelepasan.
"Sayang, tolong bebaskan aku, aku sudah tidak kuat lagi," ucap Malika dengan mata sayu.
Rei bangkit lalu mengarahkan miliknya yang sudah siap untuk bertempur di dalam sarang milik istrinya. Saat Rei membenamkan miliknya ke dalam bagian inti istrinya, keduanya terpekik seketika karena hujaman kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuh mereka, membuat keduanya melenguh bersama dan terkulai lemas, menghabiskan tenaga dan waktu bersama. Rei menutupi kembali tubuh istrinya lalu tidur sambil berpelukan dan membiarkan keluarga mereka asyik ngobrol di taman belakang mansion milik tuan Romi.
ili
Ilustrasi si tampan baby Ezra 😘
__ADS_1