Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"KEPUASAN"


__ADS_3

Meeting yang sedang berlangsung di room meeting berjalan sempurna, Rei mendapatkan applause dari peserta meeting karena kehebatannya dalam mempresentasikan hasil rancangan desain pesawat jet pribadi yang sangat memuaskan para pengusaha manca negara yang ikut hadir dalam rapat tersebut. Decak kagum pada kejeniusan lelaki tampan ini tergambar jelas dari setiap wajah peserta rapat, mereka saling memberikan pendapat mereka masing-masing kepada Rei tentang apa saja yang harus Rei sertakan dalam rancangannya kali ini.


Semuanya pasti tergantung pada permintaan pasar yang menjadi kebutuhan klien. Meeting itu ditutup dengan pesta yang sudah terbiasa perusahaan Rei lakukan. Dan seperti biasa pula Rei selalu meninggalkan acara kalau sudah menyangkut dengan minuman beralkohol.


Raffi mengantar pulang bosnya itu kembali ke mansion, rasa lelah yang menghampiri tubuhnya begitu terasa usai meeting. Rei memejamkan matanya untuk mencuri waktu istirahatnya sebelum bertemu dengan keluarganya. Raffi membiarkan tuannya itu tidur tanpa ingin menganggu. Mobil melaju melewati beberapa tempat ibu kota, banyak orang yang masih sibuk berlalu lalang di setiap sudut kota Jakarta, padahal malam sudah makin larut.


Tidak terasa mobil Rei sudah memasuki gerbang mansionnya. Raffi yang selalu setia mendampingi Rei tidak sedikitpun mengeluh walaupun tubuhnya sendiri sangat lelah. Dua hari berturut-turut mengikuti meeting membuat tubuh lelaki ini harus ekstra lebih menjaga kebugaran tubuhnya. Walaupun sebenarnya dia ingin sekali minta cuti untuk bisa menyusul kekasihnya yang sekarang sedang berada di Korea Selatan.


"Bos!..bos..bangun bos!" kita sudah sampai di mansion anda.


"Hmm!" gumam Rei dalam keadaan masih mengantuk.


Rei membuka matanya lalu turun dari mobil yang sudah di buka pintunya oleh Raffi. Malika berlari menyambut suaminya. Tidak perduli kelelahan suaminya ia meminta suaminya untuk menggendongnya seperti biasa yang ia lakukan saat suaminya pulang kerja. Kelelahannya seketika lenyap ketika melihat wajah cantik sang istri. Rei mengecup bibir lembut Malika. Raffi yang melihat kemesraan bos dan istrinya mengingatkan dirinya pada Aida. Ketika Raffi ingin kembali masuk ke dalam mobilnya dicegah oleh Rei.


"Raffi!"


"Iya tuan!


"Besok jemputlah Aida, gunakan pesawat jet milikku, aku memberikan bonus libur untukmu selama satu minggu, kalau sudah bertemu Aida, cepat nikahilah gadismu itu.


Raffi sangat kaget, tidak menyangka bahwa Rei memberikan fasilitas akomodasi untuknya menjemput Aida.


"Alhamdulillah, terimakasih bos, semoga selalu bahagia."


"Apakah kamu puas dengan tawaranku Raffi?"


"Sangat puas bos, ini sudah lebih dari cukup."


"Pulanglah dan bawa mobil itu."


Raffi pamit pulang kepada Rei dan Malika. Rei membawa istrinya yang masih ia gendong ke kamar mereka.


"Apakah anak-anak kita sudah tidur sayang?"


"Tadi Ezra menunggumu sayang, karena kamu pulang terlalu malam membuatnya kelelahan dan tertidur."


"Mengapa kamu belum tidur?, ini sudah terlalu malam sayang.


"Aku tidak bisa tidur kalau kamu belum pulang."


"Terimakasih sayang, sudah mau menungguku pulang."


Di kamar, Malika melepaskan jas suaminya dan semua pakaian yang melekat pada tubuh suaminya.


"Apakah kamu mau mandi sayang?, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."


"Tapi aku ingin kita mandi berdua sayang."


"Baiklah!"


Rei melucuti baju piyama milik Malika kemudian di gendong tubuh itu membawanya ke dalam bathtub yang sudah di isi air hangat oleh Malika. Malika memandikan tubuh suaminya dan menggosokkan sabun itu ke seluruh tubuh Rei, tapi gosokan itu berhenti tepat di bagian bawah perut suaminya ketika disentuh oleh Malika, benda pusaka itu sudah tegak mengacung, membuat Malika merasa gemas.


"Sayang ko cepat banget bangunnya?"


"Kalau sudah dekat denganmu, milikku langsung meresponnya sayang."


Malika hanya tersenyum tanpa melepaskan genggamannya pada milik suaminya. Rei membiarkan istrinya melakukan apapun pada intinya, dia hanya mengambil shower untuk mengakhiri mandinya supaya bisa melanjutkan permainan ini di atas ranjangnya.


"Sayang, kita lanjutkan di kamar yuk," ajak Rei yang sudah tidak tahan berlama-lama berendam di dalam air, ia tidak ingin membiarkan pusakanya berdiri tegak lama diluar.


Mereka keluar dari bathtub dan Rei membalut handuk pada tubuh istrinya lalu menggendongnya lagi masuk ke dalam kamar mereka. Tubuh Malika di rebahkan ke atas kasur dan Rei mulai percintaan mereka dengan ciuman hangat. Malika bangkit, ia ingin memegang kendali, posisinya kini sudah di bawah bagian bawah milik Rei, ia mengulum milik suaminya, memainkan dengan lidahnya lalu memaju mundurkan mulutnya secara terus menerus membuat Rei kembali mengerang nikmat.


Tidak kuat menahan lebih lama, Rei menarik tubuh Malika, menempatkan bok**g bulat itu diatas miliknya pada sarang sang istri, kemudian ia menancapkan rudalnya ke dalam milik istrinya, dengan beberapa kali hentakan, keduanya bisa mencapai puncak kenikmatan bersama lalu tubuh Malika jatuh terkulai dengan bermandikan peluh sekujur tubuhnya, tanpa melepaskan miliknya pada rudal suami, Malika merebahkan tubuhnya diatas dada bidang Rei, keduanya tidur dalam pelukan hangat, melewati mimpi, menjemput pagi untuk memulai lagi rutinitas mereka.


🌷🌷🌷


Subuh dini hari Raffi sudah siap dengan kopernya menuju bandara pribadi tuannya, pilot pesawat dan awaknya siap mengantarkan Raffi ke negara Soul Korea Selatan dengan menggunakan pesawat jet milik Rei. Walaupun warna hitam waktu subuh masih menghiasi langit namun begitu indah ketika pesawat itu sudah lepas landas menuju langit yang masih terlihat kelip bintang menyoroti cahayanya yang lembut, nun jauh di bawah sana, bumi memancarkan cahaya buatan manusia untuk menangkal kegelapan malam, perpaduan ciptaan Tuhan dan manusia yang ingin memberi cahaya di tempat yang berbeda. Namun pancaran cahaya ciptaan Tuhan jauh lebih indah dipandangan mata manusia.


Raffi dengan semangat mulai memikirkan apa saja yang akan dilakukan saat ia bertemu dengan Aida, apakah gadis itu mau menerimanya ataukah akan kembali menolaknya, akhhh!" sangat membingungkan untuk mengandai-andai sesuatu yang belum terjadi, malah akan menyakiti perasaannya sendiri." gumamnya membatin.


Raffi merebahkan tubuhnya di sandaran kursi pesawat, membiarkan waktu berjalan untuk membawa tubuhnya menjemput ratu hatinya yang sudah memenuhi jiwanya.


Pesawat itu landing di bandara internasional Korea Selatan. Raffi langsung turun dan tidak lupa menghubungi seseorang untuk menjemputnya di bandara tersebut. Tidak butuh waktu lama, mobil yang di pesan Raffi sudah berhenti di hadapannya lalu Raffi meminta membawanya ke hotel tempat Aida menginap. Dengan bekal alamat yang diberikan Malika padanya, Raffi sudah tiba di hotel di mana kekasihnya menginap. Setelah melakukan tanya jawab dengan petugas resepsionis hotel, petugas itu siap membantu Raffi untuk memberikan kejutan pada Aida.


Dengan rencana yang sudah di atur oleh Raffi, petugas hotel itu mengantar Raffi ke kamar Aida tempati. Raffi melangkah dengan senyum kemenangan karena telah menemukan permatanya, Raffi mengikuti arah langkah kaki petugas itu bergerak, cukup jauh untuk mencapai kamar yang di tempati oleh Aida. Setibanya mereka di depan kamar Aida, petugas itu membunyikan bel kamar Aida. Dari dalam Aida yang masih menggunakan baju tidurnya mendekati pintu kamarnya, lalu mengintip dari kaca bulat kecil yang terpasang di setiap pintu kamar hotel untuk mengintip sosok orang yang mengetuk pintu kamarnya. Raffi sudah siap berdiri di samping pintu kamar Aida. Dengan rileksnya tanpa ada curiga sedikitpun, Aida membuka pintu itu karena yang dia lihat adalah petugas hotel, dengan pintu setengah terbuka Aida menanyakan tujuan petugas hotel itu mengganggu rehatnya.


"Selamat pagi nona!"


"Selamat pagi pak, ada apa?


"Maaf nona sa..

__ADS_1


kalimat petugas hotel itu terhenti karena Raffi langsung menyerobot masuk ke kamar Aida dan mendorong tubuh gadisnya ke dalam kamar. Petugas itu hanya tersenyum melihat tingkah Raffi yang sedang kangen berat pada kekasihnya Aida.


"Raffi??


Raffi tidak menyapa Aida, dengan cepat ia memeluk tubuh itu dan mendaratkan ciumannya pada Aida. Kedua tangan gadis itu di kunci, tubuh itu dibawa ke kasur dan ia mendorong tubuh Aida di atas kasur itu, tanpa ada acara pemanasan Raffi membuka gesper nya dan resleting celananya, dengan setengah te***ng Raffi melebarkan kaki Aida dan memasukkan miliknya ke dalam inti Aida yang tidak menggunakan dalaman. Merasa terpojok Aida menerima semua perlakuan Raffi, karena dirinya juga merindukan sentuhan lelaki tampan ini.


Tubuh Raffi kembali mengaduk milik Aida, antara rindu dan kecewanya menyatu dalam amarah lalu melampiaskan dalam hasrat yang nyata pada tubuh yang pernah menawarkannya sejuta nikmat, tubuh yang menyiksa batinnya, tubuh yang membawa serta hatinya yang mendamba, kini tubuh ini kembali dihujamnya dengan senjata asmara yang mengeluarkan setiap bulir rintihan nikmat, entah apa yang akan mereka lakukan setelahnya, tapi setidaknya rindu ini harus ditebus dengan waktu yang telah menyatukan kembali mereka ditempat pembaringan dengan negara yang berbeda.


Akhirnya rindu itu telah mencapai kepuasan batin, tanpa ada lagi perlawanan atau kata perpisahan. Raffi kembali mengikat pujaannya dengan sejuta pesona yang tidak bisa membuat Aida berpaling hanya karena bayang-bayang masalalu yang tidak pernah menjadi bagian dari impiannya. Kini Raffi datang mengubur semuanya dan menyembuhkan segalanya. Akhirnya hukuman itu berakhir dengan siksaan kenikmatan yang telah mereka jalani bersama di atas ranjang yang menjadi saksi kisah cinta dua anak manusia ini.


"Apakah kamu masih mau lari dariku sayang?"


"Entahlah"


"Tegaslah padaku Aida!, tanpa harus membuatku gila."


"Izinkan aku untuk berpikir, karena ini tidak mudah bagiku dan aku tidak ingin membuatmu kecewa."


"Sekalian saja bunuh aku Aida!, daripada kamu kabur dariku dengan alasan bodohmu itu.


Aku tidak pernah mempermasalahkan statusmu, masalalumu, yang aku inginkan kita menikah, membina rumah tangga, memiliki anak-anak dan menua bersama, apakah itu sangat sulit bagimu, hmm!," ucap Raffi sambil meremas bukit kembar Aida.


"Ahhkk!"


Tidak puas dengan permainan pertama, Raffi kembali mencengkram satu bukit kembar itu dengan kasar membuat Aida memekik, mulutnya mengisap pada pu**g itu secara bergantian, gairah Aida kembali bangkit, rasa geli pada ujung bukit kembarnya itu makin membuat tubuhnya terus menggeliat. Kerinduan yang baru empat hari ini menganggunya seakan terbayar lunas dalam sekali tempur. Entah berapa erangan yang sudah ia senandungkan yang membakar birahinya untuk mencapai surgawi, begitu indah, lembut dan hangat.


Aida sudah tidak kuasa lagi saat tubuhnya dijajah dan hatinya dibelenggu oleh jeratan cinta yang sedang di tebarkan oleh lelaki perkasa ini. Tiap lenguhannya mempunyai godaan tersendiri untuk Raffi, rasanya ia ingin membuat tubuh ini berdarah karena gemasnya ia bercinta.


Lolongan kecil Aida tidak membuat nya menyudahi permainannya, pacuan di atas tubuh gadis ini seakan menarik miliknya untuk terus mengaduk inti kekasihnya. Sampai akhirnya keduanya saling melepaskan gesekan yang menghasilkan getaran nikmat. Kelelahan telah menerpa keduanya, lalu Raffi menarik tubuh Aida, mendekapnya dengan kuat agar gadis itu tidak lagi meninggalkannya ketika ia tertidur. Kepuasan telah di dapatkan, Raffi mengecup bibir Aida lalu pamit untuk tidur.


"Sayang, jangan pergi lagi, kalau tidak ingin melihatku mengakhiri hidupku sendiri."


"Tidurlah sayang, aku tidak akan ke mana-mana, tidak akan aku ulangi lagi jika kamu sangat menginginkanku.


Keduanya kembali tidur walaupun matahari sudah menyelimuti bumi dengan sinarnya yang lembut.


🌷🌷🌷🌷


Rei yang tidak lagi di dampingi Raffi memilih menyetir mobilnya sendiri, pagi itu dia sendiri yang mengurus semuanya. Kebetulan untuk sepekan Rei tidak ada jadwal untuk meeting jadi ia lebih santai memulai aktifitasnya hari ini. Dari pagi dia hanya memeriksa file, laporan perusahaan yang ada di beberapa negara Eropa miliknya terpantau lancar, tidak ada penekanan dalam harga saham, apa lagi rencana mereka ingin launching rancangan pesawat jet baru siap di luncurkan dalam beberapa bulan ke depan, nilai jual rancangan desain pesawat jet itu makin meningkat karena hasil rancangan desain pesawat jetnya kali ini lebih canggih dalam operasionalnya, semua kecanggihan teknologi itu tidak terlepas dari partisipasi Malika istrinya. Dengan kecanggihan chip ciptaan Malika membuat pesawat itu memiliki keunggulan tersendiri, jika terjadi sesuatu pada pesawat itu, akan lebih mudah terlacak oleh ponsel yang juga merupakan buatan sang istri. Kolaborasi hebat ini akan memancing minat para pembeli selaku pemegang saham. Tentunya perusahaan Rei juga harus bekerja sama dengan perusahaan tuan Daniel yang merupakan papa mertuanya


sendiri.


Kesediaan Malika yang ingin merancang sendiri alat pelacak yang khusus untuk rancangan pada pesawat jet yang saat ini suaminya kerjakan. Rei menarik nafas lega, ia merasa puas dengan rancangannya kali ini. Rei tersenyum sendiri ketika mengingat hal itu, betapa lucunya dunia ini, mempertemukan dirinya dengan Malika, sepasang manusia yang memiliki kejeniusan yang sama bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama.


"Malika... Malika, Tuhan sengaja mempertemukan kita dengan cara yang unik yang tidak terbesit sedikitpun dalam pikiranku. Awalnya karena cinta dan berjalannya waktu menjadi cita-cita, yah cita-cita yang telah menemukan sebuah karya yang maha indah dari pikiran kita berdua. Bagaimana dengan anak-anak kita kelak, hasil dari cinta kita, pastinya kemampuan mereka lebih canggih lagi dari pada kita, putraku Ezra sudah memperlihatkan kejeniusannya, dan putri kembar kita bukankah mereka juga punya talenta yang sama, sekarang tugas kita adalah bagaimana mengarahkan mereka dengan kemampuan yang mereka miliki, seandainya Tuhan mengizinkan aku ingin memiliki banyak anak darimu sayang. Bukankah itu adalah suatu kepuasan yang menghasilkan?


Rei tergelak sendiri, entah apa yang saat ini pria ini pikirkan, dia tersenyum dan mengacak-acak rambutnya lalu bergumam sendiri menyebut-nyebut nama istrinya. ingin rasanya ia pulang namun sayang asisten Raffi yang selalu menggantikan dirinya untuk menangani pekerjaan lagi sibuk mencari cintanya.


"Baiklah sayang, kita lanjutkan lagi pekerjaan kita, semangat Rei, istri dan anak-anakmu sedang menantimu pulang." Rei berkata-kata sendiri sambil membaca lagi berkas-berkas yang sudah tertata rapi di atas meja kerjanya.


Telepon berdering, saat operator memberitahukan ada telepon dari dari luar negeri, Rei meminta disambungkan. Rei menerima panggilan itu dan ternyata dari perusahaannya yang ada di Jerman yang sekarang di kembangkan oleh Alex.


"Selamat siang tuan Rei!"


"Selamat siang Alex!"


"Ada yang bisa saya bantu tuan Alex?"


"Begini tuan Rei, bulan depan apa kamu bisa membawa istrimu ke Jerman?"


"Untuk apa saya harus membawanya ke Jerman tuan Alex?"


"Karena klien kita ingin mendengar kan secara langsung dengan cara kerja chip ciptaan nona Malika yang ada pada pesawat rancanganmu yang terbaru, tuan Rei, dan satu lagi mereka juga ingin ponsel milik Malika bisa sekalian di launching bersama dengan pesawatmu tuan Rei.


"Ok, tuan Alex, beri saya waktu untuk mendiskusikan permintaan anda dengan istriku, mungkin besok aku akan kabarkan lagi anda tuan."


"Ok, tuan Rei, saya menantikan kabar baik anda besok, tolong dipertimbangkan kembali dengan permintaan saya ini, mengingat ini adalah bagian penting dari kemajuan perusahaan kita saat ini.


"Siap tuan Alex, secepatnya akan saya kabarkan ke anda.


"Terimakasih tuan Rei."


"Sama-sama tuan Alex."


Alex dan Rei menutup sambungan telepon mereka bersama, Rei tersenyum lebar saat tahu jika istrinya yang harus datang sendiri ke Jerman untuk mempresentasikan cara kerja chip ciptaannya pada pesawat jet di perusahaan Rei yang ada di Jerman. Rei meraih tasnya meninggalkan ruangannya, ia ingin bertemu dengan istrinya secepatnya. Dalam sekejap ia sudah berada di depan lobby perusahaannya, seorang staff sudah mengambil mobilnya di tempat parkir. Mobil itu berhenti di depannya, Rei mengemudikan sendiri mobilnya untuk cepat sampai di mansionnya.


Di tempat yang berbeda khususnya di negara Korea Selatan Aida dan Raffi sudah mulai nampak akur, keduanya kini tersenyum setelah menyampaikan perasaan mereka satu sama lain yang menjadi keinginan mereka untuk memulai lagi hubungan ke arah lebih serius. Raffi sedikit berusaha untuk meyakinkan pujaan hatinya akan ketulusannya menerima masalalu Aida. Setelah memikirkan keseriusan Raffi Aida menyanggupinya. Raffi bersyukur, kini usahanya tidak sia-sia meninggalkan pekerjaannya untuk datang menjemput bidadari hidupnya ini. Sejurus kemudian Raffi meminta Aida untuk bertamasya di tempat wisata yang paling populer yang ada di negara tersebut.


"Sayang apakah kamu sudah mengunjungi tempat wisata di Korea Selatan?"


"Belum sempat, keburu kamu sudah datang Raffi."

__ADS_1


"Kalau begitu apa kamu ingin mengunjungi tempat kesukaanmu?"


"Aku ingin mengunjungi pantai pulau Jeju yang sangat terkenal dengan laut zamrud yang berwarna di tempat tersebut.


"Kalau begitu bersiaplah sayang hari ini kita akan ke sana dan beberapa tempat lainnya yang menurutmu bagus untuk dikunjungi."


"Benarkah kamu akan mengajakku ke pantai Jeju?"


"Iya sayang, mumpung masih di sini dan bosku Rei telah memberikan waktu liburanku untuk menemanimu di sini dalam jangka waktu sepekan. Jadi jangan sia-siakan kesempatan berharga ini, karena aku jarang sekali di kasih libur oleh tuanku itu."


"Baik sayang, ayo kita berangkat!"


Keduanya melangkah meninggalkan hotel menuju ke tempat wisata tersebut dengan di antarkan oleh salah satu orang kepercayaan Raffi yang akan mengantarkan mereka di pulau Jeju. Sopir itu memang seorang penduduk asli negara ini, kebetulan pekerjaannya adalah sopir perusahaan milik Rei yang ada negara tersebut. Dengan senang hati lelaki yang usianya sekitar tiga puluhan ini mau mengantar Raffi dan Aida ke tempat wisata yang terkenal di pulau Jeju. Sepanjang perjalanan Aida menikmati pemandangan kota Korea Selatan sampai mereka tiba di pulau Jeju.


Hamparan pasir putih dengan kolam terbesar karya Sang maha Kuasa terlukis jelas nan indah di atas bumi yang menawarkan pesonanya dengan warna hijau zamrud. Raffi dan Aida menyusuri pantai dengan berjalan kaki. Percikan ombak kecil menyapu kaki mereka, keduanya saling membelit tangan mereka ke pinggang pasangannya. Sesekali mereka berhenti dan duduk di tepi pantai. Suatu kepuasan bagi keduanya bisa menikmati pesona laut yang jarang sekali mereka nikmati sekalipun itu berada di pantai Ancol Jakarta. Kesibukan keduanya yang menjadi orang kepercayaan bos mereka sehingga sulit sekali mereka punya kesempatan untuk menyenangkan diri. Setelah jauh berjalan menyusuri pantai dan duduk di atas pasir putih, Raffi menawarkan Aida untuk makan siang di tempat itu yang selalu menyajikan makanan seafood.


"Sayang, apa kamu mau kita makan siang di sini?"


"Boleh, aku ingin mencoba kuliner di area pulau Jeju."


"Apakah kamu sudah puas menikmati keindahan lautnya Aida?"


"Iya Raffi, pikiranku rasanya sudah plong setelah memandangi air laut dengan warna yang indah."


"Itulah hebatnya Tuhan Aida, saat kita dalam kegalauan, Allah menyediakan alamnya sebagai tempat untuk menghibur kita. Ada yang datang dengan bersenang-senang dan ada pula yang hanya menikmati dalam diam dan hebatnya lagi ada sebagian besar manusia mengunjungi tempat-tempat wisata alam hanya untuk merenung. Dalam renungan itu orang selalu mendapatkan solusi dan Ilham. Banyak para pencipta lagu, penulis novel, suhfi bahkan sekelas presiden pun mendapatkan ketenangan mereka di tempat-tempat wisata alam.


"Rupanya kamu banyak tahu Raffi kebutuhan jiwa manusia."


"Kalau tidak tahu tidak mungkin aku menjelaskan kepadamu sebanyak itu Aida."


"Aku kagum padamu Raffi, kamu sangat cerdas dan mengerti kejiwaan orang lain."


"Awalnya aku tidak terlalu perduli dengan perasaan orang Aida, contohnya dulu ketika pertama kali Rei bertemu dengan kekasihnya Malika dan kembali berpisah dalam rentan waktu yang cukup lama, saat itu aku melihat kekosongan jiwa Rei seperti tidak ada lagi gairahnya untuk hidup, tiap saat yang ada dipikirannya hanyalah Malika dan Malika, sampai suatu hari tanpa sengaja kami menemukan Malika dalam keadaan sangat memprihatikan. Walaupun Rei mendapati Malika yang saat itu tidak sadarkan diri karena mengalami kecelakaan, dirinya sudah sangat bahagia. Berhari-hari dia menemani Malika yang saat itu sulit sekali memaafkan perbuatan Rei pada dirinya tapi Rei sangat sabar hanya untuk mendapatkan kembali cinta dari Malika. Ketika menjalani sendiri kepedihan yang sama seperti Rei alami, baru aku mengerti betapa berharganya seorang wanita untuk seorang lelaki. Derajat mereka akan setara dengan orang gila jika kehilangan permata hidupnya. Kini mendapatkanmu kembali seperti menemukan jiwaku Aida. Tolong jangan lakukan itu lagi padaku sayang jika kamu tidak ingin aku mengakhiri hidupku karena kehilanganmu."


Mendengar cerita Raffi tentang Rei dan dirinya, Aida sangat tersentuh dengan ketulusan cinta kedua lelaki yang bersahabat dan juga menjadi bos dan anak buah ini. Aida makin meyakinkan dirinya untuk lebih percaya diri melangkah lebih jauh bersama dengan lelaki pujaannya ini. Lama Aida merenungi kata-kata Raffi sambil menatap lagi laut pulau Jeju. Raffi mengeluarkan kotak kecil dari kantong celananya dan membuka kotak itu.


"Aida sayang!"


"Menikahlah denganku, jadilah aku pendampingmu untuk menjagamu sampai akhir hayatku."


"Raffi, aku siap menerima semua yang ada tentang dirimu. Aku siap menjadi istrimu sayang."


Lamaran indah di hadapan pantai pulau Jeju, membuat keduanya menjadi haru biru. Raffi memeluk kekasihnya dan memagut kembali bibir itu yang sekarang sudah menjadi candunya. Cincin berlian yang sudah tersematkan di jari manis Aida membuat wanita ini sangat bahagia. Keduanya sangat puas dengan hati yang tidak lagi menyimpan bara kesedihan. Mereka memutuskan untuk mencari restoran yang ada sekitar pulau Jeju untuk memulihkan kembali energi mereka yang terkuras karena menyusuri pasir pantai yang terasa berat saat berjalan di atasnya. Aida yang tidak kuat lagi melangkah berjalan sedikit gontai menapaki setiap legokan pasir yang di pijaknya. Raffi menawarkan gadisnya untuk menaiki punggungnya untuk ia gendong. Dengan senang hati Aida menempelkan tubuhnya di punggung Raffi, dengan memegang kedua paha gadisnya di bawah pinggangnya Raffi meneruskan langkahnya sedangkan Aida mengalungkan tangannya ke leher Rafi dengan meletakkan dagunya di pundak Raffi sebelah kanan. Raffi menikmati hembusan halus nafas kekasihnya dipipinya, ia tersenyum sembari melangkah menuju kembali ke tempat mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari pantai.


"Sayang, jika suatu saat nanti aku tidak bisa menua bersamamu karena ajalku, maukah engkau membawaku lagi ke pantai ini?"


"Kamu bicara apa sih sayang, tolong jangan melangkahi Tuhan, karena urusan ajal adalah milikNya."


"Aku tahu sayang, hanya saja aku ingin memilih menghembuskan nafas terakhirku tempat yang penuh kenangan ini, tempat di mana kamu melamarku hari ini, inilah kesan terindah yang kudapatkan dalam hidupku. Dilamar olehmu ditepi pantai nan indah."


"Aku tidak izinkan kamu duluan yang meninggalkanku Aida, kamu hanya hilang sesaat saja aku hampir mau mati walaupun aku sempat menyelesaikan tugasku, namun aku lakukan tidak lagi dengan hatiku, tubuhku hanya bergerak mengikuti setiap perintah seakan aku sudah terprogram oleh Rei untuk melakukan apa saja yang diperintahkanya."


"Maafkan aku Raffi, aku hanya menyampaikan keinginanku saja bukan untuk mengancam kamu sayang."


"Makanya berhentilah mengatakan hal-hal aneh yang membuatku sakit mendengarkannya. Jika ingin mati ajak aku bersamamu hmm!"


Tidak terasa mereka sudah tiba di depan mobil, sopir lokal tersenyum menyambut keduanya. Aida turun dari punggung Raffi, lelaki ini sedikitpun tidak kelihatan lelah memanggulnya sepanjang pantai. Kendaraan itu kembali bergerak mencari restoran seafood yang ada di sekitar pulau Jeju sebelum mereka kembali ke hotel di kota Seoul.


🌷🌷🌷


Enam hari Rei dengan sabar menunggu kepulangan asisten Raffi, hanya tinggal sehari lelaki ini hampir setress menangani sendiri pekerjaannya walaupun staffnya ada yang menawarkan diri membantunya sementara untuk menggantikan posisi Raffi, namun suami dari Malika menolaknya dengan halus dengan alasan ia bisa mengatasinya dengan mudah padahal dalam hatinya ia terus merutuki dirinya. Ingin sekali ia menghubungi asistennya itu untuk cepat pulang tapi hatinya tidak tega merusak kebahagiaan asistennya itu, apa lagi Aida adalah sahabat dekat istrinya, karena pengorbanan gadis itu juga yang memudahkan dirinya bisa mengembalikan lagi perusahaan milik istrinya. Dalam keadaan mumet melihat tugasnya yang makin menumpuk, ia ingin menghibur hatinya dengan menghubungi istrinya Malika. Hanya dengan berbicara dengan istrinya, akan membuatnya kembali semangat. Baru saja ia meraih ponselnya, Malika membuka pintu ruang kerjanya. Rei begitu senang melihat kehadiran istrinya yang kembali memberikannya kejutan.


"Assalamualaikum tuan suami!, apakah boleh aku menggodamu?


"Waalaikumuslam nyonya istri! dengan senang hati aku ingin digoda olehmu.


Keduanya terkekeh dan Rei bangkit dari kursi kebesarannya mengangkat tubuh istrinya, tanpa banyak bertanya, Rei membawa tubuh molek itu ke dalam kamar pribadinya yang ada di ruangan kerjanya. Tidak lupa ia memencet tombol remote untuk mengunci ruang kerjanya. Malika memahami kalau suaminya sedang mumet dengan sejibun aktivitas perusahaan. Ia membiarkan tubuhnya di bawa ke dalam ruang private suaminya. Sambil mencium bibir istrinya, Rei melepaskan satu persatu kancing blazer Malika, dalam sekejap bukit kembar itu sudah bisa di lihatnya. Rei tidak berani meremas dua bukit itu karena sumber makanan bayinya akan mengalir percuma bila di remas, ia hanya ingin mengecupnya tanpa ingin mengisapnya, betapa bijaknya suaminya ini tidak menyentuh yang menjadi hak bayinya. Keduanya sudah tidak lagi mengenakan busana. Dalam posisi yang masih berdiri, Malika berjongkok meraih rudal suaminya yang sudah mengeras, dikulumnya rudal itu dengan sesekali dijilat ujung rudal itu. Rei mulai hanyut dengan permainan mulut istrinya pada rudalnya, cairan bening keluar dari ujung rudal itu, Malika mengecapnya lalu memijat lembut milik suaminya dengan genggaman tangannya yang halus. Mata Rei yang mulai berat dengan suara yang sedikit serak merasakan sentuhan demi sentuhan dari tangan dan lidah Malika pada miliknya.


"Malikaaaaa...sssttt...akkhh... sayang!" jerit lirih Rei menahan tubuhnya yang mulai bergetar.


Malika kembali berdiri melancarkan ciuman panasnya dibibir suami, ia melesakkan lidahnya ke dalam rongga hangat untuk mengisap saliva sang suami. Rei menyentuh areal bawah istri yang sudah mengeluarkan pelumasnya. Merasa istrinya siap untuk melakukan penyatuan. Rei mengangkat satu kaki istri menaruh di pundaknya dan ia mulai menempelkan miliknya yang sudah panjang dan keras tegak sempurna, sesekali ia menggesekkan miliknya pada muara istrinya, " aaahhk!" desis Malika dengan gesekan ujung rudal suami pada miliknya. Rei dengan tidak terduga menusukkan rudalnya dengan sedikit ditekan bo**ng Malika hingga membuat teriakan Malika terlontar dari mulut nya.


"Akkhh!" daddy," please!"


Rei tidak serta merta menghentakkan tubuhnya pada Malika, ia biarkan miliknya terbenam dalam lembah yang memberikan aliran listrik yang menyetrum area sensitifnya. Setelah dirasanya cukup menikmati kedutan milik istrinya, Rei segera menghentakkan tubuhnya dengan ritme cepat menciptakan bunyi adukan dua tubuh yang sedang melakukan penyatuan.


"Reiii!".. sayang..aakhh!"


"Ohh.. istriku...kau segalanya bagiku, ini sungguh nikmat sayang...


Seiring dengan hentakan, keduanya meracau dengan saling memberikan pujian pada pasangan di setiap hentakan tubuh mereka. Lelah dengan posisi berdiri Rei merebahkan istrinya dengan menarik sedikit pinggul istrinya menempel pada pinggir kasurnya. Dua kaki Malika di angkat di tempelkan di dadanya yang bidang. Hujaman kembali terjadi, dengan posisi seperti ini ia bisa menatap ekspresi wajah istrinya yang sedang menikmati tarian miliknya yang sedang menari dalam peraduan milik Malika. Erangan dan lenguhan erotis terdengar lebih kencang. Malika merasakan kenikmatan yang dilancarkan suami pada miliknya makin merangsang cairannya terus keluar untuk bertemu dengan milik suaminya yang sudah menembakkan laharnya kedalam rahimnya. Keduanya terpekik bersamaan kali**ks yang memberikan kepuasan yang tiada tara. Sesaat keduanya berhenti dengan posisi yang masih sama menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih terasa seraya mengatur nafas mereka usai memburu hasil tangkapan mereka berdua yaitu" KEPUASAN"

__ADS_1


__ADS_2