Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
PERSALINAN


__ADS_3

Malika menjerit sekeras mungkin karena kontraksi yang menyerang perut dan pinggangnya yang terasa makin sakit, tidak lama kemudian air ketubannya langsung pecah bercampur dengan darah, Malika mengejan karena dorongan bayinya seakan ingin cepat bebas dari kurungan dalam rahimnya. Rena semakin bingung dan panik menyaksikan kesakitan yang dialami oleh nona mudanya.


"Non, apa yang mesti saya lakukan untuk menolong nona," tanya Rena dengan suara tercekat menahan tangisnya.


"Bibi, tolong ambil air panas dan handuk di kamar mandi, buka lemari yang di sudut sana dekat dengan meja riasku, ambil kotak palang merah dan ambilkan ponselku di meja itu," perintah Malika.


Rena bergegas menyiapkan semua kebutuhan yang dipinta nona mudanya. Dalam keadaan menahan sakit Malika menyalakan ponselnya dan mencari aplikasi yang menayangkan cara menolong wanita melahirkan, kemudian kemudian dipantulkan sinar senter ponsel yang mirip in fokus ke dinding ruangan dalam bunker tersebut sehingga tampilan orang yang membantu melahirkan secara manual tergambar jelas di dinding kamar itu.


"Bibi rendam semua alat-alat bedah itu ke dalam air panas, kemudian cuci tangan bibi dan gunakan semprotan alkohol dan bantu aku melahirkan baby dengan melihat tayangan di dinding itu."


Sebisa mungkin Rena melakukan apa saja apa yang dipinta nona mudanya, Malika membuka bajunya dan membuka kedua kakinya siap untuk melahirkan.


"Keringat dan darah sudah terus mengucur dari tubuh Malika, begitupun Rena juga yang bermandikan keringat dengan terus menyemangati nona mudahnya sambil memberikan aba-aba.


"Ayo nona kita mulai, bismillah satu, dua, tiga mengejan nona."


" Aaaaaa!!...,,Aaaaa!!!...Aaaa!!!


"Sedikit lagi nyonya, tarik nafas anda, tarik terus nona lalu mengejan dan dorong sekuat mungkin."


Malika sangat kewalahan karena sulit sekali untuk mengejan dalam waktu yang lama.


"Ini sakit sekali bibi, aku nggak kuat, aku lelah bibi hiks!!..hiks!!"


"Jangan menyerah nona kasihan babynya, apa nona mau babynya tidak selamat?," ancam Rena untuk menakuti Malika.


"Tidak!!, jangan,..aku bisa bik."


"Allahuakbar!!"


"Reiiiiiii...aaaaa...aaa"

__ADS_1


Teriak Malika menyebut nama Tuhannya dan juga lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Tidak lama kemudian keluarlah sesosok bayi mungil yang berhasil meluncur dari dalam rahimnya bersamaan dengan air ketuban dan ari-ari bayi.


"Eaaaa..eaaa..eaaa!!


Tangis bayi laki-laki milik Malika menggema di ruangan itu, Malika bernafas lega dan menangis haru karena berjuang melahirkan putranya tanpa kehadiran kedua orangtuanya.


"Wah, nona baby tampan sekali, puji Rena senang campur haru menatap bayi yang ada dalam genggamannya."


Tali pusar bayi itu dipotong dengan pisau bedah yang sudah disterilkan sebelumnya, lalu membersihkan bayi itu untuk diletakkan diatas dada ibunya, babynya mencari pu**ng ibunya sebagai makanan pertamanya di dunia. Rena membersihkan semua yang keluar dari rahim Malika kemudian membersihkan tubuh nona mudanya.


"Oh anak bunda kamu tampan sekali sayang, selamat datang sayangnya bunda dan terimakasih sudah mau memilih bunda menjadi ibumu," ucap Malika sambil membelai lembut babynya yang sudah menyedot pu**ng ibunya.


"Selamat atas kelahiran babynya nona, alhamdulilah usaha kita berhasil," ucap Rena haru melihat ibu dan babynya selamat.


"Terimakasih bibi, sudah bersusah payah menolongku, maafkan Malika ya bi, telah menyusahkan mu, oh ya baju baby dan pembalut ku ada di dalam koper yang tadi kita bawah, tolong dipersiapkan untuk kami ya bibi."


"Siap nona, akan aku ambilkan dan aku mohon nona jangan merasa segan denganku karena ini sudah kewajibanku sebagai pelayanmu dan juga sebagai rasa kemanusiaanku yang harus menolong anda nona."


Rena berlalu meninggalkan Malika untuk kembali mempersiapkan kebutuhan Malika dan bayinya, tidak lupa Rena memasak bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas dan kitchen set yang ada di dapur kecil dalam bunker.


Di tempat lain, seorang lelaki tampan yang sedang mengerang kesakitan pada perutnya, dialah Rei yang tidak lain adalah ayah dari bayi Malika. Orang tua Rei merasa panik melihat putranya yang terus berteriak kesakitan pada perutnya, mereka sedang menunggu dokter pribadi yang ada di rumah sakit milik keluarganya.


"Mami!!...mami!!..ini sakit sekali. "


"Emang semalam kamu makan apa sayang sampai sesakit ini?"


"Biasa aja mami, sama seperti yang kalian makan, tapi ini sakitnya bukan karena makanan, tapi sakitnya seperti perutku dililit dengan rantai besi," ucap Rei dengan menahan sakit pada perutnya.


Dokter Wilan sudah datang dengan membawa tas jinjingnya berjalan menuju kamar Rei dengan seorang pelayan yang mengantarkannya.


"Selamat pagi Tuan dan nyonya Romi," sapa dokter Wilan sambil mengulurkan tangannya menyalami bos pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Pagi, dokter maaf putraku mengeluh sakit dari jam tiga subuh dan sekarang sudah jam lima subuh masih terus mengeluh."


"Baiklah saya mohon permisi memeriksa tuan Rei," ucap Dokter Wilan meminta izin pada bosnya.


Kedua orangtua Rei memberi ruang untuk dokter muda itu memeriksakan putranya, Dokter Wilan mengeluarkan alat ****Stetoskopnya****, kemudian memeriksa perut Rei sambil menekan-nekan dengan ujung jarinya. Anehnya, Rei merasa baikan saat dokter itu baru menekan perutnya.


"Apa yang anda rasakan tuan Rei," tanya dokter muda itu pada Rei.


"Sudah hilang sakitnya dokter, tidak seperti rasa sakit pada perutku sebelum anda datang."


Dokter muda itu menarik nafas lega lalu bertanya apa saja yang dirasakan Rei sebelum dirinya tiba di kamarnya Rei, Rei menjelaskan perihal sakitnya tadi pada dokter Wilan. Sesaat dokter itu bertanya balik pada Rei dengan kesimpulan- kesimpulannya yang berhubungan dengan sakit pada perut Rei, Rei menganggukkan kepalanya menyetujui persamaan sakitnya dengan kesimpulan dari pertanyaan dokter.


"Maaf Tuan Rei, apakah anda sudah menikah atau pernah tidur dengan wanita sebelumnya?"


Tanpa menjawab pertanyaan dokter Wilan pada dirinya, Rei malah bertanya balik pada dokter pribadinya itu.


"Emang ada hubungan apa sakit perut saya dengan pertanyaan anda dokter?"


"Begini tuan Rei, ada sebagian lelaki di dunia ini mengalami kehamilan simpatik yaitu merasa ngidam pada awal kehamilan istri atau pasangannya, jika anda tidak mengalami ngidam berarti ada rasa kontak batin antara anda dan wanita itu, saat ini dirinya pasti sedang melahirkan anak anda tuan Rei, jadi rasa kesakitannya saat melahirkan sama dengan rasa kesakitan pada perut anda dalam waktu bersamaan."


Degg!!


"Malika!!, apakah Malika sedang hamil dan sekarang melahirkan anakku, oh!! jika itu benar aku sudah menjadi seorang ayah," ucapnya membatin."


"Apakah anda sedang memikirkan seseorang saat ini tuan Rei," goda dokter Wilan pada Rei sambil tersenyum geli melihat wajah Rei yang sedang bengong.


"Entahlah dokter aku tidak tahu," jawab Rei yang masih bimbang dengan dirinya.


Orang tua Rei saling menatap dengan wajah yang terlihat heran pada putranya.


"Pikirkan lagi tuan Rei dan carilah gadis itu dan anak anda, kalau prediksi medis saya benar adanya, saya ucapkan selamat atas kelahiran babynya Tuan Rei."

__ADS_1


"Terimakasih dokter, saya akan memikirkan saran anda siapa tahu prediksi anda terbukti."


"Baiklah tuan, nyonya dan tuan Rei kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan saya pamit kembali ke RS.


__ADS_2