
"Tapi kenapa ? Ini hidup ku biar aku jalani,dari kecil Ayah sama Mamah tak memperhatikan ku kenapa tiba-tiba sekarang malah mengekang!."
Hal itu membuat Ayah Erik murka.Saat Erik mulai melangkah menjauhi Ayah nya untuk pergi,tiba-tiba ayah nya memegang tangan Erik.
"PLAKK." Ayah nya menapar nya.
Sonyak Erik pun marah melepas tangan yang menggenggam nya dengan sekali tepisan dan pergi dari sana.
"ERIIKK !!... " Teriak Ayah nya dari dalam ruangan tiba-tiba.
"BRAAAAKKKKK... " Suara sesuatu pecah dari sana Erik lantas tak menghiraukan nya.
Namun para pengawal berhamburan ke dalam ruangan itu.
Sontak Erik menoleh dan keluar lah para pengawal itu dengan Ayah nya yang pingsan, dengan tangan yang sedikiy berdarah.
"Ayah!! ... hiks Apa yang terjadi ?." Teriak Ibu sambil menangis
Mata nya membulat kala melihat kejadian itu,pengawal itu lantas melintas di depan Erik yang masih bengong.
"Erik ayoo ... " Ucap Ibu nya sambil menarik Erik untuk pergi bersama nya.
Ia melihat Ayah nya yang bertengkar dengan nya barusan kini terpejam tak sadar.Ia menyesal atas apa yang ia lakukan.
Hingga saat ini ia masih duduk bersama Ibu nya di sana.
"Sebenernya apa yang terjadi sama Ayah,apa kamu bertengkar lagi dengan nya?." Tanya Ibu nya sambil menitikan air mata.
Erik hanya mengangguk.
"Kenapa sih Erik kamu selalu bikin ulah mulu,sekarang karena apa ?!." Tanya Ibu nya
Erik hanya diam tak menjawab pertanyaan Ibu nya.
"Mamah tanya kenapa !." Nada bicara Ibu nya kian meninggi,ia lantas ingat Erik membawa tas.
"Kamu ribut lagi mau pulang ? Jawab!!... "
"Iya Mah ... "
"Kenapa ? Ada apa di sana sampai-samapi kamu mau ribut terus sama Ayah kamu karena hal itu."
Erik hanya terdiam menyesali perbuatan nya bagaimana jika Ayah nya sampai meninggal itu karena ulah nya.
"Mamah tanya kenapa ? Kamu gak betah di sini atau apa ?."
"Erik kangen Risa mah !! ... " Ucap Erik blak-blakan kepada Ibu nya ia sudah tak tahan dengan perasaan nya.
__ADS_1
Ibu nya tertegun mendengar hal itu keluar dari mulut anak nya,yang mengungkap kan persaan nya.
"Siapa Risa ? Dia pacar kamu ?."
Erik lantas mengangguk.
"Sejak kapan kamu pacaran,ya udah sana pergi,tinggalin Ayah kamu di sini kerjar tuh pacar kamu kalau kamu gak sayang sama Orang tua kamu !." Ucap Ibu nya sambil mendorong-dorong tangan Erik untuk pergi.
Erik lantas termenung dengan Ibu nya yang duduk kembali sambil menangis.
Melihat Ibu nya menangis ia sungguh tak tega.Hingga ia memeluk pangkuan nya.
"Maafin Erik Mah, Erik sayang Sama Mamah sama Ayah juga, Tapi Erik Cinta sama Risa."
"Mamah bilang apa jangan pacar dulu,kamu tih masih muda,belum saat nya cinta mu seserius itu." Ucap Ibu nya yang mengingat-ngingat nama Risa.
"Kamu harus contoh kakak mu,Dia selalu meurut pada Ayah sekarang dia jadi Pria yang sukses banyak wanita-wanita kaya yang ingin menikah dengan nya."
"Status mu baik,uang mu banyak,wanita tak perlu di cari mereka akan datang sendiri dan mengikuti mu." Ucap Ibu nya sambil mengelus kepala Erik yang terbaring di pangkuan nya.
Erik menampakan wajah datar nya mendengarkan Ibu nya berbicara seperti itu.
"Wanita matre kali yang ngikutin,Risa selalu sayang sama aku meski ke adaan ku sekarang yang belum jadi apa-apa." Batin nya
"Bagaimana ke adaan nya sekarang,karena tebuai kemarahan aku melakukan kesalahan.Aku malah percaya apa yang Sita kirim di banding kekasih ku sendiri.Seharus nya aku tidak bertindak kekanak-kanakan,aku tau Sita seperti apa pada Risa." Batin nya merenungi hal yang sudah terjadi.
"Tap tap tap"
Suara langkah kaki itu semakin dekat dan benar lah kakak nya Erik datang ke sana.
"Rivan." Ucap Ibu nya senang melihat putra kesayangan nya.
Erik pun beranjak dari sana dan berdiri,Rivan dan Ibu nya pun saling berpelukan.
"Gimana keadaan Ayah Mah?"
"Ayah mu masih di periksa Dokter."
Rivan pun melepas pelukan itu dan menatap Erik.
"Sekarang apa lagi yang kalu lakukan." Ucap Rivan melingkarkan tangan nya di leher Erik dengan keras,hingga Erik hampir susah bernafas.
"Cklek."
Pintu nya lantas terbuka dan keluarlah Dokter itu dari sana.
[Di terjemaahkan dalam bahasa Inggris]
__ADS_1
"Bagaimana ke adaan suami saya dok."Tanya Iu nya
"Keadaan nya sekarang baik-baik saja,serangan jantung nya tak berakibat fatal,namun pasien harus tetap di jaga kesehatan dan mental nya." Ucap Doktet itu.
"Syukur lah,terimakasih Dok." Ucap ibu nya yang mengelus dada nya lega
Dokter itu pun pergi.
Hati Erik sedikit lebih tenang mendengar hal itu,pertengkaran itu membuat nya merasa sangat bersalah.
Memang dia selalu bertengkar dengan Ayah nya,tapi untuk kali ini membuat tangan nya gemetar.
"Syukur Ayah gak papa kalau enggak kamu habis." Ucap Rivan pada Erik
Erik pun menatap tajam Rivan,melihat itu Rivan membalikan tatapan dingin nya pada Erik dan
"Duk"
"Awhh."
Rivan memukul kepala Erik
"Awas saja dia,aku kerjain nanti nangis." Batin Erik sambil mengelus kepala nya.
Sementara Risa berjalan pulang ke Rumah setelah dari sekolah mengantarkan kertas ujian dan bertemu teman-teman nya.
Tiba-tiba perlahan air hujan menetes
"Ah hujan!." Risa pun sengaja berjalan perlahan ia ingin menangis di kala hujan agar air mata nya tak kelihatan.
Namun dari belakang nya mobil Ethan berjalan perlahan mengikuti nya. Hingga nampak lah air hujan di kaca mobil nya.
Ia pun melihat Risa.
"Apa dia akan hujan-hujanan,tapi kaya nya hujan nya kaya akan jadi badai langit nya udah hitam pekat." Perlahan-lahan air hujan mulai memenuhi kaca mobil Ethan.
Ethan pun bergegas mengambil payung dari belakang kursi nya dan bergegas menghampiri Risa yang tengah menikmati deraian air hujan.
Saat perlahan-lahan tubuh nya merasakan tetesan air yang mulai banyak,tiba-tiba tetesaan itu hilang.
Merasa heran ia melihat ke atas dan tiba-tiba terasa tangan mendekap punggung nya dan nampak lah Ethan yang menghampiri nya dengan mengenggam sebuah payung yang terbuka.
Mata nya melihat pria yang dalam beberapa hari tak bertemu dengan nya saat melihat nya perasaan nya sedikit lebih tenang.
"Kita pulang !." Ucap Ethan menatap Risa dengan tatapan yang khawatir.
"Tapi ... "
__ADS_1
"Jangan nolak nanti kamu sakit kalau hujan-hujanan,ayo."