Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
BAGAIMANA KALAU....


__ADS_3

"Pi, Sakya berani bersumpah, kalau Sakya belum menyentuh Gretha sama sekali!"


"Papi akan tanya langsung pada Gretha! Bisa saja kau itu berbohong!"


"Papi tak percaya padamu!" Sergah Papi Zayn penuh emosi. Pria paruh baya itu masih merangkul Mami Thalita yang tadi sempat pingsan saking shock-nya mendengar cerita Sakya perihal keperawanan Gretha.


Sementara yang duduk di kursi pengemudi saat ini adalah Zeline yang tetap fokus pada jalan di depannya, meskipun saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun sepertinya niat Papi Zayn untuk menanyakan pada Gretha perihal keperawanan tak bisa dibendung. Semoga Gretha dan semua keluarganya sudah tidur!


"Tapi ini sudah malam, Pi! Keluarga Gretha pasti juga sudah istirahat sekarang! Tidak sopan sekali jika kita bertamu malam-malam!" Cerocos Sakya mengingatkan sang papi.


"Nnati kita bangunkan mereka kalau memang mereka sudah tidur!"


"Mami ingin mendengar jawaban Gretha sendiri, agar jika memang kau sudah melakukan sesuatu pada gadis itu, kau bisa langsung mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Sakya!" Timpal Mami Thalita dengan nada tegas atau lebih tepatnya penuh emosi pada Sakya.


"Astaga!" Mami Thalita kembali histeris dan bersembunyi ke pelukan Papi Zayn.


"Kenapa kita bisa punya putra nakal begitu, Zayn!" Keluh Mami Thalita lagi seraya menangis lebay.


"Mi! Sakya tidak nakal! Sakya tidak melakukan apa-apa pada Gretha!" Sergah Sakya yang mulai frustasi menjelaskan pada semua orang perihal apa yang terjadi di antara dirinya dan Gretha.


Sakya ganti menatap pada Zeline yang masih fokus mengemudi.


"Kak! Bantu jelasin ke mami dan papi!" Mohon Sakya pada sang kakak perempuan.


"Menjelaskan apa? Kronologinya bagaimana saja aku tidak tahu!" Jawab Zeline dengan nada malas.


"Menjelaskan kalau Sakya ini bukan pemuda nakal! Sakya ini masih polos, tidak pernah neko-neko! Pacar saja tidak punya," Cerocos Sakya yang langsung membuat Zeline memutar bola matanya.


"Sekarang kan kebanyakan kayak begitu, Sak! Kelihatan polos di luar. Nggak pernah menggandeng gadis. Tapi ternyata diam-diam menghanyutkan," ujar Zeline berpendapat.


"Sakya benar-benar polos! Bukan diam-diam menghanyutkan!" Tampik Sakya yang hanya membuat Zeline mengendikkan kedua bahunya.


Zeline sudah membelokkan mobil dan masuk ke sebuah kompleks perumahan. Darimana juga Kak Zeline tahu alamat keluarga Orlando? Apa mereka rekan bisnis?


****


Mobil yang membawa keluarga Gretha sudah tiba di kediaman Orlando. Dad Matthew membuka pintu belakang dengan hati-hati, lalu hendak membopong sang putri yang masih terlelap. Namun baru saja Dad Matthew mengambil ancang-ancang, Gretha malah sudah membuka kedua matanya.


"Sudah sampai rumah, Mom?" Tanya Gretha seraya bangun dari pangkuan Mom Melody. Mom kandung Gretha tersebut, kini wajahnya terlihat sembab.

__ADS_1


"Mom menangis? Kenapa?" Tanya Gretha yang tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah sang Mom.


"Enggak, Gre! Mom nggak nangis," sanggah Mom Melody bersamaan dengan airmatanya yang justru malah menganak sungai.


"Ini Mom nangis!" Tukas Gretha dan Mom Melody buru-buru menyeka airmatanya. Meskipun kini wanita paruh baya itu sudah ganti sesenggukan.


"Lihat! Mom nggak nangis," tukas Mom Melody yang memaksa untuk tersenyum pada Gretha.


"Yaudah, ayo turun, Mom!" Ajak Gretha selanjutnya pada Mom Melody. Gadis itu turun duluan, lalu langsung melenggang masuk ke dalam rumah seolah tanpa beban.


"Mel." Dad Matthew hendak membimbing Mom Melody untuk turun dari mobil, saat kemudian istrinya tersebut malah kembali menangis tergugu.


"Gretha masih kecil, Matt!" Isak Mom Melody. Dad Matthew langsung meraup istrinya itu ke dalam pelukan.


"Apa ini sebuah karma?" Gumam Mom Melody lagi yang masih terisak.


"Karma apa maksudnya, Mel? Kita sudah berjanji untuk tak lagi membahas semua itu."


"Tapi tetap saja itu adalah bagian dari masa lalumu!" Mom Melody memukul dada Dad Matthew dan terlihat kesal.


"Lihatlah sekarang putri kita yang menanggung semua perbuatanmu di masa lalu!" Lanjut Mom Melody lagi mengungkapkan semua uneg-unegnya dan Dad Matthew hanya diam saja.


"Aku dulu bukan playboy!" Sanggah Dad Matthew cepat.


"Bukan playboy lalu apa? Pria nakal?" Cecar Mom Melody emosi.


"Itu hanya masa lalu, Mel! Aku sudah berusaha untuk berubah setelah kita menikah dan membangun rumah tangga. Dan kita juga sudah berhenti membahas itu semua. Dulu, kau juga bilang kalau kau sudah menerima semua masa lalu burukku," sergah Dad Matthew panjang lebar yang langsung membuat Mom Melody membisu namun wanita paruh baya itu masih sesenggukan.


"Dan perihal Gretha yang mungkin akan menikah dengan Sakya dalam waktu dekat, aku juga tak akan melepaskan Gretha begitu saja! Aku akan terus mengawasi dan memastikan kalau Sakya itu bukan pria brengsek yang akan menyakiti Gretha!"


"Gretha putriku dan aku menyayanginya, jadi aku juga tak akan membiarkan Gretha menjalani pernikahan bersama seorang pria brengsek!" Tutur Dad Matthew lagi pada Mom Melody yang masih membisu.


"Aku yakin semua yang sekarang sedang menimpa keluarga kita tak ada hubungannya dengan buruknya masa laluku, Mel! Tolong jangan mengaitkannya lagi seolah Gretha sedang menanggung dosa-dosaku di masa lalu." Mohon Dad Matthew selanjutnya.


"Maaf," cicit Mom Melody yang akhirnya buka suara.


"Maaf karena sudah mengungkit semua masa lalu itu lagi," tangis Mom Melody kembali pecah dan wanita itu langsung menghambur ke pelukan Dad Matthew.


"Aku tahu. Hatimu pasti sedang kalut sekarang," Dad Matthew mengusap-usap punggung Mom Melody dan berusaha menenangkannya istrinya tersebut.

__ADS_1


"Mom, Dad! Kok belum masuk?" Teguran Gretha yang sudah keluar lagi dari dalam rumah langsung membuat Mom Melody buru-buru menyeka airmatanya.


"Ini kami baru mau masuk, Gre!" Jawab Dad Matthew yang tangannya sudah membantu untuk mengusap airmata Mom Melody.


"Gretha lapar, Dad! Apa boleh pesan makanan dari luar?" Tanya Gretha lagi yang saat ini masih berdiri di ambang pintu depan.


"Memang tidak ada makanan di rumah? Maid kemana?" Tanya Dad Matthew seraya membimbing Mom Melody yang sudah tenang untuk mendekat ke arah Gretha.


"Tapi Gretha maunya makan makanan diluar, Dad! Pesen di resto dua puluh empat jam langganan Gretha dan Noah itu boleh, kan?" Cerocos Gretha lagi yang langsung membuat Mom Melody menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Tanya Dad Matthew bingung.


"Apa Gretha sedang ngidam?" Mom Melody sudah mengeratkan cengkeramannya pada lengan Dad Matthew.


"Tidak mungkin secepat itu kan, Mel?" Gumam Dad Matthew ikut bertanya-tanya.


"Boleh, ya, Dad! Gretha pesan sekarang! Lapar banget!" Seru Gretha lagi seraya mengusap perutnya.


Mom Melody kembali harus menahan pilu saat membayangkan perut putri kecilnya yang mungkin akan membuncit beberapa bulan lagi.


"Mel, ada apa?" Dad Matthew yang langsung tanggap dengan ekspresi wajah Mom Melody, langsung mengeratkan rangkulannya pada sang istri.


"Dad!" Gretha masih menunggu jawaban sang Dad.


"Iya, boleh, Gre! Pesan saja!" Jawab Dad Matthew akhirnya. Sedetik kemudian, langsung terdengar sorakan dari Gretha dan gadis itu sudah menghilang ke dalam rumah.


"Mel-"


"Bagaimana kalau Gretha hamil, Matt? Dia masih kecil," cicit Mom Melody bersamaan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba memasuki halaman rumah kediaman Orlando.


Siapa yang datang bertamu malam-malam begini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2