
Mom Melody hanya termenung sembari mengusap kepala Gretha yang kini sudah terlelap di pangkuannya. Sesekali, wanita paruh baya itu akan menyeka bilr bening yang tiba-tiba menetes di kedua pipinya.
"Mel," panggil Dad Matthew lembut dari jok depan. Dad kandung Gretha itu terlohat khawatir pada sang istri yang tampak sedih dan terus saja berlonang airmata.
"Apa aku sudah jadi mom yang gagal?" Gumam mom Melody yang airmatanya sudah mulai menganak sungai.
"Mel, tidak ada yang namanya mom gagal atau orang tua gagal-"
"Tapi Gretha masih terlalu kecil, Matt!"
"Seharusnya tahun ini dia baru masuk kuliah."
"Seharusnya aku di rumah saja kemarin dan menjaga Gretha selama dua puluh empat jam!" Mom Melody terlihat begitu menyesal.
"Kau sudah menjaga Gretha dengan baik selama ini, Mel!" Gumam Dad Matthew berpendapat.
"Sangat sangat baik malahan," ujar Dad Matthew lagi.
"Aku tak menjaganya dengan baik!" Sergah Mom Melody yang sejak mendebgqr kabar tentang Gretha yang pergi bersama seorang pria, terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
Tak bisa dipungkiri, kalau sejak Gretha kecil, Mom Melody memang begitu protektif pada anak perempuan satu-satunya tersebut. Mom Melody bahkan cenderung mengekang Gretha yang selalu ingin tahu. Pergaulan Gretha selalu dibatasi dan jam malam juga berlaku di rumah. Maksimal pukul lima sore, Gretha dan Noah sudah harus duduk manis di rumah dan tak boleh lagi kelayapan, kecuali kalau bersama Mom Melody atau Dad Matthew.
Namun ibarat pasir yang apabila digenggam terlalu kuat, maka justru akan membuatnya terlepas dari genggaman. Pun dengan Gretha yang sepertinya merasa terkekang dengan aturan dari sang Mom, hingga akhirnya gadis itu mencari celah untuk membelot. Dan sekarang, kejadian yang selalu ditakutkan oleh Mom Melody malah justru menimpa Gretha yang polos.
"Bagaimana kalau ternyata pria bernama Sakya itu bukan pria yang baik? Jrnapa kau tadi langsung gegabah mengambil keputusan untuk menikahkan mereka, Matt?" Cecar Mom Melody lagi yang sekarang ganti menyalahkan sang suami.
"Pikiranku sedang kalut!"
"Dan mereka juga sudah terlanjur melakukannya-" Dad Matthew tak melanjutkan kalimatnya, karena kini sang istri sudah terisak-isak di jok belakang.
Sementara Gretha yang sejak awal menjadi sumber permasalahan, malah sudah tidur lelap seolah tak terganggu dengan suara tangisan sang Mom.
"Gretha masih kecil," isak Mom Melody lagi.
"Aku sendiri yang akan turun tangan, jika nanti terjadi sesuatu pada Gretha setelah ia menikah dengan Sakya, Mel!" Janji Dad Matthew akhirnya berusaha menenangkan sang istri.
Sakya sendiri juga sudah langsung pulang tadi setelah permasalahan menemukan titik temu. Namun tentu saja Dad Matthew todak melepaskan Sakya begitu saja. Dad Matthew mengambil beberapa identitas Sakya diantaranya kartu identitas Sakya sebagai dokter di salah satu rumah sakit di kota ini.
"Sakya akan datang ke rumah untuk melamar Gretha secepatnya, Uncle!"
"Sakya tidak akan mangkir maupun ingkar janji. Uncle bisa langsung menyambangi Sakya ke rumah sakit, jika Sakya tak datang dalam waktu dekat."
"Kartu identitas itu asli."
__ADS_1
Dad Matthew memijit pelipisnya sendiri, lalu kembali menoleh ke jok belakang. Mom Melody masih sesenggukan, dan wanita paruh baya itu hanya membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Sementara Gretha tetap terlelap di pangkuan Mom Melody.
Kenapa semua hal jadi kacau begini?
****
Sakya memakai masker terlebih dahulu sebelum turun dari mobil. Pria itu kembali melihat wajahnya di kaca spion untuk memastikan kalau luka lebam di wajahnya tak terlihat sekarang.
Papi Zayn dan Mami Thalita pasti akan langsung mencecar Sakya kalau tahu Sakya pulang dalam kondisi babak belur begini. Sakya masih tak paham, kenapa gadis semungil dan seimut Gretha bisa punya Dad yang tinggi besar seperti Uncle Matthew!
Apa Gretha kurang gizi saat bayi, hingga tubuhnya bisa mungil dan imut begitu?
Tuk tuk!
Sakya terlonjak kaget saat kaca jendela mobilnya diketuk oleh bidadari oversize yang mengenakan gaun hitam di kegelapan malam. Sudah seperti orang berkabung saja kakak Sakya yang bodynya di atas rata-rata itu!
Kenapa Sakya mengatakan di atas rata-rata?
Karena Kak Zeline memang tak seperti gadis lain yang putih tinggi langsing. Kak Zeline lebih ke besar dan berisi.
"Sak! Baru pulang dinas?" Tanya Kak Zeline masih sambil mengetuk kaca mobil Sakya.
Segera Sakya membuka pintu mobil setelah sedikit merapikan maskernya.
"Sakya, Kak! Bukan sak saja!" Tukas Sakya mengoreksi panggilan Kak Zeline padanya. Mulanya memang hanya Sak, Sak. Tapi nanti ujung-ujungnya malah jadi sak semen.
Lagipula, alasan apa juga yang membuat Mami dan Papi memberikan nama Sakya pada Sakya? Kenapa tak memilih nama lain saja yang lebih terdengar elegan?
"Sak semen!" Cibir Kak Zeline yang langsung membuat Sakya berdecak.
"Kenapa pakai masker? Memangnya habis operasi pasien?" Kak Zeline tanpa aba-aba langsung menarik masker Sakya, hingga mungkin kulit wajah Sakya yang masih bengkak ikut tertarik juga.
Sial!
"Aauuuuww!" Sakya refleks menjerit dan meringis.
"Bentar-bentar!"
"Kamu berkelahi, Sak?" Kak Zeline memaksa untum membuka masker Sakya.
"Enggak!" Sanggah Sakya yang cepat-cepat mempertahankan maskernya sebelum ditarik lebih kuat oleh Kak Zeline.
Petak!
__ADS_1
Tali masker Sakya akhirnya putus sebelah akubat adegan tarik menarik barusan.
Duh!
"Lepasin masker kamu, kalau memang kamu nggak berkelahi!" Paksa Kak Zeline seraya menarik paksa masker Sakya yang sudah compang-camping.
Cukup satu tarikan saja, dan kini wajah lebam Sakya sudah terpampang jelas di depan Kak Zeline.
"Kau beerbohong!" Seru Kak Zeline yang langsung dibungkam paksa oleh Sakya, persis saat Sakya membungkam Gretha tadi. Tapi bedanya, body Kak Zeline yang lebih berisi membuat Sakya kalah telak dan kewalahan.
Gajah di lawan!
"Kenapa wajahmu babak belur, hah?" Cecar Kak Zeline pada Sakya yang sydah terduduk di halaman rumah. Rasanya Sakya malas menceritakan kronologi kesialan yang menimpanya hari ini, karena nanti saat Mami dan Papi bertanya juga, Sakya harus kembali mengulangi ceritanya .
Huh!
Adakah yang bisa membantu Salya menjelaskan semuanya pada keluarga Abraham?
"Sakya jatuh," jawab Sakya akhir seraya bangkit berdiri.
"Jatuh darimana? Mana ada orang jatuh tapi wajahnya saja yang babak belur?"
"Ini kamu habis dapat hadiah bogem mentah!" Cecar Kak Zeline sok tahu sekali.
"Ck! Bawel! Sakya mau masuk!" Ketus Sakya seraya berlalu meninggalkan sang kakak yang tergopoh-gopoh mengikutinya.
"Siapa yang sudah menghajarmu, Sak?" Tanya Kak Zeline lagi yang sepertinya penasaran sekali.
"Uncle Matt!" Jawab Sakya sekenanya.
"Siapa itu Uncle Matt?" Tanya Zeline lagi lebih mendetail.
"Bukan siapa-siapa! Sakya mau mandi, Kak!" Jawab Sakya malas, seraya meraih gagang pintu depan dan hendak mendorongnya agar terbuka. Namun sial seribu sial, Papi Zayn ternyata malah sudah berdiri di belakang pintu saat pintu terbuka.
"Sakya, kenapa wajah kamu babak belur?"
Mati kau, Sakya!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.