Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
MENYEBALKAN!


__ADS_3

Sakya baru tiba di kediaman Abraham, saat ponselnya di saku tiba-tiba berdering. Bergegas Sakya merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Dan saat membaca nama yang tertera di layar ponsel, Sakya harus berdecak berulang-ulang.


Dad Matthew!


Ada apa lagi Dad mertua Sakya itu menelepon Sakya?


Baru juga Sakya mau bersantai di rumah sekaligus persiapan untuk memberikan bonus pada Gretha malam ini!


Dasar!


"Halo, Dad!" Sakya dengan sangat terpaksa akhirnya mengangkat telepon dari Dad Matthew.


"Kau dimana, Sakya?"


"Di rumah Papi, Dad! Kan Sakya harus menemani Mami yang sedang-"


"Sedang healing di salon?"


Kalimat Sakya belum selesai, saat Dad Matthew sudah menyela dane menebak dengan tepat sasaran dimana Mami Thalita sekarang berada.


Tapi bagaimana Dad Matthew bisa tahu kalau Mami Thalita sedang di salon sekarang?


Apa Dad Matthew memasang CCTV di kepala Sakya? Atau chip di tengkuk Sakya?


Sakya meraba-raba kepala serta tengkuk dan anggota tubuh lain untuk memastikan. Tapi tak ada apa-apa. Dan kalaupun ada apa-apa, pasti Sakya juga sudah lama merasakannya.


Konyol!


Kenapa Sakya bisa berpikir sampai serumit ini?


Tapi bagaimana Dad Matthew bisa selalu tahu tentang apa yang dilakukan Sakya?


Mencurigakan sekali!


"Sakya! Kau bisa ke mall sekarang? Dad butuh bantuanmu!"


"Bantuan?" Sakya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tapi mendadak sedikit pening sekarang.


Tidak bisakah Dad Matthew menjauh dari Sakya barang sehari saja?


Sakya harus menenangkan diri dari rasa traumanya pada Dad Matthew!


"Bantuan apa, Dad?" Tanya Sakya lagi pada akhirnya.


"Datang saja kesini, lalu Dad akan memberitahu bantuan macam apa yang Dad butuhkan sekarang!"


"Sekarang, Dad? Sakya bahkan baru tiba di rumah lima menit yang lalu," Sakya mencoba jalan negosiasi.


"Tentu saja sekarang!"


"Tidak bisakah satu atau dua jam lagi sekalian Sakya menjemput Mami, Dad?" Sakya masih saja menawar.


"Sekarang, Sakya!" Suara Dad Matthew terdengar tegas dan menggelegar.


Ck!


Mertua menyebalkan!


"Cepat datang sekarang! Dad tunggu!"


"Baik, Dad!" Jawab Sakya akhirnya merasa pasrah.


Tuut tuut!


Telepon terputus dan Sakya langsung menggeram seraya hendak membanting ponselnya.


Eh, tapi banyak data penting di ponsel Sakya. Jadi kapan-kapan saja Sakya membanting ponselnya ini saat sudah tidak layak pakai!

__ADS_1


Toh Sakya baru membeli ponsel ini bulan lalu.


Huh!


"Menyebalkan!" Sakya lanjut berteriak kesal demi meluapkan kekesalannya pada Dad Matthew.


Sakya akhirnya kembali mengambil mobilnya, tanpa sempat masuk ke dalam rumah untuk sekedar minum atau duduk santai.


Tak berselang lama, mobil Sakya sudah melaju meninggalkan kediaman Abraham.


****


"Menjaga Barley?" Sakya ternganga setelah Dad Matthew memberitahu tugas yang harus Sakya lakukan sore ini.


"Hanya mengawasi Barley, selagi ia main di playground," tukas Dad Matthew yang langsung membuat Sakya mengusap wajahnya. Sakya lalu menghampiri Barley dan berjongkok di dekat bocah itu sebelum mulai bicara.


"Jangan membuatnya menangis, Sakya!" Ujar Dad Matthew lagi memperingatkan Sakya.


"Iya, Dad! Sakya hanya ingin memperkenalkan diri!" Ujar Sakya menahan rasa kesal di hatinya pada Dad Matthew.


"Dia sudah mengenalmu! Kenapa masih mau kenalan lagi? Langsung ajak ke playground sana!" Perintah Dad Matthew seperti seorang raja saja.


Hhhh!


Menyebalkan!


"Iya, Dad!" Jawab Sakya akhirnya patuh. Sakya kembali bangkit berdiri, lalu menggandeng Barley dan membawanya ke arah playground.


Namun tepat di depan playground, seorang wanita asing tiba-tiba menghampiri Barley dan hendak memeluk bocah itu.


"Barley," panggil wanita itu lembut yang malah membuat Barley ketakutan lalu memeluk kaki Sakya.


"Barley, ini Mama!" Ucap wanita asing itu lagi yang membuat Barley menggeleng-geleng. Bocah empat tahun itu terlihat ketakutan.


"Maaf, Nona! Mama kandung Barley sudah meninggal karena kecelakaan!"


"Anda jangan mengada-ada, ya!" Ucap Sakya tegas seraya membawa Barley ke dalam gendongan.


"Aku mama kandung Barley!"


"Bukan!" Sentak Barley saat wanita itu mengusap punggung Barley.


"Barley, peluk Mama dan kau akan tahu kalau ini Mama, Sayang!" Mohon wanita itu menangis-nangis pada Barley. Namun Barley terus menggeleng-geleng dan menyembunyikan kepalanya di dalam dekapan Sakya.


"Silahkan pergi atau saya akan panggil security, Nona!" Usir Sakya tegas pada wanita asing yang entah siapa itu.


"Barley!"


"Ini Mama, Barley!" Wanita itu hendak mengusap punggung Barley lagi, namun Sakya sudah dengan cepat menghindar dan segera membawa Barley menyusul Dad Matthew yang tadi masuk ke sebuah pusat kecantikan di lantai yang sama.


"Tunggu!" Wanita itu terus mengejar Sakya yang kini menggendong Barley, hingga akhirnya langkah wanita tadi terhenti setelah ada beberapa pria yang mencegatnya dan menyuruhnya berhenti.


Sakya menoleh dan hanya melihat sekilas, saat wanita yang mengaku-ngaku sebagai mama Barley tadi digiring menuruni lift oleh para pria yang tadi mencegatnya. Sakya lupa memperhatikan langkahnya, hingga kemudian Sakya menabrak seseorang.


"Sakya! Bukankah Dad tadi menyuruhmu untuk menemani Barley di playground? Kau mau membawa Barley kemana?" Cecar Dad Matthew seeaya memperhatikan Barley yang tampak ketakutan di dalam dekapan Sakya.


"Kau apakan Barley?" Cecar Dad Matthew lagi sebelum Sakya sempat menjawab pertanyaannya yang pertama. Pria paruh baya itu juga hendak mengambil Barley dari gendongan Sakya, namun Barley geleng-geleng kepala dan menolak.


"Tadi ada wanita asing yang mengaku-ngaku sebagai mamanya Barley, Dad!" Lapor Sakya akhirnya sekalian menjawab cecaran pertanyaan dari sang dad mertua tadi. Sontak jawaban Sakya langsung sukses membuat Dad Matthew membelalak.


"Dimana wanita itu?" tanya Dad Matthew menatap awas ke sekelilingnya.


"Sudah pergi." Jawab Sakya cepat.


"Sakya boleh membawa Barley masuk ke dalam saja, Dad? Sakya akan menjaga Barley," izin Sakya selanjutnya seraya mengendikkan dagu ke salon dimana para wanita sedang nemanjakan diri di dalam sana.


"Ya! Bawa Barley masuk ke dalam!" Jawab Dad Matthew sambil masih menatap awas ke sekitar, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Entahlah! Sakya juga tidak tahu!

__ADS_1


****


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, saat Sakya, Gretha dan Mami Thalita tiba di rumah.


"Zeline menang lagi, Papi!" Ucap Zeline sombong seraya meniup ujung tongkat bilyard-nya.


Gretha yang mendengar ucapan Zeline tadi langsung buru-buru menghampiri sang kakak ipar dan sepertinya juga penasaran dengan apa yang dilakukannya Zeline dan Papi Zayn.


"Wahh! Bilyard!" Seru Gretha antusias seraya melempar tasnya serampangan. Gretha lalu mendekati ke arah Zeline dan hendak meminjam tongkat yang kini dipegang oleh Zeline.


"Mau apa, Bocah Greget?" Gertak Zeline galak pada Gretha yang sudah menghampirinya.


"Gretha mau pinjam tongkatnya, Kak! Gretha mau ikutan main bilyard!" Ucap Gretha manja seraya menunjuk-nunjuk ke tongkat di tangan Zeline.


"Diiih! Ogah! Ini tongkat aku!" Jawab Zeline ketus.


"Ambil itu disana!" Ucap Zeline selanjutnya seraya menunjuk ke sudut ruangan dimana ada beberapa tongkat bilyard lama yang menganggur.


"Eh, ada ya!" Gretha langsung mengambil satu tongkat, dan kembali menghampiri meja bilyard.


"Silahkan, Gre!" Ucap Papi Zayn seraya bergeser dan memberikan ruang untuk Gretha.


"Mau kemana, Pi? Kok udahan?" Protes Zeline saat sang papi hendak berlalu pergi.


"Mau melihat mami kamu dulu!" Jawab papi Zayn yang langsung membuat Zeline berdecak.


"Sekarang Kak Zeline lawan Gretha, ya!" Ucap Gretha yang sudah bersiap menyodok bola bilyard di atas meja, padahal bola belum ditata.


"Kamu bisa, memang?" Tanya Zeline ragu. Sakya yang berdiri di dekat dua wanita itu hanya menyimak dalam diam. Namun sesekali Sakya akan tersenyum atau tertawa kecil saat mendengar perdebatan Zeline dan Gretha.


"Bisa, Kak!"


"Kan tinggal disodok!" Gretha sudah menyodok bola sasarannya, namun endingnya malah meleset. Terang saja hal itu langsung mengundang gelak tawa dari Zeline.


"Hhhhh! Tidak bisa saja, kok sombong!" Cibir Zeline pada Gretha yang langsung merengut.


"Pak Dokter! Ajari Gretha!" Rengek Gretha akhirnya mengadu pada Sakya. Terang saja hal itu langsung membuat Zeline kembali tergelak.


"Katanya bisa! Mau melawan Kak Zeline!" Ledek Zeline sekali lagi pada Gretha seraya menepuk dada dengan sombong.


"Nanti juga bisa setelah diajari Pak Dokter!" Sergah Gretha mencari alasan.


"Yaudah! Belajar dulu sana!"


"Aku lapar! Mau cari makanan," tukas Zeline seraya memberikan tobgkat bilyard-nya pada Sakya. Kakak perempuan Sakya itu lalu pergi meninggalkan Gretha dan Sakya begitu saja.


"Ajari!" Rengek Gretha lagi pada Sakya yang hanya menghela nafas. Sakya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Gretha dan hendak membisikkan sesuatu.


"Tapi katanya mau belajar gaya baru buat kuda-kudaan," bisik Sakya yang sebenarnya sudah sangat ingin bertemu kasur dan Gretha sekarang.


Terlalu banyak drama hari ini dan Sakya sedang butuh asupan sekarang.


"Eh, iya!" Gretha tiba-tiba sudah bersirak, melempar tongkat bilyard si tangannya, lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Sakya.


"Ayo! Sekarang!" Ajak Gretha yang kini sudah bergelayut manja pada Sakya.


"Mandi dulu, nanti baru lanjut, ya!" Sakya mengerling nakal pada Gretha.


"Mandiin!" Pinta Gretha manja.


"Siap!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2