
Sakya masih menatap pada pion-pion di atas papan catur, sembari berpikir langkah yang akan selanjutnya ia ambil. Sakya memejamkan mata seolah sedang berpikir keras, saat tiba-tiba suara dering ponsel membuat Sakya terlonjak kaget.
Gretha sontak terkikik saat melihat Sakya yang kaget dan sedikit terlonjak dari duduknya.
"Pak Dokter serius amat mikirnya, sampai loncat begitu pas kaget," ledek Grerha yang masih terkikik.
"Dia itu sedang melamun dan bukan berpikir, Gre!" Sergah Dad Matthew sok tahu.
Dasar mertua sok tahu!
Sakya kan tidak melamun! Sakya benar-benar sedang berpikir keras agar bisa menang kali ini, serelah yadi Sakya kalah dua babak dari sang Dad mertua.
Menyebalkan memang!
Tapi Sakya memang tak terlalu ahli bermain catur. Tak seperti Kak Zeline yang bisa segalanya. Bermain catur iya, bermain billyard iya, kalau golf Sakya tidak tahu! Satu hal yang pasti, Kakak kandung Sakya itu paling ahli bermain bilyard di rumah.
"Sakya! Jangan hanya melamun dan angkat teleponmu yang sejak tadi berdering itu!" Tegur Dad Matthew tajam yang langsung membuat Sakha merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Dering ponselnya memang sama dengan dering ponsel Sakya, tapi Sakya tak merasakan getaran dari sakunya sejak tadi, jadi Sakya pikir, yang berdering pastilah bukan ponsel Sakya.
Sakya menatap ke layar ponselnya, dimana ada pesan singkat dari operator jartu seluler yang menawarkan kuota murah selama satu tahun.
Tak ada telepon masuk!
Tapi dering ponsel masih terus terdengar.
"Buka ponsel Sakya yang berdering Dad!" Lapor Sakya pada Dad Matthew yang susah merogoh sakunya untuk memeriksa ponselnya sendiri.
"Ponsel Dad yang berbunyi!"
"Kenapa juga kau itu pakai dering ponsel yang sama dengan punya Dad! Membuat bingung saja!" Omel Dad Matt sebelum pria paruh baya itu bangkit berdiri dan berbicara di telepon entah dengan siapa.
"Ciyeee! Dering ponselnya Pak Dokter dan Dad udah samaan!"
"Besok ganti couple-an kemeja bagaimana? Biar kelihatan kompak!" Usul Gretha yang langsung membuat Sakya dengan cepat menolak!
"No!"
"Nanti dikira seragam karang taruna!" Sergah Sakya yang langsung membuat bibir Gretha mengerucut.
"Kan biar kompak gitu, Pak Dokter!"
"Pak Dokter nggak mau kompak sama Dad? Nggak sayang sama Dad? Atau Pak Dokter sama Dad lagi musuhan?" Cecar Gretha panjang lebar yang malab bercerocos pada Sakya.
"Siapa yang musuhan?" Tanya Dad Matthew yang sudah selesai menelepon.
Ya ampun!
Kenapa tidak sampai besok saja meneleponnya, biar Sakya ada kesempatan sedikit untuk memcium Gretha?
__ADS_1
"Dad sama Pak Dokter!" Jawab Gretha jujur dan to the point.
Dasar Gretha!
"Kau mengatakan apa pada Gretha, Sakya? Kau mengadu?" Cecar Dad Matthew yang kini sudah menatal tajam pada Sakya.
Tetap saja, ujung-ujungnya Sakya juga yang disalahkan!
Padahal Sakya belum menjawab satupun dari cecaran pertanyaan Gretha tadi.
Hhhh!
Sungguh pilu jadi mantu!
Semuanya serba salah!
"Sakya tidak mengadu, Dad!" Kilah Sakya akhirnya menyanggah tuduhan Dad Matthew.
"Sakya dan Dad kan rukun, tidak berseteru apalagi sampaj bermusuhan," imbuh Sakya lagi sedikit bersikap lebay. Padahal dalam hati Sakya sesang mencibir-cibir pada Dad mertuanya tersebut.
Apanya yang rukun?
"Tapi kenapa Pak Dokter menolak baju couple-an sama Dad kalau memang sekarang Pak Dokter dan Dad sudah jadi bestie?" Tanya Gretha yang benar-benar membuat Sakya merasa geregetan.
Memang kalau bestie harus seragaman kemana-mana?
Kurang kerjaan!
"Iya, bestie kan tidak harus selalu couple-an bajunya, Gre!" Jawab Sakya memaparkan satu alasan.
"Ck! Baiklah!" Gretha merengut dan kini gadis itu sudah bersedekap, sepertinya sedang kesal.
"Dad ada urusan penting! Jadi kita sudahi saja main caturnya, Sakya!" Dad Matthew sudah kembali buka suara, dan demi apapun Sakya benar-benar ingin meloncat kegirangan sekarang.
Yess! Yess! Yess!
Dua doa Sakya dikabulkan siang ini!
"Yah, sayang sekali, Dad!"
"Padahal Sakya sebentar lagi menang ini-" Kalimat Sakya tak verlanjut, saat Dad Matthew menjalankan satu pion ke depan, sebelum kemudian pion tersebut melahap habis semua pion Sakya yang tersisa.
"Yeah! Sakya yang payah!"
"Dari tadi juga sudah ketahuan kalau kamu itu tak pandai bermain catur!" Sindir Dad Matthew tajam pada Sakya yang hanya meringis.
"Tapi Sakya pandai main golf, Dad!" Sergah Sakya memamerkan prestasinya.
__ADS_1
"Masih belum terbukti!" Jawab Dad Matthew yang sepertinya masih meragukan kemampuan Sakya.
"Sakya akan membuktikannya nanti!" Ucap Sakya bersungguh-sungguh.
"Kapan kita ke lapangan golf, Dad?" Tanya Sakya selanjutnya seolah benar-benar antusias.
"Yang pasti bukan sekarang!" Jawab Dad Matthew seraya memanggil maid.
"Bagaimana kalau setelah Dad pulang sore ini?" Tanya Sakya lagi seolah sedang bernegosiasi.
"Ck! Dad pulang malam!" Jawab Dad Matthew ketus yang langsung membuat Sakya mendes*h kecewa. Entah benar-benar kecewa atau hanya akting semata?
"Sayang sekali," gumam Sakya lagi seraya tak lupa berekspresi pura-pura sedih.
Hanya pura-pura semata!
Dad Matthew menatap tajam pada Sakya.
"Jangan kau pikir, kau bisa bebas malam ini, Sakya! Gretha tetap akan tiduran bersama Mommy-nya!" Tegas Dad Matthew seraya menuding pada Sakya.
"Iya, Dad!" Jawab Sakya sesantai mungkin.
Ada kesempatan, kok nggak dimanfaatkan!
Batin Sakya penuh semangat.
Dad Matthew sudah mengenakan jasnya, yang tadi diambilkan oleh maid. Pria paruh baya itu kini sudah siap untuk pergi.
"Nanti malam tidur bersama Mom!" Pesan Dad Matthew pada Gretha dengan nada tegas.
"Tapi, Dad! Mom kan sedang kurang enak badan. Nanti kalau Gretha bobok sama Mom, jadi ganggu," sergah Gretha beralasan.
"Gretha boleh bobok bareng Pak Dokter tidak?" Tanya Gretha yang langsung memunculkan ekspresi wajah berbeda antara Dad Matthew dan juga Sakya.
Sakya rasa, Dad Matthew sedang galau tingkat tinggi sekarang!
Apa sebentar lagi Dad Matthew membatalkan acaranya demi bisa menjaga Gretha dari terjangan Sakya?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia 4
__ADS_1