Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
SAKIT, PAK DOKTER!


__ADS_3

"Gretha mana, Sak? Kok tidak kelihatan?" Tanya Mami Thalita khawatir karena Sakya yang pagi ini sudah berpakaian rapi hanya sendiri saat masuk ke ruang makan.


"Belum bangun, Mi," jawab Sakya seraya meringis.


"Wow! Jam segini belum bangun?" Zeline melihat ke arlojinya dan nada bicaranya lebih terdengar seperti sebuah sindiran untuk Sakya.


"Kalian lembur semalam?" Tanya Mami Thalita blak-blakan yang langsung membuat Papi Zayn dan Zeline melirik bersamaan ke arah ibu ratu di keluarga Abraham tersebut.


"Sedikit." Jawab Sakya yang kembali meringis.


"Dan tadi Sakya sudah mencoba untuk membangunkan Gretha, Mi! Tapi Gretha mengatakan kalau dia masih mengantuk dan belum mau sarapan. Nanti Gretha alan turun sendiri kalau sudah bangun dan sudah lapar." Terang Sakya lagi pada Mami Thalita dan Papi Zayn, sekalian memberikan pesan tersirat agar tak ada yang mengganggu Gretha hingba wanita itu bangun sendiri.


"Baiklah, Mami tak akan membangunkannya," jawab mami Thalita yang langsung tanggap.


"Saat di rumah orang tuanya juga terbiasa bangun siang?" Gantian Papi Zayn yang bertanya.


"Ka-"


"Ya pasti iyalah, Pi!"


"Bocah manja, tuan putri, pasti bangunnya siang dan apa-apa dilayani oleh maid!" Sergah Zeline memotong jawaban Sakya dengan kalimat panjang kali lebar kali tinggi. Sepertinya kakak kandung Sakya itu tahu segala-segalanya mengenai Gretha. Mungkin diam-diam mereka sudah jadi soulmate atau bestie, seperti julukan Gretha untuk hubungan Sakya dan Dad Matthew.


Bestie!


"Papi sedang bertanya pada Sakya, Zeline!" Papi Zayn menatap tegas oada Zeline yang hanya berdecak.


"Sebenarnya, hanya kadang-kadang Gretha bangun siang, Pi!" Ujar Sakya cepat menjawab pertanyaan Papi Zayn tadi.


"Pengantin baru bangun kesiangan itu hal biasa, Zel!"


"Nanti setelah kau menikah dan tahu rasanya, kau juga pasti akan mengalami," ujar Mami Thalita seraya terkekeh.


"Makanya cepat nikah, Kak! Jangan pavaran meluku sampai bertahun-tahun!" Timpal Sakya menyindir sang kakak yang langsung melemoar delikan tajam pada Sakya.


"Perihal aku mau menikah kapan, itu urusanku!" Sungut Zeline pada Sakya yang malah terkekeh.


"Tidak usah mengatur-ngatur begitu!" Samgung Zeline lagi tetap bersungut-sungut pada Sakya. Namun sepertinya Sakya tetap merasa tak bersalah.


Sakya lanjut menggigit roti isi di tangannya, saat pnsel pria itu berdering dari dalam saku.


"Halo, Rumi!" Sambut Sakya seraya menghentikan sejenak sarapannya.


"Kau sudah praktek hari ini, kan?"


"Ya, tentu saja! Kau ada jadwal terapi?" Sakya balik bertanya pada saudara ipar Ethan itu.


"Ada! Dan aku pasien pertamamu hari ini! Jangan ada pasien lain sebelum aku pokoknya!"


"Hah-"


Tuut tuut tuut!


Rumi menutup begitu saja teleponnya pada Sakya tanpa pamitan tanpa basa-basi. Dasar Rumi!

__ADS_1


Sakya segera menghabiskan roti isinya dengan cepat, lalu pria itu sedikit membersihkan celananya dari remah-remah roti, sebelum kemudian lanjut berdiri dan berpamitan pada Mami Thalita dan Papi Zayn.


"Sakya langsung berangkat, Mi! Nanti kalau Gretha-"


"Pak Dokter!" Suara Gretha tiba-tiba sudah terdengar dari ujung tangga. Istri Sakya itu masih mengenakan piyama yang tadi memang Sakya pakaikan ke tubuh Gretha, sebelum Sakya keluar dari kamar.


"Sudah bangun, Gre?" Sahut Sakya seeaya tersenyum dannmendekat ke tangga.


"Turun sini!" Titah Sakya selanjutnya seraya mepambaikan tangan ke arah Gretha yang hanya merengut. Gretha lalu menghentakkan satu kakinya, sebepum lanjut menuruni tangga, dengan langkah yang sulit dijelaskan memakai kata-kata.


Cara berjalan Gretha mendadak seperti saat dulu Sakya selesai disunat.


Gretha kenapa?


"Kenapa jalanmu seperti itu, Gre? Kau habis sunat?" Ledek Zeline saat kakak Sakya itu ikut meliyat Gretha yang masih menuruni tangga. Gretha sama sekali tak menyahut dan bibir istri Sakya itu hanya merengut.


"Hahahaha!" Zeline lanjut tergelak dan Gretha yang sudah setengah jalan menuruni tangga, seketika langsung menghentikan langkahnya.


"Pak Dokter! Gendong!" Rengek Gretha manja serays mengulurkan tangannya ke arah Sakya.


"Turun sini!" Bujuk Sakya yang langsung membuat Gretha menghentakkan satu kakinya.


"Sakit!" Rengek Gretha lagi manja.


"Gendong, Pak Dokter!" Gretha menghentak-hentakkan kakinya sekali lagi.


"Manja banget, Gre!" Ledek Zeline sebelum kakak Sakya itu berlalu pergi.


Sakya akhirnya menghela nafas, lalu naik tangga dan menghampiri Gretha yang masih berdiri di tengah-tengah tangga.


"Belum!" Jawab Gretha jujur.


"Pak Dokter belum mandiin Gretha, sambung Gretha lagi yang hanya mampu membuat Sakya mendengus.


"Aku harus segera ke rumah sakit karena ada praktek pagi," ungkap Sakya memberitahu Gretha yang langsung merengut.


"Tapi Pak Dokter nyuapi Gretha sarapan dulu, kan?"


"Nggak sempat, Gre! Ini aja aku udah telat," ujar Sakya yang sudah mejbawa Gretha ke ruang makan.


"Gretha kenapa digendong, Sak? Sddang sakit?" Tanya Mami Thalita khawatir.


"Iya, Mi! Pangkal paha Gretha sakit gara-gara gaya baru Pak Dokter semalam," jawab Gretha blak-blakan yang langsung membuat Sakya meringis sekaligus menahan malu sepertinya.


Gretha, Gretha!


Selalu saja blak-blakan saat cerita tentang apapun itu. Termasuk tentang hubungan ranjang juga diumbar-umgar.


Kan Sakya yang malu sekarang.


"Gaya barunya apa, Gre? Kok sampai lumpuh begitu?" Tanya Papi Zayn yang sepertinya antusias sekali.


"Papi!" Desis Mami Thalita yang terlihat geram pada sang suami.

__ADS_1


"Tanya saja, Mi! Kali saja nanti malam bisa kita-"


"Ingat umur, Pi!" Sergah Sakya menyindir sekaligus mengingatkan sang papi yang sepertinya sedang puber ketiga atau keempat atau entahlah.


"Ingat, kok! Papi masih dua puluh tahun!" Jawab Papi Zayn sombong yanv langsung nenbuat Mami Thalita memutar bola mata sekaligus memukul lengan sang suami.


"Kok Papi masih dua puluh tahun? Trus Pak Dokter umur berapa, Kak Zeline umur berapa?"


"Masa iya, umur dua puluh tahun bisa punya adik usia tiga puluh tahun. Emang bisa ya, Pak Dokter?" Cerocos Gretha panjang lebar yang kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan absurd yang ditujukan pada Sakya.


Lah....


Sakya jawab apa, dong?p


"Papi hanya bercanda Gre. Aslinya, Papi itu ya sudah kepala enam!" Jelas Sakya akhirnya yang ganti membuat Papi Zayn berdecak.


"Papi belum setua itu, Sakya Sak Semen!" Sergah Papi Zayn pura-pura marah.


"Trus Papi semuda apa kalau memang Papi belum tua?" TanyaGretha kepo.


"Papi masih lima puluh lima tahun!" Jawab Papi Zayn jujur.


"Mami? Lima puluh lima juga?" Gretha ganti bertanya kepo pada Mami Thalita yang langsung menggeleng.


"Mami dua tahun lebih muda daei Papi, Gre!" Tukas Mami Thalita yang langsung membuat Gretha mengangguk.


"Jadi, usia Mami sekarang berapa, Gre?" Sakya memberikan pertanyaan untuk Gretha yang langsung tampak berpikir.


"Lima tiga, Pak Dokter!" Jawab Gretha akhirnya.


"Pinter!" Puji Sakya seraya mengacungkan kefua jempolnya ke arah Gretha.


"Sakya, tadi katanya mau ke rumah sakit?" Tanya Mami Thalita mengingatkan yang langsung membuat Sakya mebepuk sendiri keningnya.


"Sakya berangkat sekarang, Mi!" Pamit Sakya yang kejbaki berpamitan pada Mami Thalita, Papi Zayn, dan juga Gretha. Tak lupa, Sakya juga mencium pipi Gretha mesra.


"Trus yang nyuapin Gretha siapa, Pak Dokter!" Rengek Gretha manja.


"Makan sendiri, oke!"


"Aku pergi kerja dulu, Bye!" Pamit Sakya yang segera berlalu meninggalkan Gretha yang masih merengut.


"Mami suapi mau, Gre?" Tawar Mami Thalita tiba-tiba yang langsung membuat Gretha mengangguk-angguk dengan lebay.


"Mau, mau!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia .


__ADS_2