
"Pak Dokter."
"Iya, Sayang!"
"Pak Dokter Sakya," panggil Gretha manja.
"Pak Dokter Sayang. Begitu, dong!" Sakya mencolek gemas hidung Gretha yang langsung membuat istri Sakya itu mengerjap-ngerjapkan matanya seperti biasa.
Sepertinya memang sudah ada otomatisnya. Jika Sakya menyentuh wajah Gretha, maka kedua mata Gretha akan otomatis berkedip-kedip dengan lucu.
"Pak Dokter mau mandi?" Tanya Gretha lagi tetap dengan nada manja.
"Mandi bareng kamu? Mau, dong!" Jawab Sakya tak kalah genit.
"Air dingin apa air anget?" Tanya Gretha lagi.
"Gretha maunya air apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Gretha, Sakya malah balik bertanya pada istri kecilnya tersebut.
"Air dingin aja, ya!"
"Gretha semprot langsung!" Semburan air dari selang yang Gretha bawa mendadak terasa menusuk wajah Sakya. Tapi Sejak kapan Gretha memegang selang untuk menyemprot wajah Sakya. Dan kenapa airnya terasa begitu dingin seolah benar-benar mengenai wajah Sakya?
Bukankah Sakya hanya bemimpi.
"Bangun!"
"Bangun, Sakya!"
Sakya membuka lebar kedua bola matanya, saat mendengar suara berat yang membuatnya trauma beberapa hari belakangan.
Suara itu!
Dad Matthew!
Sakya menoleh ke samping dan mendapati Dad Matthew yang sedang memegang segelas air di tangannya. Sakya lalu mengusap wajahnya sendiri yang benar-benar basah.
Apa Dad Matthew baru saja menyiramkan air ke wajah Sakya?
"Dad? Sudah pagi?" Tanya Sakya yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Baru jam delapan lebih tiga puluh menit," jawab Dad Matthew seraya melihat ke arlojinya.
Sakya sontak membelalak, lalu pria otu bangun dengan cepat dan meraih ponselnya di atas nakas.
Benar saja! Sudah jam delapan lewat tiga puluh menit!
Sakya kesiangan!
"Iya, ya! Sidah siang!" Sakya meringis pada Dad Matthew yang hanya berekspresi datar.
"Dad tidak jadi main golf? Bukankah katanya ada acara main golf jam tujuh pagi?" Tanya Sakya berbasa-basi pada Dad Matthew yang sudah meletakkan gelas berisi air yang tadi ia bawa ke atas nakas
Setelah Sakya telisik sedikit, tak ada bekal tumpahan air di atas kasir dan bantal Sakya. Jadi kesimpulannya, mungkin Dad Matthew tadi hanya memercikkan air ke wajah Sakya, agar Sakya bangun dari mimpi indahnya bersama Gretha.
Ck!
Tetap saja, mimpi Sakya tadi belum selesai dan Sakya belum jadi mandi bersama Gretha.
Nasib, nasib!
"Cepat mandi, bersiap, lalu sarapan ke bawah! Kita pergi jam sembilan!" Ucap Dad Matthew yang langsung membuat Sakya menganga.
"Jam sembilan kemana, Dad?" Tanya Sakya sembari berpikir keras.
"Main golf!"
"Mumpung kau sedang cuti praktek!" Jawab Dad Matthew sebelum kemudian pria paruh baya tersebut keluar dari kamar dan meninggalkan Sakya yang langsung mengumpat dalam hati.
__ADS_1
"Sial!"
Cari alasan apa kira-kira agar wacana main golf bersama Dad Matthew bisa batal?
Sakya kembali berpikir keras saat terdengar pintu kamar yang diketuk dari luar.
"Sakya baru mau mandi, Dad!" Seru Sakya bersamaan dengan pintu yang sudah terbuka sendiri
"Pak Dokter belum mandi?" Celetuk Gretha yang kini hanya menongolkan kepalanya saja di pintu kamar Sakya.
"Gretha!" Hati Sakya seketika tak jadi kesal, dan kini sudah ganti berbunga-bunga hanya karena melihat wajah imut Gretha.
Imut nan menggemaskan.
Ya ampun!
Sakya jadi ingin segera memeluknya!
Sakya bergerak dan bangkit dengan cepat dari atas tempat tidur. Pria utu lalu membuka pintu kamarnya sedikit lebar dan hendak menarik Gretha agar masuk ke kamar.
Namun ternyata di luar dugaan, Dad Matthew masih saja berdiri di depan kamar Sakya, seolah sedang jadi satpam entah bodyguard entah satpol PP yang menjaga Gretha.
Asem!
"Ehem!" Dad Matthew berdehem dan menatap tajam pada Sakya.
"Bukankah kau harus segera mandi dan bersiap, Sakya?" Ucap Dad Matthew seilah sedang mengingatkan Sakya yang langsung meringis.
"Iya, Dad!"
"Tapi Sakya kan mau menyapa istri Sakya dulu." Sakya mengusap wajah Gretha yang langsung membuat istrinya itu terkikik.
Dasar Gretha!
"Sedikit mencium kening di pagi hari juga," Sakya lanjut memonyongkan bibirnya ke arah kening Gretha dan hendak mencium istrinya tersebut. Namun Gretha malah mendorong Sakya dan sepertinya gadis itu tak mau Sakya cium.
"Pak Dokter, iiih!"
"Kan ada Dad! Malu," cicit Gretha genit yang tentu saja langsung membuat Sakya menganga.
Jadi maksudnya, Sakya tak boleh mencium kening Gretha hanya karena ada Dad Matthew?
Hanya kening padahal!
Hanya kening!
"Pak Dokter cepat mandi, ya! Bye!" Pamit Gretha selanjutnya dengan nada manja-manja bagaimana begitu. Tang jelas Sakya sudah sangat geregetan pada istri remajanya itu!
Kapan Sakya punya kesempatan untuk bisa menciumi wajah Gretha yang imut menggemaskan itu?
Kapan? Kapan? Kapan?
"Cepat mandi dan bersiap, Sakya!" Perintah Dad Matthew sekali lagi sebelum Dad mertua Sakya utu ikut berlalu juga dan menyusul langkah Gretha.
"Hhhh! Mencium istri sendiri pun tidak boleh!" Gerundel Sakya, sebelum ia kembali masuk ke kamar dan menutup pintu. Salya mengacak rambutnya dengan frustasi, lalu memutuskan untuk segera mandi dan bersiap saja!
Semoga pagi ini hujan deras agar Dad Matthew tak bisa main golf!
****
Bressss!
Sakya baru keluar menuju ke teras, saat hujan lebat tiba-tiba sudah mengguyur bumi.
"Iyesss!" Sakya bersorak dalam hati karena doanya tadi ternyata dikabulkan. Sekarang Dad Matthew tak bisa lagi mengajak Sakya main golf. Sakya akan main dokter-dokteran saja bersama Gretha!sekalian Sakya mau membayar hutang Sakya pada Gretha yang belum Sakya tepati.
Hutang apa?
__ADS_1
Hutang membuat Gretha jadi tak perawan!
"Hujan, Dad! Mau tetap main golf?" Tanya Sakya berbasa-basi pada Dad Matthew yang terlihat sudah rapi dan siap pergi. Dad mertua Sakya itu terlihat sedang memantau langit yang berwarna putih keabuan.
"Lapangan golf-nya outdoor. Sia-sia saja kalau tetap pergi," gumam Dad Matthew seraya menghela nafas.
"Jadi, kita di rumah saja, Dad?" Tanya Sakya memcoba menahan rasa girangnya.
"Ya! Ayo main catur di halaman belakang!" Ajak Dad Matthew yang langsung membuat Sakya mengumpat dalam hati.
Sial!
Masih ada alternatif olahraga lain ternyata!
Seharusnya tadi malam Sakya sembunyikan saja papan catur Dad Matthew, agar hari ini tak perlu ada kegiatan menghabiskan waktu bersama Dad Mertua menyebalkan yang tak pengertian ini!
"Dad! Tidak jadi pergi?" Tanya Gretha yang sudah menghampiri Sakya dan Dad Matthew. Sakya memindai penampilan Gretha yang terlihat lucu mengenakan celana pendek diatas lutut serta kaus bergambar hello kitty yang kedodoran.
Pikiran Sakya mendadak berkelana,membayangkan Gretha berada di atas ranjang, mengenakan satu kaos Sakya yang pastilah akan kebesaran sekali saat dipakai Gretha, lalu istri Sakya itu tak mengenakan bra atau baju dalam lain.
Astaga!
Pasti Gretha akan terlihat seksi sekali!
"Di luar hujan! Jadi Dad akan main catur bersama Sakya," ujar Dad Matthew menjawab pertanyaan Gretha.
"Bukan begitu, Sakya?" Lanjut Dad Matthew seraya menatap pada Sakya yang terlihat melamun.
"Sakya!" Tegur Dad Matthew lantang yang langsung membuat Sakya terlonjak kaget
"Eh, iya, Dad!"
"Kita jadi main golf?" Tanya Sakya tergagap.
"Apa kau lupa kalau sekarang sedang hujan?" Sergah Dad Matthew mendelik pada Sakya yang langsung menepuk keningnya.
"Astaga! Iya!"
"Maaf, Dad! Sakya lupa," ringis Sakya yang malah membuat Gretha terkikik.
"Pak dokter lucu sekali, sih?" Gretha sedikit berjinjit, lalu mencubit gemas kedua pipi Sakya.
"Auuw!"
"Sakit, Gre!" Sakya balas mencolek hidung Gretha, bersamaan dengan deheman keras dari Dad Matthew.
"Eheem!"
"Eh!" Sakya meringis dan hanya menggerutu dalam hati.
Mencolek hidung pun tak boleh!
Dasar Dad Mertua kejam!
"Ambil papan caturnya, Sakya! Dad tunggu di belakang rumah!" Titah Dad Matt selanjutnya, sebelum pria paruh baya tersebut meraih tangan Gretha dan mengajak sang putri ke halaman belakang rumah.
"Yeay! Gretha yang jadi wasit!" Sorak Gretha lebay yang hanya membuat Sakya garuk-garuk kepala
Memangnya Gretha bisa jadi wasit catur?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.