
Suasana masih hening dan Dad Matthew belum memberikan jawaban atas permintaan izin Gretha untuk tidur bersama Sakya malam ini.
Oh, ayolah, Dad!
Gretha tidur dengan Sakya yang jelas-jelas adalah suami sah Gretha!
Lalu kenapa Dad Matthew harus risau seolah Gretha akan tidur bersama om om pedofil enam puluh tahun yang sudah keriput?
Dering ponsel Dad Matthew swjenak memecah keheningan diantara Dad, anak,dan menantu tersebut. Sakya ikut melirik ke ponselnya, takut-takut kalau ponselnya berdering juga.
"Itu ponsel Dad, Sakya!" Ucap Dad Matthew tegas yang hanya membuat Sakya meringis. Sakya akhirnya menyimpan kembali ponselnya dan nanti Sakya akan mengganti dering ponselnya dengan nada yang lain dari yang lain, yang tidak ada menyamai!
Suara apa kira-kira?
"Halo!" Dad Matthew kembali berbicara di telepon, dan meninggalkan Sakya bersama Gretha.
"Mau pergi jalan-jalan?" Tawar Sakya pada Gretha yang masih diam.
"Jalan- jalan kemana, Pak Dokter?" Tanya Gretha penuh semangat yang langsung membuat Sakya buru-buru membungkam mulut istrinya itu.
"Sssstttt! Jangan keras-keras!"
"Sakya!" Gertak Dad Matthew yang sudah selesai menelepon dan sekarang sedang mendapati Sakya yang sedang membungkam mulit Gretha dengan posisi yang sulit dijelaskan.
"Iya, Dad!" Sakya dengan cepat melepaskan bungkamannyq pada mulit Gretha.
"Dad, kata Pak Dokter, Gretha nanti mau diajak jalan-jalan!" Lapor Gretha yang langsung membuat Sakya mengumpat dalam hati.
Dasar Gretha ember!
Atau seharusnya Sakya tadi mengatakan tentang jalan-jalan pada Gretha setelah Dad Matthew pergi saja!
Tapi mana Sakya tahu kalau istri remajanya itu ember juga, selain labil dan manja.
Hhhhh!
"Gretha mau kamu ajak jalan-jalan kemana, Sakya? Di rumah saja dan tak perlu kela-" Kalimat Dad Matthew belum selesai saat tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Pria paruh baya itu langsung menggeram.
"Dad harus pergi sekarang, dan kalian berdua jangan kelayapan!" Dad Matthew menuding tajam pada Sakya yang langsung meringis.
"Sakya dan Gretha akan di rumah main catur, Dad!" Jawab Sakya seraya mengangkat kedua jarinya dan membentuk tanda V.
"Dad akan memantau CCTV!" Ucap Dad Matthew sekali lagi memperingatkan Sakya sekaligus menunjukkan letak CCTV di beberapa titik di rumah besar tersebut.
Ck!
Sakya juga sudah tahu!
Sakya bukan makhluk primitif!
"Gretha boleh tidur bareng Pak Dokter malam ini, Dad?" Tanya Gretha sekali lagi pada Dad Matthew.
"Boleh! Tapi pakai piyama panjang dan kaos kaki!"
"Udara malam ini dingin," pesan Dad Matthew akhirnya seraya mengacak rambut Gretha.
"Yeay!" Gretha bersorak lebay seolah baru saja menang lotere.
Sedangkan Sakya hanya mengulas senyum segarus, meskipun sebenarnya pria itu sangat ingin melompat girang sekarang.
"Awas jika besok pagi ada yang tidak beres pada Gretha!" Ancam Dad Matthew seraya berbisik pada Sakya yang wajahnya langsung berubah tegang.
Tidak beres apa maksudnya?
Gretha yang masih perawan jadi tak perawan lagi besok pagi?
Oh, kalau yang itu jangan salahkan Sakya, Dad!
Salahkan putri polos Dad yang sejak kemarin minta dibuat tidak perawan!
Sakya kan hanya menepati janji dan memenuhi kemauan Gretha!
"Sakya akan hati-hati, Dad!" Janji Sakya yang langsung berhadiah delikan dari Dad Matthew. Namun Sakya pura-pura tak tahu dan tetap memasang senyuman garing.
__ADS_1
"Dad Matthew lalu mencium kening Gretha dan berpamitan pada Gretha. Tak lupa Dad Matthew juga berpesan pada Gretha agar nanti menyampaikan pada Mom Melody kalau Dad Matthew ada urusan penting di luar. Saat ini, Mom Melody tengah istirahat karena tidak enak badan. Mungkin kecapekan setelah acara pernikahan Gretha yang serba dadakan kemarin!
"Bye, Dad! Hati-hati!" Gretha melambaikan tangan dengan lebay ke arah Dad Matthew yang akhirnya masuk ke dalam mobil, dan melaju meninggalkan kediaman Orlando.
"Ayo jalan-jalan, Pak Dokter!" Ajak Gretha yang tiba-tiba sudah bergelayut manja pada Sakya.
"Tapi tadi kata Dad kan kita tidak boleh pergi kelayapan! Nanti Dad lihat CCTV, trus marah bagaimana?" Cerocos Sakya mengingatkan Gretha.
"Ck! Dad mana pernah marah sama Gretha, Pak Dokter!"
"Dad itu sayang banget sama Gretha dan nggak pernah marah!" Ujar Gretha yang malah pamer kedekatannya dengan Dad Matthew. Padahal Sakya juga tak tanya dan tak penasaran!
Lagipula, meskipun Dad Matthew tak pernah marah pada Gretha, tapi Dad kandung Gretha itu pasti akan marah dan mencak-mencak pada Sakya, jika ia tahu Sakya mengajak Gretha keluar dari rumah!
"Ayo jalan-jalan lewat pintu samping! Gretha tahu pintu rahasia!" Ucao Gretha seraya bisik-bisik pada Sakya.
"Maksudnya pintu raha-"
"Ssssttt!" Gretha cepat-cepat membungkam mulut Sakya dengan tangannya yang mungil nan lembut.
Duh, Sakya mendadak jadi candu pada tangan Gretha.
"Jangan keras-keras, Pak Dokter! Yang tahu pintu rahasia itu cuma Gretha!" Bisik Gretha pada Sakya masih sambil membungkam mulut Sakya.
Ah, tapi Sakya tidak keberatan, kok!
Sakya menggenggam telapak tangan Gretha yang masih membungkamnya sejak tadi,lalu menciumi tangan mungil tersebut. Bahkan ukurannya hanya setengah dari telapak tangan Sakya!
Ya ampun!
"Geli!"
"Pak Dokter ngapain, sih?" Tanya Gretha yang merasa kegelian dengan tingkah Sakya.
"Tangan kamu mungil," Sakya mencium tangan Gretha lagi.
"Iiih! Pak Dokter!" Gretha sontak tersipu saat Sakya tak berhenti menciumi tangan istrinya tersebut.
"Hujan di luar! Kita bobok bareng aja bagaimana?" Rayu Sakya mencari-cari kesempatan.
Mumpung Dad Matthew sedang keluar dari kandang!
Kesempatan sekecil apapun harus Sakya manfaatkan sekarang!
Agar Sakya tak terus-terusan dihantui mimpi bercinta bersama Gretha tapi tak pernah selesai karena ada penampakan Dad Matthew!
"Kan masih siang, Pak Dokter! Masa udah mau bobok?" Tanya Gretha heran.
"Iya, bobok siang!" Sakya pantang menyerah. mencari alasan.
"Tapi Gretha belum ngantuk, kok!"
"Dan Gretha udah nggak pernah bobok siang sekarang. Kan Gretha udah gede!" Cerocos Gretha lagi mengungkapkan banyak alasan.
Ada saja alasan putri sulung Dad Matthew ini!
Jadi sebelas dua belas menyebalkannya dengan Dad Matthew kalau seperti ini!
Hhhhh!
"Kita ke kamar saja kalau begitu! Aku mau bayar hutang aku ke kamu soalnya," rayu Sakya lagi tetap pantang menyerah.
"Hutang apa, Pak Dokter? Memangnya kapan Pak Dokter hutang sama Gretha?" Cecar Gretha merasa bingung.
"Hutang yang itu!" Sakya memberikan kode pada Gretha sembari mengedipkan matanya dengan genit.
"Yang mana,ih, Pak Dokter?"
"Hutang apa? Gretha lupa!" Gretha mulai panik dan malah hampir menangis sekarang.
Lah!
Sakya salah memberikan kode apa, ya?
__ADS_1
"Gretha, Gretha! Kok nangis, sih?" Tanya Sakya bingung sembari berusaha menenangkan Gretha.
"Iya, Gretha tak ingat tentang hutang Pak Dokter sama Gretha!" Jawab Gretha yang kinu malah sudah ganti sesenggukan.
Lah!
Ini bocah kenapa?
Diberi kode kenapa malah nangis begini?
"Gretha dengerin aku dulu-"
"Sakya, Gretha kenapa?" Tanya Mom Melody yang entah sejak kapan tiba-tiba sudah berdiri di dekat Gretha dan Sakya. Dan sekarang, putri kesayangan Mom Melody ini sedang berurai airmata.
Ya ampun!
Mati kau, Sakya!
"Mom, Pak Dokter ini!" Adu Gretha seraya menghambur ke pelukan Mom Melody.
Nah, kan! Kenapa malah jadi rumit begini?
"Masa kata Pak Dokter, Gretha punya hutang yang belum dibayar, tapi Pak Dokter nggak ngasih tahu hutangnya Gretha berapa. Gretha kan tidak ingat, Mom!" Lapor Gretha lagi yang malah mengadu pada mom Melody.
"Hutang? Hutang berapa banyak, Sakya?" Tanya Mom Melody menatap tajam pada Sakya yang langsung mengibas-ngibaskan tangannya.
"Maksudnya, yang punya hutang itu Sakya, Mom! Bukan Gretha!" jelas Sakya sebelum kesalahpahaman ini berlanjut lebih jauh lagi.
"Tapi Pak Dokter hutang apa? Kok Grerha nggak ingat?" Tanya Gretha sembari sesenggukan.
"Hutang uang parkir. Waktu kita pergi bareng itu," jawab Sakya mengarang indah.
Bunuh diri namanya kalau Sakya bilang hutangnya pada Gretha itu adalah membuat gadis ini tak perawan lagi.
"Kapan, Pak Dokter? Gretha tidak ingat!" Tanya Gretha yang masih merengut.
"Waktu itu, Gretha!"
"Baiklah, kita lupakan saja! Tadi aku kan hanya sedikit bercanda-"
"Tapi hutang tetap harus dibayar, Pak Dokter!" Sergah Gretha mengingatkan.
"Baiklah," Sakya menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mengeluarkan dompet dan memberikan uang sepuluh ribuan pada Gretha.
"Hutang lunas!" Ucap Sakya seraya nyengir.
"Yeay!" Gretha ikut bersorak dan Mom Melody hanya geleng-geleng kepala.
"Dad kemana?" Tanya Mom Melody selanjutnya seraya merapikan rambut Gretha.
"Pergi, Mom! Ada urusan penting katanya," jawab Gretha sambil memainkan uang sepuluh ribuan dari Sakya tadi.
"Ngomong-ngomong, Mom sudah sehat? Kok udah keluar dari kamar?" Gretha ganti bertanya pada Mom Melody.
"Sudah!" Jawab Mom Melody seraya mengangguk.
"Yeay! Berarti nanti malam Gretha bisa bobok sama Mom!" Sorak Gretha girang yang langsung membuat Sakya mengumpat dalam hati.
Kenapa jadi bobok sama Mom?
"Pak Dokter, nanti malam Pak Dokter mau bobok sama Gretha dan Mom juga nggak?" Tanya Gretha tiba-tiba yang langsung membuat Sakya dan Mom Melody menganga.
Pertanyaan konyol macam apa itu, Gretha?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1