
"Sakya akan membeli testpack, Mom!" Putus Sakya akhirnya saat Mom Melody masih sibuk menghitung-hitung kapan hari terakhir Gretha haid dan usia kandungan Gretha mungkin.
Besok Sakya akan membawa Gretha bertemu Caleb kalau memang Gretha benar-benar hamil!
"Pak Dokter mau pergi?" Tanya Gresaat Sakya sudah sampai di ambang pintu kamar.
"Ya! Mau aku belikan sesuatu?" Tawar Sakya seraya mengulas senyum. Setidaknya, Gretha sudah tak marah lagi pada Sakya, jadi Sakya akan membelikan apapun permintaan Gretha hari ini.
"Mau mau mau!" Jawab Gretha bersemangat.
"Mau apa?" Tanya Sakya yang sudah berbalik dan menghampiri Gretha.
"Permen kapas yang bentuk bunga raksasa warna-warni itu," jawab Gretha yang langsung membiat Sakya membelalakkan mata.
Permen kapas dibungkus plastik gambar upin ipin atau boboboy, Sakya sudah sering lihat. Tapi yang bentuk bunga raksasa?
Dimana Sakya harus mencari?
"Memang ada?" Tanya Sakya ragu.
"Ada, Pak Dokter! Teman Gretha baru saja beli!"
"Lihat!" Gretha menunjukkan foto temannya yang sedang memegang permen kapas raksasa sebesar kepala teman Gretha.
Tidak!
Bahkan permen kapasnya lebih besar dari kepala teman Gretha.
Tidak sakit gigi memang, makan permen kapas sebesar itu?
"Temanmu namanya siapa? Aku boleh monta kontaknya?" Tanya Sakya kemudia setelah sedikit mengatasi rasa kagetnya karena permen kapas raksasa.
"Diiih! Pak Dokter mau selingkuh sama temannya Gretha, ya?" Tuduh Gretha yang sontak langsung membuat Mom Melody seolah menemukan kesadarannya kembali.
Tadi Mom kandung Gretha itu sempat larut dalam lamunan dan mungkin jiwanya sedang terbang ke dimensi lain
Namun sekarang kesadaran Mom Melody sudah kembali lagi.
"Siapa yang mau selingkuh, Gre?" Tanya Mom Melody pada sang putri yang kini merengut.
"Pak Dokter itu, Mom! Masa iya minta-minta nomor kontaknya teman Gretha," lapor Gretha yang benar-benar harus membuat Salya menarik nafas panjang.
Untung hanya ada Mom Melody di kamar,yang kini melempar tatapan tajam penuh selidik pada Sakya. Kalau ada Dad Matthew, pastilah Dad kandung Gretha itu akan langsung melayangkan bogem mentahnya pada Sakya.
"Sakya hanya mau bertanya pada teman Gretha, Mom. Dimana membeli permen kapas bunga raksasa yang barusan diminta Gretha."
"Sakya tak ada maksud apa-apa. Sumpah!" Jelas Sakya panjang lebar menjawab tatapan penuh selidik dari Mom Melody.
"Oh, begitu!" Seru Gretha yang akhirnya paham juga dan tak lagi menuduh Sakya.
"Teman Gretha saat ini masih di Jepang, Pak Dokter. Jadi teman Gretha belinya di Jepang." Ujar Gretha lagi yang tentu saja langsung membuat Sakya menganga lebar.
Jadi maksudnya, Sakya harus terbang ke Jepang hanya untuk membeli permen kapas raksasa berbentuk bunga kemauan Gretha, begitu?
Lalu nanti kalau permen kapasnya sampai rumah jadi kempes bagaimana? Sakya harus kembali untuk membeli lagi?
Oooh!
Sakya benar-benar bingung sekarang!
"Kau jadi membeli testpack, Sakya?" Teguran Mom Melody membuyarkan lamunan Sakya.
"Eh, iya! Jadi, Mom!" Jawab Sakya tergagap.
"Sakya akan ke apotek sekarang," ujar Sakya selanjutnya yang kembali berjalan ke arah pintu kamar Gretha.
"Pak Dokter! Jangan lupa permen kapas buat Gretha, ya!" Seru Gretha yang hanya membuat Sakya mengangguk sekaligus garuk-garuk kepala.
"Kenapa minta permen kapas? Nanti kalau sakit gigi bagaimana?" Tanya Mom Melody seraya merapikan rambut Gretha.
"Enggak lah, Mom!" Jawab Gretha yakin.
"Tapi ngomong-ngomong, Pak Dokter mau beli permen kapas ke apotek, ya, Mom? Kok tadi pamit ke apotek?" Tanya Gretha selanjutnya yang langsung membuat Mom Melody menggeleng.
__ADS_1
"Sakya ke apotek mau beli testpack, Gre," jelas Mom Melody.
"Ooh. Testpack itu apa?" Tanya Gretha lagi.
"Alat tes kehamilan," jawab Mom Melody kembali mengusap kepala Gretha.
"Memang yang hamil siapa? Mom hamil?" Tanya Gretha lagi yang tentu saja langsung membuat Mom Melody menarik nafas panjang.
"Kamu," jawab Mom Melody akhirnya.
"Gretha hamil, Mom?" Kedua mata Gretha tiba-tiba sudah membelalak tak percaya.
"Masih belum pasti, Gre! Makanya tadi Sakya mau beli testpack dulu untuk memastikan.
Gretha masih diam dan sepertinya sedikit shock. Anak perempuan Mom Melody itu lalu menatap ke perutnya sendiri dan melontarkan sebuah pertanyaan.
"Nanti berarti perut Gretha akan membesar, ya, Mom?" Gretha sudah mengusap perutnya sendiri.
"Iya, Gre! Tapi itu jika kau hamil," Jawab Mom Melody yang sudah ikut mengusap perut Gretha.
"Kira-kira berat nggak, Mom? Gretha kan badannya kecil. Nanti kaalo berat trus Gretha nggak kuat bagaimana?" Tanya Gretha lagi dengan raut wajah polos yang menaddak malah membuat Mom Melody ingin tertawa sekarang.
"Nanti kan membesarnya pelan-pelan, Gre! Jadi nanti tubuh kamu juga akan menyesuaikan," jelas Mom Melody setelah sedikit mengendalikan dirinya yang hampir tertawa.
"Begitu, ya?" Gumam Gretha yang masih saja mengusap-usap perutnya.
"Sekarang Kamu makan dulu, ya! Tadi belun jadi makan, kan?" Ujar Mom Melody selanjutnya seraya meraih piring berisi makanan dari atas nakas.
"Mom suapi, kan?" Tanya Gretha manja
"Iya!"
****
"Ini testpack-nya, Pak!" Ucap perugas apotek seraya mengangsurkan kantong berisi dua buah testpack yang baru saja Sakya beli.
Tepat saat Sakya hebdak keluar dari apotek, ponsel dokter muda itu berdering.
Eh, iya!
Kak Zeline kan biasanya tahu tempat-tempat membeli makanan. Nanti Sakya akan bertanya pada kakaknya yang gendut dan doyan makan itu.
"Halo, Kak!"
"Kau dimana, Sak?"
"Sak, Sak! Nanti ujung-ujungnya jadi Sak semen!" Gerutu Sakya yang selalu benci saat ada yang memanggilnya dengan memenggal namanya.
Sak!
Sak semen!
"Sak pasir mau? Atau sak gula?"
"Sekalian saja sak beras, Kak!" Sahut Sakya emosi. Kalau dekat sudah Sakya toyor kepala kakak perempuannya itu!
"Hahaha! Jadi, kau dimana Sak beras? Tumben saat aku pulang kau dan Greget tidak kelihatan."
"Gretha, Kak!" Koreksi Sakya karena Kak Zeline yang selalu saja memanggil Gretha dengan panggilan Greget. Saking gregetnya dengan sikap Gretha apa, ya?
"Terserah! Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Sakya sekarang di apotek, Kak! Kalau Gretha di rumah Mommy-nya. Tadi Gretha pingsan dan kata Ethan, ada kemungkinan Gretha hamil. Makanya ini Sakya beli testpack," jelas Sakya panjang lebar.
"Bukannya Greget memang sudah hamil sebelum kalian menikah, ya? Aku pikir kalian menikah karena MBA!"
"Sembarangan!"
"Gretha masih segel saat menikah sama Sakya, Kak!"
"Sakya saja baru belah duren dua hari setelah menikah!" Jelas Sakya lagi sedikit berbisik karena ada beberapa orang yang lalu lalang di dekatnya. Sakya akhirnya buru-buru masuk ke mobil agar bisa leluasa berbicara dengan Kak Zeline.
"Berarti waktu itu kau membohongi Mami dan Papi? Bukankah kata Uncle Matt waktu itu kau sudah menyentuh Gretha dan membawanya kabur ke villa? Makanya Dad Matthew minta pertanggungjawabanmu untuk menikahi Gretha karena kau terlanjur membobol gawang Gretha!"
__ADS_1
"Jadi yang benar yang mana, Sakya Sak beras?"
"Ck! Panggil Sakya saja bisa tidak? Atau kalau mau lebih panjang Sakya Arsenio Abraham! Jelas?" Omel Sakya yang mulai lesal pada sang kakak yang selalu memelesetkan namanya. Lama-lama Sakya panggil Zezel juga kakaknya itu!
"Jadi sebenarnya, kau sudah menyentuh Gretha atau belum saat kalian menikah?"
"Belum!" Jawab Sakya to the point.
"Lalu kenapa kau bilang sydah waktu itu dan mau-mau saja menikah dadakan dengan Gretha? Seperti tak ada wanita lain saja yang lebih dewasa atau sebaya denganmu!"
"Kenapa iya-iya saja disuruh menikahi bocah ingusan kemarin sore yang tingkahnya bikin geregetan?"
"Anggap saja takdir. Toh sekarang Sakya juga mencintai Gretha dan sudah terGretha-Gretha juga!" Ujar Sakya membuat pengakuan blak-blakan.
"Cih! Sok bucin!"
"Kakak juga bucin sama Bang Armand yang jelas-jelas lebih muda dari Kak Zeline! Tapi Sakya kan nggak pernah meledek!" Sergah Sakya menanggapi ledekan Kak Zeline.
"Setidaknya Armando sikapnya dewasa dan tidak seperti istrimu yang mirip bocah itu!"
"Iya, iya! Yang pacarnya dewasa! Kapan nikah jadinya? Kan kak Armand dan Kak Zeline sudah sama-sama dewasa! Masa kalah sama Gretha yang masih remaja lulus SMA tapi sudah menikah," kekeh Sakya yang akhirnya berhasil menyisun kalimat ledekan untuk Zeline.
"Sekali lagi kau bertanya kapan aku nikah, aku akan langsung mengutukmu jadi Sak semen!"
Sakya tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Kak Zeline barusan. Dasar Nona direktur somplak!
"Baiklah, tidak jadi!" Sakya masih saja terkekeh.
"Oh ya, Kak! Sakya mau tanya sesuatu." Ujar Sakya yang akhirnya ingat pada ngidamnya Gretha tadi.
"Tanya apa?"
"Kak Zeline tahu permen kapas raksasa yang bentuk bunga itu?" Sakya sedikit mendeskripsikan bentuk dari permennkapas yang tadi ditunjukkan oleh Gretha melalui foto.
"Banyak yang jual di mall! Kenapa? Greget minta permen kapas? Dasar bocah! Minta kok permen kapas!" Cerocos Zeline yang tak lupa mencibir Gretha juga.
Ya ya ya!
Begitulah Kak Zeline.
"Kok tahu kalau Gretha minta permen kapas, Kak? Udah kadi bestie sekarang?" Ledek Salya pada sang kakak.
"Diiih! Males bestian sama Greget!"
Sakya hanya tertawa mendengar jawaban dari Zeline.
"Jadi permennya ada di mall, ya, Kak!" Tanya Sakya sekali lagi memastikan.
"Iya, ada! Beliin sana! Sekalian aku titip, ya!"
Sakya sontak tergelak mendengar kata-kata terakhir Kak Zeline.
"Tadi bilangnya itu jajanan bocah! Kok Kak Zeline mau makan juga?" Tanya Sakya meledek.
"Aku hanya mau mencicipi!"
"Baiklah, baiklah! Mau dikirim kemana? Ke kantor?" Tanya Sakya lagi.
"Ke rumah! Aku sudah pulang!"
"Oke!" Pungkas Sakya sebelum pria itu menutup telepon Kak Zeline. Selanjutnya, Sakya nelajukan mobilnya ke arab mall yang tadi dimaksud Kak Zeline.
Baiklah, permen kapas untuk Gretha OTW sebentar lagi!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like.
__ADS_1