Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
SEHARUSNYA


__ADS_3

"Kok keluar dari kamar, Gre?" Tegur Dad Matthew saat melihat Gretha yang celingukan di luar kamar.


"Gretha bosan di kamar, Dad! Pak Dokter belum pulang, ya?" Tanya Gretha yang masih celingukan.


"Belum! Memang tadi Sakya kemana?" Dad Matthew malah balik bertanya pada Gretha.


"Beli testpack kata Mom. Itu lho, Dad! Yang buat cek kehamilan."


"Kata Mom ada kemungkinan Gretha hamil. Nanti perut Gretha bakal jadi besar, Dad! Pasti lucu, ya!" Cerocos Gretha panjang lebar yang hanya membuat Dad Matthew berekspresi datar atau mungkin cenderung tidak senang.


Bukannya menolak rezeki, tapi menilik dari usia Gretha yang masih belia, tentu ada kekhawatiran sendiri di hati Dad Matthew jika sang putri harus hamil sekarang.


"Tapi semoga hasilnya negatif, dan kau tidak hamil, ya!" Ucap Dad Matthew yang langsung membuat Gretha mengernyit.


"Kenapa memang, Dad? Dad tidak suka kalau Gretha hamil, ya?" Tanya Gretha seraya memainkan kedua telunjuknya.


"Bukan begitu, Gre! Tapi kamu itu masih kecil! Dan seharusnya Sakya cukup tahu diri untuk membuatmu tak hamil dulu!"


"Sakya menikahimu di usiamu yang sekarang itu saja sudah keliru!" Ujar Dad Matthew panjang lebar yang masih saja keberatan dengan pernikahan Sakya dan Gretha yang sudah berusia lebih dari satu bulan.


"Sakya menikahi Gretha itu kan karena desakan dari kamu sendiri, Matt! Kenapa seolah-olah kau itu selalu saja menyalahkan Sakya?" Sergah Mom Melody yang tiba-tiba muncul entah darimana.


"Tapi seharusnya Sakya menjelaskan secara detail kejadian malam itu dan tidak iya-iya saja saat aku melimpahkan semua kesalahan kepadanya! Sakya seolah mengambil kesempatan untuk bisa menikahi Gretha-"


"Yang penting kan Sakya itu mencintai Gretha dan tidak menyia-nyiakan Gretha! Semua keluarga Sakya juga baik dan menerima Gretha dengan tangan terbuka. Menyayangi Gretha juga sampai Gretha betah berada di sana."


"Kau itu saja yang masih cemburu pada Sakya, masih seperti tak rela melepaskan putrimu menjadi istri dari Sakya. Masih suka mengatur-atur, uring-urinagn kalau Gretha dan Sakya mesra!"


"Seperti kurang jatah saja!" Omel Mom Melody panjang kali lebar yang langsung membuat Dad Matthew terdiam seolah tak punya jawaban untuk membantah.


"Sakya pulang!" Sapaan Sakya, langsung membuat Mom Melody berlalu, meninggalkan Dad yang hanya membisu. Sementara Gretha sudah langsung menyambut sang suami.


"Yeayy! Pak Dokter bawa permen kapas bunga!" Sorak Gretha seraya melompat girang.


"Gretha, Gretha!" Sakya buru-buru mencegah Gretha yang hendak melompat untuk kedua kali.


Yang benar saja, kalau Gretha teenyata hamil dan ustri Sakya ini masih melompat-lompat kan bahaya!


"Ayo duduk dan jangan melompat lagi!" Sakya membimbing Gretha yang sydah memegangi permen kapas raksasa untuk duduk di sofa.


"Besar sekali, Gre? Habis itu nanti?" Tanya Dad Matthew yang akhirnya buka suara juga.


"Habis, Dad! Nanti kalau nggak habis kan ada Pak Dokter yang bantu menghabiskan," jawab Gretha santai sembari terus memakan permen kapas di tangannya.


"Tadi jadi beli testpack-nya, Sakya?" Tanya Mom Melody yang sudah menghampiri Sakya.


"Sudah, Mom!" Sakya menunjukkan kantung berisi testpack pada sang mertua.


"Gretha biar menghabiskan permen kapasnya dulu, Mom," ujar Sakya selanjutnya yang hanya membuat Mom Melody mengangguk.


"Kamu tahu cara pakainya, kan? Nanti kamu bantu Gretha melakukan tes-"


"Kenapa bukan kamu saja, Mel?" Sela Dad Matthew yang seperti masih saja menyimpan dendam kesumat pada Sakya.

__ADS_1


"Sakya kan suaminya Gretha, Matt! Jadi mau aku atau Sakya yang membantu Gretha ya sama saja!"


"Tapi Sakya kan bukan dokter kandungan! Jadi dia mana tahu!" Dad Matthew mendelik-delik seolah sedang kesal.


"Kecuali dia sudah ada pengalaman dengan wanita lain," lanjut Dad Matthew lagi dengan nada sinis.


"Ck! Semua tenaga kesehatan meskipun bukan dokter kandungan juga pasti paham!"


"Dan apa kau tadi sedang menyindir dirimu sendiri tentang pengalaman bersama wanita lain?" Ujar Mom Melody panjang lebar seraya bersedekap pada sang suami yang langsung bungkam.


"Mom, Dad! Kenapa dari tadi ribut terus?" Keluh Gretha menatap bergantian pada Mom Melody dan Dad Matthew.


"Dad mau makan permen kapas, biar nggak marah-marah melulu?" Tawar Gretha seraya menyodorkan permen kapasnya.


"Tidak usah, Gre!" Tolak Dad Matthew cepat.


"Coba saja boleh, Dad!"


"Sini, Gretha suapi! Enak, lho!" Gretha menyodorkan sepotong permen kapas warna biru pada Dad Matthew.


"Cobain, Dad! Putrinya udah nawarin itu!" Timpal Mom Melody dengan nada sinis.


Dad Matthew akhirnya membuka mulut dan mencicipi permen kapas Gretha.


"Yeay! Enak kan, Dad?" Gretha menaik turunkan alisnya.


"Manis sekali!" Komentar Dad Matthew seraya meringis.


"Biar sikap Dad semakin manis juga pada Sakya dan tidak ketus terus, ya!" Ucap Mom Melody seraya mencubit gemas pipi Dad Matthew.


"Mom bisa aja!" Kikik Gretha yang sudah menggeser duduknya dan semakin dekat dengan Sakya.


"Ck! Apa maksudnya aku harus bersikap manis, Mel?" Tanya Dad Matthew yang kini sudah menyusul Mom Melody ke arah dapur. Samar-samar masih terdengar perdebatan dari orang tua Gretha tersebut.


"Pak Dokter mau?" Tawar Gretha yang ganti menawari Sakya.


"Ya!" Jawab Sakya seraya memotong permen kapas yang tak lagi berbentuk bunga itu, lalu melahapnya.


"Enak, kan?" Gretha meminta penilaian Sakya.


"Iya, enak! Tapi nggak boleh setiap hati karena bisa bikin sakit gigi dan diabetes," pesan Sakya sambil sedikit menerangkan.


"Siap, Pak Dokter!"


"Ngomong-ngomong, ini apa?" Tanya Gretha selanjutnya seraya menunjuk ke kantung berisi testpack yang berada di pangkuan Sakya.


"Testpack," jawab Sakya.


"Oh, yang buat tes apa Gretha hamil apa enggak itu, ya?"


"Coba, mau lihat bentuknya." Gretha yang kepo segera mengeluarkan kemasan testpack dari dalam kantung, lalu membolak-balik benda tersebut.


"Kok cuma garis-garis, Pak Dokter? Nanti ngetesnya gimana? Ditaruh di perut aku?" Tanya Gretha penasaran.

__ADS_1


"Bukan, Gre!'


"Nanti kamu pipis dulu, tapi ditampung di gelasnya ini." Sakya menunjukkan gelas plastik yang juga ada di dalam kantung.


"Trus kita celupin alatnya," jelas Sakya lagi yang langsung membuat Gretha membulatkan bibirnya.


"Tes sekarang boleh, Pak Dokter?" Tanya Gretha yang tiba-tiba merasa begitu antusias.


"Permen kapasnya belum habis," Sakya menunjuk ke permen kapas Gretha yang masih setengah.


"Udah eneg," ringis Gretha yang hanya membuat Sakya menghela nafas.


"Yaudah, kamu cuci tangan dulu, trus kita tes di kanar saja!" Ujar sakya akhirnya setelah membungkus kembali permen kapas Gretha.


"Siap!" Gretha sudah bangkit berdiri lalu melesat cepat ke arah dapur untuk cuci tangan. Sementara Sakya langsung pergi ke kamar duluan.


"Pak Dokter!" Panggil Gretha yang sydah menyusul ke kamar.


"Sudah?"


"Sudah!" Jawab Gretha bersemangat.


Sakya langsung membimbing Gretha untuk masuk ke kamar mandi, lalu menyuruh istrinya itu buang air kecil dan menampungnya.


"Pak Dokter nggak tunggu di luar aja? Gretha nggak bisa pipis kalau dilihatin," celetuk Gretha yang langsung membuat Sakya tertawa kecil. Sakya akhirnya keluar dari dalam toilet dan membiarkan Gretha sendiri. Tak berselang lama, Gretha sudah keluar seraya membawa gekas berisi air seninya.


"Sudah!" Gretha menggoyang-goyangkan gelas tadi di depan Sakya.


"Eits! Jangan digoyang-goyang, Sayang! Nanti tumpah!" Ucap Sakya yang langsung dengan cepat mengambil alih gelas tadi. Sakya meketakkan gelas tadi di atas ts meja di dalam kamar mandi, lalu membuka bungkus testpack. Sementara Gretha hanya diam menyimak saat Sakya mulai mencelupkan bilah testpack ke dalam air seni Gretha.


"Nanti kalau hamil garisnya dua, ya?" Tanya Gretha setelah membaca petunjuk di kemasan testpack.


"Iya. Kira tunggu sebentar," ujar Sakya seraya merangkul pundak Gretha. Jantung Sakya sudah berdegup tak karuan,menunggu hasil tes yang entah kenapa bisa begitu lama.


Satu garis merah sudah terlihat, lalu sedetik kemudian.


"Pak Dokter! Dua garis!" Gretha bersorak duluan saat testpack menunjukkan dua garis merah dengan sangat jelas.


Gretha hamil!


"Dua garis merah!"


Sakya langsung mendekap erat Gretha, dan tak berhenti menciumi wajah istrinya tersebut.


"Mmmuuaaah! Mmmuaaah! Mmmuuah!"


"Selamat, Sayang!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like


__ADS_2