Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
TAK BISA DIHUBUNGI


__ADS_3

Dua bulan kemudian....


"Pak Dokter mau kemana?" Gretha menggelayuti Sakya yang hendak bangun untuk meraih ponselnya yang ia charger di atas nakas.


"Aku ambil ponsel sebentar, Gre!"


"Eeee! Jangan kemana-mana!" Rengek Gretha lagi masih tetap menggelayuti Sakya.


Setelah sedikit bersusah payah, Sakya akhirnya berhasil meraih ponselnya. Pria itu segera menyalakan ponselnya, dan tak berselang lama puluhan pesan langsung memenuhi ponsel Sakya. Kebanyakan dari Kak Zeline yang memang sedang berada di luar kota untuk liburan. Kakak kandung Sakya itu memutuskan pergi berlibur, setelah hubungannya bersama sang kekasih kandas begitu saja.


Lima tahun pacaran dan akhirnya putus begitu saja karena ternyata Armando berselingkuh di belakang Kak Zeline selama ini.


Kak Zeline yang malang!


Sakya segera menelepon Kak Zeline yang mungkin sekarang sedang berubah menjadi singa. Semalam, Sakya lupa menyalakan ponselnya karena ia sibuk memanjakan Gretha yang memang berubah manja akhir-akhir ini


"Pak Dokter telpon siapa?" Tanya Gretha yang sekarang sedang menyusupkan kepalanya di pelukan Sakya.


"Kak Zeline," jawab Sakya seraya mengusap lembut kepala Gretha.


Cukup lama, hingga akhirnya telepon Sakya diangkat oleh Kak Zeline.


"Kak-"


"Sakya! Kamu itu kalau nggak niat nyariin aku tiket liburan ya nggak usah nyariin!"


"Sok-sokan booking-in kamar di resort, tapi pas tengah malam aku datang,kamar penuh! Malam-malam aku kqyak gelandangan!"


Sakya meringis mendengar cerocosan panjang kali lebar dari Kak Zeline di ujung telepon.


"Iya, Sakya minta maaf, Kak! Sakya juga baru terima pesannya tadi. Trus uangnya tiba-tiba di refund. Semalaman Sakya nggak buka ponsel," ucap Sakya akhirnya setelah mendapat kesempatan untuk bicara.


"Iyalah nggak buka ponsel! Pasti sibuk main kuda-kudaan sama Gretha!"


Sakya refleks terkekeh mendengar cibiran Kak Zeline perihal kuda-kudaan. Sepertinya Kak Zeline sudah paham sekali.


Tinggal cari lawan saja kakak kandung Sakya itu!


"Kenapa ketawa, Pak Dokter? Apa yang lucu?" Tanya Gretha berbisik-bisik.


"Kamu yang lucu," jawab Sakya berbisik juga. Tak lupa Sakya juga mencolek hidung Gretha hingga wajah istrinya itu bersemu merah.


"Sakya!!"


"Iya, Kak!"


"Trus sekarang kak Zeline nginep dimana? Udah dapat resort pengganti? Tadi Sakya langsung konfirmasi dan katanya pihak resort sudah memberikan kakak kamar di resort kedua," Cecar Sakya panjang lebar yang sudah seperti detektif saja. Perasaan yang pekerjaannya detektif itu Haezel, sepupu Sakya.


Sakya cukup jadi dokter ortopedi saja!


"Iya! Tapi letaknya di pulau yang berbeda. Tengah malam terpaksa naik speedboat. Masih bagus aku nggak masuk angin!"


Sakya kembali terkekeh mendengar Jawa sang kakak.


"Kan jadi dapat pengalaman baru, Kak!" Seloroh Sakya tetap sambil terkekeh.


"Ck! Udah ah! Aku mau keliling pulau dulu mumpung dapat fasilitas tour guide gratis dari resort."


Tuut! Tuut!


Telepon terputus begitu saja padahal Sakya masih ingin bicara banyak hal pada sang kakak.


Ya, sudahlah!


Yang penting Kak Zeline baik-baik saja dan semoga liburan kali ini bisa menjadi penawar patah ahti Kak Zeline. Syukur-syukur kakak kandung Sakya itu sekalian bertemu jodohnya.


"Loudspeaker, Pak Dokter! Aku mau ngomong sama Kak Zeline juga!" Pinta Gretha seraya mengambil ponsel Sakya.


"Sudah selesai yang telepon. Kak Zeline mau jalan-jalan katanya," tukas Sakya seraya mengusap kepala Gretha sekali lagi.


"Yah!" Gretha mendes*h kecewa.


"Gretha jadi pengen jalan-jalan juga," rengek Gretha selanjutnya.


"Yasudah! Ayo mandi dan bersiap!"


"Aku praktek siang hari ini!" Ujar Sakya dengan nada lebay yang langsung membuat Gretha bersorak senang.


"Yeay! Ayo jalan-jalan!" Seru Gretha penuh semangat seraya melepaskan pelukan Sakya. Calon ibu muda itu juga langsung bangkit dari atas tempat tidur dan hendak lari ke kamar mandi.


"Gretha!" Sakya melesat cepat untuk mengejar sekaligus mencegah Gretha lari-larian.

__ADS_1


"Jangan lari atau lompat-lompat! Kau sedang hamil!" Ujar Sakya memperingatkan Gretha yang langsung meringis.


"Gretha lupa, Pak Dokter."


Sakya hanya geleng-geleng kepala, lalu berlutut di depan Gretha dan mengusap perut istrinya tersebut. Tak lupa Sakya juga menciuminya sesekali.


"Geli, Pak Dokter!" Kikik Gretha seraya merem*s rambut Sakya.


"Mmmuuah!" Sakya mencium perit Gretha cukup lama,sebelum akhirnya pria itu kembali berdiri lagi.


"Ayo mandi!" Ajak Sakya selanjutnya pada Gretha.


"Gendong!" Rengek Gretha yang sudah mengalungkan kedua lengannya ke leher Sakya. Padahal jarak kamar mandi hanya tinggal beberapa langkah saja. Namun Sakya akhirnya tetap menggendong Gretha dan mrmbawanya masuk ke dalam kamar mandi, lalu memandikannya sekalian.


****


Sakya menggendong Gretha yang sudah terlelap keluar dari mobil, lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah sepi, karena Papi Zayn dan Mami Thalita sedang ada acara di luar.


Sakya langsung membawa Gretha masuk ke kamar,dan membaringkan istrinya itu le atas ranjang dengan hati-hati. Pasangan suami istri itu memang baru pulang dari restorant favorit Gretha. Itu juga alasan Gretha langsung terlelap sepanjang perjalanan pulang. Perut Gretha sudah kenyang!


"Jangan pergi, Pak Dokter!" Rengek Gretha seraya menahan tangan Sakya yang hendak beranjak. Sakya tak jadi beranjak dan langsung mendekap Gretha. Tak lupa Sakya juga mengusap lbit kepala Gretha agar istrinya itu kembali terlelap.


Sakya sudah memejamkan mata dan hampir ikut terlelap juga,saat tiba-tiba dering ponselnya membuat Sakya kaget. Sakya segera bangkit dengan hati-hati, lalu mengangkat telepon yang ternyata dari salah satu rekannya tersebut.


Selesai mengangkat telepon, Sakya baru ingat kalau Kak Zeline akan pulang besok. Jadi Sakya memutuskan untuk mengirim pesan pada kakaknya tersebut.


"Kok tidak terkirim?" Gumam Sakya saat melihat satu centang abu-abu di pojok pesannya pada Kak Zeline. Sakya lalu ganti menghubungi nomor sang kakak. Namun nomor malah tidak aktif.


"Kak Zeline kemana, ya?" Gumam Sakya bertanya-tanya. Sakya yang merasakan tenggorokannya kering, segera keliar kamar setelah memastikan kalau Gretha masih terlelap. Pria itu pergi ke dapur dan mengambil minum,masih sambil berusaha menelepon nomor Kak Zeline.


Masih saja gagal.


"Kak Zeline kemana, sih?" Gumam Sakya lagi mulai kesal. Sakya akhirnya ganti menghubungi resort tempat Kak Zeline menginap,saat sebuah teguran membuat jantung Sakya nyaris meloncat keluar.


"Belum tidur, Sakya?" Tanya Mami Thalita yang sepertinya baru sampai. Tak berselang lama, Papi Zayn sudah ikut terlihat.


"Belum, Mi!"


"Masih berusaha menghubungi Kak Zeline," jawab Sakya sembari terima mengutak-atik ponselnya.


"Zeline jadi pulang besok, Sakya?" Gantian Papi Zayn yang melontarkan pertanyaan pada Sakya.


"Tidak bisa dihubungi bagaimana? Tidak ada sinyal atau ponselnya mati? Kapan terakhir kali kamu menelepon Zeline?" Cecar Papi Zayn pada sang putra.


"Tadi pagi, Sakya masih bisa bertukar pesan dengan Kak Zeline. Lalu barusan pas Sakya ingin menelepon, nomornya sudah tidak aktif," jelas Sakya yang malah membuat Papi Zayn terlihat semakin khawatir.


"Kamu telepon ke resort-nya!" Perintah Papi Zayn kemudian.


"Iya, ini Sakya lagi cari info tentang resort tempat Kak Zeline menginap, Pi!" Jawab Sakya yang kembali mengutak-atik ponselnya.


"Cari info bagaimana lagi? Jelas-jelas kalu yang memesankan tiket liburan untuk Zeline! Kamu yang mencarikan resort juga, kan?"


"Sakya lupa, kalau Kak Zeline pindah resort karena resort yang Sakya pesan ternyata kamarnya penuh, Pi!" Jelas Sakya seraya meringis.


"Bagaimana bisa, Sakya? Kenapa kamu bisa tidak teliti? Kakak kamu itu seorang perempuan! Kalau terjadi apa-apa padanya bagaimana?" Cecar Papi Zayn lagi mengomeli Sakya panjang lebar.


Ya, ya, ya!


Begitulah Papi Zayn kalau sudah menyangkut keselamatan putri kesayangannya. Hal wajar sebenarnya,karena jika nanti Sakya sudah jadi seorang ayah, Sakya juga pasti akan bersikap seperti Papi Zayn juga. Aplagi akalu anak Sakya perempuan nantinya.


"Ada apa, Pi? Kenapa marah-marah?" Tanya mami Thalita yang sudah kembali dari kamar, setelah mendengar omelan keras Papi Zayn. Tadinya wanita paruh baya itu memang langsmasukkamar setelah menyapa Sakya.


"Sakya ini! Mencarikan resort untuk liburan Zeline tapi ceroboh dan tidak teliti-"


"Sakya minta maaf, Pi! Ini Sakya juga sedang mencari informasi tentang keberadaan Kak Zeline!" Sela Sakya cepat melakukan pembelaan.


"Mencari info apa? Zeline kemana memangnya, Sakya?" Sekarang gantian Mami Thalita yang mencecar Sakya.


"Ponselnya tidak bisa dihubungi, Mi!"


"Mungkin Kak Zeline lupa bawa charger, jadi ponselnya mati," Sakya mengendikkan kedua bahunya dan masih berusaha untuk berpikir positif, walaupun sebenarnya Sakya juga panik sekarang.


Sakya akhirnya berhasil mendapatkan nomor telepon resort tempat Zeline menginap. Segera pria itu menghubungi resort untuk memastikan kalau Kak Zeline sudah kembali ke resort.


"Maaf, Pak! Tapi Nona Zeline belum kembali ke resort. Nona Zeline pergi-"


"Pergi bersama siapa? Kalian tahu?" Tanya Sakya cepat menyela penjelasan petugas resort.


"Bersama tour guide yang ia sewa, Pak! Kemarin sore pergi naik speedboat, sepertinya hendak melihat sunset."


"Tour guide? Ada wisatawan lain juga berarti?" Tanya Sakya masih berusaha berpikir positif.

__ADS_1


"Tidak ada, Pak! Mereka hanya pergi berdua."


"Berdua saja? Apa kalian tahu kemungkinan mereka kemana?" Tanya Sakya lagi yang akhirnya kembali merasa cemas.


Pergi sejak kemarin dan belum kembali hingga sekarang. Bagaimana Sakya tak cemas?


"Mungkin ke salah satu pulau di gugus kepulauan, Pak!"


"Baiklah! Aku akan meninggalkan nomor dan segera hubungi aku jika kakakku sudah kembali ke resort!" Pesan Sakya seraya menyebutkan nomor ponselnya. Sakya lalu mengakhiri telepon dan menyugar rambutnya sendiri.


"Bagaimana?" Tanya Papi Zayn cepat setelah Sakya menutup telepon.


"Katanya kemungkinan Kak Zeline pergi ke salah satu pulau bersama seorang tour guide, dan tidak ada sinyal di pulau tersebut. Makanya Sakya tak bisa menghubungi ponsel Kak Zeline, Pi!" Terang Sakya panjang lebaran yang langsung membuat Papi Zayn ikut menyugar rambut.


"Pak Dokter, ada apa? Kenapa semua cemas?" Tanya Gretha yang baru keluar dari kamar. Istri Sakya itu langsung menggamit lengan Sakya dengan manja dan bergelayut disana.


"Tidak ada apa-apa. Kamu kok bangun lagi, Sayang?" Tanya Sakya seraya merapikan rambut Gretha.


Sakya pikir Gretha akan tidur sampai besok pagi.


"Pak Dokter ilang soalnya. Aku kira kemana," jawab Gretha dengan raut tanpa dosa seperti biasa.


Langsung terdengar decakan dari Papi Zayn yang sepertinya cemburu melihat keromantisan Sakya dan Gretha.


"Ayo ke kamar lagi, Pak Dokter!" Ajak Gretha selanjutnya seraya menarik lengan Sakya.


Samar-samar, Sakya masih bisa mendengar cibiran Papi Zayn pada Gretha. Namun Sakya acuh saja dan langsung masuk kamar menuruti permintaan Gretha.


"Kamu lapar? Kok bangun?" Tanya Sakya seraya menutup pintu kamar.


"Enggak! Aku cuma nggak bisa bobok kalau nggak dipeluk Pak Dokter," jawab Gretha yang sudah melingkarkan lengannya ke pinggang Sakya dari arah belakang. Sementara Sakya masih sibuk mengunci pintu.


"Tadi udah nyenyak padahal." Kekeh Sakya seraya berbalik, lalu menangkup wajah Gretha. Sakya mendadak lupa pada Kak Zeline yang masih belum jelas keberadaannya.


Berada di samping Gretha memang kerap membuat Sakya lupa segalanya!


"Cium!" Gretha memonyongkan bibirnya ke arah Sakya.


"Mmmuah!" Sakya mencium bibir Gretha cukup lama, sebelum akhirnya ciuman Sakya malah dibalas dengan begitu agresif oleh Gretha.


Gretha juga tiba-tiba sudah melompat ke pelukan Sakya, yang sontak membuat Sakya kaget.


"Gretha! Astaga!"


"Ada apa?" Gretha yang kini bergelayut pada Sakya mengernyit bingung.


"Jangan lompat-lompat, Sayang! Kamu sedang hamil!" Sakya sekali lagi harus mengingatkan Gretha yang masih kerap lupa dengan kehamilannya. Sakya lalu membopong Gretha dan mendudukkan istrinya itu ke atas tempat tidur.


"Mau main kuda-kudaan lagi?" Tanya Gretha yang wajahnya kembali berubah penuh semangat.


"Tidak! Tidak boleh sering-sering!" Jawab Sakya cepat.


"Tapi Gretha pengen!" Rengek Gretha lagi manja.


"Ya, Pak Dokter, ya! Tadi malam kan udah libur," rayu Gretha lagi.


"Panggil sayang dulu!" Sakya mengajukan syarat.


"Pak Dokter Sayang!" Panggil Gretha manja. Sakya langsung menggeleng.


"Nggak pakai Pak Dokter!"


"Sakya sayang, gitu!" Sakya mengajari Gretha.


"Nggak sopan! Kan Pak Dokter lebih tua dari Gretha! Panggil Oppa saja bagaimana?" Usul Gretha yang langsung membuat Sakya melebarkan kedua matanya.


"Emang aku udah kayak opa-opa?" Sergah Sakya tak terima.


"Bukan! Itu panggilan kayak di drakor!" Jelas Gretha seraya terkikik. Sakya lalu berpikir sebentar sebelum akhirnya pria itu menggeleng.


"Yaudah! Panggil Pak Dokter saja!" Putus Sakya akhirnya pasrah.


Sepertinya memang lebih keren panggilan Pak Dokter ketimbang Oppa!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir

__ADS_1


__ADS_2