Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
BIMBANG


__ADS_3

"Sakya!" Geram Dad Matthew yang hendak menjewer telinga Sakya,saat kemudian terdengar celetukan tak terduga dari Noah.


"Kuda-kudaan apa, Kak?"


Tapi sejak kapan adik Gretha itu sudah tiba di rumah?


Bukankah tadi Noah sekolah?


"Noah penasaran!" Ucap Noah lagi dengan wajah yang sudah sangat antusias, mirip sekali dengan Gretha yang selalu ingin tahu.


Ya, mereka kan satu klan!


"Ceritain, dong, Kak!" Desak Noah lagi masih dengan wajah antusias tanpa dosa.


"Kenapa kau sudah pulang, Noah? Kau bolos sekolah?" Tegur Dad Matthew pada sang putra.


"Minggu ini tidak ada pelajaran, Dad! Kan baru selesai UTS!" Jelas Noah, sebelum pemuda itu kembali bertanya pada Gretha dan Sakya.


"Jadi, gimana kuda-kudaannya, Kak? Seru?" Tanya Noah lagi kepo.


"Noah!" Tegur Dad Matthew galak.


"Noah penasaran, Dad!" Sergah Noah beralasan.


"Enak pokoknya," cerita Gretha yang malah membuat Noah semakin penasaran.


"Sakya, bukankah tadi jau mau menjenguk mamimu?" Ujar Dad Matthew seraya memberikan kode pada Sakya agar secepatnya mengajak Gretha pergi, sebelum putri kesayangan Dad Matthew itu bercerita mengenai kuda-kudaan pada Noah. Bisa pusing tujuh keliling Dad Matthew kalau putranya yang polos ikut tercemar otaknya karena virus kuda-kudaan!


"Iya, Dad! Sakya pergi dulu!" Pamit Sakya cepat seraya merangkul Gretha, lalu sedikit menyeret istrinya itu keluar dari rumah.


"Tapi Gretha belum selesai cerita pada Noah, Pak Dokter!" Ronta Gretha yang berusaha menyentak rangkulan Sakya.


"Nanti Dad yang cerita ke Noah!"


"Ayo ke rumah Mami!" Paksa Sakya yang akhirnya terpaksa membopong Gretha karena istrinya itu terus menolak ajakan Sakya.


Dasar Gretha keras kepala!


"Bye, Dad! Bye, Noah!" Seru Gretha berpamitan seraya melambaikan tangan, sebelum Sakya memasukkan istrinya itu ke dalam mobil.


****


"Mami tidak mau makan, Pi!" Tolak Mami Thalita keras kepala, saat Papi Zayn membujuk wanita paruh baya itu untuk makan.


"Trus bagaimana Mami mau sembuh, kalau Mami tidak makan?" Ucap Papi Zayn yang mulai jengah membujuk sang istri.


"Sakya kan sudah bertanggung jawab dan menikahi Gretha, Mi! Jadi sudah tak perlu dipikirkan lagi, perihal kenakalan Sakya-"


"Bukan masalah itu!" Rengut Mami Thalita yang terlihat begitu merana.


"Lalu masalahnya apa?" Tanya Papi Zayn bingung.


"Kenapa Sakya itu mau-mau saja tinggal di kediaman Orlando, Pi!"


"Seharusnya kan Gretha yang tinggal disini! Bukan terbalik begini!" Keluh Mami Thalita menyampaikan segala uneg-unegnya.


"Iya mungkin Matthew masih khawatir kalau-kalau putrinya akan menderita jika tinggal disini-"


"Memangnya Mami ini mertua yang kejam?" Sergah Mami Thalita merasa tak terima dengan jawaban Papi Zayn.


"Iya, Papi juga tidak tahu, Mi!"


"Ini kan kali pertama Mami menjadi mertua," jawab Papi Zayn akhirnya karena merasa bingung.


"Jadi mertua tapi seperti bukan mertua!"


"Menantu Mami saja tidak ada disini!" Omel Mami Thalita lagi merasa kesal.


"Papi akan telepon Sakya kalau begitu, agar Sakya membawa Gretha kesini, menginap disini, agar mami senang!" Papi Zayn sudah membuka ponselnya saat tiba-tiba terdengar sapaan dari ambang pintu kamar.


"Mi!"


"Sakya!" Pekik Mami Thalita yang langsung mengulurkan kedua tangannya. Pun dengan Sakya yang langsung menghambur ke pelukan sang mami.


"Akhirnya kami pulang, Sakya!" Mami Thalita langsung terlihat sumringah sekarang.


"Mami sakit apa? Kata Ethan, Mami kemarin pingsan? Kok nggak ngabarin Sakya?" Cecar Sakya seraya memeriksa kondisi sang mami.


"Mami kangen sama kamu." Mami Thalita kembali memeluk sang putra.


"Padahal Sakya baru pindah dua hari ke rumah Dad Matthew," Sakya malah terkekeh sekarang.

__ADS_1


"Tapi mulai sekarang, kamu dan Gretha akan tinggal disini, kan?" Tanya Mami Thalita memastikan.


"Enggak, Mi! Sakya dan Gretha tetap tinggal di rumah Dad Matthew," jelas Sakya yang langsung membuat Mqmi Thalita merengut dan mendorong putra kesayangannya tersebut.


"Kamu sudah nggak sayang Mami berarti, Sak!"


"Sak semen!" Omel Mami Thalita kesak ya g malah memanggil Sakya sak semen. Terang saja hal itu langsung membuat Papi Zayn menahan tawa.


"Kok Sak semen, Mi? Yang biasa manggil Sakya begitu kan cuma Papi dan Kak Zeline," protes Sakya merasa tak terima.


"Kok sekarang mami ikut-ikutan," ujar Sakya lagi yang kini sudah merengut, mirip Gretha kalau sedang merajuk.


"Mami kesal sama kamu!" Mami Thalita bersedekap pada Sakya.


"Udah menikah dadakan, milih istri yang masih dibawah umur, trus habis nikah bukannya memboyong istri kamu kesini, malah kamu yang pindah ninggalin Mami!" Omel Mami Thalita mengungkapkan semua uneg-unegnya pada Sakya.


"Sudah, Mi! Jangan emosian terus! Nanti tensi Mami naik lagi," nasehat Papi Zayn seraya mengusap punggung sang istri dan berusaha menenangkannya.


"Sakya tidak pernah ninggalin Mami!"


"Ini Sakya pulang nengokin Mami," ucap Sakya mencari pembenaran.


"Pulang lalu tinggal disini, atau hanya pulang sebentar, lalu nanti kembali lagi ke rumah mertuamu itu?" Cecar Mami Thalita yang langsung membuat Sakya meringis.


"Iya, Sakya nanti balik ke rumah Dad Matthew lagi, Mi!"


"Pak Dokter!" Suara Gretha dari ambang pintu kamar, sesaat mengalihkan perdebatan Sakya dan Mami Thalita.


"Mami! Mami sakit apa?" Tanya Gretha selanjutnya seraya menghampiri Mami Thalita yang wajahnya masih ketus.


"Sakit hati!" Jawab Mami Thalita galak.


"Sakit hati sama siapa, Mi? Ada yang nyakitin Mami, ya? Atau ada yang gosipin Mami di belakang Mami?"cecar Gretha penuh selidik dan penuh rasa ingin tahu.


"Kamu itu yang nyakitin Mami!"


"Jelas-jelas status kamu itu adalah istri Sakya sekarang, Gre!"


"Jadi sudah seharusnya kamu itu tinggal disini! Di rumah Sakya!"


"Bukannya malah menyuruh Sakya tinggal di rumah kamu dan ninggalin Mami!" Cerocos Mami Thalita yang malah membuat Gretha terlihat bingung.


"Mi, sudah!"


"Iya, Mi! Cuma masalah Sakya dan Gretha harus tinggal dimana, Mami sikapnya jadi lebay dan marah-marah begitu!" Timpal Sakya ikut-ikutan mengomentari sikap lebay Mami Thalita.


"Nanti Sakya akan bicara pada Dad Matthew agar diijinkan menginap disini seminggu, lalu pulang ke sana seminggu lagi-"


"Tapi Pak Dokter!" Gretha menyela solusi dari Sakya.


"Tapi apa, Gre?"


"Di sini kan masih ada Aunty Zeline. Nanti Aunty Zeline marah-ma-"


"Aunty Aunty!" Zeline tiba-tiba sudah muncul di kamar Mami Thalita entah lewat mana.


Ajaib sekali.


"Kamu pikir aku ini Aunty-mu!" Zeline hendak menoyor Gretha saat Wanita itu sudah menjerit kencang.


"Aaaaaa! Pak Dokter! Gretha mau dianiaya sama Aunty Zeline!" Gretha langsung bersembunyi di balik punggung Sakya yang kini malah menahan tawa.


"Ish! Sudah dibilang jangan panggil Aunty, Greget!" Omel Zeline yang sepertinya merasa geregetan sekali pada Gretha.


"Kok Greget! Nama aku kan Gretha, Au-


"Eh, Kak Zeline maksudnya," rengut Gretha seraya memainkan kedua telunjuknya.


"Makanya, jangan panggil Aunty Aunty lagi!"


"Aku bukan aunty-mu!" Gertak Zeline galak seraya mendelik pada Gretha yang kembali bersembunyi di balik punggung Sakya.


"Sudah!" Bentak Mami Thalita pada anak dan menantunya yang malah ribut di kamar.


"Keluar kalian semua dari kamar Mami!"


"Mami pusing mendengar cerocosan kalian itu!" Gerutu Mami Thalita selanjutnya seraya mengusir orang-orang agar tak lagi berdebat di kamarnya.


"Keluar kalian semua!" Papi Zayn ikut-ikutan mengusir Sakya dan Zeline yang baru datang.


Sakya segera menarik tangan Gretha, lalu keluar dari kamar Mami Thalita. Pun dengan Zeline yang juga sudah ikut keluar.

__ADS_1


"Dasar Greget!" Zeline tiba-tiba sudah menoyor kepala Gretha, dan sontak istri Sakya itu langsung merengut sekaligus merengek pada Sakya.


"Pak Dokter! Kok Gretha dipanggil Greget, sih?" Adu Gretha dengan raut wajah lebay menggemaskan.


Duh, Sakya jadi ingin menciumi wajah Gretha sekarang.


"Kelakuan kamu itu bikin gregetan!" Geram Zeline yang sudah mengayunkan tangannya ke arah Gretha yang buru-buru bersembunyi di balik punggung Sakya.


"Aaaaa! Gretha mau dianiaya!" Teriak Gretha lebay yang malah membuat Sakya tergelak.


"Ck! Siapa juga yang mau menganiayamu!" Decak Zeline kesal. Kakak kandung Sakya itu kini sudah ganti bersedekap.


"Kakak tumben jam segini sudah pulang?" Tanya Sakya mengalihkan pembicaraan.


"Tadinya mau melihat Mami. Eh, malah diusur gara-gara Greget ini!" Jawab Zeline seraya bersedekap. Kakak kandung Sakya itu terlihat masih geram pada Gretha.


"Gretha, Kak!" Koreksi Sakya membenarkan panggilan Zeline pada Gretha.


"Greget!"


"Greget! Greget! Greget!" Geram Zeline yang langsung membuat Gretha merengut kesal.


"Ngomong-ngomong, kakak juga tak memberitahu Sakya kalau Mami sakit. Pada kenapa, sih?" Tanya Sakya lagi bingung.


"Mom sakit gara-gara kamu nggak mau tinggal disini bersama Greget!"


"Gretha, Aunty-"


"Aaaaaa!" Jerit Gretha lagi saat Zeline sudah mengayunkan tangannya ke arah Gretha dan siap memukul istri Sakya tersebut.


"Kak Zeline!" Ucap Sakya tegas, mengajari Gretha cara memanggil Zeline secara baik dan benar. Jika Gretha terus memanggilnya Aunty, bisa-bisa Kak Zeline ikut terkena darah tinggi juga seperti Mami Thalita.


"Iya, Kak Zeline!"


"Maaf!" Ucap Gretha seraya merengut dan mengulurkan tangan ke arah Zeline.


"Apa ini? Mau minta duit?" Tuduh Zeline berprasangka.


"Salim, Kak! Kan minta maaf," jelas Gretha yang malah membuat Sakya menahan tawa.


"Oh! Bilang makanya!" Zeline segera menyambut tangan Gretha, lalu istri Sakya itu mencium punggung tangan sang kakak ipar.


"Maaf," ucap Gretha lagi pada Zeline.


"Iya!"


"Makanya! Jangan bikin orang kesal!" Onel Zeline yang hanya membuat Gretha merengut.


"Jadi, kau dan Greget akan pindah kesini mulai hari ini?" Tanya Zeline lagi pada Sakya.


"Kok Greget lagi, Pak Dokter?" Adu Gretha seeaya merengut dan Sakya hanya bisa menghibur Gretha dengan mengusap-usap punggung sang istri.


"Udah nggak apa-apa! Anggap saja panggilan kesayangan!" Sakya mengusap-usap kepala Gretha dengan sabar.


"Belum, Kak!" Ujar Sakya menjawab pertanyaan Zeline tadi.


"Maksudnya belum? Belum jadi pindah gitu? Nggak sayang Mami kamu, Sak!"


"Sak semen!" Cibir Zeline serata berlalu meninggalkan Sakya.


Ck!


Sakya hanya mampu berdecak dan mendadak jadi dilema. Sakya sebenarnya juga sangat ingin tinggal disini bersama Gretha. Tapi jika ingat pada peringatan serta tatapan tajam Dad Matthew...


"Gretha harus tetap tinggal di rumah ini setelah kalian menikah! Itu dulu perjanjiannya!"


Hhhhh!


Kenapa semua jadi rumit begini?


Sakya mengacak rambutnya sendiru yang tentu saja hal.itu langsung membuat Gretha mengernyit heran sekaligus bertanya-tanya.


"Pak Dokter kenapa ngacak-acak rambut begitu?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2