
"Dad ini! Pak Dokter sudah baik-baik mengobati Dad, malah dimaki-maki!" Omel Gretha yang akhirnya buka suara setelah keheningan beberapa saat di dalam kamar Sakya dan Gretha tersebut.
Tadi setelah Sakya membenarkan punggung Dad Matthew yang keseleo, diiringi jeritan, umpatan, serta makian dari Dad mertua Sakya tersebut. Akhirnya Dad Matthew sudah bisa bangun dan duduk sekarang.
Dan saat ini, Sakya sedang membebat punggung Dad Matthew agar tidak bergeser lagi.
"Sudah selesai!" Lapor Sakya sembari membantu menggerakkan perlahan lengan Dad Matthew.
"Masih sakit," keluh Dad Matthew.
"Hanya sementara, Dad! Nanti sebentar juga hilang sakitnya. Dad bisa minum obat pereda nyeri jika sakitnya tak bisa ditahan," saran Sakya panjang lebar yang sepertinya sabar sekali menangani Dad Matthew ketus.
"Aku tidak selemah itu dan aku tak butuh obat pereda nyeri!" Sergah Dad Matthew nada meninggi. Pria paruh baya itu kemudian meringis karena punggungnya kembali sakit hanya karena ia berbicara dengan nada tinggi.
"Sudah jangan mengomel dan marah-marah, Matt! Nanti punggung kamu geser lagi, repot!" Omel Mom Melody yang malah mengundang kikikan dari Gretha.
"Dad kebanyakan marah-marah! Makanya punggung Dad keseleo!" Seloroh Gretha sok tahu.
"Sok tahu! Mana ada hubungannya!" Decak Dad Matthew tak terima.
"Lalu ini larangannya apa saja selama punggung Dad-mu dibebat, Sakya?" Tanya Mom Melody seraya menghampiri Dad Matthew dan membantu suaminya itu untuk kembali memakai baju.
"Untuk sementara Dad jangan mengangkat yang berat-berat dulu, Mom! Jangan melakukan gerakan jungkir balik atau gerakan lain secara berlebihan. Angkat beban, nge-gym, sebaiknya jangan dulu. Dan yang terpenting tolong olahraga ranjangnya istirahat dulu, Dad!" Ujar Sakya panjang lebar yang langsung membuat Dad Matthew mendelik pada Sakya dan Mom Melody serta Mami Thalita yang malah menahan tawa.
"Olahraga ranjang itu apa, Pak Dokter? Olahraga angkat ranjang begitu? Memang Dad suka angkatin ranjang, ya?" Tanya Gretha dengan ekspresi wajah polos yang sontak membuat semua orang ingin garuk-garuk tembok sekarang.
"Nanti Sakya akan menjelaskannya langsung kepadamu, Gretha! Jadi nanti saja penjelasannya," tukas Mami Thalita memberikan jawaban mengecewakan atas pertanyaan Gretha.
Padahal Gretha sudah sangat penasaran.
"Jelaskan saja teorinya dan tak usah praktek, Sakya!" Pesan Dad Matthew menatap tegas pada sang menantu.
"Memang kenapa kalau sekalian praktek, Dad? Dad tidak ingin buru-buru menimang cucu, begitu?" Seloroh Sakya yang seperti niat sekali memancing emosi Dad Matthew.
"Gretha masih kecil! Pakai pengaman mulai sekarang!" Dad Matthew mendelik dan menuding galak pada Sakya.
"Siap, Dad!" Jawab Sakya cengengesan.
"Kenapa baru sekarang menyuruh menantumu memakai pengaman? Kenapa tidak sejak malam pertamanya bersama Gretha!" Omel Mom Melody berbisik-bisik pada Dad Matthew yang langsung terdiam.
Mom Melody sudah selesai mengancingkan kemeja Dad Matthew sekarang.
"Aku pikir Gretha sudah hamil saat Sakya dan Gretha melakukan malam pertama mereka!"
"Kau itu yang sudah membuatku overthinking dan gegabah mengambil keputusan," lanjut Dad Matthew menyalahkan Mom Melody.
"Oh, jadi sekarang semuanya salahku, begitu?"
"Ck!" Mom Melody berdecak kesal dan akhirnya menyingki dari dekat Da Matthew.
"Jadi, Dad mau menginap di kamar Pak Dokter malam ini?" Tanya Gretha tiba-tiba yang langsung membuat Dad Matthew berdecak.
"Kata siapa? Dad mau pulang!" Jawab Dad Matthew yang hendak bangkit berdiri. Sakya langsung dengan sigap membantu Dad mertuanya tersebut.
"Dad bisa sendiri!" Sentak Dad Matthew pada Sakya yang akhirnya angkat tangan dan tak jadi membantu.
"Gretha, ayo pulang!" Ajak Dad Matthew pada sang putri dengan nada tegas
__ADS_1
"Emmmmm, setelah Gretha pikir-pikir, sepertinya Gretha akan menginap di rumah Mami dan Papi lagi malam ini, Dad!" Ujar Gretha yang sontak membuat Dad Matthew mendelik pada sang putri.
"Pak Dokter!" Gretha cepat-cepat menghampiri Sakya dan menggamit lengan suaminya itu dengan erat.
"Kau sudah janji untuk pulang hari ini, Gre!" Ucap Dad Matthew geregetan.
"Iya, tapi Gretha tiba-tiba berubah pikiran dan masih mau disini malam ini, Dad! Gretha mau melawan Kak Zeline main bilyard!" Tukas Gretha menyampaikan alasannya.
"Sudah bisa main bilyard memang?" Tanya Sakya merasa ragu. Semalam permainan Gretha masih kacau saat Sakya mengajari istrinya ini.
"Sudah, dong! Tadi ditatar langsung sama Papi!" jawab Gretha pamer.
"Oh, ya? Luar biasa!" gumam Sakya yang sebenarnya masih percaya tak percaya.
Ah, tapi Sakya tingga melihat saja malam ini saat pertandingan panas antara Gretha dan Kak Zeline dimulai.
"Kau harus pulang malam ini, Gretha-"
"Matt, sudah!" Mom Melody menyela pemaksaan yang dilakukan Dad Matthew pada Gretha.
"Biarkan saja kalau memang Gretha masih mau disini! Lagipula,Gretha disini kan juga bersama Sakya dan keluarga Sakya! Jadi tidak perlu berlebihan begitu!" Omel Mami Melody panjang lebar.
"Tapi siapa yang akan-"
"Kau juga harus istirahat total agar punggungmu tak terpelintir lagi. Bukan begitu, Sakya?" Mom Melody menyela kalimat Dad Matthew dan bertanya pada Sakya yang langsung mengangguk seraya tersenyum.
"Tepat sekali, Mom!" Ucap Sakya.
"Cari muka!" Dengkus Dad Matthew kesal.
"Muka Sakya nggak kemana-mana kok, Dad! Jadi tidak perlu dicari," timpal Sakya yang malah berkelakar.
"Kami pasti menjaga Gretha dan tak mungkin menyiksanya, Matt! Jadi tak perlu khawatir jika Gretha menginap disini!"
"Aku juga bukan mertua yang kejam," celetuk Mami Thalita yang malah terdengar seperti sebuah sindiran bagi Dad Matthew.
"Mami yang terbaik!" Gretha mengacungkan jempolnya pada Mami Thalita yang langsung balas mengacungkan jempol juga.
"Kau dengar! Putrimu aman sentosa di sini dan ayo kita yang pulang agar kau bisa istirahat dan punggungmu cepat pulih juga!" Ucap Mom Melody dengan nada tegas yang tak lagi dibantah oleh Dad Matthew. Mom Melody segera menggamit lengan Dad Matthew, lalu pasangan paruh baya tersebut keluar dari kamar Sakya, dan langsung turun ke lantai bawah.
Tepat saat Mom Melody dan Dad Matthew sampai di lantai bawah, mereka bertemu dengan Papi Zayn dan Zeline yang baru pulang.
"Apa sedang ada acara, Matt? Tumben kau dan Melody datang kemari?" Sapa Papi Zayn berbasa-basi pada sang besan.
"Kami hanya menjenguk Gretha seben-"
"Auuuwww!" Dad Matthew meringis dan mengaduh, saat Papi Zayn memeluk serta menepuk punggungnya.
"Papi! Jangan menepuk punggung Dad kuat-kuat!" Seru Sakya yang sudah berlari ke arah dua pria paruh baya tersebut.
"Ada apa memang?" Tanya Papi Zayn bingung.
"Punggung Matthew keseleo tadi, beruntung ada Sakya yang sigap dan ahli menangani," jelas Mom Melody pada Papi Zayn yang langsung mengangguk.
Namun sedetik kemudian, Papi Zayn malah menepuk punggung Dad Matthew lagi.
"Papi!"
__ADS_1
"Zayn!"
Pekik semua orang bersamaan dengan jeritan lebay Dad Matthew.
"Aduuuh! Sakit!" Cicit Dad Matthew seraya meringis.
Ya, ya, ya!
Sebelas dua belas dengan Gretha saat bersikap lebay!
"Oh, maaf sekali, Matt! Aku benar-benar lupa dan tak sengaja!" Ucap Papi Zayn penuh sesal.
"Lupa kok berkali-kali. Zeline curiga, Papi punya dendam pribadi pada mertua Sakya itu!" Bisik Zeline di telinga sang ayah. Papi Zayn hanya meringis pada sang putri yang langsung berjalan menuju ke arah tangga.
"Maaf sekali lagi, Matt!" Ucap Papi Zayn lagi pada Dad Matthew.
"Iya, tidak apa-apa!" Jawab Dad Matthew yang nada bicaranya masih terdengar ketus.
"Ngomong-ngomong, kalian sudah mau pulang?'" Tanya Papi Zayn lagi.
"Iya!" Jawab Dad Matthew lagi masih ketus.
"Matt!" Desis Mom Melody menegur sang suami yang nada bicaranya ketus mirip gadis sedang PMS.
"Kita kan memang mau pulang," sergah Dad Matthew menatap tegas pada Mom Melody.
"Nada bicaramu!" Sindir Mom Melody yang ganya membuat Dad Matthew mendengus.
"Dan kau tudak mau mengucapkan sesuatu pada Sakya?" Lanjut Mom Melody lagi.
"Mengucapkan apa?" Dad Matthew pura-pura tak paham.
Gengsi mungkin pada sang mantu yang selalu ia ajak berdebat itu!
"Tidak usah pura-pura amnesia, Matt! Sakya sudah membantu menyelamatkan punggungmu tadi!" Ucap Mom Melody geregetan.
"Ck!" Dad Matthew berdecak dan akhirnya menatap pada Sakya yang sudah tersenyum garing.
Dasar!
"Terima kasih, Sakya!" Ucap Dad Matthew setengah hati.
"Sama-sama, Dad! Semoga lekas pulih punggungnya," ucap Sakya tulus bersamaan dengan suara tepuk tangan yang tiba-tiba terdengar dari tangga.
"Yeay! Dad dan Pak Dokter akhirnya udah akur dan jadi bestie lagi!" Sorak Gretha girang yang hanya membuat sang dad berdecak berulang-ulang.
Dad Matthew dan Mom Melody akhirnya berpamitan pada keluarga Abraham dan pulang tanpa Gretha.
Ya, ya, ya!
Usaha Dad Matthew untuk menjemput Gretha sia-sia belaka tadi!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.