
"Lampu merah! Berhenti!" Dad Matthew memberikan aba-aba pada Sakya yang sebenarnya memang sudah bersiap menginjak rem. Tapi karena aba-aba canggung dari Dad Matthew, Sakya malah kebablasan yang menginjak rem hingga semua penumpang di mobil kaget dengan rem dadakan Sakya.
"Pelan-pelan injak remnya, Sakya! Kamu itu sebenarnya bisa mengemudi atau tidak? Jangan-jangan kamu belum punya SIM?" Cerocos Dad Matthew yang kepalanya sempat terantuk bagian belakang kursi Sakya akibat rem dadakan tadi.
"Sakya punya SIM, Uncle! Baru kemarin Sakya perpanjang," jawab Sakya cepat yang hendak mengeluarkan dompetnya untuk menunjukkan pada Dad kandung Gretha itu kalau Sakya memang punya SIM!
SIM A Sakya punya!
SIM C Sakya juga punya!
SIM pesawat saja yang Sakya belum punya!
"Lampu hijau, Sakya! Kau sedang mencari apa?" Tegur Dad Matthew kembali memberikan aba-aba pada Sakya yang tadi masih sibuk mencari dompet berisi SIM-nya.
Haish!
Gara-gara ditumpangi calon mertua, hidup Sakya jadi rumit begini!
"Cepat jalan!" Perintah Dad Matthew lagi yang langsung membuat Sakya menginjak pedal gas dengan pelan dan lembut. Jangan sampai ada kejadian seperti rem dadakan tadi lagi, atau bisa-bisa Sakya akan diceramahi tujuh hari tujuh malam oleh Dad Matthew!
"Pak Dokter! Itu di depan sekolahnya Noah! Dulu sekolahnya Gretha juga!" Cerita Gretha seraya menunjuk ke sekolah yang akan segera Sakya lewati beberapa meter lagi.
"Iya," jawab Sakya seperlunya. Mau berbasa-basi atau menggombal juga rasanya sia-sia!
Ada Satpol PP di jok belakang!
"Mampir dulu, ya!" Pinta Gretha selanjutnya yang langsung membuat Sakya menganga.
"Mampir? Mau ngapain?" Tanya Sakya bingung.
"Jajan! Ada siomay kesukaan Gretha di depan sekolah!"
"Tu! Yang gerobaknya warna biru!" Tangan Gretha lincah menunjuk ke penjual siomay di depan gedung sekolah SMA Swasta tersebut.
"Gretha, tidak usah jajan aneh-aneh!" Dad Matthew memperingatkan dari jok belakang.
"Mungkin bawaan bayi!" Mom Melody refleks mencibit perut Dad Matthew yang langsung mengaduh.
"Gretha lapar, Dad!" Rengut Gretha seeaya menoleh ke arah Dad Matthew.
"Iya, beli saja!" Tukas Dad Matthew akhirnya setelah mendapat cubitan maut dari Mom Melody.
"Yeay!" Gretha langsung bersorak senang.
"Dad mau?" Tawar Gretha seraya memasang wajah sok manis.
"Tidak usah!" Tolak Dad Matthew cepat.
"Pak Dokter mau?" Gretha ganti menawari Sakya yang masih sibuk menepikan mobilnya.
"Mau apa?" Tanya Sakya antara bingung dan tak fokus. Gara-gara mendengarkan cerocosan Gretha ditambah ada dua satpol PP di jok belkaang, otak Sakya mendadak jadi blank!
Jangan sampai setelah ini Dad Matthew menampakkan diri di rumah sakit juga saat Sakya sedang praktek. Bisa-bisa Sakya nanti memberikan terapi yang salah untuk pasiennya.
Kan bahaya!
"Mau siomay, Pak Dokter!" Gretha mencubit genas pipi Sakya yang padahal tidaklah chubby dan malah cenderung tirus.
Sakit!
"Oh."
"Mau," jawab Sakya seraya mengangguk. Langsung terdengar decakan dari Dad Matthew di jok belakang.
"Uncle mau siomay juga?" Tawar Sakya berbasa-basi pada Dad Matthew.
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Dad Matthew galak. Sekarang gantian Mom Melody yang berdecak.
"Aunty, mau?" Sakya ganti menawari Mom Melody.
"Iya! Ayo turun!" Jawab Mom Melody yang sudah langsung turun menyusul Gretha yang tadi turun paling duluan.
Sakya langsung melepas sabuk pengamannya dan baru saja akan ikut turun, saat Dad Matthew tiba-tiba sudah mencengkeram pundak Sakya dari belakang.
Kalau dipikir-pikir, ini malah mirip adegan di film-film horor atau film psikopat itu!
Dad Matthew mau apa memangnya?
"Sakya!"
"Iya, Uncle!" Sakya tak jadi membuka pintu mobil dan segera menoleh pada Dad Matthew yang kini menatapnya dengan tajam.
"Uncle peringatkan sekali lagi, untuk menjaga sikapmu di depan Gretha! Tidak usah kegenitan!" Dad Matthew memperingatkan dengan keras.
"Siap, Uncle!" Jawab Sakya cepat.
"Dan satu lagi!" Kali ini Dad Matthew sudah ganti menuding pada Sakya.
"Satu lagi apa?" Gumam Sakya bingung.
"Jangan sok perhatian juga pada Mommy-nya Gretha!"
"Maksudnya Aunty Melody?" Sela Sakya memastikan.
"Iya!" Jawab Dad Matthew galak.
"Iya, tadi Sakya hanya berbasa-basi, Uncle," ringis Sakya beralasan. Pria itu menggaruk tengkuknya sendiri meskipun tak gatal karena merasa heran dengan sikap aneh Dad Matthew.
"Tidak usah basa-basi mulai sekarang! Kau mau menggoda istriku memangnya?" Sergah Dad Matthew dengan suara meninggi.
"Sama sekali tidak, Uncle!" Sakya mengibas-ngibaskan tangannya seraya menggeleng.
Cepat-cepat Dad Matthew melepaskan cengkeramannya pada pubdak Sakya, sebelum sang putri membuka pintu mobil.
"Pak Dokter! Tadi katanya mau siomay? Kok nggak turun-turun?" Tanya Gretha menatap bingung pada Sakya yang hanya meringis.
"Ini baru mau turun, Gre! Kamu, sih! ninggalin aku tadi," jawab Sakya beralasan. Padahal andai Gretha tahu yang sesungguhnya kalau Sakya tadi sedang menghadapi omelan serta gertakan daru Dad kesayangan Gretha.
Udah anaknya aneh, Dad-nya juga aneh!
"Ini sudah Aunty belikan, Sak!" Aunty Melody yang juga sudah kembali ke mobil, menyodorkan satu porsi siomay pada Sakya yang wajahnya langsung sumringah.
"Wah! Terima kasih, Aun-" Sakya baru saja akan menerima siomay dari tangan Mom Melody, saat tanpa diduga dan tanpa dinyana, Dad Matthew malah sudah duluan mengambil siomay Sakya tersebut.
Apa?
"Kau beli sendiri sana!" Ucap Dad Matthew seraya menatap galak pada Sakya yang tak jadi berwajah sumringah.
Sakya mendadak kesal pada calon mertuanya tersebut!
Ck!
"Tadi katanya tidak mau?" Tanya Mom Melody merasa heran pada sang suami yang mendadak bersikap labil.
"Iya,tadi dan sekarang kan beda!" Dad Matthew sudah mulai melahap siomay yang yadi dibawakan Mom Melody.
"Siomay enak begini, kok nggak mau," ucap Dad Matthew lagi sebelum pria paruh baya itu menyumpalkan lagi siomay ke dalam mulutnya. Sakya hanya mencibir dan akhirnya turun dari mobil untuk membeli sendiri siomay di depan sekolah Gretha. Mana cacing-cacing di perit Sakya juga sudah demo!
"Eh, Pak Dokter! Gretha ikut!" Gretha segera menyusul Sakya dan ikut turun dari mobil.
"Jangan lama-lama, Sakya!" Pesan Dad Matthew pada Sakya yang entah didengar entah tidak.
__ADS_1
Dad Matthew terus memperhatikan Sakya yang sedang membeli siomay, serta Gretha yang sibuk nempel-nempel pada Sakya. Dad dua anak itu lalu berdecak berulang-ulang, seolah tak terima dengan Gretha yang sekarang bucin pada Sakya.
Pasti Sakya yang sudah mempengaruhi Gretha!
Ini tak bisa dibiarkan!
"Sudah habis, Matt?" Tanya Mom Melody yang langsung menyentak lamunan Dad Matthew.
"Sudah!" Dad Matthew memberikan wadah bekas siomay tadi pada Mom Melody, lalu pria paruh baya itu membuka pintu mobil.
"Mau kemana?" Tanya Mom Melody penuh selidik.
"Pindah ke depan! Agar nanti Gretha duduk di belakang saja!"
"Gretha kan belum tidur siang tadi. Takutnya nanti dia ngantuk dan ketiduran. Bahaya kalau ketiduran duduk di depan!" Tukas Dad Matthew panjang lebar menjelaskan pada Mom Melody.
Dad Matthew sudah duduk di depan, bersebelahan dengan kursi pengemudi, saat Gretha dan Sakya sudah kembali.
"Loh, Dad! Kok duduk di depan?" Rengut Gretha tak terima.
"Dad pusing duduk di belakang! Kamu temani Mom di belakang!" Perintah Dad Matthew yang semaiin membuat Gretha merengut.
"Dad yang nyetir saja kalau begitu! Nanti Mom duduk di samping Dad! Jadi Gretha dan Pak Dokter bisa berduaaan di belakang," usul Gretha yang langsung membuat Dad Matthew menggeleng.
"Duduk saja di belakang!" Titah Dad Matthew tegas.
"Ish! Dad!" Gretha menghentakkan satu kakinya karena kesal, sementara Sakya masih belum berani masuk ke dalam mobil.
"Sudah! Duduk sana di belakang!" Perintah Dad Matthew sekali lagi. Dan meskipun masih merengut, Gretha akhirnya membuka pintu belakang dan duduk di samping Mom Melody.
"Sakya! Kau ngapain di luar?" Gertak Dad Matthew pada Sakya yang tak kunjung masuk ke dalam mobil.
Padahal ini juga mobilnya Sakya sendiri hadiah dari Opa Hansel. Lalu kenapa Sakya merasa seperti sopir di mobilnya sendiri?
"Siomay Sakya belum habis, Uncle!" Jawab Sakya beralasan.
Sakya masoh menguatkan mental untuk duduk bersebelahan dengan Dad Matthew.
"Makan saja nanti di rumah!"
"Ayo cepat antar kami pulang!" Perintah Dad Matthew tegas.
"Siap, Uncle!" Jawab Sakya yang akhirnya terpaksa menunda makan siomay lalu masuk ke dalam mobil.
"Pakai sabuk pengaman!" Ucap Dad Matthew mengingatkan.
"Iya, ini baru mau dipakai, Uncle!" Jawab Sakya seraya menggerutu dalam hati. Sementara suara Gretha sudah tak terdengar dari jok belakang. Dan saat Sakya menoleh ke belakang sekilas, terlihat Gretha yang sudah terlelap di pangkuan Mom Melody.
Astaga!
Perutku kenyang hatiku senang tidurku riang!
Terserah, Gretha! Terserah!
"Lihat ke depan dan tidak usah menengok-nengok ke belakang!" Ujar Dad Matthew lagi pada Sakya yang memang berulang kali menengok ke belakang.
"Iya, Uncle!" Jawab Sakya memaksa untuk tersenyum, lalu pemuda itu melajukan mobilnya menuju ke kediaman Orlando.
Mimpi apa Sakya punya mertua galak dan cerewet begini?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.