
"Bagaimana ceritanya di antara kalian semua tak ada yang tahu Grerha pergi kemana?" Omel Mom Melody pada semua maid, security dan supir yang bekerja di kediaman Orlando.
Semuanya hanya menundukkan kepala mendengar omelan serta cecaran dari Mom Melody.
"Kalian kemana saja sebenarnya?" Tanya Mom Melody lagi penuh emosi. Wanita paruh baya itu memijit pelipisnya sendiri memikirkan sang putri yang entah ada dimana sekarang.
Malam ini seharusnya Mom Melody dan Dad Matthew memang masih berada di luar kota. Namun karena satu hal, acara yang hendak mereka hadiri ternyata dibatalkan. Dad Matthew dan Mom Melody lalu memutuskan untuk pulang, namun kemudian Dad Matthew malah tak sengaja bertemu rekannya di bandara kota dan mereka mampir sebentar ke sebuah restorant untuk mengobrol beberapa hal. Mom Melody yang sudah kelelahan memutuskan untuk pulang duluan sekalian mengecek kedua anaknya yang sejak kemarin mereka tinggal. Dan ternyata, Gretha malah tidak ada di rumah saat Mom Melody sampai di rumah.
"Maaf, Bu. Tadi saya menemukan pintu gerbang samping sedikit terbuka. Sepertinya Nona Gretha menyelinap dari sana-"
"Lalu kenapa tidak kamu cegah, kalau memang kamu tahu?" Cecar Mom Melody yang langsung emosi pada sang security.
"Saya sudah tak melihat Nona Gretha, Bu!" Jawab Security beralasan.
Saat hati Mom Melody masih dipenuhi kekalutan, ponsel wanita paruh baya tersebut tiba-tiba berdering.
"Bagus?" Gumam Mom Melody mengernyit, karena sepupunya itu jarang menelepon kalau tak ada hal penting.
"Halo," jawab Mom Melody akhirnya seraya mengangkat telepon dari Om Bagus.
Om Bagus menyalakan video call dan langsung terlihat di layar situasi yang sulit dijelaskan, dimana banyak warga berkerumun.
Bagus sedang dimana sebenarnya?
"Mbak Mel! Bagus ketemu Gretha!" Satu kalimat yang diucapkan Om Bagus seolah menjadi angin segar untuk Mom Melody. Tadi Mom Melody memang sempat membuat story di aplikasi chat untuk mencari keberadaan Gretha.
"Ketemu dimana? Mana anaknya?" Cecar Mom Melody langsung pada Om Bagus.
"Ini dia." Kamera di ponsel Om Bagus terlihat merekam gambar secara acak karena sepertinya Gretha menghindar. Mungkin takut pada omelan Mom Melody.
"Nggak mau! Mom nanti marah."
Samar-samar Mom Melody bisa mendengar cicitan sang putri.
"Gretha!" Panggil Mom Melody akhirnya dengan nada lembut. Namun tak ada jawaban dari Gretha.
"Gretha, kamu dimana, Nak?" Tanya Mom Melody sekali lagi, bersamaan dengan Gretha yang akhirnya mau menunjukkan wajahnya. Wajah putri Mom Melody tersebut kini memenuhi layar.
"Kak Gre sudah ketemu, Mom?" Tanya Noah yang entah kapan sudah berada di dekat Mom Melody. Noah juga menyuruh para pekerja di kediaman Orlando untuk membubarkan diri padahal Mom Melody belum menyuruh.
"Gretha!" Panggil Mom Melody lagi.
"Mom!" Suara Gretha terdengar sedih,dan bibir putri Mom Melody itu juga sudah mencebik.
"Huwaaaaaa! Mom, Pak Dokter nakal!"
Dan benar saja, Gretha langsung menangis keras sedetik kemudian. Hati Mom Melody seketika dipenuhi kekhawatiran terlebih saat Gretha menyebut-nyebut nama Pak Dokter. Pak Dokter siapa?
"Pak Dokter siapa?" Tanya Mom Melody akhirnya yang malah dijawab dengan tangisan Gretha yang semakin keras.
"Bagus, Gretha pergi bersama siapa?" Mom Melody ganti bertanya pada Om Bagus yang ada di dekat Gretha.
"Bagus juga tidak tahu, Mbak Mel!"
"Itu pria yang pergi bersama Gretha, Mbak!" Ujar Om Bagus lagi bersamaan dengan kamera ponselnya yang kini seorang pria dengan baju bagian depan yang sudah terbuka.
Pak Dokter?
Nakal?
Baju pria itu setengah terbuka.
Nakal?
Gretha menangis?
Tidak mungkin.....
Mom Melody yang shock seketika langsung jatuh pingsan dan ponselnya tergeletak di lantai.
"Mom!" Teriak Noah yang buru-buru menolong sang Mom. Beruntung di saat gebting itu Dad Matthew sudah tuba di rumah.
__ADS_1
"Noah, Mom kenapa?" Cecar Dad Matthew yang buru-buru membopong sang istri ke atas sofa.
"Noah juga tidak tahu, Dad! Tadi Mom sedang video call bersama Bagus yang katanya ketemu sama Kak Gretha. Lalu tiba-tiba Mom pingsan." Jelas Noah singkat dan padat bersamaan dengan suara Om Bagus yang memanggil Mom Melody.
"Mbak Mel!"
Dad Matthew segera mengambil ponsel Mom Melody yang masih tergeletak di lantai.
"Eh, Abang Matthew."
"Dad!" Terlihat juga wajah Gretha yang sesenggukan.
"Bagus, kamu dimana?" Tanya Dad Matthew to the point.
"Di jalan ke arah puncak, Bang!"
****
Sakya meringis menahan rasa nyeri di seluruh wajahnya. Satu bogem mentah dari warga yang menggerebeknya tadi sebenarnya sudah tak terlalu terasa nyerinya. Namun kemudian, saat kedua orang tua Gretha datang, bogem mentah berikutnya sudah mendarat di wajah Sakya sebelum pria itu sempat menjelaskan kronologinya.
Sakya mengangkat wajahnya dan tatapannya langsung disambut oleh tatapan membunuh dari Dad Matthew.
Tadi setelah Om Bagus mengirimkan lokasi pada Dad Matthew, kedua orang tua Gretha tersebut langsung meluncur ke lokasi penggerebekan Gretha dan Sakya. Dan kini mereka semua sedang berada di rumah salah satu perangkat desa dekat lokasi penggerebekan.
Sakya sudah kembali menundukkan wajahnya, sambil tak berhenti merutuki dirinya sendiri yang busa-bisanya terjebak dalam situasi konyol begini.
Gretha masih sesenggukan di pelukan Mom Melody seolah gadis itu adalah korban malam ini. Padahal sama sekali tak teejadi apa-apa antara Sakya dan Gretha di dalam mobil. Kecuali kemeja Sakya yang sobek di bagian depan, serta Gretha yang tak berhenti menangis, menjerit, dan mengatakan Sakya nakal. Sakya jahat.
Yeah!
Yang tidak melohat kejadian secara langsung du dalam mobil, pasti juga mengira Sakya hendak memperkosa Gretha tadi. Seharusnya dashcam di mobil Sakya tadi Sakya hadapkan ke dalam mobil, bukan ke luar mobil!
Kenapa juga tak kepikiran?
"Saya benar-benar minta maaf, Uncle!" Ucap Sakya sekali lagi pada Dad Matthew.
"Gretha itu masih kecil!"
"Dad, sudah!" Kalimat Dad Matthew dipotong oleh Gretha yang masih sesenggukan.
"Pak Dokter sudah babak belur, jadi jangan dimarahin lagi. Niatnya Pak Dokter kan baik, mau nolongin Gretha tadi," tutur Gretha lagi yang entah mengapa malah balik membela Sakya.
Dasar gadis plin-plan!
"Menolongmu dengan menyentuhmu!" Sergah Dad Matthew emosi.
"Saya belum menyentuh Gretha, Uncle!" Sela Sakya mengoreksi dan berusaha meluruskan kesalahpahaman dari makna menyentuh menurut Gretha dan Dad Matthew.
Duh!
"Pak Dokter udah Gretha belain tapi masih bohong sama Dad!"
"Jelas-jelas Pak Dokter tadi udah menyentuh Gretha! Kenapa nggak mau ngaku?" Sergah Gretha lagi yang kembali membuat Dad Matthew mendelik tajam pada Sakya yang langsung geleng-geleng kepala.
"Udah gitu Pak Dokter juga ingkar janji!"
"Bilang mau bantuin Gretha biar nggak pera-" Sakya langsung membuat ferakan refleks untuk mbungkam mulut Gretha, seolah tak peduli dengan keberadaan Dad Matthew dan Mom Melody.
"Diam dan tak usah membahas yang itu!" Geram Sakya yang kini sudah menindih tubuh mungil Gretha sembari membekap mulut gadis itu. Namun kali ini Gretha tidak menangis atau berteriak, melainkan malah mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Pak Dokter wangi!" Bisik Gretha pada Sakya yang langsung membelalak.
Namun Sakya tak lama membelalak, karena tubuhnya sudah dengan cepat ditarik oleh Dad Matthew.
"Menyingkir dari atas putriku!" Geram Dad Matthew pada Sakya. Dad kandung Gretha itu hendak memberikan Sakya bogem mentah lagi, namun sudah dengan cepat dicegah oleh perangkat desa yang malam ini jadi penengah.
"Jangan memakai otot, Pak Matt! Saya tahu anda emosi." Ucap perangkat desa yang sudah kembali menyuruh Sakya untuk duduk.
"Jadi sebenarnya kamu bertemu Pak Dokter gadungan ini-",
"Sakya bukan dokter gadungan, Om!" Sergah Sakya menyela pertanyaan Om Bagus pada Gretha.
__ADS_1
"Bukan dokter gadungan, tapi dokter mesum!" Gumam Dad Matthew yang terlihat kesal pada Sakya. Sementara Mom Melody hanya berekspresi sedih atau mungkin merasa bersalah.
Entahlah, sejak datang tadi ekspresi wajah mom kandung Gretha itu memang seperti itu dan tak berubah-ubah.
"Gretha bertemu Pak Dokter di rumah sakit, Om!" Cerita Gretha seraya memainkan kedua telunjuknya.
"Kamu ngapain ke rumah sakit?" Tanya Mom Melody cepat.
"Ketemu dokter, Mom!"
"Untuk? Kamu sakit?" Cecar Mom Melody khawatir.
"Enggak! Cuma mau ketemu dokter aja! Trus Gretha ketemu sama Pak Dokter." Gretha mengendikkan dagunya ke arah Sakya yang sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sudahlah!
Sakya tak akan menghentikan cerita Gretha kali ini tentang keperawanan. Biar kedua orang tua gadis ini menyadari sendiri kepolosan sang putri.
"Katanya Pak Dokter mau bantuin Gretha biar enggak perawan lagi, jadi-"
"Jadi dia menyentuhmu!" Sergah Dad Matthew yang wajahnya sudah berubah penuh amarah.
"Iya, Dad! Tadi kami beberapa kali bersentuhan di mobil, bahkan Pak Dokter juga membukakan-"
"Sudah cukup ceritanya!" Dad Matthew menyuruh sang putri untuk tak melanjutkan ceritanya yang ia yakini mengarah kesana.
Padahal fakta sebenarnya bukan itu! Sakya hanya membukakan pintu mobil untuk Gretha dan bukan membuka baju gadis itu.
Astaga!
"Dad jangan marah ke Pak Dokter, dong! Pak Dokter baik kok ke Gretha tadi!"
"Cuma ya itu! Dia sedikit nakal karena sudah bikin Gretha-"
Bugh!
"Dad!" Jerit Gretha saat Sakya terjengkang ke belakang karena bogem mentah kedua dari Dad Matthew.
Ya ampun!
Dunia Sakya terasa berputar dan penuh bintang sekarang.
"Pak Dokter!" Gretha buru-buru menghampiri Sakya yang masih berbaring di lantai dengan wajah lebam dan babak belur. Segera Gretha membantu Sakya untuk bangun.
"Sudah tidak usah membantunya!" Dad Matthew meminta sang putri menjauh dari Sakya yang akhirnya sudah kembali duduk.
"Maaf sebelumnya, Pak Matt. Saya tak bermaksud lancang, tapi kalau menurut saya, lebih baik mereka dinikahkan saja agar jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan, semuanya akan segera bisa ditutupi," saran perangkat desa yang langsung membuat Dad Matthew memijit pelipisnya. Dad Matthew kembali melemparkan tatapan membunuh pada Sakya.
"Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" Ucap Dad Matthew tegas seraya menatap tajam pada Sakya.
"Mempertanggungjawabkan-" gumam Sakya seraya membelalak.
"Kenapa? Kau tidak mau dan ingin kabur?" Dad Matthew sudah kembali mengacungkan bogemnya pada Sakya.
"Tidak, Uncle! Sakya akan menikahi Gretha!" Jawab Sakya akhirnya entah keceplosan, entah memang dari hati atau entah karena takut dengan bogem Dad Matthew.
Tapi apapun itu, Sakya sudah terlanjur mengucapkannya dan tak bisa ditarik lagi.
Sekarang bagaimana Sakya akan menjelaskan pada Mami Thalita dan Papi Zayn?
Mati kau, Sakya!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1