Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
IKHLAS!


__ADS_3

Sakya meneguk kasar minuman di tangannya, sementara Gretha yang tangannya sejak tadi digenggam oleh Sakya hanya diam dan membisu.


"Gre, kau mau minum?" Tawar Sakya seraya mengambilkan segelas minuman baru untuk Gretha yang malah menggeleng.


"Mau makan kue?" Tanya Sakya yang ganti menawarkan kue. Namun Gretha kembali menggeleng.


"Gretha mau ke toilet, Pak Dokter! Bisa lepaskan dulu tangannya Gretha?" Pinta Gretha seraya menunjukkan tangannya yang masih digenggam erat oleh Sakya.


"Oh," Sakya langsung melepaskan tangan Gretha.


"Mau aku antar?" Tawar Sakya lagi.


"Nggak usah, Pak Dokter!" Tolak Gretha cepat seraya berjalan ke arah lorong yang mengarah ke toilet wanita. Sakya kembali meneguk minuman di gelasnya, kali ini hingga tandas tak bersisa.


"Sakya!"


Sakya sedikit tersentak saat mendengar sapaan dari Tuan Peyton yang merupakan papa dari Jill dan Jack.


"Selamat malam, Tuan Peyton!" Sapa Sakya sesopan mungkin.


"Saya mewakili Dad Matthew Orlando malam ini," ucap Sakya lagi menyampaikan pesan Dad Matthew.


"Oh, astaga! Jadi kau menantu Matthew Orlando, ya?" Tebak Tuan Peyton yang langsung dibenarkan oleh Sakya.


"Kau tak pernah terlohat di kantor Orlando juga. Apa kau punya perusahaan lain?" Tanya Tuan Peyton penasaran.


"Sebenarnya, saya memang tak berkecimpung di dunia bisnis, Tuan Peyton!"


"Sakya seorang dokter, Dad!" Ujar Jill yang sejak tadi memang berdiri di samping Tuan Peyton.


Ya, ya, ya!


Sepertinya Jill memang sengaja!


"Oh, begitu? Dokter apa? Spesialis?" Cecar Tuan Peyton lagi.


"Dokter Ortopedi, Tuan Peyton," jawab Sakya sambil sesekali melemparkan tatapannya ke arah lorong dimana Gretha menghilang tadi.


Kenapa Gretha lama sekali betada di toilet wanita.


"Dokter Ortopedi! Bagus sekali!" Puji Tuan Peyton seraya menepuk punggung Sakya.


"Dad akan menemui tamu lain, Jill!" Pamit Tuan Peyton selanjutnya dan Jill hanya mengangguk.


Setelah pamit pada Sakya juga, Tuan Peyton segera berlalu untuk menemui tamu lain.


Sakya juga hebdak menyusul Gretha ke toilet, namun tangannya dengan cepat ditahan oleh Jill.


"Sakya," Jill pura-pura jatuh di dekapan Sakya.


"Apa yang kau lakukan?" Sentak Salya galak.


"Aku benar-benar jatuh, Sakya!" Jill merengut tak terima saat tatapan Sakya seolah sedang menuduh Jill.


"Aku harus menyusul istriku!" Ucap Sakya seraya menyentak tangan Jill.


"Sakya!" Jill lagi-lagi menahan tangan Sakya.


"Apa kau sudah memikirkan permintaanku kemarin?" Tanya Jill menatap penuh harap pada Sakya.


"Permintaan apa?" Sakya balik bertanya bingung.


"Tentang aku menjadi simpananmu."


"Aku yakin Gretha hanyalah seirang gadis manja yang pastinya tak bisa menenuhi kebutuhanmu di atas ranjang, Sakya!" Jill hendak mengalungkan lengannya di leher Sakya, namun Sakya dengan cepat menolak.


"Kau gila dan permintaanmu juga gila!" Sakya menuding pada Jill, sebelum pria itu berlalu meninggalkan Jill yang terlihat mendengus seraya menghentakkan kakinya dengan marah.


"Lihat saja yang akan aku lakukan nanti, Sakya!"


"Kau pasti akan kembali padaku!"


****


Sakya baru saja akan berbelok ke lorong yang menuju ke toilet wanita, saat dirinya hampir menabrak Gretha yang datang dari arah berlawanan.


"Pak Dokter mau kemana?" Tanya Gretha yang tangannya tiba-tiba langsung diraih oleh Sakya.


"Kenapa kau lama sekali di toilet? Aku khawatir tadi," omel Sakya yang langsung membuat Gretha merengut.


"Ayo pulang saja!" Ajak Sakya selanjutnya.


"Tapi acaranya kan belum selesai, Pak Dokter." Ujar Gretha mengingatkan.


"Aku sedikit sakit kepala." Sakya beralasan.


"Ayo!"


"Nanti kita olahraga ranjang di rumah setelah ini, ya!" ujar Sakya lagi yang hanya membuat Gretha tersenyum datar.


Aneh!


Gretha seperti tak antusias sama sekali!

__ADS_1


Sakya dan Gretha akhirnya meninggalkan acara Peyton Group dan segera meluncur pulang ke kediaman Orlando.


****


Sakya yang sudah berbaring di atas tempat tidur, memperhatikan Gretha yang baru keluar dari toilet dan mengenakan piyama lengan panjang serta celana panjang.


Dimana gaun tidur Gretha yang biasanya?


"Tumben tidak pakai gaun tidur, Gre?" Tanya Sakya seraya berbaring miring, menghadap Gretha yang kini duduk di tepi ranjang.


"Dingin," jawab Gretha seraya mengusap lengannya sendiri.


Sakya bergerak cepat dan menggeser bokongnya ke arah Gretha.


"Aku angetin mau?" Tanya Sakya genit seraya mendekap Gretha.


"Sakya itu, dulu bucin akut pada Jill!"


"Apapun rela Sakya lakukan demi Jill! Kau lihat itu!" Jack menunjuk ke arah Sakya yang sedang mengobrol bersama Tuan Peyton. Tampak sekali keakraban antara Sakya dan Dad kandung Jill tersebut.


"Sakya juga sudah sangat dekat dengan keluarga kami." Ujar Jack lagi pada Gretha masih menatap pada Sakya yang kini tertawa bersama Tuan Peyton dan juga Jill.


"Hubungan Jill dan Sakya juga sudah jauh dan intim."


"Ya, mereka pernah beberapa kali liburan bersama lalu menginap berdua di villa atau hotel."


"Mereka pasangan yang romantis, bukan?"


"Jadi kenapa kau mau-mau saja menjadi pelarian Sakya atas perasaannya yang tak pernah berubah pada Jill itu? Sakya menggombalimu?"


"Sayang, kenapa melamun?" Pertanyaan serta kecupan Sakya langsung membuyarkan lamunan Gretha tentang omongan Jack di acara pesta Peyton Group tadi.


Benarkah Gretha hanya pelarian Sakya?


Benarkah Sakya hanya mencintai Jill selama ini?


"Gretha," panggil Sakya lagi lembut. Bersamaan dengan pelukan Sakya yang tiba-tiba disentak oleh Gretha.


"Pak Dokter kalau mau balikan sama Kak Jill silahkan!" Ucap Gretha tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Sakya menganga bingung.


"Apa maksud kamu, Gre? Siapa yang mau balikan sama Jill?" Tanya Sakya bingung.


"Pak Dokter! Kan Pak Dokter cinta mati sama Kak Jill!" Jawab Gretha seraya merengut.


"Kata siapa?" Tanya Sakya mengernyit.


"Kata abang Jack-" Gretha membekap mulutnya sendiri.


"Eh, bukan! Kata seseorang-"


"Kata Abang Jack, Pak Dokter dan Kak Jill itu pasangan romantis dan pernah beberapa kali menginap di hotel sana di villa."


"Trus kenapa putus kalau emang Pak Dokter cinta mati sama Kak Jill?" Tanya Gretha tetap merengut yang langsung membuat Sakya refleks mengumpat.


"Jack keparat!"


"Kok Pak Dokter mengumpat? Nanti kalau Dad tahu, Dad bakalan marah dan keluar tanduk, lho!" Gretha menakut-nakuti Sakya yang sekarang malah tak jadi marah dan ganti tertawa.


Ada bagusnya juga Sakya punya istri Gretha. Sakya jadi jarang stress karena tingkah serta kepolosan Gretha yang kerap membuat Sakya tertawa.


"Aku sedang emosi, Gre!" Ujar Sakya akhirnya seraya menarik nafas panjang.


"Jadi Pak Dokter mau balikan sama Kak Jill, ya? Gretha ikhlas, kok!"


"Balikan, gih," cicit Gretha seraya menundukkan wajahnya. Bibir Gretha juga sudah mencebik dan merengut sekarang.


"Beneran ikhlas?" Tanya Sakya sengaja menggoda Gretha.


"Iya!"


"Toh kemarin Pak Dokter nikahin Gretha kan juga cuma terpaksa karena Pak Dokter didesak Dad dan Mom."


"Jadi mungkin sekarang Pak Dokter terpaksa juga menyukai Gretha padahal sebenarnya Pak Dokter masih mencintai Kak Jill."


"Kak Jill kan juga lebih dewasa dan lebih cocok buat Pak Dokter," Gretha terus bercerocos, namun wajah istri Sakya itu hanya tertunduk dan kedua telunjuknya saling memainkan.


"Hmmm, begitu, ya!"


"Tapi aku takutnya, kalau aku balikan sama Jill kamu nanti nangis guling-guling." Sakya masih saja menggoda Gretha.


"Enggak! Siapa yang nangis! Gretha baik-baik saja, kok!" Gretha akhirnya mengangkat wajah.


"Lihat! Gretha nggak nangis!" Ujar Gretha lagi seraya menunjuk ke wajahnya sendiri.


Sakya menatap lekat wajah istrinya tersebut, lalu tertawa kecil.


"Kok Pak Dokter malah tertawa?" Rengut Gretha kemudian.


"Kamu lucu," ucap Sakya seraya menangkup wajah Gretha.


"Dan satu hal yang harus kamu tahu, Gretha-ku Sayang!"


"Aku itu udah nggak ada perasaan apapun pada Jill! Aku udah move on dari Jill sejak Jill menikah dengan suaminya yang pertama-"

__ADS_1


"Suami Kak Jill ada berapa memang?" Tanya Gretha menyela dan kepo sekali.


Sakya mengendikkan kedua bahunya.


"Sudah pernah menikah dua kali setahuku. Entahlah!"


"Dulu kami putus karena Jill merasa aku abaikan. Padahal aku kan sedang kuliah mengejar gelar dokter. Lalu akhirnya Jill menikah dengan pria lain, dan aku tak tahu lagi setelah itu!"


"Aku hanya fokus kuliah dan tak pernah pacaran dengan gadis manapun setelah itu." Cerita Sakya panjang lebar.


"Berarti Pak Dokter emang belum move on!" Pendapat Gretha sok tahu.


"Sudah, Gre!"


"Aku benar-benar tak ada perasaan apapun pada Jill!"


"Tapi kan Pak Dokter udah pernah nginep di villa bareng Kak Jill! Berarti udah pernah kuda-kudaan juga sama Kak Jill?" Gretha kembali merengut, bersedekap, lalu memunggungi Sakya.


"Aku bukan pria seperti itu, Gre!"


"Sejak dulu, aku selalu berprinsip untuk tak menyentuh seorang gadis sebelum ada kata sah." Sakya sudah merengkuh kedua pundak Gretha dari belakang.


"Dan gadis pertama yang aku sentuh dalam hidup aku itu kamu."


"Kamu yang pertama dan satu-satunya," bisik Sakya lagi seraya menyusupkan wajahnya di ceruk leher Gretha.


"Aku hanya mencintai kamu, Gretha Sayang!"


"Gretha istriku yang lucu, imut, dan menggemaskan!" Sakya mencium gemas wajah Gretha hingga membuat istrinya itu menggeliat.


"I love you!" Ucap Sakya tulus seraya mendekap tubuh mungil Gretha.


"Benar Pak Dokter belum pernah bobok bareng Kak Jill?" Tanya Gretha yang masih sangsi."


"Benar!" Jawab Sakya yakin.


"Sumpah?"


"Sumpah!"


"Berarti kalau nanti Pak Dokter bohongin Gretha, Pak Dokter bakalan berubah jadi batu!" Ucap Gretha yang langsung membuat Sakya terngaga.


Jadi batu?


"Hayo! Pak Dokter takut. Berarti Pak Dokter bohong!" Gretha mengarahkan telunjuknya pada Sakya.


"Enggak!" Kilah Sakya cepat.


"Siapa juga yang takut! Aku memang tak pernah ngamar sama Jill! Aku masih perjaka ting ting saat kita menikah kemarin!" Jawab Sakya lugas dan tegas.


"Tapi kok Pak Dokter udah pinter?" Gretha memicing curiga.


"Ck! Aku pria dewasa, Gre! Aku kan sering lihat film dewasa. Tapi bukan berarti aku langsung melakukannya dan mempraktekkannya. Aku menonton hanya agar tak penasaran saja," jelas Sakya membuat pengakuan blak-blakan pada Gretha.


"Mami dan Papi tahu kalau Pak Dokter suka nonton film porno?" Tanya Gretha lagi penasaran.


"Enggaklah!"


"Aku kan sudah dewasa!" Sergah Sakya mencari pembenaran.


"Nanti Gretha laporkan, ya!" Ancam Gretha seraya menuding pada Sakya.


"Aku tidak akan mengajarimu gaya baru kalau kamu laporkan!" Ujar Sakya balik mengancam.


"Gaya baru? Memang ada, Pak Dokter?" Gretha sudah sangat antusias sekarang.


"Ada!" Jawab Sakya cepat.


"Ajarin!" Rayu Gretha seraya menggamit lengan Sakya.


"Enggak, ah!" Sakya sok jual mahal.


"Eeeeee! Pak Dokter!" Rengek Gretha manja.


"Cium dulu!" Sakya mengajukan syarat seraya menyodorkan pipinya. Terang saja, Gretha langsung mencium lama pipi Sakya.


"Ajari, ya! Ya, ya, ya!" Rengek Gretha lagi.


"Baiklah! Kita belajar secara langsung, ya!" Sakya meraih ponselnya, lalu memutar video di ponsel ke televisi besar yang ada di kamar Gretha.


Dan saat adegan di film dimulai, kedua mata Gretha sudah langsung membulat dan membelalak. Mulut Gretha juga setengah ternganga saat melohat adegan ranjang yang dilakukan aktor dan aktris di video yang diputar oleh Sakya.


Bagus sekali!


Apa Sakya sedang meracuni otak polos Gretha sekarang dengan adegan enam sembilan?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2