
Dad Matthew dan Mom Melody masih berdiri di teras rumah, saat mobil milik keluarga Abraham memasuki halaman rumah keluarga Orlando.
"Siapa yang datang, Matt?" Tanya Mom Melody yang kembali harus menyeka airmatanya. Wajah Mom kandung Gretha itu sudah sangat sembab dan kedua matanya juga sudah bengkak dan memerah.
"Aku juga tidak tahu." Gumam Dad Matthew menjawab pertanyaan sang istri.
Mobil berhenti di dekat teras, dan dari pintu bagian belakang, turun seorang pria yang sebaya dengan Dad Matthew. Wajahnya sedikit tak asing.
"Zayn Abraham," gumam Dad Matthew setelah sedikit mengingat-ingat.
"Matthew Orlando, selamat malam!" Sapa Papi Zayn setelah pria paruh baya itu menghampiri Dad Matthew dan Mom Melody. Tak lupa Papi Zayn juga memperkenalkan Mami Thalita pada kedua orang tua Gretha tersebut.
Papi Zayn memang sebelumnya sudah pernah bertemu Dad Matthew di acara perusahaan. Tapi keduanya hanya bertemu sekilas kala itu dan saling diperkenalkan oleh tuan rumah pemilik acara. Dan keduanya juga belum pernah bekerja sama dalam bisnis apapun. Abraham Group dan perusahaan Orlando bergerak di bidang yang berbeda.
"Selamat malam, Zayn Abraham! Ada apa kesini mal-" Kalimat Dad Matthew belum selesai, saat pria paruh baya itu melihat Sakya yang sudah menyusul turun dari mobil yang sama dengan Papi Zayn tadi.
Tunggu....
Apa ini artinya Sakya si dokter mesum tadi adalah putra dari Zayn Abraham?
"Selamat malam, Uncle!" Sapa Sakya sopan dan segan pada Dad Matthew. Sakya segera berdiri di dekat Papi Zayn dan sebisa mungkin menjaga sikap agar tak terkena bogem mentah dari Dad Matthew lagi.
"Kau mungkin sudah bertemu putraku sebelumnya, Matt! Dia Sakya Abraham-"
"Jadi ini putramu?" Potong Dad Matthew menyela kalimat Papi Zayn.
"Ya! Dia putra bungsuku. Dan perihal kelakuannya hari ini pada Gretha, kami selaku orang tua dari Sakya meminta maaf yang sebesar-besarnya."
"Putramu ini benar-benar brengsek, Zayn! Dia sudah menyentuh putriku yang masih polos!" Sergah Dad Matthew berapi-api pada Papi Zayn yang langsung mendelik pada Sakya.
"Sakya belum menyentuh Gretha, Pi! Sumpah!" Cicit Sakya yang merasa terpojokan dengan delikan tajam sang papi.
"Dad! Kok seperti ada suara Pak Dokter-" Gretha tiba-tiba sudah muncul lagi dari dalam rumah dan menatap pada orang-orang yang sedang berkumpul di teras rumah.
"Pak Dokter!" Jerit Gretha lebay. Gretha buru-buru menghampiri Sakya dan menggamit lengan pria itu.
"Kok kesini lagi?" Tanya Gretha tetap dengan ekspresi lebay yang sontak langsung membuag semua anggota keluarga Abraham menatap heran sekaligus bingung pada Gretha.
"Tadi katanya nggak kenal dan nggak pacaran?" Cibir Zeline berbisik pada Sakya yang langsung meringis.
"Gretha!" Dad Matthew langsung memaksa untuk melepaskan gamitan tangan Gretha pada Sakya.
"Kenapa, Dad? Gretha kan hanya menyapa Pak Dokter," ujat Gretha yang kini bibirnya mengerucut.
"Ehem!"
"Jadi ini Gretha?" Tanya Papi Zayn setelah pria paruh baya itu berdehem.
"Iya-"
"Uncle siapa?" Pertanyaan Gretha memotong jawaban Dad Matthew.
"Kami orang tua Sakya, Gretha!" Jawab Mami Thalita yang langsung membuat Gretha menghampiri dan mencium tangan Mami Thalita dengan takzim.
"Malam, Aunty!"
__ADS_1
"Malam, Uncle!" Gretha ganti mencium tangan Papi Zayn.
"Malam juga, Aunty!" Lanjut Gretha yang sudah ganti menyalami dan mencium tangan Zeline.
Sakya nyaris tergelak saat Gretha memanggil Zeline dengan sebutan Aunty.
"Sembarangan! Kenapa memanggil Aunty?" Protes Zeline dengan nada galak.
"Eh!" Gretha menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kan Aunty-nya Pak Dokter! Benar, kan, Uncle?" Gretha menatap penuh tanya pada Papi Zayn yang malah menahan tawa.
"Ngawur! Aku kakaknya Sakya!" Zeline sudah melayangkan tangannya hendak menjitak kepala Gretha saking geregetan, namun Mami Thalita sudah dengan sigap memcegah.
"Zeline! Jaga sikap!"
Sementara Gretha langsung bersembunyi dibalik punggung Mom Melody yang menatal khawatir pada Zeline yang terlihat galak.
"Habisnya penampilan Aunty-"
"Eh, maksud Gretha Kakak kayak Aunty-aunty kantoran itu," ujar Gretha beralasan masih sambil bersembunyi di balik punggung sang Mom.
"Suruh mereka masuk, Matt!" Mom Melody berbisik pada sang suami yang sepertinya lupa mempersilahkan keluarga Abraham untuk masuk ke dalam rumah. Sejak tadi mereka masih berdiri di teras.
"Oh, iya!"
"Silahkan masuk dan kita bicara di dalam saja!" Tukas Dad Matthew akhirnya pada Papi Zayn dan anggota keluarga Abraham.
"Ayo masuk, Pak Dokter!" Gretha kembali menghampiri Sakya dan hendak menggamit lagi lengan Sakya. Namun delikan dari Dad Matthew langsung membuat Sakya buru-buru menghindar.
Dan saat semua orang sudah duduk di ruang tamu, security datang membawa beberapa kantung makanan.
"Yeay! Gretha udah lapar banget!" Gretha buru-buru membawa kantung makanan tadi masuk ke rumah. Gadis itu hendak duduk di ruang tamu juga, namun Mom Melody buru-buru membimbing Gretha agar makan di ruang makan saja.
"Tapi Gretha juga mau tahu, Pak Dokter dan keluarganya kesini mah ngapain, Mom!" Ujar Gretha yang sepertinya keukeuh tak mau makan di ruang makan.
"Makan dulu, nanti baru gabung bersama yang lain!"
"Ck! Mommy!"
"Eh, tpi nanti Dad nggak mukulin Pak Dokter lagi, kan, Mom? Pak Dokter kan tadi udah minta maaf," cerita Gretha lagi yang tentu saja masih bisa didengar oleh seluruh anggota keluarga Abraham.
"Enggak! Udah kamu makan dulu sana!" Titah Mom Melody pada sang putri. Mom dan putrinya itu sudah menghilang ke ruang makan.
"Ehem!" Dad Matthew berdehem seolah memberikan kode pada Papi Zayn untuk memulai pembicaraan.
"Sebelumnya saya sebagai orang tua Sakya benar-benar minta maaf atas apapun yang dilakukan Sakya pada Gretha, Matthew!" Ucap Papi Zayn dengan raut penuh penyesalan.
"Aku tak akan minta maaf soal bogem mentah untuk Sakya!" Tukas Dad Matthew tegas.
"Aku paham! Aku mungkin juga akan memberikan Sakya bogem mehtah su seluruh wajahnya jika aku jadi kau!" Jawab Papi Zayn seraya menatap geregetan pada Sakya yang tak bisa berkutik apalagi beralasan. Sakya sudah sangat terpojok disini. Tak ada yang percaya dengan ucapan dan cerita Sakya!
"Jadi, kau akan bertanggung jawab, Sakya?" Dad Matthew menatap tajam pada Sakya yang langsung mengangkat wajahnya dan balik menatap takut-takut pada Dad Matthew.
"Kau bukan pria pengecut tang akan kabur dan mangkir setelah menyentuh Gretha, kan?" Sindir Dad Matthew selanjutnya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Uncle!" Jawab Sakya yang masih segan untuk membalas tatapan tajam serta mengintimidasi dari Dad Matthew.
"Maaf, Matt! Tapi bisakah aku bertanya kronologinya dulu pada Gretha? Karena Sakya-"
"Sakya tidak mengakui perbuatannya?" Sergah Dad Matthew menyela kalimat Papi Zayn.
"Sakya memang belum menyentuh Gretha sama sekali, Uncle!" Sakya akhirnya angkat suara dan menyampaikan pembelaannya.
"Sakya berani bersumpah!" Lanjut Sakya lagi.
"Keterlaluan!" Dad Matthew sudah mencengkeram kerah baju Sakya saat tiba-tiba Gretha berteriak dan berlari ke arah Dad kandungnya tersebut.
"Dad!" Gretha membantu meleoaskqb tangan Dad Matthew yang mencengkeram baju Sakya.
"Tadi bilangnya tak akan memukul Pak Dokter lagi?" Cebik Gretha seraya mebatap marah pada Dad Matthew.
"Gretha-"
"Pak Dokter udah nggak nakal, Dad! Tadi kan Pak Dokter udah minta maaf juga!" Cerocos Gretha lagi masih dengan bibir yang merengut.
"Memang Sakya sebelumnya nakal kenapa, Gre?" Tanya Mami Thalita memancing.
"Nakal karena sudah membuat Gretha putus dari pacar Gretha, Aunty!"
"Kenapa bisa putus? Sakya melakukan sesuatu padamu?" Tanya Mami Thalita lagi lebih mendetail.
"Iya, kami itu di dalam mobil," Gretha memainkan kedua jari telunjuknya, dan Mami Thalita langsung terlihat shock.
"Itu?" Zeline bergumam lalu menatap pada Sakya yang langsung geleng-geleng kepala.
"Sakya sudah menyentuh Gretha! Apa masih perlu diperjelas adegannya?" Sergah Dad Matthew emosi.
"Sakya tidak melakukannya, Uncle-"
"Pak Dokter!" Gretha menghentakkan satu kakinya dan ganti merengut pada Sakya.
"Aku tidak menyentuhmu, Gre!" Tegas Sakya pada Gretha.
"Pak Dokter menyentuh Gretha! Orang Pak Dokter udah belai-belai wajah Gretha, trus rangkul-rangkul Gretha, udah gitu bukain itu-"
"Sudah cukup!" Teriak Mom Melody tak tahan lagi dan semua orang langsung diam.
Sementara Papi Zayn sudah menatap geram pada Sakya yang terussaja geleng-geleng kepala. Namun sia-sia saja Sakya membuat pembelaan karena tak ada yang percaya pada ceritanya.
"Sakya akan mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Gretha, Matthew! Kalau perlu, malam ini juga Sakya akan menikahi Gretha!" Ucap Papi Zayn tegas yang langsung membuat Gretha membelalakkan kedua matanya.
"Pak Dokter mau menikahi Gretha?"
.
.
.
Mbuhlah
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.