Pak Dokter Kesayangan Gretha

Pak Dokter Kesayangan Gretha
LUPA


__ADS_3

"Kemajuan yang bagus, Rumi!" Puji Sakya seraya menepuk punggung Rumi yang hanya mendengus.


Ya, tak pernah ada ekspresi lain dari Rumi selain mendengus dan mengomel serta melontarkan pertanyaan kapan ia bisa berjalan dan kenapa terapinya begini-begini saja!


Memangnya Rumi pikir, ia akan langsung bisa turun dari kursi roda, lalu berjalan dan berlari, begitu?


Semuanya kan butuh proses.


"Jadi kapan aku bisa berjalan?" Tanya Rumi pada Sakya sebelum pria itu keluar dari ruang terapi.


"Secepatnya, asal kau rajin datang terapi dan tidak membolos!" Jawab Sakya enteng.


"Kapan memangnya aku pernah membolos? Dasar menyebalkan!" Decak Rumi pada Sakya.


"Kau juga menyebalkan, Bung!" Sahut Sakya tak mau kalah.


"Kau itu lebih menyebalkan! Aku akan mencari dokter terapi lain!" Ancam Rumi pada Sakya.


"Silahkan saja dan kau harus memulai terapimu dari awal!" Sakya menakut-nakuti Rumi yang langsung mendelik ke arahnya.


Di saat bersamaan, Ethan masuk ke dalam ruang terapi untuk menjemput Rumi.


"Sudah selesai?"


"Sudah! Aku ingin pergi secepatnya dari hadapan dokter menyebalkan ini!" Jawab Rumi cepat seraya menunjuk pada Sakya yang hanya meng*lum senyum.


"Baiklah, aku akan mengantarmu keluar," Ethan meraih pegangan kursi roda Rumi, lalu keluar dari ruang terapi dan meninggalkan Sakya yang kini melambaikan tangan dengan lebay ke arah Rumi.


"Bye! Pasien menyebalkan!" Gumam Sakya seraya menahan tawa.


Sakya kembali ke mejanya dan meraih map berisi data pasien selanjutnya yang akan ia temui, saat tiba-tiba ponselnya berdering.


Dad Matthew menelepon!


"Astaga!" Gumam Sakya seraya menepuk keningnya sendiri, saat kemudian Sakya ingat kalau ia sudah berjanji pada Dad Matthew semalam, untuk mengantar Gretha pulang pagi-pagi ke kediaman Orlando sebelum Sakya pergi praktek. Namun Sakya lupa dan sekarang Dad Matthew pasti akan mengomeli Sakya panjang kali lebar.


"Halo, Dad!" Sapa Sakya setelah mengangkat telepon dari Dad Matthew. Sakya meringis sebentar dan mempersiapkan telinganya sebelum omelan Dad Matthew menggelegar.


"Kau akan mengantar Gretha pulang jam berapa, Sakya? Ini sudah lewat dari jam sepuluh!"


"Jangan bilang, kalau kau lupa pada janjimu semalam!"


"Sakya tidak lupa, Dad!" Sanggah Sakya cepat.


"Tadi sebenarnya Sakya mau mengantar Gretha pagi-pagi, tapi Gretha tidak mau bangun pagi dan dia mengatakan kalau masih mengantuk-"


"Kau apakan Gretha semalam!" Gertak Dad Matthew sebelum kalimat Sakya selesai.


"Sakya tak melakukan apa-apa, Dad!" Jawab Sakya cepat.


"Dad akan telepon Gretha langsung dan menanyakannya!"


Tuut! Tuut!


Telepon terputus dan Sakya tak berhenti menggerutu dalam hati.


Mati kau, Sakya!

__ADS_1


Nanti kalau Gretha cerita perihal kakinya yang kram semalam serta gempuran Sakya yang beronde-ronde, Dad Matthew pasti akan murka!


Apalagi ditambah insiden pagi tadi saat Gretha jalannya petentengan seperti orang habis sunat. Semuanya pasti akan semakin runyam!


Tok tok tok!


Ketukan di pintu ruang terapi membuyarkan lamunan Sakya.


"Dokter Sakya! Apa pasien berikutnya sudah bisa masuk?" Tanya perawat yang pagi ini membantu Sakya.


"Ya, tentu saja!" Jawab Sakya tergagap.


"Suruh masuk cepat!", titah Sakya seraya menyimpan ponsrlmya dan rak jadi menelepon Gretha.


Rasanya sia-sia juga jika Sakya menelepon istri kecilnya itu! Sakya tetap akan kalah cepat dari Dad Matthew!


Jadi sekarang, Sakya akan di mode pasrah saja!


"Selamat pagi!" Sambut Sakya saat pintu ruang terapi dibuka dari dalam, namun sedetik kemudian, Sakya langsung menganga tak percaya saat mendapati pasien keduanya pagi ini.


Sakya lupa belum membaca data diri pasiennya itu tadi dan ternyata.....


"Sakya!" Sapa pemuda yang kini berjalan tertatih-tatih memakai tongkat tersebut.


Brengsek!


"Lama tak bersua!" Pemuda itu mengulurkan tangannya yang tergenggam dan mengajak Sakya melakukan tos ala pria.


"Ya! Bagaimana kabarmu, Jack!" Sakya berbasa-basi pada pemuda yang wajahnya sedikit mirip dengan Jill tersebut.


Benar-benar sialan!


"Aku akan menelepon Jill dan menyuruhnya kemari!" Cetus Jack kemudian seraya mengeluarkan ponselnya.


"Aku rasa tidak perlu, Jack!"


"Aku dan Jill sudah lama putus dan kami tak ada hubungan apa-apa lagi!" Ucap Sakya yang langsung dengan cepat menolak usulan Jack.


"Dan bukankah Jill juga sudah menikah?" Lanjut Sakya lagi seraya membaca data berisi riwayat pemeriksaan Jack.


"Jill baru saja bercerai dengan suami keduanya beberapa minggu lalu, Sakya!" Ucap Jack yang hanya ditanggapi datar oleh Sakya.


Meskipun Sakya sedikit terkejut sebenarnya. Terkejut pada Jill yang ternyata hobi kawin cerai!


"Ini dia!" Jack memutar layar ponselnya agar mengarah pada Sakya.


"Kau bersama siapa, Jack? Bukankah kau seharusnya di rumah sakit?"


"Lihat pria yang pernah bucin akut padamu!" Ucap Jack seraya memamerkan wajah Sakya pada Jill.


"Sakya!" Sapa Jill yang langsung ditanggapi Sakya dengan senyuman saja.


"Dia seorang dokter sekarang, Jill! Apa kau menyesal karena dulu meninggalkannya?" Jack tertawa terbahak-bahak seraya menguliti semua masa lalu Sakya dan Jill.


Ya, dulu, tujuh tahun yang lalu Sakya memang bucin pada Jill. Sakya juga rela melakukan apa saja demi Jill. Namun sekarang, perasaan Sakya pada Jill benar-benar sudah menguap pergi.


"Aku sudah tahu! Sakya memang seorang dokter ortopedi!" Ucap Jill dari layar telepon.

__ADS_1


"Dia juga yang akan membantuku terapi hari ini," ujar Jack lagi yang entah sedang melapor pada Jill atau entah sedang pamer.


"Jack, bisa kau matikan sekarang teleponmu pada Jill? Kita harus memulai terapi." Pinta Sakya akhirnya pada Jack yang masih terus saja mengobrol bersama Jill via video call.


Padahal bisa saja setelah Jack masih ada pasien lain yang mengantri.


"Baik, Dokter Sakya!" Jawab Jack seraya terkekeh.


"Ada apa, Jack?" Itu suara Jill lagi.


"Sakya menyuruhku menutup telepon. Kau tidak penasaran dan ada niatan menjemputku kemari, Jill? Barangkali kau mau bernostalgia kembali bersama Sakya-"


"Aku sudah menikah, Jack!" Sela Salya seraya menunjukkan cincin di jari manisnya. Jack tampak terkejut dengan pengakuan Sakya.


"Jill!" Panggil Jack sedikit berbisik.


Ya ampun!


Sakya benar-benar akan membanting ponsel kembaran Jill ini!


"Ada apa, Jack?"


"Kata Sakya, dia sudah menikah." Lapor Jack pada Jill.


"Memang!"


"Kau sudah tahu? Sayang sekali kau terlambat, Jill. Seharusnya kau dulu tak perlu melepaskan-"


"Jack!" Tegur Sakya tegas dan galak akhirnya.


Habis sudah kesabaran Sakya sekarang!


"Baiklah!" Jack meringis dan segera mengalah video call-nya bersama Jill. Pria itu kemudian menyimpan ponselnya, lalu duduk di depan Sakya.


"Jadi kakimu kenapa?" Sakya sudah kembali berekspresi normal dan sesekali pria itu fokus pada data pasien Jack di hadapannya.


"Jatuh dari motor. Hal biasa!" Jawab Jack enteng.


Jack memang seorang pembalap bukan profesional yang hobinya balapan tak jelas. Dan jatuh dari motor adalah hal biasa katanya. Entahlah, Sakya tak tahu isi kepala pemuda ini!


"Ngomong-ngomong, Sakya. Apa aku bisa terapi di rumah saja dan kau datang ke rumah?" Tanya Jack yang terlihat berharap.


"Maaf, tidak bisa!" Jawab Sakya tegas.


"Aku akan membayar dua kali lipat!" Jack mengiming-imingi."


"Tidak bisa, Jack! Kau cari saja dokter lain!" Tegas Sakya sekali lagi yqng terlihat jengah. Jack akhirnya diam dan tak bertanya-tanya lagi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2